Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Janji Kaci

with 42 comments


Jemputlah aku di tikungan ketiga, Kaci. Pukul sebelas, malam Sabtu Pahing nanti.

Kalau kamu datang, tunggu aku di bawah pohon cemara. Aku sudah membuat janji untuk menginap di Gang Bakwan. Kamu ingat? Mak Kus, pemilik rumah yang baik hati itu akan menyiapkan segalanya. Tak perlu berlama-lama, kamu bisa pulang pada pagi kemudian. Setelah itu, kamu memiliki janjiku. Janji yang terakhir.

***

Kaci,
Sudah dua Sabtu Pahing aku menunggumu di tikungan ketiga, di bawah pohon cemara. Menggigil dan sendirian. Tujuh batang rokok kuhabiskan sembari berharap sosokmu muncul dari balik belokan, tetapi pada batang ketujuh, aku tahu, kamu tak akan muncul. Sia-sia saja menunggu. Maka aku akan pulang dalam diam, dan tertidur lepas subuh di sofa merah ruang tamu. Sementara teman-temanku yang lain menari dalam kamar dengan mereka yang telah menambatkan tali di tubuhnya. Diam-diam, aku masih menunggumu. Kamu tak pernah datang. Ke bawah pohon cemara tempat kita biasa duduk di pelipiran jalan, atau ke ruang tamu pondokanku.

Surat itu kuselipkan di bawah pot bunga di samping wastafel Restoran Miraza lantai 1 yang tersembunyi. Di situ, janjimu, kita bertukar pesan. Atau sajak. Sebab katamu, kamu lebih suka membaca gurat tanganku yang rahasia, ketimbang membaca pesan pendekku di ponselmu yang sulit dirahasiakan. Atas nama rahasia pula, surat-suratmu kutitipkan pada sebuah kotak sepatu tua dan kusembunyikan rukut dalam lemari plastik. Tahukah kamu, kotak sepatu itu sudah hampir buncah, sebab kita bersurat tanpa jeda. Sampai kau berhenti muncul di restoran. Atau tepatnya, berhenti memeriksa pot bunga yang letaknya tersembunyi itu. Aku tahu, sesekali kamu masih datang ketika aku tak ada.

Ah, aku tahu, tak sepantasnya aku besar kepala, meskipun kamu bisa membawaku ke restoran yang jaraknya hanya 12 kilometer dari pondokanku itu. Kebanyakan laki-laki yang datang padaku hanya ingin lubang senang, bukan cinta. Tetapi aku telah telanjur memaknai rumah makan besar di lereng Pandaan itu sebagai tempat rendez-vous. Barangkali karena bagiku kamu berbeda dengan penambat yang lain. Sebab rasanya, bukan tubuhku yang ingin kau ikat. Ada yang lebih dari itu. Sebab itulah aku desak diriku untuk bertanya.

Tapi sejak itu kamu tak lagi muncul dan menjemputku dari sofa merah pondokanku. Apakah karena aku telah lancang bertanya? Apa perempuan seperti aku tidak punya hak untuk mencintai? Percakapan di senja layu itu berakhir dengan diam. Kamu ranggas dan mengeras, seperti batu. Lalu lenyap sama sekali. Mama Tien sudah bosan bertanya tentang kamu, sebab tak pernah kugubris. Akhir-akhir ini, ia bahkan bersikap judes padaku. Sebab aku sudah enggan berias. Meski dengan wajah natural pun orang-orang tetap menganggapku primadona Pesanggrahan.

Kaci,
Aku tahu kamu membaca suratku. Aku tahu kamu perlu waktu untuk berpikir. Tapi Sabtu depan adalah Sabtu Pahing terakhir yang bisa kuberikan. Aku tak bisa menunggu selamanya. Mama Tien mengancam akan memotong bagianku dua kali lipat lebih besar, kalau aku terus-terusan keluar ketika malam sedang ramai. Lagipula, ia mungkin takut aku akan lari. Aku bukan orang kaya, Kaci. Aku masih punya mimpi untuk membangun sebuah rumah batu di Jember sana. Berangan-angan bisa memensiunkan emak-bapakku dari ladang orang. Biarlah mereka hidup enak. Biar aku saja yang bekerja. Bukankah aku pernah bercerita?

Maka, Kaci, jemputlah aku di tikungan ketiga, di bawah pohon cemara. Setelah itu kita bisa pergi. Tidak ke rumah dengan sofa merah itu. Tidak juga ke kota, sebab aku tak berniat lari. Tapi ke sebuah kamar hangat di Gang Bakwan, yang sudah kupesan dan kubayar lunas. Sedikit orang mungkin hadir untuk mengesahkan perjanjian kita. Tapi selebihnya, kita sendirian. Seperti biasa. Kamu boleh memilikiku sepenuhnya.

***

Jumat legi terakhir. Semua sudah rapi kusiapkan. Entah kenapa aku bisa begitu yakin, kamu akan datang. Sebelum adzan Jumat selesai sikumandangkan, aku sudah terjaga, lebih awal dari biasa, dan buru-buru turun ke Gang Bakwan.

“Apa kamu yakin, dia pasti datang?” tanya Mak Kus setelah tawanya habis, ketika aku tergopoh-gopoh datang padanya untuk memastikan. Rencana ini memang kususun bersama Mak Kus. Hanya dengannya aku berani bercerita. Dulu, Mak Kus sama sepertiku, tak seperti Mama Tien yang judes dan pandai berhitung. Karena itu ia bisa memahamiku.

Aku mengangguk. Mak Kus barangkali menangkap kecemasan berkilat di wajahku.

“Sudah ada ojek yang njemput Pak Ma’ruf?” pertanyaan perempuan gemuk yang baik hati itu membuatku tercekat. Bukan karena aku alpa mengatur rencana. Tapi oleh angin dingin yang tiba-tiba menghantam tubuhku. Memerihkan jantung. Entah kenapa. Barangkali sebab kedatangan Pak Ma’ruflah yang akan mengesahkan perjanjian terakhirku denganmu.

“Sudah, Bu. Taryo nanti yang pergi. Aku akan bel dia kalau Kaci sudah datang.”

Jam dua belas lewat tengah hari. Setelah menyulut sebatang rokok yang tertinggal di meja, aku berpamitan.

“Salam untuk Sur, ya Bu. Masih tidur dia?”

Induk semang yang kukunjungi itu mengangguk. Aku beranjak dan melambai. Kurasakan wajahku merona, entah kenapa?

Aku berbelok ke barat, keluar gang, menyusur jalan raya, dan mendaki ke utara, melewati Hotel Inna. Hangan masih terus tertinggal di pipiku. Tetapi dingin menyusup dari hutan-hutan jauh. Kaci, semua sudah siap. Tinggal diriku sendiri yang mesti berkemas.

***

Pukul sebelas kurang lima belas. Susah payah, kujejalkan selembar gaun hitam seharga Rp 250.000,- yang kubeli dari Mama Tien ke dalam tasku. Menurutku, gaun yang harus kucicil dalam lima kali pembayaran itulah satu-satunya yang layak dijadikan pakaian pengantin. Aku lalu menyelinap lewat pintu belakang setelah berpamitan dan mencium pipi Mama Tien. Mukanya sedikit cemberut, karena sedari sore sudah tiga-empat orang yang datang untuk menemuiku dan kutolak halus-halus, tapi toh diizinkannya aku pergi, setelah kujanjikan akan membawa upeti esok pagi.

Pukul sebelas tepat, aku sudah duduk di sana, menunggumu di tempat yang dijanjikan. Jantungku berdegup kencang. Tubuhku menggigil. Sambil menyulut sebatang rokok pertama, kubayangkan kamu dan perjanjian kita nanti. Kamu akan menjemputku dengan sedan 80-an yang aroma kabinnya kuingat betul. Setelah itu, kita mampir di toko Pak Sokeh untuk menjawil Taryo. Biasanya ia menunggu ojekan di sana. Aku akan memintanya menjemput Pak Ma’ruf di Kalisat. Perjalanan Prigen-Kalisat-Prigen dengan kecepatan sedang di malam hari makan waktu kurang lebih satu setengah jam. Sembari menunggu penghulu yang biasa menikahkan pasangan kawin siri itu dijemput, kita bisa duduk-duduk di depan Hotel Surya, menikmati jagung bakar dan seseruputan angsle panas, merokok dan mengobrol. Aku akan bertanya, ke mana saja kamu selama ini? Apa kamu enggak kangen sama aku? Dan kamu akan tersenyum tipis seraya meremas jariku. Itu adalah isyaratmu kalau sedang ingin menciumku.

Kusulut batang rokok ketigaku. Malam menjadi. Di jalan, mobil lalu lalang. Sesaat, aku seperti melihat mobilmu, tapi kalau toh benar kamu pasti berhenti dan menjemputku. Kuembus asap kuat-kuat ke udara. Kamu mungkin terlambat, tapi pasti datang. Sesuatu di perutku meloncat girang, seperti kupu yang menggeliat dari kepompongnya.

Pukul satu, kita akan berkumpul di Gang Bakwan, di dalam kamar hangat yang telah kupesan dan kubayar lunas. Aku dan kamu, Mak Kus, Pak Ma’ruf, dan Suryani. Aku akan menyalin bajuku dengan gaun yang kubawa, dan membaiki riasan yang luntur disapu angin malam. Sementara Mak Kus dan Suryani membawakan kerudung, peci, dan kitab suci. Gemetar, kuraba uang dalam amplop yang kusimpan baik di dalam tasku. Tujuh ratus ribu. Biaya perkawinan kita, lengkap dengan buku nikah yang nyaris tak beda dengan yang asli.

Ya, Kaci. Bukankah sudah kukatakan kepadamu, aku ingin menikah? Tak perlu takut kena penyakit kelamin, sebab aku disiplin dengan kondom, dan dua kali seminggu pergi suntik ke Puskesmas Pandaan. Aku juga tak akan banyak menuntut seperti lazimnya istri-istri yang lain. Toh kamu sendiri sudah punya istri. Hati kecilku tak pelak berharap kamu akan membawaku pergi dari rumah bersofa merah terang itu, untuk menetap di rumah kecil yang hanya terbuka untuk tamu baik-baik, tapi jika itu terlampau muluk-muluk, aku bisa tinggal di sini saja. tetap dengan mimpiku membangun rumah batu di Jember sana dan memensiunkan emak-bapakku dari ladang orang. Bagiku, menikah denganmu saja sudah cukup.

Cepatlah datang dan jemput aku, Kaci. Malam hampir berakhir. Aku tak sabar lagi.

***

Pukul dua. Mobil mengalir tak sederas tadi; kini mereka parkir di vila-vila. Kamu tetap saja tak ada. Mulutku asam dan berliur menahan lapar dan dingin. Di mana kamu? Aku tak seberapa peduli pada lapar, kita bisa makan bersama, nanti. Tapi kenapa kamu belum juga datang? Bulu kudukku berdiri. Angin menusuk. Di langit timur, kembang api mulai menyalak. Orang-orang berpesta. Malam ini malam Minggu extravaganza.

Aku belum ingin menyerah, Kaci. Tapi aku kedinginan tanpa kamu.

***

Dekat jam tiga pagi. Jalanan sepi, sudah terlampau larut. Kubuang gaun pengantinku jauh ke jurang, sebelum berjalan mendaki ke Gang Sono. Malam ini kuputuskan untuk pulang ke Gang Bakwan, ke kamar kosong yang sudah kupesan. Aku bisa main kartu sendirian di sana. Atau bersama Suryani, kalau dia tak sedang ada tamu. Kalau ada penambat yang kelihatan cukup berduit, barangkali aku akan berubah pikiran. Satu-dua lelaki saja cukup. Lumayan untuk menyaur upeti pada Mama Tien besok pagi. Sembari tersengal, kusulut rokok terakhirku.

Aku berbelok ke toko Pak Sokeh untuk membeli minuman dan rokok. Ada duit tujuh ratus ribu menganggur di dalam tasku. Malam ini aku bisa foya-foya. Di tikungan, sepasang manusia setengah teler keluar dari rumah biliar di sebelah toko. Berangkulan, berciuman. Aku merasa mengenal salah satu dari kedua orang itu, maka aku berhenti sejenak untuk memerhatikan mereka. Sepasang manusia itu masih tertawa-tawa.

”Darsih!” si perempuan memanggilku. Misye, pesolek Gang Sono yang terkenal pandai merayu. Aku melambai dan tersenyum tipis.

”Hei, ‘lemu’, Sye?” Ya. Tentu. Aku tahu benar, laki-laki itu cukup gemuk dompetnya, Misye. Bersenang-senanglah kamu malam ini. Misye tertawa genit sambil menggamit lengan si lelaki.

Lelaki berkemeja hitam yang masih memandangku dengan wajah putih.

Ya. Itu memang kamu, Kaci. Tapi aku tak lagi mengenalmu.

Kubuang puntung rokokku yang masih setengah ke tanah. Sebelum kembali berjalan menuju toko Pak Sokeh, tanpa menoleh lagi.

Written by tukang kliping

4 Juli 2010 pada 06:44

Ditulis dalam Cerpen, Kontroversi

Tagged with

42 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. sedihnya…

    Lia

    4 Juli 2010 at 19:33

  2. gaya bertutur surat, monolog…aman-aman aja cerpen ini.

    hoebartz

    4 Juli 2010 at 20:00

  3. Cerpenny bagus. Hanya saja menurutku endingny kurang menggigit. Sudah bisa ketebak sejak mula membaca kalimat : Sepasang manusia setengah teler…

    Somad...

    4 Juli 2010 at 20:35

  4. wah, wah, penantian yg sia-sia… saya suka dgn gaya cerita ini.

    Vira C

    4 Juli 2010 at 20:46

  5. Cerpen ini sudah pernah dimuat di Suara Merdeka pada tahun 2009. No Comment, Kompas menyedihkan… Hiks ;-(

    Silakan di cek di sriti.com

    Bamby Cahyadi

    4 Juli 2010 at 22:12

  6. @:Bamby
    ASTAGA!!!
    Kalo pnulis pmula dan sudah mengirim selama sebulan lebih tapi tak mendapat konfirmasi, itu masih bisa dimaklumi. Tapi rasanya mustahil,jika si penulis mengirim crpn ini tahun lalu. Sudah lebih 5 bulan.
    WADOWWW!!!

    Ran Pasnim

    4 Juli 2010 at 23:48

  7. @Bamby ?????? What happened??

    Yohanes Jehabut

    5 Juli 2010 at 01:14

  8. wah iya… padahal bagus cerpennya.
    ko bisa y???

    kunto

    5 Juli 2010 at 09:00

  9. ini menyedihkan, editor kompas kurang teliti; Janji untuk Kaci sudah dimuat di Suara Merdeka pada 8 Februari 2009.

    http://entertainmen.suaramerdeka.com/read/entertainmen/2009/02/08/1154/Janji-untuk-Kaci

    tukang kliping

    5 Juli 2010 at 09:09

  10. Kasihan….

    Rifan N

    5 Juli 2010 at 10:03

  11. Penulisnya yg menyedihkan

    Han

    5 Juli 2010 at 12:22

  12. Cerpennya bagus, tapi kenapa ya kreatifitasnya ga’ dikembangin dengan menuliskan Cerita yang lain.
    Cerpen yang uda terbit kok di kirim lagi.
    Rasany gimana gitu….

    Somad...

    5 Juli 2010 at 12:30

  13. Memang menjadi dilema, ketika cerpen dikirim ke suatu surat kabar, tak ada kabarnya, dikirim lagi ke koran yang lain. ya begini, sama-sama dimuat, jadi barabe urusannya. Saya pernah juga menemukan cerpen yang sudah menang lomba, kemudian dikirim juga ke kompas. padahal sudah melanggar etika banget…

    K

    5 Juli 2010 at 12:47

  14. merebut jatah yg lain ini.. brapa bnyk cerita2 dr pnulis lain yg tersingkir karena cerpen yg ternyata udh dimuat (tanpa semacam penambahan / pengembangan) ini.

    S. Raga

    5 Juli 2010 at 17:16

  15. waah,, kecewa bwangetzzz tuch!!!!

    nicke

    6 Juli 2010 at 07:16

  16. @Han&Somad
    Sepakat dgn rekan K, masih ada kemungkinan penulisnya tdk menyadari cerpennya sudah pernah dimuat Suara Merdeka.
    Yg jelas ini memang keteledoran redaktur Kompas.

    A

    6 Juli 2010 at 08:57

  17. iya, kompas sembrono

    Han

    6 Juli 2010 at 13:07

  18. Kalau di pikir, mungkin ada benarnya pendapat A. Penulisnya tidak menyadari kalau cerpennya uda pernah di muat. Awalnya Mungkin dia selalu mengikuti Suara Merdeka, trus karena karyanya ga’ pernah nongol2 di stu, dy kesal hingga brenti ngikutin Cerpen koran di sana(dengan berasumsi bahwa karyanya di tolak sehingga tak mungkin diterbitkan) setelah itu mungkin juga Ia merasa putus asa hingga mundur dari dunia Sastra koran. Kemudian, karena (mungkin) Ia merasa sayang bila karya yang uda susah-susah Ia buat menjadi sia-sia, Ia pun mencobanya lagi kepada Kompas tahun ini.
    Intinya, penulis dan Kompas (mungkin) sama-sama teledor.

    Somad...

    6 Juli 2010 at 18:57

  19. Ke depan diharapkan ini menjadi pelajaran bagi kita semua. tapi, benar lo, saya udah beberapa kali ngirim cerpen ke koran, misalnya, tempo atau seputar indonesia, diikui beberapa minggu, gak muncul, kabar dari redaksi gak juga, walau hanya pemberitahuan melalui email. ya, dikirim ke koran lain aja lagi, soalnya menulis cerpen kan susah banget…

    K

    7 Juli 2010 at 11:43

  20. Setuju sama K.
    Kadang harus bolak-balik puluhan buku Untuk mencari referensi, kadang harus nulis tengah malam untuk mencari ketenangan dan waktu, intinya : menghasilkan karya memang (agak) susah.

    Somad...

    7 Juli 2010 at 16:46

  21. benar, monolog yang ‘santun’ meski berkisah kesedihan.pengarangnya berhasil memberi suasana yang terjaga

    ewing

    8 Juli 2010 at 08:20

  22. adalah monolog yang ‘santun’tentang cerita yang ‘pedih’, pengarangnya mampu membawa suasana dengan terjaga, minim metafora-diksi namun tetap mempesona dengan akhir cerita yang membebaskan tokohnya…

    ewing

    8 Juli 2010 at 10:22

  23. Tidak usah terlalu dipermasalahkan kalau ada cerpen kembar di dunia mass-media. Karena cerpenis sekaliber Angkt.66, senior, para cerpenis lainnya sekurangnya pernah mengalami pengalaman yang sama.
    Redaksi juga punya keterbatasan mengintip ruang cerpen mass-media lain.
    Diharapkan, tidak ada skorsing, black-out, terhadap cerpenis yang mengalami kesialan semacam ini, karena tidak memalsukan atau unsur kesengajaan.
    Anehnya pula, sekarang Redaksi tidak memulangkan cerpen tidak layak muat dalam waktu 2 minggu (Kompas dulu begitu, sekarang tidak ! Malah berbulan-bulan baru dipulangkan).
    Betul, ini pelajaran kita bersama.

    ardian

    9 Juli 2010 at 02:06

  24. yah mas mbak sekalian…editor pasti kan punya sisi manusiawi..sekali-kali punya salah…hehe..tentang janji kaci…wah kkalau jadi tokoh utamanya..tak terbayangkan sakitnya…Anyeeeel anyeelll banget dah..

    dewi ma'rufah

    9 Juli 2010 at 12:53

  25. Sebab blum tau betul mngapa hal ini bisa trjadi,oleh sebab itu dlm hal ini saya tak bisa langsung menyalahkan penulisnya jg medianya. Atau mungkin tak perlu ada yg disalahkan. Bayangkan saudara2 kita yg tinggal di pelosok lantas mengirm cerpen ke sebuah media. Dan dia tak bisa terus menerus mengeceknya krn di tmpatnya untuk berkoneksi internet cukup sulit termasuk untuk mndaptkan versi cetaknya. Lalu misalnya setelah sebulan lebih tapi tak sampai 2 bulan, dia mengecek crpnx tak dimuat2 dan tak jg dibri konfirmasi, lantas dia mengirmnya ke media lain dan tak sampai sebulan dimuat dan ternyata pada hari yg sama atau hanya brjarak brbapa hari dimuat di media di t4 prtama dia mngirm crpn trsebut, tentunya penulisnya tidak bisa diprsalahkan apalgi diblacklist.

    Baiknya media jg menyediakan arsip crpn yg bisa dicek lewat internet, jd yg tidak sempat mngecek meskipun sudh lewat setahun bisa tahu,apakh crpnnya dimuat atau tidak.

    Contoh serupa: kirim sekarang, minggu berikut dicek blum dimuat,minggu ke2 dicek blum dimuat, minggu ke3 tidak sempat dicek krn ada urusan lain padahal sudah dimuat, minggu ke4 tdak sempat dicek krn koneksi internet yg sulit dan distribusi koran/majalah/tabloid/buletin dan semacamnya yg kurang, minggu ke 5 dicek mau liat arsip minggu ke 3 dan minggu ke4, tidak ada. Cari versi cetaknya minggu ke3 dan ke4 sudah tidak ada. Tidak juga dibri konfirmasi, lantas dia mngirim ke media lain. Tentu yg begini,penulisnya tidak bisa disalahkan apalagi diblacklist.

    Di sriti.com tak semua crpn yg dimuat media bisa ditemukan.

    Hatare

    9 Juli 2010 at 13:09

  26. sjk awal thn 2010 sdh ada situs lakonhidup.wordpress. com berisi cerpen yg lengkap dr koran2 nasional, sy kira jauh lbh lengkap, up date, dan byk pembacaan kritis juga ketimbang sriti

    Han

    10 Juli 2010 at 10:29

  27. setelah kubuka kayaknya di situs lakonhidup.wordpress.com hanya memuat cerpen koran dari media2 tertentu saja misalnya Kompas, Republika, suara merdeka, jurnas, cerpen2 yg dimuat di media lainnya blm termuat di situ atau aku mungkin salah ya ? Kayaknya di sriti.com komplit dan sll update juga …

    R Arumbinang

    10 Juli 2010 at 23:26

  28. Kok berani-beraninyna nih orang ngirim cerpen yang sudah pernah dimuat, ke Kompas lagi. Gak ada kerjaan lain apa? Gak mungkin dia gak tau kalau sudah pernah dimuat. Internet sudah begitu merajalelanya. Setahu saya penulis ini juga punya komunitas di Jogja. Tentu dia akan dengan sangat mudah mengetahui pemuatan cerpennya di Suara Merdeka, yang meski terbitan Semarang, banyak berseliweran di Jogja juga. AHHHHH!!!!!!!!!PAYAH!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

    C

    11 Juli 2010 at 23:12

  29. aih sedihnya

    loserposer

    18 Juli 2010 at 22:04

  30. Mungkin ada sesuatu yang di luar perkiraan, tapi gak mungkin penulisnya gak tau kalau cerpennya pernah dimuat di Suara Merdeka. Emangnya gak ada honornya ya? Sebaiknya penulisnya meng-klarifikasi, biar gak ribut2.

    Kiki Sulistyo

    25 Juli 2010 at 18:53

  31. aduhhhh,,,,kasihan sekali….

    bisyri

    18 Agustus 2010 at 20:58

  32. Saya pikir penulis tidak tahu kalau cerpennya sudah dimuat di Suara Merdeka. Apalagi ketika kita mengirim ke media dan berbulan-bulan tidak ada konfirmasi, sayang kalau dibiarkan teronggok begitu saja tanpa dikirim ulang.
    Masalahnya belum tentu penulis bisa mengecek tiap bulan nasib karya yang sudah dikirim, apalagi mengirimnya sudah sangat lama, tentunya berfikir karyanya tak layak muat. Tapi ngomong-ngomong penulisnya sudah klarifikasi belom ya

    Fikri

    21 Agustus 2010 at 12:29

  33. kalo menurut saya, memang redakturnya yang kurang teliti, baik SM maupun Kompas. mestinya redaktur Kompas punya refrensi cerpen dari berbagai media agar gak kecolongan.trus, saya yakin memang bukan kesalahan penulisnya. saya juga 2X mengalami nasib sama setelah cerpen yg saya kiriom tak ada kbr, trus kukirim ke media lain, ternyata dimuat semua.
    trus, kemungkinan terbesar, memang penulisnya bnr2 gak tau sudah dimuat di media sebelumnya, karena tak ada uang yg masuk ke rekening. saya pernah ngalami, beberapa karya saya yang sdh dimuat tapi media yg bersangkutan tak kasih honor tulisan. pun beberapa teman2 penulis lain yg trnyata punya pengalaman sama ky saya, tak dibayar.

    tedy

    29 September 2010 at 10:42

  34. ironis bukan?
    kecuali memang klo ada penulis yg sgja berbuat curang dg mengirim kembali cerpen2 yg sdh dikirim. itu baru pelanggaran etika dan mesti diblacklist

    tedy

    29 September 2010 at 10:45

  35. maksudnya…mengirim cerpen yg sudah dimuat..

    tedy

    29 September 2010 at 10:45

  36. ya, setuju mas tedy…

    mula

    29 September 2010 at 10:46

  37. penulis sekelas Danarto pernah dobel cerpennya dimuat di koran Jawa Pos dan Kompas, ini malah hanya beda seminggu. Klik:

    http://sriti.com/story_view.php?key=2809

    dan

    https://cerpenkompas.wordpress.com/2008/06/22/bengawan-solo/#more-153

    Fiksa M

    3 November 2010 at 02:39

  38. kalo gini ceritanya cerpen dia yang berikutnya dah di blacklist ya om??(maklum saia newcomer n masih mahasiswa baru)

    Hernowo bayuaji

    15 November 2010 at 20:40

  39. tapi kalo yang satu media lokal, yang satunya media nasional bukannya sah2 aja??tapi menurut saia masih kurang kreatif.

    Hernowo bayuaji

    15 November 2010 at 20:42

  40. Berulang kali membaca, berulang kali berurai air mata.

    Abi Ardianda

    30 Mei 2011 at 05:33

  41. apapun latar belakanganya, gimanapun, walaupun udah perna dimuat, dan itu dan itu. menurut aku tapi cerpennya tetep bagus dan bikin aku baca sampe akhir dan terhanyut. mungkin lain kali kompas lebih teliti supaya ga ada penggemar yg kecewa (bukan krn cerpennya jelek tapi dimuat ulang). ^_^/

    itaita

    26 September 2011 at 15:36

  42. Suka!

    kucing senja

    7 April 2012 at 19:41


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: