Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Dodolitdodolitdodolibret

with 86 comments


Kiplik sungguh mengerti, betapapun semua itu tentunya hanya dongeng.

“Mana ada orang bisa berjalan di atas air,” pikirnya.

Namun, ia memang berpendapat bahwa jika seseorang ingin membaca doa, maka ia harus belajar membaca doa secara benar.

”Bagaimana mungkin doanya sampai jika kata-katanya salah,” pikir Kiplik, ”karena jika kata-katanya salah, tentu maknanya berbeda, bahkan jangan-jangan bertentangan. Bukankah buku Cara Berdoa yang Benar memang dijual di mana-mana?”

Adapun dongeng yang didengarnya menyampaikan pesan, betapa siapa pun orangnya yang berdoa dengan benar, akan mampu berjalan di atas air.

Kiplik memang bisa membayangkan, bagaimana kebesaran jiwa yang dicapai seseorang setelah mampu membaca doa secara benar, akan membebaskan tubuh seseorang dari keterikatan duniawi, dan salah satu perwujudannya adalah bisa berjalan di atas air.

Namun, ia juga sangat sadar sesadar-sadarnya, pembayangan yang bagaimanapun, betapapun masuk akalnya, tidaklah harus berarti akan terwujudkan sebagai kenyataan, dalam pengertian dapat disaksikan dengan mata kepala sendiri.

”Dongeng itu hanyalah perlambang,” pikirnya, ”untuk menegaskan kebebasan jiwa yang akan didapatkan siapa pun yang berdoa dengan benar.”

Justru karena itu, semenjak Kiplik memperdalam ilmu berdoa, kepada siapa pun yang ditemuinya, ia selalu menekankan pentingnya berdoa dengan benar. Adapun yang dimaksudnya berdoa dengan benar bukanlah sekadar kata-katanya tidak keliru, gerakannya tepat, dan waktunya terukur, selain tentu saja perhatiannya terpusat, melainkan juga dengan kepercayaan yang mendalam dan tak tergoyahkan betapa sedang melakukan sesuatu yang benar, sangat benar, bagaikan tiada lagi yang akan lebih benar.

Kebahagiaan yang telah didapatkannya membuat Kiplik merasa mendapatkan suatu kekayaan tak ternilai, dan karena itulah kemudian ia pun selalu ingin membaginya. Setiap kali ia berhasil membagikan kekayaan itu, kebahagiaannya bertambah, sehingga semakin seringlah Kiplik menemui banyak orang dan mengajarinya cara berdoa yang benar.

Ternyata tidak sedikit pula orang percaya dan merasakan kebenaran pendapat Kiplik, bahwa dengan berdoa secara benar, bukan hanya karena cara-caranya, tetapi juga karena tahap kejiwaan yang dapat dicapai dengan itu, siapa pun akan mendapatkan ketenangan dan kemantapan yang lebih memungkinkan untuk mencapai kebahagiaan.

Demikianlah akhirnya Kiplik pun dikenal sebagai Guru Kiplik. Mereka yang telah mengalami bagaimana kebahagiaan itu dapat dicapai dengan berdoa secara benar, merasa sangat berterima kasih dan banyak di antaranya ingin mengikuti ke mana pun Kiplik pergi.

”Izinkan kami mengikutimu Guru, izinkanlah kami mengabdi kepadamu, agar kami dapat semakin mendalami dan menghayati bagaimana caranya berdoa secara benar,” kata mereka.

Namun, Guru Kiplik selalu menolaknya.

”Tidak ada lagi yang bisa daku ajarkan, selain mencapai kebahagiaan,” katanya, ”dan apalah yang bisa lebih tinggi dan lebih dalam lagi selain dari mencapai kebahagiaan?”

Guru Kiplik bukan semacam manusia yang menganggap dirinya seorang nabi, yang begitu yakin bisa membawa pengikutnya masuk surga. Ia hanya seperti seseorang yang ingin membagikan kekayaan batinnya, dan akan merasa bahagia jika orang lain menjadi berbahagia karenanya.

Demikianlah Guru Kiplik semakin percaya, bahwa berdoa dengan cara yang benar adalah jalan mencapai kebahagiaan. Dari satu tempat ke tempat lain Guru Kiplik pun mengembara untuk menyampaikan pendapatnya tersebut sambil mengajarkan cara berdoa yang benar. Dari kampung ke kampung, dari kota ke kota, dari lembah ke gunung, dari sungai ke laut, sampai ke negeri-negeri yang jauh, dan di setiap tempat setiap orang bersyukur betapa Guru Kiplik pernah lewat dan memperkenalkan cara berdoa yang benar.

Sementara itu, kadang-kadang Guru Kiplik terpikir juga akan gagasan itu, bahwa mereka yang berdoa dengan benar akan bisa berjalan di atas air.

”Ah, itu hanya takhayul,” katanya kepada diri sendiri mengusir gagasan itu.

***

Suatu ketika dalam perjalanannya tibalah Guru Kiplik di tepi sebuah danau. Begitu luasnya danau itu sehingga di tengahnya terdapatlah sebuah pulau. Ia telah mendengar bahwa di pulau tersebut terdapat orang-orang yang belum pernah meninggalkan pulau itu sama sekali. Guru Kiplik membayangkan, orang-orang itu tentunya kemungkinan besar belum mengetahui cara berdoa yang benar, karena tentunya siapa yang mengajarkannya? Danau itu memang begitu luas, sangat luas, bagaikan tiada lagi yang bisa lebih luas, seperti lautan saja layaknya, sehingga Guru Kiplik pun hanya bisa geleng-geleng kepala.

”Danau seluas lautan,” pikirnya, ”apalagi yang masih bisa kukatakan?”

Maka disewanya sebuah perahu layar bersama awaknya agar bisa mencapai pulau itu, yang konon terletak tepat di tengah danau, benar-benar tepat di tengah, sehingga jika pelayaran itu salah memperkirakan arah, pulau itu tidak akan bisa ditemukan, karena kedudukannya hanyalah bagaikan noktah di danau seluas lautan.

Tiadalah usah diceritakan betapa lama dan susah payah perjalanan yang ditempuh Guru Kiplik. Namun, akhirnya ia pun sampai juga ke pulau tersebut. Ternyatalah bahwa pulau sebesar noktah itu subur makmur begitu rupa, sehingga penghuninya tiada perlu berlayar ke mana pun jua agar dapat hidup. Bahkan, para penghuninya itu juga tidak ingin pergi ke mana pun meski sekadar hanya untuk melihat dunia. Tidak terdapat satu perahu pun di pulau itu.

”Jangan-jangan mereka pun mengira, bahwa dunia hanyalah sebatas pulau sebesar noktah di tengah danau seluas lautan ini,” pikir Guru Kiplik.

Namun, alangkah terharunya Guru Kiplik setelah diketahuinya bahwa meskipun terpencil dan terasing, sembilan orang penduduk pulau sebesar noktah itu di samping bekerja juga tidak putus-putusnya berdoa!

”Tetapi sayang,” pikir Guru Kiplik, ”mereka berdoa dengan cara yang salah.”

Maka dengan penuh pengabdian dan perasaan kasih sayang tiada terkira, Guru Kiplik pun mengajarkan kepada mereka cara berdoa yang benar.

Setelah beberapa saat lamanya, Guru Kiplik menyadari betapa susahnya mengubah cara berdoa mereka yang salah itu.

Dengan segala kesalahan gerak maupun ucapan dalam cara berdoa yang salah tersebut, demikian pendapat Guru Kiplik, mereka justru seperti berdoa untuk memohon kutukan bagi diri mereka sendiri!

”Kasihan sekali jika mereka menjadi terkutuk karena cara berdoa yang salah,” pikir Guru Kiplik.

Sebenarnya cara berdoa yang diajarkan Guru Kiplik sederhana sekali, bahkan sebetulnya setiap kali mereka pun berhasil menirunya, tetapi ketika kemudian mereka berdoa tanpa tuntunan Guru Kiplik, selalu saja langsung salah lagi.

”Jangan-jangan setan sendirilah yang selalu menyesatkan mereka dengan cara berdoa yang salah itu,” pikir Guru Kiplik, lagi.

Guru Kiplik hampir-hampir saja merasa putus asa. Namun, setelah melalui masa kesabaran yang luar biasa, akhirnya sembilan orang itu berhasil juga berdoa dengan cara yang benar.

Saat itulah Guru Kiplik merasa sudah tiba waktunya untuk pamit dan melanjutkan perjalanannya. Di atas perahu layarnya Guru Kiplik merasa bersyukur telah berhasil mengajarkan cara berdoa yang benar.

”Syukurlah mereka terhindar dari kutukan yang tidak dengan sengaja mereka undang,” katanya kepada para awak perahu.

Pada saat waktu untuk berdoa tiba, Guru Kiplik pun berdoa di atas perahu dengan cara yang benar.

Baru saja selesai berdoa, salah satu dari awak perahunya berteriak.

”Guru! Lihat!”

Guru Kiplik pun menoleh ke arah yang ditunjuknya. Alangkah terkejutnya Guru Kiplik melihat sembilan orang penghuni pulau tampak datang berlari-lari di atas air!

Guru Kiplik terpana, matanya terkejap-kejap dan mulutnya menganga. Mungkinkah sembilan penghuni pulau terpencil, yang baru saja diajarinya cara berdoa yang benar itu, telah begitu benar doanya, begitu benar dan sangat benar bagaikan tiada lagi yang bisa lebih benar, sehingga mampu bukan hanya berjalan, tetapi bahkan berlari-lari di atas air?

Sembilan orang penghuni pulau terpencil itu berlari cepat sekali di atas air, mendekati perahu sambil berteriak-teriak.

”Guru! Guru! Tolonglah kembali Guru! Kami lupa lagi bagaimana cara berdoa yang benar!”

Ubud, Oktober 2009 /
Kampung Utan, Agustus 2010.

*) Cerita ini hanyalah versi penulis atas berbagai cerita serupa, dengan latar belakang berbagai agama di muka bumi.

Written by tukang kliping

26 September 2010 pada 23:52

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

86 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Wah penulis senior nih…
    selamat yah mas seno, cerpen mas dimuat. saya senang baca cerpen-cerpen mas seno.
    tapi cerpen di atas belum saya baca ampe selese, baru setengah doang. he2. udah ngantuk banget sih soalnya, gak kuat.

    tumben nih belum ada yang komen…
    biasanya perang abis-abisan.he2. baru hari pertma sih.

    di tunggu ajalah perang kata-kata dari para penulis senior lainnya.
    saya suka dengan perang kalian. he. jadi dapet ilmu.

    aRAY pUJANGGA

    27 September 2010 at 00:10

  2. Mantao. Aku suka bgt:D

    wulan

    27 September 2010 at 00:24

  3. bintang lima pangkat lima bwt seno! hahai.

    Raga

    27 September 2010 at 01:34

  4. jempol dong..
    meski kesimpulan akhir telah bisa ditebak..

    faver

    27 September 2010 at 02:33

  5. sebagai penulis yang sudah mempunyai nama besar, karya sederhana pun terlihat “menyala” karyanya.

    ada rahasia yang tak terungkap, mungkin

    saya hanya berucap… selamat karena sudah terbit

    lubab

    27 September 2010 at 02:38

  6. walaupun menurutku agak kurang efektif, tp cerpen ini berhasil bercerita.. Like this, sangat kontekstual!

    gide buono

    27 September 2010 at 07:08

  7. Pernah baca cerita yang serupa, dari buku Anthony De Mello. Yg judulnya Burung Berkicau atau Doa Sang Katak, saya lupa.

    veridiana

    27 September 2010 at 07:26

  8. ringan, tapi lumayan

    rasidi

    27 September 2010 at 07:59

  9. Salam hangat selalu untuk bung Seno Gumira Ajidarma
    Konseptual cerita yang menorehkan akan arti pentingnya tata cara berdoa yang benar. Dari kubangan ide yang menjelaskan alur perjalanan guru Kiplik dalam mengajarkan tata cara berdoa yang benar. Cerita menggunakan ritme pelan, penuh benaman esensitas implisit dan nuansa hening bercampur runtun kisah kejutan. Secara nalar, cerita diatas mencoba menjelaskan hirarki keterasingan diri sekaligus pencapaian suatu nilai spiritual dalam memaknai hakekat berdoa yang benar. Cerita yang bertempo ringan dan begitu apik untuk digali pesan yang ingin disampaikan. Guru Kiplik begitu yakin dengan pembuktian diri bahwa dengan berdoa yang benar maka akan tergapai tujuan dan harapan yang benar. Saya suka menyelami kedalaman cerita Anda. Pengajaran yang bagus, meski judul kurang mengena pada pengejawantahan cerita. Secara tak sengaja saya menemukan spiritualitas. Dodoli dodoli pret, itulah yang saya mainkan dimasa kanak-kanak dulu. Sukses berkarya selalu

    Tova Zen

    27 September 2010 at 10:13

    • Mas Tova sotoy dh..
      Komen panjang tp salah tafsir..
      Di baca lg yuk..😛

      Pono

      27 April 2014 at 14:55

  10. suka sekali sama cerpen ini dan juga kagum sekali (selalu) sama analisis bung Tova…

    dan salam hangat selalu untuk Tukang Kliping, moga tak henti dan tak jenuh untuk terus menghidupkan blog yang sangat bermanfaat untuk pencinta sastra ini.

    salamku untuk kita semua..🙂

    Afsya Kemilau

    27 September 2010 at 11:39

  11. Isi cerpen ini bagus,😀

    moh. khaerul imam

    27 September 2010 at 12:39

  12. bagus wlaupun bisa ditebak akhirnya.
    Mmm… trus maksud judulnya apaan y? kyk ga nyambung sm ceritanya.

    kunto

    27 September 2010 at 13:40

  13. judulnya bikin penasaran,…ga dosa
    yang membikin penasaran, ….juga ga dosa

    marjono

    27 September 2010 at 15:45

  14. Penulisan judulnya bikin mata saya lamur….

    Bamby Cahyadi

    27 September 2010 at 15:51

  15. Komentar Veridiana yg paling menarik. Sepertinya Seno meniru ulang Anthony tapi kurang segar dlm cerpen ini.
    Anda bisa membaca ketertelanjangan cerpen seno ini yang tak cerdas menafsir ulang Anthony di FB Dwicipta….

    Tapi lepas dari itu semua cerpen ini memang betul2 cerpen dibanding karya2 senior sebelumnya.

    Han Gagas

    27 September 2010 at 16:19

  16. Salam hangat selalu untuk bung Han Gagas.
    Saya merasa pendapat Han Gagas benar, ada kemiripan konsep dari ide cerita karya Anthony. Saya menemukan lejitan kuat spirit yang universal dari karya bung Seno. Jelas agama manapun mengajarkan tata cara berdoa yang benar dan dari kutipan bung Seno menerangkan cerita yang terinspirasi dari lintas agama di muka bumi dan tertuang cerita versi penulis. Memang masih terasa licin dan serba mengalir saat membaca cerpen bung Seno, sementara Anthony lebih berkerikil, liku dan penuh jurang konflik yang menegangkan. Alur yang ada pada ending cerita yang begitu pekat akan benaman lokalitas cerita silat(berjalan diatas air). Dodolidodolidodolibret pernah saya dengar pada cerita ilmu kanuragan(kalau tak salah di cerita Wiro Sableng atau cerita silat lain yang saya baca-lihat). Cerita yang mengambil setting budaya khas lokal dunia persilatan(ini pendapat saya). Selebihnya banyak etos yang terjalin apik dan sederhana. Sukses berkarya selalu untuk bung Han Gagas.

    Tova Zen

    27 September 2010 at 18:22

  17. sebenarnya bukan hanya de mello saja, justru de mello melihat ulang kisah di injil ttg yesus yang berjalan di atas air dan yesus yang mengajar muridnya berdoa bapa kami, saya rasa ini dekat dengan bilangan fu-nya ayu utami, dalam pendekatan yg berbeda, mencoba memposmoderkan kisah lawas di alkitab.
    Saya yg berasal dari bidang teologi kristen sungguh melihat upaya kontekstualisasi demikian sangat berharga, supaya kisah2 yang sudah dibanalkan karena saking seringnya diceritakan jadi baru lagi untuk dibaca dan dimaknai.

    gide buono

    27 September 2010 at 18:46

  18. Kelebihan lebih dari cerpen ini adalah mampu merekam hal TERKECIL dari “mantra” guyonan anak2 (dan waktu saya dulu memainkannya adalah dg pantat megal-megol, saran para eyang Jawa) yg sebenarnya pula jadi kelemahan TERBESAR cerpen ini..
    Jadi pertanyaan saya adalah: apa benar berdoa yang baik ala Guru Kiplik (jadi inget Kimlik: kimpol cilik: paha kecil: PSK ABG) itu dg gaya megal-megol?! Hahaha..

    Dan kesan terakhirku hanyalah: “Jiancuk!”
    Kau berhasil membuatku makin mengagumimu Mas Seno.. Tetap, kau belum mampu menggantikan “Pelajaran Mengarang dan Saksi Mata”mu yg telah melekat di siniku.🙂

    Wahyudi Eko S

    27 September 2010 at 20:36

  19. Di tengah-tengah ruwetnya jalan raya ibu kota, paspamres memberi pengumumam. “Awas! Minggir!Presiden mau lewat!”
    (jalan raya=cerpen kompas, paspamres=editor, presiden=seno gumira ajidarma)

    ewing

    28 September 2010 at 07:38

    • Bung Ewing, saya lihat kualitas karya ‘presiden’ kini sudah setara dgn para menteri dan rakyat2nya. Pertanda kemajuan sastra Indonesia?🙂

      A

      28 September 2010 at 14:05

  20. cerpen ini menggali kembali makna sebuah permainan yang mainkan oleh anak kecil… bahwasanya pada jaman dulu setiap permainan mempunyai pesan moral dan makna yang implisit, pada cerpen di atas megungkapkan sebuah cerita yang mempunyai nilai spiritual yang ajib, mengankat dan membuka bayang-banyang masa kecil yang begitu misterius keadaanya. sip lah… jempol buat pengarangnya…

    sule subaweh

    28 September 2010 at 12:39

  21. ciamik…

    lepas dari kemiripannya dengan apa pun dan kisah dari agama mana pun, karya ini telah lahir dengan ruhnya. setelah membaca cerpen ini, saya merasa tersindir dan kembali mempertanyakan ukuran benar dan salah.😀

    nur ratri

    28 September 2010 at 14:10

  22. Ada makna yang bisa dipetik antara judul, apa yg diceritakan dan bagian akhir saat 9 org meminta sang Guru kembali

    Salut…!!

    Unkam

    28 September 2010 at 16:54

  23. pembaca sastra yang budiman, kalo boleh sedikit memarafrasekan nalar cerpen SGA, sekira begini: sesungguhnya, dlm sadar atau tak, keseharian kita tak lain serupa tokoh Kiplik belaka (sekumpulan manusia Kiplik). sila direnung sebentar. itulah tiada duanya Seno (dan sepertinya cuma dia yg mahir). Saya makin teringat “Legenda Wong Asu”-nya, di mana kita (pembaca)kalo meresapi (boleh ato tak), tak lain sebagai si Asu itu sendiri. Salam hangat

    Biru

    28 September 2010 at 21:06

  24. senang diskusinya berbobot…

    gide buono

    28 September 2010 at 22:55

  25. Benar, tdk spt lalu-lalu, senang diskusinya berbobot.
    Salam hangat selalu juga untuk Bung Tova Zen.

    Han Gagas

    29 September 2010 at 11:05

    • Saya kira diskusi yg ada pro-kontra jg bisa berbobot Bung Han. Tidak cuma yg mayoritas pro atau mayoritas kontra.
      Justru dari perdebatan semacam itu bisa saling belajar menghargai bahwa tidak ada kebenaran mutlak, persis seperti isi cerpen Bung Seno ini.

      A

      29 September 2010 at 11:56

    • Jangan lupa A, W= m. g

      Sahabat A

      27 Oktober 2010 at 08:49

  26. mohon maaf saya mau tanya. apakah kompas selalu memberikan email kalau cerpen kita di tolak di kompas cetak. kalau iya, berapa lama sejak pengiriman cerpen? trus, kalau ga ada konfirmasi, itu tandanya cerpen kita di tolak atau tidak?
    oya, honornya berapa ya kalau nulis cerpen di kompas.
    terimakasih teman2.. salam kenal ya..

    spears

    29 September 2010 at 14:03

    • sedih… :(( tak ada yg bersedia membalas pertanyaan saya… penulis kacangan… cerpen saya tidak ada kabar beritanya dari kompas. sudah sebulan lebih…

      spears

      30 September 2010 at 14:50

    • Tak usah sedih. Karena memang tak ada yang pasti. Saya mengirimkan cerpen April, hingga kini tak berjawab. Biasanya, jika tak diretur dalam 3 bulanan, Cerpen dimuat. Ternyata, hingga kini, Cerpen saya juga tak berkabar. Pengalaman satu penulis dan penulis lain, saya amati, agak berbeda berhubungan dengan KOMPAS. Tapi, yang pasti, kalau dimuat, hr-nya lumayan, 1 jt. Jadi, untuk Anda, tunggulan 3 bulan (maksimal), setelah itu mungkin Anda boleh pertimbangkan kirimkan ke media lain. Salam…

      Aba Mardjani

      30 September 2010 at 16:57

  27. hore, pendapat A adalah pendapat yg paling benarr.. yg lain lewaat… aku ngefans dech sama A, komentar-komentarnya di cerpenkompas slalu unggulan dan gag pernah ada yang bisa ngalahin

    Mutan

    29 September 2010 at 17:58

    • Maaf kawan, saya rasa kolom komentar ini adalah tempat buat berdiskusi positif, bukan ajang lomba benar-salah.
      Baik presiden, menteri dan rakyat jelata semuanya bebas berkomentar dan sah berpendapat. Tidak ada yg paling benar dan paling salah.

      A

      29 September 2010 at 18:27

  28. di luar teks.
    menyimak perjalanan kepenulisan sga menarik utk kita simak. ia-sastrawan juga wartawan- menyentuh politik dan kekejaman militer pada awalnya, lalu era kebebasan ia ikuti dengan mengambil tema cinta dan kemanusaiaan, dan akhir-akhir ini ia menyentuh sejarah dan spiritual dalam ceritanya (apakah krn faktor-maaf-usia). namun seperti kehidupan, ia terus ikut berubah dan tidak terjebak dalam satu genre cerita (hal ini cukup banyak kita jumpai pada penulis senior) dan itulah kelebihannya.

    ewing

    29 September 2010 at 19:00

  29. hmm…,

    Iwansteep

    30 September 2010 at 13:17

  30. Salam hangat selalu untuk saudari Spear.
    Betul apa yang telah di ungkapkan bung Aba Mardjani, bahwa Kompas adalah media yang memberikan pemberitahuan jika artikel(fiksi maupun berita) di muat atau tidak. Dan honornya berbeda. Seperti yang bung Aba ungkapkan untuk artikel cerpen layak muat akan mendapat honor 1jt-an. Saya pernah mengirimkan cerpen dan dikirimi surat atau e-mail ucapan terima kasih atas kepercayaan Anda telah mengirimkan cerpen, dan maaf Kompas belum bisa menerbitkan karena belum sesuai dengan visi misi Kompas( kurang lebih seperti itu). Mungkin Kompas lebih suka cerpen dengan setting serta alur budaya lokal(itu menurut opini saya). Teruslah menulis dan harapan saya dari sekred non berita Kompas(dipegang saudari Myrna Ratna) menyukai tulisan Anda. Sukses selalu.

    Tova Zen

    30 September 2010 at 18:31

  31. terimakasih banyak tanggapan dari bung Aba Mardjani dan bung Tova Zen. Saya sangat menghargai penjelasan saudara berdua. Karena saya pernah baca bahwa Kompas maksimal pemberitahuan di tolak adalah satu bulan. tapi hingga satu bulan tak ada kabar berita. saya sungguh bingung, apa cerpen itu mau di kirim kan ke media koran lainnya atau tidak. Karena saya lihat, rata2 pengarangnya itu – itu aja namanya, jadi menurut persepsi saya sebagai seorang penulis yang belum punya nama, sangat sulit utk menembus kompas. Terimakasih🙂

    spears

    30 September 2010 at 18:43

  32. memang di tengah keterpurukan. putus asa. krn cerpen tak pernah dimuat. pasti ada rasa ingin berhenti menulis selamanya. capek. sedih.
    tak tahu lagi, apa yang harus di tulis selain tulisan : kecewa, kecewa, kecewa…

    spears

    30 September 2010 at 20:06

  33. wahh tulisanya bagus 2… slm pak

    mangoloi silalahi

    30 September 2010 at 21:50

  34. Ayo Bung/ Jeng, obrolin soal cerpen di atas!
    Kalau saya angkat bicara, kali ini memang cerpen di atas dinilai layak dimuat, setidaknya, karena diskusinya yang ‘positif’. Tampaknya SGM, seumpama Soko Guru, yang sekali mengibarkan jubahnya, membuat kita tidak bisa berkata lain kecuali mengindahkannya: entah dengan cara apa pun, termasuk menyesali pro-kontra kali silam. Ya, diskusi ini memang satu pandangan–atau, kita hanya saling menambahkan gula pada adonan yang manis. Maaf, kawan-kawan…
    Barangkali kita telah disihir, oleh cerita yang mengalir lurus, tanpa konflik. Tetapi di situlah kelemahan cerpen di atas–di samping hal baik yang telah berulangkali ditambahkan di atas. Konfliknya tidak membuat kita bimbang, atau penasaran, tentang apakah Kiplik masih akan mempertahankan caranya berdoa yang benar itu. Bagi saya, cerpen di atas masih datar…

    Oge Bual

    1 Oktober 2010 at 03:06

  35. Falken Theorie.

    Anonymanifesto

    1 Oktober 2010 at 05:53

  36. saya juga ingin berbagi pengalaman sehubungan pengiriman cerpen ke kompas. Sejak tahun 1984 sampai sekarang sudah setua ini saya masih terus menyempatkan diri mengirim cerpen ke kompas. Tapi belum ada satu pun yang dimuat, padahal di tahun delapan puluhan dan sembilan puluhan sudah puluhan karya tulis saya yang dimuat di media cetak.
    Pengalaman saya dengan kompas, kalau kita mengirimnya melalui pos selalu dikembalikan dengan ucapan terima kasih. Tapi kalau mengirimnya melalui email tidak pernah ada balasan (enggak tahu kenapa). Saya berterima kasih kepada sdr A yang telah meluangkan waktu membaca salah satu cerpen saya, dan atas sarannya ttg tlsn yg bisa dimuat di kompas. Nah, kepada penulis yang baru yang belum punya nama, jangan putus harapan, teruslah berkarya! toh masih banyak media cetak yang lain. Kalau saya sih akan terus mencoba selagi otak saya masih jalan.

    YS

    1 Oktober 2010 at 12:11

  37. Memang cerpen SGA ini gak ada konflik, itulah menurut saya kekurangannya, selain tafsir ulang Antony yg kurang segar.
    A: betul bung.
    Spears: Kompas saya kira terbuka sekali untuk penulis yg baru pertama kali muncul, ini bisa dilihat di tahun 2010 ini yg banyak cerpenis baru pertama karyanya dimuat Kompas.Saya karena keberuntungan pernah dimuatnya sekali, dan semoga berulang juga.
    Benar kata Aba Marjani, lewat tiga bulan, biasanya saya sdh lempar ke media lain.
    Dan, ingat banyak media lain yang kualitas sastranya juga bisa menang dibanding Kompas.

    Han Gagas

    1 Oktober 2010 at 15:46

  38. Kritik/saran,pujian,atau pnilaian trhdap sbuah cerpen sbgai bahan diskusi mgkin mmang prlu atau mngasikkan???,tapi tdakkah kita menyadari itu smua justru hnya akan mmbntuk batasan2 pada ide awalnya?,tdakkah itu mnyadarkn kita pada btapa kcilnya mkna sbuah karya akan adanya apresiasi kita?.nikmatilah crita sbagai crita,slbihny biarkan pkiran kita trbuka sluas2nya untk mmbuat crita lain.bravo untk smua pnggemar sastra,truslah brkarya…

    G.E.

    2 Oktober 2010 at 00:04

  39. hahaha cerita yg asik, dan peduli setan dgn teori

    bayuyeah

    2 November 2010 at 22:06

    • betul-betul-betul

      widy

      5 Oktober 2011 at 18:05

  40. Cerpen ini mirip dengan cerpen Tolstoy yang judulnya The Three Hermits. Seno hanya mengubah

    jumlah orang yang berlari di atas air dari yang tadinya tiga pada cerpen Tolstoy menjadi

    sembilan (kenapa mesti sembilan?) Secara keseluruhan, plotnya sama walaupun fokusnya

    berbeda. Tolstoy, dalam hal ini, mengambil sudut pandang Kristen.

    Cerpen Tolstoy dibuka dengan kutipan dari Injil Matius 6: 7 – 8. “Lagipula dalam doamu itu

    janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Tuhan. Mereka

    menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan.”

    Seperti pada judulnya, cerpen Tolstoy berfokus pada ketiga orang pertapa. Dengan detil

    diceritakan bagaimana rupa mereka dan bagaimana mereka hidup. Sementara pada cerita Seno,

    fokusnya pada Kiplik, orang yang telah mengetahui cara berdoa yang benar. Hingga satu-

    satunya tujuan hidupnya adalah untuk mengajarkan kepada sebanyak mungkin orang bagaimana

    berdoa yang benar. Sementara itu dari dongeng yang ia dengar, bahwa jika seseorang dapat

    berdoa dengan benar, maka ia akan dapat berjalan di atas air. Soal berjalan di atas air ini

    diulangi beberapa kali di sepanjang cerita seolah-olah dapat berlari di atas air merupakan

    suatu hal yang menghebohkan.

    Sehingga ketika kita menemukan di akhir cerita kesembilan orang tersebut berlari di atas air, kita tidak lagi heran. Karena sejak semula itulah tujuan Seno, bukan untuk menunjukkan kuasa doa, tapi untuk menunjukkan bahwa berjalan di atas air merupakan suatu hal yang keren. Sama halnya dengan kekaguman kita ketika membaca atau menonton film silat dimana sang jagoan dapat terbang di antara pepohonan. Di sini Seno memperlakukan doa sebagaimana para penulis cerita silat memperlakukan ilmu silat: bahwa ilmu memiliki tingkat. Semakin tinggi ilmunya, semakin bisa dia melakukan hal-hal yang luar biasa. Semakin BENAR doanya, semakin doa itu dapat melakukan apapun. Saya bukannya tidak percaya kuasa doa, tapi cara Seno menyamakan doa seperti ilmu beladiri silat menurut saya konyol.

    Dan saya tidak mengerti kenapa Seno memberi judul cerpennya Dodolitdodolitdodolibret.

    marlon

    2 November 2010 at 23:02

  41. setiap cerita mesti punya konflik. Yang membedakannya adalah jenis konfliknya. Saya rasa cerpen Dodolitdodolitdodolibret memiliki konflik batin. Dari mata saya, ‘ingin mengajarkan doa yang benar kepada siapa yg dijumpainya’-lah konflik si Kiplik itu.

    nb: Maaf ya kalo saya salah. Ini dari sudut saya lho.

    fifi

    8 November 2010 at 12:15

  42. komentar-komentar di atas rasanya sudah lebih dari cukup..

    Saya hanya ingin menambahkan, entah apa formulanya, namun ada satu perasaan khusus yang selalu muncul setiap saya membaca tulisan-tulisan mas Seno; Rasa ingin menulis..

    Ario

    21 November 2010 at 02:20

  43. wkwkwkkwkwk,,,,
    aduh,, dari awal rohani banget,,menyentuh dan mengajari kebaikan,,
    pas pada akhir serita yang membuat saya tertawa menggelitik,,
    wkwkwkkwkkkk

    dwi haditirta

    30 November 2010 at 12:53

  44. Hmm, saya juga pernah mengirimkan cerpen ke KOMPAS. Belum layak dimuat. Ya, sudah saya tulis saja di blog pribadi, tidak perlu bingung-bingung.

    Saya sarankan kepada pemirsa, hehehe…. menulis itu, utamanya untuk manusia, bukan untuk 1 Juta…. heuheu.

    Ini Blog saya http://warsa.wordpress.com silahkan mampir ya… ya… ya..

    Hatur Nuhun.

    Warsa

    20 Desember 2010 at 10:03

  45. Yang saya tangkap ialah sebuah kebenaran tercipta untuk dicari dan dibagikan_
    Namun kebenaran bagi setiap kaum ataupun individu terkadang berbeda_
    Terkadang mereka terlalu yakin pada ide maupun gagasannya hingga mengkultuskannya menjadi kebenaran mutlak_
    Dan pada saatnya kelak mereka pun akan terhenyak ketika benar-benar dihadapkan pada kebenaran sejati_
    Begitulah kehidupan_

    Terima kasih bung atas cerpennya_
    Sungguh inspiratif_

    mohaemeen

    13 Januari 2011 at 11:39

  46. hehehehe … saya suka ending nya … bikin saya tertawa bahagia …😀

    she

    19 Januari 2011 at 18:48

  47. ceritanya keren, pasti bakal bagus banget kalo dibikin film.

    guru kiplik akhirnya tau mana yang benar dan mana yang salah.

    silla

    26 Januari 2011 at 23:25

  48. cukup menyentuh..formalisme memang terkadangan tak pernah memperkaya kehidupan

    berdoalah dengan bahasa hati ,, karena tuhan selelau mengerti

    tbmbintangkejora

    2 Februari 2011 at 08:43

  49. Doa…menjadi tema utama Seno…mirip dengan kisah “INJIL”, tapi kalau diusut noumenon cerpen ini sebenarnya Seno ingin menguraikan bahwa setiap manusia bisa berdoa. dan bahkan doa itu juga bisa menjadi lelucon. dan beragama juga lucu. ber-Tuhan juga menjadi suatu dagelan. selamat Mas…

    fian roger

    7 April 2011 at 13:19

  50. menarik
    suka dengan cerita ini

    Mimin Mumet

    28 Juni 2011 at 01:04

  51. Dan akhirnya cerpen ini pun menyandang Cerpen Terbaik Pilihan Kompas (di atas polemik “Guru Kiplik vs Uskup” yang menyertainya: catatan Mas Akmal Nasery Basral di http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150223628779246)(Dodoli vs Three Hermits)(SGA vs Leo Tolstoy)

    miftah fadhli

    28 Juni 2011 at 15:33

  52. Ternyata kesaktian doa (termakbulnya doa) tidak sekedar dengan cara doa yg benar, tp membutuhkan ketulusan. Kiplik sdh merasa yg paling benar, sehingga dia ingin semua orang mengikuti dirinya, dia sdh mempunyai kepentingan, dan Kiplik dng cara2 berdoanya yg dirasa benar hatinya telah terkontaminasi dng keinginan2 duniawi (sakti, disegani scr sosial) mampu berjalan di atas air. Komflik hatinya membuktikan ia ingin sekali bisa seperti itu..Tapi ternyata DOA org yg lugu, bodoh, masih sering salah, tdk mempunyai kepentingan dunia se-mata2 (terpencil sepi di sebuah pulau), sederhana, lebih MAKBUL.
    SGA memaknai persoalan spitual tdk semata-mata kemampuan intelektualitas, pandai, tapi harus melibatkan ketulusan, keikhlasn hati dan laku hidup.
    Memang benar2 Dodolitdodolitdodolibret…….

    Arumbinang

    28 Juni 2011 at 16:03

  53. Cerpen ini ingin menyindir kelakuan para agamawan yang merasa paling bener padahal salah dan kalah dengan masyarakat yang sederhana.

    Restu Handoko

    28 Juni 2011 at 22:10

  54. baru pertama baca cerpen milik om seno itu aj gara2 liat kran bahwa doi menang penghargaan cerpen terbaik. . . . boleh saya bilang om seno seniman dan saya senang senman

    cipto

    29 Juni 2011 at 20:49

  55. […] Links: Dodolitdodolitdodolitbret karya Seno Gumira Ajidarma, cerpen terbaik pilihan Kompas 2010 […]

  56. Selamat atas terpilihnya Dodolitdodolitdodolitbret sebagai cerpen terbaik Kompas, Mas Seno.

    Adek

    30 Juni 2011 at 14:01

  57. Hah?? Cerpen begini jadi cerpen terbaik kompas? Nggak salah tuh?

    Saya suka semua karya seno, termasuk yang satu ini. Tapi dodoli3xbret ini menurut saya kurang layak menyandang gelar terbaik. Apalagi ini semi-plagiat (dari cerpen tolstoy).

    Apakah seno tinggal nama besar? Kalau ya, kompas yg membuat begitu.salah tuh?

    Saya suka semua karya seno, termasuk yang satu ini. Tapi dodoli3xbret ini menurut saya kurang layak menyandang gelar terbaik. Apalagi ini semi-plagiat (dari cerpen tolstoy).

    Apakah seno tinggal nama besar? Kalau ya, kompas yg membuat begitu.

    Kretekkritikkrutuk

    3 Juli 2011 at 17:15

  58. yaahh, maybe, value ato kriteria juara yg kudu didekons.
    Ato mungkin jg zaman mang dah barubah. Dulu, fakta begitu minim, sehingga banyak dugaan dimetafor ke fiksi. Lantas, fiksi itu bikin kita terpesona, krn sptnya tak beda dg estimasi.
    Sekarang, fakta seakan-akan bejibun. Bahkan sering sulit membedakan antara fakta dan fiksi.

    garubug

    4 Juli 2011 at 22:41

  59. Ini mengingatkan pada kisah Hasan Al Bashri yang sempat mencela meski dalam hati, seorang sufi wanita bernama Rabiah Al Adawiyah.
    Dipikirnya Rabiah salah dalam mengamalkan doa. Ternyata, ketika Hasan Al Bashri sholat di atas air, Rabiah malah sholat di udara.
    Ternyata apa yang dikira benar, masih ada yang lebih benar.
    Mengingatkan kita supaya lebih tawaduk dan merasa kecil selalu.
    Karya yang indah, mengalir pelan tapi cukup membeliakkan mata.
    MAs Seno, luar biasa.

    Adriana

    5 Juli 2011 at 16:16

  60. kenapa cerpen ini bisa jadi juara… tolong para kriytikus atau para juri mohon jawab !!!

    miko alonso

    7 Juli 2011 at 10:00

  61. Luar biasa! Selamat atas terpilihnya cerpen ini sbg 10 cerpen terbaik Kompas.

    Sutomo

    13 Juli 2011 at 14:59

  62. […] *) Cerita ini hanyalah versi penulis atas berbagai cerita serupa, dengan latar belakang berbagai agama di muka bumi. Sumber: https://cerpenkompas.wordpress.com/2010/09/26/dodolitdodolitdodolibret/ […]

  63. please bales, ini amanatnya apa? aku disuruh guru bahasa Indonesia cari cerpen di Kompas, ngambil yang ini tapi aku malah gatau ini amanatnya apa..

    ANCHA

    9 September 2011 at 14:46

  64. ya

    ANCHA

    9 September 2011 at 15:06

  65. cerpen tersebut pernah kubaca dengan alur dan cerita sama pada cerpen TIGA PERTAPA karya LEO TOLSTOY, di dalam kumcer DI MANA ADA CINTA, DI SANA TUHAN ADA. saya cukup kecewa mengapa bisa masuk kompas dan bisa masuk di buku cerpen pilihan kompas. benar-benar plagiat.

    saprol

    12 September 2011 at 00:23

  66. Cerpen ini kurang lebih serupa dengan cerita “Kami Bertiga, Kamu Bertiga” yang merupakan terjemahan dari “We are three, you are three” karya Anthony de Mello (Burung Berkicau, terbitan Cipta Loka Caraka) . Bagaimana mungkin Kompas mengangkat cerita yang kurang orisinil seperti ini menjadi juara cerpen? Sayangnya lagi, cerpen ini ditulis oleh cerpenis sekaliber Seno Gumira Ajidarma😦

    Yosef Manik

    13 September 2011 at 22:56

  67. sip dah, top..

    cerpen 8

    22 Oktober 2011 at 08:14

  68. ada kemiripan dengan cerpen luar, penulis leo toystoy. kalau tidak salah judulnya tiga pertapa. yang akhir ceritanya sama….

    prol saprol

    1 November 2011 at 13:48

  69. entahlah, bagus sih. tapi sebagai pemenang?
    entah….
    apa?
    entah….

    muhammad rois rinaldi

    12 November 2011 at 00:55

  70. luar biasa. saya tergelak mendengar endingnya. brilian sekali mas SGA. tak henti saya menyesal mencemooh cerpenmu waktu SMP dulu….

    panji

    24 Januari 2012 at 09:06

  71. walaupun endingnya sudah ketebak tapi cerita ini memiliki banyak pelajaran yang dapat diambil. SUKSES terus buat mas seno semogga saya bisa seperti anda menjadi penulis hebat #amin

    Helfi Pangestu

    27 Mei 2012 at 13:52

  72. kenapa judulnya dibuat
    dodolitdodolitdodolibret?

    imes

    2 Oktober 2012 at 12:12

    • Nah ini nih juga pertanyaan yang pertama kali muncul di benak saya setelah menyelesaikan cerpen ini.
      Saya sendiri hanya penyuka karya sastra, tapi ga punya pengetahuan mendalam tentang teori-teori dan filsafat di dalam karya sastra.
      ada yang bisa bantu jelasin apa hubungan judulnya dengan cerita ini?:mrgreen:

      yusrizal

      24 Juni 2013 at 15:33

  73. Keren. Ceritanua mengalir. SGA memang cerpenis yg saya kagumi. Saya suka baca2 cerpen dia.

    Bahasa Arab

    16 Maret 2015 at 22:00

  74. Mengajarkan bebek untuk berenang,namun si bebek tertarik untuk meniru gerakan manusia berenang

    Jajan pasar

    20 Oktober 2015 at 09:18

  75. izin numpang lewat :v

    RR7

    5 September 2016 at 13:27


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: