Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Hari Ketika Calon Presiden Datang ke Kota Tamaulipas

with 3 comments


Kereta khusus calon presiden seharusnya tiba dari Monterey pada pukul sembilan, dan diharapkan untuk masuk ke stasiun pada pukul sebelas. Semakin ke barat, relnya berada dalam kondisi yang buruk, tetapi Jenderal telah mempertimbangkannya dan mengawali perjalanan tiga jam lebih awal dari jadwal, supaya tiba di Kota Tamaulipas dengan keterlambatan tidak lebih dari dua jam.

Tiga minggu sebelumnya, salah seorang calon telah membuat kesalahan fatal karena tidak memperhitungkan kondisi rel yang buruk, dan berangkat dari Monterey begitu saja sesuai jadwal. Akibat yang ditanggungnya, ia tiba di Kota Tamaulipas lima jam terlambat, dan saat itu semua orang sudah memutuskan untuk pulang dan makan dan tidur siang.

Rombongan orkes, merasa peluangnya lepas untuk bermain tiga minggu sebelumnya, melakukan latihan keliling kota pagi itu. Mereka sudah bangun sejak matahari terbit. Tiga di antaranya, bersama bocah-bocah penyemir sepatu dan penjaja lotre, berbaris naik dan turun sepanjang tepi parit yang berdebu di belakang arena adu banteng. Di plaza1 dua orkes lagi berlatih menyatukan irama dan nada untuk mendapatkan rasa titinadanya. Di jalanan, beberapa orkes lain melintas di atas truk sambil berlatih pula.

Kereta api khusus yang membawa Jenderal dan rombongannya mendadak masuk stasiun dengan pongah, masinis membunyikan peluitnya sekali panjang dan dua kali pendek ketika sudah berjarak dua belas rel saja. Semua orang tidak siap. Memang terlambat satu setengah jam, tetapi tiga puluh menit lebih cepat dari saat yang diharapkan.

Seperti yang sudah-sudah, orang-orang yang berada di pelataran stasiun ketika kereta sang Jenderal menyelonong masuk dan berhenti adalah bocah-bocah tukang semir dan penjaja lotre, dan mereka memang akan selalu berada di sana meskipun seandainya hari itu sama sekali tidak ada sesuatu yang luar biasa.

Para petugas panitia penyambutan masih berada di kantin yang jaraknya dua blok, dan sopir limusin yang akan membawa Jenderal ke arena adu banteng untuk berpidato, masih duduk santai dalam restoran di seberang jalan sambil makan buncis goreng. Limusinnya sendiri, betapapun, diparkir di pelataran stasiun itu.

Jenderal dan rombongannya membeli semua lotre yang berangka 5 dalam nomor serinya dan langsung menuju limusin. Seseorang meniup trompet dengan tiga lengkingan tajam. Sopir datang berlari dari restoran dengan mulut yang penuh buncis panas, mengira seseorang main-main dengan trompet itu. Ketika ia mengenali Jenderal di kursi belakang, ia menelan buncis itu, memberi hormat, dan menyelip ke belakang kemudi.

Berita kedatangan Jenderal sudah mulai tersebar ke seluruh kota. Para pemilik toko mulai menarik turun kerai baja di depan kaca-kaca etalase mereka, mengira massa akan memenuhi jalanan setiap saat.

Salah satu orkes di plaza mendengar berita itu dan segera mulai bermain, para pemain musik menyuarakan instrumen mereka sekeras-kerasnya sehingga suaranya terdengar mencapai empat blok melintasi kota sampai stasiun, tempat Jenderal akan bisa mendengar dan menghargainya.

Namun sebelum musik mencapai telinga Jenderal, ia dan rombongannya terpisah dalam lesat kecepatan dan gelombang debu. Enam pengawalnya yang tidak mendapat tempat di dalam limusin, menempel di luar limusin bersama lima atau enam bocah penyemir sepatu, sejumlah penjaja lotre, dan seorang utusan suatu ejido2 yang berada di stasiun lebih awal karena keliru menghitung waktu.

Setengah jalan ke arena adu banteng seorang bocah penyemir sepatu dan utusan ejido tadi terjatuh ketika limusin menabrak suatu tonjolan di jalan.

Ketika Jenderal tiba di arena adu banteng, tempat tujuh atau delapan ribu orang di tribun memenuhinya, dan dua atau tiga ribu berada di luar berusaha dengan sia-sia mencapai pintu masuk, dengan memanjat tembok bata dan membuka jalan dengan pisau tajam di bawah bangunan tribun.

Baru saja ia dan rombongannya mau memasuki arena adu banteng, suatu regu serdadu yang telah diperintahkan melindungi jiwa calon presiden maju dan melucuti senjata para pengawalnya, mengambil segenap pistol automatik mereka dan membuangnya ke dalam karung kanvas.

Para pengawal merasa tersinggung atas perilaku para serdadu, yang merupakan teman seperjuangan dalam revolusi juga, tetapi Jenderal tertawa dan memberi isyarat kepada setengah lusin gadis-gadis tercantik di sekitarnya. Ia meminta gadis-gadis itu untuk mendahuluinya melalui gang terusan, dan kemudian mereka memasuki arena adu banteng bersama. Para pengawal tinggal di belakang dan bertengkar dengan para serdadu, sementara mereka semua mengambil keuntungan atas kesempatan untuk disemir sepatunya dan membeli beberapa lembar lotre.

Jenderal menaiki panggung yang telah didirikan di tengah arena adu banteng ketika seorang utusan ejido menyampaikan pidato perkenalan kepada massa melalui sistem pengeras suara. Ketika orang-orang mengenali Jenderal itu, suara mereka menenggelamkan kata-kata sang utusan dan ia harus mengundurkan dirinya, memutuskan pidatonya yang baru dibaca separuh.

Bersama dengan surutnya teriakan banyak orang, dua orkes tiba dan mulai main sambil berbaris mengitari panggung beberapa kali. Dalam pada itu sejumlah bocah penyemir sepatu dan penjaja lotre membuat tanda garis pemisah bagi panggung, membuatnya aman sementara perhatian setiap orang terikat kepada penampilan orkes.

Beberapa saat kemudian gerak dan keributan berkurang, dan Jenderal menuju mikrofon dan memberi salam kepada orang banyak itu. Ia hanya bisa mengucapkan sedikit kata-kata sebelum teriakan massa membuatnya tak mungkin melanjutkan.

”Apa kata Jenderal?” Kami bertanya kepada salah satu penjaja lotre di samping kami.

”Jenderal bilang dia bahagia ada di sini, karena sekarang ia menyaksikan gadis-gadis tercantik dan kaum lelaki terkuat di seluruh Meksiko!”

Setelah beberapa saat Jenderal bisa menyimpulkan amanatnya. Ia bicara satu kalimat penuh dan setengah lagi pada mikrofon sebelum teriakan banyak orang lagi-lagi menenggelamkan suaranya.

”Hidup sang Jenderal!”

”Hidup Meksiko!”

”Hidup sang Jenderal!”

Gelombang demi gelombang teriakan ribuan suara membahana melalui arena adu banteng.

”Apa kata Jenderal?” Kami bertanya dengan penuh perhatian.

”Jenderal bilang ia merasa bahagia datang kemari, tempat yang tanahnya kaya dan subur-bahkan juga di lereng-lereng gunung!” Kata penjaja lotre, yang dengan penuh semangat melambai-lambaikan tangannya dengan cara yang seperti akan menelan seluruh dunia.

Tepat ketika Jenderal siap berusaha bicara lagi, datanglah dua orkes. Mereka mulai memainkan lagu-lagu mars yang mereka kenal, sambil terus-menerus mengitari panggung. Saat mereka bermain, gerbang arena mendadak terbuka lebar dan selusin lelaki di atas punggung kuda dan berkeriapan menyeberangi arena adu banteng. Mereka membawa spanduk-spanduk revolusi dan bendera-bendera republik, tetapi mereka tidak membawa alat-alat musik, dan segera tidak seorang pun memperhatikan mereka lagi.

Ada juga saat yang lumayan tenang di arena adu banteng, dan Jenderal itu segera melangkah ke mikrofon dan bicara dengan cepat kepada khalayak. Kini ia menyelesaikan dua kalimat sebelum suara massa yang berteriak-teriak menyetujuinya sekali lagi menghentikannya. Ia melangkah mundur, menyeka wajahnya, dan menunggu surutnya hiruk-pikuk dengan sabar.

”Apa katanya sekarang?” Kami bertanya penuh ingin tahu.

”Jenderal bilang ia mengharapkan semua orang di dunia mendapat nasib baik untuk datang ke Kota Tamaulipas!”

Saat ketenangan yang tidak terduga tiba, Jenderal itu bergegas kembali ke mikrofon, tetapi sebelum ia bisa mengucapkan suara apa pun, orkes lain datang pula dan mengentakkan musiknya ketika mulai mengelilingi panggung. Ketika semuanya sudah lewat, Jenderal meraih mikrofon dan menggenggamnya erat-erat dengan kedua tangan dan cepat-cepat menyimpulkan pidatonya. Kali ini ia melaju sampai beberapa kalimat sebelum gelombang raungan massa memaksanya istirahat.

”Hidup sang Jenderal!”

”Hidup Meksiko!”

”Hidup sang Jenderal!”

Teriakan-teriakan itu berlangsung lama, dan para penjaja sekitar kami bergabung dengan penuh semangat, yang berlangsung beberapa menit sebelum kami bisa meminta perhatian seseorang.

”Apa kata Jenderal sampai orang-orang luar biasa senang seperti itu?”

Penjaja lotre meremas lengan kami dengan perasaan meluap, berteriak di telinga kami.

”Jenderal bilang ini hari yang indah!”

Dalam keasyikan mengikuti keadaan kami tidak sadar bahwa salah satu bocah penyemir sepatu telah menyemir sepatu-sepatu kami, dan mengejutkan kami dengan meninggikan suaranya dan mengulang-ulang apa yang dikatakan Jenderal. Kami menatap langit biru pucat tanpa awan di atas. Itulah salah satu hari terindah yang pernah kami saksikan di Meksiko. Matahari memancar ke bawah di atas kami bagai senyuman sahabat yang bijak, menghangatkan kami sampai ke hati. Kami berdiri di sana dalam cahayanya yang ramah, merasakan dalam kedalaman kalbu kami betapa tiada kata-kata yang lebih benar lagi pernah terucapkan sebelumnya. Di sana, dalam terik dan teriakan, menghirup sedalam-dalamnya aroma tajam padang pasir yang gersang, kami mengulang kepada diri kami sendiri harapan bahwa Jenderal, yang membuat kami mem- beri perhatian atas keindahan hari itu, akan meraup semua suara dan menjadi presiden negeri ini. ***

Dari ”The Day the Presidential Candidate Came to Ciudad Tamaulipas” yang dimuat pertama kali dalam Town and Country. Dimuat kembali dalam The Complete Stories of Erskine Caldwell (1929). Diterjemahkan oleh Seno Gumira Ajidarma.

Catatan:

1Plaza > Alun-alun sekaligus pasar dan tempat orang duduk-duduk.
2 Ejido > Tanah komunal di Meksiko.

Written by tukang kliping

5 Juli 2009 pada 11:15

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

3 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. NICE🙂

    wahyu am

    5 Juli 2009 at 11:44

  2. cerita yang cukup menarik,mengajak pembaca untuk terus mengikuti ending cerita

    budi martono

    5 Juli 2009 at 20:21

  3. Cerita terjemahan begini sangat menarik, menambah nuansa perbendaharaan sastra kita.
    Setting dan latar belakang cerita sangat asing dan memancing ketidak tahuan kita untuk terus mengikuti sampai END. I Love it

    Maheswara Mahendra

    27 November 2013 at 12:06


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: