Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Raja Kuru

with 27 comments


Lampu minyak bergoyang perlahan, tersapu angin kemarau. Apinya berkebit-kebit, bahkan pada saat tertentu nyaris padam. Malam pekat di luar sana, namun juga sepekat kabut yang menyelimuti perasaan Duryudana.

Karna. Nama itu kini seakan menambah persoalan yang dihadapinya. Dulu, hanya Arjuna yang dikhawatirkannya akan merebut Surtikanti, namun setelah dilihatnya Surtikanti agak tak acuh pada Arjuna, Duryudana agak tenteram.

Piala anggur di tangan kirinya. Rambutnya kusut. Wajahnya keruh dimainkan cahaya api minyak. ”Suruh Togog kemari.” perintahnya dingin pada penjaga ruangan.

Sang penjaga segera undur dan beberapa saat kemudian kembali bersama seorang laki-laki tua, gemuk. Laki-laki itu membawa sebuah kotak, berisi sitar.

”Tuanku?” sapa si laki-laki gemuk dengan suara seperti terkulum oleh bentuk mulutnya yang tampak terlalu besar dibandingkan keseluruhan kepalanya. Sedemikian besar mulutnya sehingga seolah-olah orang hanya melihat wajah Togog Tejamantri hanyalah bibir yang bermata dan bertelinga.

Tanpa memandang kehadiran Togog, raja muda itu meneguk anggurnya. Lalu, ”Gog… apa yang bisa mengobati kekhawatiran hati manusia.”

Togog tertawa. Lalu jemarinya mulai memetik dawai-dawai sitar. Nada pun mendenting-denting.

”Kekhawatiran,” Togog tersenyum dan menggantung ucapannya sesaat. ”Ya…, perasaan takut kehilangan. Kehilangan karena kita merasa memiliki….”

”Apa ini sebuah permainan, Gog?”

”Permainan, tuanku?”

”Aku merasakan diriku dipermainkan.”

”Dipermainkan, tuanku?”

”Dia seperti melihat dan menimbang dengan kedua bola matanya sekaligus, yang anehnya masing-masing melihat sesuatu yang berbeda.”

”Ha-ha-ha-ha-ha… perasaan tuanku mengatakannya demikian, tetapi, menurut hamba….”

”Memang aneh, Gog, perasaanku ini…”

”Ha-ha-ha-ha… Mengapa tuanku tidak melihat dengan seribu mata?”

”Gog, jangan memberiku pertanyaan aneh. Hidupku sudah aneh.”

”Tuanku adalah raja segala raja. Lebih tinggi daripada Gunung Mahameru. Menjulang menggapai awan gemawan.. tentunya tuanku memiliki apa yang hamba maksudkan.”

”Gog…”

”Hamba, tuanku….”

”Menyanyilah….”

Togog tersenyum. Jemarinya menjentik-jentik nada-nada yang tersimpan pada setiap dawai sitar.

”Ada yang berkisah, tentang seorang lelaki resah…

hidupnya bergelimang harta dan mewah

bersama angin dia pergi, mencari sunyi

dengan kaki luka, dia menghancurkan keangkuhannya

berjalan menyeruak semak, seorang diri

mencari jalan menuju keabadian sejati

Tak ada lagi pintu untuk diketuk

Tak ada saudara untuk dijenguk

Dia abaikan istana, dialah Pa..”

”Berhenti sebentar.” Duryudana menabrak keheningan yang mengalir dari suara Togog.

Togog berhenti menembang. Jemarinya masih sesekali menjentik-jentik dawai. Nada merambat nyaring memenuhi sepi malam.

”Apa kau percaya pada perempuan?”

Togog tersenyum. Majikannya terbakar asmara. Putri dari Mandaraka itu memang jelita. Dan Togog tahu, siapa yang telah bertahta jauh di lubuk hati putri cantik itu.

Majikannya memang memiliki takhta kekuasaan gading, berbalut emas, namun tak mampu memindahkannya ke ruang paling dalam kehidupan Surtikanti. Menyakitkan, memang. Namun, itulah harga yang harus dibayar ketika manusia harus memilih.

”Hamba percaya, tuanku….”

”Mengapa?” Duryudana meneguk anggur, lalu menyambungnya, ”Apa yang membuatmu percaya?”

”Karena perempuan berkata dengan hatinya, tuanku.”

”Togog, jangan menyindirku….”

Togog diam, hanya tersenyum.

”Aku tahu, dia memilih Karna. Tetapi, bagaimana dengan aku? Mengapa dia memilih Karna. Apa hebatnya Karna? Bahkan, derajatnya pun aku yang memberinya. Kini, bahkan dia menjadi pembicaraan para prajurit. Namanya berkobar bagai api, siap menghanguskan rimba raya kejayaanku. Bangsat!” dan piala anggur itu dilemparkannya. Bergelontang benda yang sesaat lalu ditimang dan dipandangnya penuh kebanggaan itu. Menggema jauh suaranya, sesaat kemudian teredam sunyi.

Togog hanya diam. Dia hanya tersenyum dalam hati dan menjawab pertanyaan Duryudana dengan pertanyaan sederhana: mampukah kau, wahai anak Drestrarastra, berguru pada Parasu? Mampukah kau, wahai anak Gendari, berpisah dari kedua orangtuamu? Karna mampu menelan kenyataan paling pahit dalam hidupnya, dan karenanya dia layak menerima kemampuan itu. Dia bagai sebuah pedang yang terasah batu paling keras, sehingga layak mendapat ketajaman sehebat itu.

”Togog, apa kau pernah merasakan kepedihan seperti ini?”

”Tuanku.. tak ada obat untuk perasaan sakit seperti itu. Apakah tuanku pernah menyatakan perasaan tuanku pada Surtikanti….”

”Tentu saja.”

”Oh, tentu tuanku, tentu….”

”Tentu saja, dia seharusnya mengerti..”

”Ooh? Ha-ha-ha… ha-ha-ha…” dan seperti menirukan ucapan Duryudana Togog bergumam, ”dia seharusnya mengerti….”

”Diam, kau Togog.”

Namun, Togog malah terbahak-bahak. Duryudana tertunduk, kalah oleh gema suara Togog yang terasa jauh lebih tua daripada segala yang ada di ruangan itu.

”Tentu, seharusnya dia mengerti. haha-ha, Duryudana tuanku, junjunganku, tuanku seharusnya bicara sebagai Duryudana, bukan sebagai raja Hastina.

Karena sebagai raja, tuanku hanya memperoleh setangkup sembah. Tuanku adalah kekuasaan. Mana mungkin orang mampu bicara di depan kekuasaan?

Namun, bila tuanku bicara sebagai Duryudana, yang laki-laki biasa.. maka hatinya akan terbuka….”

”Ajari aku tentang itu,” ucap Duryudana lirih. Dikenakannya selimut kain untuk membungkus tubuhnya yang tiba-tiba terasa dingin.

Denting dawai mengisi sunyi. Menenangkan gelegak amarah. Suara Togog menggaung menembangkan kisah manusia yang bersedia ”menelanjangi” diri. Kisah seorang manusia bernama Palasara, yang mengembara, membuang semua kilau harta. Menjelajah lembah, menyeruak semak, membiarkan diri ditelan hutan. Dialah moyang keluarga besar Hastinapura.

Palasara manusia yang menghamba dan karena itu tak ingin memperhamba orang lain. Dia tolak singgasana dan memilih kegelapan gua-gua sebagai gantinya. Dia mencari keheningan nurani di jalan orang papa, dan menjauhi kehirukpikukan istana. Palasara mempersiapkan keabadian hidupnya, dan sedang berlatih menjalani kehidupannya kelak di alam kekal. Dan apalah arti hidupnya yang hanya terdiri dari darah, daging dan tulang-belulang ini, jika dengan meninggalkannya dia memperoleh hidup yang jauh lebih bermakna? Maka, wahai anak tertua bangsa Kuru, apalah arti seorang perempuan yang bahkan tak mengganggapmu ada, sedangkan Palasara dengan senang hati menyerahkan istri yang dicintainya kepada orang lain?

***

Belum lagi usai Togog mendendangkan tembangnya, dilihatnya Duryudana tertunduk. Dia menangis bagai anak kecil kehilangan mainan dan takut dimarahi ibu-bapaknya. Pundaknya terguncang-guncang, merasakan sakit yang menusuk ulu jiwanya.

Togog, manusia tua itu, berjalan mendekati rajanya. Kini dia adalah orangtua, yang jauh lebih memahami perasaan seorang anak kecil yang kini terendam kepedihan. Diusapnya kepala Duryudana, sebagaimana dulu ketika dia masih bocah. Di mata Togog, Duryudana tak lebih dari seorang bocah yang harus memikul beban terlalu berat. Harapan dan impian ibundanya, orang yang melahirkannya, terlalu besar. Di balik kegagahannya, Duryudana ternyata hanyalah bayangan, atau bahkan hanya sebuah telapak kaki bagi kehendak dan impian Gendari; ibundanya.

Telah untuk kedua kalinya raja muda itu mengalami kepahitan menghadapi perempuan. Dulu, ketika dia diam-diam dijodohkan dengan Erawati—putri tertua Prabu Salya, sebetulnya Duryudana kurang suka. Namun, karena Gendari mencengkeramkan kuku elangnya, dan Duryudana hanyalah seekor anak ayam, maka anak muda itu pun mengalah. Dia mencoba menyukai pilihan bundanya dan memang pada akhirnya dia merasa tertarik pada Erawati.

Erawati pun—sepengetahuan Togog, sebetulnya tak memiliki alasan untuk menolak Duryudana. Nyaris sempurna. Maka, hubungan diam-diam itu pun sebetulnya telah terjalin. Namun, setelah Duryudana mulai terbawa oleh perasaan kerinduannya pada Erawati—yang diam-diam dirindukannya lebih sebagai ibu daripada istri, tiba-tiba perkawinan itu batal begitu saja. Erawati dikawinkan dengan Kakrasana dari Mandura.

Maka dengan kepahitan yang serupa, Duryudana pun dipaksa menelan kenyataan, harus memilih Surtikanti—anak Prabu Salya yang nomor dua. Namun, kini, ketika semua bahkan sudah mengetahui secara gamblang hubungan keduanya, tiba-tiba muncul Karna. Dan Karna, seakan tak memandang sebelah mata pada Duryudana. Pesona dan kehebatan Karna memang tak bisa dilawan dengan harta dan kekuasaan.

Itulah sebabnya Togog merasa iba dengan anak muda yang kini menangis sesenggukan itu. Sejak kecil dia tak pernah diberi pilihan, dan hanya menjalani apa kata Gendari, yang dibantu Suman; adiknya. Duryudana tak bisa melihat pilihan lain. Otaknya seperti kosong dan hanya bisa melakukan sesuatu atas perintah dan petunjuk ibunya. Kakinya hanya melangkah manakala ibunya menyuruhnya melangkah. Sementara, mungkin, jauh di lubuk jiwanya, keinginan untuk memberontak itu sudah ada, hanya saja.. tak mungkin dia mampu mewujudkannya. Persoalan pelik itu terus bergulung-gulung di dalam jiwanya.

Kekhawatiran akan hilangnya Surtikanti dari tangannya, bukanlah semata-mata sebuah tamparan besar karena dia seorang raja. Kegagalan menyunting Surtikanti adalah sebuah tusukan telak bahwa dirinya bukanlah laki-laki yang layak mendapatkan cinta seorang perempuan. Inilah, yang di mata Togog, membuat Duryudana menangis merasakan kepedihannya.

”Tuanku.. ini sebuah pelajaran..” ucap Togog dengan suara parau. Ucapan yang keluar, setelah menyimak gemulung persoalan Duryudana.

”Tetapi, ini terlalu mahal…,” jawab Duryudana. Dia mengangkat wajahnya dan menatap Togog, yang berdiri dengan ketuaannya.

”Tak ada pelajaran yang tak berharga, tuanku.”

Duryudana tegak perlahan, kemudian berjalan menuju jendela yang terbuka lebar, seakan ingin menghirup kekelaman malam beku di luar sana.

Raja bangsa Kurawa itu mencoba memandang jauh ke depan. Dibiarkannya kebekuan malam kemarau panjang itu berhembus menerpa kulitnya. Dongeng kuna tentang Raja Palasara yang mengembara, seakan memberinya kekuatan. Dulu dongeng itu diabaikannya karena baginya hanyalah sebuah isapan jempol. Dulu kisah itu dianggapnya sebagai upaya manusia untuk menutupi ketidakmampuannya mengurus kerajaan. Namun, kini, kisah itu sesungguhnya mengajarkan betapa besar kekuatan dan kekuasaan Palasara. Sedemikian besar dan kuatnya, sehingga Palasara mampu menentukan pilihan hidupnya. Palasara mampu menepiskan keakuannya, menjadikan dirinya sebagai humus, yang akan menyuburkan pertumbuhan anak cucunya di kelak kemudian hari..

Sementara Togog melantunkan sepenggal tembang:

[1] Ada lagi sebuah kisah tentang seorang raksasa

Menyiramkan darahnya sendiri bagi kebebasan negerinya…

[1] terjemahan bebas dari Serat Tripama.

Written by tukang kliping

2 Mei 2010 pada 13:23

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

27 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Mas Yanusa sangat menguasai dunia pewayangan, maka telah menjadi ciri khas beliau dalam menulis cerpen ini atau novel (misal: BOMA). Seandainya Mas Yanusa, mau menggabungkan tokoh-tokoh wayang dengan setting masa kini, mungkin akan jadi luar biasa.

    Bamby Cahyadi

    2 Mei 2010 at 18:27

  2. Setiap membaca cerita yang memanfaatkan atau berdiri di atas cerita lain, selalu ada pertanyaan di kepala saya: Bagaimana si cerita akan bisa dinikmati oleh seorang pembaca yang tak punya wawasan tentang cerita lain itu, apalagi kalau cerita lain itu sangat khas produk suatu tradisi seperti wayang? Si cerita akan sia-sia.

    bhoernomo

    3 Mei 2010 at 09:06

  3. Kurang berasa…. saya lebih suka cerpen Yanusa yang berjudul “Wening”.

    @Ira:
    Ya, mungkin saja Dorothea tengah mencoba teknik penulisan yang beda. Tapi saya tetap suka cerpen itu karena Dorothea berhasil mengangkat persoalan dan akibat yang mendasar dalam diri seorang istri korban KDRT.

    Yanti

    4 Mei 2010 at 08:26

  4. Aku setuju dgn pendapat mas Bhoernomo. Ada baiknya juga jika crpnnya bertma lokal,sebaiknya penulisnya memperkaya dgn semacam catatan perut atau catatan kaki, JIKA HAL ITU MEMANG DIPERLUKAN.
    Ingat !! Kompas koran nasional yg dibaca dari Sabang sampe Merauke.
    Namun tetap jempolku ke Kompas yg memuat cerpen brtma lokal ,sbab disitulah salah satu letak keungulan Kompas dibanding media lainnya di Indonesia yg blum merdeka ini.
    Bisa saja kan kelihatannya crpn itu brbau lokal padahal didalamnya tersirat pesan ttg nasional? Atau sebenarnya yang ingin disampaikan ttg nasional hanya penyajiannya brbntuk lokal.
    btw @Bamby & tukang kliping: Apa artinya moderasi, awan tag, tertangkap akismet si penjaga spam karena berisi alamat email dan algoritma awan tag bisa dari kepopuleran tag ?
    Mohon dijelaskan, soalnya aku gaptek.

    Trima kasih. Salam kenal semua dan salam damai.

    Jatev

    5 Mei 2010 at 12:06

  5. Orang yg tak mau dikritik merasa dirinya sempurna, itu sesat. Orang sesat bagusnya diapakan ya?
    Tapi yg mengkritik,jgn asal kritik, Kritiklah yg membangun! Jangan ngritik karena iri.

    Klasemen grafik nilai cerpen kompas 2010 sampai saat ini.
    Nilainya antara 1 hingga 100 dan jika dijumlahkan = 100

    1.Orang Bunian:25-4,Gus tf Sakai, 25-4=12,2
    2.Kenangan Perkawinan:28-2, Antoni CK=11,4
    3.Ada yang Menangis Sepanjang Hari:28-3, Agus Noor=11
    4.Orang-orang Tak Bersalah: 7-2 ,Remmy Novaris DM=10
    5.Janji:18-4, R Yulia=9,9
    6.Rumi: 3-1,Beni Setia=9
    7.Penguyah Sirih: 10-1,S Prasetyo Utomo=8
    8.Menjaga Perut :11-4, Adek Alwi= 6,2
    9.Kue Gemblong Mak Sainah: 4-4,Aba Mardjani=5,3
    10.Balada Sang Putri di Gubuk Hamba: 21-3,Wayan Sunarta=3,2
    11.Lelaki yang Membelah Bulan:21-2,Noviana Kusumawardhani=3
    12.Lidah: 24-1,Ahmad Rofiq=2,1
    13.Ada Cerita di Kedai Tuak Martohap: 31-1,Timbul Nadeak=2
    14.Seekor Anjing Manis: 17-1,Sungging Raga=1,9
    15.Obsesi: 7-3,Maggie Tiojakin=1,8
    16.Raja Kuru: 2-5,Yanusa Nugroho=1,6
    17.Bayi:14-3, Reda Gaudiamo=1,4

    CERPEN TERBAIK DUNIA

    5 Mei 2010 at 13:47

  6. @jatev: akismet silahkan baca di sini http://akismet.com/
    awan tag di sini http://en.wikipedia.org/wiki/Tag_cloud

    tukang kliping

    5 Mei 2010 at 15:48

  7. Menurut saya cerpen ini lumayan.

    @CERPEN TERBAIK DUNIA:
    Apa dasar penyusunan klasemen itu? Saya gak ngerti misalnya dari mana datang angka 25-4 di cerpen Gus tf Sakai, 28-2 di cerpen Antoni CK, dst.

    mala

    6 Mei 2010 at 08:53

  8. @ Cerpen Terbaik Dunia : Penilian yang ANEH! B-)

    B

    6 Mei 2010 at 09:34

  9. Sebagai orang yang pernah sekali membaca kisah Mahabrata semasa kanak-2, dan orang yang jarang membaca cerpen, saya sangat suka cerpen ini.

    Cerpen ini membuat saya dapat ber-empati, bahkan ber-simpati dengan karakter antagonis. Cerpen ini membuat saya dapat melihat cerita Mahabrata dari sudut pandang lain.

    JLZ

    6 Mei 2010 at 10:51

  10. Sbg org yg jarang membaca cerpen, dan org yg pernah membaca karya Mahabarata semasa kecil dan memiliki perasaan tidak suka yang kuat terhadap karakter Duryudana, saya sangat menikmati cerpen ini.
    Cerpen ini bisa membuat saya bersimpati terhadap tokoh antagonis karena bisa mengerti jiwanya menerut versi pengarang.

    JLZ

    6 Mei 2010 at 11:16

  11. Ha?
    Bandingkan terbaik Republika ‘Susuk Kekebalan’ atau ‘Subuh Makke’
    Terbaik Jawa Pos ‘Sarpakenaka’ atau ‘Di Jarwal…’
    Terbaik Suara Merdeka ‘Debu’ atau ‘Jimat Sero’
    Terbaik Koran Tempo ‘Penjual Dongeng’ atau ‘Sang Kolonel…
    Terbaik Lampung Post ‘Saya Hanyalah…’
    Biar dunia tak selebar Kompas!
    Ternyata ada yang lebih baik dibanding ‘Orang Bunian’ atau ‘Kenangan Perkawinan’!

    Buruh SD

    6 Mei 2010 at 19:48

  12. @buruh sd: senang sekali tentunya menyadari kita memiliki opsi cerpen berkualitas tidak dari satu sumber saja

    tukang kliping

    7 Mei 2010 at 08:29

  13. @JLZ: Kasus seperti anda inilah yang saya maksud. Mereka yang sebelumnya tak pernah membaca karya lain semisal “Mahabrata” tentu tak akan bisa menikmati cerpen ini.

    bhoernomo

    7 Mei 2010 at 10:17

  14. @Yanti: Iya semoga cerpen Dorothea yang lain seperti yang aku suka dulu..🙂

    @Buruh SD: Aku baru tahu kalau koran-koran lain itu juga memilih cerpen terbaik. Kok aku gak pernah dengar? Bagus sekali. Apakah mereka juga menerbitkan buku? Tapi ada yang aku kurang paham, kenapa cerpen-cerpen itu lebih baik dibanding “Orang Bunian” atau “Kenangan Perkawinan”? Apakah ada situs yang memuat cerpen-cerpen itu semua lalu kita juga bisa memberikan penilaian? Yang aku tahu hanya buku hadiah Pena Kencana, tapi di buku itu kulihat ada juri yang ditunjuk untuk memilih.

    Ira

    7 Mei 2010 at 15:55

  15. berbahagialah orang yang dilahirkan hanya untuk menilai & membanding-bandingkan karya satu dg yg lain. kenapa gak bikin software penilai cerpen saja. tinggal input cerpennya, keluarlah nilainya. selanjutnya terapkan standar kelulusan cerpen, 5,5 misalnya, klo gak lulus, pengarangnya dipersilahkan bunuh diri. bukankah sekarang negara ini butuh semua hal yg berkualitas? coba sekalian usul agar diadakan Ujian Cerpen Nasional ke mentri pendidikan.

    S Raga

    7 Mei 2010 at 18:15

  16. @mala:
    25-4 itu tanggalnya,cuma salah letak.

    CERPEN TERBAIK DUNIA

    8 Mei 2010 at 13:32

  17. @S Raga:
    Hayoo… Mengapa Bung tukangkliping membuat penilaian cerpen Kompas! Anda bisa dituding tidak adil Bung. Anda tidak adil terhadap Bung S Raga, nilai cerpennya Anda buat begitu jelek!
    Hayoo Kompas! Mengapa dinilai dan dipilih cerpen terbaik tiap tahun? Mestinya dibukukan semua cerpen yang termuat Kompas! Mestinya lagi semua cerpen yang masuk ke redaksi dimuat, Bung! Anda terlalu kalau nggak begitu!
    Pena Kencana! Mengapa berani-beraninya menilai dan memilih cerpen terbaik?

    Buruh SD

    8 Mei 2010 at 15:24

  18. Panitia-panitia lomba! Anda tidak demokratis dan bego! Nggak ada cerpen terbaik dan terburuk. Nggak ada pemenang dan pecundang!
    Cerpen adalah cipta seni! Seni itu subyektif, Bung! Nggak ada yang terbaik dan terburuk. Mengapa? Penilaian individu satu dengan individu lainnya akan berbeda. Kalau ada cerpen yang terpilih sebagai juara, pasti jurinya kongkalikong-nggak adil-disogok! Lha kok bisa-bisanya lho sama penilaiannya? Nggak perlu ada penilaian-penilaian! Kurang kerjaan saja!

    Buruh Sd

    8 Mei 2010 at 15:38

  19. Cerpen tidak perlu dinilai dan dibandingkan!
    Cerpen religi, cerpen kelamin, cerpen PKI, cerpen liris, cerpen realis, cerpen surealis, cerpen pop, cerpen sastra, cerpen konvensional, cerpen kontemporer… itu juga pembedaan yang ngawur! Semua cerpen sama dan harus diterima!
    Cerpen Kawabata, cerpen Hamsad Rangkuti, cerpen Seno Gumira Ajidarama, cerpen Sungging Raga, cerpen Buruh SD… itu sama saja, Bung! Semua baik, tak ada pembedaan! Saya tonjok nanti kalo bilang punya Seno lebih baik dari Buruh SD!
    Ha…

    Buruh SD

    8 Mei 2010 at 15:51

  20. @Ira:
    Buku pilihan cerpen koran terbaik setahu saya memang baru Kompas dan Pena Kencana.
    Untuk penilaian lain lihat http://www.lakonhidup.com atau situs koran itu sendiri atau situs-situs yang berhubungan dengan cerpen baik oleh pengarang itu sendiri maupun orang lain yang mengumpulkannya. Banyak sekali bertebaran di ruang maya. Anda bisa mencarinya kalau telaten.
    Untuk tema cerpen Dorothea RH, saya teringat Yetti A.KA, saya suka tema ‘kesendirian perempuan’ nya. Realis yang menohok feel…

    Buruh SD

    8 Mei 2010 at 16:18

  21. @buruh sd:

    saya tidak tahu kenapa Anda sangat emosional,

    penilaian di situs ini diperoleh dari user yang mengunjungi situs ini (jika Anda menganggap rating bintang adalah penilaian saya)

    Anda tak setuju dengan pemilihan cerpen terbaik itu hak Anda, saya menganggap itu apresiasi, suka atau tidak suka; penilaian seperti ini akan tetap ada, sama seperti kritik pada cerpen itu sendiri

    dan saya masih tidak tahu kenapa Anda begitu emosional menyikapi pendapat yang berbeda dengan pendapat Anda

    tukang kliping

    8 Mei 2010 at 16:55

  22. @tukangkliping: Trim’s masukannya;
    Maksud saya seperti ini: @Bung S Raga; Ha? Apakah begitu nasib cerpen?

    Buruh SD

    8 Mei 2010 at 18:12

  23. Buruh SD saya pengen kenalan dong sama anda. saya sangat suka sama orang yang pintar namun sangat emosional. seksi hehehe
    pesan damai untuk kritikus dan cerpenis.

    surey

    16 Mei 2010 at 19:38

  24. perdebatan yang aneh

    cerpen yang menarik, mengangkat sisi hati sosok duryudana yang biasanya dikisahkan tak berhati..

    nur ratri

    19 September 2010 at 11:31

  25. suka banget…

    gide buono

    3 Desember 2010 at 23:14

  26. Indah sekali….. Benar2 menyentuh hati yang paling dalam….. Melihat sosok Duryudana dari sisi yang lain…sisi dalam….dimana para penikmat kisah pewayangan hanya tahu Hitam, Putih..Baik, Buruk.. Positif, Negatif.. Tapi ini…Mantaff boss… Sebuah Kisah di dalam kisah… Seperti kisah pribadi para Mafia Italia yang kelihatan kejam di mata masyarakat….. Tetapi mempunyai sisi romantis, tragis bagi orang dekat yang mengenalnya…

    Lani

    24 Juni 2011 at 12:05

  27. saya suka ini .. !!

    Maheswara Mahendra

    26 Oktober 2013 at 11:44


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: