Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Kunang-kunang dalam Bir

with 58 comments


Di kafe itu, ia meneguk kenangan. Ini gelas bir ketiga, desahnya, seakan itu kenangan terakhir yang bakal direguknya. Hidup, barangkali, memang seperti segelas bir dan kenangan. Sebelum sesap buih terakhir, dan segalanya menjadi getir. Tapi, benarkah ini memang gelas terakhir, jika ia sebenarnya tahu masih bisa ada gelas keempat dan kelima. Itulah yang menggelisahkannya, karena ia tahu segalanya tak pernah lagi sama. Segalanya tak lagi sama, seperti ketika ia menciumnya pertama kali dulu.

Dulu, ketika dia masih mengenakan seragam putih abu-abu. Saat senyumnya masih seranum mangga muda. Dengan rambut tergerai hingga di atas buah dada. Saat itu ia yakin: ia tak mungkin bisa bahagia tanpa dia. ”Aku akan selalu mencintaimu, kekasihku….” Kata-kata itu kini terasa lebih sendu dari lagu yang dilantunkan penyanyi itu. I just called to say I love you….

Tapi mengapa bukan sendu lagu itu yang ia katakan dulu? Ketika segala kemungkinan masih berpintu? Mestinya saat itu ia tak membiarkan dia pergi. Tak membiarkan dia bergegas meninggalkan kafe ini dengan kejengkelan yang akhirnya tak pernah membuatnya kembali.

Waktu bisa mengubah dunia, tetapi waktu tak bisa mengubah perasaannya. Kenangannya. Itulah yang membuatnya selalu kembali ke kafe ini. Kafe yang seungguhnya telah banyak berubah. Meja dan kursinya tak lagi sama. Tetapi, segalanya masih terasa sama dalam kenangannya. Ya, selalu ke kafe ini ia kembali. Untuk gelas bir ketiga yang bisa menjadi keempat dan kelima. Seperti malam-malam kemarin, barangkali gelas bir ini pun hanya akan menjadi gelas bir yang sia-sia jika yang ditunggu tidak juga tiba.

”Besok kita ketemu, di kafe kita dulu….”

Ia tak percaya bahwa dia akhirnya meneleponnya.

”Kok diam….”

”Hmmm.”

”Bisa kita ketemu?”

”Ya.”

”Tunggu aku,” dia terdengar berharap. ”Meski aku tak yakin bisa menemuimu.”

Tiba-tiba saja ia berharap kali ini takdir sedikit berbaik hati padanya: semoga saja suaminya mendadak kena ayan atau terserang amnesia, hingga perempuan yang masih dicintainya itu tak merasa cemas menemuinya.

Menemui? Apakah arti kata ini? Yang sangat sederhana, menemui adalah berjumpa. Tapi untuk apa? Hanya untuk sebuah kenangan, atau adakah yang masih berharga dari ciuman-ciuman masa lalu itu? Masa yang harusnya mereka jangkau dulu. Dulu, ketika ia masih mengenakan seragam putih abu-abu. Saat senyumnya masih seranum mangga muda. Dengan rambut tergerai hingga di atas dada. Ketika ia yakin, ia tak mungkin bahagia tanpa dirinya.

Ah, ia jadi teringat pada percakapan-percakapan itu. Percakapan di antara ciuman-ciuman yang terasa gemetar dan malu-malu.

”Aku selalu membayangkan, bila nanti kita mati, kita akan menjelma sepasang kunang-kunang.”

Dia tersenyum, kemudian mencium pelan. ”Tapi aku tak mau mati dulu.”

”Kalau begitu, biar aku yang mati dulu. Dan aku akan menjadi kunang-kunang, yang setiap malam mendatangi kamarmu….”

”Hahaha,” dia tertawa renyah. ”Lalu apa yang akan kamu lakukan bila telah menjadi kunang-kunang?”

”Aku akan hinggap di dadamu.”

Dada yang membusung. Dada yang kini pasti makin membusung karena sudah dua anak menyusuinya. Pun dada yang masih ia rindu. Dada yang sarat kenangan. Dada yang akan terlihat mengilap ketika seekor kunang-kunang hinggap di atasnya.

”Kunang-kunang…mau ke mana? Ke tempatku, hinggap dahulu….”

Ia bersenandung sambil membuka satu per satu kancing seragam. Dia yang hanya memejam. Ia seperti melihat seekor kunang-kunang yang perlahan keluar dari kelopak matanya yang terpejam. Seperti ada kunang-kunang di keningnya. Di pipinya. Di hidungnya. Di bibirnya. Di mana-mana. Kamar penuh kunang- kunang beterbangan. Tapi tak ada satu pun kunang-kunang hinggap di dadanya pualam. Dada itu seperti menunggu kunang-kunang jantan.

Ia selalu membayangkan itu. Sampai kini pun masih terus membayangkannya. Itulah yang membuatnya masih betah menunggu meski gelas bir ketiga sudah tandas. Selalu terasa menyenangkan membayangkan dia tiba-tiba muncul di pintu kafe, membuat ia selalu betah menunggu meski penyanyi itu telah terdengar membosankan menyanyikan lagu-lagu yang ia pesan.

Ia hendak melambai pada pelayan kafe, ingin kembali memesan segelas bir, ketika dilihatnya seekor kunang-kunang terbang melayang memasuki kafe. Kemudian kunang-kunang itu beterbangan di sekitar panggung. Di sekitar kafe yang ingar bingar namun terasa murung. Murung menapak geliat lidah pada tiap jeda tubuhnya. Murung mengharap tiap geliat di liat tubuhnya mengada. Lagi. Di sini. Menjadi nanti.

Adakah kunang-kunang itu pertanda? Adakah kunang-kunang itu hanya belaka imajinasinya? Penyanyi terus menyanyi dengan suara yang bagai muncul dari kehampaan. Dan kafe yang ingar ini makin terasa murung. Tiba-tiba ia menyaksikan ribuan kunang-kunang muncul dari balik keremangan, beterbangan memenuhi panggung. Hingga panggung menjadi gemerlapan oleh pendar cahaya kunang-kunang yang berkilau kekuningan.

Gelas birnya sudah tidak berbusa. Hanya kuning yang diam. Tidak seperti kunang-kunang beterbangan gemerlapan berpendar kekuningan. Kuning di gelas birnya mati. Sementara kuning di luar birnya gemerlapan. Hidup. Ia jadi teringat pada percakapan mereka dulu. Dua hari sebelum dia memilih hidupnya sendiri. Percakapan tentang bir dan kunang-kunang.

”Aku menyukai bir, seperti aku menyukai kunang-kunang,” ia berkata, setelah ciuman yang panjang. ”Warna bir selalu mengingatkanku pada cahaya kunang-kunang. Dan kunang-kunang selalu mengingatkanku kepadamu.”

”Kenapa?”

”Karena di dalam matamu seperti hidup ribuan kuang-kunang. Aku selalu membayangkan ribuan kunang-kunang itu berhamburan keluar dari matamu setiap kau merindukanku.”

”Tapi aku tak pernah merindukanmu.” Dia tersenyum.

”Bohong….”

”Aku tak pernah membohongimu. Kamu yang selalu membohongiku.”

Ia memandang nanar. Seolah tidak yakin apa yang ia dengar salah atau benar. Bohong baginya adalah dusta yang direncanakan. Sementara apa yang ia lakukan dulu adalah pilihan. Dan pilihan hanyalah satu logika yang terpaksa harus diseragamkan. Oleh banyak orang. Olehnya….

”Tidak. Aku tidak bohong.”

”Semakin kau bilang kalau kau tidak bohong, semakin aku tahu kalau kamu berbohong.”

Ia tak menjawab. Tapi bergegas menciumnya. Rakus dan gugup. Begitulah selalu, bila ia merasa bersalah karena telah membohonginya. Seolah ciuman bisa menyembunyikan kebohongannya. Tapi ia tak bohong kalau ia bilang mencintainya. Ia hanya selalu merasa gugup setiap kali nada suaranya terdengar mulai mendesaknya. Karena ia tahu, pada akhirnya, setelah percakapan dan ciuman, dia pasti akan bertanya: ”Apakah kau akan menikahiku?”

Ia menyukai ciuman. Tapi, sungguh, ia tak pernah yakin apakah ia menyukai pernikahan. Kemudian ia berteka-teki: ”Apa persamaan bir dengan kunang-kunang?” Dia menggeleng.

Keduanya akan selalu mengingatkanku padamu. Bila kau mati dan menjelma jadi kunang-kunang, aku akan menyimpanmu dalam botol bir. Kau akan terlihat kuning kehijauan. Tapi kita tak akan pernah tahu bukan, siapa di antara kita yang akan menjadi kunang-kunang lebih dulu? Kita tak akan pernah bisa menduga takdir. Kita bisa meminta segelas bir, tetapi kita tak pernah bisa meminta takdir.

Seperti ia tak pernah meminta perpisahan yang getir.

”Aku mencintaimu, tapi rasanya aku tak mungkin bahagia bila menikah denganmu….”

Hidup pada akhirnya memang pilihan masing-masing. Kesunyian masing-masing. Sama seperti kematian. Semua akan mati karena itulah hukuman yang sejak lahir sudah manusia emban. Tapi manusia tetap bisa memilih cara untuk mati. Dengan cara wajar ataupun bunuh diri. Dengan usia atau cinta. Dengan kalah atau menang?

Pada saat ia tahu, bahwa pada akhirnya perempuan yang paling ia cintai itu benar-benar menikah—bukan dengan dirinya—pada saat itulah ia menyadari ia tak menang, dan perlahan-lahan berubah menjadi kunang-kunang. Kunang-kunang yang mengembara dari kesepian ke kesepian. Kunang-kunang yang setiap malam berkitaran di kaca jendela kamar tidurnya. Pada saat itulah ia berharap, dia tergeragap bangun, memandang ke arah jendela, dan mendapati seekor kunang-kunang yang bersikeras menerobos kaca jendela. Dia pasti tahu, betapa kunang-kunang itu ingin hinggap di dadanya. Sementara suaminya tertidur pulas di sampingnya.

”Aku memilih menikah dengannya, karena aku tahu, hidup akan menjadi lebih mudah dan gampang ketimbang aku menikah denganmu.”

Itulah yang diucapkannya dulu, di kafe ini, saat mereka terakhir bertemu.

”Jangan hubungi aku!”

Lalu dia menciumnya. Lama. Bagi ia, ciuman itu seperti harum bir yang pernah terhapus dari mulutnya.

Barangkali, segalanya akan menjadi mudah bila saat itu diakhiri dengan pertengkaran seperti kisah dalam sinetron murahan. Misal: dia menamparnya sebelum pergi. Memaki-maki, ”Kamu memang laki-laki bajingan!” Atau kata-kata sejenis yang penuh kemarahan. Bukan sebuah ciuman yang tak mungkin ia lupakan.

Dan kini, seperti malam-malam kemarin, ia ada di kafe kenangan ini. Kafe yang harum bir. Kafe yang mengantarkannya pada sebuah ciuman panjang di bibir. Kafe yang selalu membuatnya meneguk kenangan dan kunang-kunang dalam bir. Ini gelas bir ketiga, desahnya, seakan itu kenangan terakhir yang bakal direguknya. Hidup, barangkali, memang seperti segelas bir dan kenangan. Sebelum sesap buih terakhir, dan segalanya menjadi getir. Tapi benarkah ini memang gelas terakhir, jika ia sebenarnya tahu masih bisa ada gelas keempat dan kelima?

Ini gelas bir keenam!

Dan ia masih menunggu. Ia melirik ke arah penyanyi itu, yang masih saja menyanyi dengan suara sendu. Ia melihat pelayan itu sudah setengah mengantuk. Tinggal ia seorang di kafe. Barangkali, bila ia bukan pelanggan yang setiap malam berkunjung, pasti pelayan itu sudah mengusirnya dengan halus. Sudah malam, sudah tak ada lagi waktu buat meneguk kenangan.

Pada gelas kedelapan, akhirnya ia bangkit, lalu memanggil pelayan dan membayar harga delapan gelas kenangan yang sudah direguknya habis. Ya, malam pun hampir habis. Sudah tak ada waktu lagi buat kenangan. Sudah tidak ada kenangan dalam gelas bir kedelapan. Setiap kenangan, pada akhirnya punya akhir bukan? Inilah terakhir kali aku ke kafe ini, batinnya. Besok aku tak akan kembali. Kemudian ia beranjak pergi.

***

Malam makin mengendap. Tamu terakhir sudah pergi. Diam dan setengah mengantuk, para pelayan kafe membereskan kursi. Bartender merapikan gelas-gelas yang bergelantungan. Sebentar lagi penjaga malam akan menutup pintu.

Pada saat itulah, terlihat seekor kunang-kunang memasuki kafe. Kunang-kunang itu terbang melayang berputaran, sebelum akhirnya hinggap di gelas bir yang telah kosong.

Jakarta, Coffeewar,
8/26/10 12:38:25 AM

Written by tukang kliping

10 Oktober 2010 pada 08:39

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with ,

58 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. kenapa ya tema kunang-kunang selalu menyelimuti jagat cerpen??? dari cerpen umar kayam, agus noor,dan sebagainyaaaaaaaaaaaaaaa

    ciri khas cerpen mas agus noor, setahu saya dari tiap cerpennya selalu mengangkat tema tentang kematian…walau di baluti dengan kisah yang lain

    seakan satu tema tak akan habis dimakan bahasa.hhhhhhhhhhhmmmmmm memang kehidupan adalah permainan bahasa

    teruslah karyamu mas agus

    lubab

    10 Oktober 2010 at 09:27

  2. stlh sya mmbca cerpen kunang-kunang dalam bir,ceritanya sangat menarik sekali dan bahasanya begitu indah..kita jg dpt mmtik pljran dr cerpen tersbt..

    smih nuraeni apandi

    10 Oktober 2010 at 09:27

  3. another good story..
    kinda reminds me of myself. hehe😀

    hmm,,
    bner2 kerasa banget nuansa djenar di cerpen ini. ga jauh2 dari cinta, perpisahan, dan kafe. selain itu juga emosional. tapi justru itulah yang menarik dari cerita ini😀
    saya belum banyak membaca cerpen karangan agus noor sih, jdi kurang bisa komentar tentang penulis yg stu ini ><

    valent

    10 Oktober 2010 at 13:16

  4. seorang esai-kritikus sastra di solo ditanya komentarnya tentang cerpen kolabrasi Djenar Maesa Ayu+Agus Noor di Kompas hari ini, jawabnya: ah, cerita sentimentil, gandrungisme picisan

    Teh Hangat

    10 Oktober 2010 at 14:49

  5. mampir baca2

    defchania

    10 Oktober 2010 at 18:20

  6. Hmmm, memalukan. Sejelek cerpen inilah karya penulis kita yang konon hebat itu. Kosong. Tak ada apa-apa!

    Suan

    10 Oktober 2010 at 18:56

    • unjukkan prestasi dulu bung,
      sekadar cuap anak-anak kelas 1-2 SD
      juga pada jagonya

      marjono

      15 Oktober 2010 at 12:51

  7. Bagus, tapi aku gak suka, rasanya seperti membaca cerpen anak SMA. Apakah karena sudah kadung membaca nama penulisnya dan berharap lebih dahulu. Temponya berjalan sangat sangat lambat, sangat melelahkan. Tak ada klimaks yang menggetarkan, tidak kunang-kunang yang terbang dalam gelas bir, tidak bir kedelapan, tidak keputusannya. Kesal sekali karena bagaimanapun aku masih menganggapnya bagus, bahkan tanpa aku tahu alasannya. Apakah pembandingku cerpen-cerpen sejenis ini yang pernah kubaca… Arrgggghhhh gak tahu!

    gide buono

    10 Oktober 2010 at 19:18

    • gk ada klimaks…??coba tutup telpon anda dan mulai membaca lagi…

      fokus

      23 April 2011 at 14:02

  8. Cukup ringan sebagai hiburan… melepas rindu pada Djenar

    Bamby Cahyadi

    10 Oktober 2010 at 22:40

  9. bahasa bagus, kurang isi, hedon

    adim

    10 Oktober 2010 at 23:29

  10. lagi-lagi,,,!

    Fandrik HS Putra

    10 Oktober 2010 at 23:42

  11. Kata orang, banyak kripik kian asyik.
    Kunangkunang itu terbang berputaran sebelum akhirnya hinggap di gelas bir yang telah kosong.
    Suan, itu yang kosong.Gelas yang ditinggalkan.

    Siwi sang

    11 Oktober 2010 at 00:59

  12. Salam hangat selalu.
    Seperti biasa, cerpen bung Agus Noor selalu bernuansa realis-surealis. Suatu fenomena yg sengaja dibenturkan antara cerita realis, lalu bergandengan dengan picisan surealis. Bagi saya jalinan cerita diatas terajut apik. Tak masalah bercerita cinta anak SMA, yang penting morfologi wajah cerita tetap beraliran pop-imajis. Kunang-kunang adalah kisi luar nalar yang terbentuk dari kenangan si tokoh utama. Bisa juga kunang-kunang adalah kekasih hatinya(mungkin telah mati dan menjelma kunang-kunang). Lipatan cerita sengaja dibungkus dengan nuansa kenangan cinta masa lalu, perselingkuhan imajis, dan karikatur khayalan si tokoh utama dalam sebuah janji tentang hidup jika mati nanti. Bisa jadi semburat kenangan membentuk bayangan di cermin diri yang retak akan kenangan sebuah nostalgia silam dalam rajutan janji menjadi kunang-kunang yg hinggap di buah dada, justru cermin diri itu pecah. Akhirnya hanya kenangan cafe, bir, dan kunang-kunang yg mengendap. Jalinan rapat berjala. -suspen-imajis-realis-

    Tova Zen

    11 Oktober 2010 at 07:08

    • enak dibaca dan masih beraroma SGA…

      Hoebartz

      11 Oktober 2010 at 09:51

    • wah komentarnya kompleks ya :p

      27chaeru

      24 Januari 2012 at 21:15

  13. Salam hangat selalu untuk bung Agus dan saudari Djenar Maesa Ayu.
    Versi lain dalam kaca mata pikir saya, konsep ide yang menuntun pada kenangan akan kekasih yang menghablur dalam bayang kunang-kunang. Saya menemukan fragmen yang antagonis dari keterpecahan diri dan dalam istilah latin dikenal sebagai individuus, yang secara makna harfiah berarti ‘tak bisa terpecah lagi’. Seperti sebuah topeng rangkap dua, cerpen diatas selalu bisa memainkan aspek ganda psikologis pembaca budiman. Pertama dari cinta nyatanya pada waktu SMA, dan kedua adalah harapannya pada cinta masa lalu dalam ritme kenangan imajis kunang-kunang yang mewujudkan personifikasi-psikis yaitu: kunang-kunang adalah kekasihnya dan kunang-kunang juga hewan serangga bercahaya perut(animal abomen).
    Semenarik untaian kata dalam settingan cerita di kafe bersama bir, senantiasa menambah haluan realis. Kenangan kunang-kunang dalam bir akan menjadi sajian cerita bergenre realis-surealis.
    Saya menikmatinya.
    Sukses berkarya selalu.

    Tova Zen

    11 Oktober 2010 at 10:40

  14. […] This post was mentioned on Twitter by Hyde Asmarasastra, Michael Davincy S. Michael Davincy S said: Kunang-kunang dalam Bir. http://bit.ly/d0DgDu […]

  15. ini adalah cerpen terjelek agus noor yang pernah aku baca…
    ah, kunang2, bir, kenapa harus dengan dua umpama itu, kenapa juga pemaparannya lambat, bertele2 dan sama sekali tak menarik…. apalagi endingnya.

    irwan bajang

    12 Oktober 2010 at 11:49

    • aku setuju

      Pringadi Abdi Surya

      23 Oktober 2010 at 10:15

    • Saya juga setuju….
      ini cerpen yang paling dangkal akan makna yg diciptakan agus noor.
      seperti hambar…. 8)

      Midun Aliassyah

      13 Februari 2012 at 20:51

  16. aagh…..sedikit kecewa, mgkin karena kunang2nya…
    jadi agak ngeganjel…,
    tapi gak tau knapa saya msh mrasa crpen ni bagus…

    cah ndablek

    12 Oktober 2010 at 13:08

  17. Menghabiskan 8 gelas bir? Apa nggak mundar-mandir ke toilet?

    rudi

    12 Oktober 2010 at 16:05

    • ……
      gEjJeh amad loooee,,,,

      itu istilah….skolah dimana cHe

      agung

      12 Oktober 2010 at 21:03

  18. saya sgt suka cerpen ini…
    karena alurnya bkin kepala saya pusing sampe mata saya berkunang-kunang

    agung

    12 Oktober 2010 at 21:04

  19. semoga cerpen itu dapat memberi semua pelajaran bagi kita semua

    agung

    12 Oktober 2010 at 21:07

  20. keren….

    bisyri

    13 Oktober 2010 at 00:37

  21. kunang-kunang memberi bir

    Unkam

    13 Oktober 2010 at 14:03

  22. bingung

    heny

    13 Oktober 2010 at 14:25

    • kunang2 dsni ap ya????
      ceritanya bagus……..
      ini lah sbh khdpn harapan dan knyataan sering brbeda…

      ratna

      13 Oktober 2010 at 16:44

  23. Kalau nama Agus dihilangkan, menjadi hanya Djenar, mungkin saya bisa maklum.

    dENA

    14 Oktober 2010 at 23:39

  24. Ora ngertos…!!
    tadinya sudah semangat sekali..
    Tapi setelah alenia ke 2.., SMA>>
    akhhh…Jadi males..

    Penonton kecewa…..

    Iwansteep

    15 Oktober 2010 at 12:02

  25. Permisi semua,

    Numpang tanya:
    Cerpen yg dimuat Suara Pembaruan dan Jawa Pos minggu ini (10-10-2010) apa ya? Gak bisa dicek di situsnya.

    Trims

    Imapi

    15 Oktober 2010 at 21:19

  26. untuk Jawa Pos mungkin bisa dilihat di lakonhidup.wordpress.com
    Di sana, juga bisa lihat cerpen Koran Minggu lainnya. Suara Pembaruan tidak ada di situ, sayangnya.

    FLICH

    15 Oktober 2010 at 23:17

  27. Aku suka Djenar bukan cuma karyanya tapi sikap di luar karyanya, Djenar bukan tipe pengarang hipokrit.

    wah, ada cerpen di Suara Karya hari ini,menyinggung soal dunia kepenulisan. tapi Pengarang Hipokrit tdk dicantumkan seperti yg pernah diungkapkan seorang sastrawan(almarhum). Bersuci-suci di dalam karya tp bergelimang dosa di luar karya.
    Jelasnya di :
    http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=264090

    Okil

    16 Oktober 2010 at 11:34

  28. cerpen ini membuat saya sadar rendahnya kemampuan memahami bacaan saya. hahaha
    baca beberapa kali baru ngerti, dan gw suka cerpen ini..

    kunto

    16 Oktober 2010 at 15:50

  29. Senada dengan bang Kunto…hahaha

    Sutomo

    19 Oktober 2010 at 11:29

  30. kalau dua nama penulisnya ditutup, aku akan menebaknya sebagai cerpen Seno Gumira

    Gundul Putra Petir

    20 Oktober 2010 at 10:56

  31. cerpen yang bagus.. Dengan isi yang sarat dengan permainan kata-kata, sangat dalam. Saya suka itu. Terus berkarya untuk Bunda Djenar dan bapak agus.

    juharna nusa buang

    21 Oktober 2010 at 20:34

  32. senada sama bung Kunto. saya bingung baca cerpen ini. Saya bingung menempatkan diri sebagai siapa saat membaca cerpen ini. Kadang sebagai laki-laki, kemudian secara spontan menjadi orang ke-3. Saat menjadi orang ke-3 lah saya semakin bingung. karen ke-2 tokohnya selalu disebutkan sebagai Ia dan Dia. Bila sudah sepertin ini, ulang lagi lah bacanya dari awal paragraf….

    akhirnya saya sadari betapa lemahnya kemampuan nalariah saya…

    fika

    22 Oktober 2010 at 13:23

    • sama…saya juga merasakan kebingungan yang sama ketika menempatkan diri sebagai siapa saat membaca cerita tsb…
      namun,saya menyukai seuntai kata – kata yang ada di dalam cerpen itu…
      hmMmmp… i like it . . .

      otang Esc

      19 Desember 2010 at 10:22

  33. Hmmm,, Aku kok jadi ingat cerpen “Rembulan dalam Cappuccino” karya SGA..

    Keda

    23 Oktober 2010 at 12:48

  34. Cerpen tentang Kunang-kunang bisa dibaca di:

    http://kandangpadati.wordpress.com/2008/09/18/cerpen-umar-kayam/#comment-158
    Seribu Kunang-kunang di Manhattan :Umar Kayam

    http://sriti.com/story_view.php?key=2520
    Di Kampung, Tak Ada Kunang-kunang :Indrian Koto

    https://cerpenkompas.wordpress.com/2009/08/02/malam-kunang-kunang/#more-677
    Malam Kunang-Kunang :Rama Dira J

    bukan tukang komen

    1 November 2010 at 01:19

  35. Kunang-kunang,
    Anakku sayang..
    By
    Kunang hermansyah

    daus

    4 November 2010 at 15:24

  36. “Kita bisa meminta segelas bir, tetapi kita tak pernah bisa meminta takdir”
    Penuturan jujur dan luar biasa indah tentang harapan setiap kita tentang cinta yang tak membelenggu, dinanti karena tidak/ belum datang, dan digilai karena tidak/ belum diraih. Keindahan yang perih. Agonizingly beautiful! Mas Agus dan Mba Djenar, makin kagum dengan karya kalian! oh ya, salam Fiksiminier!-Novita aka @LVCBV-

    novitapoerwanto

    16 November 2010 at 07:39

  37. @agung
    Sekolah saya? Google saja, nanti ketemu, mas.

    Silakan coba minum 8 gelas bir.
    Hebat kalo Anda nggak kebelet ke toilet.

    Anda bilang itu istilah? Apanya yang istilah.

    rudi

    26 November 2010 at 18:45

  38. luar biasa tulisannya ! aku ingin mengikuti jejak jejak penulis seperti ini ..

    astri

    7 Februari 2011 at 22:55

  39. Seperti kata Pak Tino Sidin, yak, bagus.

    Juno

    16 Februari 2011 at 16:03

  40. esensinya bisa saya nikmati..kalau saja kafe itu tdk segera d tutup,mungkin akan terus menarik sy pada sebaris kenangan silam..

    santoni

    18 Februari 2011 at 18:11

  41. “Setiap kenangan, pada akhirnya punya akhir bukan?”

    I hope so…

    leo

    25 Februari 2011 at 15:15

  42. Karakter dalam menulis. Djenar Maesa Ayu, tanpa perlu melihat siapa pengarangnya, membaca narasinya saja, aku sudah tahu siapa pengarangnya. Kental sekali. Seperti inilah ciri Djenar.

    Sahid Salahuddin

    27 Februari 2011 at 14:07

  43. sy suka dengang karya Agus Noor….inspiratif n membangkitkan daya baru…

    gobin dd

    13 April 2011 at 08:43

  44. waktu seakan melambat malah terhenti berputar tuk sejenak hingga cerpen ini tuntas kubaca. . .
    Aq orng awam dlam kritik sastra: yg pasti cerpen ini enak dibaca…

    che thovic

    25 April 2011 at 16:33

  45. seperti membaca tulisan para pemula di majalah Kawanku versi remaja, romantisme yang sangat biasa. Mbak Djenar, saya terlalu berharap pada nama anda. maaf…

    joewicks8

    3 Juli 2011 at 22:46

  46. top markhotop coy….

    anief ahmadi

    7 April 2012 at 07:07

  47. Aku sampai membacanya 2 x agar mengerti isi cerita ini!
    kenangan dan kunang-kunang…puitis!

    reno

    1 Mei 2012 at 14:42


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: