Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Kenangan Perkawinan

with 30 comments


Hidup adalah hal yang paling memabukkan dibanding bir ini! Kukatakan itu kepada istriku saat terakhir kali aku melihatnya. Kami bertengkar. Dan lihatlah, ia mulai mengungkit kesalahan—kesalahanku pada masa lalu. Tak ada yang lebih menjengkelkan seorang pria selain sifat perempuan yang satu ini. Kurasa tak lama lagi kami akan bercerai. Pasti.

Aku pergi masih membawa botol bir yang isinya tinggal seperempat. Empat bulan ini rasanya hidupku berada di neraka. Maksudku, selama tujuh tahun usia perkawinan kami dan empat bulan ini adalah puncaknya. Itulah kebenarannya. Aku memang pecundang. Atau mungkin benar kata ayahku bahwa aku adalah manusia pembawa sial.

Pertama ibuku. Ia meninggal saat melahirkanku. Dokter membelah perutnya, hal yang tak akan pernah dilakukan seorang dukun gila sekalipun jika bayi tak mau keluar dari perut ibunya. Sejak saat itu ayah membenciku dan dokter. Tatapan matanya seperti gagak yang lapar setiap memandangku. Dan, tentu kau tahu bagaimana reaksi ayahku ketika aku mengutarakan cita-citaku untuk jadi dokter? Ah, tidak sesadis itu, kau terlalu berlebihan kawan.

Begini, dengan lembut ia bilang bahwa aku memang ditakdirkan menjadi seorang pembunuh sejak hari pertama dilahirkan dan sebelum cita-citaku menjadi pembunuh ”profesional” itu terlaksana, ayahku berjanji akan membunuhku terlebih dahulu.

Aku tak marah atas perlakuannya padaku. Sebagai seorang anak, aku tetap mencintainya, bahkan saat ayahku mulai tak rasional dan berangsur-angsur menjadi gila karena tahu dengan diam-diam aku masuk fakultas kedokteran, alih-alih kuliah bisnis seperti permintaannya. Tapi, tunggu dulu, jangan buru-buru menyalahkanku atas kegilaannya. Aku bukan dokter. Aku masuk jurusan gizi di fakultas kedokteran. Aku ingin jadi ahli gizi, seperti kau lihat di sekelilingmu, penyakit memalukan semacam busung lapar itu masih menganga di negeri ini. Jadi, dalam kasus kegilaan ayahku ini aku tidak dapat dipersalahkan begitu saja. Ini hanya masalah sepele, yah, hanya salah paham. Begitu saja. Seperti tawuran yang sering terjadi di kampung-kampung saat ada dangdutan hingga memakan korban jiwa. Sepele, kan? Tentu itu bukan salah penyanyi dangdut yang goyangannya mampu menimbulkan gempa bumi dan merobohkan rumah tangga yang konstruksinya memang rapuh. Seperti yang melanda perkawinan kami.

Awalnya kami bahagia. Aku mengenal istriku sebagai gadis yang menyenangkan. Sungguh setiap kali aku melihat lesung pipitnya kala ia tersenyum, oh, Tuhan, aku merindukan saat-saat itu lagi. Saat ia tak henti-hentinya bicara dan terus bicara dari jok belakang vespa biruku kala kami menuju pantai menikmati rona senja. Senja selalu merona serupa wajahnya yang menyimpan malu karena rayuan mautku. Dan, di pengujung tenggelamnya matahari itu aku mencium bibirnya yang semanis madu. Sungguh tak ada yang lebih menyenangkan selain kenangan, begitu pun sebaliknya, tak ada yang lebih menyedihkan selain kenangan. Aku jadi ingin menangis. Boleh, kan, laki-laki menangis? Kau pernah menangis?

Aku sering menangis akhir- akhir ini. Tapi, aku bersyukur karena Tuhan menciptakan kenangan. Maksudku Tuhan memberikan kenangan dalam bentuk kertas putih karena bagaimana pun juga kitalah yang mengisi kenangan itu. Aku bersyukur karena kertas putih itu. Hanya itu kan yang bisa kita ziarahi setelah kita tak bisa kembali lagi pada sebuah kenyataan? Maafkan kesentimentilanku, kawan. Tapi, bukankah setiap manusia lebih dari sekali bersikap seperti itu? Aku tak ragu lagi tentang hal itu. Bagaimana denganmu? Kau punya istri cantik seperti istriku?

Istriku itu cantik, kawan, aku yakin jauh lebih cantik dari istrimu. Rambutnya tidak lurus, tapi keriting mendekati ikal, ia terlihat menyenangkan dan anggun dengan rambut seperti itu meskipun aku tahu ia tetap cantik dengan rambut lurus seperti yang kulihat saat rambutnya masih basah seusai mandi. Bau tubuhnya yang harum mengundangku untuk mendekatinya lalu berbisik di telinganya bahwa betapa terkejutnya aku setelah menyadari menikahi seorang bidadari. Tak butuh waktu lama untuk membuat handuk yang melilit tubuhnya terlepas dan kami saling memagut dan menggapai satu sama lain.

Tapi, sekarang kau tahu, kawan? Kami, bahkan, jarang bicara kecuali dengan bahasa-bahasa kasar dan ucapan-ucapan setajam pisau. Aku tak ragu lagi untuk berkata bahwa kami siap untuk saling membunuh satu sama lain. Meski kami tidur masih dalam satu ranjang, sebenarnya di antara kami, yang mungkin bagimu hanya berjarak sejengkal, terdapat tembok kokoh yang menghalangi kami untuk saling menatap dan bertanya bagaimana kabarmu hari ini. Salah satu dari kami akan pergi tidur lebih dulu sedangkan yang lainnya pura-pura menonton acara televisi atau membaca koran selama satu atau dua jam hingga merasa yakin salah satu dari kami sudah tertidur pulas. Hujan memang telah lama tak lagi turun di ranjang kami. Bagaimana dengan ranjangmu? Apakah istrimu masih menggairahkanmu?

Istriku sekarang berusia 32. Masih cantik. Terkadang memang riasan wajahnya yang luntur sepulang ia bekerja membuatku sadar bahwa itu membantu istriku menyamarkan kesegaran wajahnya yang mulai berangsur berkurang. Tapi, sejujurnya ia adalah perempuan tercantik yang pernah kukenal sampai hari ini. Sewaktu kami masih pengantin baru ia tidak langsung mencuci muka, kau tahu, ia langsung memelukku. Saat seperti itu tak pernah kami sadari bahwa kami sedang bahagia. Sering kali tak ada percakapan, hanya kepalanya yang bersandar, tapi tak diragukan lagi, itu masa-masa paling bahagia bagi kami. Aku membayangkan kami akan selalu begitu hingga rambut kami memutih dan saling merasakan betapa kulit kami yang bersentuhan terasa bagai daun-daun kering. Tapi kenyataan berkata lain. Bagaimana dengan kenyataanmu? Apakah kau masih bahagia, kawan?

Kalau aku tidak. Ini bermula, ah, maaf, aku pun tak tahu pasti dari mana permulaannya. Dugaanku, sejak kami lupa mengucapkan selamat pagi saat bangun. Kebiasaan lupa itu berlanjut ketika istriku memutuskan untuk pergi ke Jepang melakukan sebuah penelitian. Dua bulan lamanya. Seingatku ia hanya sekali meneleponku saat ia berada di rumah sakit, mengabarkan bahwa ia keguguran. Satu-satunya calon bayi kami. Kami tak pernah membahas itu lagi. Terlalu menyakitkan. Aku juga takut jika ia hamil lagi akan bernasib sama seperti ibuku. Kami tahu kami menginginkan bayi, tapi kami menundanya. Entah sampai kapan.

Akhirnya malam yang buruk itu terjadi. Aku mabuk. Dan, penyanyi dangdut yang selama kampanye pemilu terakhir sudah berkeliling Nusantara bersama partai pemenang pemilu mengantarku pulang. Kami berkenalan secara tak sengaja ketika aku bertugas di sebuah kabupaten di timur Jawa selama seminggu. Sekarang ia telah terkenal. Malam itu kami bertemu di sebuah kafe secara kebetulan. Bahkan, kami tak membicarakan apa pun. Karena kebaikan hatinyalah ia mengantarku pulang berbekal kartu namaku. Bukan salahnya jika ia menduga aku belum berumah tangga. Aku tak memakai cincin kawinku malam itu. Apakah kau akan mengatakan hal itu sebagai perselingkuhan? Aku tahu kau tidak akan mengatakannya demikian.

Tapi, tidak dengan istriku. Ia membanting pintu tepat di depan wajah perempuan baik hati yang telah memapahku hingga di depan pintu rumahku. Itu bentuk kesopanan seorang istri yang cemburu buta, kata istriku dengan pongah. Kegilaan istriku semakin menjadi. Ia, bahkan, berani menyuruhku untuk membuka mata lebar-lebar bahwa aku telah mengabaikannya. Dalam seminggu ini setidaknya ada sepuluh kesalahan fatal yang telah kuperbuat, salah satunya aku membiarkannya kedinginan di halte bus karena asyik menonton siaran langsung sepak bola di televisi hingga lupa menjemputnya. Lalu, ia mengatakan betapa menderitanya ia selama menikah denganku. Kau percaya jika ia telah menjadi satu-satunya korban dalam perkawinan kami?

Bukan dia, tapi aku. Aku adalah salah satu pria yang dijajah wanita masa kini. Beberapa bulan ini ia tak mau lagi kusentuh. Barangkali ia mengira aku laki-laki kotor yang najis untuk menyentuhnya. Tapi, aku masih memiliki kesabaran jika ia tak lagi menganggap penting gairah. Termasuk ketika aku yang harus mencuci piring sisa makan malam, menyapu rumah setiap pulang dari kantor, menyiram bunga dua hari sekali.

Aku tertekan. Dan, alkohol adalah teman yang tepat ketika kau mengalami hal demikian. Tapi kesabaran ada batasnya, bukan? Apalagi jika kau dianggap tak lebih dari seekor anjing! Oh, maaf.

***

Itu ayahku. Laki-laki yang sedang berbicara dengan seekor anjing. Binatang itu mengerti kesedihan yang sedang dirasakannya. Setiap orang yang mendengar lolongan sang anjing pasti tahu bahwa itu berasal dari kesedihan yang paling gelap, dari rawa-rawa kemalangan yang suram.

Ayahku adalah laki-laki menyedihkan. Tanpa sadar ia telah menganggapku sebagai sumber tidak harmonisnya hubungannya dengan ibu. Sejak kematianku mereka mengalami komunikasi yang buruk, bahkan lebih buruk dari percakapan dua orang bisu sekalipun. Mereka membiarkan diri mereka menderita dan saling menyiksa satu sama lain.

Betapa bodohnya ayahku, bahkan ia tidak tahu bahwa baru satu jam yang lalu sebuah mobil menabraknya ketika ia berjalan sempoyongan di jalan raya. Saat ini ketika ia tengah berkeluh kesah pada seekor anjing, jenazahnya sedang dalam perjalanan ke rumahnya. Sementara itu, di rumah ibu sedang memandang foto pernikahan mereka yang tiba-tiba terjatuh hingga membuat ibu terbangun. Ibu menangis, menyadari bahwa ia begitu mencintai ayah, menyesali kebodohan-kebodohan yang mereka lakukan hingga menyebabkan ketidakbahagiaan perkawinan mereka.

Untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun setelah kematianku, ibu ingin menyandarkan kepalanya di dada ayah. Ia begitu rindu. Sungguh-sungguh rindu dan ingin memberikan sebuah kejutan pada ayah atas kehamilannya serta meminta maaf atas ketidakstabilan emosinya. Itu calon adikku, ibu sangat menyayanginya juga menjaganya agar tak bernasib sama denganku karena itulah ibu selalu menolak ketika ayah menyentuhnya. Ah, sebentar lagi jenazah ayah sampai dan aku ingin memeluk ibu. Aku ingin menghapus air mata dari pipinya.

Written by tukang kliping

28 Februari 2010 pada 09:39

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

30 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Saya sudah baca di koran kompas, dan saya suka diksimu teman. Semoga cerpen2 saya juga bisa dimuat di Kompas biar eksistensinya lebih terasa. Kalau boleh tahu, gmn caranya agar karya kita dimuat kompas? hehe…thanks ya….regard from Aceh..(Arbi)

    Bahagia Arbi

    28 Februari 2010 at 17:51

  2. rasa2nya akhir2 ni cerpen kompas melankolis mulu..
    jd kurang antusias bcnya.
    apa krn musim penghujan jdi yg dpilih cerpen2 jnis bgni.???

    kunto

    28 Februari 2010 at 20:25

  3. Anton CK. Semula kukira, cerpen terjemahan. Namun setelah ada pemilu dan dangdut, oh..oh. Salam kenal untuk Anton CK dulu deh

    Bamby Cahyadi

    28 Februari 2010 at 21:15

  4. Bagus

    Agus Dwi

    28 Februari 2010 at 22:51

  5. Jempol buat Kompas.
    Mudah2an suatu saat nanti benar2 akan ada 52 penulis dalam setahun di cerpen Kompas.🙂

    A

    1 Maret 2010 at 07:31

  6. endingnya apik.. Dua jempol

    kuya

    1 Maret 2010 at 18:20

  7. Ah, keren.
    tak terbayang endingnya akan begini😀

    jia

    1 Maret 2010 at 21:34

  8. Aku suka banget cerpennya,cerpen ini memberikan pelajaran kepada setiap pasangan suami istri haruslah ada keterbukaan,jangan pernah memendam apapun yang seharusnya diutarakan dalam sebuah perkawinan.kalau tidak mau ada sebuah kata peneyesalan yang terlamabat..Sukses selalu deh buat Kompas.Aku selalu menanti cerpen2mu setiap minggu.

    sumbangsih

    2 Maret 2010 at 11:30

  9. Bisa buat bahan story telling nih, ijin yaa Gan ..🙂

    dstarlight

    2 Maret 2010 at 15:10

  10. Bagus! ada koneksi yg terhubung dari 2 cerita diatas, cerdas.. tokoh ‘aku’ nya berganti jd bikin pembaca berpikir untuk mencari koneksitas, namun dipandu kata kunci yg tepat! Endingnya bagus.. Ditunggu lagi karyanya yg lain ya mas Antoni CK

    Italiano

    3 Maret 2010 at 00:12

  11. mantabs
    luar biasa

    ji

    4 Maret 2010 at 10:32

  12. Sayang kompas ilustrasinya kok stop kontak ya?? Why? mana ada kabelnya lagi. Cerpennya ga mudeng ke aku ya?

    J M

    4 Maret 2010 at 13:47

  13. tahukah kita, setelah membacanya, kita adalah seekor anjing yang sedang mendengarkan keluh kesah lelaki pemabuk yang barusan ditabrak mobil dan mati!

    sy rasa baru kali ini sy menemukan teknik bercerita seaneh dan seunik ini, mungkin inilah yang membuatnya unggul.

    congrats…

    ewing

    4 Maret 2010 at 20:54

  14. Luar biasa. Satu cerpen nilai A tahun 2010. Liar dan mengejutkan tiap kalimatnya. bisa kita bandingkan dengan A.S. Laksana

    Buruh SD

    4 Maret 2010 at 21:24

  15. Karya yg sgt bagus…:-)

    Ria Sitorus

    5 Maret 2010 at 14:50

  16. ada sebuah gagasan di balik cerita itu. sebuah pengulangan sejarah terjadi pada generasi berikutnya. menarik. di samping persoalan perkawinan cerita menyindir soal gizi buruk dsb,…..

    Nelayan

    5 Maret 2010 at 16:28

  17. aku tidak mengerti

    ipul

    6 Maret 2010 at 22:38

  18. bagus

    ketoles

    7 Maret 2010 at 04:02

  19. mantap

    arif

    26 Maret 2010 at 12:56

  20. sejauh ini cerpen kompas favorit saya di 2010😀

    luna

    28 Maret 2010 at 21:41

  21. uda, akhirnya aq baca cerpenmu…bagus….diksinya keren…hope u’ll be a great author someday…

    ani

    30 Maret 2010 at 06:33

  22. dasyat…ternyata pri juga bisa melow

    fitra

    6 April 2010 at 03:02

  23. ternyata pria bs jg menyesali perbuatannya,…
    tp sayang kenapa penyesalan itu mesti terjadi dibelakang….
    kalau sj dia bs memperbaiki semua kesalahannya ketika mereka ud merasa ada yg aneh dgn hubungan mereka….
    kalau saja…

    tapi emang benar “kenangan” itu cuma bsa dirasakan saja sekarang, entah itu kenagna yang mengenakkan n yg menyakitkan…

    karena semua hanya bs dirasakan tanpa bs kembali di jalin n ditemui lagi….

    hiks……….hikss……hiksssss

    nurul

    8 April 2010 at 10:03

  24. Bagus, . .. ~.^

    Yuliani

    30 Mei 2010 at 14:11

  25. Bagus, . . D tunggu karya berikut’y. .

    Yuliani

    30 Mei 2010 at 14:12

  26. Keren bgt gaya berceritanya, aku suka,

    Rozzi

    30 Oktober 2010 at 01:10

  27. Jujur,saya bingung.hahaha…

    shabrinasalwa

    19 Mei 2011 at 21:45

  28. aku suka endingnya
    ini seperti kita menyadari betapa kita mencintai pasangan kita di saat dia sudah tak ada ,padahal di saat dia ada kita bagaikan tikus dan kucing.hehehehe….

    eka

    4 Oktober 2011 at 11:03

  29. bagus. suka endingnya.. mulanya agak bingung, lho, kok aku sudah mati? rupanya aku yg kedua adalah bayi yg telah pergi.. like this.. ijin share..

    Ayatifa

    6 Mei 2012 at 07:26

  30. nasihat untuk pernikahan….

    Fitria Puji Lestari

    16 Mei 2013 at 09:34


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: