Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Solilokui Bunga Kemboja

with 36 comments


Diriku sekuntum bunga Kemboja. Kelopak-kelopakku merah kesumba sewarna gincu wanita yang kerap memandikanku sekali seminggu.

Wujud rupaku menyerupai genta. Walaupun kami lebih identik sebagai bunga kuburan, tetapi oleh wanita yang memeliharaku, aku tumbuh di dalam sebuah pot cantik di teras depan rumahnya. Dari tempatku berada, aku biasa menatap bentangan langit malam yang berhamburan bebintangan.

Benda-benda angkasa yang terang benderang itu selalu mengingatkanku pada seseorang. Seseorang yang benarlah nyata, tetapi lebih tampak seperti fatamorgana. Aku selalu memandanginya tatkala ia sedang memandikan mobil kesayangannya dari dalam garasi.

Lelaki itu adalah anak sulung wanita yang warna gincunya sewarna diriku. Sempat kedengkian menghinggapiku melihat betapa kedekatan kedua manusia berbeda kodrat itu, sampai kudengar si lelaki menyapa wanita bergincu kesumba itu dengan panggilan ibu.

Dari wajah dan rekah senyumnya tahulah aku betapa kebaikan hatinya seperti kebanyakan manusia penghuni rumah ini. Dari caranya memperlakukan mobil kesayangannya, tahulah aku betapa ia tak pernah pilih kasih terhadap benda mati ataupun benda hidup.

Sampai detik ini aku masih memendam rasa cemburu terhadap benda mati bernama mobil itu. Setiap hari kulihat lelaki itu menumpanginya manakala hendak menuju suatu tempat yang tak pernah kuketahui juntrungannya.

Tiap kali ia kembali hari telah merangkak malam. Raut wajah dan bahasa tubuhnya memberitahuku bahwa ia kelelahan. Tetapi keesokan pagi ia akan mengulangi kebiasaan yang sama, sampai lantas kuhafal luar kepala pola kegiatannya meskipun sebatas teras dan garasi itu saja.

Sesekali kulihat ia pulang dengan mengajak beberapa orang lelaki seusia dirinya. Tak jarang terdapat satu atau dua orang perempuan di antara mereka. Percakapan yang diiringi tawa berlangsung tatkala mereka melintasi teras depan sebelum mencapai ruang tamu.

Betapa beruntung menjadi manusia lelaki dan perempuan yang dekat dengan lelaki itu, walaupun bagiku tetap tiada yang lebih beruntung daripada mobil yang selalu ia tumpangi. Tak jarang mereka berkumpul di kursi teras sembari bercakap ditemani penganan dan secangkir teh.

”Coba lihat. Kembang Kemboja itu seperti sedang menatap kita.” kata perempuan yang telunjuknya menunding ke arahku. Lantas seorang lelaki bertubuh ceking berjalan melintasi teras sambil menggenggam spidol di satu tangannya.

”Kamu mau apa?” tanya si lelaki, menyela langkah temannya.

”Aku mau bikin mata pada kedua kelopak Kemboja itu supaya kelihatan kalau dia benar-benar menatap kita.”

“Hey, itu Kemboja kesayangan Ibuku.”

Itulah hari pertama ia membelaku di depan teman-temannya. Kelopak-kelopakku mekar dan warnaku kian merona. Tetapi selain hari itu, lelaki itu tak pernah memperhatikan diriku secara khusus. Keindahanku hanya berlaku di depan mata para wanita sebab mereka lebih dapat menghargai keindahan. Bagi lelaki itu dan teman-temannya, aku tiada berbeda dari pot tempat tubuhku bertumbuh. Rasa kecewa yang hinggap dalam diriku semakin besar tiap kali lelaki itu lewat tanpa pernah sempatkan melirikku barang sekejap.

Betapa keindahan ini seperti tak berarti tanpa dihargai oleh lelaki yang kucintai. Atas kesadaran itu, suatu hari aku berhenti membuat diriku mekar, tak peduli berapa kali dalam seminggu wanita bergincu itu memandikanku dan memberiku pupuk untuk meningkatkan kualitas tanah di dalam potku, usahanya tetap tak bisa membantu. Aku telah kehilangan minat terhadap kehidupan.

Masa itu berlangsung berminggu-minggu lamanya. Rona pada kelopak-kelopak bungaku pudar. Wanita itu kini tak bergincu lagi. Wajahnya tampak selisut diriku yang tak mau mekar barang serecup saja. Seluruh bunga Kemboja di teras rumahnya turut merasakan dukaku. Mereka lantas putuskan tak mau mekar selama dukaku belum teratasi. Raut wajah sebam dan sepasang mata tanpa binar cahaya menatap iba kepada kami.

Belakangan lelaki itu pun tampak bermuram durja. Tiap kali melintasi teras menuju garasi ia tak lagi memutar-mutar seronce anak kunci di ujung telunjuknya sambil bersiulan. Jangan-jangan sesuatu terjadi pada mobil kesayangannya. Tetapi kepada seorang teman kudengar ia memberi tahu bahwa kesedihannya disebabkan oleh sikap murung ibunya.

Wanita yang telah malang melintang di dunia botani itu mendandak merasa dirinya tak becus mengurusi tetumbuhan di teras depan rumahnya sehingga nyaris seluruh Kemboja kesayangannya mati. Daun-daun meluruh nyaris tanpa bersisa, kelopak-kelopak bunga mengatup seperti gadis-gadis remaja yang merajuk.

Sumber terdalam kesedihan lelaki itu adalah keputusan sang ibu untuk menyerah dari hobinya bercocok tanam, hal mana yang menjadi satu-satunya hiburan di masa menjelang pensiun. Melihat kenyataan itu, yakinlah aku bahwa si lelaki lebih menyayangi sang ibu daripada benda mati yang ia mandikan setiap pagi, walaupun tampak ia lebih besar menaruh perhatian padanya. Tetapi ia tetaplah lebih mencintai perempuan yang mencintai diriku dan bunga-bunga Kemboja yang lain, bagaikan kami ini anak-anaknya sendiri.

Pagi hari adalah waktu terbaik bagi setiap bunga. Titik-titik embun menyaput sekujur kelopak yang baru separuh merecup. Kami lebur bersama gigil pagi. Tetapi pagi itu aku merekah mendahului yang lainnya. Kelopak-kelopakku bahkan mekar lebih lebar daripada biasanya. Dengan tak sabaran aku menantikan pintu depan di ujung teras itu dibuka untuk pertama kali.

Pada setiap pagi yang telah kulalui di teras rumah ini, wanita berginculah yang selalu membuka pintu depan untuk pertama kali bersama alat penyiram tanaman di tangannya, dengan bekal semangat berniat memberi kami makan. Minggu-minggu terakhir betapa pemandangan itu tak pernah tampak lagi, tetapi kujamin pagi ini keputusanku menjadi mekar kembali dapat mengembalikan semangat yang sempat redup wanita bergincu itu.

Matahari sudah setengah perjalanan melakukan patrol. Sinarnya menyapuh tiap lembar daun dan kelopak bunga kami. Siang hari menjelang. Aku gelisah menunggu pintu itu dibuka oleh si wanita bergincu. Akhirnya daun pintu terbuka, tetapi yang tampak olehku pertama kali adalah dia, lelaki itu! Kaus oblong yang membalut tubuhnya nyaris sewarna kelopak-kelopak bungaku. Ia berjalan gontai. Aku terus mengawasi wajah tampan lelaki itu. Sesuatu dalam diriku berdebar keras, sehingga menyebabkan kelopak-kelopakku bergoyang.

Tak kuduga gerakanku memancing lelaki itu menoleh. Matanya melebar pada detik pertama ia menatapku. Kutunggu lelaki itu menghampiriku, tetapi tubuh itu berbalik menuju pintu, berlari sepanjang ruangan. Kurang dari satu menit kemudian, lelaki itu muncul lagi bersama wanita bergincu yang masih belum lagi bergincu. Mata wanita itu melebar sambil mulutnya menganga. Perlahan ia melangkah menghampiri pot-pot berisi Kemboja sepanjang tepian teras, menyapuhkan tangannya di atas kelopak-kelopak kami secara bergantian.

”Bunga-bunga itu tak ingin berlama-lama melihat kesedihan ibu.” Lelaki itu berkata. Sebutir air susul menetes jatuh dari sudut mata wanita itu. Keterkejutan di wajahnya berubah haru atau apa pun itu yang sukar kujelaskan. Pelan bahunya lantas bergetar sebelum isak tangis menguasainya. Lelaki itu mendekap tubuh ibunya, merapatkan kepala pada bidang dadanya.

”Mungkin ini karena pupuk yang ibu beri waktu itu.” kata wanita itu.

”Mungkin karena ibu tak pernah berhenti mencintai mereka,” lelaki itu lebih yakin dengan pendapatnya. Mungkin baginya, kebahagiaan sang ibu membawa dua kali lipat kebahagiaan bagi dirinya, tetapi bagiku, betapa kebahagiaannya membawa berlipat-lipat kebahagiaan bagi diriku.

Aku mulai dapat memaknai diriku lebih dari sewujud bentuk yang menyerupai genta dan merah kesumba kelopak-kelopakku. Keindahan barulah bermakna ketika ia dapat bermanfaat bagi makhluk lain tak terkecuali manusia, terutama bagi wanita bergincu yang betapa kesedihannya adalah beban bagi anak laki-laki sulungnya.

Wanita bergincu itu kembali memoles bibirnya dengan gincu merah kesumba sewarna kelopak-kelopakku. Duka si lelaki kini lesap bersama duka sang ibu. Mulailah pola kegiatannya berjalan seperti biasa dengan semangat yang tak biasa.

Malam hari mobil kesayangannya memasuki garasi. Sesuatu dalam diriku berdebar keras menunggu sosok lelaki itu terlihat. Pintu kemudi terbuka, menyusul dirinya berjalan keluar mengitar mobil. Di luar kebiasaan ia membuka pintu di samping jok penumpang. Tampaklah seorang wanita berambut panjang ikal mayang, berdiri di sampingnya.

Kulihat wajah si lelaki sumringah tatkala menuntun perempuan itu berjalan melintasi teras. Tangan keduanya saling menggenggam. Di tengah teras mereka berhenti. Perempuan itu menunduk sambil menggigit bibir. Tangannya meremas tangan lelaki yang menggenggamnya. Kudengar ia mengeluh cemas.

”Tidak apa-apa, tidak apa-apa,” Lelaki itu berusaha menenangkan. Sehembus angin menyebabkan desir dedaunan yang saling menggesek. Dua helai daunku melayang jatuh, disambut lembab tanah. Tetes-tetes getah berjatuhan dari ujung lengan tempat pangkal daunku barusan jatuh. Sebelum malam ini angin sekencang apa pun tak dapat menyebabkan daun-daunku luruh. Melihat keadaannya sekarang, aku ragu bahwa anginlah benar penyebabnya. Siapakah yang patut kusalahkan di antara si lelaki dan perempuan berambut panjang ikal mayang? Barangkali takdirku sendiri karena tercipta hanya sebagai sekuntum bunga Kemboja.

Lelaki itu berjalan menujuku. Perempuan berambut panjang ikal mayang itu tetap terpaku di tengah teras, memperhatikan gelagat si lelaki. Tangan lelaki itu terangkat menuju sepal tempat melekatnya kelopak-kelopakku. Detik pertama ia menyentuhku, ia membawa serta seluruh kesadaranku dari lengan cabang tempat aku tertancap seorang diri. Betapapun, aku hanyalah sekuntum bunga Kemboja. Hidupku berakhir di ujung jemari lelaki yang kuncintai, yang dengan wajah direkah senyuman membawaku kepada perempuan berambut panjang ikal mayang yang tengah cemas menantinya di tengah teras.

Diselipkannya diriku di ujung pangkal telinga sang kekasih. Dari sana aku dapat menatap wajahnya lebih jelas dari yang sudah-sudah. Ia tersenyum menatap diriku di ujung pangkal telinga kekasihnya, bening matanya memantulkan seraut wajah perempuan yang balas tersenyum.

Aku sekarat. Perempuan itu luput merasakan getahku yang bertetesan di antara helai-helai rambutnya.

”Kamu tidak apa-apa sekarang?” lelaki itu bertanya.

Perempuan itu mengangguk pelan. Mereka lantas berjalan menuju pintu masih dengan kedua tangan saling menggenggam. Di ambang pintu lelaki itu memindahkan diriku dari celah di antara kuping kekasihnya ke dalam kantong depan kemejanya. Dari sana, aku dapat mendengar detak jantungnya yang bagaikan menghitung detik-detik kematianku.

”Jangan sampai dilihat ibu bunga Kembojanya dipetik,” samar-samar suaranya terdengar. Getahku berhenti menetes. Walaupun aku masih memendam perasaanku terhadap dirinya, kini yang terpenting adalah memberikan kepada orang yang kucintai sesuatu hal yang dapat mendatangkan kebahagiaan bagi dirinya. Seandainya aku tercipta sebagai seorang manusia tentulah aku dapat belajar lebih banyak tentang cinta daripada yang dapat terpahami oleh sekuntum bunga Kemboja.

Januari, 2010

Written by tukang kliping

20 Juni 2010 pada 10:33

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

36 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Narasinya bgus banget….surealis yang cerdas..good!!

    Sang Pedang

    20 Juni 2010 at 11:53

  2. sekuntum kamboja yang bersaksi, sang pengarang masuk ke dalamnya, menggodok cerita hingga mateng dan enak disajikan ke pembaca.

    hoebartz

    20 Juni 2010 at 16:09

  3. Saat cerpen ini tayang di Kompas, sang penulisnya, Cicilia Oday, belum tahu cerpen ini dimuat (karena setelah kontak via FB, ia lagi liburan).

    Pagi-pagi sekali seorang kawan SMS saya, dia bilang setelah 3 bulan mengikuti cerpen Kompas, baru minggu pagi ini hatinya berbunga-bunga membaca cerpen Kompas.

    Saya yang saat itu belum menerima kompas edisi minggu, hanya membalas sms itu dengan balasan kalimat yg bodoh, apakah penulisnya dari luar, siapa penerjemah cerpen tsb.

    Saat kompas datang dan saya baca cerpen ini, wah… pendapat teman saya via sms tidak salah. Cerpen ini bagus sekali. Mudah-mudahan, sang penulisnya tidak berhenti menulis cerpen, karena cerpen ini adalah cerpen terbaiknya.

    Bamby Cahyadi

    20 Juni 2010 at 18:55

  4. cerita yang cantik, tulus, dan mengagumkan.

    ruangrinduceritaku

    20 Juni 2010 at 19:12

  5. bagus banget! Tak berhenti sebentar pun membacanya. Pemaknaan cinta yang keren! Salam bwt penulisnya! Kewl!😉

    vira classic

    21 Juni 2010 at 01:05

  6. Good choice, Kompas🙂

    A

    21 Juni 2010 at 08:22

  7. Ini baru Kompas… he..he… kapan yah cerpenku nangkring di sini? nama baru nih kayaknya. tapi mantap…

    mashdar

    21 Juni 2010 at 11:40

  8. Asik bgt bacanya😀
    keren2..

    joink

    21 Juni 2010 at 15:25

  9. Ceritanya bagus, bahasanya indah, enak dibaca.Salam kenal buat penulisnya. Saya juga suka nulis cerpen

    Yatti Sadeli

    21 Juni 2010 at 21:06

  10. lembut…
    tulisan ini yang membuat bergairah

    firzah

    21 Juni 2010 at 23:25

  11. Diksinya mantap. Rangkaian kalimatnya sedap.

    Dian KOL

    22 Juni 2010 at 02:11

  12. pengarang menterjemahkan kehidupan selain kehidupan manusia. Aku suka cerpen ini… “cinta terlarang…”

    sule subaweh

    22 Juni 2010 at 10:41

  13. Akhirnya dahaga saya terpuaskan dengan hadirnya nama baru yang karyanya memang pantas dihadirkan. Selamat dan salam salut untuk Cicilia. Sepertinya Mas Bamby kenal Cicilia, siapakah penulis baru kita ini Mas Bamby?

    bhoernomo

    22 Juni 2010 at 14:10

  14. unik banget…. bagus

    adizty

    22 Juni 2010 at 17:27

  15. gw pernah bc cerpen yg temanya sama dengan ini.. karangan Dee, ada di kumpulan cerpennya yg dibukuin tp lupa judul bukunya.
    sama… cuma beda objek n jalan cerita.
    Hmm…

    kunto

    22 Juni 2010 at 18:37

    • itu dari dee yang di kumpulan cerpen filosofi kopi, tentang seekor kecoak yang mencintai anak gadis pemilik rumah bukan?

      anak cantik

      4 November 2011 at 13:20

  16. Sedih ya jd kemboja,
    brsykurlah kt tuhan ciptkan menjadi mahluk yg melebihi bunga kemb0ja,.

    Yuliani

    22 Juni 2010 at 20:58

  17. rangkaian cerita yang sedap.diksinya mantap. cerpen yg hebat

    Gina H

    22 Juni 2010 at 22:12

  18. @kunto:
    Aku baru inget, aku juga pernah baca. Woh, punya Dee ya?😦 Tapi bahasa Cicilia lumayan bagus…..

    Ira

    23 Juni 2010 at 11:45

  19. Salam hangat selalu.
    Saya sangat setuju bahwa cerpen Kompas kali ini benar-benar bagusss sekali. Luar biasa imajisnya, moral yang pekat, perasaan yang dalam, cinta yang tak pernah mengenal balas, sayang tak pernah menuntut kasih. Hanya kekaguman yang menumbuhkan rona cinta sekuntum bunga kamboja. Cerita yang melejit bagai mesin jet keluaran terbaru. Cerpen yang menantang seperti progam nuklir Iran. Cerpen yang mengetuk pintu-pintu hati para pembaca budiman. Salut. Saya jengah membaca hidup yang kotor oleh kerakusan manusia, tapi dalam cerpen ini perasaan saya di bawa berkelana tentang cinta imajis yang apik dan menuai benih kasih. Merasakan cinta yang tak perlu berbalas.
    Saya jadi teringat tentang istilah Jouissance yang pernah di sebut oleh Roland Barther, seorang kritikus sastra Perancis. Jouissance yakni suatu kenikmatan yang di hasilkan dari permainan bentuk inderawi, dangkal dan bukannya suatu plaisir yang menghasilkan kenikmatan tertentu.Meskipun cerpen diatas bermain di takaran imajinitas narasi, tanpa membenamkan kosa bahasa intelektualitas, tapi masih terasa kenikmatan pikir yang saya rasakan dalam membaca cerpen diatas. Kenikmatan indrawi yang di benturkan oleh imajis dari kisah, tanpa perlu memperdulikan benturan kisah yang jelas menerjang takaran pikiran logis(intelektual). Bagus. Sukses berkarya selalu.

    Tova Zen

    23 Juni 2010 at 14:28

  20. ceritanya bagus banget, kata2nya pas. pokoknya enak banget ketika di baca, ketika baca cerpen ini aku terlarut dalam alur ceritanya. pokoknya menghanyutkan……..!

    agus sugiharto

    23 Juni 2010 at 16:40

  21. bagus caranya merangkai kalimat demi kalimat, kata demi kata

    Sedai Nasyirko

    24 Juni 2010 at 13:44

  22. Teknik yang digunakan oleh Cicilia adalah teknik yang sedang trend dalam penulisan fiksi di Inggris saat ini. Mungkin, kalau mirip Dee, hanya karena kedua penulis tertular saja dari gaya bertutur seperti itu. Seperti juga beberapa cerpenis yang terpengarug dengan gaya AA. Navis dalam membuat cerita.

    @ Bhoernomo: hanya kenal dengannya di FB. Menariknya di FB, banyak penulis-penulis yang hebat-hebat, tapi karya mereka belum menembus media, tapi mereka gigih belajar dari penulis-penulis yang sudah berkarya di koran/majalah, saat karya mereka suatu saat dimuat, rasanya ikut bangga juga.

    Bamby Cahyadi

    25 Juni 2010 at 08:36

  23. Woww!! Indahhhh….
    salah satu calon cerpen terbaik Kompas 2010.

    All:
    selain Agus Noor, Rama Dira(cerpn yg mana,Kucing Kiyoko atau Malam Kunang2 atau dua2nya?), siapa lgi yg trpilih sbgai terbaik 2009?

    Pira Avanti

    25 Juni 2010 at 19:55

  24. @ Pira: ada deh… hehehe… acaranya tgl 28 Juni jam 18.00 wib di Bentara Budaya Kompas Gramedia Pal Merah

    Bamby Cahyadi

    26 Juni 2010 at 22:09

  25. sukaaa banget juga dengan cerpen ini!😀

    umm, karya dee yang serupa? rico de coro ya?
    itu juga seru, nempel banget ceritanya. harusnya si rico kecoa ini bertemu dengan si bunga kamboja dan kemudian bercakap-cakap!😀

    43

    28 Juni 2010 at 11:09

  26. @43
    nah, itu…
    hahaha, seru juga tu jadinya. sayang mreka berdua sama2 tewas…

    kunto

    28 Juni 2010 at 16:17

  27. TOP BGT dech buat penulisnya oks banget….

    lia khaman

    30 Juni 2010 at 21:58

  28. Ceritanya bagus banget,,,!!

    moh.khaerul imam

    5 Agustus 2010 at 12:40

  29. bagus banget.. sampai sedih untuk si kamboja merah jambu😦

    verticalskyline

    17 Agustus 2010 at 08:21

  30. solilokui itu artinya apa?

    silla

    15 Februari 2011 at 08:32

    • Solilokui adalah gaya penulisan yang sangat bersifat personal. Berisi renungan, pengakuan dan kontemplasi untuk dirinya sendiri, kadang dengan cara seolah-olah berdialog dengan orang kedua atau orang ketiga. ^_^

      Juwita Itaita Purnamasari

      27 September 2011 at 16:43

  31. kemarin mau baca gak jadi, baru baca hari ni dan emanng tulisannya bikin jatuh cinta ^_^ bagus banget!

    Juwita Itaita Purnamasari

    28 September 2011 at 11:54

  32. cerita yang menyentuh keindahan dan perasaan

    susy

    6 Oktober 2012 at 02:59

  33. sangat menyentuh, pembaca digiring ke irama dan nada yang dibentuk oleh penulisnya. tanpa disadari. membaca cerpen di atas, benar-benar seperti mimpi yang nyata (y)

    muhammadwalidkhakim55555

    25 Agustus 2015 at 15:25


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: