Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Kisah Siti Nurjannah

with 4 comments


Setiap kali melewati Rumah Tahanan Militer (RTM) di Jalan Budi Utomo, aku terkenang kepada dua perempuan, Sobar memulai kisahnya. Perempuan pertama adalah Farida, yang kunikahi ketika berusia 24 tahun. Perempuan kedua bernama Siti Nurjannah. Dia adalah makhluk yang tidak kasatmata dan selalu berbau wangi. Aku bersua dengannya ketika ditahan di RTM. Mata kedua perempuan rupawan itu dapat menyihir para pria hingga tergila-gila, atau mabuk kepayang, lanjut Sobar.

Kau mengada-ada! Kau ’ngarang, ya?” Aku memenggal kisah Sobar. ”Apa maksudmu dengan, Siti Nurjannah adalah makhluk yang tidak kasatmata?” tanyaku heran. Sobar memang muncul tiba-tiba. Dia bagai orang bunian datang di rumah tua, di desa kelahiranku, tempatku sembunyi. Dia tersipu. Saat itu bulan Desember yang berhujan lebat. Matahari senja memerahkan cakrawala di kawasan barat, ketika lelaki yang lama menghilang itu datang. Sekujur tubuhnya basah kuyup. Pakaian dari bahan dril abu-abu yang membungkus badan mantan tapol kurus itu, lepek, kusut, dan dekil.

Dulu, Sobar bertubuh tegap, gagah, dan atletis. Kini, kulitnya hitam, seperti gosong, dan bersisik mungkin disebabkan penganiayaan yang dialaminya selama dalam tahanan. Kumisnya lebat, liar, tidak terurus. Jenggotnya panjang, putih seluruhnya, lancip bagai tergantung di dagunya yang tirus. Wajahnya pucat, keriput, kukira bukan karena usia tua, tetapi disebabkan penderitaan panjang, yang telah dilaluinya selama ditahan tanpa proses hukum. Rambut kribonya jadi gondrong, beruban bagai brokoli putih.

Siti Nurjannah tidak kasatmata, jawabnya setelah merenung seketika lamanya. Mata sayunya begitu letih menatapku, seakan bercerita tentang deritanya. Sebentar-sebentar dia menoleh ke arah pintu apabila terdengar langkah-langkah mendekat di luar rumah. Dia tampak selalu waswas. Siti Nurjannah adalah salah seorang penghuni RTM, tempatku ditahan, Sobar menegaskan. RTM itu hanya untuk tahanan politik pria, kataku. Senyum Sobar sinis, mengejekku—si pengecut—yang lari terbirit-birit meninggalkan Jakarta ke desa kelahiran setelah terjadi tragedi berdarah awal 0ktober 1965, yang menggegerkan dunia.

Penghuni RTM itu bukan hanya tapol pria yang kasatmata, bantah Sobar. Ada juga yang tidak tampak, yakni roh, makhluk yang hidup tanpa jasad. Sang jasad telah kopong. Rohnya telah meninggalkan alam fana—menuju alam baka, Sobar menjelaskan. Siti Nurjannah yang memiliki mata memesona itu adalah salah satu roh atau ruh. Selaku Muslim yang taat beribadat, kau tentu paham maksudku. Di dalam kitabullah dan kamus, ikhwal roh itu pun tertera, sambung Sobar. Dia tahu benar, aku tidak percaya kepada cerita-cerita takhayul, yang tak masuk akal sehat, dan membuat orang tetap bodoh. Sobar tidak mau menyebut Siti Nurjannah yang diceritakannya itu adalah hantu, setan, atau kuntilanak. Siti Nurjannah benar-benar roh, ucapnya pasti.

Setelah kau mandi, bersalin pakaian bersih dan hangat yang kusediakan, lalu, kita makan, kataku kepadanya. Usai makan, ceritamu boleh diteruskan, kataku. Aku tidak tega menyaksikan dia lapar dan kedinginan dibungkus pakaian dril sangat dekil, basah pula. Saat masak di dapur, aku teringat perilaku Sobar semasa kami masih menjadi reporter muda di Jakarta, dulu. Dia adalah wartawan yang cerdas, jujur dan berani. Tulisannya kritis, dan akurat. Dia berani mengkritik oknum polisi lalu lintas yang minta uang kepada sopir-sopir truk, yang dituduh salah jalan. Ketika itu, usianya masih belasan tahun. Tentu saja dia harus berurusan dengan polisi. Beritanya itu dinilai suatu penghinaan kepada aparat penegak hukum.

Menyaksikan sosok Sobar, komandan polisi tidak percaya bahwa dia adalah wartawan benaran. Segera Sobar menunjukkan kartu pelajar dan kartu persnya. Foto si oknum polisi yang sedang meminta uang kepada sopir-sopir truk di jalan yang sepi di luar kota dikeluarkannya juga. Komandan polisi itu ternganga, memelintir kumis lebatnya, lalu marah. Foto anak buahnya yang nakal itu dirampasnya dari tangan Sobar.

Sobar yang romantis ingin menikah dengan Farida, putri pemilik Toko Obat Walafiat, yang terkenal kaya. Sobar melamar Farida dengan modal nekad. Si cerdas itu dapat meyakinkan calon mertuanya. Wartawan muda yang masih ’kere’ itu berhasil menyunting Farida yang jelita, pemilik mata indah yang memesona. Setahun, setelah Sobar ditahan di RTM, sang interogator berpangkat letnan dari oknum AD tergila-gila kepada Farida. Pemilik mata yang memesona luar biasa memikat. Kata interogator, Sobar segera dikirim ke Pulau Buru jika Farida tak mau bercinta dengannya. Farida yang cinta sejati kepada Sobar seperti akan gila. Terjadi peperangan dahsyat di dalam dirinya. Namun, iming-iming sang interogator itu untuk sementara dapat dihindarinya dengan mengatakan, saya baru saja datang bulan.

Ketika sang interogator melarang Farida menengok suaminya, perempuan muda itu syok. Farida diancam, jika menolak keinginan sang interogator, Sobar dibuang ke Pulau Buru hari Minggu depan! Farida terpaksa takluk. Tetapi, sang interogator belum puas. Dia memaksa Farida menjadi istri gelapnya.

Seminggu setelah kejadian yang memilukan itu, Farida mengirim surat kepada Sobar. Dia mengaku berdosa karena tak suci lagi. Perempuan polos, jujur, dan lugu itu minta diceraikan. Hal itu terjadi setelah dibujuk, dirayu, dan diteror oleh sang interogator. Tiga bulan setelah kejadian itu, Farida sakit ingatan. Dia dikembalikan sang interogator kepada orangtuanya. Ayahnya segera mengirim anak perempuan semata wayangnya itu ke rumah sakit jiwa.

Ketika makan malam, seusai shalat isya berjamaah bersamaku, Sobar mengatakan, belakangan ini, setelah bebas dari tahanan, kehilangan nafsu makan. Dia selalu teringat kepada Farida. Tubuh Sobar gemetar. Segera kupegang lengan kanannya kuat-kuat. Kumohon dia agar senantiasa istigfar. Matanya basah. Kelima jarinya yang menjumput nasi dan sepotong telur ceplok masih di pinggan. Belum sesuap nasi pun masuk ke mulutnya. Tubuh Sobar terguncang-guncang seketika lamanya. Kupeluk dia erat-erat dengan harapan, dia mampu berdamai dengan duka laranya. Maaf, Bagus, bisiknya, aku malu jadi lelaki yang lemah. Kau selalu kuat, Sobar, ucapku. Akulah lelaki yang pengecut. Buktinya, aku kabur dari Jakarta setelah tragedi awal bulan 0ktober 1965 itu, karena takut melihat banjir darah, kataku.

***

Sebelum tidur, Sobar bercerita tentang Siti Nurjannah— yang bermakna, ’Siti Cahaya Surga’. Ketika pertama kali muncul dalam mimpiku, ya, dalam mimpi, katanya, tubuh Siti Nurjannah berlumuran darah, tetapi menyebarkan bau wangi bunga melati yang melegakan. Aku takut, kata Sobar. Aku menyangka makhluk seram itu adalah hantu atau iblis penghuni RTM. Sekujur tubuhku menggigil, bukan karena hujan deras dan angin kencang di luar RTM, tapi lantaran takut, tutur Sobar. Aku sempat bertanya, Anda ini siapa, kok tidak mengucapkan salam saat masuk ke kamar tahananku, yang terkunci? Bagaimana Anda bisa masuk bangunan RTM, padahal tiga pintu berlapis-lapis kawat berduri dijaga ketat oleh polisi militer bersenjata lengkap? Sobar mengaku takut, tapi takjub.

Ketika Siti Nurjannah membuka selendang yang menutup wajahnya, aku ternganga, lanjut Sobar. Sepasang mata yang memesona menyorot ke arahku, persis mata milik Farida. Bagaimana bisa, mata indah—yang bikin pria mabuk kepayang ini sama dengan milik Farida? Sobar terus bertanya. Setiap insan ciptaan Tuhan memiliki keunikan, jawab Siti Nurjannah. Keunikan itu adalah suatu kelebihan yang dianugerahkan Sang Maha Pencipta alam semesta dan segenap isinya kepada makhluk mulia ciptaan-Nya yakni manusia. Pertanyaannya, adalah, apakah semua makhluk mulia ciptaan Tuhan itu telah mengetahui kelebihan itu? Apakah keunikan dan kelebihan yang dianugerahkan Sang Maha Pencipta itu telah digali oleh pemiliknya dan dikembangkan sekuat daya sehingga menjadi unggul?

Sobar bertanya lagi, mengapa sekujur tubuh Siti Nurjannah berlumuran darah? Ceritanya panjang, jawab Siti Nurjannah. Lalu, perempuan rupawan itu minta izin untuk membersihkan darah dari luka-luka di tubuhnya di kamar mandi. Setelah itu, dia bercerita sejujurnya kepada Sobar tentang siapa dirinya yang sebenarnya.

Ayah Siti Nurjannah adalah pemilik bengkel mobil yang sedang maju pesat. Saingannya adalah mertua seorang oknum perwira tinggi AD. Pesaing itu melaporkan kepada aparat keamanan bahwa Haji Zoim, penggemar wayang kulit adalah anggota Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Cepat aparat keamanan berpakaian sipil dan para pemuda mengepung rumah Haji Zoim. Siti Nurjannah berteriak-teriak, minta tolong kepada tetangga. Dia mengatakan, para perampok menyantroni rumahnya.

Merasa yakin difitnah, Haji Zoim, mantan guru silat itu, melawan. Dia melindungi anak perawan tunggalnya. Para aparat keamanan tidak menyangka akan mendapat perlawanan. Mereka terdesak, lalu melepaskan tembakan membabi buta ke arah Haji Zoim. Siti Nurjannah memeluk ayahnya yang mandi darah sambil menyumpahi para aparat keamanan dan para pemuda yang menyerbu rumahnya. Siti Nurjannah pun diberondong dengan senjata otomatis. Seisi rumah itu mati dibantai. Rumah pun dibakar sampai jadi arang.

Itulah yang menyebabkan sekujur tubuhku mandi darah, cerita Siti Nurjannah. Jangan takut, Bung, lanjut si gadis, mahasiswi semester tujuh di fakultas psikologi negeri itu. Aku adalah roh. Aku datang ke sini untuk menghibur orang-orang yang tidak bersalah, tapi telah difitnah, lalu dijadikan tahanan politik tanpa proses hukum. Anda sendiri ditahan karena apa? Siti Nurjannah bertanya kepada Sobar.

Sobar terkejut, lalu jawabnya, cerita tentang diriku unik juga. Aku seorang jurnalis, kata Sobar. Aku memberitakan di media massa ibu kota ihwal seorang oknum jenderal AD yang diangkat jadi direktur utama di perusahaan milik negara. Oknum jenderal AD itu mendepositokan uang perusahaan negara atas nama pribadinya. Oknum kolonel AD, oknum mayor AD, oknum kapten AD, dan oknum letnan AD, para anak buah sang jenderal itu ikut juga mendepositokan uang milik perusahaan itu atas nama pribadi di bank BNI. Artikelku itu berjudul ’Rayap-rayap Hijau di Perusahaan Negara’, tutur Sobar. Kemudian, aku dipaksa minta maaf, lalu diperiksa oleh oknum mayor AD. Selanjutnya, aku dikirim ke kantor polisi militer. Setelah diinterogasi dua hari, aku dijebloskan ke dalam tahanan. Alasan penahananku adalah karena pemeriksaan belum selesai. Tapi, koran-koran pemerintah yang terbit esok harinya memberitakan, seorang wartawan berinisial ’S’ ditahan karena dia adalah anggota Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang berafiliasi kepada Partai Komunis Indonesia (PKI). Anda terlalu berani, kata Siti Nurjannah seraya terkekeh-kekeh, heh heh heh! Anda telah menentang arus deras suatu rezim yang maha zalim, lanjut Siti Nurjannah. Ya, ya, sahut Sobar, teman-temanku pun bilang, kau telah membenturkan kepala ke tembok. Konyol kau! Begitu kata mereka. Ya, boleh jadi begitu. Tetapi, aku merasa sangat yakin telah melakukan perlawanan kepada penguasa yang rakus dan maha zalim, ujar Sobar tenang.

Sobar melanjutkan ceritanya, aku ikut pemilihan umum di dalam tahanan yang menyediakan tempat pemungutan suara khusus (TPS Khusus) di RTM. Malamnya, aku bermimpi lagi, Siti Nurjannah datang bersama bau wangi melati yang semerbak mengharumkan kamar tahananku. Dengan ikut pemilihan umum, padahal di dalam rumah tahanan, membuktikan, fitnah atas diri Anda adalah bohong besar, kata Siti Nurjannah. Seseorang yang berhak memilih, menurut Undang-Undang Pemilihan Umum adalah seseorang yang tidak terlibat partai terlarang dan organisasi massanya, lanjut Siti Nurjannah pula. Tak lama lagi Anda akan dibebaskan, katanya yakin.

Apa yang dikatakan Siti Nurjannah di dalam mimpiku itu ternyata benar, kata Sobar pula. Semalam sebelum aku dibebaskan, Siti Nurjannah datang lagi bersama harum bunga melati. Besok sore, pada malam takbiran Idul Fitri, Anda akan dibebaskan, katanya. Tetapi, mengapa Bung Sobar sedih? Mengapa tidak bersyukur? Kukatakan kepada Siti Nurjannah, tentu saja aku mensyukuri semua nikmat dari Tuhan. Lalu, kuceritakan ihwal aku tidak lagi memiliki Farida, pemilik mata indah memesona seperti mata Siti Nurjannah. Lagi pula, kata Sobar, sesungguhnya—aku bebas dari penjara kecil menuju penjara yang lebih besar di luar sana!

Sobar hampir menyudahi sepenggal kisah hidupnya. Tetapi, lanjutnya, bila Bung Bagus melintas di Jalan Budi Utamo Jakarta sekarang ini, bangunan gedung RTM—yang disebut juga Asrama Tunatertib Militer (Astuntermil), itu sudah tidak tampak lagi jejak garangnya. Bangunan tua, tempat penyiksaan tapol, yang tak jauh dari SMA Negeri I Jakarta, itu telah rata dengan tanah. Kini, di tempat bangunan itu hanya tampak tanah kosong. Entah apa maksud penguasa menghancurkan rumah tahanan politik bersejarah di Jakarta Pusat itu? Lalu, ke mana Siti Nurjannah pindah? ***

Villa Kalisari, Depok, 23 November 2009

Written by tukang kliping

27 Desember 2009 pada 06:14

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

4 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. bagus.saya suka

    Ahmad Nur Kholis

    28 Desember 2009 at 16:03

  2. Hemh..
    Saya sangat suka..
    Cerita yg menyedhkan..

    Deni hermawan

    5 Januari 2010 at 20:44

  3. merinding juga jadinya…
    mengingat begitu berkuasanya militer di masa lampau…

    mountnebo

    12 Januari 2010 at 13:06

  4. masa lalu oh masa lalu..
    bersyukur juga sekarang zaman sudah berubah.
    Saya jadi ingat cerita2 dosen saya tentang perilaku tentara waktu jaman orde baru.

    istiko

    17 Januari 2010 at 07:51


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: