Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Sonya Rury

with 37 comments


Mendengar isak tangisnya, aku terhisap memasuki lorong panjang, penuh kelokan. Pada setiap tikungan, aku menemukan jejak luka yang dalam. Aku tak ingin mencari sebab di balik matanya yang sembab. Aku sangat menghormati keputusannya untuk menangis, di antara detak jarum jam yang menikam dan mengiris.

Air matanya begitu indah: mengalir berbulir-bulir penuh cahaya serupa permata. Aku ingin memunguti dan menguntainya menjadi kalung dan mengenakan di leher jenjang perempuan itu. Siapa tahu, kalung air mata itu dapat sedikit menghiburnya? Tapi niatku yang baru saja kuhunus itu pupus. Ia tiba-tiba menatapku sambil mengucap lirih, “Kamu masih mendengar tangisku?”

Tentu saja aku mengangguk. Dengan lirih kukatakan bahwa aku memang telah menyiapkan waktuku, perasaanku, dan seluruh dalam diriku hanya untuk mendengarkan tangisnya. Dia tersenyum. Tatapan matanya menunjukkan dirinya lega dan dia pun meneruskan tangisnya.

Mendengarkan tangisnya yang panjang dan menyayat, aku menduga dia sangat terlatih menangis atau setidaknya dia punya pengalaman yang panjang dalam soal tangis-menangis. Tentu saja, dugaanku itu sama sekali tak berhubungan dengan dirinya yang perempuan. Tangis bukan hanya milik perempuan, tapi juga laki-laki.

Aku juga sama sekali tidak menganggap ia cengeng, apalagi menghubungkannya dengan raut wajahnya yang sendu dan melankolis. Bagiku ia menangis karena memang harus menangis. Tidak setiap tangisan punya alasan. Karena itu, aku tetap kukuh untuk tidak bertanya kenapa dan untuk apa dia menangis. Kupikir itu tidak sopan.

“Kamu tidak ingin tahu kenapa aku menangis?” ujarnya lirih.

Aku menggeleng. Dia memberikan tatapan yang mengambang. Mungkin aku dianggapnya aneh dan berbeda dengan banyak laki-laki lain yang selalu ingin tahu alasan seorang perempuan menangis. Lalu, laki-laki itu mencoba menjadi tukang pemberi nasihat dengan kata-kata yang gagah dan gemerlap, namun setelah itu menyatakan jatuh cinta. Simpati seperti itu, kupikir, tak lebih dari jebakan.

“Kamu tidak ingin tahu, kenapa aku menangis?”

Aku tersentak, namun cepat-cepat menguasai diri dengan mengambil nafas dalam dan panjang. Kegugupan mendorongku untuk menghunus sebatang rokok dan menyulutnya. Kuhisap rokok itu kuat-kuat dan kuhembuskan asapnya.

Aku tak berani menatap wajahnya. Aku memilih menyapu pandangan pada botol-botol bir yang kosong, pada gelas-gelas yang menganga, atau cawan berisi kacang goreng. Aku merasa kecanggungan itu mencair ketika perempuan pelayan kafe datang dan mengangkat botol-botol itu. Tanpa berpikir panjang, kupesan dua botol bir dan satu porsi kentang goreng. Perempuan pelayan itu cepat melesat setelah pesananku dicatat. Kurasakan suasana canggung kembali mengurung.

Musik blues mengelus ruangan. Seorang penyanyi berambut coklat mengalunkan lagu. Irama dan suaranya menjelma sembilu.

“Apa bagimu kisah perempuan selalu membosankan?”

Kembali ia menohokku. Hatiku merasa tersodok. Aku sulit menjawab. Kurasakan aku gagal menyusun setiap kalimat atau suaraku seperti tercekat di tenggorokan.

“Aku selalu tertarik pada kisah-kisah perempuan. Namun, aku tidak bisa memaksa setiap perempuan untuk menceritakan. Apalagi kita saling kenal belum cukup lama.”

“Bagaimana kalau aku yang bercerita, tanpa kamu merasa bersalah untuk mendengarnya?”

“Tapi aku lebih suka mendengar tangismu.”

“Kenapa? Kamu merasa terhibur?”

“Bukan. Bukan. Jangan salah paham.”

“Lalu, kenapa? Bukankah umumnya setiap orang menangis? Apa istimewanya tangisku?”

“Tangismu sangat indah….”

Dia diam. Aku tak tahu perasaan apa yang kini mengaduk-aduk hatinya. Aku sangat khawatir, ucapanku tadi menyakiti hatinya.

Pelan-pelan ia menyeka air matanya, dengan sapu tangan kecil.

“Aku sudah sangat lelah menangis. Aku telah menangis sepanjang waktu, sepanjang usiaku….”

Suara penyanyi yang menyayat, tiba-tiba menerobos, lalu pelan-pelan menghilang diringkus kesunyian malam.

Tanpa kutanya, perempuan itu bercerita. Pertama kali dia menangis dengan perasaan terluka sangat dalam ketika dia masih tumbuh remaja. Waktu itu, seorang laki-laki setengah baya—yang telah dianggapnya sebagai orang tuanya sendiri—menggagahi tubuhnya. Tangis dalamnya yang kedua adalah, ketika semasa mahasiswa: seorang laki-laki mencoba memerkosanya. Tangis ketiganya pecah ketika ia dilecehkan secara seksual oleh seorang laki-laki, bos dari sebuah perusahaan, tempat ia melamar pekerjaan. Tangis keempat, tangis kedua puluh lima, tangis keseratus satu… ah dia sudah tidak ingat.

“Aku sebenarnya ingin mengakhiri tangisan hidupku. Ya, malam ini, ketika bersamamu.”

Darahku berdesir. Degub jantungku meningkat cepat.

“Kenapa harus bersamaku? Apa istimewanya diriku?”

“Kamu pendengar yang baik. Entah kenapa, aku merasa aman dan nyaman. O ya, meskipun kita baru seminggu ini saling kenal, aku merasakan kita sudah bersahabat sangat lama.”

Aku merasa sedikit tersanjung, meskipun mungkin baginya aku ini tak lebih dari keranjang sampah yang baik dan santun.

“Tapi, ternyata kamu ini laki-laki paling aneh sepanjang yang kutemui dalam hidupku. Kamu tak pernah ingin tahu apa alasanku menangis? Aku merasakan tangisanku ini sia-sia….” Kembali dia “menyerangku”.

Darahku kembali berdesir. Beban rasa bersalah mendadak menindihku. Aku menenggak bir langsung dari botolnya. Namun dingin bir itu kurasakan tak bertenaga meredam gebalau galau dalam hatiku.

“Aku baru saja cerai dengan suamiku,” ucapnya tiba-tiba.

Aku tersentak, tapi aku tak kuasa untuk mencari sebab. Aku hanya berani menebak-nebak dalam benak. Mungkin, dia merasa dikhianati suaminya yang berselingkuh dengan wanita lain. Atau, justru dirinya yang meninggalkan suaminya karena tertarik pada pria lain? Atau alasan klise lainnya. Aku sama sekali tak tertarik mengusutnya.

“Sekarang aku tinggal sendirian. Kebetulan, kami belum dikaruniai anak, meskipun kami telah berumah tangga selama hampir empat tahun.” Perempuan itu berbicara dengan pasti, tanpa emosi. Aku heran, kenapa kini dia tidak menangis?

“Aku ingin mengakhiri tangis hidupku malam ini, bersamamu. Kamu tidak keberatan?”

Aku mengangguk.

Malam telah menjelma gelaran kain waktu yang lusuh, mungkin juga basah oleh air mata perempuan yang sepanjang pertemuan kami tadi selalu menagis. Aku kaget, mendadak ia menggenggam tanganku kuat-kuat. Aku ingin menariknya, tapi tak kuasa. Kurasakan kehangatan mengaliri jiwaku. Aku pun pasrah dalam genggamannya.

“Aku pulang dulu. Besok kita bertemu lagi di sini,” bisiknya.

“Kamu tidak keberatan jika aku mengantarmu?” aku memberanikan diri bertanya.

Agak lama dia diam. Menimbang-nimbang, mungkin dengan bimbang. Namun, gumpalan kecemasanku pun runtuh oleh anggukan kepalanya. Kurasakan sayap-sayap dalam tubuhku tumbuh.

***

Rumah perempuan yang kukenal bernama Sonya Rury itu terletak di sebuah perbukitan yang jaraknya sekitar 25 kilometer dari kota. Mobilku pun cepat melesat, mencapai rumahnya yang mungil tapi indah itu.

Ia menggenggam erat tanganku, membimbingku memasuki ruang tamu. Ketika ia masuk kamar tidurnya, aku duduk mengatur nafas dan degup jantungku. Saat itu aku baru sadar, aku lelaki yang miskin petualangan.

Mendadak ia memanggil namaku. Ia memintaku masuk ke kamarnya. Jantungku cepat berdegup. Aku gugup dan hanya bisa terpaku diam di sofa. Ia mengulangi permintaannya. Kegugupan membimbing langkahku.

Di kamar yang bercahaya temaram itu, ia berdiri memunggungiku. Hanya separoh tubuh kuning langsatnya yang dibalut kain. Kutatap tubuhnya lekat-lekat. Namun, perasaanku yang campur-aduk mendorong niatku untuk berbalik keluar dari kamar. Dia mencegah.

“Kamu tidak melihat punggungku?”

“Ya, punggungmu penuh bekas luka. Bahkan beberapa luka masih tampak baru dan segar…,” ucapku lirih.

“Kamu ingin tahu, kenapa luka-luka itu terpahat di punggungku?”

Dia memelukku.

“Siapa yang melukaimu?” aku gagap bertanya.

Sonya pun berkisah. Dia bertemu dengan seorang laki-laki yang berwajah menawan di sebuah kafe. Mereka pun lama berpacaran. Laki-laki itu menyatakan jatuh cinta dan berniat mengawininya.

“Tapi sebenarnya kami tak pernah menikah…. Maafkan aku telah berbohong di kafe tadi…. Kami hanya kumpul kebo….”

Di bawah ancaman pembunuhan, ternyata laki-laki itu menjual Sonya kepada para pelanggannya.

“Seluruh pukulannya telah merata dalam tubuhku. Juga sayatan dan tikaman pisau lipat.”

Dengan sukma yang selalu meradang, Sonya terpaksa melayani beberapa laki-laki yang bisa membayarnya. Setiap malam. Seluruh tubuh dan jiwanya terasa ngilu.

“Tapi aku tak pernah melihat uang hasil keringatku, apalagi memilikinya….”

Sonya nekat berlari.

“Inilah rumah persembunyianku. Liang hidupku….”

Malam telah menyusut, kegelapan pun semakin surut. Angin pagi bertiup memasuki seluruh ruangan rumah ini, mengusap tubuh Sonya yang penuh luka.

Kutatap wajah Sonya yang tertidur pulas. Mungkin ia sedang menyusun kedamaian dalam hatinya, di tengah pelarian yang penuh kecemasan.

Aneh, aku merasa telah menjadi bagian dari dunia Sonya yang cemas.

Kulihat mata Sonya tak lagi sembab. Ia telah mengakhiri tangis dalam hidupnya.

Ndalem Tirtonirmolo 2010

Written by tukang kliping

18 Juli 2010 pada 20:21

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

37 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. loh kok… Aduh kecewa lagi minggu ni dengan kompas, maaf…

    gide buono

    19 Juli 2010 at 10:24

  2. mempesona dengan peristiwa dan alur yang tidak bisa di tebak, penuh fenomena…

    sule subaweh

    19 Juli 2010 at 11:35

  3. kecewa….

    kunto

    19 Juli 2010 at 14:16

  4. cerita…oke..tapi lebih banyak popnya.

    Fauzen

    19 Juli 2010 at 15:41

  5. pesan ada ..tapi bahasa lebih banyak popnya….

    Fauzen

    19 Juli 2010 at 15:42

  6. assalamualaikum…menurut saya pribadi..cerpen ini bagus..mudah dipahami..walaupun tidak begitu menyentuh…saya masih teringat-ingat cerpen dengan judul solilokui bunga kemboja benar-benar membuat saya menjadi bunga kemboja…tapi untuk cerpen ini saya belum merasakan menjadi aku…@fauzen kalau cerita banyak popnya apakah ada yang salah? (maaf)…
    @ gide: kecewa kenapa bang…(hanya ingin tahu saja)
    @ A : mm…karena jenengan (anda) sering sekali koment di sini. bolehkah saya mengirimi jenengan cerpen karya saya untuk dikomentari…mmm…jika boleh..alamat saya ada di dewi_marufah@yahoo.com..
    terimakasih teman-teman semua..boleh berpendapat..tapi tetap santun ya….oke

    dewi ma'rufah

    19 Juli 2010 at 17:28

  7. nice,. salam kenal..^^

    kang Abid

    19 Juli 2010 at 20:35

  8. Hmmm…ide cerita good. Pemilihan kata juga good. Saya hanya menerka kenapa di awal ada beberapa komentar yang menyatakan kecewa. Mungkin ( mungkin lho ! ) Konflik yang ada kurang dibungkus dengan kata yang “menggigit”. Konflik justeru diungkap dari narasi dialog. Itupun juga (sekali lagi)mungkin terlalu simpel. Di awal terlihat bahwa konflik akan sangat sulit ditemukan, tetapi justeru ternyata sangat mudah, karena inti cerpen ini ada dalam beberapa baris curha-an si Sonya. Tapi okelah. Mohon juga kita saling mengeritik, keritik juga cerpen murahanku di blog..hehehe. slm kenal.

    Yohanes Jehabut

    19 Juli 2010 at 21:31

    • kali cama-cama one mai e kraeng, salam kenal e. Saya telah mendapatkan 1 teman pecinta cerpen……..

      ronald

      14 Agustus 2010 at 21:29

  9. ada beberapa alasan untuk kecewa membaca cerpen ini, tentu ini sangat subjektif, tetapi sejak subjektivitas tidak serta menjadi sisi berseberangan dari objektivitas, dan dalam membaca seni selera juga salah satu variabel apresiasi, maka alasanku:
    1. untuk sebuah cerita yang tampaknya dikehendaki realis, dialog2 ini tampak tidak realis dan sehari-hari, lebih seperti membaca karya panggung jaman2 Malam Jahanam daripada sebuah cerita untuk dibaca.
    2. diksi yang dipakai untuk menggambarkan suasana yang justru adalah bagian penting cerpen ini untuk membangun peristiwa begitu dipuitis-puitiskan, berbeda sekali dengan dialog-dialognya yang seperti tidak puitis tapi di atas langit, sehingga terasa patahan antara dialog dan narasi sang narator. Narasi yang menjanjikan sesuatu yg closed dipatahkan oleh dialog yg begitu opened.
    3. emosi yang dibangun oleh dialog begitu jelas sejelas-jelasnya hingga kurang membawa -setidaknya aku- untuk tune in pada apa yang dirasakan para tokoh, karena terlalu ‘vulgar’. dialognya terlalu banyak omong, TMI too much information.
    4. begitu kecil ruang interpretasi yg disediakan untuk pembaca, karena ruang interpretasinya sudah diisi oleh dialog yang begitu ‘opened’ tadi.
    5. begitu penjelasan2 di bagian awal, kisah ini menjadi begitu mudah ditebak.
    tetap ada beberapa bagian menarik, tapi tidak menolong secara keseluruhan. detail indah dalam kerangka yang kurang seindah detailnya.

    gide buono

    20 Juli 2010 at 03:14

  10. @Dewi
    Salam kenal Jeng Dewi. Sebenernya agak heran kok saya yg dikirimi, krn saya kan cm pembaca biasa dan banyak jg rekan2 lain yg sering komen di sini🙂
    Lagipula jika mmg tujuan anda menulis untuk dimuat di media, kebetulan selera pribadi saya agak jauh lho dgn selera redaktur2 media, jadi mungkin sekali jika menurut saya bagus, buat media malah akan jadi sebaliknya, he he he

    Tapi biarpun begitu saya senang sekali bila diperbolehkan membaca karya anda. Silahkan diemail ke rendahhati77@yahoo.com
    Terima kasih banyak.

    A

    20 Juli 2010 at 08:44

  11. saya setuju dgn bung gide, saya rasa kisah ini terlalu verbal dalam narasi yang tampaknya tidak ingin dibawa ke ruang verbal.

    wanda

    20 Juli 2010 at 09:13

  12. mas atw mbak, hehehe, A kritik jga cerpen sy yah.. Nnti sy krim ke email A, makasih mas atw mbak A, hehehe

    ruangrinduceritaku

    20 Juli 2010 at 10:45

  13. @ruangrindu
    Waduh mas/mbak, saya bkn kritikus sastra lho…mungkin nanti saya baca dan beri pendapat sbg pembaca saja ya?😀
    Saya kira mestinya minta masukan sama rekan2 penulis di sini yg karyanya sering dimuat di koran2, krn itu berarti tulisan mereka cocok dgn selera redaktur.

    A

    20 Juli 2010 at 11:26

  14. satu lagi tentang kisah pilu kekupu malam, setelah kemarin ada janji kaci. dari segi penceritaan bang indra tentu tak bisa diremehkan, cuma temanya sudah sangat klise. benar bukan? banyak sekali tema seperti ini. tinggal pinter2 penulis bagaimana ‘memasaknya’. dan kupikir bang indra sudah cukup berhasil untuk membuat cerpen ini nyami untuk dinikmati. well… semoga (suatu saat) cerpen saya juga nongkrong di ruang ini. amin…

    mashdar z

    20 Juli 2010 at 16:35

  15. bung gide, salam kenal. Tadinya saya suka membaca cerpen ini, tapi setelah baca kritikan anda, jadi kepikiran juga. sebagai penulis cerpen saya ingin juga dapat kritikan dari anda, bbrp cerpen saya ada di Yattisadeli.blogspot.com. trims

    Yatti Sadeli

    20 Juli 2010 at 20:57

  16. Nilai 5,5🙂 maap…

    Indonesia people

    20 Juli 2010 at 23:41

  17. Dalam dunia sastra ada yang dikenal dengan istilah obyektifitas yang subyektif. Maksudnya mungkin semua yang ada di sini sudah tahu tapi coba saya katakan ‘setahu saya’. Seorang pencipta karya sastra akan menggunakan seluruh cara pandang dalam membangun ide cerita. Seluruh imajinasinya dikerahkan untuk membangun alur. Faktualitas untuk membangun interpretasi pembaca (penikmat). Perpaduan tiga kekuatan itu akan menjadi ‘layak santap’ jika diramu bersama ‘petualangan sastra’ sebagai penyedap rasa. Sering kali penilaian terhadap sebuah karya sastra, terlebih yang paling rawan itu adalah cerpen dan novel bukan dari tiga unsur pokok pembangun cerita tetapi taburan penyedapnya. Penikmat sastra modern memang kebanyakan suka dengan ‘kejutan’ dalam alur. Padahal, kejutan itu merupakan taburan bumbu penyedap. Tetapi kenyataan itu harus diterima oleh semua penggiat sastra agar tidak melupakan satu unsur pun. Sebab karya kita dipublikasi untuk dinikmati. Bersiaplah menerima subyektifitas yang obyektif atas karya kita sebagai konsekuensi dari hasrat kita dalam mempublikasikan hasil karya. Mungkin anda sangat menyukai “sambal”. Bahan dasarnya jelas cabe/lombok. Tetapi anda akhirnya menolak makan sambal yang sama – sama bahan dasarnya cabe juga, gara- gara sambalnya adalah sambal tomat padahal anda lebih suka sambal bawang, dengan berbagai argumen yang memang menurut anda ‘begitulah seharusnya sambal’. Nah!

    Yohanes Jehabut

    21 Juli 2010 at 05:12

  18. Cerpen ini, pada bagian pembuka, mengingatkan saya pada pembuka cerpen yang biasa dugunakan oleh SGA dan juga Agus Noor (pemetik air mata). Maka, memang hal tersulit penulis adalah pada membuka paragraf awal, agar dia berbeda dengan cerpen-cerpen yang sudah ada. Mas Indra ini sudah lama menulis di Kompas, jadi secara teknik dia berhasil membawa ceritanya dengan baik

    Bamby Cahyadi

    21 Juli 2010 at 11:49

  19. Setuju ma mas bamby…. aku suka cerpen ini, meski beberapa bagian membuat cerpen ini ada unsur ngepopnya. Tp bagus. Nafas Kompasnya terasa lagi… seneng dech

    Faradina Izdhihary

    21 Juli 2010 at 17:20

  20. dialognya kaku..
    eniwei No Woman No Cry ^^

    titis arti

    21 Juli 2010 at 20:29

  21. kenapa ya…wah mungkin karena kemaren nama jenengan pernah dibajak…ya silahkan dikritik.

    ma'rufah

    22 Juli 2010 at 19:56

  22. @Dewi
    saya blm terima emailnya tuh jeng?

    A

    23 Juli 2010 at 09:08

  23. ah, cerpen gak ada apa-apanya. Gak layak nampil di kompas. Kuciwaaaa…!!!

    budi

    23 Juli 2010 at 09:35

  24. iya…kemaren saya ngenet kemaleman A…nanti kalo ketemu satpam bisa kena marah. jadi loadingnya tak putus…he

    ma'rufah

    23 Juli 2010 at 16:32

  25. @ bang gide..
    wah cukup beralasan…

    ma'rufah

    23 Juli 2010 at 17:14

  26. indah, karena sastra adalah keindahan…
    salam kenal semua mba and mas2nya…ngikut gabung, ingin bisa juga nulis cerpen…

    lani

    23 Juli 2010 at 20:17

  27. oh ya, para penilik cerpen mohon diconfirm yah persahabatanku….ni emailQ jlani70@yahoo.co.id seblumnya trims smwa….

    lani

    23 Juli 2010 at 20:20

  28. kok jadi kurang tertarik ya????????????
    kompas ayop dong……………….

    awan

    25 Juli 2010 at 04:32

  29. menggiring ke arah klimaks tapi yg disajikan justru anti klimaks, menjengkelkan😀

    hazmi

    6 Agustus 2010 at 11:24

  30. ketertarikan saya adalah kata “MENANGIS” dan “LUKA”. apakah ia benar-benar menangis dan apakah dia benar benar ter-‘luka’? terlepas dari ide cerita, alur/plot, bahkan konflik yang dibangun, saya sekarang mengerti bahwa gaya bahasa sangatlah penting untuk dipelajari lebih lanjut…….. semoga

    ronald

    14 Agustus 2010 at 21:31

  31. […] rury September 17, 2010 // 0 di copy dari blog cerpenkompas Mendengar isak tangisnya, aku terhisap memasuki lorong panjang, penuh kelokan. Pada setiap […]

  32. […] This post was mentioned on Twitter by Fathimah Az Zahra, Kanita Miliana. Kanita Miliana said: Sonya Rury: http://t.co/NP7Wxpn @azzababamii ada kata2 keren dalemnya. […]

  33. mantap

    israk

    21 Januari 2011 at 15:27

  34. berasa cewek itu goblok banget. jatuh ke lubang yang sama terus menerus.kalah deh semua keledai dungu

    silla

    29 Januari 2011 at 08:06

  35. asyik. ringan, tapi cukup berisi. aku suka

    Azleni Zainal

    2 Oktober 2011 at 22:33

  36. Huft.,..s0nya yg malang.

    Anja

    1 Januari 2013 at 22:42


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: