Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Foto

with 2 comments


Gelap datang menyungkup. Lampu padam tiba-tiba. Sepi di luar rumah karena hanya sesekali kendaraan bermotor lewat. Kegelapan seperti ini merupakan hal biasa bagi kota kecil yang terletak di kaki gunung itu.

Timisela memanggil istrinya agar menyalakan lilin. Foto yang sejak tadi dipegangnya dimasukkannya kembali ke dalam map dan diletakkannya di atas meja. Istrinya yang kemudian datang dengan membawa lilin menyala di tatakan gelas, menatap suaminya yang menyandar di kursi.

”Masih menatap foto itu lagi?” istrinya bertanya. Timisela tidak menjawab. Ia memilih berdiam diri karena pertanyaan seperti itu telah puluhan kali didengarnya.

”Kalau foto itu mengganggumu, robek saja dan buang. Sudah lama aku ingin membuang foto itu jauh-jauh, tapi aku takut kau marah”.

Timisela hanya menatap istrinya. Istrinya yang segera menangkap makna tatapan itu meninggalkan Timisela dan kembali ke ruang belakang.

Upacara pemberian penghargaan itu berlangsung meriah dan dihadiri banyak jurnalis tersohor. Timisela benar-benar merasa tersanjung dengan penghargaan yang diterimanya, hanya beberapa hari sebelum ia pensiun. Istrinya dan ketiga anaknya turut bangga dengan penghargaan yang diterima Timisela. Dalam lima tahun itu hanya Timisela yang mendapat penghargaan seperti ini.

”Penghargaan ini berbeda dengan Pulitzer Prize yang diberikan kepada seseorang di Amerika sana karena prestasi jurnalistik atau sastra seperti yang sering aku ceritakan kepadamu. Yang kuterima ini diberikan karena keteguhan memegang prinsip dan keberanian yang layak mendapat pujian.”

Begitu Timisela selesai melepas kata-kata itu kepada istrinya, telepon berdering. Suara Takdir di seberang sana terdengar gembira.

”Selamat Timisela. Aku bangga sekali karena kau menerima penghargaan itu. Mestinya aku meneleponmu kemarin, tapi aku baru tahu dari berita koran hari ini. Kalau menurut pendapatku, penghargaan itu seharusnya diberikan dulu bukan sekarang ini. Keberanianmu memang telah teruji, Timisela.”

”Terima kasih, Takdir.”

”Sekali lagi selamat, Timisela.”

Timisela menyandar ke punggung kursi dan menarik napas.

”Dari siapa?” istrinya bertanya.

”Takdir.”

Timisela memilih tinggal di kota kelahirannya, sebuah kota kecil di kaki gunung, setelah ia tidak lagi memimpin media cetak tersohor itu. Ia pensiun dini walaupun usianya baru setengah abad. Walaupun telah satu tahun meninggalkan kota besar tempat tinggalnya dulu dan menikmati sisa hidupnya di kota kecil di kaki gunung ini, Takdir dan kata-katanya yang dilepasnya dengan nada gembira tahun lalu itu membuatnya gelisah. Keresahan itu diutarakannya kepada istrinya. Bagi Timisela, kata-kata Takdir itu adalah sindiran telak yang sangat memukulnya. Sambil menengadah ke langit-langit ruang tamunya, ia merajut kembali sekeping masa lalunya dan mencoba untuk lebih memahami bagaimana ia harus menerima pujian itu.

Takdir diseret dengan paksa oleh dua orang bertubuh kekar berpakaian seragam ke sebuah mobil jip hard top berwarna hijau yang menunggu di pinggir jalan. Istri Takdir yang tidak menduga akan menyaksikan adegan seperti itu menjerit ketakutan. Jeritan itu berlanjut dengan tangisan yang menyayat. Sambil berjalan cepat mengikuti langkah kedua lelaki berseragam itu, ia memohon agar suaminya dilepaskan.

Kedua lelaki berseragam itu tidak memedulikan permohonan dan tangisan istri Takdir. Mereka terus menyeret Takdir dan mendorongnya masuk ke dalam jip. Kemudian jip itu menderu dan melaju meninggalkan istri Takdir.

Dalam jip yang dikemudikan lelaki berpakaian preman itu telah menunggu seseorang yang juga mengenakan pakaian seragam dengan tanda pangkat di bahunya. Wajahnya tidak bersahabat. Begitu jip menderu dan melaju, lelaki bertampang sangar itu memulai tugasnya dengan melayangkan tinjunya ke wajah Takdir. Setelah itu menyusul pukulan-pukulan keras ke dada dan perut Takdir. Kedua lelaki yang menyeret Takdir dari rumahnya hanya berdiam diri menyaksikan peristiwa itu. Tampaknya mereka tidak berani berbuat apa pun karena penganiayaan yang berlangsung di depan mata mereka dilakukan oleh atasan mereka berdua.

Ketika tinju sang perwira mendarat di matanya, Takdir yang sejak tadi mempertahankan diri dengan menahan rasa sakit, walaupun telah mendapat pukulan bertubi-tubi, terdengar mengaduh. Orang yang menyiksanya ternyata belum puas. Ia terus meninju Takdir hingga darah segar bercucuran dari mulut dan hidung lelaki itu. Sambil bertahan, erangan Takdir sambil menyebut nama Tuhan terdengar beberapa kali.

Sang penyiksa baru berhenti melaksanakan tugasnya setelah jip memasuki halaman rumah tahanan. Takdir didorong oleh penyiksanya agar turun dari jip dan melangkah ke ruang tahanan, bergabung dengan para tahanan lainnya. Di dalam tahanan siksaan dilanjutkan petugas yang lain.

Semua itu dituturkan istri Takdir kepada Timisela dengan suara terbata-bata. Timisela tidak berkata sepatah pun mendengar kisah yang dipaparkan istri Takdir. Ia hanya menatap perempuan itu dengan wajah yang memperlihatkan simpati. Begitu akan meninggalkan Timisela, istri Takdir memberikan sebuah amplop berisi surat Takdir kepada Timisela.

”Saya yang menulis surat ini berdasarkan cerita Takdir ketika saya menemuinya di tahanan. Sebagian besar isi surat ini didiktekannya kepada saya. Setelah itu ia meminta saya menyampaikan surat ini kepada Anda. Surat ini surat Takdir walaupun saya yang menulisnya.”

Timisela menerima surat itu. Lama surat itu dipegangnya.

”Untuk saya?”

”Ya, untuk Anda”

”Terima kasih, sampaikan salam saya kepada Takdir.”

”Saya telah membaca seluruh isi surat ini. Kebrutalan yang diungkapkan di sini benar-benar mencabik-cabik perasaan dan membuat saya marah. Karena itu, saya ingin kemarahan saya ini diketahui orang lain. Itulah sebabnya surat ini saya fotokopi dan saya edarkan kepada Anda semua agar Anda mengetahui mengapa saya marah. Saya juga ingin mendengar pendapat Anda semua tentang apa yang seharusnya saya lakukan atau kita lakukan untuk memperlihatkan rasa simpati kepada teman yang saya kenal sejak di SMA ini.”

Kata-kata itu meluncur dengan lancar dari mulut Timisela kepada semua jurnalis yang berkumpul di depannya. Kemudian beberapa lembar fotokopi surat tersebut beredar di kalangan jurnalis yang dipimpinnya itu. Hanya dalam waktu satu jam para jurnalis telah berkumpul kembali dalam ruang rapat untuk memberikan pendapat mereka.

”Ini layak menjadi berita,” kata seorang jurnalis.

Pendapat itu didukung sebagian besar jurnalis yang hadir di ruang rapat. Para pendukung pendapat tersebut menyimpulkan, walaupun Takdir adalah aktivis yang sering melontarkan kata-kata kasar yang mengoyak telinga, kebrutalan seperti itu tidak dapat dibenarkan dan didiamkan. Masyarakat harus tahu dan harus ikut marah. Karena mereka adalah jurnalis, alat mereka untuk mengungkapkan hal itu kepada publik adalah memberitakan kejadian tersebut di media tempat mereka bekerja.

Hanya sebagian kecil jurnalis berpendapat lain. Mereka merasa surat tersebut lebih layak diberi tempat dalam rubrik ”Surat Pembaca”. Dengan demikian, opini media mereka tidak perlu dikemukakan.

”Ini lebih aman,” ujar jurnalis yang pertama-tama mengemukakan hal itu. Mendengar kata ”lebih aman” Timisela tersentak. Ia tidak peduli lagi dengan hiruk-pikuk perdebatan antara rekan-rekannya yang berbeda pendapat. Mendengar kata ”lebih aman” ia kembali sadar betapa pengap dan busuknya udara di luar sana. Untuk bersikap terhadap udara pengap dan berbau busuk itu, orang harus memilih. Pilihan hanya dua: menolak atau berkompromi. Bagi Timisela keduanya tidak mudah. Karena merasa belum menemukan pemecahan, dengan tatapan kosong dan langkah gontai Timisela meninggalkan ruang rapat. Namun, ia sadar solusi harus ditemukan.

Pagi keesokan harinya keputusan Timisela dilontarkannya kepada semua rekan sekerjanya di ruang rapat.

”Surat ini untuk saya pribadi, bukan untuk umum. Kemarahan saya adalah juga kemarahan pribadi, kemarahan seorang manusia yang temannya teraniaya. Teman saya itu juga tidak meminta surat ini dijadikan bahan berita atau kita muat sebagai surat pembaca. Ia hanya ingin saya tahu keadaannya. Karena itu saya putuskan, surat ini tidak akan dipublikasikan dalam bentuk apa pun. Saya mohon maaf karena telah meminta pendapat Anda, tetapi tidak memedulikan pendapat itu.

Di samping itu saya juga tidak ingin kepentingan pribadi saya menjadi penyebab ditutupnya mulut kita semua yang bekerja di media ini oleh kekuatan yang menakutkan di luar sana. Karena itu juga berarti ditutupnya pintu rezeki kita sehingga kita tidak dapat memberi makan keluarga. Kita tidak perlu memamerkan keberanian karena kata berani itu sendiri harus diberi makna sesuai dengan kondisi suatu saat.

Tidak terdengar reaksi apa pun dari para jurnalis yang memenuhi ruang rapat. Tampaknya mereka paham mengapa pemimpin mereka menjatuhkan pilihan seperti itu. ”Peace of mind” adalah frasa dalam bahasa Inggris yang selalu didengungkan Timisela kepada rekan-rekan sekerjanya. ”Ketenangan diperlukan untuk dapat bekerja dengan baik,” katanya selalu. Timisela juga merasa tenang setelah mengambil keputusan itu karena baginya itu ”lebih aman”.

Ucapan selamat yang disampaikan Takdir benar-benar menikamnya. Timisela tenggelam dalam beribu tanya, walaupun semua tanya itu bermuara pada dua pertanyaan yang sulit dijawab. ”Benarkah Takdir mengucapkan selamat itu dengan jujur karena kegembiraan seorang teman, atau ucapan itu benar-benar pukulan telak yang tidak mengenal ampun, karena ia tahu siapa aku?”

Timisela juga bertanya kepada dirinya apakah piagam penghargaan yang dihadiahkan sebuah institusi terhormat dari luar negeri itu layak diterimanya. Ini yang belakangan membuatnya berkali-kali mengamati foto saat ia menerima piagam penghargaan dari lembaga yang sangat menghormatinya itu.

Foto itu tetap tersimpan di dalam map dan Timisela tidak pernah berencana membingkai foto itu dan memajangnya di ruang tamu. Satu tahun foto itu tersimpan di dalam map dan selama satu tahun pula foto itu ditatapnya berkali-kali. Ada sesuatu yang menyakitkan setiap kali ia menatap foto itu. Setelah lama merenung, Timisela akhirnya mengambil keputusan yang mengejutkan.

”Yola,” katanya memanggil istrinya. ”Buang ini ke tempat sampah,” ujarnya sambil memberikan sobekan-sobekan foto yang baru dirobeknya. Istrinya menerima sobekan-sobekan itu dan tetap berdiri di depannya

”Ada apa?” ia bertanya kepada istrinya.

”Piagamnya bagaimana?”

Ia tidak langsung menyahut. Sambil mengambil telepon selulernya dari meja di depannya, Timisela menoleh kepada istrinya.

”Minggu depan kita kan ke Jakarta. Aku ingin bertemu dengan Takdir. Biarlah dia yang merobek piagam itu,” katanya.

Jakarta, 31 Januari 2009

Written by tukang kliping

22 Maret 2009 pada 21:00

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

2 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. MENGGUGAT PUTUSAN SESAT HAKIM BEJAT

    Putusan PN. Jkt. Pst No.Put.G/2000/PN.Jkt.Pst membatalkan Klausula Baku yang digunakan Pelaku Usaha. Putusan ini telah dijadikan yurisprudensi.
    Sebaliknya, putusan PN Surakarta No.13/Pdt.G/2006/PN.Ska justru menggunakan Klausula Baku untuk menolak gugatan. Padahal di samping tidak memiliki Seritifikat Jaminan Fidusia, Pelaku Usaha/Tergugat (PT. Tunas Financindo Sarana) terindikasi melakukan suap di Polda Jateng.
    Ajaib. Di zaman terbuka ini masih ada saja hakim yang berlagak ‘bodoh’, lalu seenaknya membodohi dan menyesatkan masyarakat, sambil berlindung di bawah ‘dokumen dan rahasia negara’.
    Statemen “Hukum negara Indonesia berdiri diatas pondasi suap” (KAI) dan “Ratusan rekening liar terbanyak dimiliki oknum-oknum MA” (KPK); adalah bukti nyata moral sebagian hakim negara ini sudah terlampau sesat dan bejat. Dan nekatnya hakim bejat ini menyesatkan masyarakat konsumen Indonesia ini tentu berdasarkan asumsi bahwa masyarakat akan “trimo” terhadap putusan tersebut.
    Keadaan ini tentu tidak boleh dibiarkan saja. Masyarakat konsumen yang sangat dirugikan mestinya mengajukan “Perlawanan Pihak Ketiga” untuk menelanjangi kebusukan peradilan ini.
    Siapa yang akan mulai??

    David
    HP. (0274)9345675

    David

    17 April 2009 at 08:57

  2. bagaimana cara mengirim cerpen ke harian Kompas? cerpen ini cukup menarik. saya suka

    Riduan Situmorang

    19 Mei 2009 at 22:46


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: