Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Memburu Mata Kera

with one comment


Hasrat Aji menembak mata kiri induk kera itu kian menggoda.
Mata kanan induk kera telah dibutakan dengan peluru senapan angin.
Tenang sekali Aji saat membidik induk kera di dahan pohon rambutan, tepat pada mata kanannya.
Anak kera terperosok dari dekapan induk kera.
Terguling di semak. Menahan kegirangan, Aji merenggut anak kera itu.
Memasukkannya dalam kandang besi. Diamemelihara anak kera seperti merawat anak manusia.
Telah begitu lama dia tinggal di rumah sendirian.
Hidup tanpa teman, dalam sunyi merapuh. Tanpa istri. Dan tentu, tanpa anak.
Belum setahun, istrinya memaksa bercerai dan meninggalkannya.

Anak kera itu dipanggil Mona–nama mantan istri Aji yang menikah kembali, dan punya anak dari suaminya sekarang. Monalah yang dapat menghibur perasan Aji sepulang dari kantor sore atau senja hari. Ia bermain-main dengan Mona. Perasaannya menjadi murka, bila dilihatnya pada remang pagi induk Mona bergelayutan di dahan pohon rambutan, disertai kera-kera lain, merenggut buahnya dari ranum kemerahan. Kera-kera itu meninggalkan goa persembunyian, kian berani memasuki perkampungan, menggasak buah-buahan dari ladan-ladang sekitar rumah.

Ada induk kera dengan mata kanan terpejam buta, yang paling sering–hampir tiap remang pagi–bergelantungan di dahan pohon rambutan di atas kandang tempat kera kecil Mona dikurung. Monyet itu menjatuhkan buah-buahan di kandang, sambil bergayut dari dahan ke dahan. Memandangi Mona dengan satu mata. Mata kanannya telah ditembak Aji dengan senapan angin. Tak terlihat lelehan bening dari sudut mata kiri induk kera, mengalir di antara rambut pipinya. Dengan buah-buah rambutan yang masak yang dilempar  itu, ia berteriak-teriak kecil. Serupa benar dengan keriangan canda. Tetapi, kegembiraannya ini tak berlangsung lama. Akan segera muncul Aji dengan senapan angin di tangan. Membidikkan senapan ke arah sekawanan kera.

Mona berjingkrak melihat induknya bergayutan di ranting pohon rambutan tak jauh dari kandang besinya. Aji merasa terledek dengan kedatangan induk kera itu, juga kera-kera lain yang mengayun-ayunkan ranting dahan dengan kegusaran dan ejekan. Aji marah melihat perilaku kera-kera itu meledek dan merusak ladangnya. Dia mengambil senapan angin. mencari tempat bersembunyi. Sekali terdengar letusan senapan angin. menghalau kera-kera itu kembali menghambur ke tengah ladang dan ke goa tempat mereka berasal.

Kegusaran hati Aji tak terkendali lagi. Ia ingin membutakan mata kiri induk kera, biar tak lagi menghampiri Mona. Mengendap-endap, lelaki kurus setengah baya itu mencari sudut yang paling tepat sasaran. Ia membidik dari jendela kamar di lantai dua. Terarah pada mata kiri induk kera. Ditariknya pelatuk. Peluru menembus kelopak mata kiri yang terkatup. Darah memercik di dedaunan. Jeritan induk kera itu mengagetkan sekawanan kera lain. Bergayut tergantung di ranting-ranting pepohonan. Merembes darah, induk kera itu terguling di tanah. Terus berlari menerjang ladang, semak, dan meloncat-loncat dalam kegelapan. Memekik kesakitan.

“Mampus kau!” desis Aji, dengan dada berdegup, gigi bergemeretak, menuntaskan kebenciannya. Melampiaskan dendamnya. Dendam pada istri yang meninggalkannya.

***

Sebagai direktur perusahaan kecil, Aji selalu mendapat gelombang protes dari buruh-buruhnya. Tetapi aneh, kini begitu ia turun dari mobil, gelombang protes para buruhnya dilakukan dengan topeng kera. Berjubel manusia-manusia bertopeng kera mendesak ke arah mobilnya.

Aji seperti melihat kekejiannya sendiri, melihat wajahnya dalam topeng-topeng yang dikenakan para buruh. Teriakan buruh-buruh itu meminta kenaikan upah. Ingin Aji menggantikan mereka dengan buruh-buruh baru yang datang melamar.

Beringas mereka merangsek Aji. Terkepung Aji oleh topeng-topeng monyet yang liar berteriak-teriak. Aji terimpit, terdesak, tak bisa bergerak. Teriakan-teriakan dari balik topeng mengitarinya. Mendorong-dorong tubuhnya yang kurus kering. Tangan-tangan terkepal. Telunjuk mengacung ke muka. Satpam tak dapat menyelamatkannya.

Tak terduga, dari kerumunan buruh bertopeng kera terjulur tangan dengan tikaman sebilah belati. Terarah pada mata kanan Aji. Lelaki kurus itu menjerit. Dari mata kanannya mengucur lelehan darah. Sorak-sorai buruh-buruh bertopeng kera itu dalam riuh kegirangan. Mereka menari-nari. Berteriak-teriak. Melampiaskan kemarahan. Aji terjerembab dengan mata kanan yang terus mengucurkan kepedihan luka. Merintih. Tak ada yang menolongnya.

Sunyi sekali setelah penusukan pisau belati. Buruh-buruh masih berdiri. Terdiam. Memandangi Aji tersungkur. Menutup mata kanannya dengan telapak tangan. Darah merembes dari celah-celah jemari. Buruh-buruh itu meninggalkan Aji sendirian tergeletak. Berteriak-teriak. Topeng-topeng kera yang mengepungnya tak ada lagi.

Detak sepatu satpam berlarian. Gugup menolong Aji. Membawanya ke rumah sakit. Mata itu tak dapat lagi diselamatkan. Harus dioperasi. Seorang perawat, Laela, kurus dan cerewet sekali, menjadi seorang yang menyelamatkan jiwa Aji dari keputus-asaan. Dengan Laela inilah Aji bisa bicara. Laela sangat pandai menghibur perasaannya. Laela juga memiliki watak yang serupa dengannya, tak takut pada siapapun yang melawannya. Suka memaki. Suka berkata-kata lantang. Suka menghardik, dan kalau perlu, memaki-maki orang. Tak memedulikan benar atau salah. Yang penting bisa memaki dan berkata kasar.

***

Jeritan kera-kera yang bergayutan di pepohonan sekitar rumah Aji pada pagi berkabut membangunkan lelaki setengah baya itu. Ia terhuyung-huyung dengan mata kanan tertutup perban. Tak seorangpun menemaninya. Tak ada kerabat. Tak ada sahabat. Tak ada pembantu, yang sering merepotkannya karena diam-diam suka mencuri uang atau malas bekerja. Ia lebih suka kesunyian. Ia menikmati kesendirian. Kera kecil di kandang besi yang dipeliharanya itulah yang menghibur hatinya.

Kini ia mulai cemas mencari-cari di antara kera-kera yang bergelayutan di dahan itu, adakah induk Mona, yang sepasang matanya buta. Ia ingin menebus kesalahannya, ingin memelihara kera buta itu. Ia tak mau memasuki dunia tanpa cahaya, dunia tanpa sepasang mata sebagaimana induk kera itu–terkena dua tembakan yang semula memuaskannya.

Terdiam di pelataran, memandangi kera-kera itu, Aji terkejut. Angin berembus memusar dedaunan. Kera-kera berloncatan turun dari dahan-dahan, menyerbu Aji. Meloncat di pundak dan kepalanya. Kuku-kuku kera itu mencakar wajahnya. Rupanya, bukan wajah yang ingin dicakar. Tetapi, mata kirinya. Aji berlari memasuki rumah. Mengambil senapan angin. Menembak membabi-buta. Kera-kera itu lenyap di antara pusaran angin dan kerosak rimbun dedaunan.

Dengan cuma memiliki mata kiri, Aji jadi sering uring-uringan. Ia jadi cepat naik pitam. Orang-orang yang bekerja padanya mulai menjauh. Menjaga jarak. Hanya pada Mona, ia bisa memahami perasaan binatang itu. Memahami sepasang mata Mona yang murung. Mata yang kadang memberontak. Kadang bersahabat. Kali ini, ketika Aji mendekat, sepasang mata Mona memancarkan kemurkaan. Kera itu melonjak-lonjak marah. Mencakar-cakar jeruji besi yang mengurungnya.

***

Memarkir mobil di lantai dasar gedung kantornya, belum lagi melangkah untuk mencapai lift, para buruh yang dipecatnya, lagi-lagi bertopeng kera, menyergapnya dari berbagai sudut. Mengepungnya. Begitu cepat. Mendesaknya. Menjerit-jerit seperti sekawanan kera liar di ranting pepohonan. Berseru dan memaki-makinya. Mereka meledek. Mengimpit. Menganiayanya. Aji tak mungkin surut. Ia berdiam diri. Menahan ketegangan. Tarian para buruh yang dipecat dan bertopeng kera itu kian cepat. Seseorang menyumpah. Yang lain menghina. Di hadapannya berhamburan caci-maki.

Tangan-tangan itu terjulur ke wajah Aji. Aniaya ini berlangsung cepat. Sebilah belati menikam mata kirinya. Tak terduga. Darah muncrat. Lelaki kurus setengah baya ini meraung. Memekik. Ia tergeletak berkelejatan dengan mata kiri berlelehan darah.

“Mataku, mataku,” pekik Aji sebelum pingsan di sisi mobilnya. Seketika sunyi. Ruang parkir itu kosong, satpam yang menolong Aji tak menemukan siapa pun. Tak menemukan seorang pun buruh yang dipecat mengenakan topeng kera. Lalu, siapakah yang telah menikamkan belati tepat menghunjam mata kiri Aji?

***

Kegelapan telah mengantarkan seorang perempuan pendamping dalam kehidupan Aji. Lelaki itu tak dapat melihat apapun. Tetapi, Aji telah mengenal Laela sebelum kedua matanya buta. Perempuan setengah baya itu bersuara lantang. Bermata tajam. Garis rahang dan mulutnya serupa benar dengan kera. Giginya memanjang melampaui bibir. Suka memaki. Suka melabrak siapa pun yang berseberangan dengannya. Terhadap Aji, perempuan itu bisa meladeninya. Dia seorang perawat yang–karena galak dan suka memaki–belum juga menemukan jodohnya. Dialah yang merawat Aji dari pagi sampai malam, dan mengantarkan lelaki itu lelap dalam ranjangnya dengan mimpi dikerubuti beribu-ribu ekor kera, yang mencakar-cakar tubuhnya.

Sebelum pulang dari rumah sakit, Aji–tanpa pikir panjang–meminang Laela, perempuan kurus dan keras hati itu. “Maukah kau menikah denganku?”
“Apa saya pantas mendampingimu?” tanya Laela berpura-pura.

***

Kegaduhan telah menjadi bagian kesibukan keluarga Aji. Ia kini berjalan terbungkuk, suka mencakar, memiliki kebiasaan berteriak: tiap kali meminta sesuatu. Laela memenuhinya dengan kemarahan , omelan, dan teriakan yang tak kalah galak. Teriakan, makian, dan cercaan kasar, menjadi bagian yang senantiasa memenuhi rumah itu. Mona turut meramaikan teriakan-teriakan Aji dan Laela. Melonjak-lonjak, menjerit-jerit. Laela memasang rantai besi pada kaki kanan Mona. Kera itu menemukan kegembiraaanya bisa memanjat di pohon rambutan. Bila ia mendengar kegaduhan Aji dan Laela, turut pula memekik-mekik.

Laela memutuskan berhenti dari pekerjaannya sebagai perawat, mendampingi Aji kemana pun–termasuk ke perusahaannya. Berjalan terbungkuk-bungkuk, digandeng Laela, Aji bisa melakukan semua hal seperti sediakala. Tentu Laela menjadi mata yang menuntun Aji.

Pagi hari ketika turun dari mobil di tempat parkir, Aji dan Laela dihadang buruh-buruhnya yang mengenakan topeng kera, melakukan tuntutan kenaikan upah. Laela tak gentar. Ia dan Aji mengenakan topeng gorila. Laela mengusir orang-orang dengan menggeram. Berteriak. Melengking. Menyakitkan telinga. Tak pernah sebelumnya, seorang perempuan terhormat menghardik mereka dengan kebiadaban serupa itu. “Kalian mau apa? Ayo kembali kerja! Kenaikan upah, serahkan itu padaku”

Para buruh bertopeng kera itu surut, undur diri, meninggalkan tempat parkir hingga kembali senyap. Tinggal mereka, Aji dan Laela, yang bertopeng gorila. Terengah-engah dalam murka.

“Lebih baik kita pakai topeng gorila ini selamanya,” pinta Laela.

Pandana Merdeka,
Februari 2009

Written by tukang kliping

24 Mei 2009 pada 11:12

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Satu Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Semoga karya2 Bapak lebih banyak lagi,agar hati yang lara bisa terhibur.

    Bambang widodo

    22 Oktober 2009 at 12:50


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: