Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Lempuyangan: Seraut Kenangan

with 133 comments


Sinyal masuk stasiun dibuka. Kereta kujalankan kembali dengan kecepatan rendah. Tampak Stasiun Lempuyangan detik demi detik semakin membesar, mendekat. Orang-orang sudah berbaris di jalur dua. Kecepatan kereta berangsur-angsur kuturunkan selepas melewati perlintasan di bawah jembatan layang yang penuh mural di setiap sisi penyangganya. Kereta mulai memasuki area stasiun, tepatnya di jalur dua.

Aku mengerem sekali lagi, perlahan-lahan, kulihat barisan penumpang yang berjejal. Seorang petugas stasiun baru saja menangkap surat perjalanan yang kuserahkan lewat jendela. Akhirnya kereta pun berhenti. Dan seperti biasanya, perempuan itu sudah ada di situ, berdiri di ujung barat stasiun, tersenyum padaku.

Lempuyangan yang murung, lempuyangan yang sedih. Mendung bergulung-gulung, cahaya matahari mengendap di langit. Sore begitu tua. Ibu-ibu penjual nasi berpakaian hijau hilir mudik di sepanjang gerbong, berteriak dengan intonasi yang khas, menjajakan nasi yang hangat dan akan selalu hangat. Suasana yang selalu hiruk-pikuk. Tetapi, setelah turun dari lokomotif, perhatianku kemudian hanya tertuju kepadanya, seorang perempuan yang kini duduk di sebelahku, di tangannya ada rantang kecil. Aku tahu, rantang itu berisi makanan: masakannya sendiri. Kami duduk dan sejenak saling menatap.

”Terlambat setengah jam, ya?” Ia bertanya.

”Iya. Kamu sudah lama?”

”Lumayanlah…. Ini, dimakan dulu.”

Aku membuka rantang bersusun itu, ada nasi dan lauk ayam, lengkap dengan sambal. Aku pun segera menyantapnya. Ia hanya mengamatiku.

Kereta yang kukemudikan masih punya waktu sekitar lima belas menit di Lempuyangan, ini dikarenakan sejak perjalanan awal tadi sudah terlambat, dampaknya adalah mengacaukan seluruh jadwal, dan karena keretaku kelas ekonomi, maka harus lebih sering mengalah.

Lima belas menit itu kumanfaatkan untuk menikmati masakan pemberiannya. Ia, seperti hari-hari dan minggu-minggu sebelumnya, tetap tak banyak bicara. Kalaupun harus bicara, mungkin ia hanya berbagi kisah-kisah pendek yang bahagia, entah fiktif entah nyata, lalu diakhiri ucapan selamat jalan ketika aku harus kembali ke atas lokomotif.

Kami duduk di tempat yang agak sepi. Sementara di bagian timur, penumpang hilir-mudik, naik-turun, mengangkat tas, berdesakan, terburu-buru. Aku masih makan. Sesaat kulihat ia tersenyum tipis kepadaku, setipis hati yang sepertinya sangat rindu.

***

Sudah empat tahun aku menjadi masinis, menjalankan kereta api Logawa jurusan Purwokerto-Jember, terkadang juga aku menjadi kepala perjalanan kereta Sawunggalih jurusan Kutoarjo-Pasarsenen. Tetapi tak ada yang lebih menyenangkan selain membawa kereta Logawa memasuki Stasiun Lempuyangan, Yogyakarta. Sebab di sanalah aku selalu melihat perempuan itu selama beberapa bulan terakhir, setia menunggu kedatanganku.

Aku tidak ingat lagi bagaimana pertemuan awal kami, bagaimana kemudian ia rajin membawakanku masakan dalam rantang kecil, bagaimana kami bisa akrab tanpa saling mengenal, bagaimana ia bisa bersabar menunggu kehadiranku di sela jadwal kereta yang selalu dan akan selalu terlambat. Bahkan, hingga kini aku tak pernah tahu namanya. Aku juga tidak memperkenalkan namaku, dan aku tak bertanya apakah ia mengenal namaku.

Ya. Semua terjadi begitu saja, lebih alami dari uap air yang menjadi hujan, seakan-akan kami pernah mengenal pada suatu masa yang lampau, dan kini dipertemukan kembali. Ia menjadi sangat akrab berada di dekatku. Namun, aku tak pernah berpikir serius. Bisa saja ia tidak hanya melakukan ini padaku. Mungkin setiap ada kereta yang tiba, pasti ia juga mendatangi sang masinis dan menawari makanan. Itu dugaan awalku, tetapi, ketika iseng-iseng kutanya masinis kereta Pasundan jurusan Bandung-Surabaya, apakah dia pernah melihat seorang wanita tersenyum padanya setiap kali tiba di Stasiun Lempuyangan, dia tampak bingung, dan ketika kutanya lagi, apakah ada seorang wanita yang memberinya makanan dalam rantang kecil, dia semakin bingung.

Karena itulah, selanjutnya aku benar-benar yakin bahwa ia hanya menungguku, sebab masinis kereta Logawa selain aku pun mengaku tak pernah melihat perempuan yang memberikan makanan dan menyambut dengan senyuman.

Pada usia di atas 40 tahun, memiliki seorang istri dan sepasang anak, pertemuan dengan seorang perempuan rasanya hanya kilasan sesaat yang tak berjejak bagiku, seperti risiko yang biasa dihadapi seseorang yang lebih sering berada dalam perjalanan. Namun lama-kelamaan, kehadirannya seperti serabut yang kian lama kian menguat. Aku kian terjebak. Tiba-tiba ada aura tak terelakkan setiap kali kereta Logawa yang kukemudikan berhenti di Lempuyangan. Pada sore hari, dari arah Jember, kereta ini tiba pukul empat, sementara pagi harinya, dari Purwokerto, kereta tiba pukul sembilan. Di dua waktu tersebut, ia selalu berada di stasiun ini, menyambutku turun dari lokomotif, menjulurkan rantang kuningnya yang berisi makanan kepadaku.

Seperti sebuah seremoni sederhana, aku merasakan ketenangan tersendiri di antara kepenatan dan kebosanan menjadi kepala perjalanan ini. Entah berapa usia perempuan itu, mungkin dua puluh lima, mungkin lebih muda dari itu. Tetapi ia tampak dewasa, cara berpakaiannya, sikap hangatnya setiap kali menatap dan menyambutku, seperti telah mengerti bagaimana menghadapi seorang laki-laki. Diam-diam, kalau sedang bertugas di atas kereta Logawa, aku selalu ingin cepat bertemu dengannya, duduk berdua selama kereta berhenti. Dan setiap kali petugas stasiun sudah memberikan tanda hijau, aku selalu mengalami perpisahan layaknya yang terjadi antara penumpang kereta dan pengantarnya. Aku kembali ke atas lokomotif, melihat ia melambaikan tangan kepadaku, lalu kami perlahan menjauh, menjauh, menjauh, begitu berulang-ulang, dengan janji akan bertemu di jadwal perjalananku berikutnya.

***

Begitulah. Minggu melipat hari, bulan menggulung minggu. Ia masih setia, menungguku, menemaniku dalam rentang waktu yang sangat sedikit, memberikan makanan yang selalu beragam. Entahlah, aku tak bisa menafsirkan perasaan macam apa yang sedang berusaha tumbuh di antara kami. Aku menikmatinya, tiba-tiba segala di luar itu menjadi tidak penting. Rasanya keretaku ingin kuberhentikan lebih lama lagi, melawan lagu anak- anak itu.

Sampai akhirnya, pada suatu hari aku menyadari sesuatu.

Pagi itu, aku berangkat dari Purwokerto. Rindu sudah menggebu. Ketika memasuki Stasiun Lempuyangan, aku melihatnya mengenakan daster merah muda, wajahnya tetap cerah, senyumnya sangat indah, membawa rantang kecil yang segera diberikannya kepadaku. Tetapi sepertinya ada yang tak bisa disembunyikan lagi kali ini: aku melihat perutnya membesar, aku menebak, ia sedang hamil. Itu juga jelas sekali dari perubahan gerak tubuhnya. Aku pun merasa bodoh, mengapa beberapa bulan terakhir aku tak sempat memerhatikan? Meski bisa saja itu karena kemampuannya sebagai wanita untuk menyembunyikan sesuatu. Namun pagi ini aku tak lagi tertipu, ia menunduk ketika aku beberapa kali melirik ke arah perutnya. Seakan-akan sudah tahu apa yang ada di pikiranku tanpa harus mengucapkan sepatah kata pun.

Ya, ia tak perlu berkata apa-apa. Aku juga tak berhak bertanya apa-apa. Kami sama- sama tertunduk. Jadi, ia sudah punya suami, dan sebentar lagi punya anak. Begitu. Lalu untuk apa selama ini ia membawakanku makanan? Apakah ia sekadar membangun fantasi? Padahal aku sudah 40 tahun, setidaknya ia bisa menafsirkan usiaku. Aku tak mengerti, perempuan, di mana-mana, selalu membingungkan.

Sejenak hanya terdengar suara mesin lokomotif, teriakan ibu-ibu penjual nasi, dan obrolan orang-orang yang bercampur aduk. Selain itu, kesepian batin menghampar di antara kami.

Dan demi mencairkan suasana, akhirnya aku membuka suara juga.

”Sudah berapa bulan?”

Mendengar pertanyaanku yang sudah diduga-duga, ia menoleh, lalu tersenyum sambil mengelus perutnya.

”Lima bulan.”

”Ooo….”

Dan tiba-tiba saja aku langsung kehabisan kata-kata.

”Semoga kelak anakku ini bisa jadi masinis, ya?” Ucapnya kemudian. Aku tak tahu apakah ia bertanya kepadaku, sebab kepalanya lagi-lagi tertunduk, tak menatapku. Aku tak mengerti apakah itu semacam pertanyaan atau selintas harapan.

”Jadi masinis? Seperti aku?”

Ia mengangguk, masih tak menatapku.

”Jangan.” Jawabku.

”Kenapa?”

”Masinis sangat jarang tinggal di rumah. Lebih baik anakmu menjadi dokter atau guru.”

Ia terus menunduk dalam senyum heningnya. ”Aku tetap lebih suka anakku menjadi masinis.”

”Kenapa?” Kali ini aku yang bertanya.

”Sebab, masinis selalu dirindukan oleh penumpang kereta meski tak ada yang mengenalnya.”

Aku tak tahu harus menjawab apa. Sebuah jeda yang gelisah, beberapa teman petugas stasiun tampak melirik kepadaku, tetapi mereka sudah tahu, selalu ada yang menungguku di sini. Pemandangan yang sungguh biasa.

Keheningan ini pun terus merebak di antara kami. Aku memikirkan kata, ia entah berpikir apa. Kami mencapai titik diam yang sempurna. Sampai beberapa menit kemudian, seseorang membuyarkannya.

”Waah, Vivin, habis diusir Tante Dini, sekarang mangkal di sini, ya?” Ucap seorang pemuda yang lewat di hadapan kami.

Ia tampak terkejut mendengarnya. Kulihat wajahnya mendadak merah, matanya mulai basah. Ia tak berkata apa-apa, namun apa yang terjadi benar-benar di luar dugaan. Ia segera bangkit, lalu berlari ke arah peron tanpa berkata apa-apa lagi padaku. Semua serba cepat. Entah mengapa aku hanya terpaku, tak memanggilnya untuk kembali. Aku seperti melamun, aku berpikir amat serius tentang kata ”mangkal”, ia sudah menghilang di kerumunan, pemuda itu pun entah ke mana, lamunanku baru selesai, kepala stasiun mengumumkan keberangkatan. Rantang kecil yang ternyata masih di tanganku, kubawa ke atas lokomotif.

Mangkal? Apa dia pelacur? Gumamku. Sambil menatap rantang kuning yang ditinggalkannya.

Suasana kemudian sangat mengganjal. Pagi menjelang siang itu, tak ada lambai perpisahan seperti biasa, seakan-akan aku merasakan suatu keanehan yang dalam. Seperti ketakutan yang samar-samar.

***

Dan sungguh. Apa yang kutakutkan ternyata benar-benar terjadi.

Sejak kejadian itu, sampai hari ini, pada setiap kedatanganku di Lempuyangan, ia tak ada di sana. Tak pernah kulihat lagi seorang perempuan yang menungguku di Stasiun Lempuyangan setiap kali kereta Logawa yang kukemudikan tiba. Seakan-akan yang terjadi selama ini hanya ilusi yang terang dan mencengangkan. Rinduku tersesat, buntu, seperti berujung di sebuah tebing yang terjal. Ke mana perempuan itu? Ke mana dia? Mengapa aku merasa kehilangan? Mengapa ia pergi begitu saja?

Aku berharap ini memang ilusi, mungkin karena aku merindukan keluargaku. Namun aku paham, selalu ada sisa-sisa bayangan bagaimana kebersamaan itu jelas terekam, bagaimana ia tersenyum padaku, bagaimana ia menyerahkan masakan buatannya sendiri, lalu berbincang tentang segala hal yang indah, menghabiskan waktu yang singkat seperti kerinduan yang amat panjang, sampai akhirnya ia pergi begitu saja dengan menahan tangis.

Ya. setidaknya aku bisa mengerti, semua kenangan itu memang benar-benar pernah terjadi, di sini, di Stasiun Lempuyangan yang dingin ini.

Lempuyangan, 2010

Written by tukang kliping

22 Agustus 2010 pada 09:31

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

133 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Senang sekali hari ini membaca cerpen seperti ini. Kalimat-kalimatnya asyik. Bagi seleraku, aku hanya merasa sedikit longgar di tengah. Tapi bagian dialognya keren dan cukup sebagai obat, bahkan multivitamin barangkali. Aku puas dengan cerpen Kompas hari ini🙂

    Norman Erikson Pasaribu

    22 Agustus 2010 at 09:59

    • iyaaaaaaa cukk

      aditya

      13 Oktober 2010 at 19:42

  2. cerpen bang raga, selalu gila… mulai dari taman ewood ke rencana hujan, kemudian anjing manis, lalu sekarang lempuyangan… btw, bang raga ini sepertinya bener-bener jatuh cinta sama tempat yang namanya STASIUN. Yups… aku berani taruhan… sekali lagi selamat. dan lagi-lagi, semoga daku bisa menyusulmu. ke kompas, maksudnya. amiiiin

    mashdar z

    22 Agustus 2010 at 10:17

  3. sempat agak trganggu dgn logika internal cerpen ni, bhwa seorang masinis bisa seindah itu dalam bertutur. Tp ketika melepaskan kerangka stereotipikal dari pikiranku, aku jd hanyut dlm cerita. Sampai mememukan patahan di dialog yang disampaikan teman perempuan si tokoh perempuan, terlalu opened personality, verbal, untuk cerpen yang sgt closed. Sejak itu sampai di akhir jd kehilangan nuansa yg tadi sudah terbangun, ending jd tdk bgtu terasa.

    gide buono

    22 Agustus 2010 at 12:35

    • aku setuju…bung,,
      endingnya terlalu terbuka…
      padahal tanpa dikasih itupun semua pembaca juga sudah tahui…..

      cah ndablek

      12 Oktober 2010 at 13:01

  4. Keren, gila.. Tp endingnya ga perlu dijelasin ttg memori2 si masinis, biar pembaca yg menebak2.. Tp total: kereeen..!!

    Grom

    22 Agustus 2010 at 14:37

  5. keren, Raga! Selamat ya!

    benny arnas

    22 Agustus 2010 at 16:55

  6. Ayo bang Benni…!!!! Tahun ini punyamu juga!!
    Dua Beranak Temurun, Bujang Kurap, …
    ^_^
    Ayo…!! Ayo…!!

    Somad...

    22 Agustus 2010 at 17:14

  7. seakan-akan kami pernah di pertemukan di suatu waktu dan sekarang bersama lagi. walah…iki aku banget sehhh hehehehe

    lia

    22 Agustus 2010 at 17:47

  8. Sip…

    Bamby Cahyadi

    22 Agustus 2010 at 21:49

  9. Mantabb….

    IW

    22 Agustus 2010 at 22:03

  10. cerpen yg hebat, sehebat Di Gerbong Kereta-nya Rama Dira J.salah satu calon cerpen terbaik Kompas 2010.

    btw: numpang nanya:
    kalo tiket kereta Surabaya-Yogya brapa?
    trus ada sorenya ada gak?,krn dulu (thn2007) saya prnah Surabya-Yogya adanya cuma pagi. soalnya rencana mau ke Yogya nih dlm waktu dekat.

    salam kenal semua.

    Kebawosa

    22 Agustus 2010 at 22:24

  11. saya suka!

    virtri

    22 Agustus 2010 at 23:08

  12. nyaman membaca ini… keren.
    tapi… apa ltr blkg masinis yang ini yg bertutur bgitu indah..

    faver

    23 Agustus 2010 at 00:04

  13. hemm saya suka di setiap adegan mereka berdua…

    chalinop

    23 Agustus 2010 at 00:27

  14. Hmm, absurditas yg indah. Setasiusn, Senja, dan cinta. Sangat indah, haru, ri du sekali. Terimakasih.

    Adi Heri P

    23 Agustus 2010 at 03:36

  15. Raga masih tetap lebih bagus menulis puisi daripada cerpen. Tapi buat saya, paling tdk sudah mulai ada sedikit kejujuran dibanding karya2 sebelumnya.

    Better choice next week Kompas!

    A

    23 Agustus 2010 at 08:46

  16. trimakasih A. tanggapan thd cerpen kan memang slalu berbeda2, trmasuk dari sudut pandangmu, setidaknya aku mematahkan sesuatu di pikiranmu tentang 52 52.

    S Raga

    23 Agustus 2010 at 09:04

    • 52-52 itu kan kalo saya yg jadi redaktur, Raga? Dan saat bangun pagi ini saya belum menjabat redaktur sastra Kompas kok🙂

      Saya liat ada kemajuan kok dlm karyamu. Paling tidak sekarang tema2nya lbh mencerminkan kepribadianmu yg sebenarnya.

      A

      23 Agustus 2010 at 09:10

  17. keren bang raga. lebih baik dari yang sekedar cuman bisa komentar. :p

    A

    23 Agustus 2010 at 09:56

    • Maaf ya Raga, saya tdk pernah berkomentar spt ini buat anda🙂

      A

      23 Agustus 2010 at 10:04

  18. suka banget sama cerpen ni…. Mmmm…. puas bener minggu ini.

    kunto

    23 Agustus 2010 at 11:21

  19. saya salut dengan produktifitas bung raga, saya pribadi suka dengan cerpen ini; belum mulus tapi sangat layak masuk kompas

    selamat bung raga, oya, nama Anda kini bisa terus dilihat di bagian penulis populer🙂

    tukang kliping

    23 Agustus 2010 at 12:44

  20. Okelah. Kalo gak dibaca secara realis. Anggap saja ini dimensi lain dari pengarang. Karena, aneh juga kalo masinis bisa bertutur sebaik ini. Intinya, diksinya oke, alur cerita juga oke.

    Indonesia people

    23 Agustus 2010 at 22:28

    • gag da yg lbh pndek twah cerpen,na?????!!!!!

      rima

      30 Agustus 2010 at 16:06

  21. Keren cerpennya,, !

    moh. khaerul imam

    24 Agustus 2010 at 12:21

  22. Cukup bagus. Setidaknya, ending lebih logis daripada cerpen Bung yang ada di NOVA itu. Tentang anjing pudel.

    dion

    24 Agustus 2010 at 15:16

  23. Cerpen ini berhasil membawa pembaca larut dalam pergulatan masinis dan si perempuan berantang. Penuturan kisahnya digayakan ibarat berada dlm kereta, mulai hingga berhenti di stasiun tujuan. Pelan,cepat lalu kembali pelan saat berhenti.
    Begitupun alurnya, membawa pembaca menikmatinya, seperti saat memandang alam sekitar sepanjang perjalanan, pohon-pohon yg seolah-olah berkelebat ke belakang juga getaran roda pada pijakan rel.

    Sepanjang pengetahuanku, dlm dunia cerpen, seorang penulis boleh saja memposisikan dirinya dlm cerpennya sebagai apa saja mungkin kecuali Tuhan.
    Mau dia sbg masinis, dokter, polisi, jaksa , anak SD, pengangguran, angin, meja, laba-laba, sendok dan lain2.

    Memang dlm dunia nyata, mungkin belum pernah ada masinis yg bisa bertutur seindah cerpen ini. Atau adakah Masinis sekaligus cerpenis (suka menulis)?
    Kalo dokter sekaligus penulis sudah banyak,bahkan sejak dulu seperti sang maestro Anton Chekov juga Arsitek seperti Avianti Armand yg juga cerpenis.

    Sebab kalo tdk begitu,berarti kisah dalam cerpen yg memakai sudut pandang aku (solilokui) hanya bisa berkisah tentang cerpenis, akhirnya tema-temanya tdk berkembang.

    Dian KOL

    24 Agustus 2010 at 21:36

  24. trimakasih Dian mmbantu mnjelaskan😀, saya juga agak kaget sih kalo trnyata sudut pandangnya jd ganjalan, saya lgsung mikir, “apa masinis identik dg org2 yg gak bisa berbahasa?”, wah kalo gt masinis kalah dong sama bunga kamboja yg bisa ngomong indah (kalo nggak salah baca, di kompas bbrp waktu lalu, ada penulis yg tokoh aku-nya jdi kamboja)

    Raga

    25 Agustus 2010 at 08:22

    • Lain dong Raga🙂
      Kalo subyek ceritamu itu benda mati, seperti bunga kamboja, atau misalnya apartemen kyk di karyanya Djenar, kan penulis yg ‘menyuarakan’ benda2 mati tsb.
      Berhubung penulisnya itu para ‘sastrawan’, otomatis si bunga atau si apartemen kemampuan berbahasanya jg jadi spt seorg sastrawan.

      Tapi kalo subyek ceritamu itu orang, dgn profesi tertentu atau level pendidikan tertentu, seperti istilah rekan Indonesia people, jika pembaca berpikir ‘realis’ tentu pembaca bisa membayangkan kira2 spt apa gaya bahasa dan bicara org2 tsb.

      Tapi seblm kamu protes, saya tekankan penulis sah2 aja kok mengambil gaya yg ‘tidak realis’. Namanya juga fiksi kan?🙂

      A

      25 Agustus 2010 at 08:55

  25. @A: penulis aslinya ini cuma seorg penjaga warnet serabutan lho, pendidikannya cuma tamat SMA pula. (lebih rendah dr masinis), kan aneh kuadrat jadinya ya bisa nulis kyk gini. ckckck..

    aku tahu kerjaanmu adalah terus mncari celah, hahaha.

    Raga

    25 Agustus 2010 at 09:55

    • Tapi kamu kan penjaga warnet yg sastrawan Raga??
      Baca baik2 dong komen rekan2 kita di sini. Kita cuma belum pernah menemukan masinis yg merangkap penulis, itu aja.
      Kalo memang masinis dlm ceritamu itu ternyata jg seorang penulis, ya diceritakan dong.

      Ayolah Raga, aku kan sdh bilang kamu sah aja kok mengambil sudut pandang ‘tidak realis’. Banyak kok cerita yg spt itu, bukan cuma kamu aja…
      Sudut pandang para pembacamu itu jg tidak salah Raga.
      Jgn negative thinking terus🙂

      A

      25 Agustus 2010 at 10:19

    • bang Raga, mungkin A tidak bermaksud mengatakan bahwa secara realis masinis tak mungkin bertutur begitu indah, barangkali yang dimaksud realis A adalah stereotip yang terbentuk di otaknya saja; bahwa masinis tak mungkin bertutur demikian indah,

      A bisa jadi terkejut setengah mati ketika mendapati tukang becak di jogja bisa fasih berdebat politik, atau room boy sebuah hotel yang konsisten membuat karya puisi.

      jangan terlalu diambil hati lah bang

      paijo

      25 Agustus 2010 at 10:20

  26. hehe, sbnrnya gak ada yg hatinya diambil kok.

    cuma, kalau begitu, kasihan skali profesi masinis ya, trnyata gak beda jauh sama nasib pnumpang Logawa.

    tp trmakasih bnyk bwt tmn2 smua yg mengapresiasi karya saya ini. padahal memang sbaiknya sih, ktika crita udah tampil, pnulisnya gak boleh muncul (apalagi bwt mlakukan pembelaan), pengarang telah mati gitu.

    Raga

    25 Agustus 2010 at 10:27

    • @Paijo
      Baca dulu baik2 dong komentar saya seblm buru2 mencibir bang.
      Anda pikir saya tdk pernah kenal dgn org2 spt yg anda sebutkan itu?🙂

      Saya berkomentar menyambung tanggapan bbrp rekan di sini yg menganggap tokoh masinis ini ‘kurang realistis.’
      Spt yg anda sendiri bilang, realita itu tergantung sudut pandang masing2 pembaca. Mungkin rekan2 itu, termasuk saya, blm pernah bertemu masinis yg juga ‘nyastra’. Atau mungkin kenal dgn masinis tp yg nggak ‘nyastra.’

      Wajarkah bila ada yg berkomentar itu ‘tidak realistis’? Sah saja.
      Apakah lantas semua cerpen itu harus ‘realistis’ menurut pembaca/penulisnya?
      Tentu saja tidak. Itulah yg dinamakan fiksi.

      Apakah ada tukang becak atau room boy, atau penjaga warnet yg ‘nyastra’? Jelas ada.
      Salahkan menulis cerpen yg ‘tidak realis’? Untuk ketiga kalinya saya katakan, tidak salah.

      Realita tergantung sudut pandang pembaca dan penulisnya. Itu juga tidak salah.

      @Raga
      Tdk ada pembacamu yg pernah mengatakan ‘masinis identik dgn org yg tdk bisa berbahasa.’
      Saya katakan bunga kamboja dan masinis itu berbeda, krn hal itu mmg berbeda. Satu benda mati, satu manusia.
      Karena itulah ada sebagian pembacamu yg punya persepsi hal itu ‘tidak realistis.’

      Sama seperti kamu boleh menulis seorang masinis yg ‘nyastra’, sama jg pembaca boleh menilai hal itu sbg kurang/tidak ‘realistis’.
      Tidak ada yg perlu dikasihani. Semuanya sudah jelas. Cuma kurang penghargaan saja thd org2 yg pny realita berbeda.

      A

      25 Agustus 2010 at 11:03

    • @A
      baca baik-baik juga komentar saya; masih merasa saya mencibir Anda? itu urusan Anda

      paijo

      25 Agustus 2010 at 11:22

    • @Paijo
      maaf saya kutip kembali bang: “barangkali yang dimaksud realis A adalah stereotip yang terbentuk di otaknya saja; bahwa masinis tak mungkin bertutur demikian indah.”

      Saya tdk pernah pny pemikiran dan menulis begitu bang.
      Jgn smp terbentuk stereotip di otak anda spt itu. Terima kasih jika anda sudah jelas.

      A

      25 Agustus 2010 at 11:28

    • barangkali; jika Anda tidak seperti itu seharusnya Anda tak merasa tercibir, semoga Anda paham dan saya yakin Anda paham; arti barangkali, mungkin saja dan bisa jadi, terimakasih.

      paijo

      25 Agustus 2010 at 11:35

    • @Paijo
      Anggap saja jawaban saya sbg klarifikasi bang. Tdk perlu ditambah2i “barangkali; jika Anda tidak seperti itu seharusnya Anda tak merasa tercibir”🙂

      Wajar kok org salah paham dlm berdiskusi, maka dari itu perlu diluruskan smp kedua belah pihak paham. Tdk usah terbentuk stereotip, dugaan, barangkali, bisa jadi, yg belum tentu kebenarannya. Terima kasih.

      A

      25 Agustus 2010 at 11:43

    • saya tau kok, saya tidak lebih bodoh dari mbak A, cuma ingin meluruskan jika saya tidak mencibir; bahwa realis bukan terminal karena ia relatif.

      mbak A juga tak perlu mengkhawatirkan stereotip itu mampir ke otak saya

      paijo

      25 Agustus 2010 at 11:49

    • @Paijo
      Sekali lg bang, saya sm sekali tdk pernah menulis “barangkali, anda bodoh” lho🙂
      justru krn saya yakin anda pandai maka saya coba jelaskan duduk perkaranya. Terimakasih, dgn begini semua stereotip negatif di kepala saya dan anda bisa dihilangkan.

      A

      25 Agustus 2010 at 11:52

  27. andai aku jadi A….
    mungkin aku telah memiliki banyak novel, banyak kumpulan cerpen dengan berbagai tema sebagaimana SGA….
    andai aku jadi A….
    mungkin aku jantan menunjukkan nama yang aku punya, meskipun banyak yang mengatakan apalah arti sebuah nama….
    ah,,,andai saja aku jadi A….

    pwnp98

    25 Agustus 2010 at 13:08

    • Saya sdh berulangkali menjelaskan di blog ini semua andai-andai anda. Kalo mmg anda mau jawaban, silahkan cari dan baca, tidak usah terus berandai-andai.
      Anda bebas berpendapat, saya juga.
      Nggak perlu tiap kali saya punya opini yg beda lantas selalu saya di’andai-andai’kan.
      Tapi mmg seperti istilah rekan paijo di atas, jika anda sdh terlanjur punya stereotip negatif ttg saya, ya percuma saja saya menjelaskan panjang lebar🙂

      A

      25 Agustus 2010 at 13:23

  28. Raga engkau sdh mati. A sakit jiwa, hehehehehe. Gila neh orang. Sarap kale.

    Efra

    25 Agustus 2010 at 14:00

    • Tambah lagi satu org yg tdk bisa menghargai realitas dan opini yg berbeda. Tobat-tobat.

      A

      25 Agustus 2010 at 14:16

  29. A, aku yakin dia pengen banget cerpennya dimuat Kompas tapi gak kemuat2 sampe sekarang jadinya stres. lama2 gila tuh org, iks iks iks. Tobat-tobat.

    Efra

    25 Agustus 2010 at 14:06

    • Tobat-tobat. Ini bulan puasa bos, jgn menuduh org yg enggak2 dong.
      Kl anda blm tau duduk perkaranya, tdk apa, tapi setidaknya jgn buru2 memaki2 saya.
      Kl ada yg anda anggap salah dlm tulisan saya, coba anda bilang yg mana? Nanti bisa kita diskusikan agar jelas.
      Saya harap anda bisa berbicara baik2, tdk seperti org sakit jiwa😉

      A

      25 Agustus 2010 at 14:12

  30. aku jadi gak tahu kalau yg kubaca sdh habis karena terlalu menikmati cerpen ini. Makasih.

    RIZAK

    25 Agustus 2010 at 14:09

  31. Sesungguhnya apa yang tak kalah seru dibanding cerpen itu sendiri ialah pendapat masing-masing mengenai cerpen tersebut. Tentu saja, Tuhan menciptakan begitu banyak manusia, tentu dengan begitu banyak pemikiran yang berbeda. Tidak ada yang sepenuh-penuhnya salah atau sehabis-habisnya benar, sebab namanya juga pendapat, kan?

    Tapi, saya suka membaca diskusi di sini. Kadang tersenyum saja yang bisa saya beri, menyaksikan betapa sebenarnya banyak yang masih menghargai perkembangan cerpen di negeri ini.

    @A: saya tidak keberatan dengan nama Anda. Toh, memangnya di sini semua pakai nama asli. Iya, nggak? Yang penting apa yang kita tulis dapat membangun, kan? Nggak penting apa nama atau siapa orangnya.

    FLICH

    25 Agustus 2010 at 15:20

    • Setuju. Mungkin mmg tulisan saya ada yg keliru, krn itu tiap kali selalu saya minta tolong ditunjukkan bagian mana yg dirasa keliru itu, spy bisa kita diskusikan hingga tercapai titik temu, kita bicara baik2. Kalo mmg ternyata yg saya tulis salah, saya sdh berkali2 bilang siap minta maaf.
      Bukannya terus-menerus berburuk sangka thd saya, bahkan datang2 langsung melecehkan, memojokkan dan memaki2 serta memfitnah.

      Mungkin ada kritik anda thd saya bung flich, kalo anda pernah membaca komen saya?

      A

      25 Agustus 2010 at 15:42

  32. aku tahu A itu siapa.
    karenanya aku berani nyuruh dia tobat.kalau terpaksa nanti aku bongkar lho kau, hehehehe. aneh2 saja kau ini.

    efra

    25 Agustus 2010 at 16:48

    • Boleh saja bos, kalo kau mmg tau siapa saya. Saya sih nggak keberatan kalo anda mau mengungkap, toh mmg alasan saya memakai nickname jg tdk ada yg aneh2, seperti org2 lain di sini jg🙂

      A

      25 Agustus 2010 at 16:57

  33. maaf ya, A itu si tukang kliping yg punya situs ini sendiri. dulu kan jarang ada komentar di situs ini (coba periksa hanya ada satu dua komentar bahkan ada yg tidak ada), jadi dia bikin komentar aneh2 biar rame situsnya. Dan berhasil kan. situs ini jadi ramai. Kalau bukan A tapi temannya A juga, sama juga kan.

    rudy

    25 Agustus 2010 at 16:55

    • Bukan bos. Saya tdk kenal dgn pemilik blog ini.
      Sekali lg ya, ini tuduhan tanpa bukti, yg berarti fitnah jg.
      Fitnah kedua, komentar saya yg aneh itu yg mana?
      Saya berkomentar di sini selalu serius, dan selalu dgn itikad baik. Kalo mmg ada yg salah silahkan dikoreksi, tapi jgn asal melecehkan aja.

      A

      25 Agustus 2010 at 17:00

  34. Si Raga ini kan terkenal tukang hina, tukang caci cerpen orang itu, kan? Yang kalau ngomentari karya kawan-kawannya di FB seolah dia paling hebat–padahal dia sendiri gak berni posting karyanya (termasuk yang ini) di FB, kan? Halahhhh!!! Bacot lo gede doank! sama kayak cerpen KOMPAS yang sebelum-sebelumnya, cerpen ini biasa aje. Sangat tidak sepadan dengan mulut besar lu!!!!!! Aku pikir karyamu bisa lebih hebat dari Bamby, Rama, Guntur, bla, bla, blaaaaa….! Biase aje tuh!!!

    Menik

    25 Agustus 2010 at 17:09

    • @Menik
      Bos, biarpun saling berbeda pendapat, tolong anda sampaikan dgn cara yg beradab. Kolom komentar ini seharusnya jadi ajang diskusi positif, bukan tempat saling menghina, memfitnah dan menjatuhkan.

      A

      25 Agustus 2010 at 17:16

    • komentar menik ini tidak benar; telah diluruskan oleh komentar bung raga di bawah.

      tukang kliping

      26 Agustus 2010 at 08:22

  35. @A: Sudah beberapa waktu, saya membaca komen2 Anda. SSaya perhatikan pendapat Anda memang kesannya agak ‘tajam’, tapi kalau ditilik lebih lanjut sebenarnya baik kok. Tidak ada nada2 menghina, menjatuhkan, atau kurang sopan, dan lucunya ada tanda smiley saat kelihatannya Anda agak kesal (maafkan kalau saya salah).

    Sudahlah, mari kita komentari karya ini saja. Karya, bukan subjeknya (entah penulis atau komentator)
    Terima kasih.
    Saya menunggu cerpen minggu depan. Barangkali punya Anda-Anda yang ada di sini?

    FLICH

    25 Agustus 2010 at 19:29

  36. @Menik: maaf lho, kalo km jadi friend-ku di fb, cerpen ini udah kuposting tgl 30 juni, silakan cek notes-ku, cerpen ini kuposting di fb sehari setelah berita logawa terguling di madiun & mnimbulkan korban minggal itu (di mana smpat masinisnya yg tertuduh lalai, sampai akhirnya disimpulkan karena rel patah..)

    ada prtimbanganku untk tdk mmposting cerpen di fb, aku tdk mau dibilang pamer aja. toh bnyk media lain yg mengklipingnya. di sini, di lakonhidup, di sriti, ada media berkomentar, ckckck, parah ni kalo komentarnya kasar & gak valid.

    S Raga

    25 Agustus 2010 at 19:54

    • @ Menik: kalau ingin menanggapi jangan yang sarkastis seperti itu, tidak berguna bagi siapapun dan hanya membuang tenaga anda.
      Kembali ke karya ini, terus terang, saya juga agak kebingungan dengan cerpen ini, gagasannya apa? Kesedihan? Kebosanan? Lalu bagian akhir sepertinya koq terlalu terburu-buru? Kehabisan ide? Keterbatasan ruang koran? Tiba-tiba, entah darimana asal muasalnya, muncul tokoh seorang pemuda yang berperan mengakhiri cerita ini tanpa ada petunjuk atau ‘tanda’ yang diperlihatkan di paragraf-paragraf awal. Seperti sihir saja. Abra kadabra! dan begitulah cerita itu berakhir. Luar Biasa!!

      Aureliano

      25 Agustus 2010 at 21:32

  37. meski karya saya masih sekelas teri dan baru dimuat di koran-koran lokal, baik atau tidak baik (secara subjektif maupun objektif), saya selalu mengapresiasi cerpen-cerpen Kompas yang selalu tampil beda. dan saya (meski bukan karya saya), sangat menghargai komentar-komentar yang diberikan. jujur, pada beberapa komentator saya sempat berpikir ‘tidak baik’, tapi saya yakin, ini semua adalah soal bagaimana seseorang menikmati karya sastra. keep writing all. komen-komen di blog ini tidak ketinggalan menjadi referensi saya dalam menciptakan karya.
    suatu saat, insyaallah, karya saya yang akan anda komentari. hehehe. semangat!!

    miftah fadhli

    25 Agustus 2010 at 21:12

  38. bagaimanapun juga di sini mungkin diperuntukkan sebagai ajang interpretasi, dan juga tempat apresiasi cerpen kompas tentunya. apakah wajar bila ada hinaan, kata kasar yang ditulis sekaliber para apresiator di blog ini. bagaimana admin??

    ge

    25 Agustus 2010 at 21:21

  39. @Menik- aku suka Benny Arnas, aku suka Sungging Raga, aku suka Rama dira, aku suka Pringadi, Faradhina, juga Avianti.
    Mas Sungging kalau ga’ suka dia katakan dengan jujur, memang rada pedas. Tapi, apakah itu salah? Menurutku itu karena saking pedulinya Mas Sungging kepada cerpen Indonesia dan juga kepada bang Benny. Kalau dia ga’ peduli, mana mau dia mengomentari.
    Salamku. Maaf, kalau kurang berkenan dihatimu.

    Somad...

    25 Agustus 2010 at 22:22

  40. saya sangat menikmati cerpen ini bung Raga. luar biasa. saya selalu membayangkan bagaimana menulis tokoh yang berbeda dengan latar belakang penulis tetapi saya selalu merasa gagal. cerpen bung raga akan sangat membantu saya memvisualkan ide saya dikemudian hari. sekali lagi terima kasih bung Raga.

    ronald

    25 Agustus 2010 at 22:47

  41. Keren banget. Lima kali berulang-ulang baca, pengen lagi, lagi, lagi….

    Ramdoni

    25 Agustus 2010 at 23:46

  42. @ semuanya.. Terlebih Oom/tante A yg saya hormati: saya selalu suka gaya bertutur Anda. Banyak yg bisa dibikin perenungan,hehe
    Oia, kembali lagi ke cerpen ini. Sebenere saya malu sih buat ikut diskusi di sini, tapi, ben ah! Siapa tahu gara2 sesekali ikut nimbrung di sini, KOMPAS mau ngelirik cerpen saya.. (ih, kok malah ngarep?)
    Eh, Cak Raga, komenku masih tetep kayak yg dulu kok (di FB). Dan karena malam ini aku lagi suntuk untuk mroses cerpen, makanya aku cari2 hiburan di tempat ini. E, e, e…ternyata! Aku terpuaskan.hehe
    Komenku gini, kawan2..
    “Masak sih si masinis yg bisa bercerita sepanjang rel itu bisa sampai kelupaan awal pertemuannya dengan si Vivin? Kayaknya dia kan enggak terkena amnesia?”
    Nah lho, ada lagi kan kelemahan lain dari cerpenmu ini cak?hehe Tapi sudahlah, ini hanya koreksiku kok.
    Oia Cak Raga.. Aku belum sempet maen ke tempatmu, mungkin lain waktulah. Dan terakhir kali Cak.. Kamu masih inget kan?
    TEMAN YG BAIK ADALAH TEMAN YG JARANG (atau tak pernah) MEMUJI (termasuk karya) MU!
    Ya udah, segini aja dulu.. Maaf lho kalau kurang berkenan di hati.
    Buat Mas Bamby & Mas Benny, mumpung bulan puasa: saya minta maaf yg banyak ya.. Karena pernah suatu kali yg lampau, eko pernah berpikir yg enggak2 tentang Anda berdua. Sekali lagi, maaf ya? 0:0🙂

    Eko Wahyudi Sutardjo

    26 Agustus 2010 at 02:39

  43. RAGA, saya suka baca cerpen anda, selamat ya anda sering dimuat di Kompas. Saya sendiri belum bisa saja tuh, padahal karya tulis saya di tahun delapan puluhan dan sembilan puluhan banyak dimuat di majalah terbitan ibukota dan harian lokal.

    A. Tolong dong kritik dan saran untuk cerpen saya di http://www.yattisadeli.blogspot.com . Ada 2 cerpen di sana, dulu terbitnya di Majalah Kartini dan Harian Pikiran Rakyat

    YS

    26 Agustus 2010 at 06:33

    • Oke Bu Yatti, nanti saya sempatkan membaca.

      A

      26 Agustus 2010 at 08:42

  44. senang membaca diskusi ini. Ketika cerpen berbicara, bahkan melampaui dirinya sendiri.

    gide buono

    26 Agustus 2010 at 08:22

  45. Bung Flich, Aureliano, Miftah, Eko Wahyudi, rekan ge dan Bu Yatti,

    Terima kasih opininya. Sering2 mampir dan komen di sini ya, biar blog ini jd tempat diskusi yg bermutu, tdk cuma jadi ajang fitnah dan pemaksaan selera dari sebagian orang saja.

    A

    26 Agustus 2010 at 08:45

  46. A. Terima kasih sebelumnya, saya orang baru di sini, tapi saya suka baca-baca koment. Kok bisa ya blog ini jadi ajang pertempuran. Kalau cerpen saya bisa masuk Kompas mau dibantai kaya apa pun akan saya terima dengan senang hati. Nah … mudah-mudahan minggu depan cerpen saya bisa tampil di sini.

    YS

    26 Agustus 2010 at 12:10

    • Ada org2 yg tdk bs menerima perbedaan pendapat dan hendak memaksakan apa yg menurutnya sbg versi sastra yg ‘terbaik’.
      Bisa anda lihat sendiri, di sini setiap minggu semuanya bebas mengkritik, bahkan bbrp cerpen dilecehkan habis2an. Tapi giliran cerpen2/penulis tertentu yg menurut mereka bagus, semua org yg berpendapat lain langsung dilibas dgn label iri, pengecut, dll.

      Btw, cerpen anda sdh saya komentari Bu. Terima kasih.

      A

      26 Agustus 2010 at 12:23

  47. Berarti benar ya bahwa tukang kliping pemilik situs ini ya si A itu sendiri. si tukang kliping juga belum komentar di sini.kalau bukan si tukang kliping ya suruhannya biar situs ini rame dan bisa ngalahin sriti apalagi lakonhidup.

    rudy

    26 Agustus 2010 at 14:00

    • Mesti berapa kali saya bilang bukan?
      Belum puas jg memfitnah org?
      Rupanya anda benar2 tdk bs berargumen baik2 spt org yg waras ya? Mungkin krn itu tukangkliping malas menanggapi anda.

      A

      26 Agustus 2010 at 14:10

    • memang ada kompetisi rame-ramean gitu bang rudy?

      dulu saya suka baca sriti, tapi saya tak begitu suka tampilannya :p

      saya malah suka baca di cerpenkompas karena saya bisa lihat komentar para penulis cerpennya; dari yanusa nugroho sampai sungging raga, dan setahu saya lakonhidup malah terinspirasi dari cerpenkompas

      paijo

      26 Agustus 2010 at 14:15

  48. Katanya Kak Lakon emang terinspirasi dari kliping cerpen Kompas. Si Tukang Kliping sepertinya adalah seorang penulis yang tampilan ilustrasi cerpennya……😀.
    Si A, siapapun ia, yang jelas ia adalah salah seorang penulis mapan yang bsa dikatakanlah seorang senior. Sebenarnya tak penting dan ( mungkin kita memang lebih baik ) tak perlu tahu siapa mereka. Biarkan saja mereka begitu, spya kita bisa menerima pendapat2 yang jujur dri mereka.
    ^_^

    Somad...

    26 Agustus 2010 at 15:03

    • Bung Somad, sebenarnya saya sdh banyak kali menjelaskan siapa saya di blog ini. Baiklah saya anggap anda baru bergabung belakangan shg blm pernah membaca penjelasan saya.
      Saya bukan seorang penulis senior spt bayangan anda, saya cuma seorang pembaca biasa, sama seperti banyak rekan yg komen di sini.
      Soal identitas, spt pernah saya katakan seblmnya, kita semua di blog ini adalah org asing yg saling tidak mengenal. Bila mmg ingin lebih saling mengenal, bisa dgn bertukar email atau yg lain, tdk dgn cara asal menuduh.
      Berprasangka itu wajar, tapi prasangka buruk yg sudah diklarifikasi berkali2 tapi tetap saja diyakini saya kira itu sudah menjadi tidak wajar.
      Harapan saya, anda jg bisa ikut menghidupkan diskusi positif di sini Bung.

      A

      26 Agustus 2010 at 15:34

  49. Saya setuju dengan bung A, saya lihat blog ini sepertinya merupakan ruang apresiasi sastra koran sehingga sebaiknya komentar-komentar yang di-posting berupa tanggapan terhadap karya yang dibaca, tanpa mempersoalkan siapa yang mengeluarkan komentar itu. Pepatah bilang ‘intan tetaplah intan, sekalipun ia berada di mulut anjing’. Maksud saya, jika komentar itu tak berkenan bagi seseorang, bukan berarti yang ‘diserang’ balik adalah pemberi komentarnya, tetapi lihatlah argumen yang dikeluarkannya, balaslah dengan argumen yang kuat menurut anda. Dengan demikian, niscaya akan berlangsung diskusi yang lebih menarik dan bermanfaat.
    Buat bung A: salam kenal, tanggapan-tanggapan anda cukup menarik…

    Aureliano

    26 Agustus 2010 at 22:05

  50. benar, sedikit masalah pada sudut pandang.

    ewing

    26 Agustus 2010 at 22:35

  51. cerpennya keren ^^

    Elie Ezer

    27 Agustus 2010 at 11:45

  52. A Sepertinya pertempuran dah selesai. kita tinggal nunggu minggu depan karya siapa yang bakal tampil. Anda kan yang meramaikan blog ini. Saya suka sama koment-koment anda.eh, maaf bukan ngerayu supaya cerpen saya dikasih koment, ini kenyataan.

    YS

    27 Agustus 2010 at 16:24

    • Saya perhatikan tiap minggu komentar ramai kok Bu, coba saja nanti anda lihat.
      Soal pertempuran, tunggu saja nanti kalo ada opini saya berbeda pandangan dgn org2 yg merasa paling ngerti sastra itu, pasti deh rame lagi🙂

      Ngomong2, komen saya di blog ibu kok blm muncul jg sih?

      A

      27 Agustus 2010 at 17:10

  53. oh, sudah?, kenapa ya belum muncul, padahal ibu sudah tak sabar. Oh ya cerita ibu banyakan cerita misteri. Kalau belum muncul juga, mungkin bisa diulang. Terima kasih.

    YS

    27 Agustus 2010 at 19:02

  54. wau dahsyat… tidak ada kt yang sia-sia dalam cerita tersebut, mengelir sederhana… aku jadi iri pada penyairnya…. salam kenal…

    sule subaweh

    28 Agustus 2010 at 10:01

  55. wah, buanyak buuuuuanget komentarnya, muantab deh baik krn Sungging Raga, krn A, juga krn tukang kliping, juga krn para pembaca cerpen kompas semua. moga saja sastra yg terpinggirkan bahkan di kelas2 di sekolah sedikit tdk terpinggirkan, hehehehe. salut pd anda semua.

    Han Gagas

    28 Agustus 2010 at 10:12

  56. “Minggu melipat hari, bulan menggulung minggu.”
    pilihan kata yg manis ^^

    titis arti

    28 Agustus 2010 at 18:29

  57. Besok, cerpen siapa yang jadi topik???????
    gak sabar juga baca cerpen kompas besok. semoga lebih bagus dari yang bagus ini….. hehehehehe

    miftah fadhli

    28 Agustus 2010 at 23:27

  58. Sebelumnya, selamat untuk bung Raga.

    Wow, cukup terkejut dengan koment dari saudara Menik. Kok nama saya diikut-ikutkan ya? Tapi, apa pun itu. Silakan Anda berpendapat. Itu hak Anda. Tentunya, setiap orang punya cara, adab, dan tetek-bengek masing-masing dalam berpendapat. Seperti bung Raga yang memang selalu mengomentari pedas cerpen-cerpen saya yang dimuat koran-koran. Mungkin itulah caranya menyatakan KEPEDULIANNYA pada karya saya. Pun juga (mungkin) dengan niat saudara Menik. Saya juga sekarang tak pernah memposting karya lagi di FB, karena menilai tak terlalu perlu karena telah banyak yang mengkliping.

    Pada akhirnya, kita semua tengah sama-sama belajar. Terlebih saya yang masih bau kencur di sastra koran, 1 tahun pun belum genap mencoba peruntungan. Jadi, mungkin memang pantas dapt kritik dan saran pedas –yang setelah saya cerna dengan kepala dingin sangat bermanfaat. Semoga forum ini terus menjadi forum ilmu bagi saya dan semua pembacanya. Salam hangat….

    Guntur Alam

    30 Agustus 2010 at 08:02

  59. Kalo cerpenku dikomentari dengan kata2 yg membangun seperti yg sring disampaikan bang A, rasanya senang sekali. soalnya pernah cerpen sy dimuat di Kompas tapi sama sekali tak ada yg komen, rasanya kurang greget, maybe nama saya masih baru atau kualitas cerpen saya yg msh biasa2 saja.
    Buat Bung A, boleh dong komennya di cerpen saya satu-satunya yang baru dimuat di Kompas akhir Mei 2009, terimakasih…🙂

    Puteri

    30 Agustus 2010 at 19:59

    • Oke mbak Putri. Jgn kuatir soal “satu2nya”, yg menentukan bagus tdknya seorg penulis adalah kualitas karyanya, bukan seberapa sering dia dimuat.
      Sering mampir dan komen di sini ya mbak. Bkn spy blog ini rame, tapi supaya diskusi di sini jadi berkualitas. Terima kasih.

      A

      31 Agustus 2010 at 08:43

  60. A. koment anda di cerpen saya sudah muncul. Terima kasih yah!. Saya tunggu koment-koment anda berikutnya.

    YS

    30 Agustus 2010 at 21:13

    • Terima kasih juga Bu Yatti🙂

      A

      31 Agustus 2010 at 08:43

  61. ke mana ya perginya perempuan itu….

    di mana2 perempuan selalu membuat bingung….kata yang saya suka…🙂

    bisyri

    31 Agustus 2010 at 04:50

  62. salah satu kekuatan Sungging Raga menurut saya adalah deskpripsinya yang padat, seperti yang ia perlihatkan dalam ‘Sebuah Rencana Hujan’ atau ‘Seekor Anjing Manis;. Cerpen kali saya rasa sedikit longgar, dan terlalu banyak yang dipaksakan masuk ke dalam plot cerita…

    adam

    31 Agustus 2010 at 14:02

  63. Dan hanya Kompas dan KT plus beberapa majalah nasional yang tepat waktu bayar honor atas cerpen yang dimuat, sehingga cerpenisnya bisa bernapas lega.

    Bamby Cahyadi

    31 Agustus 2010 at 14:28

    • kalau koran Suara Pembaruan,honornya kapan dikirim? brapa sih?
      Kompas, Sindo,Jurnas, Koran Tempo, Sinar Harapan honornya berapa ya?

      Dermin

      2 September 2010 at 14:22

  64. hahaha…

    love it, raga…
    yg pasti, lebih seneng baca cerpen2mu drpd puisimu…
    (tahu pasti saat sama2 jd amatiran ya bro..)

    hahaha..
    sukses selalu ya…

    neka

    1 September 2010 at 12:40

  65. kerennnnn

    saiful

    2 September 2010 at 11:04

  66. keren dah.. Masinis.. dulu itu jadi cita-citaku.. tapis ekarang, entah kemana….

    Masinis…. dirindukan meski tidak dikenal…

    Rifki

    2 September 2010 at 11:42

  67. Dermin: kompas bersih 1 juta, 3-7 hari.
    suara merdeka pdku juga tertib kok 300rb.
    republika, 400+pajak 1 bulan, hehehe.
    sindo, dulu 400rb, 2 minggu, gak tahu sekarang.
    lampung post , 200 rb, hehehe, hrs ada teman yg ngambilin.
    yg lain mungkin yg lain yg jawab, gak pernah seh.
    koran lokal, hehehe, di solo lumayan tertib,solo pos dan joglosemar, 1minggu, 125rb, 100rb.

    Han Gagas

    3 September 2010 at 10:27

    • trims infonya mas Han

      Dermin

      3 September 2010 at 13:44

    • KOMPAS biasanya ditransfer Selasa setelah Minggu dimuat. Sementara itu, ada mimpi masuk buku dan honor susulan 2 kali lipat. Lalu, ada yang tahu gimana di Pikiran Rakyat?

      Aba Mardjani

      27 September 2010 at 16:35

  68. Nambahin info Mas Han. Jurnal Bogor 150rbm 2 bulan pake sms redakturnya dulu hehe, Berita Pagi entah berapa honornya sudah 2.5 bulan belum dikirim juga meski sdh konfirm redakturnya🙂

    Setta SS

    9 September 2010 at 00:30

  69. Lagi-lagi yang jadi “bintang” komentar adalah si “A” disini…..

    denioktora

    12 September 2010 at 16:42

    • Niat saya hanya berdiskusi serius bos. Maaf jika jadi memenuhi kolom komentar ini.

      A

      16 September 2010 at 09:16

  70. […] lempunyangan serut kenangan Posted: September 17, 2010 by azloy in Hidup bagaikan mimpi yang tidak nyata Tag:HIdup bagaikan mimpi 0 dicopy dari blog cerpenkompas […]

  71. cerpen ini bagus. bagus untuk di kritik dan bagus pula untuk di puji

    ini cerpen sejarah, yang patut saya tiru gaya kepenulisannyaaa… mengenai rangkaian kata dalam alur waktu yang cukup lama

    semua penulis bagus(sastra), karena mereka,pengetahuan sastra tetap kekal (terlepas bagus apa tidaknya karya sastra)tercatat dalam lembar-lembar kenangan

    ubab

    19 September 2010 at 01:59

  72. cerpen ini bagus. bagus untuk di kritik dan bagus pula untuk di puji

    ini cerpen sejarah, yang patut saya tiru gaya kepenulisannyaaa… mengenai rangkaian kata dalam alur waktu yang cukup lama

    semua penulis bagus(sastra), karena mereka,pengetahuan sastra tetap kekal (terlepas bagus apa tidaknya karya sastra)tercatat dalam lembar-lembar kenangan. dan bisa di jadikan pelajaran untuk anak-anak kita

    ubab

    19 September 2010 at 02:01

  73. mas Han Gagas. Wow, kompas honor cerpennya sampai 1 juta sekarang? hebat! Pantas semua tulisan yang di muat sangat bermutu.

    spears

    27 September 2010 at 10:47

  74. Salam hangat selalu
    Saya sejenak terpasung membaca pergulatan komentar di lembar ini. Saya melihat banyak atensi, apresiasi, maupun puja-puji terhadap cerpen karya bung Sungging Raga. Tak luput pula ada sentimen arogansi yang berlebih dalam berargumentasi, hingga umpatan terlontar. Saya cukup memahami segala opini yang ada. Bukankah dari lontaran opini, kita bisa melihat emosi, psikologi, serta intelejensi seseorang hanya lewat caranya berorasi mengungkapkan opini? Dan tentu saja akan timbul takaran nilai yang dijatuhkan: negatif-positif.
    Well, I can see that: The world is words, and those who do not travel of around world read words.
    Seseorang yang tak bisa menjelajahi isi dunia(dunia fakta maupun fiksi), maka bisa mengarunginya dengan perjalanan membaca kata. Dengan membaca kata maka Anda secara nalar pikir akan berkelana ke dunia(nyata ataupun imaji).
    Saya seraya berkelana menjadi seorang masinis melankolis, kesepian, penuh rindu dan pada akhirnya dalam kesendirian. Cerita yang runtun dan diksi yang lihai

    Tova Zen

    28 September 2010 at 20:34

  75. informasi untuk Aba. honor Pikiran rakyat 250.000,

    YS

    1 Oktober 2010 at 14:17

    • Tx infonya, Bu YS….

      Aba Mardjani

      25 Oktober 2010 at 17:19

  76. sangat mnyentuh, ^^, ternyata selain puisi2 mu , cerpen mu tak kalah bagusnya raga ^^

    ria

    1 Oktober 2010 at 14:26

  77. Saya sampai pusing baca komen” yg segini panjangnya.. Baiklah saya nyoba nanggapi seadanya.
    @ A dan Paijo. Bagi saya kita boleh” sja brpndpat dgn apa yg ada d fkran kta aslkan i2 ngg mlnggr (aturan) yg pntng jgn brslisih dan mrusak slturrahmi. Krna pda fitrahnya setiap kepala itu punya fikiran yg brbeda-beda.
    Atau tentang tokoh yg tidak realis bsa didapatkan dari beberapa cerpen” joni ariadinata.
    @ Bang Raga. Aha rupanya Bang Raga seorang pnjaga warnet. Dmn?. Lumayan kta bza ktemu. Jangankah masinis penjaga warnet saja bza brbhasa dgn sedemikian indah begini.

    Abdul Hadi

    1 Oktober 2010 at 20:46

  78. Tadinya saya pikir sang masinis ini berkepribadian ganda dan perempuan pembawa rantang itu istri salah satu kepribadiannya yg lain..

    rudi

    3 Oktober 2010 at 18:44

  79. saya mengagumi tarian pena anda.

    devo

    4 Oktober 2010 at 13:36

  80. wow….. rekor…
    cerpen dengan komen terbanyak,
    saya juga lebih suka cerpen ini, dibanding yang di suara merdeka yang tntng kota itu….
    he……

    kutu kupret

    6 Oktober 2010 at 11:24

  81. Jan Shiip banget, pak masinis. dari awal penasaran lalu saya menebak-nebak… indah….

    hartoyo

    10 Oktober 2010 at 14:42

  82. usia 40th baru jadi masinis selama 4th?????
    wah wah… usia segitu mah kalo masinis2 di sini, kerjanya pasti udah lebih dari 15th. mungkin sekitar 4th dia jd assmas, setelahnya baru jadi masinis. jd usia 40, seenggaknya sudah lebih dari 10th mjd masinis.

    tapi lepas dari ketidakrealitasan fakta usia+masa kerja, cerpennya keren mas!! d^^b

    amerul

    26 Oktober 2010 at 19:19

  83. Bung A bilang puisi Raga lebih bagus dari cerpennya. Berarti bung A nggak ngerti puisi tuh.

    Raga lebih cocok jadi cerpenis. Puisinya jarang yang bagus.

    Sahabat A

    26 Oktober 2010 at 23:20

    • haha, asem tenan kowe Pring =)) =))

      Raga

      27 Oktober 2010 at 08:26

    • Maaf, menyimak reply Raga di atas, apakah Pring itu berarti anda Bung Pringadi Abdi Surya?
      Mengapa memakai nickname sahabat A?
      Bukan dilarang sih bung, silahkan aja. Saya cuma berharap bukan anda org yg selama ini menggandakan nick saya🙂

      Menjawab komen anda, rupanya selera saya berbeda dgn anda bung Pring.
      Anda boleh menyukai cerpen2 Raga, kalo saya kok tetap lebih suka puisi2 beliau. Tidak dilarang kan bung punya selera berbeda dgn anda?

      Saya pribadi tetap berpendapat Raga lebih cocok jadi penulis puisi. Cerpennya jarang yang bagus.
      Sekali lg ini hanya pendapat saya. Terima kasih Bung Pring.

      A

      28 Oktober 2010 at 09:39

    • kalau mau debat puisi, sampe mampus pun saya ladeni bung A.

      ga pernah baca hiro hideo ya?
      hideo sebagai batter lebih dulu terkenal dari hiro, yang sempat diwawancarai sebagai sahabat A.

      Sahabat A

      28 Oktober 2010 at 22:00

    • plus, saya ga bilang saya menyukai cerpen raga yang ini. ahakahak.

      cerpen ini cuma cerpen kelas dua untuk kualitas puncaknya raga.

      Sahabat A

      28 Oktober 2010 at 22:02

    • btw, bung A, ada beberapa orang yang mengira anda adalah saya.

      saya baru masuk ke blog ini beberapa hari lalu, dan ketika membaca komentar-komentar anda, saya juga merasa itu saya.

      kenapa ada orang yang 11 12 dengan saya? hanya saja dengan moundpose yang berbeda tentunya.

      saya cuma menunggu, kamu memberikan pendapat yang goblok aja. biar saya bisa ikut-ikutan nimbrung. wakakaa…

      eh raga, kamu nonton aja deh, channel nomor lima, tapi ga harus jak tv, meski diiming-imingi hadiah. hohoho

      Sahabat A

      28 Oktober 2010 at 22:11

  84. @Sahabat A
    Bung Pringadi, kalo benar mmg ini tulisan anda, amat sangat saya sayangkan.
    Pendapat goblok?
    Untuk org2 yg merasa paling mengerti sastra, seperti anda mungkin, semua pendapat yg tidak sejalan dgn pemikiran anda pasti bisa anda anggap goblok.🙂

    Untuk kesekian kalinya saya katakan, sastra bukan ilmu matematika bung. Tidak ada itu rumusan sastra yg paling baik dan benar. Seni itu demokratis bung.

    Saya masih sangat berharap tulisan di atas bukan asli komentar Pringadi Abdi Surya. Mudah2an ini hanya tulisan org yg hendak mengadu domba dan memfitnah Pringadi Abdi Surya.

    Tapi kalo benar itu komentar Bung Pring,
    sekali lg saya hanya bisa tersenyum dan geleng kepala.
    Pesan saya, atau boleh dibilang teguran bila ini mmg Bung Pring yg asli:
    Tolong belajar menghargai orang2 yg punya realita dan selera berbeda Bung!
    Salah menurut anda blm tentu salah menurut org lain.
    Anda seniman bung, bukan diktator?
    Bagaimana masa depan sastra Indonesia bila penulis2 mudanya ternyata banyak yg begitu bernafsu jadi diktator sastra dan berkarakter minus seperti anda?
    Sangat memprihatinkan.
    Mudah2an itu bukan Pringadi Abdi Surya yg asli.

    A

    29 Oktober 2010 at 08:55

  85. gw juga baca novel ini di koran kompas versi cetak … gw suka banget … mantabb …🙂

    sangmane

    30 Oktober 2010 at 21:49

  86. ku suka cerpen ini, menurutku masih pantas seorang masinis bertutur seperti itu. Justru jd keindahan cerita….klo boleh jujur pas lihat judulnya ga begitu tertarik, tapi kulihat banyak komen. Jadi tergugah buat baca dan ternyata sangat bagus.berharap suatu saat bisa bikin cerpen sebagus ini.

    lina

    10 April 2011 at 15:35

  87. Raga bukan saja gila kereta, tapi dia memang adalah kereta itu sendiri…🙂

    DS

    14 Juni 2011 at 19:04

  88. emmhh merinding euy

    minto widodo

    15 April 2013 at 22:56

  89. lempuyangan – serayu

    yuni

    7 Juni 2016 at 11:57

  90. […] Lempuyangan: Seraut Kenangan (22 Agustus […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: