Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Di Kaki Hariara Dua Puluh Tahun Kemudian

with 33 comments


Sudah enam puluh tahun hariara itu tegak di pekarangan belakang sekolah itu. Walau usia sudah mengelupas kulit batangnya, namun dia tetaplah yang paling menjulang di antara pepohonan yang ada di sekeliling.

Di ujung akarnya yang menjentang di permukaan tanah, dengan bersila beralaskan tikar pandan, duduklah Kartika Suryani sejak beberapa saat yang lalu.

Mantan guru itu duduk dengan tegak. Usia tidak membuat punggungnya condong. Binar bola matanya di waktu muda masih disisakan oleh usia. Hanya pojok-pojok mata itu yang berkerut dilukis waktu. Rambutnya yang memutih tidak membuat wajahnya renta. Sinar matahari pagi mendatangkan kecerahan pada penampilannya. Di bawah pohon tua itu dia menanti murid-muridnya. Tentu bukan untuk memberikan pelajaran lagi, tetapi guna menepati janji yang sama-sama mereka sepakati dua puluh tahun yang silam. Janji yang lahir dari pedihnya kebebasan dan kejujuran.

Kartika memang cuma seorang guru bantu, tetapi dia telah membawa suasana baru ke sekolah itu. Dia selalu menyelipkan kelakar untuk menyingkirkan suasana bengis yang selama ini merajai ruang belajar. Kedudukannya sebagai guru tidak mengungkungnya untuk menjaga jarak dari murid. Dia memperlakukan mereka layaknya anak sendiri. Teman malah.

Terkadang dia memberikan tanda mata berupa manisan atau alat tulis kepada murid, yang menurutnya, pada hari itu telah menunjukkan upaya yang lebih besar dibandingkan kemarin. Dengan begitu, penghargaan itu tidak hanya monopoli murid yang paling pandai, tetapi juga menjadi sumber kepercayaan diri bagi mereka yang telah berusaha untuk menyayangi diri sendiri dengan berbuat lebih baik. Untuk menghidupkan suasana kebebasan, tak jarang dia mengajak murid-murid keluar kelas dan belajar dengan bergerombol mengelilingi hariara di pekarangan belakang.

Ke kelas mana pun dia menampakkan diri, simpati dan sukacita tumpah padanya. Matanya yang berbinar dan senyumnya yang murah acapkali memancing murid-murid pria, yang suka iseng, diam-diam menyambut kedatangannya dengan suitan. Dia tidak hanya menjadi buah bibir di sekolah, tetapi juga bahan pujian di meja makan ketika murid-muridnya menceritakan kepada orangtua mereka tentang seorang guru yang cara mengajarnya membuat mereka betah di kelas.

Begitu masuk kelas, dia bukannya langsung memerintahkan murid-murid untuk membuka buku pelajaran, tetapi memulainya dengan percakapan enteng tentang apa saja. Dia menyemangati murid-murid supaya berani mengemukakan pendapat tentang pelajaran yang mereka peroleh kemarin dan mimpi apa yang mereka ingin gapai hari ini. Muridnya memanfaatkan kesempatan di menit-menit awal menjelang pelajaran itu untuk menyampaikan kritik maupun pujian. Kuping Kartika tak pernah tipis. Dia selalu mendengar dengan sabar dan penuh minat.

Semangat untuk menyatakan pendapat itu rupanya sudah tidak memperoleh ruang yang cukup kalau hanya diutarakan dalam beberapa menit menjelang pelajaran dimulai. Kartika kemudian menyediakan buku harian yang dia bentangkan di dekat pintu. Ke dalam halaman buku itu dia persilakan murid-murid untuk menuliskan apa saja yang mereka rasakan, atau pikirkan, tentang sekolah dan dunia mereka sendiri.

”Banyak yang bilang masa di sekolah menengah merupakan penggal kehidupan yang paling membahagiakan. Masa keemasan itu akan terampas ketika kita sudah duduk di perguruan tinggi, lantaran kehidupan senyatanya sudah di depan mata. Benarkah itu? Tolong beri aku jawaban. Tapi, jangan klise, ya…!” begitu kata seseorang di buku harian itu.

”Tidakkah bisa dipikirkan bagaimana mengajarkan matematika supaya menarik, bukannya seperti menyuapkan simbol-simbol yang menyebalkan, mati, dan diajarkan dengan sikap yang sukar dibedakan apakah guru atau monster?!” tulis yang lain menumpahkan kedongkolan.

Ada pula yang menulis dengan awal yang manis, tetapi ditutup dengan sikap seperti mau bunuh diri karena tak ingin kehilangan: ”Sumpah, swear! Kesemarakan hidup hanya kutemukan di sekolah ini, pada guru yang begitu besar cinta mereka kepadaku. Dan teman- teman hebat semua. Baik-baik bangat! Kalau boleh memilih, gue kepingin mati di sini aja.” Di sebelahnya, ada pula yang menanggapi dengan berseloroh: ”Enjoy aja neng, napa sih, he-he.”

Buku harian itu menjadi bahan pembicaraan ketika muncul sebuah kritik yang terlalu berterus terang dan tajam di situ. ”Ini adalah sekolah. Kata-kata guru di sini harus menjadi kenyataan tanpa tawar-menawar. Mereka berbicara mengenai lingkungan yang sedang terancam. Gak usah ngomong pake kaka-kata segede gajah, deh. Bicaralah tentang kamar kecil, kawan! Bak airnya kumal. Tali air di lantai mirip najis yang belepetan mencari jalan keluar. Tidakkah sekolah ini bisa memberikan contoh yang baik bagaimana hidup yang beriman? Kandang kuda tak sepesing ini.”

Kabar tentang keberadaan buku harian itu menyebar ke mana-mana. Murid dari kelas lain turut menikmati keterusterangan yang mekar di halamannya. Mereka seperti menemukan pintu masuk menuju sebuah lekuk kehidupan yang menenteramkan di situ. Banyak yang cemburu mengapa di kelas mereka tak terbentang buku tempat mencurahkan perasaan. Sementara guru yang merasa tersindir di halaman buku itu jadi kepanasan dibuatnya. Terutama kepala sekolah. Untuk beberapa guru, kritik dan kecaman yang ditulis di situ terasa seperti duri yang benar-benar mengusik ketenangan mereka.

”Siapa lagi yang bikin demokrasi edan ini kalau bukan si ganjen itu. Guru bantu saja sok selangit!” Guru-guru yang kegerahan terkena sentilan di buku harian itu menebarkan kebencian dari kelas yang satu ke kelas yang lain, dari satu kolega ke kolega yang lain. Hasut-menghasut membanjir supaya buku itu diberangus, disingkirkan.

Puncaknya bukan pada kritik yang dilancarkan para murid, tetapi pada Kartika Suryani, yang sudah tak tahan membendung banjir perasaannya. Untuk pertama kali dia mencurahkan kata hatinya: ”Aku tak pernah menyangka bahwa suatu ketika, dalam hidup ini, aku akan menemukan kepelikan yang muncul dari sikap korup seseorang yang semestinya menjunjung tinggi kejujuran. Karena kata inilah yang justru sering dikumandangkannya di depan murid-murid, pada setiap upacara seninan. Dan inilah yang menyakitkan. Dia menyuruh aku untuk menjadi penghubung, menemui seseorang yang akan memberikan kunci jawaban ujian nasional di suatu tempat. Mimpi buruk macam apa yang kudapatkan ini? Penghinaan seperti apa yang sedang dia rekayasa untuk merendahkan derajat anak-anakku? Aku tak mau dan tak bisa terlibat dalam kejahatan ini… Aku telah memilih untuk meninggalkan sekolah ini.”

Zaman sudah berkelok dan jauh meninggalkan kodratnya. Seorang kepala sekolah sudah bukan lambang di mana kejujuran menemukan bentuknya. Kartika harus menutup buku yang menjadi jangkar bagi para muridnya untuk melabuhkan kata hati yang sering datang meronta-ronta. Dia hanya seorang guru bantu. Dia tidak dilahirkan dan tidak dikirimkan ke sekolah itu untuk menjadi dewi penyelamat. Bakat sebagai pembangkang juga dia tak punya. Hanya saja, dia tak punya nyali untuk menipu dan membungkam keyakinannya sendiri. Sebagaimana yang disumpahkannya di dalam buku harian itu, maka dia memilih berhenti.

Dia mengajak seisi kelas untuk mengadakan semacam upacara perpisahan dengannya di sekolah itu juga, pada satu pagi di hari Minggu. Murid-murid membawa tanda cinta dan air mata mereka yang penghabisan dalam bentuk kado kecil-kecil yang mereka bungkus sendiri. Kartika membalas semua itu dengan terima kasih dan peluk cium.

”Mari kita tanam buku ini di sini, sebagai tanda terima kasih kepada lembar-lembar halamannya kepada siapa kita telah belajar tentang keberanian dan memercayakan perasaan kita. Lembar-lembar kertas yang telah ikut membesarkan kita semua. Kebebasan berpikir dan mengungkapkan kata hati takkan pernah bisa dibungkam. Dan itulah yang telah kita lakukan dengan catatan harian ini,” katanya seraya menahan perasaan dan titik air mata.

Seperti sedang meratapi peruntungannya sendiri, katanya pahit: ”Saya tahu mencari pekerjaan buat saya tidaklah mudah. Tetapi, saya tak pernah takut jadi miskin. Saya hanya gentar pada kejujuran.”

Dengan kesepakatan murid-murid yang tegak menahan emosi, buku itu diputuskan supaya ditanam. ”Kita yang setia kepada kejujuran diharap datang lagi ke sini, tepat di sini, di bawah pohon ini, pada hari ini juga, Minggu, persis dua puluh tahun mendatang. Kita akan lihat bagaimana kejujuran akan menunjukkan wajahnya. Apakah dia pernah menjadi tua…?” Kata-kata itu membuat upacara di bawah pohon itu terdiam oleh haru.

Dengan setangkai cangkul yang dia bawa sendiri, Kartika memulai galian pertama, diikuti semua muridnya, satu-demi-satu. Buku harian itu dimasukkan ke dalam kantong plastik dan dikuburkan di bawah pohon hariara di pekarangan belakang sekolah itu.

Persis dua puluh tahun kemudian, pada hari ini, hari Minggu, sebagaimana yang sudah disepakati, Kartika sudah duduk menanti di antara akar-akar hariara yang menjalar melilit-lilit memperkokoh cengkeramannya di tanah.

Punggung Kartika Suryani tetap tegak. Juga lehernya yang jenjang menadah sapuan angin pagi. Matanya menatap ke pintu gerbang. Dan dia ingat, gerbang itu dulu terbuat dari kayu, yang kalau dikuakkan akan berderik. Kini, pintu masuk itu adalah besi kempa berukir.

Waktu masih mengajar dulu, dia selalu datang lebih awal dari murid- muridnya. Menjadi orang pertama yang melintas di gerbang itu, dia selalu disambut tukang kebun yang kini sudah tiada. Dan, sebagaimana dulu, pada hari ini, dua puluh tahun kemudian, mantan guru bantu itu mendahului kedatangan murid-muridnya guna menepati sebuah janji untuk menyaksikan kejujuran yang tak bisa dibengkokkan.

Mereka akan bersama-sama menggali tanah di kaki pohon tua yang berkeriput itu, mengeluarkan sebuah buku harian, di mana kebebasan dan kejujuran mereka telah menemukan bentuknya yang paling awal. ***

Written by tukang kliping

23 Mei 2010 pada 21:49

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

33 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Senang membaca cerpen ini. Bagus kata-katanya, mengena tujuannya, kejujuran tidak bisa dibengkokkan…. Sueerr.. Thanks

    Fardhon Hanafiah

    23 Mei 2010 at 22:20

  2. Kangen juga bincang-bincang dengan Bang Martin setelah lama sekali di tabloid BOLA dulu. Salam dan selalu salut pada karya-karyanya,

    Aba Mardjani

    24 Mei 2010 at 00:38

  3. Catatanku: Eko Wahyudi Sutardjo
    1. Aku agak kurang puas dengan ending dan judulnya. Usul judulku adalah: “Bu Guru Kartika”, tanpa nama belakang. Tapi keluar dari semua itu, menurutku: “Inilah salah satu cerpen sederhana tapi begitu bermakna…” Selamat dan salut buat penulisnya, Martin Aleida…
    2. Kalau seumpama endingnya dipanjangin dikit gimana? Misalku:
    Kartika tetap menunggu lama penuh cemas di bawah pohon hariara itu. Namun, belum satu pun ada tanda-tanda murid-muridnya akan datang. Hingga, ketika mentari pagi yang sedaritadi merecokinya mulai lingsir tepat di atas kepala, lamat-lamat dia melihat ke arah sosok pria ceking yang sedang duduk-duduk di depan pintu masuk tengah mengecek-cek tiap reruji dan selebor becak miliknya yang mulai penyok. Melihat itu, Kartika pun mengatupkan kedua tangannya ke dalam dada seraya menduga-duga: “Kaukah itu, Hamdi… Muridku yang menerima manisan terakhir semasa aku masih mengajar dulu? Kaukah itu?”

    Eko Wahyudi Sutardjo

    24 Mei 2010 at 11:30

  4. Salam Hangat Selalu,
    Sungguh wacana yang sangat menarik dengan usungan pesan kejujuran yang substansial dalam pembungkus cerita yang simbolik. Cerpen yang begitu tangkas dalam mengoarkan kritik tentang pentingnya arti kejujuran namun begitu sukarnya bertutur jujur dalam lakon kehidupan( dalam cerita karya bung Martin Aleida, kejujuran di utarakan dalam dunia akademik sebuah instansi belajar).
    Sebelumnya saya punya kutipan dari seorang diplomat hebat Indonesia, Alwi Shihab(Mantan Menlu dan Menkokesra). “Negri ini tak akan pernah maju apabila masih memiliki pejabat yang merasa dirinya raja. Tolong di tulis supaya dia baca”.
    Paradigma yang saya baca akhir-akhir ini adalah tentang banyaknya retorika politik berbalut manipulasi. Semua itu di awali pada suatu nilai yang ‘krisis’ dalam diri masing-masing pribadi yang jauh dari esensitas kejujuran. Korupsi, menang sendiri, suka mengatur, makelar, dan arogansi dalam berpendapat di ruang public(anarkisme dalam demo) adalah efek dari suatu nilai kurangnya kejujuran dalam ber’attitude’, minimnya pengetahuan dalam mengungkapkan prosesi berpendapat dan kecenderungan memaksakan diri dalam mengkritisi pihak-pihak yang di anggap lawan.
    Kritik itu sangat penting, jikalau kita bisa menyikapi atau pun mengkritisi dengan bijak dan jujur. Kritik itu akan memacu roda perputaran kreativitas tiap individu/personal untuk menggoreskan buah karya yang jauh lebih baik lagi. Sepertihalnya cerpen diatas yang banyak mengkritisi pentingnya berpendapat jujur dalam mengungkapkan realita yang ada.
    Kartika tahu bahwa dirinya akan mendapat gunjingan jika terlalu berterus terang dalam membangkitkan potensi berpendapat muridnya secara jujur tentang realita system pendidikan(kurikulum), tempat pendidikan(sekolah), bahkan tabiat guru yang layak menjadi panutan bagi muridnya. Di pundak guru lah pondasi kejujuran itu di terapkan. Guru adalah seorang ‘hero’ yang tak menuntut imbalan materi, tapi layak kita berikan apresiasi berupa kesejahteraan. Guru adalah tonggak dari nilai luhur dalam menerapkan kejujuran, lalu bagaimana jika guru itu melakukan kecurangan(dalam Ujian Nasional misalnya) supaya muridnya dianggap layak lulus? Ini adalah ‘pe-er’ kita semua.
    Cerita di atas sunguh inspirasional dan tentunya nilai yang coba bung Martin berikan adalah pentingnya nilai kejujuran sejak dini, dan gemblengan kejujuran itu ada di tangan pendidik(guru). Kita menghabiskan hidup lebih banyak di lingkungan pendidikan di fase remaja dan implementasi pendidikan itu kita terapkan di masyarakat( menjadi pembisnis, politikus, aparatur, seniman dst). Jika dari personal saja sudah tidak kuat dalam memegang nilai kejujuran, maka pondasi masyarakat akan keropos dengan banyaknya kasus yang merajalela seperti sekarang ini.
    Saya tak ingin mengulas lebih jauh tentang arti kejujuran, karena masing-masing pribadi punya takaran yang berbeda dalam menyikapinya. Saya akan memberikan apresiasi pada cerpen diatas karena dengan bahasa yang lugas, diksi yang menarik, plot yang runtun telah menjelaskan arti penting sebuah kejujuran.
    Saya masih kurang merasakan intrik yang di timbulkan karena cerpen diatas lebih banyak mengulas ‘de ja vu’ seorang Kartika saat mem’flashback’ kilas hidupnya di masa silam dengan menjadi pendidik(guru). Nilai yang bisa saya petik untuk jadi bahan renungan sesuai ‘ending’ cerpen diatas adalah kutipan : ….kejujuran mereka telah menemukan bentuknya yang paling awal***…..
    Dari sini, mari kita resapi bahwa kejujuran itu tak bisa mati meski terkubur bumi, akan selalu tumbuh dan menjelma menjadi tunas yang segar dalam hati kita. Kejujuran tak akan pernah menuai akhir karena kejujuran selalu kembali ke bentuk yang paling awal. Bagaimana caranya kita menumbuhkan tunas kejujuran? Ya, sirami dan pupuk lah saat tanah hati mulai menampakan sedikit tunas kejujuran.
    Sukses Berkarya Selalu.

    Tova Zen

    24 Mei 2010 at 14:59

  5. Kasihan pengelola blog ini serta penulis cerpen di setiap halaman, karena polemik Mr. A memenuhi ruang diskusi kita.

    Untuk Pak Martin, saya senang membaca cerita ini. Sangat menyentuh. Menjadi benar bagi saya pernyataan bahwa proses membaca tidak bisa lepas dari konsep yang telah dibawa pembaca dan bacaan (teks) itu sendiri.

    Apalagi cerita di atas tidak memberikan ruang untuk penjabaran ending, yakni ketika akhirnya mantan guru dan murid2 itu berkumpul lagi. Ia cukup menyematkan kata akan, “Mereka akan bersama-sama menggali tanah di kaki pohon tua yang berkeriput itu, mengeluarkan sebuah buku harian, di mana kebebasan dan kejujuran mereka telah menemukan bentuknya yang paling awal,” seolah tidak lagi penting apakah Guru Kartika benar2 akan berjumpa dengan muridnya atau tidak, cerpen tersebut menyudahi cerita seketika saat pesan telah rampung disampaikan.

    Dulu teman2 kuliah saya juga memiliki buku harian bersama, persis seperti cerita ini. Diisi oleh siapa saja yang merasa ingin menuliskan sesuatu atau merekam suasana dan kejadian di ruang perkuliahan. Terkadang ada juga yang jail menggambar wajah dosen secara karikatural.

    Salam

    Agus

    24 Mei 2010 at 18:02

  6. huhuyyyy…
    seru-seru..
    cerpen nya seru, komennya lebih seru lagi..
    come on.. keep punching..
    hehehe

    joink

    24 Mei 2010 at 19:00

  7. Cerpen yg menarik. Dan saya fikir tadinya karena cerpen ini menarik makanya banyak komen. Eh, ternyata oh ternyata…he..he..

    Renny

    24 Mei 2010 at 19:06

  8. Sebenarnya cerpen ini agak mengingatkan saya pada sebuah film hollywood (tapi saya lupa judulnya), tapi memang alur ceritanya berbeda. Hanya tentang tulisan-tulisan yang dibenamkan di dalam tanah dan dibuka berpuluh-puluh tahun kemudian, memiliki kesamaan (mungkin kebetulan).

    Tapi sebagai cerita satire cerpen ini kurang menggigit.

    Bamby Cahyadi

    24 Mei 2010 at 21:51

  9. @ bamby cahyadi : maksudnya film “knowing” ya? yang diperankan oleh nicholas cage. bercerita mengenai seorang gadis yang menulis sebuah kode-kode simbolik yang dibenamkan di halaman depan sekolah. 20 tahun kemudian baru diketahui kalau yang dituliskan oleh gadis kecil tersebut adalah bukan sekadar2 oret-oretan belaka, melainkan sebuah kode mengenai kejadian-kejadian / kecelakaan-kecelakaan yang akan datang di masa depan. hingga berujung kepada kode-kode / simbol-simbol yang menyiratkan akan terjadi sebuah armageddon alias kiamat.

    denioktora

    24 Mei 2010 at 22:51

  10. @ Denioktora: betul sekali, iya film Knowing (Nicholas Cage) dan dalam film itu juga endingnya tidak jelas/menggantung.

    Secara cerpen, aku berharap Pak Martin, justru harusnya mengekplore-nya, saat pada bagian tulisan-tulisan siswanya, mungkin harus lebih nyelekit, lebih tajam dan lebih membumi….

    Bamby Cahyadi

    25 Mei 2010 at 12:50

  11. Cerpen Bung Martin memang mantab… saya seperti menengok BU Mus-nya laskar pelangi versi yang lain… Buar tukang kliping… thanks…

    mashdar

    25 Mei 2010 at 19:26

  12. sungguh suatu kebanggaan bisa ikut meninggalkan kesan dalam forum ini..
    sebagai penulis pemula, saya banyak belajar dari entri cerpn yg d muat dan dari kritikan yg d sampaikan..
    @Eko Wahyudi Sutardjo : saran ending yg sangat menyentuh, Mas.. ingin rasanya suatu saat nanti membaca karyamu..
    @ martin alaida: salam kenal, Mas.. aku menunggu karyamu selanjutnya..

    arco

    25 Mei 2010 at 19:45

  13. Cerita tentang time capsule tampaknya udah agak sering, terutama yang sering baca komik manga jepang. Tapi baiknya dibumbui satire sedikit, murit2nya gak ada yang datang coz udah jadi manusia korup semua.. Dan tinggallah si ibu guru menggali sendirian. Mungkin, antitesis novel laskar pelanginya hirata.

    Indonesia people

    25 Mei 2010 at 20:37

  14. cerita yang mencerahkan, endingnya justru menyelamatkan cerita, memberi sebuah rasa optimisme pada masa lalu yg kelam… entah apa jadinya kalo endingnya seperti yang dikehendaki-maaf-indonesia people, cerita ini akan jatuh pada realisme yang semu, kelam, menyedihkan.
    mungkin cerpen ini bisa menjadi pemula bg kompas untuk menampilkan cerita yang mencerahkan, memberi udara segar yg penuh spirit, untuk bisa kita hembuskan pada kehidupan kita…

    ewing

    26 Mei 2010 at 07:57

  15. Cerpennya lumayan. Tapi menurutku ada yang TIDAK LOGIS. Jika buku catatan itu ditulis para murid 20 TAHUN LALU, apakah bahasa gaul seperti yang digunakan dalam catatan itu sudah ada? Perhatikan kalimat-kalimat: “Sumpah, swear!… gue kepingin mati di sini aja… napa sih… Gak usah ngomong pake…”

    Ira

    27 Mei 2010 at 09:27

  16. Mirip seperti cerita Freedom Writer. Apa bung Martin terinspirasi dari itu?

    Anef

    27 Mei 2010 at 21:18

  17. Cerpen yg mnggerakkn nurani untuk sllu jujur, mskipun harus hancur.
    Tapi walau bagaimanapun kejujuran selalu didemokan, te2p aja susah melakoniny,,,
    Msalahnya,
    Masih lebih bnyak yg mengajarkan ketidakjujuran drpd kejujuran.
    Setuju,,,?

    Mas Kepret

    28 Mei 2010 at 14:22

  18. Itulah hidup. Kalau banyak yang bilang guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa, nyatanya tetap manusia jua, masih ada yang menjadi ‘penjahat’.

    Cerpen yang penuh filosofi kejujuran. Digarap dengan hati-hati kayaknya. Walaupun cerpen adalah karya imaji, dan kelihatannya cerpen ini memang diarahkan ke filosofi imaji-serta paparan beberapa rekan tentang beberapa kejanggalan, saya menemukan beberapa kejanggalan juga.

    Buruh SD

    28 Mei 2010 at 16:27

  19. Pada konflik atau jalinan cerita salah satu sebab kepergian bu guru adalah disuruh menjadi kurir bocoran soal ujian nasional. Saudara Martin menggarapnya dengan hati-hati. Minim sekali informasi ini. Walau begitu, ada sedikit ketidak dominan fakta di sini. kurir lebih dominan digunakan pada tes masuk perguruan tinggi. Sedang ujian nasional lebih dominan guru mengerjakan (biasanya yang mengawasi) kemudian jawaban diberikan pada siswa.
    Tetapi kayaknya cerpen hebat ini tetaplah karyacerpen, bukan karya logika.

    Buruh SD

    28 Mei 2010 at 16:50

  20. pesan tersirat atau mungkin lebih tepatnya pesan lanjutan yang bisa kita petik dari cerpen ini yaitu jujurlah dalam mengkritik/menilai cerpen. Jangan karena cerpen itu karya teman atau keluarga lantas bilang suka padahal dalam hati tidak suka atau kurang suka.

    Ran Pasnim

    8 Juni 2010 at 15:37

  21. Saya kira,akan menceritakan detail 20 tahun kemudian, ternyata tidak.

    Saya suka cerpennya. Jadi teringat semacam kapsul waktu yang dibuka 20 tahun kemudian.

    ebisu

    9 Juni 2010 at 16:46

  22. Ini cerpen remaja kesekian ratus yang saya baca…tapi ini cerpen remaja pertama yang buat air mata saya mengalir sepanjang malam!

    Taufik Aditya

    17 Juni 2010 at 20:55

  23. bagus, ceritanya sederhana tapi mengena. Saya seorang guru dan merasakan kegelisahan yg sm seperti bu Kartika. UN sempat bikin saya gamang dan akhirnya sy hanya ikut arus pdhl hati nurani ingin seperti bu Kartika yg menegakkan kejujuran. Semoga lebih banyak guru2 di Indonesia yg membaca karya ini spy terketuk pintu hatinya. Terima kasih Bang Martin, salam dari Batanghari, Jambi

    Puteri

    19 Juni 2010 at 17:09

  24. cerepen yang sungguk bagus,enak di baca serta tidak membosankan,,

    moh.khaerul imam

    9 Agustus 2010 at 13:02

  25. di cerpen ini ada monolognya ga sih ?

    tiaylo akira

    5 Oktober 2010 at 21:47

  26. Bagi yang suka membaca tulisan dengan pikiran dan hati terbuka, tidak sekadar membaca (pinjam istilah Gabriel Marquez) agar tahu bagaimana kira-kira cara membuat tulisan itu, cerpen ini adalah alasan sahih kenapa Pak Martin masih laku sampai sekarang.
    Terlepas dari cara bercerita yang mungkin kelewat monolog dan kurang kuat pencitraan “pemeran-pemeran pembantu”-nya serta ketidaklogisan kalimat-kalimat sang murid, cerpen ini tetap memesona. (Bukankah di zaman Ikal SMP, gejolak penolakan pada DPR belum sehebat sekarang tapi kenapa Andrea Hirata dalam Sang Pemimpi bolak-balik mengecam DPR seolah-olah itu terjadi sekarang?!)

    Hammad

    19 Desember 2010 at 10:40

  27. Lagi searching cerpen buat bahan referensi. Alhamdulillah nemu. Bagus banged ni cerpen. Bisa buat bahan pertimbangan.

    neila

    18 Februari 2011 at 14:01

  28. bagus cerpen nya om,,

    bontot anak passe

    7 April 2011 at 09:08

  29. membaca cerita yang bersetting sekolah macam cerpen martin aleida, saya sangat terharu.

    mana ada jaman sekarang guru macam itu, meskipun cerpen itu semata-mata realitas yang didaur ulang, namun sangat menarik apabila guru2 di sekolah kita mengambil nilai2. sayangnya, guru2 kebanyakan tak punya watu membaca. mereka dibebani tugas administrasi dari dinas pendidikan macam gerobak dorong padat muatan.
    salam. cerpen yang patut dijadikan pegangan saya mengajar…
    salam dari aceh

    asamlambung

    2 Oktober 2011 at 12:09

  30. semoga guru2 seperti bu kartika masih ada di jaman sekarang ini. bagus ^^

    oriza

    24 Oktober 2011 at 18:38

  31. sbgai calon guru,
    semoga aku bisa sperti sosok bu Kartika
    Amin.

    INE

    25 Januari 2012 at 10:10

  32. saya membaca cerpen ini tepat ketika saya begitu kecewa pada sebuah institusi perguruan tnggi yg telah menginjak2 nilai2 kejujuran yg mesti djunjung dan diagungkan sebagai ruh hidupnya….melacurkan gelar, tepat ketika saya geram pd seorang mahasiswa yg melibas kejujuran,merendahkan derajatnya demi gelar sarjana!

    enny

    29 Februari 2012 at 05:11

  33. keren banget cerpennya… 😊😊
    sumpah deh!!

    susi

    24 November 2014 at 13:09


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: