Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Dua Perempuan di Satu Rumah

with 9 comments


Sampai tiba hari kematiannya, Oktober 1984, Seto sudah melakukan enam perbuatan tak pantas, memecahkan tempurung lutut anak buahnya yang berkhianat, dan menulis 37 puisi yang menyedihkan. Ia ditembak mati pada dini hari dan mayatnya dibuang di dekat petak-petak tambak di pesisir utara Semarang dan kelihatannya memang sengaja ditaruh di tempat yang mudah dilihat orang. Ketika hari terang, tiga orang yang berangkat mengail menemukan mayat Seto terbungkus karung. Umurku 5 tahun ketika pemberantasan misterius itu berlangsung dan ibuku 26 tahun. Sebulan setelah melewati usia 30, ibuku meninggal, sebagian karena sedih dan sebagian karena penyakit parah di tenggorokannya. Dalam dua tahun terakhir hidupnya, ia tidak bisa bicara dan tampak seperti cacing.

Seto mati pada usia 30 tahun kurang tiga bulan, kurang lebih sama dengan umurku sekarang. Aku sedang membaca puisi-puisi murungnya di kamarku dan tidak bisa tidur hingga larut malam dan merasakan desakan takdir untuk menuliskan cerita ini. Kupikir waktuku tinggal sedikit lagi untuk menyampaikan apa yang ingin kusampaikan.

Kautahu, air cucuran atap jatuhnya pastilah ke situ-situ juga; dan aku tak akan berbeda jauh dengan ibu dan Seto, ayahku, yang keduanya sama-sama mati di seputar usia 30-an. Jadi kurasa aku akan segera mati dan cerita ini akan menjadi satu-satunya cerita yang pernah kutulis. Dan jika takdirku seperti itu, hanya akan menulis satu cerita, Setolah yang sepanjang hidup ada di benakku. Bertahun-tahun aku membaca puisi-puisinya, yang kutemukan di peti peninggalan ibu, dan dari bahan itu aku akan menulis masa kecil Seto, ayah yang tak benar-benar kukenal namun mewariskan kepadaku nama buruk yang membuatku terbanting-banting.

Namun aku tidak membencinya; aku hanya ingin menulis cerita tentangnya. Ini hanya sebuah cara mengenali dari mana diri kita bermula lalu tumbuh merambat, melata, dan terlunta-lunta. Maka, sampai di sinilah pengantarku dan kita masuk ke ”aku” lain yang bukan aku: dialah ayahku….

”Seto! Ayo dikunyah! Cepat ditelan! Gigimu bakalan keropos kalau cara makanmu begitu!”

Ibu menjaga tertib rumah kami dengan mulut yang ribut. Ia berisik ketika menyuapiku makan. Ia berisik ketika memaksaku mandi meskipun aku masih ingin bermain-main. Ia selalu memaksaku tidur siang meskipun aku tidak mengantuk. Dan ia memaksaku bangun ketika aku masih mengantuk, dan langsung menjejaliku sarapan sebelum aku benar-benar sadar.

Ia membuatku ogah-ogahan. Aku mandi dengan cara duduk saja tanpa segera mengguyurkan air; aku makan dengan cara berlama-lama menahan nasi di mulutku; aku tak cepat menyahut ketika ia memanggilku. Ibu akan semakin bising dan aku semakin tidak mengantuk jika ia menyuruhku tidur siang. Kata ayah, itu karena ibu mencintaiku. Aku tidak percaya pada apa yang ia katakan, tetapi aku menyukai caranya bicara. Ia pasti meletakkan aku di pangkuannya jika ingin mengajakku membicarakan ibu, dan aku menikmati obrolan dengannya meskipun tidak semua omongannya tentang ibu bisa kupercaya.

Sering aku memberontak pada ibu, dan ibu akan melaporkan hal itu sore hari sebelum ayah menanggalkan baju kerjanya, dan pernah suatu hari kudengar ayah bilang, ”Kau sendiri, apa tidak capek ribut sehari-harian dengan anak?”

”Kalian ayah dan anak sama saja,” balas ibu sengit.

Malam itu, ketika ibu sedang menidurkan adikku, ayah mengajukan pertanyaan setelah ia memuji gambar yang baru selesai kubuat—pertanyaan yang sudah sering kudengar.

”Kau tidak menyayangi ibu, Seto?”

”Tidak.”

”Begitu rupanya?”

”Ia marah-marah terus.”

”Karena ia menyayangimu.”

”Tapi ia marah-marah terus.”

”Mungkin kau membuatnya kesal.”

Aku memberontak hendak turun dari pangkuannya, tetapi ia menahanku dan mengelus-elus kepalaku. ”Kurasa kalian lebih baik bersahabat,” katanya.

”Aku tidak mau,” kataku.

”Tidak ada masalah,” katanya. ”Aku cuma bilang lebih baik kalian bersahabat. Kalau kau tidak mau, aku tak bisa memaksamu.”

”Tapi aku sebetulnya mau bersahabat, asalkan ia tidak ribut.”

”Kurasa ia akan senang sekali mendengarnya.”

Ayahku orang baik dan ia bilang ibuku orang baik, tetapi kadang mereka ribut juga—bisanya ibu yang memulai: Kenapa kau tidak menelepon? Kenapa makan pagimu tadi seperti anak cacingan? Kenapa tidak memberi tahu kalau pulang agak telat?

Kurasa ibuku menganggap urusan-urusan yang demikian itu sangat penting dan sepertinya ayah tidak beranggapan begitu. Karena itulah mereka kadang-kadang ribut. Tetapi mereka pasangan yang baik dan seterusnya tetap berpasangan secara baik meskipun ayahku kemudian mengubah dirinya dan aku menjadi bingung harus memanggilnya apa. Ia masuk ke rumah sakit suatu hari, setelah berhasil menjual tanah warisan orang tuanya, dan pulang ke rumah sebagai perempuan. Ia tak pernah berpikir bahwa itu akan memberiku banyak kesulitan.

Di awal-awal perubahannya, aku masih sering keliru memanggilnya ayah. Tetapi sebutan itu tak cocok lagi untuknya dan aku tak menemukan sebutan baru. Aku menjauhinya karena tak menemukan sebutan yang tepat untuknya.

Ia tetap mendekatiku. Ia masih suka meraihku dan mendudukkanku di pangkuannya dan ia tahu bahwa kunang-kunang berasal dari kuku orang mati. Itu membuat perasaanku tak menentu jika melihat kunang-kunang di hari liburan sekolah ketika ibu membawaku menginap beberapa hari di rumah orang tuanya—sebuah rumah di dekat sawah, dua jam naik bus dari kota kami. Di sana aku merasa seperti berada di dalam kepungan kuku-kuku hantu.

Aku bisa merasakan bahwa ia ingin selalu bersikap sama kepadaku meskipun ia sudah menjadi perempuan dan payudaranya lebih menggunduk ketimbang payudara ibuku. Aku merasakan payudara itu menyentuh punggungku ketika aku duduk di pangkuannya dan aku tak tahu harus memanggilnya apa. Ia masih suka menanya-nanyakan pelajaran sekolahku, tetapi kini suaranya terdengar sengau di telingaku dan aku tak ingin menjawab apa pun yang ia tanyakan dengan suara sengaunya. Sampai kapan pun suara itu tak enak didengar, tetapi ia tetap baik kepadaku dan masih suka mendudukkanku di pangkuannya, hanya saja lidahku tak lancar lagi berbicara dengannya.

Pernah kutanyakan kepada ibu, ketika kami sedang berdua saja di rumah, kenapa ayah menjadi perempuan. Ibu mengatakan entahlah. ”Aku menikah dengan lelaki, tetapi sekarang ini harus berumah tangga dengan perempuan meskipun aku bukan lesbian,” katanya. Bertahun-tahun kemudian, aku menyadari bahwa semestinya ibu tidak menjawab dengan cara seperti itu kepadaku. Ucapan yang getir tak semestinya disampaikan oleh seorang ibu kepada anaknya; lagi pula waktu itu aku tidak tahu apa yang ia maksud lesbian.

Namun mereka tetap pasangan yang baik dan aku tetap tinggal serumah bersama mereka, dengan lidah yang tak tahu harus memanggil apa kepada ayahku. Ayahku hampir setinggi ambang pintu dan kini ia tampak seperti perempuan raksasa. Dan ibu menjadi perempuan yang tak peduli. Ia tidak lagi cerewet dan aku diam-diam menginginkan ia kembali bising seperti semula. Kau tahu, sejak ayahku menjadi perempuan, ibu tidak lagi memaksaku mandi, mengunyah nasi cepat-cepat, atau tidur siang; ia sepertinya mencabut semua larangan. Aku sendiri pun tidak banyak keluar bermain dengan teman-temanku. Paling-paling aku duduk-duduk saja di pekarangan belakang. Di sana ada kalkun piaraan dan, meskipun aku tidak membenci ayahku, aku ingin melihat binatang ini mematuk teteknya.

Ayah masih sering keluar rumah, pergi seharian, dan kulihat ia sudah jarang atau mungkin tidak pernah lagi berkumpul dengan bapak-bapak lain di kampung. Ia tidak lagi datang ke arisan bapak-bapak setiap bulan, tapi juga tidak ikut arisan ibu-ibu. Sampai aku kelas enam SD, ayahku masih suka meraihku; aku semakin menjauh dari jangkauannya karena sudah hampir ujian dan aku tidak ingin mendapatkan banyak kesulitan.

Teman-temanku di sekolah, yang akhirnya tahu bahwa ayahku berubah menjadi perempuan, mengatakan bahwa ayahku banci. Mereka benar, kautahu, tetapi aku sesungguhnya marah sekali mendengar mereka mengatakan ayahku banci. Ayahku berbeda dari ayah mereka, aku sendiri tahu itu. Di antara ayah-ayah kami, hanya ayahku yang pergi ke rumah sakit untuk membesarkan payudara di dadanya. Persoalannya, mereka tak bisa menjaga mulut mereka sementara aku tak bisa membuka mulutku untuk membalas mereka. Aku menjadi mudah demam, pilek, dan sakit- sakitan; mungkin karena memendam kemarahan.

Tetapi aku pernah benar-benar tak tahan dan itu terjadi pada bulan puasa. Tenggorokanku kering dan mataharinya panas sekali dan aku sedang berjalan menunduk dengan langkah buru- buru, menyempal dari teman- teman yang berjalan bergerombol sepulang sekolah. Lalu kudengar suara di belakangku memanggil, hai anak banci. Kautahu, orang yang berpuasa memang mudah mendapatkan godaan; saat itu aku menoleh dan menghentikan langkah dan menanyakan siapa yang memanggilku anak banci.

”Aku,” kata salah satu temanku.

”Ayahmu buntung,” kataku.

Kami berantam. Ia tidak suka mendengar itu meskipun aku mengatakan yang sebenarnya— kaki kiri ayahnya memang buntung. Kupikir mereka seharusnya juga tahu bahwa aku tak suka jika mereka mengatakan ayahku banci.

Mereka berenam menyantapku dan aku pulang ke rumah dengan muka lebam dan kepala berdarah; dadaku nyeri sekali oleh jotosan dan rasa marah yang tak pernah tersingkirkan sampai bertahun-tahun kemudian. Malamnya aku demam tinggi dan keesokannya ibu membawaku ke rumah sakit. Luka di kepalaku harus dijahit.

Ibu berbohong sewaktu mengisi blangko yang harus diisi. Nama Ayah: Lindu Praptanto. Itu nama yang tidak ada lagi di rumah kami, sebab kini ayahku sudah mengganti namanya menjadi Linda Praptanto, terasa seperti nama artis. Ia tetap mempertahankan nama belakang yang kini terdengar seperti nama ayahnya. Kautahu, artis-artis sering menggunakan nama ayah mereka di belakang nama mereka sendiri. Misalnya Adi Bing Slamet, karena nama ayahnya Bing Slamet; Sari Yok Koeswoyo, karena nama ayahnya Yok Koeswoyo. Namun tidak selalu begitu. Darto Helm, misalnya, tentu bukan karena ayahnya bernama Helm.

Empat hari aku menginap di rumah sakit.

”Kenapa ayah menjadi banci?” tanyaku pada ibu ketika ia menjengukku. Aku sudah pernah menanyakan hal yang sama sebelumnya tetapi ibu hanya menyodorkan suara getirnya dan itu bukan jawaban.

”Tanyakan sendiri padanya.”

Aku tidak ingin menanyakan apa pun kepada ayah, dan sepertinya ibu bisa membaca apa yang tidak kuinginkan. Akhirnya ia bilang, ”Ayahmu sudah gila.”

Itu juga bukan jawaban.

Sekalipun aku tetap bingung kenapa ayahku tiba-tiba menjadi perempuan, dan aku merasa tidak nyaman lagi duduk di pangkuannya dan tidak ingin bicara dengannya, namun aku tidak bisa mendengar ibuku mengatakan ayahku sudah gila. Aku tetap meyakini bahwa ia tidak gila, hanya saja bagi ibuku ia memang mungkin sudah gila.

Tidak pernah kubenci ayahku, dia pernah menjadi ayah yang baik, namun kuharap ia paham jika aku menghindarinya. Sejak masuk SMP aku bergaul dengan teman-teman yang suka merokok dan aku juga merokok dengan congkak di rumah. Ibuku tidak peduli apa yang kulakukan. Ia benar-benar sudah mencabut semua larangan. Ayahku mengingatkan bahwa belum saatnya aku merokok. Kukatakan kepadanya, ”Kau bukan ayahku. Apa pedulimu?”

Ia tak bisa apa-apa.

Dan seterusnya ia tak bisa apa-apa ketika aku tumbuh sesukaku dan mulai mabuk dan membuat keributan di tempat mangkal para banci. Ada dua alasanku untuk melakukan hal ini. Pertama, para banci itu akan melengking-lengking berisik sekali. Aku senang mendengar mereka berisik karena ibuku tak lagi berisik dan aku merindukan keberisikannya. Kedua, aku mau ayah menjauhiku. Aku tahu bahwa ia tetap ingin dekat denganku, dan aku sesungguhnya sedih menyakiti perasaan orang yang tetap ingin dekat denganku. Bagaimanapun, aku masih menyimpan ingatan baik tentangnya sebagai ayah yang menyenangkan. Kupikir rasa bersalahku akan sedikit berkurang jika ia membenciku; karena itulah aku menunjukkan tindakan tidak hormat kepada orang-orang sepertinya. Kau tahu, sebelum aku membangun dan mengepalai kelompokku, aku sudah pernah menyiksa enam orang banci meski tak ada salah mereka kepadaku. Aku hanya berharap ayah membenciku dan menjauhiku.

Jumat, 8 Juni 2003-Senin, 3 Agustus 2009

Written by tukang kliping

30 Agustus 2009 pada 10:13

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

9 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. kerennnnnnnn

    ==========================================
    eitsss, puasa2 g boleh klik ini ya!

    wahyu am

    30 Agustus 2009 at 10:25

  2. wah…menyentuh

    tikah kumala

    8 September 2009 at 02:44

  3. Aku selalu hanyut, saat membaca cerpen-cerpen Mas Sulak. Yang ini: sangat memukau!

    heri saliman

    29 September 2009 at 14:42

  4. kalo sga dengan sukab-nya, maka beliau dengan seto-nya…
    whatever.. cerpen ini kurang rampung sepertinya?

    ewing

    2 Oktober 2009 at 20:50

  5. Emmm.. Speechless.. Bagus..

    Blossom

    27 Oktober 2009 at 14:04

  6. Di mana letak pesan profetiknya?
    Bukankah setiap makna kata akan ditanya oleh Sang Pencipta?

    Giy

    31 Januari 2010 at 11:39

  7. Memang benar tentang pepatah yang mengatakan buku tidak bisa hanya dilihat dari sampulnya. Seperti judul cerpen ini yang aku anggap datar. Tetapi isinya memang luar biasa.

    S.Nayogo

    7 Februari 2011 at 19:26

  8. wah aku membaca terharu banget, sayangnya anaknya menjadi rusak.

    gaara

    15 Maret 2011 at 18:45

  9. ..menyntuh bngettt

    wulhan rahman

    16 September 2013 at 13:43


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: