Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Ayat Keempat

with 12 comments


Niat Syahbuddin maju sebagai calon anggota DPRD di Kabupaten Solok disambut hangat keluarga besarnya.

Bagi mereka, itu adalah awal kebangkitan sejarah. Kali pertama anggota keluarga mereka mengajukan diri sebagai calon wakil rakyat. Pertama kali anak kemenakannya maju sebagai calon anggota dewan yang terhormat dan menikmati fasilitas serta hak-hak kedewanan.

Malah Datuk Birahin, ketua suku Caniago, mendukung sepenuhnya dan siap menjadi ketua tim sukses kemenakannya itu.

”Saya siap menjadi ketua The Syahbuddin Center,” kata dia gaya-gaya elite politik nasional yang sering dilihatnya di teve.

”Ini namanya mambangkik batang tarandam. Momen ini adalah kebangkitan bagi suku Caniago yang selama ini dipandang sebelah mata orang lain,” kata dia lagi menambahkan.

”Benar, kita mesti mendukung rencana ini,” ujar datuk-datuk yang lain.

”Syahbuddin harus duduk,” begitu kata mereka serempak.

Maka, keluarlah maklumat suku, semua anggota suku Caniago wajib mendukung Syahbuddin. Segala persoalan yang ada di dalam suku harus dilupakan sementara waktu.

”Sekarang kita fokus ke kampanye. Pokoknya semua akan dilakukan agar kemenakan kita Syahbuddin duduk sebagai anggota dewan terhormat. Apa pun akan dilakukan. Namun, persoalan sekarang kita keterbatasan dalam dana. Kami sebagai tim sukses sudah menghitung-hitung keperluan dana, kita butuh sekitar seratus juta.”

”Seratus juta???” semua mata terbelalak.

Semangat yang semula begitu menggelora padam bagai tersiram air dingin.

Tak ada yang berani menyahut. Tak ada yang berani bersuara atau mengeluarkan pendapat.

Hening sekitar setengah jam.

Di sudut ruangan Syahbuddin mukanya memerah.

Kemudian dia bangkit dari tempat duduknya, berdiri dan memberikan sepatah dua patah kata. Ia juga menuturkan ke mana saja keperluan dana-dana itu.

”Untuk biaya spanduk, kalender, kartu nama sekitar 15 juta, untuk setoran ke partai 30 juta, biaya kampanye diperkirakan 50 juta, serangan subuh…. dan… dan… ini… itu….”

Semua mata masih terbelalak.

”Tetapi, jangan khawatir, semua halangan akan kita selesaikan secara bijaksana. Apa pun akan kami lakukan untuk menggalang dana, termasuk….”

”Termasuk apa Datuk?” tiba-tiba saja suasana rapat suku di rumah gadang itu jadi hening.

Perkataan Johan tidaklah seperti biasanya. Orang-orang tidak menyangka Johan akan berani menginterupsi Datuk Birahin yang sedang berbicara.

Johan bukanlah orang kebanyakan. Ia baru saja tamat kuliah di jurusan sastra Inggris di sebuah universitas di Kota Padang. Jadi, wajar saja ia berani berpendapat.

Ia tahu Datuk Birahin akan mengucapkan kata-kata itu, ia tahu arah tujuan perkataan datuknya itu. Sebagai mantan wartawan kampus sewaktu kuliah, ia mengerti sangat ke mana biduk akan didayung.

Setidaknya ia sudah mendengar desas-desus itu, bahwa Datuk sudah akan menjual tanah pusaka tinggi atau tanah ulayat untuk keperluan kampanye Syahbuddin.

Persoalan muncul karena di atas tanah ulayat itu berdiri tegak rumah yang ditempati Johan dan ibunya.

Jadi, kalau tanah mesti dijual, maka rumah mau dikemanakan. Artinya sama saja mengusir Johan dan ibunya.

Sebenarnya keluarga Johan termasuk keluarga melarat. Ia tidak punya tanah peninggalan kakeknya, karena kebaikan hati Datuk Birahin, ia diizinkan memakai tanah ulayat itu untuk mendirikan rumah.

”Ingat, saya mengizinkan membangun rumah hanya untuk sementara. Kalau ada keperluan seperti sekarang ini, ya harus bagaimana lagi. Kamu harus ingat itu,” kata Datuk Birahin lagi.

Sebenarnya kalau dihitung-hitung, tanah itu harusnya jatuh ke tangan ibunya Johan. Tetapi, baik Johan maupun ibunya tak mau terlalu mempermasalahkan tanah itu. Mereka sibuk dengan urusan kehidupan mereka sendiri.

Ibunya sibuk ke sawah dan Johan sibuk mengajar sebagai guru honorer di sebuah SMP di kampung itu. Tetapi, kalau persoalannya sudah akan menggadai tanah ulayat tempat rumahnya tegak, jelas dia akan mempermasalahkan itu sebab secara hukum adat, ibunya sah sebagai pewaris tanah itu. Apalagi kalau alasannya hanya untuk menutupi biaya kampanye Syahbuddin, mantan perantau yang gagal itu.

”Saya tidak setuju…,” katanya lagi.

Rumah gadang itu jadi hening lagi. Suasana kian memanas.

Hadirin jadi hening. Tidak ada yang menyahut. Datuk Birahin memerah mukanya. Ia tak menyangka Johan akan seberani itu.

”Johan… kau????”

Hadirin jadi hening. Tegang.

Tak ada yang berani menyahut. Jangankan menyahut, bahkan mereka seakan menahan napas untuk beberapa saat.

”Aku tidak setuju… ke mana kami akan pindah?” ujar dia.

Di sudut rumah gadang itu, Nursyiah, ibu Johan, duduk terenyak. Mulutnya seakan-akan mengatakan sesuatu, tetapi ia tak sanggup.

Ia hanya teringat mendiang suaminya, Mardan. Jika Mardan masih ada, tentulah orang tidak akan bisa berlantas angan saja kepadanya.

”Soal pindah, bisa kita bicarakan nanti. Jika duduk, Syahbuddin akan membuatkanmu rumah baru. Lagi pula ini hanya untuk sementara, kalau Syahbuddin berhasil menjadi anggota dewan nanti, tanah itu akan ditebus lagi. Kau dan ibumu bisa tinggal sementara di surau. Lagi pula surau itu kian kotor karena tak ada yang membersihkan. Kalian bisa tinggal di sana.”

Suasana hening dan mencekam. Semua mata terbelalak dengan perkataan Datuk. Siapa juga yang sudi tinggal di surau itu.

Rapat suku Caniago di rumah gadang itu sebenarnya sudah hampir berakhir. Niat Syahbuddin untuk menggadai tanah pusaka tinggi, warisan turun-temurun, hampir kesampaian.

”Apa pun alasannya, saya tetap tidak setuju. Rumah ibu saya yang ada di atas tanah itu ke mana akan dipindahkan?” ulang Johan.

”Tidak bisa Han, kami para pimpinan suku sudah setuju. Apa alasanmu menolak?” Datuk Marajo berang.

”Ingat, kamu itu hanya seorang kemenakan, tidak punya hak untuk mementalkan keputusan adat,” ujar Datuk Suri.

Johan tidak mau peduli, ia bahkan bersikeras, ”Langkahi dulu mayat saya baru bisa tanah itu dijual.”

Kemudian Johan mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya, astaga… keris pusaka. Itulah satu-satunya pusaka peninggalan almarhum ayahnya.

Datuk Suri melompat ke luar rumah. Datuk Birahin terpaku di tempat duduknya. Mukanya kecut. Walau ia seorang datuk, tetapi tak pernah mengalami hal yang seperti ini.

”Johan… jangan….” Dari luar terdengar suara Zakir, temannya memekik.

Zakir kemudian melompat ke dalam rumah gadang dan menenangkan Johan.

”Bunuh saja aku daripada kalian perlakukan seperti ini,” katanya.

Datuk Birahin sibuk membolak-balik buku tambo adat Minangkabau yang kertasnya sudah menguning itu.

Ia mencari-cari dalil adat untuk memuluskan rencana menjual tanah pusaka tinggi itu.

”Dapat…,” kata dia seketika, mukanya cerah.

”Yang mana Datuk,” ujar orang-orang yang ada di dekat situ dan juga sedang membolak-balik buku yang lain.

”Johan itu kan anak kuliahan, dia akan patuh kalau memang aturan memperbolehkan kita menggadai tanah itu.”

Yang lain tersenyum menang.

”Ya, kalian dengarkan baik-baik.”

”Tanah ulayat atau pusaka tinggi di Minangkabau menurut hukum adat boleh saja dijual. Siapa bilang tidak bisa. Tak tahu diadat mereka itu,” ujarnya berapi-api.

”Tanah ulayat bisa dijual dengan tiga alasan, mayat terbujur di dalam rumah, rumah gadang ketirisan, perempuan tidak bersuami.”

”Apa maksudnya Datuk?” sela yang lain.

”Ya dan di mana letak posisi kita sekarang. Bukankah kita sedang mencari alasan menjual tanah itu.”

”Tiga alasan itu, yaitu mayat terbujur di dalam rumah, artinya mayat salah seorang anggota suku kita sedang terbujur di dalam rumah, kita tidak ada biaya untuk menyelenggarakan mayat itu, mulai dari membeli kafan, memandikan, menguburkan, sampai mentahlilkan hingga malam keseratus. Alasan kedua, rumah gadang ketirisan, artinya atap rumah gadang sudah bocor, dinding sudah rusak, tetapi tidak ada biaya untuk memperbaiki. Hal itu jelas untuk menutup malu para anggota suku. Yang ketiga, yaitu perempuan tidak bersuami. Artinya, sebuah keluarga punya seorang perempuan yang tidak bersuami padahal umurnya sudah cukup, bahkan lebih dari cukup, hanya terhalang karena tidak ada biaya. Memang dalam adat Minang untuk menyelenggarakan perkawinan butuh dana sangat besar. Dengan alasan-alasan seperti itu tanah ulayat boleh dijual.”

”Lalu….”

”Ya, di mana posisi kita sekarang. Apa alasan kita menjual, bukankah tidak ada pasal yang mengatakan boleh dijual untuk biaya jadi caleg?” yang lain bertanya.

”Nah, di sanalah letak kuasa datuk kalian ini, tidak salah kalian memilih saya sebagai datuk. Ya, saya sebagai datuk di suku Caniago ini menambah satu ayat, mambangkik batang tarandam. Artinya, boleh dijual untuk menegakkan kembali harga diri suku. Membangkitkan kembali harkat dan martabat suku kita.”

Hadirin hening dengan senyum dikulum.

Memang datuk mereka adalah orang yang pintar dan cerdas.

Maka, jadi juga tanah itu dijual akhirnya.

Waktu sore ketika hujan lebat turun, rumah Johan dibongkar. Barang-barangnya dipindahkan ke surau tua tak berpenghuni itu.

Sebelum dinding diruntuhkan, Johan menepati janjinya sebagai lelaki Minang sejati. ”Langkahi dulu mayat saya.”

Ia membabi buta sore itu. Keris pusaka satu-satunya peninggalan ayahnya tercabut dari gagangnya.

Darah memercak ke atas bumi. Lima orang datuk suku Caniago tergolek bersimbah darah. Johan kini ditahan di kantor polsek.

Sorenya, ia dikunjungi seseorang.

”Apa yang kau lakukan sudah benar anakku. Tanah itu bukanlah tanah ulayat. Itu tanah pembelian orangtuamu. Datuk-datuk itu tahu. Aku siap jadi saksinya. Lagi pula tak ada yang namanya ayat keempat. Itu pandai-pandai mereka saja. Itu sudah merusak adat Minangkabau yang sebenarnya,” kata Datuk Malenggang Alam, Ketua Kerapatan Adat Nagari Air Dingin, memberi secercah harapan bagi Johan.

Written by tukang kliping

9 Agustus 2009 pada 12:27

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

12 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. kebenaran harus diperjuangkan,,,,
    bagus cerpennya,,,,

    unie agus

    10 Agustus 2009 at 14:08

  2. Alur ceritanya bagus. Bahasanya kena, Ada konflik, dan ada kesimpulan.

    Tafaul Rijal

    11 Agustus 2009 at 15:26

  3. jujur,
    cerpen ini rada ringan. kualitas penggarapannya gak kuat. itu sih pendapat gue!

    mala

    11 Agustus 2009 at 17:56

  4. kog ga ada gambarnya kayak Malam Kunang-Kunang?

    nikotopia

    12 Agustus 2009 at 10:07

  5. Bosan dengan cerpen indonesia yg bergaya lokal-lokal. Saya kira model2 beginilah yang membuat sastra kita mandek. terlalu berpatokan pada sastra melayu. kayak lagu2 pop itu yg bikin telinga sakit. untung ada mbah surip dan vicky sianipar yang menyelamatkan kuping saya akhir2 ini. Bukankah penduduk indonesia tidak hanya melayu? intinya angkatan pujangga baru is dead!

    Pembaca Cerpen Luar

    12 Agustus 2009 at 16:20

  6. MAKSUD LHO….?
    lHO JARANG NGIKUTIN PERKEMBANGAN CERPEN INDONESIA SIH@!!!!!!!!!!

    cerpen maniak

    12 Agustus 2009 at 23:52

  7. Kayakna memang agak datar. Ending kurang menegangkan.

    Sidhi

    13 Agustus 2009 at 09:15

  8. Ya. Bandingin aja dengan cerpen-cerpen yang sebelumnya. Malam Kunang-Kunang, kek. Bujang Kurap, kek. Naomi, kek. Ya…. AYAT KEEMPAT, enggak kuat banget penggarapannya!

    Alina

    13 Agustus 2009 at 12:10

  9. Ya, paling tidak cerpen itu dah tembus Kompas bukan? yang lebih paham tentu redakturnya…begitu kan??

    Desi

    2 September 2009 at 08:49

  10. makasih atas segalanya, lain kali aku mau belajar nulis cearpen dengan baik. soalnya aku cuma bisa baca cerpen, kalau nulis nya agak tidak bisa sama sekali. tolong ajari aku biar sama seperti kakak yang lai.

    mohtoyu

    2 Februari 2010 at 15:27

  11. halo mohtoyu….tinggalin emailnya, nanti kita sama-sama diskusi, okeee..tau no kontak boleh…

    desi

    12 Maret 2010 at 14:03

  12. orang yg nggak bisa nulis cerpen pasti comment nya negatif.. ada yg comment,kenapa cerpen itu isinya lokal semua… HEI BUYUNG,.. KALAU KAU MAU CERPEN YG ISINYA TENTANG ADAT KAU,..MISALNYA SI BONGAK CARI BABI HUTAN,..KAU TULIS SENDIRI AJA CERPEN NYA,.. ATAU KAU TAK USAH HIDUP DISINI,.. HIDUP DI LAUT AJA,..DISITU TAK AKAN ADA MELAYU.. bujang kiray ang..

    Paul Sijabat

    19 Maret 2013 at 13:47


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: