Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Balada Sang Putri di Gubuk Hamba

with 18 comments


Senja warna kencana ketika putri jelita itu tiba di pesanggrahan hamba. Tiga angsa seputih bunga kamboja mengiringinya.

Angsa-angsa ini tak mau kutinggal di puri. Selalu ingin mengikutiku ke mana pergi,” ucapnya.

Harum cempaka merekah dari langsat kulitnya. Bibir tipisnya mirah delima. Angin cemburu tak mampu mengurai hitam rambutnya. Hamba terpana pesona di hadapan hamba. Gerimis merah muda mengurai cuaca di kesunyian pesanggrahan.

Hamba tuntun sang putri masuk gubuk. Langkahnya pasti menjejak lantai tanah. Mulus betisnya memancarkan cahaya surgawi. Hamba menenteramkan riak-riak ombak di hati.

Sang putri duduk anggun di balai-balai bambu. Dia mengulum senyum. Seakan hendak menerka rahasia dari lontar-lontar kusam masa silam, yang hamba susun rapi di peti tua berukir bunga padma.

”Lautan dan topan sejatinya sepasang kekasih yang ingin menembangkan kidung-kidung dewa di cangkang-cangkang kerang,” lirihnya.

Hamba merasa malu pada hati hamba, yang tiba-tiba mekar di jelita matanya. Buru-buru hamba nyalakan pelita minyak kelapa. Malam telah membutakan jarak di pesanggrahan.

Remang cahaya pelita menggurat dua bayang di dinding kayu. Bayang yang saling termangu merunut silsilah dan sejarah, yang mengasingkan kami sejauh tahun-tahun kepedihan, sepanjang jarak dua belahan bumi.

”Angin apa kiranya yang membawamu ke sini, Putri? Hamba telah asingkan diri dari segala kenangan meski parasmu masih membekas di hati. Cahaya apa menuntun langkahmu, menyusuri jejak sunyi tak terperi, hingga tiba di gubuk hamba?”

Mata sekilau purnama menatap hamba tajam. Menembus remang ruang, remang jiwa. Bibir seindah mirah membuka sabda: ”masih ingatkah kau pada sebilah daun lontar di mana tertatah syair, yang kau gurat dari lubuk jiwamu?”

Hamba merasa darah hangat dari jantung yang berdegup malu, mengalir perlahan memenuhi wajah hamba. Sudah lama sekali, belasan tahun lalu. Ketika usia kami masih ranum, begitu hijau. Agaknya waktu telah membekukan syair itu di sebuah gua rahasia di hatinya.

”Meski bilah lontar itu telah kusam, tinta hitam dari kemiri dan jelaga hampir luntur, tapi syair itu tak henti menitiskan rindu dan mengalir hangat di nadiku. Kini tiba saatnya bagiku melunasi karma,” ucap Sang Putri.

Hamba terpana, menerka-nerka arah kerumunan kata yang berhamburan bagai kunang-kunang dari bibir rekah yang dulu hamba rindui. Di luar gubuk, angsa-angsa bercengkerama dengan malam, dengan halimun. Lengking suaranya melengkapi hening

”Jangan ragu. Aku tiba di sini untukmu. Aku akan berkisah. Dan hanya kau yang kupercayai menggurat kisah-kisahku ini di bilah-bilah lontarmu. Karena kau pujangga istana di mana dulu hatiku pernah bahagia….”

Hamba terkesiap, jiwa hamba berdesir, serupa angin subuh mengelus lembut kulit ari. Sudah lama sekali hamba tak mampu menggurat syair. Tiba-tiba hamba terkenang, saat hamba tinggalkan istana, diam-diam di tengah sunyi malam. Demi janji hamba pada keheningan dan pengembaraan.

Pantai demi pantai hamba susuri. Gunung demi gunung menjulang hamba daki. Rimba demi rimba rahasia hamba jelajahi. Lembah demi lembah misteri hamba hayati. Hingga tiba hamba di pesisir timur ini.

Tak ada yang mengenali hamba. Kecuali sunyi, kawan sejati seperjalanan. Bukankah manusia dilahirkan demi merayakan kesunyian? Dan ketika tiba saat kembali, jiwa menyusuri jalan sunyi yang itu-itu juga….

Suatu waktu angin pegunungan mengabarkan warta. Putri jelita sangat bersedih hati tak menemukan hamba di istana. Dia pun pergi membawa duka lara menyeberangi lautan seorang diri, menetap di negeri asing, demi menemukan kesejatian.

Hamba memahami kesedihannya. Hamba terlanjur tergoda kesunyian. Lebih memilih mengasingkan diri, ketimbang mendampingi sang putri melewati hari-harinya di puri. Hamba merasa tak leluasa berada di istana, mengabdi pada raja.

Hamba hanya ingin kembali pada alam dan kaum jelata. Belajar bertani, memahami nyanyian jengkrik dan kodok hijau. Berbaur dengan kuli, petani ladang garam dan nelayan. Mendengar siul angin di pucuk-pucuk bambu. Belajar mengurai makna sabda cicak di dinding kayu.

”Tak perlu disesali. Waktu begitu jauh berpacu. Namun wajah dan hatimu masih seperti dulu. Hanya beberapa helai uban tumbuh di sela-sela hitam rambutmu. Ketahuilah, kau masih selalu pujanggaku.”

Hamba tak pernah tahu, apa wajah dan hati bisa tidak berubah. Hanya waktu yang abadi, dan sekelumit rasa yang berupaya kekal dalam fana.

Remang jadi makin nyalang. Cahaya pelita bergoyang. Mengaburkan bayang-bayang. Angsa-angsa sesekali melengking. Halimun melingkupi pesanggrahan. Dua ekor cicak di dinding kayu sedari tadi menerka-nerka arah jiwa kami. Menerawang sesuatu yang makin sawang.

”Ketahuilah, pujanggaku. Aku bukan sejatinya putri istana. Aku hanya anak jadah. Meski ayahku turunan raja, yang sungguh kasip kuketahui. Namun tak pernah kutahu rupa ibuku. Sedari janin aku telah mencecap getir. Tangis pertamaku menyayat rahim ibu. Hatinya memang telah lama luka. Tak diakui, malu dengan aib sendiri. Aku dibuangnya begitu saja, seperti membilas daki di kelamin…,” keluh Sang Putri.

Hamba tercekat, sungguh terperanjat. Kata-kata berasa duri menyumbat kerongkongan. Nyeri seperti mengalir di sumsum nadi. Hamba hanya mampu terdiam. Sang putri tak henti berkeluh kesah.

Kisah miris ini makin meyakinkan hamba, betapa manusia sejatinya ditakdirkan mengalami kesunyian dan kesepian. Hamba merasa sepasang cicak di dinding kayu sedari tadi tertawa. Dan, lengking angsa menggenapi sunyi kami.

Letih dengan jiwa sendiri, sang putri terlelap di bale-bale bambu, tanpa kelambu. Di bilah-bilah daun lontar hamba mulai menggurat syair. Di remang cahaya pelita, terbayang wajah sang putri, sedang mengutuki dirinya….

(Karangasem, Bali, Januari 2010)

Written by tukang kliping

21 Maret 2010 pada 08:38

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

18 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Belakangan, cerpen Kompas semakin ‘menipis’ karakternya, ya? Apa karena perubahan tampilan layout?

    Hasan Al Banna

    22 Maret 2010 at 11:10

  2. Sebelum membaca cerpen baru minggu ini, Saya membuka arsip blog tukang kliping untuk menemukan karya Fransisca Dewi Ria Utari. Cerpen yang berjudul Topeng Nalar(Written by tukang kliping 4 Januari 2009 pada 05:51), sungguh langsung menggorok hati saya, pilu banget bacanya, bagusss banget pesannya. Sampai ‘bengong’ bacanya. SALUT!!. Saya hanya punya empat jempol dan hanya dua jempol yang bisa saya acungkan ke anda, biarlah dua jempol di bawah sebagai tanda khidmat dalam berpijak atas bagusnya karya anda(F. Dwi Ria Utari). Salut juga untuk karya anda “Merah pekat” yang sanggup menyihir saya dan karya anda yang lain “Sina” juga membuat saya melompong, hening melupakan dunia ini sesaat. Terimakasih inspirasinya, imajinasinya, keilmuannya, perasaan anda pada sastra, dan moralitasnya.

    Untuk karya bung Wayan Sunarta saya ingin berkomentar sbb:
    Saya perlu merenungi cerpen ini sebelum melontarkan komentar. Saya merasa bahasa yang di gunakan dalam cerpen karya Wayan Sunarta cukup puitis, karena terlalu puitis hingga konflik serasa menjadi jasad (kaku dan mati). Karya ini merupakan serentetan syair yang tergabung dalam gerbong puisi dengan lokomotif cerpen. Saya ingin menarik garis besar cerita yang bung Wayan benamkan dalam karyanya kali ini. Secara tematik yang tertangkap dalam benak saya adalah sebuah epilog asmara dari seoarang mantan pujangga istana yang mengasingkan diri, dan secara tiba-tiba di datangi seorang putri dari istana(apakah kekasihnya? Belum jadian kayanya deh). Saya belum menangkap tujuan implisit sang putri untuk menemui hamba(tokoh utama dalam cerita yang tanpa di sebutkan nama)datang untuk apa? Apakah ingin bertemu dengan pujangga untuk curhat, mengeluh, mengungkapkan derita hidup, atau memang karena rindu?(Judul cerpen di angkat berdasarkan alasan ini).
    Nah, tujuan yang saya tangkap saat membaca cerpen ini, bahwa sang putri punya sisi kelam sebagai anak jadah, lantas curhat pada tokoh hamba dalam cerpen. Mengenang kembali kisah saat sang pujangga pernah merajut asmara dalam ‘syair yang tergores di daun lontar’. Belum jadian kan? Tokoh hamba merasa rendah untuk berbagi asmara dengan sang putri. Yah, dari pada tertekan karena cinta tak kesampaian lebih baik menyepi. Secara tak terduga sang putri datang ke gubuk ‘hamba’, dengan lembut sang putri beserta pasukan angsa putih datang menemui pujangga yang dulu pernah membuatnya terpesona. Untuk mengutarakan bahwa dirinya bukan apa-apa, dan hanya seorang putri dari hubungan tak resmi.
    Saya merasakan ‘feel’ tentang sosok putri yang cenderung ‘overacting’, melankolis, penuh retorika hidup dan mungkin jatuh hati pada tokoh hamba yang kesannya di paksakan. Berat sekali memahami cerpen ini untuk menangkap jalan ceritanya. Plotnya penuh dengan firasat berbau filsafat, dan terkesan menyentak saat saya membaca ‘curhat’ sang putri pada si hamba bahwa dirinya anak jadah(disini yang menurut saya menarik). Nelangsa adalah segmen yang berhasil saya ungkap dari ‘kreta cerita ini’. Saya lebih tertarik ungkapan majas yang di tusukkan secara tajam dan terarah, ketimbang jalan cerita yang serba ambiguitas.
    Ada beberapa rentetan kata yang membentuk kalimat yang benar-benar saya cermati. Berkali-kali saya coba memahaminya tapi sensorik dalam simplus neuron otak saya malah konslet. Seperti: “Hamba terpana pesona di hadapan hamba”. Aduh bung, kalimat ini kok rancu ya. Saya suka ungkapan-ungkapan melodramatic, romantic, tanpa titik. Sayang, saya sama sekali kurang paham jalan ceritanya. Bagi saya, sebuah cerita akan lebih menarik jika saya membaca kisah yang membuat saya penasaran, penuh intrik, konflik yang pekat, dan gaya bahasa yang akrobatik. Saya kira masih jauh dari takaran kisah, meskipun keindahan rangkaian kata cukup menyentuh hati(puitis). Bung Wayan cukup jago untuk menulis puisi saya kira, tapi untuk merangkai menjadi untaian cerpen rasanya perlu banyak belajar menulis cerita yang lebih dramatic dalam konflik, hingga pembaca bisa menyelami kedalaman kisah yang ingin anda usung. Saya menunggu karya-karya anda yang lebih heroik, mendebarkan, menghanyutkan, dan menenggelamkan perasaan saya, hingga saya bisa merasakan adanya fiktif yang membawa saya terbang ke dunia lain. Sukses berkaya selalu.

    Tova Zen

    22 Maret 2010 at 12:44

  3. Cerita apa ya?? Nggak ngerti…puitis banget!

    Nurul

    22 Maret 2010 at 14:31

  4. Saya yakin, semula Wayan Sunarta membuat sajak panjang. Entah karena apa, dalam proses kreatifnya sajak itu berubah menjadi cerpen ini. Well, membacanya cukup menyenangkan🙂

    A

    23 Maret 2010 at 05:52

  5. @Mas tukang kliping

    Kedua posting tgl 23 Maret 2010 jam 5:52 dan 5:55 bukan dibuat oleh saya.
    Anda tentunya bisa mengecek alamat email yg digunakan, pasti berbeda🙂

    Saya pikir sdh saatnya anda bertindak tegas, krn mmg sudah tidak ada itikad baik sama sekali dari orang (atau bbrp org) yg terus-menerus melakukan posting palsu tsb.
    Tentunya ANDA tidak mau kan forum ini menjadi forum olok2 dan fitnah?
    Terima kasih banyak.

    A

    23 Maret 2010 at 07:01

  6. cerpen ini bener2 cerita seukuran telapak tangan. dengan metode yg sama, ini jauh lebih lembut dr Noviana. mngkin krna wayan sunarta memang lbih brpngalaman merangkai kalimat puitis.

    @ A: trnyata ada serangan baru pd nick anda ya, saya baca bbrp dan nampaknya saya setuju dg kata2 A palsu yg mnyebutkan: “Mulai mengkritik Kompas tak becus atas cerpen yang menurutnya jelek atau itu-itu; mengelak menyerang indiviu. Trus memihak Kompas atas cerpen tak disuka pembaca, trus menolak kritik cerpen atau subyektivitas..”

    stidaknya itu pula gambaran yg saya dptkan tntang anda A yg asli.. itu jg yg mmbuat saya agak malas mmbuka blog ini lagi (padahal dulunya krna kesasar ke blog inilah saya jd coba nulis ke kompas, selain lantas berlanjut ke sriti.com. wlpun akhirnya 3 karya saya d sini bernasib buruk dalam hal rating yg ‘aneh’ dibanding cerpen lainnya).. kagum sekali saya pd si A palsu itu bisa menyerang dg algoritma sederhana.

    sudahlah untuk A, bikinlah account wordpress sbgmn yg disarankan si tukang kliping.. biar kmudian qt fokus membahas karya, bukan berbantahan lgi krna nick yg tidak jelas keasliannya.

    S. Raga

    23 Maret 2010 at 10:51

  7. @S.Raga

    Bung Raga, saya justru heran sekali anda bisa setuju dgn tulisan si ‘A palsu’ yg dr nicknya saja sdh jelas2 beritikad tidak baik??

    Coba saya tanya pada anda:
    Apakah saya harus terus mengkritik Kompas???
    Walaupun Kompas melakukan hal yg menurut saya positif, saya jg harus terus mengkritik Kompas?
    Supaya saya dibilang ‘konsisten’ oleh ANDA dan si ‘A Palsu’???

    Anda msh belum paham kenapa saya tidak mau beralih ke WordPress? Ada bbrp alasan:
    1.Berarti org2 yg berusaha memfitnah saya itu sudah menang.
    Saya beralih ke wordpress, dan malahan mereka yg nantinya bebas memakai nickname ‘A’ untuk berolok2 di forum ini.

    2.Jika org dpt melakukan hal tsb kpd nick saya, berarti mereka bisa jg melakukan itu pada nick siapa saja. TERMASUK NICK ANDA.
    Anda perhatikan bbrp waktu lalu ada yg memakai nick ‘Pengunyah Sirih’ utk menyerang penulis lain?

    Jika hal ini didiamkan, maka forum ini benar2 akan berubah jadi ajang fitnah dan pertengkaran saja.

    Sekali lg, saya yg pertama kali memakai nick ‘A’ di forum ini dan berhak mempertahankannya.
    Saya tidak akan mengalah pada org2 yg berusaha memfitnah saya.
    Paham?

    Itulah pula kenapa saya sangat malas berdiskusi dgn anda bung Raga.
    Seperti yg pernah saya katakan dulu pada Bung Rama: membaca tulisan seseorang itu seperti berbicara dgn penulisnya.
    Kita jadi bisa mengetahui seperti apa karakter dan pemikiran di penulis.

    Dan dari komentar2 anda, terutama yg terakhir ini, akhirnya saya pun bisa mengambil gambaran ttg anda Sungging Raga yg asli.

    Spt yg saya katakan pada bung Prosaholic: silahkan berdiskusi atau bahkan berdebat baik2 jika ada tulisan saya yg tidak anda setujui.
    Buktikan bhw saya salah. Dan saya akan dgn senang hati mengkoreksinya.

    Akhir kata, saya toh masih berharap bahwa komen di atas BUKAN dari Sungging Raga yg asli.
    Krn kalo benar tulisan di atas dari Bung Raga yg asli, maka berarti permintaan maaf anda beberapa waktu lalu kpd saya ternyata tidak dilandasi ketulusan dan menjadi tidak ada artinya.
    Terima kasih.

    A

    23 Maret 2010 at 11:45

  8. Kembali ke Laptop. Cerpen ini, mungkin bagian sebuah Bab Novel yang dikirim ke Kompas. Tidak ada alur cerita, tidak ada konflik, dialog yang datar. Dan, hanya satu saja pujian untuk cerpen ini, bahasa yang indah.

    Bamby Cahyadi

    24 Maret 2010 at 22:25

  9. @Tova Zen & Bamby

    1.Saya pikir alur ceritanya justru sangat sederhana.
    Seperti yg ditulis oleh Bung Tova Zen sendiri:
    “…sang putri punya sisi kelam sebagai anak jadah, lantas curhat pada tokoh hamba dalam cerpen. Mengenang kembali kisah saat sang pujangga pernah merajut asmara dalam ‘syair yang tergores di daun lontar’. Belum jadian kan? Tokoh hamba merasa rendah untuk berbagi asmara dengan sang putri. Yah, dari pada tertekan karena cinta tak kesampaian lebih baik menyepi. Secara tak terduga sang putri datang ke gubuk ‘hamba’, dengan lembut sang putri beserta pasukan angsa putih datang menemui pujangga yang dulu pernah membuatnya terpesona. Untuk mengutarakan bahwa dirinya bukan apa-apa, dan hanya seorang putri dari hubungan tak resmi.”
    Jika bung Tova bisa menangkap makna dari cerita ini, saya kira kemungkinan besar pembaca2 lain jg bisa.

    2.Konflik yg ingin diungkap penulis, tentu saja konflik batin si pujangga. Seperti yg tertuang dlm kalimat: “…betapa manusia sejatinya ditakdirkan mengalami kesunyian dan kesepian.”

    3.Soal dramatis atau tidaknya cerpen ini, tentu terserah masing2 pembaca dlm menangkap dan menilai makna dari cerita ini.
    Mungkin buat pembaca yg pernah mengalami ‘cinta terpendam’ spt si pujangga,
    atau benar2 merasakan nasib menjadi ‘anak haram’ seperti si putri,
    tentu cerpen ini akan menjadi ‘dramatis.’

    Tapi buat pembaca lain yg tdk pernah mengalami konflik serupa, mungkin merasa ‘biasa2 saja.’
    Saya pikir seperti itu.
    Terima kasih banyak.

    A

    25 Maret 2010 at 07:36

  10. Membaca cerpen Wayan Sunarta yang lain: Cenderung kuat dibahasa (puitis); kuat diawal dan klimaks, tapi lemah di ending, malah ada yang endingnya datar saja, saya terheran dengan pesona klimaksnya, malah ada yang endingnya sangat dipaksakan. Maka membaca cerpen ini lumayanlah. Saya duga pengarang bukan mengarah pada dramatis atau tidak, alur tipis atau kaya, ending menggigit atau terpaksa. Tapi pada kesederhanaan dan kepuitisan. Maka bacalah dengan kesederhanaan/keawaman, maka nikmatnya akan terasakan.

    clang

    27 Maret 2010 at 07:54

  11. ringan, indah, cukup dan sudah. suka!

    eko eko

    1 April 2010 at 19:42

  12. Ada seorang penulis (muda) bertanya pada saya, apa bedanya puisi, prosa dan esai; plus naskah drama?

    Secara konvensional, masing-masing ada pola dan sistemnya. Puisi adalah ungjkapan batin seorang penulis dengan bahasa yang indah, misalnya. Prosa adalah cerita pendek atau panjang yang ditulis berdasarkan alur, plot dan lainnya. Dan esai adalah tulisan pendapat seseorang mengenai suatu hal.

    Penulis itu kembali bertanya: “Lalu prosa yang ditulis dalam bentuk puisi?”

    Belum lagi saya jawab, ia bertanya lebih jauh lagi:
    “Ada seorang penulis katakan batasannya hampir tidak jelas, baik puisi, cepen, esai dan drama?”

    Jawabannya sebenarnya sederhana dan sudah di pelajari di bangku SMP atau SMA: “Prosa yang di tulis dalam bentuk puisi adalah PROSA LIRIS!”

    Jadi, karya “Balada Sang Putri di Gubuk Hamba”
    ditulisa dalam bentuk prosa liris. Novel Pengakuan Pariyem Linus Suryadi Ag, juga ditulis dalam bentuk prosa liris. Seno Gumira Adjidarma, juga menulis novel dalam bentuk prosa liris. Dalam beberapa tahun terakhir ini sebagian penyair menulis puisinya dalam bentuk prosa liris. Dan masih banyak contoh lainnya.

    Dan “Balada Sang Putri di Gubuk Hamba” selain ditulis dalam bentuk prosa liris, mencoba mengangkat cerita bukan hanya sekedar bercerita (mengangkat peristiwa ke dalam cerita, misalnya). Melainkan menjadi sebuah dongeng. Dan inilah lagi-lagi salah satu tradisi Kompas, adalah mengangkat nilai-nilai lokal suatu daerah.

    PROSA LIRIS?

    Hm….

    Salam

    Remmy Novaris DM

    8 April 2010 at 04:03

  13. Sedih ya, kok jadi pengamat sastra tidak tahu mana puisi, mana prosa atau mana prosa liris….

    Remmy Novaris DM

    8 April 2010 at 08:12

  14. hehehe…makasi ya atas pro-kontra nya…saya suka…karya saya jadi berasa hidup…
    cerpen ini pada dasarnya memang sajak panjang…prosa liris…sama halnya dengan cakra punarbhawa..

    saya kirim dalam bentuk sajak ditolak kompas. lalu saya kirim dalam bentuk prosa malah dimuat..hehee…
    setiap karya memang punya nasibnya sendiri…

    ini cerpen saya yang ketiga dimuat kompas, sejak 2004
    hampir setiap bulan saya kirim cerpen ke kompas dan ditolak dengan alasan tak ada halaman…
    jadi cerpen liris ini menjadi anomali dalam banyak karya prosa saya…

    makasi ya…

    salam,
    wayan sunarta

    wayan sunarta

    14 April 2010 at 16:33

  15. apa akan ada istilah baru puitisasi cerpen :d

    A

    21 Mei 2010 at 14:08

  16. @tukang kliping
    Posting tgl 21 Mei 2010 jam 14:08 BUKAN dibuat oleh saya.
    Mohon perhatiannya. Terima kasih.

    A

    21 Mei 2010 at 14:16

  17. Setelah menyimak dan sejenak terkesiap dengan karya bung wayan,

    lalu mencermati banyak komen, izinkan saya lewat dan numpang acungkan jempol…

    zam ab

    18 November 2010 at 19:41


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: