Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Sesaat Sebelum Berangkat

with 46 comments


Aku menutup kembali pintu lemari pakaian. Isak tangis tertahan masih terdengar dari luar kamar. Tanganku meraih daun pintu, menutup pintu kamar yang terbuka sejengkal. Suara tangisan tinggal lamat-lamat.

Aku berjalan pelan menuju jendela, membukanya, lalu duduk di atas kursi. Pagi ini, langit berwarna kelabu. Sejujurnya, sempat melintas pertanyaan di kepalaku, kenapa aku tidak menangis? Kemudian pikiranku mengembara, menyusuri tiap jengkal peristiwa yang terjadi tiga pekan lalu.

”Kamu belum pernah punya anak. Menikah pun belum. Kalaupun toh punya anak, kamu tidak akan pernah punya pengalaman melahirkan. Kamu, laki-laki.”

Aku menatap wajah di depanku, wajah perempuan yang sangat kukenal.

”Aku, ibunya. Aku yang mengandung dan melahirkannya. Kelak kalau kamu punya anak, kamu akan tahu bagaimana rasanya khawatir yang sesungguhnya.”

Pelayan datang. Ia meletakkan dua buah poci, menuangkan poci berisi kopi di gelasku, beralih kemudian menuangkan poci teh di gelas perempuan di depanku. Pelayan itu lalu pergi setelah mempersilakan kami menikmati hidangannya.

”Apa yang dia lakukan selama seminggu berada di tempatmu?”

”Kami banyak jalan-jalan berdua, menonton film, ke toko buku, ke pantai. Kebetulan aku sedang tidak sibuk. Aku pikir, ia sedang liburan sekolah.”

”Sekolah tidak sedang libur, dan ia tidak pamit kepadaku.”

”Mana aku tahu?”

”Dan kamu tidak memberitahuku.”

”Aku pikir ia pergi dengan seizinmu.”

”Kamu bohong. Kamu tahu kalau ia minggat dari rumah.”

Aku diam. Tidak mau memperpanjang urusan pada bagian ini. Aku datang tidak untuk berdebat. Tiga perempuan masuk ke ruangan ini. Bau harum menebar ke seluruh penjuru ruangan.

Perempuan di depanku mendesah. Tangannya meraih tas, mengeluarkan sebungkus rokok, menyulutnya.

”Ia kacau sekali…”

”Ia boleh kacau, tetapi tidak boleh minggat. Ia masih duduk di bangku kelas satu SMA!”

Aku tertawa. ”Kamu tahu, aku minggat pertama kali dari rumah saat kelas satu SMP…”

”Itu kamu. Setiap keluarga punya tata tertib yang tidak boleh dilanggar.”

”Minggat itu memang melanggar tata tertib keluarga. Dan itu pasti ada maksudnya. Tapi aku tidak mau bertengkar. Aku datang jauh-jauh ke sini, hanya untuk mengatakan sesuatu yang kupikir penting menyangkut dia.”

”Apa?”

”Jangan terlalu memaksanya untuk melakukan hal-hal yang tidak disukainya.”

”Hey, kamu hanyalah pamannya. Aku, ibunya!”

”Aku tahu, dan aku tidak sedang ingin merebut apa pun darimu.”

”Tapi kamu seperti sedang menceramahiku tentang bagaimana menjadi seorang ibu yang baik!”

Suaranya terdengar memekik. Orang-orang menoleh ke arah kami. Kami diam untuk beberapa saat. Sama-sama merasa kikuk menjadi perhatian beberapa orang.

”Jendra, anak yang manis. Tidak sepertimu…” desisnya kemudian.

Aku mulai merasa darahku naik.

”Ia penurut, dan tidak pernah menyusahkan orangtua. Tidak sepertimu.”

Darahku semakin terasa naik.

”Aku tahu persis karena aku ini ibunya, ibu kandungnya!”

Dengan suara menahan marah, aku bertanya, ”Lalu kenapa dia minggat dari rumah?”

Perempuan di depanku diam. Ia mematikan rokok di asbak dengan cara yang agak kasar. Aku gantian menyulut rokok.

”Risa, aku akan membuka sedikit rahasia yang kusimpan selama ini. Hanya sekali saja aku akan menceritakan ini untukmu… Aku selalu bermimpi buruk, sampai sekarang. Dan mimpi buruk yang paling sering kualami, aku tidak lulus sekolah. Kadang aku bermimpi tidak lulus SMP, SMA dan tidak lulus kuliah.”

Ia tertawa. ”Wajar kalau kamu mimpi seperti itu, kamu kan agak bodoh dalam hal sekolah…”

”Bukan itu poinnya!” suaraku, mungkin terdengar marah. Risa seketika menghentikan tawanya.

”Aku tidak suka sekolah, dan aku harus menjalani itu semua. Memakan hampir sebagian besar waktu yang kumiliki… Aku masih bisa merasakan sampai sekarang, gedung-gedung kaku itu, lonceng masuk, upacara bendera, tugas-tugas, seragam, suara tak tok tak tok sepatu para guru…”

”Kamu memintaku agar Jendra tidak sekolah?”

”Dengarkan dulu… Dan apa gunanya itu semua bagiku sekarang ini? Tidak ada. Ini kehidupan yang gila, aku tersiksa berbelas tahun melakoni sesuatu yang menyiksaku, yang kelak kemudian tidak berguna.”

”Bagimu. Bagiku, sekolahku berguna. Juga bagi Jendra.”

”Tapi kamu bukan aku.”

”Kamu juga bukan Jendra. Ingat itu!”

”Aku hanya sedang menceritakan diriku!”

”Kupikir kamu datang jauh-jauh untuk menceritakan soal Jendra yang minggat dari rumah dan tinggal di tempatmu! Bukan untuk menceritakan sesuatu tentang dirimu yang jelas aku tahu…”

”Itulah kesalahanmu sejak dulu, merasa tahu persoalan orang!” Aku menatap kakak perempuanku. Mungkin sudah ratusan kali, sejak aku kecil untuk menempeleng wajahnya. Tapi belum pernah kesampaian.

”Tahukah kamu, kalau sejak kecil kamu selalu menyusahkan orangtua kita?”

Aku menarik napas panjang. Aku memandang cangkir kopi di depanku, dan ingin sekali melemparkan benda itu di mulut pedasnya.

”Dan tahukah kamu kalau sifat itu bisa menular?”

Kali ini, kupikir Risa sudah keterlaluan. ”Kamu pikir aku menularkan sifat burukku kepada Jendra?”

”Aku tidak bilang seperti itu. Kamu yang mengatakannya sendiri. Yang aku tahu, semenjak ia minggat dan tinggal di tempatmu, ia semakin berani kepadaku, semakin sering bolos sekolah dan tidak mau lagi mengikuti berbagai kursus!”

”Jadi kamu menuduhku sebagai biangnya!”

Risa hanya mengangkat bahunya. Dan tersenyum sinis. Aku benar-benar nyaris kehilangan kontrol. Untuk meredakan semua yang kurasakan, aku menuang kopi, menyeruput, dan menyulut lagi sebatang rokok.

”Jadi menurutmu, kenapa dia bisa minggat?”

”Mungkin dia ada masalah… Itu biasa saja. Kesalahannya yang paling fatal adalah… Ia minggat ke tempatmu!”

Begitu mendengar kesimpulan itu, aku merasa bahwa pertemuan ini akan berakhir dengan buruk. Rasa marah sudah benar-benar menjalar di dadaku. Tetapi aku sadar, sebelum keadaan ini bertambah semakin buruk, aku ingin mengatakan sesuatu yang harus kukatakan berhubungan dengan Jendra kepada Risa.

”Rif, kamu menikah saja belum.”

”Ris, tidak ada hubungannya hal itu dengan obrolan kita hari ini!”

”Ada! Mengambil beban tanggung jawab yang sesederhana itu saja kamu tidak sanggup, dan kamu ingin menceramahiku soal bagaimana mendidik anak…”

”Aku datang hanya untuk menyampaikan apa yang dikeluhkan Jendra kepada orang yang merasa bisa mendidiknya!”

”Apa yang dia katakan?”

”Dia ingin pindah sekolah.”

”Itu sekolah paling favorit.”

”Favorit menurutmu, tetapi tidak menurutnya.”

”Dia masih anak-anak… Dia belum tahu apa pentingnya ilmu.”

”Itu kesalahanmu…”

”Dia butuh jaringan untuk masa depannya, dan itu ada di sekolahnya!”

”Itu menurutmu…”

”Ya jelas menurutku, karena aku lebih banyak makan asam garam hidup ini. Dan punya tugas untuk memastikan dan menjamin masa depannya!”

”Ia ingin kursus bahasa Perancis.”

”Boleh. Tetapi dia tidak boleh meninggalkan kursus bahasa Mandarin.”

”Dia ingin kursus main drum.”

”Boleh! Tapi dia tidak boleh meninggalkan kursus belajar piano.”

”Kenapa dia tidak boleh memilih?”

”Karena dia belum bisa memilih.”

”Dia terlalu capek dengan itu semua…”

”Dia harus belajar bekerja keras dari sejak kecil. Disiplin. Itu yang akan menyelamatkannya dari persaingan di masa depan.”

”Kenapa kamu menyuruhnya memutuskan pacarnya?”

”Dia masih kelas satu SMA!”

”Kamu dulu pacaran ketika masih kelas tiga SMP.”

”Itu aku, bukan dia! Jendra itu, makan saja kalau tidak disuruh, tidak makan!”

”Kamu merasa lebih baik dan lebih hebat dari Jendra, hah?”

”Aku, ibunya! Rif, sudahlah… Kalau kamu punya anak, kamu baru bisa merasakan apa arti anak bagi orangtua. Rif, aku hanya minta, kalau dia datang lagi ke tempatmu, segera hubungi aku!”

”Ris, aku bawakan hasil penelitian seorang psikolog tentang tingkat stres para pelajar di kota ini…”

”Aku tidak butuh informasi itu.”

Kali ini, darahku benar-benar mendidih.

”Aku khawatir kelak kamu akan menyesal…” ucapku dengan nada mengancam.

”Kamu urus saja kehidupanmu. Jendra adalah urusan keluargaku.”

Pembicaraan terkunci. Dadaku bergolak. Kemarahanku sudah sampai pada pangkal leher. Aku hanya menekan-nekan dahi dengan tanganku. Aku ingin mengatakan apa yang sempat dikatakan Jendra kepadaku. Tetapi jika mulutku terbuka, aku khawatir gelegak itu akan membeludak.

”Kamu langsung pulang atau menginap?”

Aku diam.

”Aku masih ada urusan kantor.”

Aku memberi isyarat dengan kepalaku, ia boleh pergi.

Ia bangkit, lalu melangkah pergi.

”Risa…”

Ia menoleh. ”Sudahlah, Rif. Aku bisa mengurusnya.”

Ia kembali berjalan menuju pintu.

Aku bisa saja mengejarnya, dan mengatakan apa yang seharusnya aku katakan. Tetapi aku sudah terlalu marah. Dan aku juga membayangkan apa yang akan dikatakan Risa begitu mendengar apa yang seharusnya kukatakan. Ia mungkin hanya akan tertawa. Ia mungkin hanya akan semakin membuatku marah.

Perasaanku kacau. Aku keluar, menyetop taksi, pergi menuju ke bandara.

Aku bangkit, berjalan, membuka pintu kamar. Kudapati, Mita masih menangis si atas sofa. Ia melihat ke arahku. Aku berjalan, lalu duduk di sampingnya.

”Kenapa belum bersiap?” dalam isak, Mita bertanya.

Aku hanya diam. Mita memegang tanganku.

”Kita bisa ketinggalan pesawat…”

Aku hanya bisa menarik-narik rambutku ke arah belakang. ”Kupikir kamu saja yang berangkat.”

”Kenapa bisa begitu?”

Aku menatap wajah pacarku. ”Aku tidak sanggup datang.”

”Kamu tidak boleh begitu. Apa yang harus kukatakan kepada keluargamu?”

”Mereka tahu sifatku, jadi tidak usah khawatir.”

”Kamu yakin?”

Aku menganggukkan kepala.

Mita bangkit dari sofa, perlahan menuju kamarku, merapikan diri. Sesaat kemudian dia keluar, meraih tasnya.

”Aku berangkat ya…”

Aku mengangguk.

”Rif… Kenapa Jendra bisa melakukan ini semua?”

Aku diam. Lalu menggelengkan kepalaku. ”Sudahlah, nanti kamu terlambat datang ke pemakamannya.”

Mita melangkah pergi keluar.

Beberapa saat kemudian, aku membuka laptop di atas meja. Membuka berkas foto yang tersimpan di sana. Melihat kembali gambar-gambar Jendra terakhir di pantai bersamaku, sebelum keesokan harinya ia pulang kembali ke rumah orangtuanya.

Di malam sebelum pergi, sepulang dari pantai, ia sempat mengatakan apa yang ingin dilakukannya. Omongan yang seharusnya kusampaikan kepada Risa. Tetapi aku terlalu marah, dan takut semakin marah membayangkan apa yang akan dikatakan Risa begitu mendengar omonganku.

Kini, aku tidak berani membayangkan bagaimana jika yang terjadi sebaliknya, begitu aku sampaikan apa yang sempat terlontar dari mulut Jendra kepadaku. Bagaimana jika kemudian Risa peduli pada omongan itu dan mengubah sikapnya kepada Jendra?

Kini, aku menangis keras-keras di dalam kamar. Sendirian.***

Written by tukang kliping

3 Mei 2009 pada 15:28

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

46 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Jendra.. dia bilang apa?

    caesara

    3 Mei 2009 at 17:20

    • dia bilang mau bunuh diri. dan itu terjadi. makanya Mita mau mnghadiri pemakamannya. sememntara pamannya tak mau mnghadiri krn dirundung penyesalan krn tidak mnyampaikn pesan jendra k ibunya

      taqdir

      16 Oktober 2012 at 14:09

  2. RahasiaNya apa sih ?

    ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

    DidinK....

    11 Mei 2009 at 17:05

  3. wah…………!

    roni

    7 Juni 2009 at 14:52

  4. MENTANG-MENTANG NAMA BESAR PHUTUT EA, YA?
    KLISEEEE!

    ALI

    11 Juni 2009 at 09:53

  5. Setuju. Benar-benar klise…

    A

    11 Juni 2009 at 11:27

  6. Dimana-mana cerita yang diangap bagus dan menjual olen pengarangnya, mesti mengambang pada akhirnya, sebab siapa tahu nanti bisa dibuat berseri.

    W_Master

    18 Juni 2009 at 13:46

    • ini yang namanya alur terbuka mas bro…

      shahri

      7 Desember 2011 at 00:37

  7. jendra bilang apa? ironi sekali akhirnya…… kasihan jendra

    ritha

    22 September 2009 at 18:16

  8. Yang mati siapa sih?

    Lydia

    23 April 2010 at 19:15

  9. Amazing….
    Cerita singkat namun padat,,penuh makna..
    Terutama untukku yg baru seusia Jendra,,

    Ririck Fronta

    25 April 2010 at 23:11

  10. Apa kata Jendra? Mengambang, dan itu sangat ‘mengganggu’, bukan ‘menggelitik’.

    Sam

    22 September 2010 at 16:32

  11. Bertele-tele..

    Abah Ogo

    21 November 2010 at 06:28

  12. Menurutku cukup bagus, ada benang merah ceritanya. Yg cukup mengganggu, adanya tokoh Mita. Kehadirannya tak penting, tak ada keterangan serta membuat jadi bingung. Tapi untuk karakter Risa, sangat kuat. Rasanya kalo aku jadi tokoh ‘Aku, ingin kugelitikin wanita itu..jenis wanita sok tahu, sok kuasa, dan sok2 lainnya..seperti kakak tertuaku…

    arizafa

    31 Desember 2010 at 15:26

  13. Putut ea yg ini jelek.

    Juno

    16 Februari 2011 at 01:17

  14. jendra bilang kalau ingin bunuh diri…krn si ‘aku’ mengurungkan niat mengatakan pada risa,akhirnya nasi sudah menjadi bubur,jendra melakukan apa yg dikatakannya pada si ‘aku’.makanya, si ‘aku’ lalu menyesaal tdk menceritakannya pada risa,krn bisa saja kl ‘aku’ cerita,risa akan berubah jd ibu yg lbh demokratis… :p

    aquarius

    6 Maret 2011 at 13:18

    • haha

      jendra

      19 Oktober 2011 at 09:43

  15. Cerita yg tak jelas. Ya, bagiku,dimuatnya cerpn ini krn nm bsr pnlsnya

    Dea

    17 Maret 2011 at 20:38

  16. ceritanya bagus kok …

    sangmane

    8 Mei 2011 at 21:07

  17. Sangat kuat karakternya…saya suka….ending diserahkan ke pembaca untuk intepretasi sesuai sudut pandangnya. Bagi saya tidak mudah membuat cerpen seperti ini..god job..

    robay

    3 Juni 2011 at 19:26

  18. sungguh cerpen di atas normalku. good job. suatu saat aku ingin seperti penulis ini… mantap.

    aa_kaslan

    15 September 2011 at 17:31

  19. haduh
    jujur bingung tinkat internasional nih baca beberapa komen di atas yang bilang ni cerpen jelek lah, klise lah, atau semacamnya…
    eh, emang cerpen lu sebagus apa?

    akh! kapan ya aku bisa sehandal dan seulung puthut ea dalam bercerita?

    Farid

    3 Oktober 2011 at 23:14

  20. hahaha,

    manasuka@gmail.com

    19 Oktober 2011 at 09:41

  21. Yah begitulah…bagi yang bukan penikmat sastra pastilah komennya aneh..karena tidak mampu menangkap emosi yang tersimpan di dalamnya

    Printer Clinic

    16 November 2011 at 22:37

    • betul..mungkin merka cuma sekedar pembaca….

      shahri

      7 Desember 2011 at 00:35

  22. kerennnn…., merindingg ngebayanginnya

    cous2Joko

    20 November 2011 at 09:09

  23. Cerita tak jelas..

    Angsapagoda

    21 November 2011 at 13:29

  24. wah amazing….ni cerita ok banget…yang ngomong cerpen ini jelek berarti emang belum tau unsur-unsur cerpen…

    shahri

    7 Desember 2011 at 00:33

  25. hmmmmm…

    arif

    1 Januari 2012 at 09:56

  26. Justru esensi cerpen ini ada pada endingnya yang menggantung. ending menggantung ini untuk memperkuat pesan bahwa banyak para orang tua sekarang yang merasa sok tahu apa yang harus dilakukan sang anak, padahal sebetulnya tak lebih dari sekadar pemaksaan kehendaknya sendiri. penasaran terhadap apa yang dikatakan jendra yang tidak diungkapkan oleh tokoh aku sebenarnya untuk mempertegas bahwa “kita memang sungguh-sungguh tidak tahu polemik batin si anak”. begitu penafsiran saya.

    rey

    23 Januari 2012 at 21:16

  27. Ah.. ini cerpen jelek banget, yg bilang bagus sok mengerti aja ttg cerpen

    Irwan

    16 Februari 2012 at 22:26

    • Emang ngerti :p situ ae yg ga dpt feel nya kali

      Rik

      17 April 2016 at 22:50

  28. Puthut turun jauh ya kualitasnya. Lebih bagus cerpen sebelum ini, yang “Berburu Beruang”.

    sulis

    7 Maret 2012 at 20:52

  29. Sumpah hanyut trbawa cerita,tapi endingnya sungguh klise,Y?

    Anja

    8 Januari 2013 at 13:05

  30. lucu kalau ada yg bilang ceritanya nggak bagus. bukannya sok mengerti tentang sastra, tapi emang ceritanya bagus kok. lagipula cara berpikir tiap orang itu berbeda. ya, tapi setidaknya berkaca sebelum mengomentari sesuatu, anda bisa buat sesuatu yg lebih baik dari ini?🙂

    Debreesca

    30 April 2013 at 21:50

  31. dalam dan penuh makna,,,,, jendra ayo ngopj sja sma ak heeee

    kimo

    30 Mei 2013 at 21:36

  32. ane malah bingung sama komen2nya deh… cerpennya bagus dan jelas. Peran Mita juga jelas die kan pacaranya si “aku” . Lah ini malah pada nuduh gara-gara nama besar, lah nama gak bisa besar kalo karyanya nggak besar, gimane sih…? eww *kok aku malah jadi marah-marah << gak jelas

    moccalova

    5 Juli 2013 at 00:17

  33. aku tidak suka dengan cerpen yang ending mengambang, tapi aku sangat menikmatinya, karenanya imaji dan ke-tuhan-anku dalam tulisan bisa meraja.
    *belum berhasil membuat cerpen dengan kecantikan ending mengambang.
    gemeeeeesssssss!!!!!

    misbmanise

    23 Agustus 2013 at 13:20

  34. […] Baca Sesaat Sebelum Berangkat disini. […]

  35. greget banget ama risa….

  36. ini cerpen terjelek karya puthut ea, yang lainnya lumayan bagus

    filesky

    6 Januari 2015 at 21:32

  37. […] Cerpen brilian ini bisa Anda baca di sini. […]

  38. Karakter Risa bikin gregetan, pengen langsung nabok

    mamah kradenan

    28 April 2015 at 10:42

  39. […] Kini, aku menangis keras-keras di dalam kamar. Sendirian.*** […]

  40. Saya juga gg begitu paham,, tapi di awalnya tertulis terdengar isak tangis lamat2 dari blik pintu, mungkinkah si anak sudah mati sebelum pamannya menemui ibunya??? Kepalanya gg nyampe berimajinasi hehehe

    yanti

    7 Maret 2016 at 21:49

  41. Hebat. Kalau ada di antara kalian yang bilang jelek, sebenarnya yang jelek bukan cerpenya tapi, pemahaman kalian tentang alur. Sebaiknya baca ulang sampai tujuh kali.

    Mansur Muhammad

    17 Maret 2016 at 09:39


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: