Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Naomi

with 5 comments


Naomi. Telah bertahun-tahun ia hilang dari keseharian desa kami. Kabar terakhir yang terekam di memori kami adalah tenggelamnya seorang remaja pria belasan tahun bersama perahu ayahnya.

Seperti anak-anak lelaki lain di desa ini, Naomi pun sering mencuri waktu memilah ombak dengan sampan ayahnya. Laut sepi perahu sedangkan angin dan gelombang tengah di puncak senggama mereka. Entah penunggu laut mana yang menjarah pikirannya waktu itu, Naomi berjibaku sendirian menyiangi ombak.

Sebenarnya tak satu penduduk desa pun melihat kepergian Naomi. Namun kenyataan ia menghilang selama dua hari dan tak tertambatkannya perahu ayahnya di pantai, menyebabkan cerita seperti itulah yang berkembang. Ada pula berpikir, Naomi bosan dengan keseharian di desa sehingga memutuskan pergi ke kota dan perahu ayahnya dicuri orang atau digunakan penjahat untuk menyelamatkan diri dari kejaran polisi. Tetapi, kemungkinan-kemungkinan itu tak pernah mampu melebihi dominasi kemungkinan tenggelamnya Naomi.

Selama itu pula, bahkan lebih awet lagi, Eta terus menangis tersedu-sedu. Betapa tidak. Naomi selalu menantang ayahnya berkelahi di pasir putih, bila lelaki itu pulang dari pesta tuak-arak sembari memaki dan meninju Eta. Ibu tua itu lupa akan air, makan, apalagi mengurus suami. Mengurung diri di kamar dan di senja hari menyisir pantai sembari memunguti apa saja yang ada di sana menjadi keseharian Eta. Desa pesisir pantai kami pun mendapat topik baru dalam sela-sela rutinitasnya yang membosankan; Eta yang menimbun sedih, stres lantas gila.

Berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan tiga empat tahun, spekulasi tentang Naomi yang menjadi hamba Nitu Ari—gurita raksasa dengan tiga jari—Naomi mempersunting Peri Laut, dan Naomi melebur masuk ke perut bumi dihisap Golo Maranggele menjadi perbincangan tak putus-putus di bibir pantai, di atas sampan nelayan ketika menanti kail dimamah ikan, di penjemuran-penjemuran ikan, di warung-warung kebutuhan sehari-hari, di sela-sela permainan kanak-kanak, pula di ranjang sehabis suami istri bercinta.

Tak ketinggalan, Wujo dan Danti yang tengah beradu cinta di ceruk pasir kecil, di bawah akar-akar serabut kelapa, dihalau dari mata-mata tak diundang oleh dedaunan waru, lamtoro, menyematkan kisah Naomi dan ibunya di antara cumbuan-cumbuan penuh gelora mereka. Tak peduli kepiting-kepiting kecil yang sesekali melatai kaki, siput-siput yang tak henti curi pandang dari bawah rumah siput mereka, kedua anak Hawa itu asyik berbagi cerita. Banyak kisah yang bercampur antara acungan jempol dan isapan jempol tak putus-putus keluar dari mulut mereka. Yah, cinta memang mampu mengubah manusia menjadi pencerita yang andal. Bahkan, kisah Naomi dan ibunya yang telah sering mereka dengar menjadi indah dan baru ketika itu.

Jangan kira cerita itu dongeng. Ini benar-benar terjadi. Di bawah air sana, dunia indah penuh istana dan cinta itu benar-benar ada. Naomi pastinya salah satu perwira Nitu Ari di sana. Atau ia menjadi perantara antara dunia sana dan dunia kita.

Anak yang berbakti pada orangtuanya pasti akan selalu menghormati orangtua itu. Tak seperti Malin Kundang, Naomi menjemput ibunya. Ah, semoga anakku nanti seperti itu.

Ketika itu, Eta tengah menyulam pantai seperti biasanya. Tiba-tiba, dari tengah laut pasang senja yang tenang penuh plankton, muncul perahu itu. Penuh lumut, teripang, dan karang di kiri kanannya. Perahu tua namun kokoh itu mendatangi pantai, tepat di depan Eta. Perempuan gila itu sekejap tersenyum penuh bahagia. Inilah senyum pertama Eta dalam sepuluh tahun itu. Dilihatnya Naomi yang telah tumbuh jadi pemuda perkasa duduk di belakang mengayuh sampannya, menciptakan gelombang-gelombang kecil di permukaan air selicin kaca.

Setibanya di tepian, Naomi pun turun lantas menggandeng ibunya. Dituntunnya naik ke sampan. Mereka pun kembali ke tengah lautan dan menghilang ke bawah Golo Maranggele, pintu gerbang ke Kerajaan Nitu Ari.

Tak ada sesiapa pun menyadari hilangnya Eta dari desa. Hingga pada suatu hari ketika beberapa nelayan tengah melaut di bawah langit yang kelam tanpa bulan, beberapa dari mereka melihat dua sosok manusia menari-nari di atas Golo Maranggele. Dua sosok manusia itu menari-nari diiringi lompatan-lompatan lumba-lumba di tengah pusaran air. Setelah cerita itu menjadi buah bibir di desa, orang-orang lantas mulai menyadari ketak-hadiran Eta di desa itu. Rumahnya didatangi dan penduduk desa menemukan rumah yang kosong.

Tidak setiap hari memang nelayan melihat dua sosok manusia itu (yang tanpa kata terucap disetujui warga desa sebagai sosok Naomi dan ibunya). Bahkan, ada cerita yang lebih menggetarkan lagi, yang diceritakan Sinyo, seorang nelayan muda yang baru beberapa minggu melaut. Pada suatu dini hari, ia, entah karena alasan apa, kembali dari laut lebih dini. Saat tiba di pantai, dari arah Golo Maranggele dilihatnya sebuah sampan melaju menuju pantai. Sambil membereskan peralatan memancingnya, ia pun menunggu, jangan-jangan itu salah satu nelayan sejawatnya. Semakin dekat, tampak olehnya dua orang di sampan itu. Sedangkan untuk nelayan-nelayan di desa kami, sangat jarang satu sampan dinaiki dua orang. Sebab, hampir semua nelayan di kampung kami memiliki sampan. Dan memang tak biasanya orang melaut di malam hari berdua. Kalaupun ada, itu pasti salah satu orang kota yang berkunjung ke kampung dan ingin menaikkan adrenalin mereka dengan menuruti salah satu nelayan melaut. Tapi setahu Sinyo, hari ini dan dalam minggu ini tak ada satu pun orang asing yang datang ke kampung. Lagi pula sekarang pun bukan musim liburan, sehingga sanak saudara yang telah lama merantau mungkin saja datang berlibur. Ia pun tak mendengar kabar bahwa ada orang jauh yang kembali.

Sampan yang diperhatikannya itu ternyata tak mendarat di pantai tetapi hanya melingkar-lingkar, mengelilingi pantai dan lantas bertolak lagi ke tengah laut, ke arah Golo Maranggele.

Gemparlah desa keesokan harinya. Cerita itu berkembang menjadi cerita baru, Naomi dan ibunya kadang-kadang kembali mengunjungi desa tepatnya pantai desa. Mungkin saja di kala rindu atau mungkin ada petanda lain dari alam bawah sana untuk kampung mereka. Apalagi seminggu setelah Sinyo melihat sampan dari Golo Maranggele itu, Sipa—orang tertua di desa itu yang berumur 150 tahun—meninggal.

Wujo dan Danti semakin hanyut dalam cerita dan cinta. Lupa segalanya. Hari beranjak petang dan pantai sepi di bawah sinar matahari yang memudar. Tak ada nelayan yang siap melaut sebab bulan tengah asyik-asyiknya mandi sinar matahari.

Cinta itu buta mungkin memang benar. Danti dan Wujo begitu asyiknya berbagi kisah di pantai itu. Udara yang berubah kelam dan alam yang menghitam malam pun tak disadari mereka. Berbagai hal dari masa kecil, kisah-kisah konyol, pengukuhan cinta mereka hingga cita-cita atau lebih tepatnya mimpi masa depan diutarakan dan dimamah tanpa henti di sana. Keinginan untuk pulang selalu ditimpa lima menit lagi berbagi cerita yang lantas melipat berlipat jadi lima jam.

Malam terus beranjak cepat karena dunia selalu dikejar keresahan sang waktu. Danti dan Wujo terus lupa bahwa waktu tak memberi banyak kesempatan bagi manusia untuk bermimpi. Burung malam terdengar perlahan dari kejauhan. Tanpa Danti dan Wujo sadari, dari Golo Maranggele meluncur cepat sebuah sampan. Sampan itu perlahan-lahan mendekati pantai dan mendarat di sana.

Ada baiknya malam ini kubawa Danti pergi dari desa ini, pikir Wujo. Kami bisa saja berjalan menelusuri pantai pasir putih ini, berjalan terus sejauh mungkin dari kampung ini. Atau, bisa saja aku mencari sebuah sampan yang lupa dibawa pulang kayuhnya. Berlama-lama di desa ini, segala cinta tak’kan bisa berakhir bahagia, segala mimpi dan cita-cita akan masuk ke bubuh adat. Sukuku tak bisa menikahi perempuan sukunya. Dan Danti tengah beriming-iming tentang cinta yang akan berlanjut pada altar gereja dengan gaun putih bagaikan bidadarinya.

Lantas mereka menyaksikan semburat putih dari pinggir pantai. Danti tiba-tiba menjelma putri bergaun putih laksana bidadari. Wujo menjelma nelayan kekar dengan pakaian seadanya. Wujo menggandeng Danti keluar dari ceruk pantai itu. Dibawanya ke pinggir pantai. Di sana, dilihatnya sebuah sampan berkilau emas, dengan lelampu warna-warni, menerangi air sekelilingnya. Di kiri-kanan sampan itu pun menari-nari ikan-ikan kecil beraneka warna dan rupa.

Depok, Juni 2007

Keterangan:
– Golo adalah pusaran air di laut.
– Maranggele berarti setan.

Written by tukang kliping

12 Juli 2009 pada 20:24

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

5 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Ya ampun…Laut lagi…laut lagi???
    Masa hampir tiap minggu temanya itu2 terus: bunuh diri di taman-laut-bunuh diri di taman-laut…
    Kayak nggak ada tema lain aja???
    Gimana nih Kompas???

    A

    13 Juli 2009 at 07:58

  2. Iya nih!!
    Kok seleranya seragam:
    Taman
    Bunuh diri
    tragical ending
    Tapi.. rada-rada senang karena bukan Agus nur, Tryanto, Ugoran Prasad, dll, yang dipergilirkan. Mmmm…. KOmpas, Kompas, poltikmu!aku tahu!!!! penulis baru cuma untuk nyelip-nyelipin penulis langganan….:-)

    brill

    14 Juli 2009 at 23:47

  3. kompas baru jatuh cinta sama laut dan taman….

    lia

    15 Juli 2009 at 14:46

  4. ada sedikit harapan untuk para penulis pemula
    mudah-mudahan untuk seterusnya…

    mountnebo

    21 Juli 2009 at 09:11

  5. amin

    M

    28 Juli 2009 at 20:04


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: