Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Redi Kelud

with 46 comments


Aku lahir di tengah keluarga yang berbeda. Bapakku tunawicara, ibuku suwung kalau kambuh jadi begitu menakutkan. Marno, kakak pertama, suka berendam seharian. Kalau dilarang berendam, paling tidak ia mandi empat kali sehari, pukul 8, 11, 2, dan 4.

Kakak kedua, Basoko, kepalanya selalu meleng ke kiri, tak mau memandang jika diajak bicara. Ia hanya mau bersitatap denganku bila aku menanyakan sedang apa ia dengan bulpennya itu. Ia senang mencoret-coret bukunya mirip gambar, mirip angka, mirip tulisan, atau tak mirip apa pun.

Kakak ketiga, Astrid, masih mengompol walau umurnya 17 tahun, dan tak hanya itu matanya selalu lapar setiap melihat lelaki muda. Jika ada lelaki bertamu, ia segera bergegas menyambut. Bersalaman dengan mata genit dan bibir mengembang lalu menggelayut manja.

Kakak terakhir, Raka, bagai Gunung Berapi. Ia pendiam tapi jangan salah sangka, ketika sedang marah, dunia jadi kiamat! Semua barang dilempar, digulingkan, dipecahkan, ditumpahkan. Lantai dicakar-cakar, mengamuk. Lalu bapak dan aku dibantu tetangga segera menangkap kedua tangan dan kakinya untuk menenangkan. Butuh paling tidak empat orang dan waktu yang lama untuk sampai dia tenang kembali.

Namaku Redi. Kata ibu, ketika aku lahir terdengar ledakan gunung meletus lalu turun dengan derasnya hujan abu. Segala daun dan pohon, tegalan, rumah, kali, semuanya kelabu. Karena itu aku diberi nama Redi Kelud, Gunung Kelud, artinya. Nama yang tak lazim sebab umumnya bayi perempuan diberi nama yang indah seperti: Dewi, Astrid, atau Seruni, begitulah kira-kira. Namun aku tak berkecil hati, dengan nama itu aku merasa kuat. Kuat seperti gunung.

Suatu saat ada tamu datang menawarkan pengasuhan pada kami. Kami semua? Tentu tidak, kata Si Mas tamu. Katanya, anggaran lembaga sangat terbatas jadi baru satu yang bisa ditampung. Baru satu, nanti yang lain bisa menyusul? Ya, nanti kita lihat situasi keuangan dulu. Kita lihat situasi, bukankah itu tidak pasti. Sahutku sebagai juru bicara keluarga ini. Walau aku terkecil, aku yang selalu maju berhadapan dengan tamu karena yang lain pasti tak nyambung, diam mematung, ngompol, marah, atau ketakutan di kamar mandi, berendam.

Si Mas tamu diam, namun kulihat sorot matanya berubah.

”Jangan kau berpikir buruk dan jahat!” tegasku.

Dia kaget, ”Apakah kau bisa membaca pikiranku?”

”Tentu tidak! Aku cuma ingin berkata itu saja!”

”Tapi kenapa kau bisa mengatakan hal itu?”

”Aku tak tahu, yang kutahu tatapan mata Mas tiba-tiba seperti silet.”

”Kau anak yang cerdas sekaligus mendapat anugerah luar biasa.”

”Apa maksudmu dengan berkata demikian!”

”Aku tak bermaksud yang bukan-bukan. Aku merasa tentulah karena kecerdasan dan kebaikan hatimu, kau bisa menentukan mana yang terbaik bagi keluargamu. Kau bisa memilih salah satu keluargamu yang kau titipkan untuk kami rawat dan sembuhkan.”

”Kami tak perlu bantuan dan kami tidak sakit, toh selama ini, kami berkecukupan. Bapak bekerja di ladang. Ibu beternak. Aku menjual hasilnya ke pasar.”

”Bukan begitu. Memang semuanya baik-baik saja. Tapi bagaimana dengan kakak-kakakmu? Bukankah sejak dulu hingga sekarang mereka hidup begitu-begitu saja.”

”Kau datang seolah-olah paling tahu yang baik buat kami! Aku tak mengerti pikiranmu, yang aku tahu kami senang karena kami bersama.”

”Bagaimana kau bisa berkata seperti itu? Kau baru berumur 10 tahun.”

”Aku suka membaca,” jawab Redi sekenanya.

”Apa yang kau baca?”

”Hanya koran-koran lusuh, itu pun bau pesing Kakak Astrid dan isinya hanyalah kabar kejahatan. Sungguh menyebalkan!”

”Lalu dari mana kau bisa berkata demikian?”

”Aku keceplosan.” Redi mengangkat bahu. Si Mas itu tak tahu bahwa Redi memiliki sayap di kedua bahunya. Siapa pun tak ada yang tahu kecuali keluarganya. Awalnya seperti daging kecil di bahu, lama kelamaan seiring tubuh Redi yang membesar daging itu juga tumbuh, dan sekarang mirip sayap walau hanya sepanjang telapak tangan Redi. Sayap itu selalu tertutupi baju. Kalaupun ada orang lain yang tahu, tak bakal mengira bahwa itu sayap. Orang pasti berpikir, Redi cacat karena keluarganya juga cacat. Mungkin dikira punya empat tangan. Tapi yang jelas berkat sayap itu Redi jadi cerdas.

”Apakah itu artinya kau menolak tawaran kami?”

”Ya, tentu saja. Tidak ada alasan kami menerimanya, kan? Kecuali, jika kami semua kalian tampung, itu masuk akal.”

”Tapi kami tak ada anggaran untuk itu. Kami juga harus menampung orang lain.”

”O, ya aku mengerti.”

Lalu Si Mas itu pamit dengan kepala yang berat.

***

Redi berlari ke lorong terang ketika semua tengah tertidur. Si Mas tamu meninggalkan tujuh nasi bungkus dan kekenyangan membuat semua keluarganya pulas. Ia duduk di bongkahan batu hitam lalu melepaskan bajunya. Mengelus dua sayap di bahunya yang berwarna abu-abu, mirip abu Kelud yang meletus 10 tahun lalu.

Kedua sayap itu ia gorok dengan belati kecil.

”Aku tak suka ini. Aku tak mau ada sayap di tubuhku. Aku bukan burung!”

”Jangan kau lakukan itu, teman.” Muncul seorang lelaki cebol berkuping panjang dan bentuk mulutnya tegak vertikal. Matanya juling, dengan alis tebal yang terangkat.

”Kenapa? Bukankah ini milikku, aku bisa melakukan apa pun pada milikku.”

”Tentu kau punya hak. Tapi untuk apa?”

”Sudah aku bilang, aku manusia, bukan burung!” Segera ia potong dua sayapnya itu dengan belati. Darah merembes dari bahunya. Menetes, menetes lagi tak berhenti-henti, mengalir, terus mengalir hingga meluber di lantai.

”Kau hanya mengotori lantaiku saja!”

”Nanti aku bersihkan!”

”Kau memang selalu buat masalah! Lihat, celanaku jadi basah. Sumbat darah di bahumu itu. Pasang kembali dua sayapmu!”

”Jangan kau usik aku dengan serapahmu yang tak berguna itu. Biarkan aku meresapi apa yang sedang kurasakan. Aku sudah lama mengharapkan hal ini.” Redi memandang dua sayapnya yang telah hanyut bersama darah itu. ”Lihat, darahku mengalir keluar dari lorongmu ini. Jadi aku tak perlu membersihkan lantaimu!”

Tubuh Redi jadi tak biasa, rasanya demikian aneh. Kepalanya pening.

***

Orang-orang cemas. Hujan deras sejak kemarin mencapai batas ambang waduk. Hanya tinggal menghitung waktu banjir segera datang. Orang-orang berlarian menyelamatkan harta benda. Seorang tetangga bergegas ke rumah Redi.

”Cepat pergi, kota akan segera tenggelam. Waduk telah meluap.”

”Kami menunggu Redi. Bukankah kau tahu, ia sejak semalam tak pulang. Kau juga mestinya tahu bahwa kami selalu bersama-sama, kemana pun pergi dan tak pergi kami selalu bersama-sama. Pasti anak itu sedang mengunjungi temannya yang gila itu. Sejak dulu aku bilang, Si Cebol itu gila. Gila karena semua keluarganya mati dilempar ke Kali Brantas waktu huru-hara tahun 65 dulu. Si gila itu malah dianggapnya wali. Wali tengik! Tidak pernah di pesantren, tidak pernah naik haji. Tak mungkin bisa jadi wali,” terang ibu Redi.

”Ya sudah, kok jadi ngelantur. Yang penting aku sudah memperingatkan. Kami mau ke atas gunung.”

”Jangan ke Kelud!”

”Kenapa?”

”Berbahaya.”

”Aku tak percaya. Kau hanya berseloroh!”

Perempuan itu lalu menggerutu. Terlintas di pikirannya untuk pergi tapi bukankah selama ini mereka bisa bertahan dalam kebersamaan.

Tiba-tiba datang mobil Si Mas, ”Ayo cepat! Kami tinggal mengangkut kalian, semua telah mengungsi.”

Ibu Redi mengumpat-umpat tak karuan. Tangannya mengusir pergi lalu memaki-maki sekenanya. Berteriak-teriak, rambutnya ia jambak, lalu terduduk dengan kaki ia tendangkan pada apa saja. Ia mengamuk jika ada perang dalam pikirannya.

Tak lama kemudian Redi datang bersama Si Cebol. Darah masih menetes dari bahunya. Bau anyir seketika menusuk hidung namun serentak hilang karena tubuh Si Cebol tiba-tiba mengeluarkan bau harum. Wangi dan legi. Ratusan kupu-kupu dan lebah mulai mengitari Si Cebol.

”Kenapa kalian tak pergi?” tanya Si Cebol.

”Kami menunggumu, Redi.” Jawab ibu Redi yang mulai tenang.

”Biarkanlah aku di sini,” jawab Redi.

”Kalau kau di sini semua juga di sini. Tapi kenapa dengan bahumu?”

”Aku tak-apa-apa, Ibu.”

Tiba-tiba Si Ibu ketakutan. Redi baru tersadar bahwa ibunya bakal kumat jika melihat darah.

”Ibumu terjun mengejar jasad kakekmu di Kali Brantas itu, Redi. Ia berenang di air penuh darah itu….”

Redi terpaku.

”Redi, kau tenangkan dulu ibumu, aku melihat situasi dulu,” lanjut Si Cebol.

Si Cebol diam sebentar lalu tubuhnya terangkat perlahan-lahan. Kini ia berada jauh di atas Redi. Ratusan kupu-kupu dan lebah mengikuti. Dari matanya tampak banjir telah menenggelamkan desa di depan. Airnya berwarna merah. Ia sejenak mengamati itu, lalu turun.

”Redi, jernihkanlah pikiranmu. Kau tahu, banjir itu berwarna merah pasti dari darahmu yang terus menetes sejak tadi. Lihatlah ibumu, ia tak tahan melihat darahmu. Berdamailah, Redi. Terimalah kau seperti adanya. Sayap itu anugerah dari Tuhan. Kau adalah manusia seberapa pun kau berbedanya dengan orang-orang itu. Redi, kau tahu aku tak sanggup membendung banjir jika berwarna merah. Aku bisa kalap. Ingatan itu tak bisa kulupa….”

Untuk kali pertama, Redi melihat Si Cebol menitikkan air mata. Ibunya dilanda ketakutan. Ia tercenung, lalu mulutnya menyedot udara, seketika dua sayapnya tertarik lalu segera ia pasang. Darah tak lagi menetes, warna merah di kejauhan telah tergulung oleh coklatnya air bah dari waduk.

Si Cebol perlahan-lahan naik lalu jempolnya ia tiup. Tiba-tiba, perlahan namun pasti, jempol itu menggelembung, membesar. Tangannya memanjang dan menjadi raksasa. Lalu dengan cekatan ia membuat gorong-gorong ke utara, ke arah lereng Gunung Kelud. Sebenarnya ia tahu gunung itu telah gundul, dan itu artinya tak semua air bisa dibelokkan tapi memang tak ada pilihan lain.

Matanya tak jeli, para penduduk ada di sana….

***

Banjir telah redam dengan kematian ratusan jiwa. Orang-orang telah pergi seperti ribuan batang pohon-pohon hutan yang digotong ratusan truk.

Redi bersedih telah kehilangan semua tetangganya. Ia selalu teringat pada mereka yang telah berbuat baik pada keluarganya. Ia terbang ke lorong terang hendak mengaduh pada Si Cebol.

Solo, 4 Maret 2010

Written by tukang kliping

27 Juni 2010 pada 11:34

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

46 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Saya kok gak mudeng maksud dari cerpen ini.. Sepertinya diambil dari cerita rakyat.. Entahlah..!! Aneh..

    tegoech

    27 Juni 2010 at 18:57

  2. iya, saya jg gak mudeng mksd ceritanya. Si cebol itu siopo toh?

    vira classic

    27 Juni 2010 at 19:22

  3. sudut pandangnya kok aneh ya menurutku??

    ruangrinduceritaku

    27 Juni 2010 at 20:41

  4. mencoba mengubah takdir, pengarang menghadirkan sosok si Mas dan si Cebol. Cerpen ini – bisa jadi – hendak memberikan ruang leluasa bagi pembacanya untuk membentuk dan memaknai sendiri agar cerita mengalir lebih enak dan meresap…

    hoebartz

    28 Juni 2010 at 08:55

  5. Cerpen ini, agak mengecewakan dengan cerpen yang sebelumnya. Entah disengaja oleh penulisnya, atau mungkin ada kesalahan editor (tidak membaca keseluruhan cerpen)

    Cerpen diawali dengan penuturan dari sudut pandang orang pertama, sang aku, Redi. Tetapi memasuki paragraf ini sbb:

    ”Aku suka membaca,” jawab Redi sekenanya.

    ”Apa yang kau baca?”

    ”Hanya koran-koran lusuh, itu pun bau pesing Kakak Astrid dan isinya hanyalah kabar kejahatan. Sungguh menyebalkan!”

    ”Lalu dari mana kau bisa berkata demikian?”

    ”Aku keceplosan.” Redi mengangkat bahu. Si Mas itu tak tahu bahwa Redi memiliki sayap di kedua bahunya. Siapa pun tak ada yang tahu kecuali keluarganya. Awalnya seperti daging kecil di bahu, lama kelamaan seiring tubuh Redi yang membesar daging itu juga tumbuh, dan seterusnya….

    Nah, tiba-tiba penuturnya menjadi dari sudut pandang orang ketiga. Bagaimana semula “aku” yang Redi, tanpa sebab akibat menjadi “dia” tanpa ada keterangan apa-apa. Secara isi cerita juga, antara pembukaan di awal sampai di ending, sepertinya ada benang merah yang terputus.

    Bamby Cahyadi

    28 Juni 2010 at 09:59

  6. setuju! penuturan sudut penceritaan yang tdk konsisten langsung tertangkap mata di awal cerita!😦 dan setelah membaca sampai akhir pun saya tidak menangkap isi ceritanya. ada yang bisa menjelaskan?😀

    43

    28 Juni 2010 at 11:14

  7. Setuju dengan Mas Bamby… Suatu kesalahan yang jarang terjadi untuk koran besar. Tokoh yang semula aku, tiba-tiba menjadi “dia”

    Rifan N

    28 Juni 2010 at 11:25

  8. ini cerpen yang “aneh”

    reganleonardus

    28 Juni 2010 at 12:28

  9. setuju sama mas bamby! saya malah cuma sampe baca:
    ”Aku keceplosan.” Redi mengangkat bahu. Si Mas itu tak tahu bahwa Redi …
    dari situ udah makin ga mudeng dan males ngelanjutin cerita..😀

    rista

    28 Juni 2010 at 15:50

  10. waktu baca di awal, sempat tertarik dengan narasinya. tapi lama-kelamaan kok ada yang aneh ya? atau barangkali ini terobosan cerpen terbaru? hahahaha. whatever… selamat sudah lolos kompas.

    mashdar

    28 Juni 2010 at 17:04

  11. Cerpen yang terkesan terpaksa untuk diselesaikan karena, idenya mentok di tengah jalan….
    nasib beruntung…

    Aristoteles

    28 Juni 2010 at 17:40

  12. Tolong kasih tahu bagaimana redaksi memilih cerpen yang bagus dan tepat untuk dimuat di harian sebesar kompas. Kok tokoh yang semula “aku” mejadi “dia” bisa dimuat?. Apa kriteria cerita yang bisa dimuat di kompas?

    Yatti Sadeli

    28 Juni 2010 at 19:36

  13. saya kecewa dengan Kompas atas inkonsistensinya memuat cerpen2 berkualitas. sungguh, sbg hanya penikmat cerpen (khusus.a cerpen2 Kompas) saya rindu dengan wajah cerpen Kompas yang dulu, ada yg perlu dievaluasi dari proses seleksi cerpen2.a..
    Saya hanya orang awam…

    ruangrinduceritaku

    28 Juni 2010 at 20:42

  14. Perasaan dulu enak baca cerpen kompas, kok yang akhir2 ini kurang menarik. Cerpen ini juga gitu, aneh, sudut pandang pengarang berubah di tengah2 cerita.

    Indonesia people

    28 Juni 2010 at 21:55

  15. Daripada cerpen rumit namun tidak jelas seperti di atas…
    Saya lebih menyukai cerpen dengan gaya bahasa sederhana namun berkelas seperti Agus noor, SGA, atau setidaknya Benny Arnas..
    Salam.. ^_^

    Penikmat sastra

    28 Juni 2010 at 22:15

  16. Mungkin ini tehnik menulis cerpen yg baru. Sulit memang dimengerti,apalagi bagi orang awam yg tak terlalu mendalami sastra, dalam hal ini cerpen.
    Saya pun sempat bingung dgn prubahn sudut pandangnya. Namun jika ingin mengapresiasi bukankah harus dibaca semuanya dulu?
    Ada makna tersirat dlm cerpen ini,saya mencoba menangkapnya, meskipun bisa jadi salah tangkap. Atau ditangkap tapi lepas lagi. lantas masuk gawang.He..he…

    Ya,mungkin seperti SMOKOLnya Nukila Amal.
    Saya bukan kritikus sastra. Kalau yang bahs cerpen ini seprti 2 orng juri crpn trbaik Kompas thn lalu, tentu lain dari yg brkomentar di sini.

    Sudah dulu ya,mau bobok lagi.

    Ran Pasnim

    29 Juni 2010 at 04:30

  17. gw mlah tertarik sm cerpen ini. wlupun terkesan ada kesalahn di sudut pandang tp bisa jd sperti kt ran tehnik menulis baru, ga konsisten.
    tp beneran gw tertarik, ada yg unik. tokoh2nya.

    kunto

    29 Juni 2010 at 11:12

  18. Sekadar info, cerpen “Pada Suatu Hari, Ada Ibu dan Radian” karya cerpenis Avianti Armand, yang kemudian menjadi judul buku Cerpen KOMPAS pilihan 2009… Adalah cerpen dengan penuturan sudut pandang orang ketiga, lalu beralih ke sudut pandang orang pertama. Namun, pengalihan sudut pandang di cerpen Avianti Armand sungguh memukau. Dan, pada cerpen Avianti, ia berhasil membangun cerita yang padu dan sangat meyakinkan, sehingga imajinasi untuk menuntaskan cerita dan menikmatinya sebagai suatu sajian fiksi yang indah.

    Apabila Han Gagas, membca komentar di sini, ada baiknya ia menjelaskan kepada pembacanya mengenai perubahan sudut pandang yang mendadak itu.

    Bamby Cahyadi

    29 Juni 2010 at 17:35

  19. Aku menikmatinya. Itu sudah.

    arryira

    29 Juni 2010 at 18:53

  20. surealisme magis akhirnya datang lagi setelah pak danarto dan triyanto triwikromo tidak pernah kunjung tiba di lembar cerpen kompas…congrats

    ewing

    29 Juni 2010 at 20:30

  21. Tak pernah ada yang salah dalam penulisan karya sastra. Penulis adalah pencipta, sementara pembacanya dapat saja memaknai karya itu secara berbeda. Itulah Sastra.

    penikmat_sastra_indonesia

    30 Juni 2010 at 01:04

  22. kurang paham saya !gak ngerti .hhe !
    ini cerita rakyat kah ?

    iyuz

    30 Juni 2010 at 08:07

  23. avianti tidak mengalihkan sudut pandang, tapi dia memang menciptakan beberapa sudut pandang. di situ bedanya dg milik han gagas ini.

    S. Raga

    30 Juni 2010 at 15:10

  24. cerpen ini terbebani oleh misi yg bisa anda tafsir sdr.cerpen ini mau kuacak2, dan kubuat ganjil, jadinya seperti ini. org ke-3, ke-1.Ya, acak dan ganjil yg belum jd donat.

    ini bukan mitos, legenda apalagi cerita rakyat. hanya berputar dan silang sengkarut di kepalaku saja.

    Sungging Raga, aku suka cerpenmu, kau cah MIPA kan, aku geodesi, pogung dalangan, dulu sih. Cipto, Rama, kau, ahh hebat kalian.

    Han Gagas

    30 Juni 2010 at 20:17

  25. Semula aku kira Redi itu normal, tapi ternyata punya kelainan juga. Knpa ga disbutkn di awal aja! Wah kapan ada cerpen romantis yaw? Yg dimuat isinya sibuk dgn politik semua.

    Alfian

    1 Juli 2010 at 09:59

  26. Seniman(baca cerpenis)diasumsikan sebagai seseorang yang memiliki kapabilitas untuk menembus sensor dari kesadaran dan membiarkan kata-kata dan imaji-imaji itu bermain dengan bebas.
    Peristiwa dalam cerita juga seringkali musykil terjadi di alam nyata dan hanya mungkin terjadi di dalam angan-angan yang tak berbatas itu. Pencampur-bauran (rangkaian) cerita-cerita itu,tentu tidak dilakukan dengan sembarangan, melainkan dengan penuh perhitungan. Itulah tehnik yg selalu dicoba oleh cerpenis dng bebas.

    R Arumbinang

    1 Juli 2010 at 23:02

  27. Cerpen di atas, pun dg fiksi lain, berjuta cara pengungkapan, berjuta sudut pandang, berjuta aliran, berjuta tafsir; tak henti-henti. Sah. Sy kira tak ada yg salah dari seleksi redaktur sekelas kompas. Perkembangan dunia sastra (fiksi)memungkinkan lahirnya aliran baru, neokontemporer tiap saat. Kompas paling berani memuat “aliran baru” (boleh baca; aneh, unik, nyeleneh) tp tetap menjaga kualitas. Cerpen setara Redi Kelud sudah banyak kok. Salam.

    Ajang ZA

    2 Juli 2010 at 00:42

  28. ini cerpen yg sy tunggu. tks

    Ajang ZA

    2 Juli 2010 at 00:48

  29. sudut pandang empat dimensi.

    Ajang ZA

    2 Juli 2010 at 00:55

  30. Banyak cerpen-cerpen yang nyeleneh dan paling nyeleneh, baik dari segi tema, maupun teknik penuturannya. Namun saya kira, seorang penulis pun perlu juga menggunakan pekem penulisan yang membuat pembacanya asyik saat membaca cerpennya, tidak dibuat bingung oleh teknik perubahan sudut pandang. Harus ada, semacam tanda, apakah itu *** atau spasi paragraf, bahwa terjadi perubahan sudut pandang dalam story telling-nya. Sehingga karya cerpen itu bisa memuaskan hasrat membaca pembaca.

    Pendapat yang disampaikan oleh Han Gagas, saya rasa bisa saya terima. Dan, cerpen ini bisa dimuat di Kompas pun itu sebuah apresiasi yang luar biasa. Namun, perubahan sudut pandang ini, saya anggap sebagai keteledoran (entah untuk cerpenisnya, ataupun untuk redaktur cerpen Kompas).

    Bamby Cahyadi

    2 Juli 2010 at 12:02

  31. Saya suka karya Budi Darma.
    Terima kasih, atas atensi anda semua dlm membaca karya saya.

    Han Gagas

    2 Juli 2010 at 13:53

  32. aku gak donk

    imut

    3 Juli 2010 at 02:48

  33. cerpen yg bagus! kelihatanya chaos, awut-awutan, tp asik utk dibaca.. cerpen “aneh” sprti ini susah ditulis klo sdg tdk dlm mood yg “aneh” jg.. mantab bung han gagas atau rudi hantoro! anda perlu baca jg cerpen Ahmad Ainun Na’im yg dimuat di majalah Horison bbrp taun yg lalu, aneh dan mengasyikkan jg..

    Abul Hasan

    7 Juli 2010 at 13:13

  34. Terima kasih sdr Abul. Saya baru belajar kok. Ya cb nanti sy telusuri karya Na’im itu. Terima kasih.

    Han Gagas

    7 Juli 2010 at 15:55

  35. pada awalnya cerita ini menarik, tapi kenapa ya kok aku gak bisa menangkap maksud dari cerita ini…

    alexander

    13 Juli 2010 at 07:48

  36. Mbok selektif la…milih cerpen..ini kok nggak ada pesan yang bisa dipetik…

    Fauzen

    19 Juli 2010 at 16:06

  37. Cerpen yang aneh, hebat, seru, asik, kontemporer.Saya menikmatinya! (Maaf, saya baru bisa menjadi penikmat, belum mampu menjadi penulis) Akhirnya ada juga cerpen seperti ini yang berbahasa Indonesia.

    thecreativeroom

    4 Agustus 2010 at 09:01

  38. cerpen ini sarat pesan. kalau anda baca dgn teliti dengan pembacaan yg baik anda akan menemukan pesan yang dalam, seperti menerima perbedaan fifik manusia, bakat, rupa, dll.
    cerpen yg tipe seperti ini lama gak nongol di media indonesia. bravo!

    efra

    6 Agustus 2010 at 17:31

  39. Cerpen yang sakral, muantab, aneh tapi memikat. kok yo ada ya cerpen spt ini di indonesia. dulu danarto, budi darma, dan afrizal malna yang lanjutin mungkin baru han gagas ini, hehehehe

    Nia

    13 Agustus 2010 at 15:33

  40. Cerpen yang nganeh anehi tapi menghanyutkan, suwer….

    hary

    13 Agustus 2010 at 15:34

  41. Setelah 4 tahun absen dari membaca cerpen, cerpen ini menyemangati untuk kembali melanjutkan membaca. Cerpen yang mantap. Nuansa spiritual jelas ditampilkan tapi tidak ‘ditampakkan’. Aku senang. Terima kasih

    Mbah Djarot

    11 September 2010 at 18:28

  42. ditilik dari pemaknaannya, cerpen ini bagus. tapi perubahan sudut pandang yg tiba2 beralih ke orang ketiga membuat sy TIDAK TULUS membaca cerita ini sampai selesai.
    tapi itulah yg dikehendaki penulisnya,…..

    Nicholas Dammen

    17 September 2010 at 11:49

  43. Aqu kuLiah di program studi Sastra Indonesia,, tp slama ini dlam ilmu tlah kupelajari,, gak ada tUh teori yg mmbahaz bhwa cerpen itU boleh mmakai sudut pndang yg brubah2 sprti d crpen ini..
    Bagiku, ini adalah cerpen Konyol dan Super Duper ANEH..!!!
    Brdasarkan ilmu yg kuplajari titik pngisahan dlam crita itU hanyalah :
    1. Author-ominiscient
    2. Author-participant
    3. Athor-observer
    4. Multiple

    Duwi

    13 November 2010 at 17:20

  44. Halo mbak Duwi… aku pikir ngga ada pengotak-ngotakan dalam sastra ataupun seni lainnya.

    Apa yang mbak duwi jabarkan adalah landasan teori, betul memang, namun pengaplikasiannya menurut saya, harusnya bisa sebebas mungkin..

    Walaupun, menurut saya perubahan sudut pandang dalam cerpen ini terasa sangat janggal. Saya mencoba mencari teks (di dalam cerpen ini) yang bisa mendukung perubahan sudut pandang yang janggal tersebut, sayang saya tak menemukannya.

    Mungkin mas Han Gagas, bisa berbagi dengan kita semua.🙂

    Ario

    21 November 2010 at 03:16

  45. aneh………..

    muhammad bayu

    11 Januari 2012 at 15:18

  46. cerpen yang aneh, gila, tapi asyik, penuh kejutan, dan mendebarkan

    M. Ifah

    17 Februari 2014 at 13:46


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: