Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Malam Kunang-Kunang

with 37 comments


Malam Kunang-Kunang

Merekalah bocah-bocah yang selalu bahagia. Jika malam tiba, mereka akan berlari-lari girang, mengejar-ngejar dan menggapai-gapai kunang-kunang yang berkerlap-kerlip melayang-layang serupa sebaran serbuk cahaya. Mereka jugalah bocah-bocah yang menghadirkan tawa dan canda di lembah itu hingga membuatnya hidup, terasa dihuni.

Selebihnya adalah gelap. Listrik belum masuk dan orang-orang dewasa terlalu sibuk dengan urusan ranjang. Maka, belum genap malam, bocah-bocah pun diusir pergi ke luar rumah, ke surau untuk mengaji atau berlatih silat ke lapangan sepak bola asalkan jangan bermain kunang-kunang. Karena bagaimanapun, orang-orang tua tetap meyakini kunang-kunang sebagai jelmaan kuku-kukunya orang mati. Jika menjadikannya sebagai mainan, maka akan menyebabkan kesialan.

Untunglah sekumpulan bocah-bocah pencinta kunang-kunang ini mendapatkan pelajaran ilmu kehewanan di sekolah sehingga mereka tahu bahwa kunang-kunang tak lebih dari sejenis serangga yang bisa mengeluarkan cahaya yang akan tampak jelas jika gelap malam menyungkup dunia. Mengapa kunang-kunang bisa menghasilkan cahaya dan mengapa dengan cahaya itu tubuhnya sendiri tidak kepanasan atau terbakar, tentu juga bukan lagi menjadi rahasia bagi mereka.

Pak Guru Sadirun pernah menguak semua rahasia mengenai makhluk yang bernama kunang-kunang itu. Berdasarkan buku teks pelajaran, Pak Sadirun menjelaskan bahwa di dalam tubuhnya, kunang-kunang memiliki zat kimia lusiferin dan enzim lusiferase. Untuk menghasilkan cahaya, dua zat ini bercampur. Percampuran ini menghasilkan energi dalam bentuk cahaya. Cahaya itu pun sifatnya dingin, tidak mengandung ultraviolet dan sinar inframerah. Ia memiliki panjang gelombang 510 hingga 670 nanometer dengan warna merah pucat, kuning, atau hijau. Kunang-kunang termasuk dalam golongan Lampyridae yang merupakan familia dalam ordo kumbang Coleoptera. Ada lebih dari dua ribu spesies kunang-kunang yang dapat ditemukan di daerah empat musim dan tropis di seluruh dunia. Spesies ini dapat ditemukan di rawa atau hutan yang basah di mana tersedia banyak persediaan makanan untuk larvanya.

Maka, dengan berkah pengetahuan itu, bocah-bocah ini menjadi tak pernah khawatir dengan larangan orangtua mereka dan mereka tak pernah takut akan kesialan. Bagaimanapun, mereka tetap berlomba-lomba menangkap kunang-kunang. Siapa yang mendapat paling banyak akan dinobatkan sebagai Raja Kunang-kunang. Kesenangan dan kebahagiaan itu tak tergantikan. Hingga, akhir-akhir ini mereka pun tak lagi mendatangi guru mengaji atau guru silat mereka karena kunang-kunang memiliki lebih banyak pesona.

Untuk menghadirkan kunang-kunang, mereka biasanya mendendangkan berulang-ulang nyanyian kunang-kunang itu:

Hai kunang-kunang, datanglah, datanglah…..

Jangan malu-malu pada rindu malam-malam…..

Hai kunang-kunang datanglah, datanglah…..

Jangan ragu-ragu kami tunggu, kami rindu…..

Kunang-kunang sepertinya sudah begitu akrab dengan suara-suara itu sebab setelah nyanyian itu mengalir, sekumpulan kunang-kunang dari semak, dari pepohonan, dan dari mana pun akan melayang-layang menyatu menyerbu para bocah itu, merelakan diri untuk ditangkap tangan-tangan lugu, tangan-tangan milik makhluk yang tak punya hasrat membunuh, mereka yang hanya ingin bermain dan menikmati permainan masa kanak yang bukanlah lagi menjadi suatu bagian diri jika kelak mereka dewasa. Bagaimanapun, tangan waktu dan zaman akan berperan mengubah mereka.

Kunang-kunang yang tertangkap akan dikumpulkan di dalam botol masing-masing. Jika malam sudah genap dan embusan angin lembah mulai membuat kunang-kunang melayang tak tentu arah, maka mereka akan berhenti dan mulai menghitung hasil tangkapan mereka di pos ronda.

Tak ada yang bisa menyaingi rekor predikat Raja Kunang-kunang yang sudah dibuat oleh Yasser Arafat. Hampir selalu, bocah bertinggi badan melebihi sebayanya ini menjadi pengumpul terbanyak. Bagaimana tidak, dia memiliki jangkauan lompatan tertinggi. Dia juga yang paling kuat berlari. Pernah memang, predikat Raja Kunang-kunang menjadi milik Anhar Alifudin. Itu terjadi semata karena Yasser Arafat yang sakit tidak bisa ikut bermain.

Malam ini, Yasser Arafat berhasil mengumpulkan lima puluh kunang-kunang. Kontras dengan Baraq Syariati yang hanya mendapatkan lima kunang-kunang. Dengan badannya yang kecil, Baraq tak pernah mampu melompat lebih tinggi. Juga tak kuat berlari. Dengan begitu, dialah yang selalu menjadi pecundang sejati dan rutin menjalani hukuman dengan mencabut dan mengambil singkong dari kebun milik orang terkaya di dusun itu: Juragan Hussein Akbar.

Usai dihitung semua dan Raja Kunang-kunang sudah diketahui siapa, maka kunang-kunang kembali dilepas. Bocah-bocah bersorak dan kunang-kunang berkerlap-kerlip riang, merasa bangga sudah bisa menghibur sekaligus terhibur berkat tingkah bocah-bocah lugu itu.

Dingin mulai menusuk. Bocah-bocah mengembangkan sarung dan memakaikannya ke badan. Ranting-ranting kering dikumpulkan dan dibuatlah api unggun pengusir dingin di depan pos ronda. Setibanya Baraq Syariati yang membawa singkong-singkong dari kebun Juragan Hussein Akbar, mulailah mereka memanggang.

Kenyataannya, pos ronda yang sudah menjadi markas mereka itu tak pernah lagi digunakan. Orang-orang tua di lembah itu tak bisa setia menjalankan apa yang sebenarnya sudah mereka rancang sendiri. Jika mengharapkan partisipasi para pemuda, tentu tidak bisa sebab semua pemuda dari dusun itu merantau ke kota-kota. Giliran ronda untuk bapak-bapak memang pernah berjalan. Namun, karena dingin lembah itu tak tertahankan dan wajah istri selalu membayang, serta tak pernah ada peristiwa kemalingan, mereka pun tak lagi setia dengan kewajiban masing-masing. Fakta itu justru membuat bocah-bocah pencinta kunang-kunang ini senang. Mereka mendapatkan markas untuk rehat usai bermain.

Sehabis menyantap singkong panggang, tentu banyak angin yang harus dibuang. Dan, bocah-bocah itu menjadikannya sebagai bahan permainan selanjutnya, yaitu perang kentut. Kemenangan dan predikat sebagai Raja Kentut sama prestisiusnya dengan Raja Kunang-kunang. Bagaimanapun, penilaian tidak didasarkan semata pada bunyi yang dihasilkan, tapi juga pada bau yang mematikan. Jika kentutnya berbunyi keras dan berbau busuk, tak diragukan lagi dialah sang juara sejati. Untuk urusan yang satu ini, pemegang rekornya adalah Hang Jebad, bocah paling tua di kumpulan itu.

Biasanya, sehabis perang kentut, malam sudah larut sempurna. Bocah-bocah menyadari itu dan pulanglah mereka segera dan tidur lelap setibanya mereka di pembaringan.

Bocah-bocah pencinta kunang-kunang berkumpul seperti biasanya malam ini. Di sekitar tanah lapang, tak jauh dari semak. Mereka melantunkan dendang kunang-kunang, mengundang kunang-kunang untuk datang bermain bersama sebagaimana biasa:

Hai kunang-kunang, datanglah, datanglah…..

Jangan malu-malu pada rindu malam-malam…..

Hai kunang-kunang datanglah, datanglah…..

Jangan ragu-ragu kami tunggu, kami rindu…..

Meski telah diulang-ulang berpuluh-puluh kali, dendang itu tak sanggup mendatangkan kunang-kunang. Mereka menjadi heran. Setahu mereka, semenjak pertama mendendangkan nyanyian sekaligus mantra pemikat itu, ratusan kunang-kunang terindah dari segenap penjuru lembah selalu berdatangan. Namun, malam ini, semuanya terasa lain, tak ada kunang-kunang yang berkerlap-kerlip terbang mendekat. Maka, lembah itu pun benar-benar menjadi mati dan bocah-bocah itu, untuk kali pertama dirasuki kekecewaan. Apa yang terjadi? Apakah ada kumpulan bocah-bocah lain yang membuat kunang-kunang itu lebih tertarik mendekat ke sana? Bocah-bocah itu tenggelam dalam pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab.

Malam makin pekat dan awan menghitam dan hujan pun tumpah. Bocah-bocah berlari-lari dalam hujan, berupaya menggapai pos ronda. Di pos ronda, dalam hawa yang dinginnya melumat tulang, bocah-bocah itu membuat diri senyaman-nyamannya dalam penantian. Hujan tampaknya tak segera habis dalam waktu dekat. Anak-anak memutuskan untuk tetap bertahan. Percuma juga mereka pulang di malam yang belum genap seperti sekarang karena pintu rumah masih rapat terkunci. Barulah dibuka kuncinya jika malam sudah larut dan orang tua mereka sudah menyelesaikan ritual hiburan ranjang.

Dalam hujan badai dengan angin yang merontokkan dedaunan itu, bocah-bocah itu mendengar derum sebuah truk yang tenggelam dalam tunggal nada hujan. Jauh dari sini, mereka bisa menangkap—meski tak begitu jelas—gerakan lamban truk itu di sana. Awalnya mereka mengira itu truk milik Juragan Hussein Akbar yang biasa pulang malam sehabis menjual hasil pertanian ke kota, tapi nyatanya bukan. Truk milik Juragan Hussein Akbar berwarna kuning. Meski dalam gelap, kuningnya tetap akan terlihat dari kejauhan. Tetapi, truk yang satu itu berwarna gelap dan tertutup tenda di bagian belakangnya. Tak berapa lama kemudian, truk itu berhenti di tepi jurang.

”Mungkin mesinnya mogok.”

”Mungkin bannya terendam lumpur.”

Mereka pun hanya bisa mengira-ngira apa yang melanda truk itu karena gelap kembali berkuasa setelah dua lampu sorot pada truk itu mati. Truk itu berhenti sekitar setengah jam lamanya di sana dan bocah-bocah pencinta kunang-kunang masih juga berteduh menanti hujan berhenti.

Kedua lampu pada truk itu hidup lagi dan truk itu bergerak perlahan meninggalkan tepi jurang kemudian berbelok di pertigaan, mengambil jalan ke arah kecamatan. Bocah-bocah itu hanya melihat kepergian truk itu dari kejauhan.

Beberapa jam sepeninggalan truk itu, hujan pun reda. Malam sudah larut dan bocah-bocah itu memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing. Namun, mereka segera membatalkan niat itu setelah melihat kemunculan kerlap-kerlip kunang-kunang di sekitar tepi jurang, di lokasi berhentinya truk tadi.

Maka, bocah-bocah itu pun berlari riang ke arah kunang-kunang itu dengan segera. Semakin banyak kunang-kunang, semakin girang bocah-bocah. Satu hal yang pasti, kunang-kunang itu tampak tak banyak beranjak. Mereka hanya mengambang bertahan di atas jurang. Meski bocah-bocah sudah mendekat, tetap saja kunang-kunang tak terbang.

Setiba mereka di tepi jurang, bocah-bocah itu didekap rasa penasaran menyaksikan kunang-kunang yang semakin banyak bermunculan dari dasar jurang yang gelap. Bocah-bocah itu tak jadi menangkap kunang-kunang itu. Mereka justru turun ke dasar jurang demi memastikan apa yang ada di sana.

”Mungkin di sana ada kerajaan kunang-kunang.”

”Mungkin….”

Pelan-pelan, mereka menapaki jalan kecil menuju jurang yang licin dan basah. Sesampai mereka di dasar jurang, Baraq Syariati terjatuh. Ia tersandung sesuatu. Anhar Alifudin segera menyalakan senter. Gelap sedikit terusir dan mereka kini mengetahui bahwa Baraq terjatuh karena tersandung sesosok tubuh, sesosok mayat.

Serta-merta mereka dilanda kepanikan yang tak tanggung-tanggung karena tak hanya ada satu mayat saja. Di situ menumpuk banyak mayat dan sudah berbau busuk dan kunang-kunang indah pun semakin banyak. Mulanya kuku-kuku yang terlepas dari jari kaki dan tangan mayat-mayat itu mengambang untuk kemudian menjelma titik-titik cahaya, menjadi kunang-kunang yang indah rupa.

Tak bisa tidak, bocah-bocah itu pun berlari ketakutan meninggalkan jurang itu, meninggalkan tumpukan-tumpukan orang mati dengan luka-luka tembak itu, meninggalkan ribuan kunang-kunang dengan keindahan yang memesona, makhluk-makhluk baru yang menjelma dari kuku-kuku mayat-mayat yang dilemparkan begitu saja dari dalam truk tadi.

Maka, malam itu, wajah dusun kecil di lembah tersebut menjadi terang benderang sebab beribu-ribu kunang-kunang yang baru lahir berpesta dan inilah malam terindah milik mereka semata: malam kunang-kunang.

Tarakan, 25-26 Maret 2009

Written by tukang kliping

2 Agustus 2009 pada 14:35

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

37 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Saya suka sekali dongeng ini, kosepnya sederhana, alurnya santai, pas aja. ibarat bikin teh gulanya pas, ga manis sekali, ga hambar. ^n^ hehehehe

    pokoknya cerpennya bagus. mudah-mudahan bisa masuk kumpulan cerpen kompas 2010 nie, amin. . . mudah-mudahan.

    selamat telah melahirkan Malam Kunang-Kunang, untuk Rama Dira.
    saya tunggu karya anda yang lainnya.

    Nikotopia

    3 Agustus 2009 at 00:29

  2. numpang tanya ni,.. ^_^
    kalo kompas menerbitkan kumpulan cerpennya berapa bulan sekali ya?
    buat referensi skripsi ni,.. ^_^
    thx sebelumnya,..

    Trisna

    3 Agustus 2009 at 01:07

  3. Rama Dira ini Rama Dira J bukan ya?
    Kalo orgnya beda, selamat deh ada penulis baru di Kompas…Tapi kalo Rama Dira J lagi…cape deeeh…🙂

    A

    3 Agustus 2009 at 07:49

  4. biasanya memang penulis yang itu itu juga….

    mountnebo

    3 Agustus 2009 at 12:46

  5. @; A (Mbak atau Mas, ya?)

    emang Rama Dira J kenapa? udah sering nongol ya Mas/Mba?
    tapi bener kog ini bagus, saya sampe salah nyebut kumpulan kompas 2010. Seharusya 2009 yak, kan yang 2008 Smokol-nya Nukila Amal. hehehehe ^n^

    Lam kenal buat semua yang senang membaca Cerpen-cerpen Kompas. jadi pengen nulis cerpen juga. bisa gak ya nembus kompas?

    butuh guru menulis cerrpe nie.

    nikotopia

    3 Agustus 2009 at 13:42

  6. @nikotopia

    Iya bagus kok bos, tapi kalo di SEMUA MEDIA penulisnya itu2 aja lama2 berasa bosen juga.
    Kayak makan mi instan tiap hari…atau nonton tv acaranya sinetron semua…🙂
    Salam kenal juga.

    A

    3 Agustus 2009 at 16:10

  7. Halo semuanya.
    yang jelas, saya sudah jungkir balik untuk bisa menembus Kompas dengan selalu menghasilkan karya dan mengirimkannya ke Kompas sejak 2002. Mungkin sudah ada sekitar 30-an karya yang saya kirimkan dan baru Februari 2009 cerpen saya Kucing Kiyoko bisa tembus dan dimuat di Kompas. Jadi, buat para penulis yang baru memulai, jangan terlalu naif menilai pemuatan karya seseorang di Kompas.Jangan menganggap nama-nama itu saja yang dimuat. Fakta menunjukkan sejak 2007, Kompas sudah memberikan ruang yang begitu leluasa pada nama2 baru. Lihat saja Sungging Raga. Sebelumnya belum ada karyanya di media manapun. Beberapa bulan lalu cerpennya Senja di Taman Eawood, yang memang bagus dimuat juga di Kompas. Lihat juga cerpen Bujang Kurap kemarin. Penulisnya belum punya nama lho. Dan belum ada juga sebelumnya karya yg bersangkutan di muat di media lain. Dan mereka-mereka ini adalah orang2 yg sudah jungkir balik juga biar karyanya bisa dimuat Kompas. Jadi, jangan merasa paling punya kerja keras dan sudah layak dimuat Kompas, trus sirik dengan karya cerpenis lain yang dimuat di Kompas.

    So, berjuanglah. Jangan menyalahkan orang lain..

    Rama Dira J

    4 Agustus 2009 at 05:52

  8. @Rama Dira J

    Salam bung Rama. Perlu saya luruskan sedikit…Mungkin saya tidak mewakili kawan2 lain di sini, ini pendapat pribadi saya saja ya:

    1.Mengenai komen saya sebelumnya, saya rasa sudah cukup jelas: Saya sudah banyak membaca karya anda di berbagai media.
    Mmg betul di Kompas anda baru dua kali, tapi di media lain karya anda cukup banyak.
    Saya lihat karya Sungging Raga dan Benny Arnas juga sudah pernah dan mulai banyak dimuat di media lain.
    Dan untuk itu saya SALUT pada anda semua. Seperti saya sudah bilang di atas: Karya anda bagus kok.

    2.Saya tidak mewakili pendapat kawan2 lain yg menganggap ada semacam “konspirasi” di media2 nasional atau lokal untuk mengutamakan karya2 penulis “langganan”
    TAPI
    saya hanya mempertanyakan: Di mana keragaman karya sastra koran kita?

    Mungkin media bisa beralasan karya yg bagus mmg cuma itu2 saja,
    TAPI
    bisa juga dipertanyakan: Bagus menurut siapa?
    Belum lagi masalah variasi tema, yg khusus untuk Kompas belakangan saya nilai mulai monoton.

    Jadi intinya bung Rama, kalo saya banyak mengkritik di tempat ini, kritik saya kebanyakan untuk MEDIANYA, bukan untuk penulisnya.
    Penulisnya rata2 mmg bagus kok.

    Terima kasih jg untuk klarifikasi anda ttg “teori penulis langganan”. Anda sendiri sudah buktikan, TIDAK ADA yg bisa masuk media tanpa kerja keras.

    Semoga cukup jelas. Salam.

    A

    4 Agustus 2009 at 10:41

  9. Waduh!! Seru niii!
    Ya udah Mas Rama Dira J., tanggapin positif aja tanggapan dari “A” atau yang lainnya. Seperti apa pun komentar mereka yang jelas mereka telah menaruh perhatian pada karya-karya Anda (atau kita). Mengenai perjuangan Anda menembus KOMPAS, saya dapat merasakan itu. Tiba-tiba saya merasa (perjuangan) saya benar-benar tak ada apa-apanya dibanding Anda (Cerpen pertama saya di KOMPAS (07/12/08) adalah cerpen yang saya kirimkan ke-6 kalinya–saya mulai nulis cerpen pada akhir 2007). Saya perlu belajar banyak dari Anda. Salam kenal. Gud LUck!

    Benny Arnas

    5 Agustus 2009 at 22:26

  10. Cerpen Benny dan Rama kok rada-rada mirip sih?!
    Maksudnya sama-sama ada kesan “Dongeng” gitu.
    KOk KOMPAS gitu sih?!!!

    Fitria Musa

    5 Agustus 2009 at 22:45

  11. @Benny Arnas

    Selamat bergabung mas Benny. Tujuan saya menanggapi memang positif kok, saya tidak menilai karya2 Bung Rama atau yg lainnya jelek,
    saya cuma mengungkapkan KEJENUHAN saya aja karena hampir tiap minggu menemukan nama2 yg sama di berbagai media.

    No offense buat anda2 yg penulis, sebagai perbandingan: mungkin di tahun 80an saya termasuk penggemar karya2 Arswendo Atmowiloto, tapi di tahun 2000an ini saya sudah jenuh dgn karya beliau. Membaca satu paragraf saja rasanya sudah tidak tertarik lagi.
    Bukan berarti tulisan beliau jelek kan?
    Saya yakin tulisan beliau tetap bagus.

    Itu yg saya sebut seperti mi instan atau sinetron di tv. Mungkin mi instan enak, tapi bosan juga kalau harus makan tiap hari. Semoga cukup jelas.

    A

    5 Agustus 2009 at 23:09

  12. ~A

    namanya juga Pengarang lagi dapet ispirasi, trus dikirim ke beberapa media cetak, trus si medianya ngerasa cocok ama cerita si penulis dicetak deh.

    mungkin Mas/Mbak A (wekekekeke masih ga tahu jenis-nya, Peace A, heheheh ^n^) dikerjain ama Gusti Allah, kog ya ndelalah minggu ini baca cerpennya Asoy (bukan nama pengarang sebenarnya) di media Geboy (buka nama media sebenarnya) trus passs beli koran Bohay (bukan media yang sebenarnya lagi) eh cerpennya Asoy lagi sampe 3 minggu berturut-turut lagi. eneg juga sie kaya sebulan makan mie.

    mau nyalahin sapa donk? mosok penulisya, mosok media-nya, mosok Gusti Allah (kan yang ngasih ispirasi)

    walah jadi mumet dewe!!
    pokoknya as/Mba/bung A Baik kog mas Rama Dirja.
    begitu juga sebaliknya.

    Lam kena buat Akang Benny Arnas
    saya juga pengen belajar nulis cerpen.

    nikotopia

    6 Agustus 2009 at 10:37

  13. @ Benny Arnas : Salam kenal juga, Bung. Cerpen Anda bagus. Saya kebetulan punya istri Wong Plembang. Dia juga menikmatinya. Mengenai Komen yg diberikan oleh A kemarin, sudah jelas ada klarifikasi dari yg bersangkutan bahwa A tidak menaruh sirik pada saya atau penulis lainnya. A hanya merasakan kejenuhan pada cerpen2 yg muncul akhir2 ini, terutama yang di Kompas. Yang jelas, komentar saya memang terlalu berapi-api dan cenderung belum menyelami sepenuhnya maksud A dalam komennya. Satu yang pasti, pembaca seperti A inilah yang sesungguhnya bisa membuat karya penulis lebih baik dan berkembang. Untuk itu saya sesungguhnya harus berterima kasih kepada A karena bagaimanapun apresiasi kritis tetap diperlukan untuk perbaikan mutu tulisan ke depan. Terus berkarya, Bung! Hidupkan sastra Indonesia!

    @ A : Maaf lahir bathin, Bos! He..he.. Salam kenal yah. Saya terlalu berapi2 kemarin. Anda telah membuka mata saya bahwa memang inovasi dan kreatifitas yg tinggi tetap diperlukan dalam berkarya untuk menghasilkan karya yang tidak membosankan dan tidak egois..

    Rama Dira J

    6 Agustus 2009 at 10:52

  14. @ nikotopia

    makasih juga untuk apresiasinya. salam kenal

    Rama Dira J

    6 Agustus 2009 at 10:53

  15. @nikotopia
    Mmg tdk menyalahkan siapa2 kok bos. Tapi justru di situ saya melihat adanya “keseragaman” selera dari media2 di Indonesia.

    @Rama Dira J
    Wah, nggak apa2 kok Bung, nggak ada masalah🙂
    Senang bisa bertukar pikiran langsung dgn penulis2 yg karyanya dipajang di sini.
    Mungkin anda sekarang sudah paham, saya tidak mengkritik penulisnya kok. Saya yakin sbg penulis, anda, mas Benny, dan lainnya, pasti sudah sangat berusaha untuk berinovasi
    TAPI
    membaca kan sama seperti berbicara, jadi kalo saya sudah pernah bicara dgn anda, otomatis saya sudah kenal gaya anda, saya sudah paham pemikiran anda.
    Akibatnya, dlm tiap karya anda pasti saya sudah kenal benang merahnya.

    Karena itu saya jadi merasa “kurang pergaulan” dlm dunia penulisan Indonesia saat ini.

    Dari 52 minggu dlm setahun, dari katakanlah 15-20 media yg masih rutin memuat cerpen,
    masa iya tidak ada 1000an penulis yg berbeda?

    Sbg pembaca, rasanya saya butuh “berkenalan” dgn sebanyak mungkin penulis Indonesia. Entahlah…mungkin sedang menunggu “bintang” berikutnya di dunia sastra kita?
    (Sebab sudah entah berapa lama saya “terpaksa” menemukan “pelarian” dalam karya2 penulis barat).

    Jadi itulah yg membuat saya sedikit resah Bung Rama. Di luar beban persyaratan “bebas SARA, pornografi, dll”, rasanya dunia penulisan kita akan semakin sulit berkembang bila media mainstream terlalu mengakomodir karya2 “populer” saja.

    Problem yg sama knp TV Indonesia, walau channelnya sdh mulai banyak, tapi isinya sinetron semua, he he…
    Sekali lg: bukan berarti karya populer dan sinetron semuanya jelek.

    Mudah2an anda rajin mampir di sini Bung Rama. Salam.

    A

    6 Agustus 2009 at 11:29

  16. komentarnya kok panjang-panjang sih!
    Ini kan forum mendiskusikan cerpen, bukan masalah-masalah non-cerpen (hee… benar gak ya?!). Walah, aku mau komentar kalau “Malam Kunang-Kunang” tu bagus. Tapi… aku gak mau berspekulasi. Karena tahun lalu spekulasiku salah semua. 2008, aku ngejagoin:
    Jendela Tua (Iyut Fitra), Mawar di Tiang Gantungan (Agus Noor), Dua Beranak Temurun (Benny Arnas), dan Ibu yang Anaknya Diculik itu (Seno Gumira Adjidarma). Eeeehhhh, malah SMOKOL yang menang. Tapi setelah dibaca lagi, SMOKOL emang oke! Tapi… cerpen-cerpen yang lain semacam (maaf): MERAH PEKAT dan KARTU POS DARI SYURGA, dan beberapa yang lain…. kayaknya maksa deh dimasukin dalam 15 CERPEN KOMPAS PILIHAN!
    Tapi… apapun. Itu pendapatku yang (ngakunya) Cerpen Maniak. Lho, kok yang jadi kepanjangan ya?heeee Sory, Bos! Love U Full! hahahaha

    Cerpen Maniak

    6 Agustus 2009 at 22:21

  17. halo.

    S. Raga

    11 Agustus 2009 at 16:02

  18. mmm…cerpenya cool…btw…bleh tau FB bung Dira ga?

    KieRa

    12 Agustus 2009 at 23:01

  19. @ Kiera : fb saya di : http://www.facebook.com/ramadira

    Makasih apresiasinya

    Rama Dira J

    13 Agustus 2009 at 04:18

  20. Wah. Ramai nih. Menurutku, cerpen ini bagus. Meski ia berangkat dari mitos yang sederhana, penulis berhasil menggiring pembaca untuk tak mengarahkan sangkaan pada ending seperti ini.

    Buat A : saya senyum2 sendiri baca komentar Anda juga komentar nikotopia. Mengapa menyalahkan cerpen saudara Rama yg dimuat banyak media? Mengapa menyalahkan sastra Indonesia yang begitu membosankan (menurut kaca mata Anda). Kalau misalnya Anda tidak puas dan tidak bisa ‘in’ dalam cerpen2 atau sastra Ind. ya, jangan dibaca. Gitu aja kok repot. Kalaupun misalnya Anda merasa bahwa Anda sangat mengetahui sekali bagaimana kriteria cerpen yang sangat layak dan sangat bagus dalam ukuran sastra, mengapa Anda tidak membuatnya? Nadine Gordimer penah bilang : kalau saya ingin membaca karya sastra yang baik, namun saya tak kunjung menemukannya, maka sayalah yang akan membuatnya..

    B

    17 Agustus 2009 at 20:01

  21. @B

    He he…Bung B, coba baca lebih jeli lagi ya…Saya TIDAK MENYALAHKAN lho…
    Begini deh:
    1.Kalo anda mau maju, tapi anda hanya suka pada input2 “Positif” dari org lain, lantas kapan anda bisa mengkoreksi diri dan menyadari kekurangan2 yg mungkin anda punya?

    2.Kalo saya sudah membaca, lantas saya punya keluhan, tapi lantas DILARANG utk mengutarakan keluhan saya oleh org2 seperti anda, lantas…?
    He he…
    Saya yg tidak bisa “IN” kan?
    Jadi sastra Indonesia sudah begitu bagusnya sehingga tidak boleh dikritik?🙂

    3.Saya SUDAH PERNAH membuatnya. Anda jgn kuatir🙂
    Mungkin kesibukan saya tahun2 belakangan membuat saya tak punya waktu menulis lagi, tapi siapa tau suatu saat nanti?
    ANDA sendiri bagaimana Bung B? Sudah pernah berkarya? Atau hanya senyum2 saja?🙂

    A

    18 Agustus 2009 at 09:17

  22. wai, aq salut nian samo beny arnas, ternyato ado jugo penulis cerdas dari kota linggau yg karyonyo dem nyampe kesingapura
    minta ijin cerpen2 nyo aq tmpilke di blog aq.. salam kenal

    wong kito

    17 September 2009 at 02:44

  23. Aku rasa, aku akan memulai menulis sare ini…

    heri saliman

    29 September 2009 at 15:36

  24. mungkin pada paruh ke dua cerpen ini dihilangkan bagaimana? trus rdj lanjutkan paruh pertama dengan kisah sekawanan yang seru itu… pasti tidak jatuh pada relisme yang “jenuh” itu. apa mau dikata, nirwan dewanto says “pengarang adalah pengrajin belaka”….

    ewing

    2 Oktober 2009 at 21:19

  25. …bagus,,bagus…kritik terus

    ismail saleh

    11 Oktober 2009 at 16:53

  26. @ismail saleh

    Jadi kritik dilarang nih bung ismail?

    A

    13 Oktober 2009 at 09:21

  27. @A
    Rasanya semua orang senang mie instant.kl tdk ada mie instant ,mie biasa lama-lama juga bosan ,kalau semua itu-itu lagi lha.. apa namanya,maka nya jangan terus-terus mie instant ,banyak koq yg lain..cari…

    AA

    14 Oktober 2009 at 22:26

  28. he..he..

    B

    14 Oktober 2009 at 22:47

  29. @AA

    Anda juga penggemar mi instan?

    @B
    he he juga🙂

    A

    15 Oktober 2009 at 08:21

  30. wAHH…!! CERPENNYA BAGUS BANGET.. dALAM..

    aFTER

    22 Oktober 2009 at 10:08

  31. lho! komentar untuk cerpen ini masih berlanjut toh…rekor nih kayaknya. belum ada cerpen di laman web ini yang mendapat komentar sampai 30-an.

    B

    23 Oktober 2009 at 21:15

  32. Saya rasa saya lebih sepakat kepada mr/s A ini.. Saya pikir maksudnya sudah sangat jelas..

    Diibaratkan kita makan malam dengan ayam bakar. Kita semua tahu ayam bakar enak sekali rasanya. Tetapi kalau istri membuat menu ayam bakar setiap hari, mau ga mau bosen juga kan ya?

    Saya tidak bilang ayam bakar tidak enak, hanya jenuh saja.

    Dan me”ngritik” kepada istri bahwa kita ingin menu yang lain, apakah itu salah? Justru siapa tau setelah mencoba menu lain, kita jadi tahu ada masakan yang tak kalah enaknya..

    Kritik yng membangun itu tidak dilarang.

    Terus berkarya!

    Blossom

    27 Oktober 2009 at 12:10

  33. sepakat! pada Blossom

    B

    27 Oktober 2009 at 15:03

  34. @Blossom

    Terima kasih, mmg itu dan hanya itu maksud saya.
    Entah knp kritik saya disikapi begitu antipati oleh org2 seperti Mr.B

    @B

    Mr.B kl anda mmg sudah paham dan sepakat dgn Blossom, kenapa anda masih terus mencela komen2 saya di cerpen lain?
    Kalo anda berpendapat kompas dan penulisnya sudah luar biasa bagus, itu hak anda.
    Tapi kalo saya pny pemikiran yg berbeda dari anda, itu jg hak saya.
    Paham?🙂

    A

    28 Oktober 2009 at 07:21

  35. Siap, Bos!!!!

    B

    28 Oktober 2009 at 09:23

  36. Sabar, sabar..tidak usah terlalu dimasukkan ke hati apa yg dikatakan orang..yg namanya kritik memang bermacam-macam, ada yg substansial, ada yg esensial, ada pula yg hanya omong asal. Tapi saya setuju sama bung A, keseragaman penulis cerpen yg ditampilkan oleh media juga bisa memunculkan karya2 yg monoton. Semoga Kompas bisa memperbaiki.

    By the way, it’s really an interesting story. I wonder if the author would let me adapt it into a movie? ^^

    Alex Chriss

    2 Maret 2010 at 00:09

  37. Bagus sekali untuk dijadikan hiburan meski katanya hujan tampaknya tak segera habis dalam waktu dekat.

    Eman Suherman

    30 Januari 2012 at 17:15


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: