Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Lelaki yang Membelah Bulan

with 60 comments


Aku menemukannya. Dalam semak-semak dengan sejuta bisu dalam matanya. Aku tidak tahu apakah dia mengenalku sebagai perempuannya atau tidak. Ruang-ruang waktu telah memberi kami jeda dalam diam yang berkepanjangan. Separuh tubuhnya bersinar dengan warna keemasan yang aneh. Warna yang menyilaukan mata, tapi separuh dari ruhku tetap ingin membuka bagi warna itu.

“Ini warna dari negeri bulan,” katanya. Bulan yang diam. Aku pun mengangguk, mengiyakan sapanya. Sebuah negeri yang aneh pikirku. Laki-laki itu seperti membaca pikiranku. Tangannya kemudian menyentuh ujung jariku, diciumnya dengan lembut satu per satu jariku seperti mengeja huruf-huruf yang berdetak dalam dadaku.

”Negeri bulan itu indah sekali, Sayang. Kamu harus ke sana, aku temani kamu.”

Laki-laki itu pasti pengkhayal. Negeri bulan pasti tidak ada. Aku memang tidak suka khayalan. Karena bagiku khayalan seperti gelembung-gelembung sabun yang rapuh. Ketika kita meniupnya, gelembung itu memancarkan warna-warna yang membuat hati kita percaya bahwa harapan itu akan selalu membesar setiap kali kita meniupnya. Kita akan meniupnya semakin besar dan melepasnya ke angkasa. Ketika angin mengajak gelembung itu makin ke atas, kita pun makin riang dan mulai memercayai bahwa harapan kita akan selalu mendapat jawabannya.

Pyarrr! Ketika gelembung itu pecah, sebuah kosong yang hampa tiba-tiba menjadi seperti seorang diktator yang tiba-tiba menjajah hati kita. Aku benar-benar benci khayalan. Sungguh. Lelaki itu tetap tersenyum. Tangannya bergerak ke arah langit, seperti sebuah puja yang tak putus untuk semesta. Dia tetap diam sambil sesekali sinar dalam tubuhnya berkejap seiring suara detak. Aku percaya sinar itu adalah sinar jadi-jadian.

Dia duduk tepat di sampingku. Kedai itu mulai sepi. Sisa-sisa bau arak para penabuh gong bertebaran di mana-mana. Digesernya tubuhnya mendekat ke arahku. Aku mencium bau tubuhnya. Bau itu begitu gelisah, meruap sampai ke lorong-lorong kedai itu. Kegelisahan yang mulai beranak-pinak dengan berbagai kemarahan. Lelaki itu terus memancarkan cahaya yang aneh dari tubuhnya.

”Kamu ngapain malam-malam di kedai ini? Ini tempat para pemuja malam atau kamu pemiliknya?” dia bicara kepadaku sambil mulutnya tak henti mendesis seperti suara ular dengan gumam yang tak jelas. Separuh tubuhnya berdenyut secara konstan. Sinar dari dalam separuh tubuhnya itu seperti memberi berbagai macam ruang rasa, kadang aku liat dia begitu kesakitan dengan cahaya-cahaya itu, tapi kadang dia begitu menikmati setiap kerlip cahayanya. Tubuh yang benar-benar aneh.

”Ha-ha-ha kamu takjub kan dengan tubuhku? Kamu pasti menebak-nebak bagaimana aku bisa punya tubuh seperti ini. Sudah enggak usah gengsi untuk mengiyakan. Aku benar-benar tahu kamu sangat terpesona denganku.”

Sialan, benar-benar narsis. Bagaimana dia bisa membaca pikiranku? Tapi dia benar-benar kurang ajar, karena yang dia katakan itu sangat benar. Aku benar-benar tak kuasa menolak separuh tubuh yang bersinar itu. Dia makin merapat dan aku pun berdetak. Tangannya dengan lembut mulai membelai belakang tubuhku.

Seperti sihir raksasa, aku pun mulai menggerakkan tanganku dan menyentuh tubuhnya. Seperti masuk dalam kerajaan awan, tubuh itu begitu lembut dan hampir tanpa tulang. Cahaya itu terasa dingin. Aku tersentak, rasa di dalam tubuh itu tak asing bagiku…. Rasa sepi yang dari dalam nadinya tumbuh bercabang berbagai pertanyaan. Benar, cabang itu seperti jaring laba-laba yang tak berujung. Pertanyaan-pertanyaan yang sering sangat nadir.

Ah, laki-laki ini tidak seajaib yang aku kira. Dia hanya lelaki seperti para lelaki yang biasanya mampir di kedai ini. Lelaki-lelaki yang mengawini rasa sepi. Kesepian yang menasbihkan dirinya menjadi Tuhan bagi malam-malamnya. Anehnya aku selalu merasa jatuh sayang dengan lelaki-lelaki itu. Mereka seperti anak kijang yang tersesat di tengah malam. Begitu rapuh dan lembut meski mereka selalu berusaha mati-matian sekuat tenaga menjadi raksasa-raksasa dengan seringai yang menyilaukan.

Aku pun sering kali berpura-pura takut dengan seringai itu, padahal aku selalu sangat ingin memeluk anak kijang jadi-jadian itu dengan dadaku. Meski demikian anehnya, aku selalu punya keinginan anak kijang jadi-jadian itu menjadi raksasa-raksasa sungguhan, meskipun aku tahu setelah mereka menjadi raksasa, mereka akan melumatku hidup-hidup, mengunyahnya dan akhirnya melemparkan tubuhku yang setengah hidup itu ke tepi jalan. Tubuhku yang terpecah-pecah itu tidak pernah benar-benar mati, tubuhku akan dengan sendirinya bersatu kembali.

”Mengapa kamu datang ke kedai ini? Tidak ada satu pun yang menarik dari kedai ini. Bahkan aku pun tidak bisa lagi menjadi penabur birahi yang baik buatmu. Lihatlah tubuhku sudah separuh cacat. Berkali-kali anak-anak kijang yang menjadi raksasa itu melumatku, memamahnya dan memuntahkannya begitu saja.”

Kucatat pertanyaanku itu di dalam hatiku saja. Aku benar-benar takut untuk bersuara terhadapnya. Cahaya tubuhnya terlalu menyilaukanku. Kami benar-benar terdiam dalam sepi yang berpesta dalam ruangan itu. Satu per satu para lelaki di kedai itu mulai pergi, hanya ada satu dua saja yang masih enggan untuk berpamitan dengan sepinya untuk kembali pulang.

Lelaki dengan tubuh separuh bercahaya itu bergeser sedikit ke arahku, tiba-tiba dipalingkannya wajahnya tepat di samping telingaku. Seperti sihir, kepalaku menoleh tepat di depan kedua matanya yang begitu hitam. Seperti labirin menuju bawah tanah yang tergelap. Aku terpaku begitu saja di depan mata itu. Ruang-ruang di antara sekat-sekat jantungku merongga luar biasa dan di antaranya mengalirlah darahku yang berwarna merah jambu.

”Aku menyukai matamu.”

Labirin di dalam matanya bersuara lirih. Aku tertawa terbahak menyembunyikan jengahku. Pasti mukaku memerah seperti buah plum yang telah masak. Aku mengejap untuk menghindar dari serbuan warna hitam yang pekat dari mata yang bernuansa nujum itu. Ribuan dentam di dadaku berdegup oleh satu kalimat yang sebenarnya sering sekali kudengar dari para lelaki yang menuai taburan birahiku. Selalu seperti sebuah entah, mata yang pekat itu menyimpan satu kejujuran yang membuatku sangat nyaman menikmati mungkin sebuah kebohongan lagi.

”Ha-ha-ha-ha-ha terima kasih, Sayang. Awas kamu jangan jatuh cinta dan jangan rindu aku setelah pulang nanti ya,” seperti sebuah hafalan yang begitu biasa meluncur dari mulut penari-penari malam sepertiku mencoba untuk menghindar dari degup karena mata pekat itu. Sebuah nyeri menyergap tiba-tiba karena aku tahu aku amat sangat berbohong dengannya.

Aku benar-benar ingin dia selalu merinduiku. Meski untuk sebuah rindu yang entah. Mungkin aku telah melanggar aturan. Sebagai penari malam, aku hanya boleh bergerak mengikuti irama malam. Setiap keringat adalah bunyi dan setiap lenguh adalah ritme dari desah rasa sepi yang begitu menyengat para lelaki pemuja malam. Seperti yang sudah tertebak, lelaki itu hanya tersenyum. Mata itu tetap pekat.

”Kamu benar-benar tidak ingin tahu tentang negeri tempat aku datang?”

Mata itu mulai merajuk. Tangannya terus membelai punggungku dan tubuhnya yang gelap tanpa cahaya semakin pekat, sedangkan separuh tubuhnya yang bercahaya semakin gemilang. Satu paradoks yang luar biasa aneh.

”Mengapa kamu begitu ingin aku bertanya tentang negerimu?”

”Karena aku ingin kamu datang secepatnya ke sana.”

”Sekarang?”

”Iya, secepatnya. Tidak ada waktu lagi.”

Waktu yang diam. Pepat tanpa suara. Waktu pun berdetak. Detak itu dari jantung kita sendiri. Seperti tarian-tarian awan, waktu pun bergerak dengan semena-mena. Membentuk gambar-gambar peristiwa yang tak pernah jelas. Waktu hanya ada di dalam pikiran. Aku pernah berpikir bahwa jika aku bisa menghentikan pikiran, aku akan bisa menghentikan waktu. Alangkah bahagianya jika itu terjadi. Aku akan bisa memilih waktu bagi kemudaanku. Waktu selalu akan bisa berpora dalam diamnya.

Lelaki itu terus menatapku dalam pekatnya. Separuh tubuhnya yang bersinar semakin menyilaukan. Bibirnya terkatup rapat dan digerakkannya ke arahku. Ciuman dalam cahaya. Begitu aku menyebutnya saat itu. Aku mulai menebak. Mungkin dia malaikat yang terjatuh dan ciuman itu akan membuatnya menjadi malaikat utuh kembali sehingga dia bisa mengepakkan sayapnya dan berlari menuju tempat di mana asal matahari tanpa takut terbakar seperti Ikarus yang malang.

”Kamu malaikat jatuh?” Lelaki itu terbahak hingga hampir saja dia terjungkal dari sampingku. Senyumnya membelai rambutku. Jari-jariku pun kembali dikecupnya satu per satu dan mata pekat itu kembali menatapku dengan sihir yang tetap memukauku.

”Sama sekali tidak, Sayangku. Malaikat jatuh tidak akan bercahaya tubuhnya. Dia tidak lagi memerlukan cahaya karena dia telah menukarnya dengan tempat di mana warna apa pun tidak akan pernah terlihat. Gelap.”

Jawaban lelaki itu melegakanku sekali. Artinya masih ada harapan dia seperti lelaki-lelaki pengunjung kedaiku. Lelaki-lelaki yang selalu mengisi malam-malamnya dengan nyanyian-nyanyian sunyi yang memekakkan. Bibir lelaki itu masih amat sangat dekat dengan bibirku. Tercium dengan jelas detak jantungnya lewat hembusan nafasnya yang menderu. Perlahan kuberanikan diri membelai rambutnya dengan tanganku yang terus terang sedikit gemetar.

”Mengapa kamu datang?”

Tiba-tiba dada ini meruah dengan kepedihan yang pekat ketika kutanyakan itu. Aku pun tersekat. Aku tahu sebuah perih yang akan pasti menjadi penghuni baru ruang-ruang bernafasku sedang setia menunggu giliran untuk menempatinya. Sebuah kebodohan luar biasa dan aku rela menjadi bodoh. Sungguh benar-benar bodoh.

”Aku menemukanmu pada sebuah ruang bernama sepi, kamu terus aku cari dan aku bahagia akhirnya aku menemukanmu.”

Aku benar-benar membencinya ketika lelaki itu mengatakan itu. Aku benci karena aku menyukai kata-katanya. Entah kata-kata itu sudah pernah terlontar ke ribuan makhluk sekali pun, ternyata aku tetap menyukai kata-kata itu. Bodohnya lagi aku selalu memercayai kata-kata. Meskipun aku sering sekali terluka oleh kata-kata, tapi aku tetap mencandu kata-kata.

”Mungkin kita bertemu di waktu yang tepat. Tapi di saat yang salah, Sayang,” aku mencoba untuk konsisten menjadi salah satu penari malam ketika aku membelai rambutnya dengan rasa heran yang luar biasa ketika aku sadar aku tidak sedang menabur birahi pada kejapan mataku. Aku sering terjebak dengan waktu yang meluka. Waktu-waktu yang salah ketika aku memilih menjadi kekasihnya.

”Mungkin iya mungkin tidak. Aku dikutuk karena aku mencoba membelah bulan. Aku ingin tahu apa warna hitam di balik cahaya terang bulan. Negeri bulan pun marah. Tanah di sana kemudian merajamku. Karenanya separuh cahaya bulan itu ada di tubuhku, sedangkan separuh lainnya selalu ada dalam kegelapan. Aku cari separuh cahaya untuk mengisi ruang-ruang gelap di tubuhku yang lain sehingga tubuhku menjadi utuh.”

Sialan, aku berharap jadi separuh cahayanya. Aku benci. Aku tersanjung. Aku bahagia. Aku senang. Aku meniup buih-buih sabun itu. Aku khawatir buih itu pecah. Aku terbang. Aku ada di ketinggian. Aku pasti terjatuh. Aku menunggu waktuku pecah. Aku begitu lemah. Aku sedih. Aku takut. Aku meluka. Aku mencinta.

”Ha-ha-ha-ha-ha-ha… kamu itu aneh. Kamu mencari separuh cahayamu yang hilang, tapi kamu mencarinya di malam gelap seperti ini, dan kamu pun salah orang dengan menemuiku. Aku sama sekali tidak punya cahaya yang kamu cari.”

Aku benar-benar marah dengan kata-kataku sendiri. Aku benar-benar takut dia tahu aku ingin jadi separuh cahayanya. Menjadi penghuni malam dan menemani lelaki-lelaki malam sudah amat membuatku nyaman. Aku tidak pernah bermimpi menjadi Engtay yang menunggu Sampek dalam sakratulmautnya. Mitos cinta abadi memang memuakkan. Mitos yang menciptakan buih-buih sabun bagi jutaan umatnya. Aku menyebut umat itu adalah kaum Pencinta. Padahal buatku bagi kaum Pencinta harus menyukai semua warna, termasuk hitam dan malam.

”Aku benar-benar perlu separuh gelap dalam tubuhku ini terisi cahaya.” Lelaki itu menyimpan bergalon-galon air mata yang tidak pernah tumpah. Air mata yang membuat bulan itu terbelah ketika dia mengejapkan matanya dan menjadi serakah dengan cahaya.

”Pergilah, ini sudah menjelang subuh. Berjalanlah kembali, nanti kamu akan ketemu persimpangan-persimpangan yang menarik dalam perjalananmu. Mungkin kamu akan terluka, mungkin kamu akan bahagia. Tapi kamu akan tahu bahwa di persimpangan itulah sebuah hidup akan bermula. Pergilah Sayangku. Aku tidak akan menunggumu. Begitu banyak lelaki yang membutuhkan malam-malamku.”

Aku mengantarkannya pada ujung pintu, punggungnya dengan separuh cahaya yang berpendar masih tetap memancarkan bau yang sama persis dengan ketika aku berjumpa dengannya di sebuah episode di ujung senja pada sebuah masa. Aku tahu aku mungkin separuh cahaya yang dia cari itu, tapi aku pikir berbohong padanya tentang hal itu adalah hal yang terbaik untuk hidupnya. Lelaki itu terus berpendar dari separuh tubuhnya dalam gelisah.

Ah, kubutuhkan tanah lapang yang begitu luas saat ini di dadaku. Kulambaikan hatiku. ”Datanglah lagi pada sebuah malam di sebuah makam. Sayangku.”

•Terima kasih untuk Oky S Harahap

Ubud, 26 Januari 2010

Written by tukang kliping

21 Februari 2010 pada 08:43

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

60 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Secara jujur saya katakan, bahwa cerpen karya Noviana ini yang terbaik dalam tahun 2010 sampai bulan Februari ini. Tutur berceritanya sangat bening dan indah. Saya rasa, dari semua cerpen minggu yang tampil di koran-koran minggu hari ini (21-02-2010), Lelaki yang Membelah Bulan, yang terbaik.

    Bamby Cahyadi

    21 Februari 2010 at 09:52

  2. ya, memang lagi musimnya narasi yg lirisisisisisisme di kompas.. hehe. sdikti bocoran ya Bung Bamby,, hari ini seorang penulis perempuan ex- kemudian.com sedang berkabut hatinya karena ketidak-inginannya utk kalah dr noviana.. karena itulah saya senang sekali noviana muncul di saat yg tepat😀

    S. Raga

    21 Februari 2010 at 12:55

  3. Setuju dengan pendapat Bung Bamby..
    Great Story..pe sampe ra mudeng aku..Hahaha…

    tukang kritik tidak bijak

    21 Februari 2010 at 17:18

  4. awalnya males ngelanjutin baca ni cerpen. tp stelah diterusin hingga akhir. bagus banget ni cerpen…

    kunto

    21 Februari 2010 at 17:32

  5. Dibandingkan dengan cerpen sebelumnya, di kompas juga, yaitu Penari Hujan, maka kurasa ia telah memperbaiki beberapa narasi-narasi yang di Penari Hujan agak mubajir, hal ini tak kulihat di cerpen ini. Juga jauh dari kesan Ayu Utami… Jadi aku memuji cerpen Noviana ini.

    Bamby Cahyadi

    21 Februari 2010 at 20:20

  6. Cerpen yg bagus…
    lebih bagus dari cerpen yg sebelum ini…

    Siput Cupu

    22 Februari 2010 at 02:13

  7. saya baca dulu ya

    ipul

    22 Februari 2010 at 11:21

  8. Terlalu banyak metafora. Bikin gak mudeng aku. Lagi pula mana ada suara gelembung pecah Pyarr! Harusnya Bleb! kek atau Dus! Kalau pyar imajinasiku lebih ke kaca yang pecah gitchu..

    Pengunyah Sirih

    22 Februari 2010 at 12:36

  9. usaha noviana utk diterima kompas sprtinya memang dg cara menjejali setiap kalimat dg metafora tingkat tinggi yg puitis, bgmn kalimat2 itu terasa “berat” dan mmbuat pembaca takjub… dg sdikit mgbaikan maksud cerita, yg pnting antar paragraf yg puitis dan berat itu nyambung seluruhnya.

    tp saya membayangkan klo cerpen ini dibaca seorg penyair. barangkali penyair akan menganggap cerpen ini hanyalah sekumpulan puisi gagal yg kebetulan tema-nya sama lantas disatukan jd cerpen.. ini lebih terlihat dari pemborosan narasi puitis di Penari Hujan sebelumnya. selama masih bisa menciptakan paragraf yg imajinya khas puisi dengan tema serupa, maka akan terus disisipkan dan disatukan.. ibaratnya, cerpen hanyalah sarana menumpuk puisi. bisa jd ini sebab mengapa pembaca bnyk yg bingung & gak ngrti, sbrnnya noviana mau ngomong apa dg bahasa penuh metafor sprti ini.

    Raga

    22 Februari 2010 at 13:54

  10. Oh iya, kalau memang ingin disanding dengan sebuah sajak, kebetulan pada saat yang sama di lembar sajak, ada sajak Goenawan Mohammad… Maka, lebih kuakui cerpen Noviana lebih dahsyat hehehe.

    Jadi, cerpen ini diukur dalam keindahan bahasa. Karena beberapa cerpen Kompas, cukup gagal memuaskan selera pembaca awam Kompas, betul gak?

    Bamby Cahyadi

    22 Februari 2010 at 21:08

  11. @Bamby

    Tdk ada yg namanya pembaca ‘awam’ ah Bung Bamby. Semua pembaca ya pembaca. Andapun yg penulis saat sdg membaca tulisan org lain jg berubah peran menjadi pembaca.🙂

    A

    23 Februari 2010 at 06:55

  12. @Bamby

    wah, saya justru terpana dg sajak Goenawan Mohamad itu, bahkan kyknya lebih ganas dr sajak sapardi belakangan ini.. GM bnr2 perfecto yg nyaris tak tertandingi.. contohnya pd klimat di sajak trakhirnya:

    Memang sebenarnya perempuan itu cemas:

    Seseorang mencintainya dan ia tak tahu

    untuk apa.

    klo crpen ini, justru mnunjukkan penulisnya blm bisa mengolah metafora dg baik, dia tuang semua bentuk metafora agar menjadi “sebuah cerpen dengan bahasa yg paling indah di dunia” … ini tntu menggiurkan di mata pembaca yg haus bahasa, tp klo seseorg pny naluri kepenyairan, saya rasa pndapatnya akan brbeda. hanyasaja yg saya suka dr noviana, dia berhasil melecut seorang perempuan lain utk lebih giat menulis dan mngirim ke kompas. he.

    S. Raga

    23 Februari 2010 at 09:20

  13. Saya suka membaca cerpen ini,kata dari cerpen ini sungguh indah,,,tapi jujur saya kurang begitu mengerti alur ceritanya saya harus membaca dua kali suapanya saya menegrti maksud dari cerpen ini,

    sumbangsih

    23 Februari 2010 at 11:48

    • ampe akhir juga saya ga ngerti maksudnya

      spears

      27 September 2010 at 14:57

  14. ah,..ada beberapa yg saya tidak memahaminya, tapi biarlah, yang penting saya suka🙂

    else

    23 Februari 2010 at 12:42

  15. mending dua ngunyah sirih lagi aja dahhhhh

    Pengunyah Sirih

    23 Februari 2010 at 14:10

  16. Cerpen apaan ini. Aku bisa buat cerpen lebih bagus

    Orang bijak yang tak suka mengkritik

    23 Februari 2010 at 14:11

  17. @ORANG BIJAK YANG TAK SUKA MEBGKRITIK

    Gak komitmen sama Nicknamenya sendiri..
    komentarmu itu lho..udah merupakan kritik..!

    kalo bisa bkin cerpen lebih bagus dari itu, knpa gk dimuat di kompas ? wkwkwkkk…atau coba kmu tunjukin mana cerpenmu ?

    tukang kritik tidak bijak

    23 Februari 2010 at 15:38

  18. pandangan pembaca emang bda2..
    ada yg suka, suka tp bingung sm critanya, g suka, g bagus.
    bner kt tmen sy yg jurusan sastra indo. sastra itu sulit didefinisikan, sastra itu seni. sulit menilai scara objektif, stiap pribadi memiliki ksukaan seninya masing2.
    bayangkn btapa sulitnya kompas memenuhi kpuasan kita smua pd cerpen.

    kunto

    23 Februari 2010 at 18:28

  19. Gua bilang cerpen kayak gini jelek, cuma permainan kata doang, bermanis2 untaian, ngorek2 idiom.
    Isinya nol. Bukan tema besar.
    Hatsyiiii ! (sorry gw sendawa)

    johan

    24 Februari 2010 at 11:44

  20. @ tukang kritik yang tak bijak : ha..ha..ha.. anda terseret dalam pancingan saya. saya sengaja memakai nickname yang bertolak belakang dengan apa yang saya tulis. Sebenarnya saya cuma mengetes ada gak yag terpancing. ternyata ada. he..he..dan itu Anda.. Anda terlalu naif ternyata..emangya ada apa dengan nickname?

    Orang bijak yang tak suka mengkritik

    24 Februari 2010 at 14:21

  21. @ ALL : sebenarnya orang-orang yang menggolong-golongkan sastra tidak sastra itu goblok. Mentang-mentang njelimet, bahasa rumit (yang kadang hanya dimengerti yang buat) dikategorikan sastra. Yang diluar itu dianggap pop atau apalah namanya.Padahal di luar mana ada yang kayak gitu.Lihat karya-karya Marques.Mana ada sok njelimetnya. Lihat Kawabata, mana ada berakrobat katanya. Toh dapat Nobel Sastra.

    Orang bijak yang tak suka mengkritik

    24 Februari 2010 at 14:39

  22. Lihat juga Hemingway. Lihat Steinbeck.

    Orang bijak yang tak suka mengkritik

    24 Februari 2010 at 14:40

  23. Kalau mau berakrobat main di puisi / sajak sajalah. Jangan di cerpen

    Orang bijak yang tak suka mengkritik

    24 Februari 2010 at 14:43

  24. berakrobat kata maksud saya

    Orang bijak yang tak suka mengkritik

    24 Februari 2010 at 14:44

  25. top abz….boz!
    dtnggu cerita2 laenx..

    bgx

    24 Februari 2010 at 14:50

  26. Hemingway itu gak ada apa-apanya sama seno gumira ajidarma.

  27. haduh2…
    knp ini nicknamenya pd bgini.??
    g berani tnggung jwb sm omongannya sndiri ni..
    ayolah pke nama asli n’ tinggalin link URL, biar bisa saling silahturahmi..
    OKE2…!!!

    kunto

    24 Februari 2010 at 21:58

  28. Pada ngomong apapaan seeehhhhh?

    Orang yang suka mengkritik dan suka membajak

    25 Februari 2010 at 07:33

  29. saya suka dengan cerita yang menceritakan perasaan sesungguhnya dari wanita. apalagi ditulis oleh seorang wanita. cerpen ini memang terasa berat, namun sebetulnya itulah ang dilihat dari sudut pandang wanita itu sendiri. saya suka.

    grom

    25 Februari 2010 at 09:13

  30. prosa dan puisi yang berpadu dalam cerpen memang memberikan kesulitan tersendiri badi pengarang maupun pembacanya… sesudah linda christanty yang memukau dalam kumcer kuda terbang maria pinto-nya, belum sy temukan penulis yang mampu mengawinkan prosa dan puisinya dengan asyik.
    btw, usaha noviana ini memang patut kita apresiasi dalam berkarya, setidaknya dia telah menunjukkan ke-khas-annya dalam menulis setelah penari hujan.
    congrats

    ewing

    25 Februari 2010 at 10:02

  31. mantabs!
    mantab cerpennya,kayak diajakin terbang ke bulan nih. dan mantab juga komen2nya🙂 seperti bergabung dengan obrolan warkop para sastrawan. ditunggu cerpen dan komen lainya
    thank buat admin dan kreatornya

    ji

    27 Februari 2010 at 09:35

  32. Terlalu banyak metafor, namun tidak menguatkan cerita yang ingin disampaikan. Terakhir saya baca “Mawar di Tiang Gantungan” karya Agus Noor …dimana di sana metafor yang digunakan sangat efektif menunjang penceritaan.

    Tapi bolehlah diapresiasi…toh sudah masuk Kompas🙂

    Agus Dwi

    27 Februari 2010 at 18:59

  33. @ A : pembaca awam tuh contohnya istriku hehe… dia baca sekedar baca aja. Gak, mikirin cerpen ini bermetafora, cerpen ini satir, cerpen itu nyastra. Yang penting dia ngerti alur cerita dan endingnya.

    Bamby Cahyadi

    28 Februari 2010 at 21:19

  34. @Bamby

    Pembaca yg mikirin metafora, satir, nyastra, dll itu bisa jadi juga sama ‘awam’nya dgn istri anda kan Bung Bamby? hehehe…

    A

    1 Maret 2010 at 07:29

  35. brengsek keren bangetttttttttt……….

    saiful

    1 Maret 2010 at 15:16

  36. hai.,.,

    aku suka cerpen ini.,.,

    bagus banget…

    congratulation ea!!🙂🙂🙂

    Savira Amanda P.P

    2 Maret 2010 at 11:07

  37. terima kasih untuk comment2nya. semuanya diterima dengan bahagia dan bersukur. Namaste.

    Noviana Kusumawardhani

    4 Maret 2010 at 14:32

  38. Terima kasih untuk comment2nya. Semua diterima dengan rasa bahagia dan bersukur. Namaste.

    Noviana Kusumawardhani

    4 Maret 2010 at 14:37

  39. @Noviana

    Maju terus Bu Noviana🙂

    A

    4 Maret 2010 at 15:48

  40. Okelah… liris yang enak, segar, dan menyentuh. akrobat kata-kata yang lumayan menghibur. Tapi saya neg. Temanya itu-itu saja, pasaran. Satu hari bisa buat 10 buah yang kayak gini. Saya beri nilai B

    Buruh SD

    4 Maret 2010 at 22:17

  41. @Buruh SD

    Buat anda dan rekan2 lain di sini yg masuk ‘golongan anti akrobat kata2 dan lirisisme’, coba anda bayangkan seperti ini:
    Bagaimana seandainya dulu alm.Basoeki Abdullah mengomentari lukisan alm.Affandi,
    “Ah, corat-coret saja, njelimet, banyak yg nggak ngerti, yg ngerti cuma yg melukis sendiri…Kalo begini saja sehari saya jg bisa buat 10 buah.”
    ????🙂

    A

    5 Maret 2010 at 07:13

  42. Siapa bilang anti akrobat kata dan lirisme? Cerpen adalah omong kosong. Tapi omong kosong berisi yang terenak. Sampeyan (A) lebih suka tema “Lidah” dibanding “Seekor Anjing Manis”, sekali lagi tema. “Lidah” saya nilai K. “Seekor…” C. “Kenangan Perkawinan” A. “Lelaki yang Membelah Bulan” cuma B. B untuk akrobat kata, ternegatifkan temanya. Okelah, awam atawa nyastra tidak jadi soal. Tapi cerpen yang baik menghibur, menikmatkan, mencerahkan jiwa, dan inovatif.

    Buruh SD

    5 Maret 2010 at 13:16

  43. Abdullah dan Affandi lain soal, Mbak Anu! Orang lihat abstraknya Affandi berlainan bila melihat lukisan jalanan dekat comberan, berdebu, dan dikerumuni lalat; walau coretannya sama itu-itu juga begini begitu thok. Kalau begitu tulis saja cerpen ribuan kata acak tak bermakna. puisi saja yang bidangnya menyerah kok, lihat saja Sutardji CB.

    Buruh SD

    5 Maret 2010 at 13:30

  44. @Buruh SD

    Saya tdk bilang ANDA yg anti akrobat kata2 kan Jeng Buruh?🙂
    Silahkan saja anda menilai, toh seni itu memang pada dasarnya subyektif.

    Rupanya anda blm menangkap maksud perumpamaan saya soal Affandi dan Basuki Abdullah.
    Tidak apa, begini saja…
    Jika sebuah lukisan anda temukan di dekat comberan, berdebu, dikerumuni lalat, lantas lukisan itu akan anda anggap bagus atau jelek?
    Bisa jadi tetap bisa anda nilai bagus kan?

    Walaupun dipajang di bingkai bagus di galeri berAC, tetap saja bisa anda nilai jelek.
    Betul?🙂

    A

    5 Maret 2010 at 14:00

  45. apik kok…yen ono sing ora donk yo lumrah…wong aku juga ada yang nggak donk. tapi aku suka….

    lia

    6 Maret 2010 at 00:02

  46. Mungkin cerpen ini tergolong purple prose kali ya? Memang masih ada yang suka membaca cerpen liris puitis macam ini, yang memang ketinggalan jaman bagi kesusasteraan barat yang lebih memperhatikan ‘cerita’ bukan lagi lirisisme belaka.

    Yin

    10 Maret 2010 at 13:23

  47. @Yin

    Kalo dibilang ketinggalan jaman kok sepertinya tidak jg ya?
    Mungkin Herta Muller bisa jd contoh.
    Jadi bukan hanya Kawabata yg bisa menang nobel sastra. Yg ‘main2 kata’ dan ‘sok puitis’ jg bisa menang tuh.🙂

    A

    10 Maret 2010 at 14:53

  48. Ketinggalan jaman tanda kutip. Kawabata kan baheula banget. Lihat saja karya2 sekarang, yang fokus dengan ‘cerita’, tak lagi bermain kata (karena dibilangnya kalo bisa nulis puitis tuh bangga dan keren banget – no offense). Saya sendiri lebih suka dengan karya prosa yang tak puitis dan penuh humor seperti Lorrie Moore. Masalah selera, bukan?

    Yin

    10 Maret 2010 at 16:55

  49. @Yin

    Herta Muller menang nobel sastra tahun 2009, jadi betul sekali, hanya masalah selera dan masalah pemilihan gaya.
    Siapa sih yg pernah bilang kalo puitis itu keren banget? Atau lebih keren drpd style2 yg lain?
    Rasanya semua style pny kekurangan dan kelebihan masing2.

    Puitis bisa jelek, tdk puitis atau humoris jg bisa jelek. Demikian jg sebaliknya. Tapi toh dlm penghargaan internasional sekelas Nobel semua gaya dihargai, dan semua gaya bisa menang.

    A

    10 Maret 2010 at 17:07

  50. Cakep, enak bacanya walau gak ngerti-ngerti amat. Tapi terasa indahnya.

    iin syah

    12 Maret 2010 at 12:07

  51. Hmm, pembaca awam emang suka seenaknya kalo memberikan komentar… Cerpen yang lumayan… Untung saya juga pembaca awam, sama kayak SGA dan Linda yg jdi juri KLA… Sama awamnya jga kyk mereka yg memberikan Nobel Sastra kepada Muller…

    Hmm… Untung saya ini pembaca awam yg tidak super-sensitif…

    Andy

    13 Maret 2010 at 16:24

  52. nikmatnya cerita ini…
    apresisasi juga saya berikan pada komentator…
    ngondek,,, tapi cukup bermanfaat…

    hahaha…

    @ Bude Novi… saya tunggu cerita2 berikutnya…😀

    thesaxera

    15 Maret 2010 at 17:08

  53. @Andy

    Anda org yg sangat beruntung.

    A

    16 Maret 2010 at 06:44

  54. begu aq membaca, aq langsung terkesimak dan tercengang membaca cerpen ini. pokoknya TOP BGT DECCHHH,.,’

    hUSEn

    6 April 2010 at 19:50

  55. maju terus!!!!!!!!!!

    Muhammad Aldo

    1 Mei 2010 at 13:49

  56. Mengenai cerpen ini, saya hanya bisa berkomentar: Sangat mistis. Seperti saya memasuki dunia lama, dunia tanpa listrik, hp dan internet. Dunia dimana pohon besar ada penunggunya, jalan-jalan belum beraspal dan berlumut. Sedangkan bahasa-bahasa metafor yang begitu banyak menjejali cerpen ini tentu interpretasi akan bisa sangat berbeda dengan pembaca lain bahkan pengarangnya sendiri.

    Riwisoto

    30 Agustus 2010 at 10:07

  57. Bahasanya doong… Anyway, suka sama metaforanya… Heran deh, kenapa banyak orang yang antipati dengan jenis sastra seperti ini.

    Kalo lo ga ngerti cerpen orang, jangan ngatain cerpen ini ga punya arti. Lu aja yang terlalu *beep* sampe bisa2nya ga ngerti sama karya sastra kayak gini.

    Emang ada ceritanya cerpen ga boleh pake bahasa metafora? Emang puisi selalu punya bahasa metafora sehingga metafora itu identik dan harus dimiliki oleh puisi. Noob!

    Wahyu Fahmy

    29 Oktober 2012 at 17:27

  58. Ngomentarin isi cerpennya, luar biasa… Salut….😀

    Aku kok ngerasa cerpen ini mengandung metafora tentang beberapa tipe wanita yang melankolis yang sedang menggambarkan cinta pertamanya…

    Wahyu Fahmy

    29 Oktober 2012 at 17:38

  59. bagusss… jempol.. dah- abstraknya.. kerenn..

    Ndok

    29 April 2013 at 22:46


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: