Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Bayi

with 27 comments


Begitu pintu mobil terbuka, suara itu langsung menyergap telinga. Dan itu aku katakan padamu.

Suara? Suara apa?” katamu sambil mengangkat kepala tinggi-tinggi, mencoba menemukan suara yang kumaksud.

Aku berkeras, memaksamu mendengar, tapi sekali lagi kau bilang, kau tak dengar apa-apa. Lalu kita masuk rumah. Menyalakan lampu. Mandi. Duduk di ruang tamu. Berhadapan. Diam. Aku tetap mendengar suara itu. Melengking.

Kita duduk berhadapan. Kau membaca majalah berita setelah menyalakan radio–kau tak suka televisi–di ruang tengah. Aku menikmati secangkir teh hangat. Suara itu, masih terdengar juga. Tak enak di telinga. Aku bilang sekali lagi, suara itu semakin keras. Kau berhenti membaca sebentar, memasang telinga, lalu menggeleng. ”Suara? Aku tak dengar apa-apa,” katamu. Aku bangun dari sofa, mengecilkan radio. Kau dengar sekarang, tanyaku. Kau memejamkan mata.

Sesaat kemudian kau bilang, ”Ya. Samar saja.” Lalu kau kembali membaca. Di telingaku, suara itu semakin keras. Memekakkan telinga, menyakitkan kepala. Mungkin baiknya aku tidur saja. Suara itu mengikuti.

Kau menyusul beberapa saat kemudian. Berbaring di sisiku. Napasmu hangat di telinga. Setengah berbisik, aku katakan padamu: suara itu tak juga henti.

”Biarkan saja, nanti hilang juga,” kau menggumam, biarkan saja, nanti pasti hilang juga.

Suara itu makin keras. Seperti sangat kesakitan, kataku.

Kau menggumam lagi. Kau bilang, ”Sebentar lagi pasti berhenti.” Lalu napasmu mulai teratur. Kau tertidur. Suara itu, masih terdengar.

***

Paginya, suara itu masih ada. Semakin keras. Kali ini, kau mengaku mendengarnya dengan jelas, ”Suara bayi.”

Bayi yang masih sangat kecil, kataku. Aku khawatir, jangan-jangan ada yang tak beres dengan bayi itu.

”Jangan terlalu mendramatisir.”

Aku bilang, ini bukan mendramatisir, tetapi rasanya sudah terlalu lama bayi itu menangis. Aku khawatir.

”Mungkin dia sedang kurang enak badan. Ya, seperti kita juga, orang dewasa,” katamu.

Kalau begitu, harusnya dibawa ke dokter, lalu diberi obat, kataku. Sudah terlalu lama ia menjerit-jerit begitu.

Kau membuang napas keras-keras, tak sabar, ”Bisa saja bayi itu sudah dibawa ke dokter, sudah diberi obat. Tapi bayi itu terlalu manja. Minta digendong. Cengeng.”

Cengeng? Tak ada bayi cengeng, kecuali sedang sakit, kataku.

”Siapa bilang?”

Aku bilang, aku. Dari alismu yang mendadak naik, dari bentuk bibirmu yang melengkung ke bawah, aku tahu kau tak setuju denganku.

Kau mengelak, ”Aku tak beranggapan begitu!”

Tetapi aku tahu. Aku merasakannya. Tanpa harus mengeluarkannya dari mulutmu aku tahu apa yang di kepalamu. Kau mau bilang kalau aku tak tahu apa-apa soal bayi. Karena aku–sampai hari ini–belum juga memberimu anak. Tak ada bayi yang datang, lalu bagaimana aku bisa tahu tentang jenis tangisan bayi?

Kau menggeram. Mukamu memerah. Mukamu memerah. Kau cengkeram bahuku, menyuruhku diam. Kau tahu: aku berkata benar.

***

Ketika kau pulang kemarin malam, aku bersiap tidur. Kau duduk di tepi ranjang.

”Aku masih mendengar tangisan bayi itu. Padahal malam sudah begini larut,” katamu. Aku diam saja.

”Mungkin kau benar, ada apa-apa dengan bayi itu…”

Aku diam saja, membalikkan badan, memejamkan mata.

***

Pagi ini aku minta kau berangkat kerja sendiri. Aku tak ikut. Aku mau ke rumah bayi itu. Aku akan ke apotik membeli bedak, minyak telon, … apa saja. Aku harus ke sana, kataku.

”Jangan!” katamu setengah berteriak.

Kenapa? Aku harus ke sana, lihat bayi itu. Pasti ada apa-apa dengannya. Jangan-jangan sakit parah, terluka. Tangisannya itu mengisyaratkan dia sangat kesakitan, kataku. Aku tahu itu. Kau menggelengkan kepala, dahimu berkerut. Kau tak setuju.

Sudah terlalu lama dia menjerit-jerit, kataku.

”Ya, tapi jangan sekarang. Nanti sore saja, sepulang kerja. Berdua kita berangkat menjenguknya,” katamu.

Kita?

”Ya, sambil berkenalan. Sambil bawa makanan kecil buat ibunya. Sambil … apa sajalah. Tapi kita berdua.”

Kenapa?

”Supaya si Ibu tak curiga kau mencari tahu soal bayinya.”

Aku ingin pergi sekarang. Tetapi mungkin kau benar, sebaiknya kita pergi bersama. Lalu kau menambahkan akan pulang cepat sore nanti supaya tak terlalu malam bertandang ke rumah bayi itu.

Baiklah.

***

Ternyata kau pulang sangat larut. Hampir tengah malam. Kau sengaja pulang lambat, aku yakin itu. Selambat-lambatnya sampai kita tidak bisa bertamu ke rumah bayi itu. Kau memang tak pernah berniat menemaniku menjenguk bayi itu. Kau memang tak ingin. Ajakan pergi ke sana berdua sebenarnya hanya upayamu agar aku tak usah ke rumah itu. Aku tahu itu.

”Tadi jalan macet sekali. Ban kena paku pula!” katamu.

Jalan macet sejak dahulu kala. Ban mobil kena paku? Oh, mengapa tak meledak saja mobilmu?

Wajahmu merah padam. ”Aku lelah!” kau berteriak sambil bergegas masuk kamar, lalu membanting pintu.

Lelah berbohong, aku balas berteriak.

Suara tangisan itu: masih juga terdengar. Memekakkan telinga. Menyakitkan kepala.

***

”Tangisan bayi itu benar-benar makin keras. Dia pasti kesakitan…,” katamu sambil berpakaian, siap berangkat kerja. Aku tak menyahut.

Lalu kau tepuk bahuku, ”Aku yakin, ibu bayi itu pasti sudah membawanya ke dokter. Bahwa ia masih tetap menangis, mungkin obatnya belum tepat. Tetapi sebentar lagi tangis itu pasti berhenti.” Aku tetap diam.

***

Sore ini kau masuk rumah dengan tergesa. ”Aku sengaja pulang cepat, karena aku mau mengantarmu ke rumah ibu bayi itu. Aku sudah janji, kan? Ayo!” katamu dengan sangat semangat. Di tanganmu ada sekantong jeruk, di tangan yang lain ada kotak-kotak kecil beraneka ukuran. ”Perlengkapan bayi!” katamu sambil tersenyum lebar dan menyorongkannya padaku. Ada bedak, ada minyak telon, ada popok sekali pakai….

Tak usah, kataku.

”Ayolah, jangan begitu! Ganti baju, kita berangkat sekarang.”

Tak perlu lagi kita ke sana, kataku. Bayi itu sudah berhenti menangis. Kau tersenyum lega, mengelus dada, menepuk bahuku, ”Ah, syukurlah!”

Lalu kusampaikan padamu, sepuluh menit lalu, sebelum kau pulang, Bu RT mengabari kalau bayi kecil itu meninggal sebelum waktu sholat asar. Tubuhnya penuh lebam dan luka. Dipukuli ibunya, yang sekarang sedang diinterogasi di kantor polisi.

Aku menuju dapur, meninggalkanmu.

Senyummu hilang.
Rawamangun, Februari 2010

Written by tukang kliping

14 Maret 2010 pada 08:05

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

27 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Temanya sich sederhana, tapi alur ceritanya bagus banget, sii….p! Endingnya pun cukup bagus, ala novel Mr. Dan Brown!

    Risa

    14 Maret 2010 at 17:33

  2. hiks

    lia

    15 Maret 2010 at 04:19

  3. oh, kompas yang malang….

    shodiqinisme

    15 Maret 2010 at 08:17

  4. Hmmm… cerita cerpen kali ini benar-benar kurang menyentuh. Tema yang di tarik masih sangat awam. Dialognya sangat datar, lagi-lagi saya belum menemukan majas-majas yang bisa menyentuh lubuk hati. Kosong. Garing. Apalagi jalan cerita yang membenamkan konflik yang serba rancu. Sebenarnya bayinya itu ada di pikiran atau ada di tetangga sebelah rumah sih? Kok bisa mendengar suara-suara bayi sementara sang suami tak mendengarnya. Lebih aneh lagi saat sang suami di ajak menengok banyi yang entah berada di antah barantah, kok ‘no action’ gitu. Tokoh suami acuh. Bahkan saat saya membaca paragrap pertama, saya pikir yang bisa mendengar bisik bayi adalah si suami, yang pulang kerja sambil membuka pintu mobil dan langsung di sergap suara bayi yang entah di dengar dari mana(barang kali tetangga komplek kali ya). Eh ternyata sang istri(mungkin kangen pengen punya momongan kali ya, jadi kepikiran suara bayi).
    Pesan moral yang di benamkan cukup signifikan sebenarnya, masalahnya penggarapan dalam cerpen kurang mengena. Bahasanya masih baku banget(EYD total, sedikit sekali metafora atau personifikasi). Cerpen akan menjadi bacaan menarik jika pengolahannya bisa menyentuh hati dengan gaya bahasa yang serba mendramatisir. Fakta kehidupan boleh di ambil sebagai tema dalam cerpen, tapi layaknyalah seorang sastrawan membumbui pesan-pesan dalam cerpen dengan bahasa yang enak dan terkesan tak monoton. Bung Reda Gaudiamo cukup menarik mengambil tema bayi, sekarang kan jaman penculikan anak tuh. Dan banyak bayi yang di buang oleh ibu di got(hasil hubungan gelap). Pertama saya pikir demikian, ada banyi yang di buang dan bisikan banyi ada di sekitar garasi rumah pada cerpen ini. Eh, tak taunya cuman indra pendengaran tentang suara banyi yang menggerayangi benak si Istri(tokoh utama dalam cerpen). Sangat menarik untuk pembalajaran. Dan cerpen anda membuat penasaran untuk terus membeca selengkapnya. Saya tunggu karya-karya anda yang mengulik sosialita kehidupan masyarakat . Cerita sehari-hari yang masih renyah untuk di perbincangkan. Sukses untuk bung Reda.

    Tova Zen

    15 Maret 2010 at 10:09

  5. Saya pernah dikritik oleh seseorang karena saya menulis cerpen di Femina (sebenarnya apa salahnya dengan cerpenis nulis di Femina)? Nah, mungkin, dan saya senang, Kompas mulai mengikis tema-tema cerpen yang berat dengan memuat tema sederhana dan tanpa permainan kata-kata.

    Pertanyaannya:…. eksperimen seperti apa yang sedang dimainkan oleh redaktur sastra Kompas? Hihihi

    Bamby Cahyadi

    15 Maret 2010 at 11:53

  6. @Bung Bamby: bukan eksperimen Bung, melainkan memang itulah input yg diterima.. agak susah memang menemukan cerpen kompas yg digarap bnr2 “serius” spt jaman seno gumira dkk dulu.. skrg penulis yg udh trkenal akan nulis dg mengandalkan nama besarnya, sdangkan yg masih baru usahanya adlh terus rutin ngirim tanpa perhatian karyanya itu udah matang apa blum. ya inilah fenomena cerpen koran.. wlpun gak smua penulis spt itu.

    Raga

    15 Maret 2010 at 12:58

  7. aku suka cerpen ini…

    meski sedikit membosankan…

    seperti kata komentator di atas..

    “monoton”

    weLL, @ raga… ko gitu yah dunia cerpen indonesia…

    jadi pengen hidup di Inggris sja..

    hahahah

    thesaxera

    15 Maret 2010 at 16:39

  8. gw suka ni cerpen..
    penuturannya unik. dripda crpen2 yg kmaren2…
    kompas layak menyajikan yg berbeda kyk gni.

    kunto

    15 Maret 2010 at 18:35

  9. aq seneng bc crpen ni, bikin orag terus bertanya-tanya…
    tapi aq sedag menunggu karya lain yang lebih dahsyat.

    afkarullah

    15 Maret 2010 at 20:28

  10. @Tova Zen, Reda itu perempuan tulen loh🙂

    Soal kualitas cerpen, pesannya bukan hanya pada apakah suara bayi itu riil atau sekadar imajinasi. Lihat kata-kata “Karena aku–sampai hari ini–belum juga memberimu anak,” itu menandakan ada konflik batin di antara pasangan itu. Itulah kenapa sang suami merasa cuek saja.

    Cerita ini awalnya agak sureal, meski pada akhirnya saya juga kecewa dengan akhirannya.

    Daus

    16 Maret 2010 at 03:05

  11. @Bamby

    Rasanya mmg sudah waktunya kita semua sadar: Jangan ada lagi ‘DIKTATORISME seni’ di Indonesia.

    Sbg contoh, polemik yg terjadi antara anda dan ‘si bung penyair’ saya pikir jg berakar dari hal yg sama.
    Si bung penyair sdg memaksakan rumusan seni yg ‘bagus’ menurut beliau pada anda,
    dan sebaliknya, mungkin tanpa sadar anda jg sdg melakukan hal yg sama pada beliau.

    Seni diperlakukan sbg hal yg eksak. Seperti rumusan matematika.
    Kalo tidak seperti si X atau si Y berarti jelek.
    Atau seperti contoh yg anda berikan, nulis di Femina ‘jelek’, nulis di Kompas ‘bagus’.
    Kalo berpanjang2 dan berbunga2, berarti ‘akrobat kata2’.
    Kalo menyerempet tema seks, berarti ‘sastra selangkangan’.
    Kalo minimalis, seperti cerpen ini, berarti ‘mentah’, dlsb.

    Semua gaya, punya kelebihan dan kekurangan masing2. Tapi semua gaya harus dimunculkan, dikembangkan dan dijaga kelestariannya.
    Keragaman itulah yg saya pikir akan menjadi cikal-bakal kekuatan sastra Indonesia di masa datang.

    Salut buat Kompas yg saya lihat mulai merintis jalan ke arah ini.
    Terima kasih.

    A

    16 Maret 2010 at 07:12

  12. semoga dari diskusi macam ini, bakal lahir kritikus sastra yang hebat…..hehehehe…….

    ikan

    16 Maret 2010 at 10:01

  13. @ikan

    Bos, yg penting sastra Indonesianya yg hebat. Kritikus sih gak penting😉

    A

    16 Maret 2010 at 10:14

  14. Huff, cara membuat seseorang menebak-nebak cukup bagus, dan endingnya mantap. Justru saya suka dialog2nya, yang ringan tapi mengalir. Yang sedikit membuat saya kurang nyaman adalah dialognya ada yang pakle tanda kutip dan tidak. Well, Seorang pencerita selalu punya napas(bercerita)nya sendiri-sendiri.Goodluck sastra indonesia!

    mashdar

    16 Maret 2010 at 14:02

  15. Seni itu ruang demokrasi terluas.. Semua punya hak yg sama untuk berkarya..Tidak ada definisi bagus, biasa atau jelek, karena dalam seni, selera adalah penilainya..

    Pwnp98

    16 Maret 2010 at 17:24

  16. kritik sosial yang bagus.. sukses buat kakak penulis ya.. ane masih junior,, masih harus belajar banyak dari karya2 kakak senior di forum cerpenkompas.wordpress.com hehe.. makasih..

    ulul ilmi

    17 Maret 2010 at 23:45

  17. bagus

    Nurul

    18 Maret 2010 at 16:25

  18. Kalo bayi itu cuma ada di pikiran si istri, saya agak terganggu dengan ending cerita. Kalo ending cerita, bayi itu sebenarnya ada, saya agak terganggu dengan awal cerita yang si suami tak mendengar apa-apa. Saya tak tahu apakah ini kesalahan penulis, atau saking kelihaian penulis mengabsurdkan cerpennya, atau memang penulis sendiri yang bisa (tidak) memahami cerpennya. Atau memang kebodohan saya?

    toelakaN@Pacitan

    19 Maret 2010 at 09:31

  19. hahahahhaa
    saya suka. bagi saya tak perlu melibatkan logika saat menikmati seni. cerpen ini lebih ke cerpen humor dan kritik sosialnya juga ada.

    ji

    24 Maret 2010 at 10:09

  20. Konfliknya kayaknya antara si istri yg blum bisa memberikan anak dengan sang suami.
    Kalo menurutku bayi itu anak si suami dengan perempuan tetangga tetapi tidak diakuinya karena suatu hal.
    Mungkin si istri dan suamunya bisa mendengar suara tangis karena mempunyai ikatan batin ato ikatan emosional dengan si bayi.

    Erid

    28 Maret 2010 at 21:47

  21. cukup lugas cerpenya
    apa adanya, nggak neko2

    Bidanku

    29 Maret 2010 at 22:49

  22. Saya setuju dengan komentar Bung toelakaN@Pacitan

    Antara awal dan akhir agak kurang sinkron..Entah mengapa saya merasa ada yang janggal di sini.. Seakan-akan sesuatu yang seharusnya berending metafora namun ternyata ada di dunia nyata..

    Saya sempat menduga-duga (di awal cerita), mungkin Sang Istri sakit jiwa saking pengennya punya anak, atau mungkin pernah keguguran – dan tangisan itu adalah jabang bayi yang keguguran tesebut, atau juga mungkin sang ayah bertangan besi dan sempat menyiksa anaknya hingga tewas, atau kemungkinan2 lain yang lebih realistis bisa lebih dikembangkan daripada hanya tangisan anak tetangga.. hmmm

    reganleonardus

    31 Maret 2010 at 10:19

  23. saya kira memang ada penurunan dalam kualitas. redaktur mungkin lebih sibuk memikirkan bagaimana mencari cerpen “bagus” dan pas dengan jumlah halaman. melakukan kompromi memang tidak selalu mudah.

    A

    21 Mei 2010 at 14:19

  24. @tukang kliping
    Posting tgl 21 Mei 2010 jam 14:19 BUKAN dibuat oleh saya.
    Mohon perhatiannya. Terima kasih.

    A

    21 Mei 2010 at 14:20

  25. Cukup mengagetkan!

    Rahayu Palagan

    27 Mei 2010 at 22:38

  26. ihhhhhh

    cinta

    19 November 2010 at 13:29

  27. Tova Zen _ Apakah Reda Gaudiamo, perempuan tah?

    ***

    Terlepas dari komentar di atas.
    Jujur. Saya suka ada cerpen Reda di Koran Minggu ini.

    Saya penggemar cerpennya. Karena Bung Reda selalu melakukan eksperimen” dalam cerpen”nya. Tengok saja cerpennya “Anak Ibu”. Atau yang senada dalam kumpulan cerpennya “Bisik-Bisik”.

    Abdul Hadi

    8 Maret 2011 at 16:17


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: