Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Tukang Obat Itu Mencuri Hikayatku

with 49 comments


Suatu malam dia datang ke rumahku. Dia memperkenalkan dirinya sebagai pengelana yang berasal dari jauh. Katanya, ia datang ke kampung kami untuk mengadu nasib sebab di kampungnya dia tidak memiliki apa-apa lagi.

Sebagai orang yang dituakan di kampung, aku menyambutnya dengan sangat baik. Kulayani dia selayaknya tamu yang benar-benar baru tiba dari perjalanan sangat jauh. Bincang-bincang kami pun mengalir seperti air. Lalu dia minta aku bercerita. Cerita tentang apa saja, katanya. Tentang kampung ini juga boleh, pintanya.

Aku pun mulai bercerita tentang sejarah kampungku apa adanya, seperti yang kudapat dari kakekku semasa hidupnya dulu. Kulihat dia sangat menyimak ceritaku.

Esok malam dia kembali datang ke rumahku dan meminta aku bercerita. Kali ini aku bercerita tentang yang lain pula. Aku bercerita tentang hikayat-hikayat yang kuperoleh dari kakek dan nenekku. Dia juga kulihat mendengarkannya dengan penuh perhatian. Ketika ada satu alur saja yang kurang dipahaminya, dia langsung menyela dan aku menjelaskannya.

Begitulah saban malam. Katanya, dia belum bisa tidur sebelum mendengar aku bercerita. Akhirnya, kuajak dia untuk tinggal bersamaku, di rumahku.

Saban malam aku bercerita padanya. Semua hikayat yang pernah kudengar dari kakek dan nenek kukisahkan kembali kepada lelaki itu, tetapi aku tak pernah mendengar cerita dari dia, siapa dia, dari mana asalnya, apa pekerjaannya, dan mau apa dia sebenarnya, aku tak pernah diberi tahu. Ingin sekali aku mendengar cerita dari dia, tetapi dia tak pernah di rumah kala siang hari. Sedangkan malam, aku sudah berjanji kalau aku yang bercerita.

Suatu malam aku berhenti bercerita. Aku minta dia yang bercerita kepadaku. ”Aku tidak minta kamu membawa hikayat, aku hanya minta kamu menceritakan siapa dirimu dan dari mana sesungguhnya kamu,” ujarku malam itu. Lelaki itu hanya diam. Kulihat dia menundukkan kepalanya. Hatiku luruh dan akhirnya aku kembali menceritakan sebuah hikayat lagi kepadanya.

Suatu hari aku jatuh sakit. Aku tak sanggup lagi bercerita. Beberapa malam sudah lewat, aku belum sanggup juga bercerita. Lelaki itu pun tak lagi pulang ke rumah. Hingga beberapa malam berikutnya dia juga tak pulang, sedangkan sakitku terasa semakin parah.

Sudah lima hari aku tak keluar ke meunasah. Sebagai orang tua yang dipercayakan mengurus meunasah, seharusnya aku beritahukan kepada Pak Lurah atau pengurus lain. Suatu malam Pak Lurah datang ke rumahku. Semula Pak Lurah mengira aku tak mau lagi mengurus meunasah karena sudah ada yang mencari rezeki sehingga lupa terhadap meunasah. Tentu saja aku terkejut dan sangat malu mendengarnya.

”Apa maksud Pak Lurah?” tanyaku.

”Maaf, saya lihat lelaki yang tinggal bersama Pak Imam sangat rajin menjual obat sambil bercerita di lapangan bola. Banyak orang yang datang mengunjungi dia meskipun hanya sekadar mendengarkan dia bercerita. Tapi obatnya banyak laku, Pak Imam.”

”Jadi dia penjual obat?!” Aku tersentak mendengar cerita Pak Lurah. Kuurut dadaku yang sesak.

Besoknya, Pak Lurah mengajak aku ke puskesmas yang terletak di ujung jalan kampung. Untuk sampai ke puskesmas, kami melewati lapangan bola kaki. Pak Lurah menunjuk lapangan bola itu saat kami melintasinya.

”Di sini biasanya dia menjual obatnya sambil berteriak-teriak menceritakan sesuatu. Ceritanya sangat menarik. Dia juga sangat hafal segala cerita seluk-beluk kampung kita, tentang gajah duduk yang menjadi kepercayaan orang-orang kampung kita, tentang rencong yang bentuknya seperti basmallah, tentang taman gunongan, dan lain-lainnya. Dia paham dan hafal benar semua itu sehingga orang-orang suka mendengar dia bercerita. Di penghujung ceritanya, dia selalu menawarkan obatnya. Banyak laku obat dagangannya,” ujar Pak Lurah panjang lebar.

Aku diam sambil memerhatikan lapangan bola itu. Sepulangnya dari puskesmas, aku melihat banyak orang berkumpul di lapangan bola tersebut seperti yang dikatakan Pak Lurah.

”Nah, itu pasti dia, lelaki yang tinggal bersama Pak Imam,” ujar Pak Lurah. ”Apa Pak Imam tak ingin mendengarkan dia bercerita? Pak Imam pasti suka mendegar ceritanya. Kalau Pak Imam tak keberatan, kita singgah dulu sebentar melihat-lihat,” lanjut Pak Lurah semangat.

Aku dan Pak Lurah mendekati kerumunan orang di lapangan bola. Sebelum sampai di tempat kerumunan itu, aku mendengar seseorang berteriak dengan alat pengeras suara. Suara itu sangat kukenal. Sangat kukenal lagi cerita itu. Itu hikayat Buloh Peurindu yang pernah kuceritakan kepada seorang lelaki, malam Minggu lalu.

Pak Lurah menarik tanganku agar dapat masuk dalam kerumunan orang yang berdesak-desakan. Semula aku tak mau, tetapi Pak Lurah memaksaku. Setelah melewati desakan orang, di tengah lapangan aku melihat seorang lelaki berbadan kurus menggunakan ikat kepala merah melantunkan syair-syair cerita sambil menggenggam pengeras suara. Bajunya berlengan panjang warna putih. Dia juga mengikat kain sarung di pinggangnya sebatas lutut.

Kuperhatikan lelaki itu, pakaiannya persis seperti pakaian Aneuk Meutuah dalam Hikayat Dangderia. Dari mana lelaki ini bisa berpenampilan seperti itu, apakah karena juga dia mendengar ceritaku?

Semua orang terdiam mengangguk-angguk mendengar lelaki itu bercerita, termasuk Pak Lurah. Kulihat Pak Lurah sesekali tersenyum ketika lelaki itu bercerita sambil memperagakan suatu gerakan seperti gerakan tokoh dalam ceritanya.

”Hari ini sampai di sini dulu saya ceritakan tentang Apa Bangai, besok saya sambung kembali. Bagaimana bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian? Ini obat bukan sembarang obat. Kalau Apa Bangai sering lupa, lupa bertanya siapa tamunya, di mana tinggalnya, maka dengan saudara-saudara memakai ini obat, akan terjauh dari lupa punya sifat. Kalau kemarin saya jual sampai lima puluh ribu rupiah, ini hari saudara-saudara tak perlu mengeluarkan uang sebanyak itu. Saudara-saudara tidak punya uang empat lima, tiga puluh, dua lima; ini hari cukup keluarkan dua puluh ribu saja. Silakan ini obat dibawa pulang. Ini hari saya mau bagi-bagi rezeki. Sepuluh pembeli pertama, saya kasih keringanan lima belas ribu saja.”

Lelaki itu berkeliling mendekati para pengunjung sambil membawa sepuluh bungkus obatnya. Akhirnya, dia sampai di tempat aku dan Pak Lurah berdiri. Lelaki itu menatapku. Lama dia memandangku, dari ujung rambut sampai ke ujung kaki. Lalu dia berkata, ”Pak Imam sudah sembuh?”

Aku tak menjawab pertanyaannya, kecuali diam. Aku terus menatap matanya sampai akhirnya dia tak tahan kupandang. Lelaki itu kembali ke tempatnya semula, tempat barang-barang dagangannya.

”Hari ini saya cukupkan sampai di sini dulu,” ujar lelaki itu sambil mengemasi barang-barangnya. Satu per satu pengunjung pun meninggalkan tempat itu. Kuajak Pak Lurah segera pulang. Aku tak mau lagi melihat lelaki itu. Dia sudah mencuri hikayatku, pikirku.

Seminggu sudah berjalan sejak hari itu, tak kulihat lagi lelaki itu menjual obat di lapangan bola. Ke mana dia pergi, aku juga tak tahu. Aku pun tak mau lagi memikirkannya. Hatiku mulai tenang tak mendengar dan tak melihat dia. Tetapi, suatu hari di balai rapat kecamatan, ketika menghadiri musyawarah kecamatan, aku melihat seorang lelaki membawa Hikayat Bayan Budiman. Lelaki itu hadir untuk menghibur para peserta musyawarah.

Kepalaku langsung pening. Telingaku mendengar sangat jelas setiap kata dan sajak yang dibawakan orang itu. Mataku menatap tajam ke arah panggung kecil dalam balai rapat kecamatan. Di sana seorang lelaki kurus mengenakan pakaian mirip Aneuk Meutuah dalam Hikayat Dangderia sedang melantunkan Hikayat Bayan Budiman dengan syahdunya.

Beberapa minggu kemudian, lelaki kurus yang pernah tinggal bersamaku dua bulan yang lalu jadi terkenal di kotaku. Dalam setiap acara, baik di kampung maupun kecamatan, dia selalu hadir sebagai pembawa hikayat. Semua hikayat yang pernah kuceritakan padanya dijadikan sebagai pencari rezeki dan nama. Kini dia semakin terkenal, bahkan sampai ke ibu kota provinsi. Oh, lelaki itu telah mencuri hikayatku dan menjadi orang yang sangat terkenal. Sementara aku semakin tua.

Koeta Radja, 2007-2010

Written by tukang kliping

8 Agustus 2010 pada 11:06

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

49 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. sebelumnya selamat kepada Herman, penulis asal aceh yang cerpennya sudah nasional. cerpen mengandung pesan budaya yang luar biasa.
    kalau tidak salah saya ini cerpen pertamanya di kompas.
    kalau tidak salah.

    zoelmary

    8 Agustus 2010 at 13:58

    • Terima kasih, Zoel. Ini memang cerpen perdana saya di Kompas.

      lidahtinta

      17 Agustus 2010 at 03:41

  2. Luar biasa. Mungkinkah di sana ada pembelaannya tentang Muda Balia yang asli?

    Edi Miswar Mustafa

    8 Agustus 2010 at 19:20

    • ini tentang Muda Belia y..???
      semoga saja bukan..

      Azwar Khalid

      17 Agustus 2010 at 21:10

  3. Bagus banget….!!!

    reganleonardus

    8 Agustus 2010 at 19:51

  4. Jelek. Pengambilan ide yang malas. Padahal saya yakin kalau ada kiriman cerpen kompas yang lebih baik dari ini. Maaf, tapi saya kecewa. Harusnya redaksi kompas memilih berdasarkan cerpennya, bukan karena penulisnya terkenal, langsung muat, padahal belum tentu bagus cerpennya. Just critical.

    dearalfian

    8 Agustus 2010 at 20:32

    • Terima kasih, Dearalfian. Mungkin perlu diluruskan, Herman RN itu bukan penulis terkenal. Dia masih belajar menulis.

      lidahtinta

      17 Agustus 2010 at 03:44

    • fontal and crucial critic…

      Carlos Choleric

      20 Agustus 2010 at 20:51

  5. Cerpen ini mempunyai ide dan alur cerita yang bagus dan menarik, sayangnya ceritanya sudah dapat ditebak pada judul cerpen ini. Semestinya, cerpenisnya bisa mencari judul lain, sehingga ada unsur kejutan atau ada rasa penasaran pembaca.

    Bamby Cahyadi

    8 Agustus 2010 at 20:49

  6. cerpennya bagus tapi lebih bagus lagi jika pak imamnya berbicara langsung kepada seorang pemuda itu dengan tegas karena telah mencuri hak yang bukan haknya.

    sabar liana

    8 Agustus 2010 at 21:16

  7. selamat karena sudah menembus Kompas, itu prestasi yang bisa dibilang hebat. tapi, saya sebagai pembaca setia Kompas, agak kecewa dengan pembukaan cerpen ini yang biasa dan membosankan. tidak ada yang istimewa dari cerpen ini.

    tapi sekali lagi selamat. saya belum tentu bisa semudah ini menembus Kompas

    ruang-cerita

    8 Agustus 2010 at 21:47

  8. cerita nya bagus ibarat gunung tersimpan emas.. . Gunung digali emaspun hilang..tanah hancur terbawa air ,pohonpun sulit untuk tumbuh kembali…

    muhammad makhlupi

    9 Agustus 2010 at 00:09

  9. Ini cerpen, pembukaannya biasa saja dan membosankan. Saya setuju dg ‘ruang cerita’. Akan mjd indah kalau misal:
    Pd suatu malam yg dingin, dia dtg pdku. Sunyi dan tiada seorangpun yg tahu. Ia mengaku sbg seorang pengelana yg mengembara di mlm hari ditemani sunyi. Dari jauh, entah dimana…

    dearalfian

    9 Agustus 2010 at 08:26

    • mungkin biasa saja, tapi tidak membosankan, menurut saya lebih ke sederhana dan berani; dilihat dari judulnya yang sudah menceritakan seluruh isi cerpen ini.

      malah jika pembukaannya seperti yang dealarlfian usulkan; penuturannya jadi tak sederhana, terlalu dibuat-buat, bahasa jawanya ndakik-ndakik. malah tidak indah.

      paijo

      9 Agustus 2010 at 10:49

  10. Sementara media2 lain menampilkan penulis yg itu-itu lagi, Kompas menyajikan yg berbeda.
    Semoga saja Kompas tdk berhenti menggali keragaman karya penulisan di Indonesia.
    Dunia sastra Indonesia bukan milik segelintir penulis saja.

    A

    9 Agustus 2010 at 10:22

  11. Lanjutkan!! Semoga akan ada 52 nama penulis berbeda di Kompas tahun ini; setidaknya diatas 40 pun sudah bagus.
    Selamat kepada Pak Herman karena uda menembus Kompas.

    Somad...

    9 Agustus 2010 at 11:00

  12. Kok….ada penurunan cerpen kompas sekarang ya…..

    K

    9 Agustus 2010 at 11:56

  13. Kompas tetap yg terbaik, berani mengajukan cerpenis yg baru beda dgn koran tempo,uhhh org2nya sama, perdua/3 bulan seperti digilir. memelihara ya memelihara tp jangan kebengeten dong….

    efra

    9 Agustus 2010 at 19:02

  14. sy ikut senang dgn kemunculan nama baru di Kompas.

    salah satu pesan tersirat yg tertangkap dlm cerpen ini ialah soal praktek plagiat. kesamaan tema itu biasa,cara bercerita sama itu biasa. yg mungkin masih jd masalah adalah bagaimana jika sebuah cerpen menceritakan sebuah tema yg sama, kondisi lingkungan yg digambarkan sama,setting pun sama, karakter sama, situasi tokoh sama, namun dgn teknik yg berbeda,apakah itu bisa disebut plagiat atau termasuk epigon atau tidak atau mungkin ada yg lain. Entahlah, saya juga blum paham pengertian plagiat versi UU No.19 tahun 2002

    mengenai ide,justru rasanya tema cerpen seperti ini rasanya jarang,bahkan mungkin baru pertama.

    selamat untuk penulisnya.

    faerkdi

    9 Agustus 2010 at 22:43

  15. Kompas kalah jauh sama Jawa Pos! Sory…tapi ini jujur. Saya sebagai pembaca setia kompas, harus mengatakannya, karena Jawa Pos benar menggila…

    Yohanes Jehabut

    10 Agustus 2010 at 03:01

    • Semuanya Relatif..
      Bagi saya itu sudah lebih dari cukup..
      Nah pertanyaannya gmn cara menembus Kompas dan Jawa pos yang anda katakan..?
      Mohon beritau saya..

      Iwansteep

      8 September 2010 at 13:32

  16. apik…runtun alurnya. tp pesan yang kurang greng,,,

    sule subaweh

    10 Agustus 2010 at 10:14

  17. Jawa pos redakturnya tdk jelas, m. arif kan. hny nema2 beken sj, sulit nama baru muncul. ketimbang jawa pos jauh mendingan tempo, hehehhe. selera saja bung.

    efrataus

    10 Agustus 2010 at 15:36

  18. saya sangat tertarik dengan gaya penuturan yg lugas seperti ini, seperti tidak ada yang ditutup2i, semuanya disampaikan secara jujur dan berani. setelah membaca, para pembaca langsung mengetahui apa yang dibacanya. jika dibandingkan dengan gaya bercerita yang lebih menonjolkan kata puitis or lebih memilih bercerita dengan keindahan kata2 kebanyakan ceritanya menjadi ngambang bahkan mendekati ketidakjelasan akhirnya isi cerita menjadi khayalan pembaca sendiri. tetapi sekali lagi itu pendapat saya, toh yang lain pasti punya pendapat lain atas dasar kesenangan akan model cerita. semoga………

    ronald

    10 Agustus 2010 at 22:26

  19. Seperti ada suatu maksud yang disimpam. Tidak sesepele yang terbaca sepertinya.

    ijazah_sd

    11 Agustus 2010 at 16:47

  20. Saya suka dengan cerpen ini, saya setuju dengan mas bamby, alurnya menarik, walaupun memang judul itu sudah membuka kejutan yang hendak disajikan. Tapi tidak masalah, karena setidaknya setelah terbuka di tengah, endingnya masih kuat, pretensinya yang begitu tampak seringkali mengamburadulkan cerita, tapi tidak untuk cerpen ini. Bahasa yang sederhana justru memberikan kekuatan, menjadikannya tidak sama sekali tampak genit. Perustiwanya juga tampak. Tanpa menimbang judul, saya berani bilang ini cerpen bagus.
    Salut juga untuk komitmen dan langkah berani KOMPAS.

    gide buono

    11 Agustus 2010 at 16:47

  21. alur cerita sangat membosankan coba di beri warna dengan bahasa sehari hari si Penulis kan Beliau dari Aceh!!!!! hmmm mungkin itu lebih menarik dan tidak membosankan

    nita

    11 Agustus 2010 at 20:45

  22. alur cerita sangat membosankan coba di beri warna dengan bahasa sehari hari si Penulis, Herman dari Aceh kan???? hmmm kemungkinan jika menggunakan sedikit bahasa itu lebih menarik untuk di baca dan pasti tidak membosankan!!!!

    nita

    11 Agustus 2010 at 20:52

  23. gk membosankan. ceritanya unik,,makna yg terkandung di dalamnya jelas,dan endingnya…gak ngambang kayk cerpen2 biasanya justru ini sangat menarik skali ceritanya..berbeda dari cerpen2 lain dan inspiratif skali. selamat yah.

    masita

    11 Agustus 2010 at 23:55

  24. @nita- Kompas, di baca seluruh nusantara. Menurutku, 3 tahun adalah wktu yang ckup bagi Pak Herman untuk mempertimbangkan segalanya semisal pengambilan bahasa. Dengan begini saja kita; pembaca, belum sepenuhnya bisa menyukai dan memahami pesan-pesannya. Apalagi kalau bahasanya diGado-gadokan?
    ^_^

    Somad...

    12 Agustus 2010 at 14:49

  25. met puasa buat rekan-rekanku semua

  26. pesan budayanya sangat kental…

    bisyri

    16 Agustus 2010 at 18:43

  27. Selamat, ya, Bang. Tapi, lokalitas ke-Aceh-annya agar terganggu karena Abang menamai kepala kampung di dalam cerpen tersebut sebagai ‘lurah’. Padahal, di Aceh, kepala kampung disebut ‘geuchik’ atau ‘keuchik’. Sementara itu, ‘lurah’ itu ‘kan penyebutan untuk kepala kampung di Jawa.

    Itu saja. Nurul bangga punya Abang kayak Bang Herman. Cerpennya benar-benar bagus. Nurul sendiri, hm, kapan, ya, Nurul bisa menulis kayak Bang Herman.

    nurul

    18 Agustus 2010 at 23:13

  28. Saya justru suka komen Nurul…

    m

    19 Agustus 2010 at 12:56

  29. entah kenapa cerpen ini mengingatkan saya pada Indonesia dan Malaysia…
    mirp g y?

    Carlos Choleric

    20 Agustus 2010 at 20:53

  30. kualitas cerpen kompas semakin tidak jelas.

    rinal

    7 September 2010 at 02:55

  31. […] Tukang Obat Itu Mencuri Hikayatku di kopy dari blog cerpencompas […]

  32. saya senang bisa ngopi dengan Herman RN lebih dari 10x hehe..besok kita ngopi lagi ya…? salam.

    Bahagia Arbi

    19 September 2010 at 00:21

  33. cerpen ini bagus untuk di kritik juga bagus untuk di puji…

    cerpen ini kritik untuk pendidikan indonesia…yang hanya mampu berteori tapi lupa akan kemampuan praktik

    sang pencerita mampu bercerita panjang lebar tentang pengetahuannnya… tapi yang untung adalah orang yang diceritakannya…yang dianggap baru mengenal cerita…

    semua penulis hebat!!!
    karena dia mampu mengundang berbagai kritik atau pujian karena tulisannya….

    ubab

    19 September 2010 at 02:11

  34. ad yang aneh nich mau ya,,,,

    yoyon

    2 Oktober 2010 at 11:00

  35. mohonn izin untuk menggunakan cerpen ini sebagai bahan ajar kuliah, terima kasih.

    herry

    14 Oktober 2010 at 11:23

  36. kang sudut pandangnya dari mana itu, aku masih belum dapat merasuki isi ceritanya.

    bayu

    10 November 2010 at 19:40

  37. sepertinya saya pernah baca cerpen ini dimanaaaaaa gitu … apakah cerpen ini hasil terjemahan? atau inspired by … cerita apa gitu … last time in somewhere … sepertinya saya pernah mengenalnya …

    she

    28 Januari 2011 at 11:52

  38. budaya copas mengopas😀

    nathalia

    28 Juni 2011 at 11:44

  39. menurut saya cerpen ini bagus sekali, saya justru langsung suka begitu baca paragraf awalnya (dan tambah suka setelah baca kalimat terakhirnya).
    setuju dengan komentar Mas Paijo bahwa `kekuatan` cerpen ini ya di sederhana dan berani-nya itu🙂
    karena sederhananyalah jadi sangat menginspirasi.

    xisa

    28 Agustus 2011 at 01:24

  40. Pembaca cerpen ternyata lebih banyak penulis daripada penikmat atau pencinta sastra. Sasaran tembak jadi lebih banyak ke penulisnya ketimbang karyanya… Tulisan ini bagus. Ceritanya bagus. Menginspirasi…

    Ronggo Warsito

    30 Oktober 2011 at 20:28

  41. Cerita sederhana dengan kata-kata yang juga sederhana. Enak dibaca. Orang-orang sekarang sudah cukup sibuk dengan rutinitasnya masing-masing, kalau disuguhkan lagi cerita-cerita dengan bahasa yang “berat” bikin kepala makin mumet.

    Re

    21 Januari 2012 at 16:09

  42. penulisnya siapa sihh ??

    Ian

    1 Oktober 2012 at 20:34

  43. Akan lebih menarik (menurutku) kalau di akhir cerita, ternyata si penjual obat membantu Pak Imam ketika dia kesusahan, atau dia tak lupa (balas budi) atas jasa Pak Imam yg sudah menceritakan semua hikayat kepadanya.
    Tapi kalau memang arah cerpen ini adalah simbolisasi & analogi dari Indonesia & Malaysia, saya setuju akhir ceritanya seperti itu.

    dimassku

    22 Desember 2013 at 07:38


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: