Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Hantu Nancy

with 65 comments


Kebon Sawah dipaksa mengingat, pernah di salon itu, duduk di depan meja rias dan menemukan bayanganmu sendiri artinya kamu akan segera ditangani. Nancy akan menghampirimu, berdiri di belakangmu, embus napasnya lembut mencapai tengkukmu. Setelah Nancy mati, Zulfikar masih duduk di sana, menunggu embus napas mencapai tengkuknya sebab yakin gilirannya pasti.

Pasti sebab pembantaian Nancy terlalu mengerikan, kematiannya terlalu keji. Lima orang memberangusnya, mengikatnya di kursi tempat pelanggan salon biasanya duduk. Dari kursi itu Nancy bisa menemukan bayangannya sendiri. Sehari-hari cermin di hadapannya biasa memantulkan berangsur wajah para pelanggan menuju kecantikan, malam itu berangsur wajahnya menuju kematian. Dua di antara lima pemberangus mencukur rambutnya serampangan. Satu yang lain menyumpalkan potongan-potongan rambut ke mulut Nancy dan satu terakhir sekadar menutup hidungnya. Nancy sempat kelojotan, sebentar. Ketika rambut di kepalanya habis, Nancy mampus. Bedah otopsi kemudian membuktikan bahwa Nancy kehabisan napas, versi yang lebih simpatik akan lebih menggarisbawahi kemungkinan Nancy mati karena tak sanggup melihat wajahnya sedemikan buruk. Tersumpal rambut, mulutnya terbuka lebar, seperti terbahak. Rautnya merot-perot, matanya melotot, nyalang dan ngeri. Zulfikar, pemberangus kelima, di pojokan, gemetaran. Melihat bangkai Nancy, penyesalan Zulfikar tak tertanggungkan. Seribu kali kematiannya tak mungkin impas mengganti sekali kematian Nancy.

Sesungguhnya tak butuh penyelidik tangguh untuk membongkar kejahatan ini tapi di Kebon Sawah beberapa kejahatan memang terjadi bukan untuk dipecahkan. Lupa selalu bisa diandalkan, tak pernah mengecewakan. Untunglah, bisik-bisik hantu Nancy terembus.

Ada tidaknya hantu Nancy akan tetap menjadi misteri sampai akhir cerita ini, terutama karena semua orang yang pernah bertemu dengannya tak lagi bisa ditanyai. Satu hal yang bisa dipastikan, beberapa orang telah dibunuh menyusul Nancy. Untuk mengikis sebagian penasaran, ada baiknya kita mulai dari suatu Rabu sore, tepat sebelum kemunculan pertama hantu Nancy.

***

Hampir seminggu setelah Nancy dibunuh, hampir seminggu pula Zulfikar menghilang. Sulaiman Badik menyuruh Ahmad Senin mencarinya, santun memerintahkan agar Senin mencari tahu apakah Zulfikar sedang sakit atau membutuhkan sesuatu. Senin berjalan ke rumah Zulfikar bersiap menemukan keadaan terburuk dan bertindak.

Zulfikar bukan anggota komplotan Leman Badik. Ia kelas teri, nyalinya tipis, kejahatannya paling cuma maling. Hanya karena Zulfikar pelanggan setia salon Nancy, ia diajak serta. Kuda troya, kata Leman, apa pun itu artinya. Anak buah Leman sejak awal bersiaga, siap menutup mulut Zulfikar kalau-kalau mentalnya kecut.

Ditemukan di rumah ibunya, Zulfikar jongkok di dekat sumur, memandangi cacing tanah. Ketika Senin ikut jongkok dan mengajak bicara, ia menyahut dengan kalimat yang tampaknya disusun tanpa akal sehat.

”Ini tadi cacing ini tadi mati tadi, Nin.”

Kalimat berikutnya, setelah jeda cukup lama, melompat.

”Senin, lu punya duit? Gua mau cukur,” satu tangannya memainkan ujung rambut panjangnya, sebelum mendadak menadah seperti pengemis. Senin, mungkin iba, merogoh kantongnya lalu menyorongkan selembar lima ribuan.

Zulfikar melipat uang itu dengan riang. Setengah bergurau, Senin bertanya di mana Zulfikar bercukur, mengingat Nancy sudah mati.

Wajah girang Zulfikar tiba-tiba lenyap.

”Nancy mati, Nin?” Zulfikar terlihat sungguh-sungguh, tawa Senin hampir meledak. Senin memutuskan mengangguk. Senin tahu jenis orang yang mudah patah, dan Zulfikar pastilah salah satunya. Setengah iba, ia menyimpulkan bahwa Zulfikar tak berbahaya, seperti potongan cacing di depan mereka.

Setelah menepuk-nepuk punggung Zulfikar, Senin beranjak. Sempat membatin laporan untuk bosnya, langkah Senin terhenti begitu mendengar kalimat Zulfikar kemudian.

”Kasihan pembunuh-pembunuh Nancy itu, Nin.”

Membalik badan, Senin bertanya kenapa.

”Aku mimpi ketemu Nancy. Dia bilang mau balas dendam.”

Wajah Zulfikar begitu serius namun malah begitu tolol. Pertahanan Senin jebol, ia tertawa sampai tersedak.

Besok paginya, setelah semalaman menertawai kegilaan Zulfikar bersama komplotannya, Senin ditemukan di kamar yang terkunci dari dalam. Mati tersumpal rambut, ia melotot.

***

Hampir genap empat minggu setelah kematian Nancy, Rabu selepas maghrib, Leman Badik duduk di pinggir kolam ikan di belakang rumah Sudirja, Lurah Kebon Sawah. Sudah tiga anak buah Leman mati berturut-turut, tiga Rabu malam terakhir. Sudirja di telepon tadi siang gagal menyembunyikan gelisah suaranya.

Leman Badik selalu mengira ketakutan ampuh menggerogoti sembarang orang, selain Sudirja. Duduk di sisinya, menghadapi pancing tanpa umpan, Sudirja tampak kosong, lemah. Lima minggu yang lalu, persis di tempat yang sama, Sudirja memerintahkan padanya untuk menghabisi Nancy. Saat itu suara majikannya pelan namun penuh percaya diri. Menyingkirkan perasaan cinta yang mendalam pada Nancy, raut Sudirja tak terlihat sedikit pun gundah.

Leman telah menjadi tukang pukul Sudirja sejak sepuluh tahun terakhir, menyaksikan berbagai kebusukan tuan tanah itu. Sejak tiga tahun yang lalu, gara-gara Nancy, untuk pertama kalinya Sudirja terjebak selangkangannya sendiri. Nancy seperti tahu sudut-sudut Sudirja yang paling lemah, mengolahnya, meracuninya, membuatnya ketagihan, kesetanan.

”Saya gak percaya ini kerjaan setan,” cetus Leman, menyergah pikirannya sendiri.

Persis ketika Leman mengucap ”setan”, pancing di tangan Sudirja lepas. Leman mencium kerusakan yang parah, jenis yang tak mungkin terobati. Tercetus dalam pikirannya, waktunya tak lama lagi untuk mencari majikan pengganti.

Sejurus kemudian keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing. Menekuni pembunuhan beruntun lima minggu belakangan, arah pikiran keduanya tak beririsan. Leman percaya ini perbuatan manusia, kemungkinan besar musuh-musuh di pemilihan lurah tahun lalu, sekurangnya-kurangnya karena dua alasan: pertama, karena ini dipastikan oleh dukun langganannya dan, kedua, dukun itu tak pernah mengecewakannya. Sementara itu, pikiran Sudirja dipenuhi Nancy berkepala gundul dengan mata melotot dan mulut dipenuhi rambut yang datang setiap Rabu malam. Nancy akan mencapai dirinya, tak lama lagi.

Pertengkaran terakhir keduanya terngiang. Saat itu, Sudirja tegas menolak permintaan Nancy. Kekasihnya itu mengancam membeberkan hubungan gelap mereka, biar orang kampung tahu siapa Lurah Sudirja sesungguhnya. Sudirja mengancam akan menghabisi Nancy, menegaskan bahwa cara semacam itu bukan pula yang pertama untuknya. Nancy balas menantang, mengancam akan bangkit dari kubur dan membalas dendam jika ia benar-benar dibunuh.

Mencintai Nancy justru karena apa adanya, tak kurang tak lebih, Sudirja tak mungkin mengubah keputusannya. Mengabulkan permintaan itu sama dengan kehilangan Nancy selamanya, sama dengan membunuhnya. Sudirja ingat, saat itu ia sekadar melakukan yang biasanya ia lakukan jika merasa terdesak. Kini Rabu malam menjelang dan Sudirja menyesal sekadar menganggap angin ancaman Nancy. Semua sudah terlambat, ia yakin kematiannya sudah dekat.

Dari tempat duduknya, Leman bisa mencium ketakutan majikannya tapi bergeming. Malam nanti hantu Nancy bahkan boleh saja datang untuknya. Silakan. Anak buahnya tolol, kalah sebelum perang, itulah alasan kematian mereka. Hantu Nancy hanyalah akal-akalan manusia.

Tak diketahui apakah sempat Leman melawan dengan gagah. Esok paginya, ia ditemukan mati melotot melihat ngeri.

***

Dua malam Rabu setelah Leman, hantu Nancy mengambil dua lagi. Warga kampung mulai terbuka matanya, setelah Supriningsih, istri lurah, mati, dan lalu berani mengambil kesimpulan, setelah seminggu berikutnya giliran Sudirja. Bisik-bisik bahwa Lurah Kebon Sawah berhubungan gelap dengan Nancy, sekalipun sempat susah masuk akal, kini sulit dibantah lagi. Sudirja mati melotot dengan mulut tersumpal rambut, seperti istrinya, seperti seluruh komplotan Leman. Semuanya pastilah berhubungan.

Orang-orang berpikiran paling jernih di Kebon Sawah saling menggenapkan dugaan masing-masing, menyimpulkan bahwa latar pembunuhan Nancy adalah kecemburuan istri Sudirja dan atau ancaman buka mulut Nancy. Kedua latar ini mendorong Sudirja bertindak sedemikian keji. Menurut musuh-musuhnya, kekejian semacam ini bukan yang pertama bagi Sudirja. Mengenai betul tidaknya bisik-bisik bahwa pelaku balas dendam Nancy adalah arwah penasaran, tetua kampung menganjurkan warga mendekatkan diri pada Tuhan. Anjuran ini tak terlalu menenteramkan, terutama karena sudah setiap malam dalam enam minggu terakhir ini warga bertahlil dan dalam mengaji Yasin sebagian telah kehilangan kekhusyukan.

Sekalipun kesimpulan sudah diambil, tak satu pun warga memperkirakan bahwa dibutuhkan satu kematian lagi sebelum keadaan kembali tenang dan lupa mulai bisa diamalkan.

***

Rabu malam ketujuh setelah kematian Nancy, pintu salon miliknya dibuka paksa. Keadaan remang dan angker tak mencegah Zulfikar menemukan kursi di depan cermin di mana Nancy melihat dirinya sendiri terakhir kali.

Zulfikar duduk di kursi, dan berkat lampu jalan yang menerobos masuk ke salon itu, ia bisa menemukan bayangannya sendiri. Zulfikar menunggu.

Sebentar kemudian, penantiannya berakhir. Di cermin itu kini bisa ia lihat, Nancy berdiri di belakangnya.

Sejak mati Nancy semakin cantik, bukan setan gundul melotot dengan mulut tersumpal rambut seperti perkiraan orang. Rambutnya utuh, hitam tergerai panjang dan lebat, sangat terawat, persis sebagaimana yang Zulfikar ingat. Matanya tenang, menatap Zulfikar penuh sayang. Pakaiannya tipis menerawang. Zulfikar melihat ke dada Nancy dan terharu, sekali lagi. Kematian telah memberikan pada Nancy apa yang hanya bisa ia impikan semasa hidup. Sepasang dada yang mengkal, bukan tambalan potongan gombal. Wajah Nancy demikian halus dan cantik. Seperti janjinya pada Zulfikar dulu, jika operasi penanaman payudaranya berhasil, Nancy akan membiarkan kumis dan cambangnya tumbuh dengan anggun. Sungguh Zulfikar tak pernah mengira sedikit pun bahwa kumis dan cambang bisa membuat seseorang demikian cantik.

Zulfikar berandai-andai, jika saja Sudirja bisa menghargai kecantikan yang diangankan Nancy, tak sulit mengabulkan permintaannya. Sayang, lurah itu kuno. Zulfikar terus berandai-andai, jika saja ia kaya, bukan maling sekadarnya, tentu lain cerita. Terus ia menatapi Nancy di cermin, terus tak berhenti jatuh cinta lebih dari sebelumnya.

Zulfikar ingin bersuara tapi lidahnya kelu. Ia selalu ingin menjelaskan semuanya, kenapa ia mau jadi kaki tangan Leman, kenapa ia terlibat pembunuhan orang yang paling dicintainya. Zulfikar selalu urung karena ia yakin Nancy tak akan mengerti. Nancy tak akan bisa menakar cinta Zulfikar, betapa dalam sehingga jika ia tak bisa mendapatkan Nancy, tak seorang pun boleh bisa. Nancy demikian cantik. Jika Sudirja tak mewujudkan keinginannya, masih banyak orang kaya yang bisa.

Di cermin, Nancy tersenyum padanya. Zulfikar tahu saatnya sudah dekat. Ia telah mematuhi seluruh perintah Nancy tapi masih ada satu lagi. Dengan tenang, Zulfikar mulai memotong rambutnya sendiri, meletakkan potongan-potongan rambut itu di pangkuannya. Senyum Nancy semakin mengembang, menyemangatinya. Tak berapa lama rambut di kepalanya mulai tercukur habis.

Ia melihat ke pangkuannya sendiri, puas dengan hasil kerjanya. Menatap ke arah bayangan Nancy penuh pembuktian diri, satu tangan Zulfikar mulai memasukkan rambut-rambut itu ke dalam mulutnya, satu tangan yang lain ia gunakan menutup hidungnya. Nancy tersenyum, semakin cantik.

***

Butuh waktu lama agar Kebon Sawah lupa. Dua tahun setelah kematian Nancy, tak satu pun salon baru berdiri. Warga harus pergi ke kampung sebelah atau ke pusat kota untuk bercukur dan didandani. Kerepotan kecil ini memaksa mereka mengingat delapan kematian beruntun di Kebon Sawah.

Warga masih terbelah sikap, sekalipun polisi sudah berusaha menenangkan, mengatakan bahwa Zulfikarlah pelaku di balik kematian enam orang, sebagaimana ditunjukkan jejak sidik jarinya, sebelum akhirnya bunuh diri. Sulit memaksa warga mendapatkan tenang, bukan semata-mata karena pembunuhan Nancy tak pernah terungkap terang. Mayat Zulfikar, setelah lenyap saat disemayamkan di masjid, sampai sekarang tak pernah ditemukan.

Dua bulan yang lalu seseorang bernama Siska datang, mendirikan salon persis di bekas salon Nancy. Mula-mula tak seorang pun mengunjunginya. Keadaan mulai berubah sejak Siska berjanji untuk membakar semua rambut yang dipotongnya. Tetua kampung, sekalipun sempat khawatir dengan kedatangan Siska, urung cemas begitu melihat pemilik salon itu. Berbeda dengan Nancy yang cantik, Siska berwajah buruk, lipstik merah di bibirnya dikelilingi kumis dan janggut. Keburukan itu, anehnya, tak sempat mengingatkan mereka pada wajah seseorang yang demikian akrab. Di balik celemong make-up dan semrawut cambangnya, mudah didapati betapa wajah Siska begitu mirip dengan Zulfikar.

Sampai kisah ini dituliskan, tak seorang pun warga pernah menghubungkan kemiripan keduanya, bahkan tidak juga pada sekadar obrolan ringan. Lupa rupa-rupanya bukan suatu cara bertahan yang bisa diwujudkan sekenanya, gotong royong dibutuhkan agar semuanya berjalan sesuai rencana.

Begitupun, ingatan masih penasaran: mampirlah, di kampung itu kamu selalu bisa menghirup bau rambut terbakar.

Written by tukang kliping

29 November 2009 pada 19:09

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

65 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. “Kadang-kadang pengarang bisa sangat gila seperti karyanya!”

    Ugoran seperti mempunyai dunianya sendiri pada ceritanya (Ripin, Sepatu Tuhan, Perempuan Sinting di Dapur) Dan ia membaginya pada khalayak dengan cara meyakinkan.

    Ceritanya-Hantu Nancy-kali ini pun sangat meyakinkan!

    ewing

    29 November 2009 at 19:44

  2. Sepanjang thn 2009, baru ini karya kedua yg saya temukan di koran.
    Berbeda dgn bbrp penulis lain yg muat hampir tiap bulan, bahkan ada yg dlm sebulan bisa hampir tiap minggu…
    Produktifitas? Boleh jadi.
    Tapi setidaknya Bung Ugoran bisa membuat saya kangen menunggu2, dan membuat saya puas tiap kali muncul.

    Bung Ugoran = kualitas, bukan kuantitas.

    A

    30 November 2009 at 07:10

  3. Iiih, kayaknya A nyentil nyentil Bamby C, Beni Setia, Rama Dira, dan Benny Arnas deh! Saya liat d sriti dan saya jg langganan Tempo dan SP. Karya mereka (yg trkini Benny Arnas) tampaknya wara wiri. Namun begitu, (ups maaf), slain Bamby C., ketiga orang itu dahsyat kok! Hee! Tapi karya Ugoran ini memang bagus, tnpa hrs kt ungkit produktifitas. Salam. Lisa, Bengkulu.

    Lisa

    30 November 2009 at 11:55

  4. @Lisa

    Jika anda pernah membaca komentar2 saya sebelumnya, saya sdh pernah menjelaskan, menurut opini saya tidak ada masalah sama sekali dgn mutu tulisan penulis2 yg anda sebutkan itu.
    Semuanya baik.

    Hanya saja, mungkin saya umpamakan dgn aktor Deddy Mizwar.
    Kita semua sepakat beliau aktor yg baik.
    Tapi bagaimana seandainya, jika film baru beliau muncul di bioskop SETIAP BULAN?
    Mungkin lama kelamaan penonton akan jenuh juga🙂

    Semoga cukup jelas. Salam.

    A

    30 November 2009 at 13:04

  5. Ooo gitu toh! Tapi pd koment anda d akhir, peng-AGUNG-an Anda terkesan mlhat sblah mata pd yg produktifitas. Jadi, gk usah cenderung mengatakan sprt ini:
    -yg gk produktif, pasti skali keluar karyanya lgsung GUARR!
    *banyak kan yg skali kluar tapi gk ad apa2nya.
    -yg produktif, pasti membosankan*itu mah perkara personal situ, gk usah dimasukkan ke hal2 yg lbih general sprt kasus ini
    -mending produktif dan kualitas trjaga, drpd gk produktif dn kualitas trjaga*tul kan?
    -ktiga nama di atas bukan fav saya, tp karya mereka memang jelas karakt ernya. Konsisten!
    JADI, YANG ADIL YA BERKOMENTAR TUH!*maaf kalau jadh saya yg sewot.

    Lisa

    30 November 2009 at 14:26

  6. @Lisa

    Inti dari komentar saya sudah saya sampaikan dgn perumpamaan aktor Deddy Mizwar tsb:

    Apakah semua penonton penggemar Deddy Mizwar?

    Kalopun anda bukan penggemar, dan tidak bosan, apakah anda yakin penonton lain TIDAK AKAN bosan? Seperti istilah anda: perkara personal? Tidak general?

    Apakah TIDAK BOSAN itu juga bukan perkara personal?
    Preferensi pribadi anda?

    ANDA yg mengatakan saya memandang sebelah mata pd produktifitas,
    saya sih tidak🙂
    Saya tidak pernah mengatakan satu pun dari 4 poin yg anda jabarkan di atas,
    jadi saya minta tolong juga: ADILI saya berdasarkan apa yg saya tulis, bukan berdasarkan pada apa yg anda pikirkan.

    Jika ada waktu mungkin lbh baik anda baca dulu komen2 saya sebelumnya, sehingga anda bisa lebih paham apa maksud saya tanpa menduga2 dan menghakimi saya.

    Tapi, jika anda tidak sempat, saya persilahkan saja BERTANYA.
    Nanti pasti akan coba saya jelaskan apa maksud saya.

    Anda bukan org pertama di forum ini yg menuduh saya mengkritik berdasarkan alasan personal kok.
    Terima kasih🙂

    A

    30 November 2009 at 15:39

  7. Oooh jadi anda pemilik situs ini, maaf deh kalau gitu. Saya mampir k sini, krn saya mau buat makalah sastra. Nah saya ambil crpen2 Kompas thn ini. Sebuah Rencana Hujan, Bujang Kurap, Tukang Cuci, dan Hantu Nancy, itu rekomendasi teman kmrn. Pas klik Hantu Nancy, keluar nih weblog. Tapi, koment2 kamu itu yg buatku panas. Soalnya aku ngobok2 sriti dari kmarin. Byk yg produktif, tp karyanya oke oke!*sory saya ngelantur* saya harap ke depannya Anda komentar to the focus aj, gk usah meleber tapi gk kuat sambungannya. PIIIS!

    Lisa

    30 November 2009 at 15:59

  8. @Lisa

    Waduh…saya bukan pemilik situs ini :))
    Pemilik situs ini nicknya “Tukang kliping”

    Sekali lagi saya ingatkan:
    “produktif tapi karyanya oke2” itu juga PENDAPAT PRIBADI ANDA,
    “meleber tapi gk kuat sambungannya” itu juga PENDAPAT PRIBADI ANDA.

    Saya hargai pendapat anda,
    tapi apakah saya jg tidak boleh berpendapat?

    Saya sudah jelaskan,
    kalo anda mau lebih paham bertanyalah, jangan asal menghakimi saja🙂

    A

    30 November 2009 at 16:07

  9. Terus nulis, Go. Ditunggu karya2mu selanjutnya yang pasti lebih dahsyat!

    Ira

    30 November 2009 at 16:11

  10. yg paling menyenangkan memang kalo tiap minggu bisa nemu penulis yg berbeda,, ini bisa menghindari kebosanan (bukn hanya hanya kebosanan thd orang yg sering muncul itu,,tp juga kebosanan membuka cerpen koran),,jujur saya jg agak bosan kalo tiap buka koran org2nya itu2 aj,,,gaya bahasa itu2 jg,, tp masalahnya jumlah peminat cerpen sekarang masih tergolong kecil,,apalagi yg mau serius menulis…. kalau suatu saat jumlah peminat cerpen sebanyak pemakai facebook, mungkin hal itu baru bisa dicapai.

    btw, cerpennya ugoran ini mak nyus.

    Raga

    30 November 2009 at 16:27

  11. Kita ngmngin Ugoran apa hal lain seeeeh!! Kalo mnurutku gk masalah, siapapun itu. Yg pnting karyanya bagus. Lagipula, jgn salahkan penulisnya tapi yg menaikcetaknya alias redaktur. Bgmn Nirwan meloloskan cerpen2 Azhari atau Benny yg Dusun buanget, atau Bre yg ngelulusin Novia dan Rifan, atau Red. SP yg Rama Dira minded, Republika yg KRISNA-is, SM yg gila nama besar, atau Jawa Pos yg Yetti A.ka selalu. Kan penulisnya ngirim aj. Ya A, Raga, dll, maaf ya. Tutup deh!hee

    Lisa

    30 November 2009 at 16:54

  12. @Raga

    Sebenarnya mmg itulah takdir kronis instrumen bernama media cetak Bung Raga.
    Interaksi satu arah. Isi dan kebijakan pemuatan tulisan 100% ada di tangan redaksi.

    Masalahnya seperti yg anda sebutkan,
    di Kompas dan media lain, cerpen cuma ada 52 slot setahun.
    Jutaan penulis, tetap 52 slot.
    52 penulis, tetap 52 slot.
    Akibatnya terjadi efek domino yg membuat komunitas peminat dan penulis cerpen cenderung makin eksklusif dan inklusif.

    Siapa yg paling dirugikan? Sudah pasti para penulisnya, para pembacanya, dan sastra Indonesia itu sendiri.

    A

    30 November 2009 at 16:58

  13. eh Lisa tau banyak selera redaktur,, dan kalo aku pikir2,,, sprtinya komenmu barusan itu bener juga.

    Raga

    30 November 2009 at 16:59

  14. @Lisa

    Awalnya saya ngomongin Ugoran,
    tapi lantas anda tanggapi hal2 yg tidak pernah saya tulis🙂

    Anda nggak pernah bertanya, andaikata cerpen Bung Ugoran dimuat tiap minggu, apakah saya juga akan “jenuh” dgn karya beliau?
    Jawaban saya sudah pasti YA.

    Jika anda baca tulisan2 saya sebelumnya, isinya sama persis dgn yg anda katakan: Semua ini tanggung jawab medianya, Redakturnya, BUKAN penulisnya.

    Saya pikir media dan redaktur media harusnya bisa memformulasikan cara untuk membesarkan komunitas sastra koran kita.

    Caranya sudah tentu tidak bisa dgn memperbanyak slot, karena mmg cerpen tidak punya nilai “komersil”.

    Tapi setidaknya dgn menjaga keragaman tema dan penulis saja,
    saya rasa sudah bisa jadi titik awal untuk memancing minat para pembaca baru,
    yg pada akhirnya akan menarik minat penulis baru.

    A

    30 November 2009 at 17:07

  15. yap, betule… paling bagus memang kalo penulisnya beragam,,,sebab hampir saja saya menganggap cerpen koran milik org itu-itu terus.. dan bisa jadi ketika lihat nama penulisnya saja langsung males baca, krna hampir setiap tarikan nafas nama itu dimuat.

    eh, tp bung A, kalo misalnya Seno Gumira yang dimuat tiap minggu, kyknya saya gak bosan deh, hihihi.

    Raga

    30 November 2009 at 17:15

  16. @Raga

    Awas lho bung Raga, nanti dibilang perkara personal dan tidak general sama Mbak Lisa😉

    A

    30 November 2009 at 17:19

  17. Hmm…
    Penulis membuat saya selalu menunggu karya2nya…

    Mario Lawi

    30 November 2009 at 17:30

  18. Saya ini pnikmat cerpen. 33th. Tapi gk bisa nulis.hee. O ya, asik jg akhirnya. Sblmnya aku mau tanya. Ini Raga yg nulis sbuah rncana hujan ya? Kalau ya, bagi tips nulis cerpen kayak gitu dunk!hee. O ya, aku mau kita share ya! Sepakat gak kalau Sunlie Thomas Alexander, Benny Arnas, dan Yusi Avianto, disebut cerpenis yg paling yahud secara kekaryaan utk tahun ini?heeeh. *maaf ya Tukang Kliping, jadiin nih forum utk diskusi*

    Lisa

    30 November 2009 at 17:50

  19. Sebenarnya mau nambah Eka Kurniawan seh, tapi… Dbanding thn2 sblumnya, dia agak payah!hee*penikmat cerpen memang soktahu ya!hahaha

    Lisa

    30 November 2009 at 17:53

  20. Ya tiap org kan punya penulis favorit maSing2…
    Tapi yang bagus sih yg dimuat cerpen dari beragam pengarang tanpa mengurangi kualitas cerpenya.biar ada regenerasi

    Erid

    30 November 2009 at 18:17

  21. jelek bgt cerpennya (^^^)

    Ghost

    30 November 2009 at 20:04

  22. Aku lbih suka Ripin! Utk 2009, cerpen ini sih, boleh. Tapi utk jadi The Best, gk dueh! Tapi aku senang, cerpen2 buruk d Kompas akhir2 ini dihadang Hantu Nancy ini… Utk Lisa, ya saya spakat! Trutama Sunlie dan Beni. Udah ya! Kt bahas cerpen ni aj. Gk usah out of context lagi!hee.

    Mirna

    30 November 2009 at 20:25

  23. @Lisa: iya.

    tips-nya membaca sapardi.

    benny arnas iya paling bnyk dipuji.

    ngmong2,,cerpen Ugoran ini ada miripnya sama Bujang Kurap-nya Benny… trutama opening dan endingnya…coba buka lg aj punya benny:

    …bila suatu waktu nanti, Tuhan berketetapan bahwa kalian harus berada di Lubuklinggau atau Musirawas…

    Raga

    30 November 2009 at 20:54

  24. Sapardi?!! Aku pernah baca bbrp. Tapi yg mbekas: Tiga Kisah, Hujan (lupa lgkapnya), dll. Mmm, aku suka Rencana hujan. Mulus gitu. Hee. Duuh senangnya daku. Sungging Raga euy! Ada buku tunggal, Mas? Judulnya?

    Tentang Benny. Jujur, aku slalu hrs dlm kondisi prima baca cerpen2nya. Selain siap2 hijrah k kampungnya, aku jg hrs siap menerima perumpamaan2 dlm stiap maksud kalimatnya. Artinya, wlupun agak ribet, tp dia unik. Dan itu sastra bgt. Entah d luar itu.

    Tentang Bujang Kurap. Sbnrnya bukan Hantu Nancy aj. Mugiyono-nya Gunawan Maryanto jg Bujang Kurap bgt. Bedanya, scara pnggarapan. Ugoran masih lazim, tapi hidup dlm mjaga suspense. Mugiyono kukatakan sebagai narasi putih. Polos gk nonjok. Mungkin itu pula kuatnya menurut Bre. Bujang Kurap sgt historis. Hampir primordialistik. Hebatnya: digarap diluar pakem (mungkin kompas thn ini, crpen ini yg pling out of box), dan pesannya global. Humanisme yg local tasty!hahaha. Hebatkan aku. Abis sambil ngetik makalah seh. S2 sastra geto!hahaha. Narsis!

    Lisa

    30 November 2009 at 21:36

  25. cerpen yang mantap!!!!

    Ronald

    30 November 2009 at 22:53

  26. @Lisa. km kyknya pnggmar bujang kurap ya..aku malah gak ngeh sama skali dg crpen itu, brkali-kali baca rasanya pusing, ak blm mampu mencerna cerpen yg bahasa narasinya tingkat tinggi spt Benny.. ak suka yg sdrhana spt Laila-nya Putu Wijaya.

    oya mnding jgn buka forum dsini, g bgus bwt ksehatan😀

    Raga

    30 November 2009 at 23:31

  27. O ya? Oke, makasih.

    Lisala

    30 November 2009 at 23:37

  28. @Mas Raga: hahaha.. rupanya penulis sehebat mas juga masih bingung sama kata-kata yang dirangkai oleh Mas Benny..😀
    Emang butuh daya konsentrasi yang gede utk baca cerpen2 beliau, tapi bagus ko, asal kita bisa konsen ajah bacanya.. :DV

    Rame nih komentarnya, apalagi balas-komentar antara Mba Lisa sama Mas A. Hehe.. Salam kenal ah ke semua.. ^^

    nTa

    1 Desember 2009 at 10:54

  29. Sungguh telat saya, kok baru kali ini saya tahu kalau weblog ini ada. Saya sama halnya seperti Lisa. Penikmat dan pengamat. Heee. Ini profesi paling aman untuk bercas-cis-cus!
    Penulis paling Yahud?!
    Awalnya aku ragu, apa iya, Benny bisa survive seperti beberapa nama yang produktif lainnya. Namun, beberapa karyanya sepanjang 2006 cukuplah menampar keragu-raguan saya itu. Secara kualitas, menurut saya OKE. Hanya masalah selera lagi.Namun paling tidak dia punya energi dan amunisi berkarya yang tangguh. Mas Raga sendiri, menurut saya juga cukup baik, hanya mungkin tak setangguh Beni. Mungkin Beni lebih dulu nyercepen, atau apalah (heee). Lalu, saya ingin sampaikan pada kalian semua. Saya salut pada kalian semua. terutama nama penulis yang dibincangkan di sini (termasuk Raga). saya udah ngirim ke KOMPAS sejak 1999, gak nembus-nbembus😦 !!!
    O ya, Beni, Rama, Sunlie, dll, muncul donk!!!

    muhammad sobri

    1 Desember 2009 at 11:21

  30. maksud saya SEPANJANG 2009

    muhammad sobri

    1 Desember 2009 at 11:22

  31. Saya penggembar berat Benny Arnas dan Sungging Raga. He..he..he…

    @ Muhammad Sobari : saya kirim ke Kompas sedjak 2002, baru tembus 2009🙂

    Rama Dira J

    1 Desember 2009 at 12:11

  32. Sori sy salah tulis nama Anda. Ralat : yg benar adalah Muhammad Sobri

    Rama Dira J

    1 Desember 2009 at 12:12

  33. @ Lisa : Suara Pembaruan terakhir kali memuat cerpen saya : Di Gerbong Kereta pada Agustus 2009. Setelah itu saya kirim lagi banyak sekali tapi tak ada yang dimuat sampai sekarang. Mungkin selera Redakturnya berubah lagi atau ada kebijakan rotasi redaktur sehingga redaktur yg baru tidak selera melihat (apalagi)membaca cerpen sy..he..he. Atau jangan2 ada protes dari pembaca yg bosan melihat sy muncul terus..he..he..

    Saya sebenarnya punya beberapa stok cerpen tapi sejak Agustus sy “REM” pengirimannya dalam rangka menghindari kejenuhan para pembaca cerpen. Sy sadar sy bukan sekelas Seno (sy sependapat dengan Raga, kalau Seno dimuat tiap Minggu sy tidak akan bosan).

    Sy sependapat juga dengan A dengan perumpamaan Deddy Mizwarnya. Tapi kalau Film Robert de Niro yang muncul tiap hari di depan saya, saya tidak akan bosan he..he..🙂

    Rama Dira J

    1 Desember 2009 at 12:30

  34. @Rama Dira

    Wah Bung Rama, yg seharusnya mengerem itu redakturnya dong…Selama redaktur media belum jenuh, kami para pembaca apa boleh buat terpaksa menurut saja “dicekoki” karya2 anda, ha ha…

    Jujur, saya pribadi jenuh dengan cerpen anda
    TAPI
    kenapa tidak anda terbitkan sebuah novel?
    Bukan antologi loh Bung Rama, tapi novel orisinal anda?

    Jika anda terbitkan novel, saya yakin saya termasuk org pertama yg akan membacanya🙂
    (Sekali lg saya harus jelaskan pada kawan2 yg baru bergabung di forum ini, seperti Lisa,
    konteks kritik saya terbatas pada CERPEN KORAN.
    Bukan penulisnya, apalagi karya2nya)

    Ttg De Niro, saya sepakat,
    asal yg diputar tiap hari bukan Meet the Parents dan Meet the Fockers, ha ha🙂

    A

    1 Desember 2009 at 12:53

  35. @ A : Menulis novel? Masih belum bisa, Bung. Menulis cerpen aja masih ngos2an nih..he..he.. Tapi, memang, bisa melahirkan sebuah novel adalah salah satu target sy ke depan. Namun,totalitas segenap energi belum bisa sy fokuskan menuju ke sana. Mungkin beberapa tahun ke depan. Anyway, masukan Anda sangat memotivasi saya.

    Kembali ke De Niro. Kalau God Father Part 2 gimana Bung? Sy sudah menontonnya puluhan kali🙂 Tak pernah bosan karena filmnya memang bagus dan tentu saja karena faktor De Niro. Kalau misalnya Don Corleone mudanya Sean Connery sebagai misal, sy yakin filmnya jadi tak bagus. BTW, ini ngobrolin cerpen atau film seeeh??? Gak apa2 ya, melenceng dikit. Biar makin rame forum ini.

    Rama Dira J

    1 Desember 2009 at 18:07

  36. Dari tadi saya belum komen mengenai cerpen ini. Menurut saya, Ugoran dalam Nancy ini unik. Meski masih terasa pengaruh Eka Kurniawannya. Tapi tetap satu jempol lah untuk cerpen ini.

    Rama Dira J

    1 Desember 2009 at 18:40

  37. Saya fansnya Rama Dira, Sungging Raga, Lisa, Mirna, A, dll.

    Bujang (tak) Kurap

    1 Desember 2009 at 19:04

  38. @Om rama: maksudnya trpengaruh eka kurinawannya gmn? ugoran ni datengnya stlh eka ya? mungkin smacam agus noor yg kalok dicium2 mirip SGA bgtu?

    eh, saya nonton MR. Bean jg gak bosen,,biarpun misalnyatiap minggu dan episodenya sama terus. haha.

    Raga

    2 Desember 2009 at 07:29

  39. @Rama Dira

    Saya paham Bung Rama. Menulis cerpen dan novel mmg sangat berbeda.
    Tapi, sekali lg ini hny opini pribadi saya, dgn kondisi anda saat ini yg sangat luar biasa produktif menulis cerpen, tdk ada salahnya energi anda disalurkan sebagian untuk menulis novel.

    Kembali ke perumpamaan Deddy Mizwar,
    ketimbang beliau membintangi film tiap bulan seperti di contoh saya, Bang Deddy bisa mulai menjadi sutradara dan membuat film sendiri.
    Tetap produktif, tidak membuat jenuh penonton, dan tentu saja semakin maju dan berkembang sebagai seorg seniman. Bukan begitu Bung Rama?

    Kembali ke De Niro,
    di sini diskusi kita semakin menukik ke intinya…
    Film De Niro favorit saya Taxi Driver. Di situ De Niro spektakuler menurut saya. Tidak ada masalah jika tiap hari saya nonton Taxi Driver
    TAPI
    bagaimana dgn FILM2 BARUnya?

    Seperti di contoh saya sebelumnya, bagaimana seandainya De Niro tiap bulan jg menelurkan film2 baru?
    Yg tentu saja KUALITASnya BELUM TENTU setara Taxi Driver atau Godfather part 2?
    Mungkinkah saya akan jadi jenuh dgn De Niro?
    Jawaban saya: sangat mungkin sekali.

    Jadi, andaikata cerpen Seno tiap minggu muat,
    saya yakin suatu hari anda dan Bung Raga pasti akan jenuh juga, ha ha…

    Kenapa anda dan Bung Raga ttp jadi penggemar setia Seno?
    Karena Bung Seno berkualitas.
    Kenapa anda dan saya ttp jadi penggemar berat De Niro?
    Karena De Niro berkualitas.

    Bukan karena kuantitas kemunculan karya mereka.

    Apakah mungkin Seno dan De Niro akan mampu menjaga kualitas mereka kalau tiap minggu atau tiap bulan menelurkan karya?
    Saya tidak tahu, bukannya tidak mungkin, tapi yg pasti AKAN SANGAT SULIT SEKALI.
    Yah, itulah rumit (& unik)nya sebuah karya seni…

    Sekali lg mohon maaf buat Mas Tukang kliping krn sudah ngobrol ngalor-ngidul di sini, tapi diskusi ini terlalu menarik untuk dihentikan.🙂
    Terima kasih Bung Rama, dan sekali lagi…saya tunggu karya novel anda kapanpun itu akan diterbitkan🙂

    A

    2 Desember 2009 at 07:47

  40. @Raga

    Setuju dgn Mr.Bean.
    Tapi kmbali ke contoh yg saya ajukan buat Bung Rama: bagaimana seandainya Mr.Bean seperti serial Friends yg tayang rutin tiap minggu terus-menerus selama 10 tahun?

    Bahkan serial Friends pun akhirnya harus disudahi karirnya SEBAGAI SEBUAH SERIAL setelah sekian lama.
    Tapi apakah penggemar setia Friends hilang? Tidak.
    Apakah penggemar setia Friends mau nonton jika serial Friends nantinya dibawa ke layar lebar? SUDAH PASTI🙂

    A

    2 Desember 2009 at 08:03

  41. @ Raga : Yup, kurang lebih begitulah. Kalau dicium2 ada aroma Eka di dalamnya. Tapi ini bukan sesuatu yg salah dan tidak boleh loh, Bung. Ini sah-sah saja.

    @ A : @ A : Terima kasih sekali lagi untuk usulan Anda, Bung A. Saya percaya, salah satu cara biar Anda tidak jenuh membaca cerpen2 saya adalah dengan membaca novel saya. He…he..he…Saya optimis suatu saat akan lahir novel itu dan saya senang, belum lahir saja Anda sudah siap2 membacanya. Sungguh, saya menjadi termotivasi.

    Mengenai Deddy Mizwar saya sepakat dengan apa yang Anda katakan bahwa ia bisa menghindari kejenuhan penonton dengan menjalankan peran lain di luar sbg aktor tapi tetap produktif, misalkan sebagai sutradara dan terbukti memang dalam kenyataannya Deddy melakukan ini dan berhasil menunjukkan kualitas dan produktifitasnya dengan beberapa film dan sinetron seri yang bekualitas beberapa tahun belakangan.

    De Niro pun mencoba seperti Deddy, tapi ia gagal, Bung. Setahu saya ada beberapa film yang disutradarinya sekaligus ia main juga di dalamnya, yang tak laku di pasaran. Sebut misalnya The Good Shepherd. Meski bertabur bintang dan mencoba mengambil style The God Father secara visual, menurut saya film ini bikin ngantuk. Sy tidak tahu apakah Taxi Driver yg sukses itu, dia sebagai sutradaranya. Sy akan hunting filmnya, kebetulan belum nonton.
    Betul apa yang Anda bilang bahwa seandainya De Niro menghasilkan atau bermain dalam film tiap bulan, kualitasnya belum tentu setara dengan Taxi Driver atau God Father 2 dan tentu akan membuat penggemarnya jenuh.

    Dengan demikian, kita sebenarnya membiacarakan mengenai karya ‘masterpieces’ yang tak senantiasa bisa lahir dari sang kreator. Mungkin cerpen2 saya yang Anda baca, bukanlah karya masterpieces sy sehingga mudah sekali Anda menjadi jenuh. Mudah2 novel sy nanti membuat Anda tak bosan membacanya berulang-ulang karena ia lahir sebagai sebuah masterpieces. he..he.. (maafkan kenarsisan ini🙂. Piss..

    Sebagaimana juga pada beberapa film, secara pribadi saya tak pernah bosan membaca beberapa novel atau kumcer yg menurut sy adalah sebuah masterpieces dari pengarang yang tentu tak selalu menghasilkan masterpieces : Bumi Manusianya-Pram, Seratus Tahunnya- Marques, Negeri Kabut-nya Seno, dll.

    Sebagai penutup, sy senang dengan keberadaan pembaca yg kritis seperti A. Bagaimanapun, kreator cerpen sangat membutuhkan semacam ‘pengingat’ untuk menelurkan karya yg lebih berkualitas ke depan, tidak melulu menulis dan menulis.

    Rama Dira J

    2 Desember 2009 at 19:02

  42. Ngomong2 kalo cerpen yang buruk2 dimuat di kompas, buruk dari segi mana, ya? Kok saya jadi bingung. Kalau sudah dimuat di Kompas, menurut saya redaktur melihat ada nilai tersendiri. Lagipula baik dan buruk itu saya pikir relatif. Tinggal kita melihat dari sudut pandang yang mana. Makasih…

    nr

    2 Desember 2009 at 22:58

  43. @Rama Dira

    Saya pribadi selalu meyakini “masterpiece” itu dilahirkan, bukan dijadikan.
    Seorg seniman hanya berusaha membuat karya yg terbaik tanpa bisa tahu sebelumnya karya itu akan menjadi masterpiece atau tidak.

    Jgn kuatir Bung Rama, saya pasti akan membaca karya novel pertama anda nanti, masterpiece ataupun bukan🙂
    Terima kasih banyak untuk diskusi yg sangat menyenangkan ini.

    A

    3 Desember 2009 at 07:40

  44. Owh… diskusi yang membuat mata saya membuka sekaligus menutup!!!!

    IO

    3 Desember 2009 at 15:23

  45. hmm..!1 kreatif sekali ceritanya..🙂

    hasrul

    3 Desember 2009 at 18:34

  46. Aq koq pnasaran. A ini sebenarx siapa ya? Jangan-jangan?

    Penggali Sumur

    5 Desember 2009 at 09:21

  47. cerpennya unik, bagus gitu lohhh… senang membacanya…ada yang tau kontaknya bung ugoran?

    Alis

    5 Desember 2009 at 09:23

  48. A sepertinya orang yang asyik…
    dibagian lain iya pernah membuka identitas..
    klu ga salah jadi Firman..
    ya gag sih?

    bene

    6 Desember 2009 at 01:15

  49. Asyik sih asyik. Tapi A tidak penah mau mengungkap identitasnya. Takut ketahuan siapa dia sebenarnya. Hayo siapa yo?

    Firman Kusneli Arif

    6 Desember 2009 at 07:33

  50. Sebenarnya saya banyak membalas dengan keras komennya pada cerpen Sebuah Rencana Hujan Sungging Raga adalah dalam upaya saya untuk memancing dia biar keluar, tidak memakain nama A saja. Agar dia mau memakai nama sebenarnya. Secara pribadi saya sebenarnya tidak sentimen pada beliau ini. Saya hanya penasaran siapa dia?

    “Bolehkan aku melihat sari wajahmu. Hoi..hoi siapa dia…”

    Firman Kusneli Arif

    6 Desember 2009 at 08:49

  51. Sedap dan mantap Hantu Nancy… hehe, Tangan untuk Utik juga keren…

    Bamby Cahyadi

    17 Desember 2009 at 22:26

    • sedap dan mantap,, haha, emgny mkanann..

      NancY

      2 Desember 2010 at 18:12

  52. Ugoran Prasad? saya tunggu cerpen-cerpennya selain AS Laksana, Hamsad Rangkuti, dan Seno Gumira Ajidarma

    ningnong

    7 Januari 2010 at 22:44

  53. apapun itu…..cerpen anda saya suka

    mountnebo

    12 Januari 2010 at 14:08

  54. Mantap!

    Yosafat

    17 Januari 2010 at 10:07

  55. cerpennya bagussss. saya tertarik dengan komentar mas rama. apa benar ugoran terpengaruh eka? karena dua-duanya sepertinya satu generasi, (kalau tidak salah sama-sama di on/off ya?). saya sih yakin dua-duanya sama-sama terpengaruh faulkner dan marquez tapi tetep beda. eka lebih detil dan mengalir, juga lebih detil dalam soal psikologi karakter. sementara ugoran lebih cepat ceritanya, banyak lompatan atau patahan. plotnya juga lebih berlapis-lapis, jadi kayak film. eka lebih cenderung realisme magis, ugoran lebih realisme model chekov gitu. iya nggak? eh, katanya dua-duanya terlibat bikin antologi horor. bikin gak sabar hehehe…

    erw_anta

    26 Januari 2010 at 11:51

  56. Perfecto,,

    Luki Dwiyanto

    23 Februari 2010 at 00:52

  57. Ugoran memang sudah menarik sejak ia awal-awal muncul di Kortem. Cerpennya kayak Enam, Kertas Kosong, Penjaga Bioskop, Enam Variasi Tema Burung, menunjukkan keseriusannya dalam menulis. Sebenarnya cerpen-cerpennya di Kompas agak bergeser, mungkin mempertimbangkan selera redaktur. Tapi bagi saya Ripin masih paling sugestif, Hantu Nancy berikutnyalah, ya masih lebih baik ketimbang Sepatu Tuhan tapi fifty-fifty dengan Perempuan Sinting di Dapur. Kalau Benny Arnas saya rasa belum menemukan identitasnya, masih terlalu bernafsu mengumbar tema. Coba bandingkan cerpennya kayak Glucklich dengan Hari Matinya Ketib Isa, kan jauh tuh! Saya setuju Eka Kurniawan melemah, saya agak kecewa dengan cerpen-cerpennya yang terkini. Sepertinya dia sudah kehabisan tenaga untuk bereksperimen, padahal kumcer-nya Cinta Tak Ada Mati sangat meyakinkan. Buat Rama Dira J., Tiga Matahari yang dimuat Media Indonesia kemudian di buku Para Penari terbitan Malang itu adalah awal yang menarik. Pernah beberapa puisi saya di SP dimuat bersamaan dengan cerpen anda, kalau gak salah Berburu Harimau. Salam kenal lah

    Kiki

    9 Maret 2010 at 13:12

  58. bsanda ya hntunya tu yank baik aj sekalian jangan yang jhat

    akhnanto

    12 Maret 2010 at 08:02

  59. yahhhh,,nma hantuny sma kya nma kuu…hoho
    tp cerpenny bleh jgaa…

    NancY

    2 Desember 2010 at 18:11

  60. Saya orang Sumsel, tapi tidak malu mengakui bahwa Benny Arnas satu level di bawah Ugo. Sejauh ini Ugo adalah penulis paling mengalir, bukan banci istilah dan tidak sibuk-sibuk membuat pembaca bingung atau merasa kurang cukup pintar untuk menikmati karyanya. Benny Arnas harus berevaluasi sedikit lagi, tapi mudah2an tambah banyak uwong yang pacak jadi bujang cerdas di tanah kito. Amin.

    Anda

    4 April 2011 at 22:33

  61. yang menarik dan menurut saya hebat dari seorang ugro adalah selain cerpen2nya ,,dia dan band nya melancholic bitch dapat menampilkan warna musik yang berbeda, experimental, lirik2 lagunya benar-benar seperti cerpen, khusus untuk album balada joni dan susi,,

    taufiq

    5 Juli 2011 at 10:54

  62. waa ceritanya beda banget sama cerita2 kompas pada umumnya. cerita menggelitik banget, bikin mau terus baca sampe selesai (mungkin krn saya juga suka cerita berbau2 misteri gitu). bahasanya gak terlalu ngejelimet tapi indah, gak ruwet, gak ribet & enak dibaca. dari awal sampe akhir nikmatin banget, berasa kayak lagi diceritain sama seseorang gitu dan ceritanya itu nyata. berasa banget nyatanya… bagusss lahh pokoknya. bagusss bangettt ^_^b

    Juwita Itaita Purnamasari

    27 September 2011 at 15:42

  63. Reblogged this on PAUS ANTARTIKA and commented:
    Hantu Nancy oleh Ugoran Prasad

    pausantartika

    8 Januari 2013 at 13:58


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: