Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Penyusup Larut Malam

with 12 comments


Sunyi wajah lelaki tua, lusuh, bersarung dan berpeci. Langkahnya pincang memasuki pelataran rumah Aryo. Lepas asar, dalam gerimis, wajah lelaki tua lusuh itu seperti susut. Menahan kegugupan. Dia menemukan pencariannya pada Aryo — meski mereka belum saling kenal. Matanya juling. Tak tepat membidik wajah Aryo. Aneh, rekah bibirnya kian menakik senyum, “Nah, kaulah yang kucari!” Tangan kanannya terjulur. Menyalami Aryo, erat dan akrab.

Menolak duduk di kursi. Lelaki tua bermata juling itu memilih bersila di tantai. Aryo menduga-duga. kenapa lelaki tua itu datang ke rumahnya, begitu rupa rendah hati.

“Belilah ladang saya, Nak,” pinta lelaki tua juling itu.

“Saya tidak berminat beli ladang” tukas Aryo, lunak, lembut, sambil memandangi sisa gerimis tipis yang membasahi peci lelaki tua lusuh itu.

Lelaki tua berpeci itu memohon dengan mata juling yang membersitkan cahaya harapan, sepasang mata yang penuh ketulusan. Tubuh lelaki tua itu kurus berkeriput. Mencari gairah dan luar dirinya. Rupanya Aryolah yang menjadi harapannya.

“Coba pikir lagi, Nak. Barangkali kau berminat. Kujual ladangku dengan harga sangat murah. Mungkin kau punya sejumlah uang yang saya perlukan.” lelaki tua lusuh itu menyebut sejumlah harga. Aryo tercengang. Alangkah murah, dan wajah lelaki itu menyiratkan permohonan. “Uang ini untuk biaya berobat istri saya”

Tertegun. Aryo surut, merasa diri kerdil. Ditahannya tubuh yang menggigil. Ia tak lagi berani membalas tatapan juling lelaki tua lusuh itu. Liang sunyi sangat legam di dalamnya. “Besok siang. datanglah kembali ke sini. Akan saya bayar lunas ladang itu”

Gugup, lelaki tua berpeci itu menyalami Aryo. Menembus rintik genimis tiada henti membasahi pecinya. Langkahnya terpincang-pincang. Tertatih-tatih menjauh.

Menuruni jalan setapak tak jauh dari rumahnya, menjelang senja, Aryo mencapai ladang yang dibelinya dari lelaki tua berpeci. Ladang itu terletak di lembah yang dikitari pegunungan. Berpagar hambu berkeliling, dan didalamnya berdiri surau kayu. Dalam gerimis, surau itu mengekalkan sunyi, tak jauh dari rumah-rumah kampung yang dirobohkan huldoser. Pepohonan bergelimpangan ditebas gergaji mesin. Ladang-ladang diratakan sebagai dataran luas—coklat kemerahan—dengan kupu-kupu senja berpasangan, senyap dan rapuh. Tinggal rumah lelaki tua berpeci, ladang yang dibeli Aryo, dan surau kayu beratus tahun yang masih utub berdiri.

Terdengar parau azan magrib, dikumandangkan lelaki tua berpeci. Ia sendirian di surau. Tak seorang pun duduk bersila di tikar aus. Lelaki tua berpeci berdiri dengan kaki kanan mengecil di bawah sarungnya. Tumit kaki kanannya sedikit diangkat, agar ia bisa kokoh berdiri. Menoleh sesaat ia, tatkala mendengar langkah kaki Aryo. Tapi segera tersenyum tulus.

“Kini kau tahu, mengapa kujual ladang ini padamu?” tanya lelaki tua itu usai shalat dan berdoa, menyalami Aryo.

“Belum sepenuhnya paham.”

“Lihat, seluruh warga kampung ini meninggalkan rumahnya. Tanah dan rumah mereka dijual. Di sini akan didirikan perumahan. Tinggal saya yang rnasih bertahan. Ladang ini kujual padamu, karena berdiri surau leluhur kami. Aku percaya, kau akan mempertahankannya.”

“Bagaimana Bapak bisa mengenaliku?”

“Anakmu, gadis kecil, Salsa, suka bermain di ladangku. Bersama teman-temannya, dia sering menungguiku mumbakar ketela atau jagung di ladang dan memakannya panas-panas. Aku pernah mengantarkannya pulang, ketika hujan, dan bersua denganmu.”

“Lalu, kenapa Bapak serahkan ladang ini padaku?”

Lelaki tua itu tersenyum, seperti ingin menertawakan Aryo. Dari senyumnya, lelaki tua itu menampakkan kepasrahan yang tenang.

“Aku ingin surau ini kaupertahankan. Jangun dijual.” Lelaki itu terdiam. Memandang tajam Aryo. “Ini surau leluhur.”

Seorang lelaki setengah baya berdasi mendatangi rumah Aryo menjelang senja. Sopan. Menunggu lama di ruang tamu. Menunggu Aryo yang baru saja pulang dari luar kota. Ia menampakkan kesegaran senyum. Saat bersua Aryo, lelaki asing itu menampakkan keakraban.

“Kami datang untuk menawar ladang di tengah perumahan yang sedang kami bangun,” kata lelaki setengah baya berdasi itu.

“Saya tak berniat menjualnya pada siapa pun. Ada surau yang mesti kupertahankan.”

“Surau itu sudah ditinggalkan. Semua orang di kampung itu menjual tanahnya.”

“Termasuk rumah lelaki tua ilu?”

“Dia telah menjual lahan dan rumahnya. Pindah di desa lain,” kata tamu setengah baya berdasi itu, penuh kemenangan. “Tinggal lahan Bapak yang belum dijual. Kami berani menawar dengan harga tinggi. Mungkin ini harga tertinggi yang pernah kami tawarkan.”

Tercengang Aryo mendengar harga sangat tinggi yang ditawarkan lelaki setengah baya berdasi itu. Baru beberapa saat dia beli ladang dan lelaki tua pincang itu, kini harganya sudah melambung berlipat kali. Dia merasa berdosa, telah membeli tanah dengan harga yang sangat murah. Kini dia tak bisa mempertahankan surau dan lahan itu.

Usai shalat magrib. Kiai Najib memimpin doa di surau yang sepi, hampir-hampir tanpa pengunjung. Hanya empat orang yang mengikuti shalat magrib di surau itu. Kiai Najib yang mulai rapuh tubuhnya, menyalami tiga orang yang mengikuti doanya. Aryo memahami kecemasan dalam cahaya mata kiai.

“Jangan pulang dulu,” kata Kiai Najib, “ada hal yang perlu kubicarakan. Surau ini sudah sangat tua. Perlu dibangun kembali surau yang lebih baik, agar orang-orang mau shalat berjamaah ke sini.”

“Kiai jangan cemas. Aku akan membangun surau ini dengan uang penjualan ladangku.”

Kiai Najib terbelalak. Aryo mengangguk. Meyakinkan kiai.

Meradang pandangan lelaki tua pincang itu. Tajam. Kemarahan membakar sepasang mata juling itu. Aryo tak menyangka, lelaki tua juling itu datang ke rumahnya sore hari. Kemurkaan memperkeruh wajahnya. Aryo tersenyum. Terus tersenyum. Dia tak ingin mengimbangi perangai murka lelaki tua bermata juling. Dia seperti sudah menebak akan ketakrelaan itu.

“Kuserahkan ladang itu bukan untuk kaujual pada pengembang perumahan!” kata lelaki tua bermata juling.

“Aku tak bisa mempertahankan lahan itu. Ketika seluruh kampung menjual rumah, tak ada lagi yang mendatangi pengembang perumahan untuk membeli lahan itu,” tukas Aryo. “Saya memang sudah menjual ladang itu, tapi semua uang yang kuterima, kuserahkan untuk membangun surau di permukiman ini.”

Sepasang mata lelaki juling itu meredup. Dada tipis yang menahan sesak napas itu menguncup. Kedua bahunya jatuh. Wajahnva luruh. Ia menyalami Aryo. Berpamitan. Aryo mengikutinya. Langkah mereka terhenti di tanah lapang yang dibangun surau baru. Lama lelaki tua juling itu memandanginya. Terseyum. Mengangguk-angguk. Tubuhnya kian rapuh tertatih-tatih menjauh.

Aryo lupa bertanya, di mana rumah lelaki tua juling itu kini.

Gerimis tengah malam memperpekat surau kecil yang baru selesai dibangun. Gelap seluruh ruangan tatkala seorang lelaki pincang menyusup ke pelataran surau. Mengucurkan air wudu. Desis air memancar lebih keras dari rintik gerimis di dedaunan jambu. Lelaki tua itu memasuki surau. Tahajud. Duduk bersila. Zikir. Lama. Hingga menjelang dini hari lelaki tua pincang itu masih berzikir.

Kiai Najib yang memasuki surau terperanjat. Dalam gelap surau, dia melihat lelaki asing di suraunya.

“Apa yang kaulakukan di sini?” tegur Kiai Najib, keras, tajam.

Lelaki pincang tua itu terdiam. Tenggelam dalam zikirnya. Kecurigaan Kiai Najib pada lelaki asing itu klan memuncak. Tak pernah sebelumnya, dalam suraunya datang seseorang lewat tengah malam, shalat tahajud dan berzikir.

“Kau tak bisa semaumu saja di surau ini!”

Masih duduk bersila, zikir, lelaki tua lusuh berpeci itu tak menyahut hardikan Kiai Najib. Tersenyum. Tenang sekali. Menyalami kiai. Mencium tangannya. Terpincang-pincang meninggalkan surau. Menghambur dalam rintik gerimis. Tak menoleh.

Usai shalat subuh. Kiai Najib mendekati Aryo, dan membisik. “Semalam aku menemukan seorang lelaki degil berzikir di surau ini. Aku tak mengenalnya. Kuusir dia. Jalannya terpincang-pincang.”

“Atas nama dialah kusumbang seluruh uang penjualan ladang untuk mendirikan surau kita”

“Oh, aku telah keliru mengusir orang,” tukas Kiai Najib masygul.

Tak lagi kelihatan Kiai Najib menjadi imam shalat di surau. Kiai terbaring sakit. Aryo tak pernah menduga, kiai akan jatuh sakit, justru ketika pengunjung surau tak sesunyi dulu lagi. Menjenguk kiai di kamarnya, Aryo menemui lelaki tua itu terbaring lunglai, suaranya jernih saat berpesan, “Sampaikan maafku pada lelaki tua berpeci itu. Aku berdosa telah berkata kasar padanya.”

“Akan saya sampaikan permintaan maaf kiai,” balas Aryo.

Tiap tengah malam seseorang melihat lelaki tua pincang memasuki surau dan meninggalkannya menjelang dini hari. Tapi Aryo, yang ingin sekali bersua dengannya, hampir tak punya kesempatan itu. Anehnya, hampir tiap tengah malam seseorang melihat lelaki tua pincang itu memasuki surau dengan wajah yang jernih, pandangan mata juling yang teduh. Berzikir larut dalam sunyi.

Pandana Merdeka, Januari 2009

Written by tukang kliping

8 Maret 2009 pada 17:38

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

12 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. asyik banget ceritane? eh,kalo boleh nanya, apa ya pekerjaan si kakek pincang itu, lalu siangnya pergi ke mana? kan bisa tambah asyik kalo misalkan semuanya jelas? soalnya orang hidup pasti mumet kehidupannya, makanya “hamba” bertanya, biar agak rasional,gitu lho, hehe .. becanda aje,

    imam mandala putra

    10 Maret 2009 at 11:45

  2. namanye aje cerpen, pendek-pendek..hehe juga. gini, seperti yang gue tau ye, kaya sastrawan aje, ga semua persoalan dibahas, mungkin kali yee, sorry ya mas imam, saya juga ga terlallu paham sastra, penikmat aja

    solehhuddin abdillah

    10 Maret 2009 at 11:51

  3. hmm.. hmm…
    musti baca berkali2 nih baru bisa ngerti

    Billy Koesoemadinata

    11 Maret 2009 at 12:33

  4. Kemisteriusan cerita yang mengasyikan.. aku suka. Bung Utomo begitu cerdik menahan emosi…

    yuditeha

    11 Maret 2009 at 13:57

  5. gak ngerti hanya dengan sekali berkunjung saja😛

    Treante

    11 Maret 2009 at 22:59

  6. Hmmm, setiap ada tanda titik tiga (…), ceritanya kesannya “terpotong”, kayak DVD player yang dipencet “next” padahal belum selesai 1 chapter. Harusnya pemotongannya dibuat lebih “halus”. Mungkin, karena ruang cerpen koran yang terlalu sempit ya.

    Adi Indrawan

    12 Maret 2009 at 21:57

  7. blog yang sangat bagus… bisa baca cerpen sampe puas… apalagi tentunya sudah melewati dapur seleksi Kompas.

    tanasamawa

    15 Maret 2009 at 22:08

  8. bagus kok..sepertinya ciri2 cerpen kompas itu selalu bgtu deh..bikin pembacanya “mikir” hehehehe

    lienz

    2 April 2009 at 16:22

  9. Tapi lama2 bosen juga…penulisnya dari tahun ke tahun dia-dia terus…
    elitisme atau memang penulis di Indonesia sedikit?

    A

    4 April 2009 at 09:01

  10. alhamdulillah cerpen ini sudah saya analisis Pak. terimakasih bantuan cerpennya.

    tommy

    28 Oktober 2010 at 01:51

  11. allhamdulillah karena cerpen ini saya mendapat pojian dari dosen\
    hehe…

    rully prastyo

    24 Juni 2012 at 21:27

  12. Ini jelas potret umat Islam Indonesia, bagi saya bagian ini yg paling menyakitkan dan paling representatif untuk umat Islam Indonesia “Gerimis tengah malam memperpekat surau kecil yang baru selesai dibangun. Gelap seluruh ruangan tatkala seorang lelaki pincang menyusup ke pelataran surau. Mengucurkan air wudu. Desis air memancar lebih keras dari rintik gerimis di dedaunan jambu. Lelaki tua itu memasuki surau. Tahajud. Duduk bersila. Zikir. Lama. Hingga menjelang dini hari lelaki tua pincang itu masih berzikir.

    Kiai Najib yang memasuki surau terperanjat. Dalam gelap surau, dia melihat lelaki asing di suraunya.

    “Apa yang kaulakukan di sini?” tegur Kiai Najib, keras, tajam.

    Lelaki pincang tua itu terdiam. Tenggelam dalam zikirnya. Kecurigaan Kiai Najib pada lelaki asing itu klan memuncak. Tak pernah sebelumnya, dalam suraunya datang seseorang lewat tengah malam, shalat tahajud dan berzikir.

    “Kau tak bisa semaumu saja di surau ini!”

    Masih duduk bersila, zikir, lelaki tua lusuh berpeci itu tak menyahut hardikan Kiai Najib. Tersenyum. Tenang sekali. Menyalami kiai. Mencium tangannya. Terpincang-pincang meninggalkan surau. Menghambur dalam rintik gerimis. Tak menoleh.”

    Taufiq Rahman

    20 November 2012 at 14:13


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: