Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Biji Mata Kaushalya

with one comment


Mata yang indah itu lantas memerah setelah segelas penuh Johnnie Walker memantik reaksi pada tubuh Kaushalya, perempuan yang kukenal secara tak sengaja di jantung Yarralumla, di dekat Bentham Butcher, tempat aku biasa membeli potongan daging sapi yang segar dan halal. Jika sudah demikian, maka ruh jahat akan merasuki tubuh perempuan berdarah Sri Lanka namun memegang paspor Kanada itu. Matanya adalah nyala api: ada amarah yang hendak diletupkan, ada dendam yang minta dituntaskan. Tubuhnya yang elok bergetar hebat, menguarkan aura iblis dari empat penjuru dunia. Mulutnya berceracau tentang kebiadaban dan kekejian. Jari-jari tangannya yang lentik dan dihiasi kuku-kuku sepanjang setengah sentimeter dan diberi pewarna merah muda menjelma jari-jari ”zombie” yang baru bangkit dari liang kubur: melempar, membanting, dan mencakar apa saja yang ada di dekatnya. Kali ini ia mencengkeram leherku, lantaran memang tidak ada benda lain yang ada didekatnya. Suaranya lantas memberat.

Terkutuklah kau tentara Tutsi1 yang telah mengirimku pada raja setan lewat cara paling jahanam, mencencang ragaku bersama tubuh saudara laki-lakiku dalam keadaan telanjang, membiarkan kami bersetubuh, menjadikan kami tontonan. Masih ingatkah kau, di antara gemuruh sorai, satu dari kalian mengambil galah bambu, lalu beramai-ramai menancapkan satu ujungnya yang lancip pada anus tubuh gerilyawan Hutu itu, menusukkannya, menembus perut, mengoyak paru-paru hingga menerobos kerongkongan dan kemudian mengibar-ngibarkan tubuh saudaraku ke angkasa sembari prajurit-prajurit laknat itu memerkosaku bergantian hingga aku sekarat!”

Kaushalya masih mencengkeram leherku, kian kuat. Ia benamkan kuku-kukunya yang tajam. Aku memang tidak hendak melawannya, semakin dilawan iblis yang ada di tubuhnya tambah girang dan berkuasa. Seperti pertama kali terjadi dulu, tepat sebulan setelah kami berkenalan hingga akhirnya kami berteman dekat, ia mengamuk melemparkan kursi-kursi dan meja-meja di Sizzle Café, ketika ia usai menenggak tandas sebotol white rum. Tidak ada yang mampu menghentikan dirinya. Tidak juga para sekuriti yang datang berhamburan, hanya bisa melongo melihat perempuan berkulit coklat dan bertubuh sintal namun tenaganya sebanding dengan tiga beruang jantan, tengah berteriak pekak memecahkan bekunya angkasa.

”Terkutuklah kalian orang-orang kulit putih, kalian tahu bagaimana kejinya nenek moyang kalian membakar hidup-hidup laki-laki Indian Huitoto di Putumayo2, sementara anak dan istri moyang kalian bersorak melihat gelimpang tubuh perempuan dan bocah-bocah Indian yang mati perlahan-lahan dengan badan menyerupai tengkorak lantaran tak tega memakan sesama mereka sendiri usai ladang-ladang gandum di bumi hanguskan leluhur kalian!”

Bacakanlah mantra itu, jika sesuatu terjadi padaku, please. Demikian pintanya sebelum ia meneguk white rum. Rapalkan kalimat-kalimat sakti itu setakzim orang Mesir menggumamkan mantra kehidupan pada Shawabti, boneka yang terbuat dari lilin atau kayu, supaya ruh kebajikan menelusupi boneka itu, membuat ia bernyawa dan kemudian menjaga tubuh orang-orang mati yang terbebat balsam, melayaninya sedemikian rupa, menggantikan pekerjaan baka mereka dengan memindahkan pasir-pasir dari sisi barat ke seberang timur sungai Nil, serta menjaga kubur-kubur para moyang demi sekaligus membahagiakan hati Dewa Ra, Sang Maha Perkasa.

Tentu aku tak percaya untuk apa membaca kalimat-kalimat tak jelas itu. Bukankah cerita Shawabti sama seperti cerita tentang Jelangkung atau Nini Thowok yang beredar di negeriku, permainan yang menjadi guyonan bagi orang-orang yang tidak percaya keberadaan arwah-arwah gentayangan.

Tapi memang iblis telah menguasai Kaushalya. Sejak matahari tepat di atas kepala hingga kemudian mencondong ke barat, membuat sinarnya leluasa menerobos ranting-ranting pepohonan jacaranda yang lagi meranggas di puncak musim dingin Canberra, betapa Kaushalya telah menghancurkan kaca, melempari mobil-mobil, menari-nari tak karuan sembari terus merutuki kaum pendatang kulit putih di Putumayo yang mempekerjakan para Indian selayaknya binatang. Ia terus berceloteh betapa tentara kulit putih tak segan-segan memenggal kepala para budak Indian, lantas menyepaknya ke sana kemari selayaknya bola, sementara gembungnya ditancapkan terbalik pada pagar-pagar kayu yang mengitari gudang penampungan hasil sadapan karet demi menakut-nakuti para Indian yang lain yang hendak menuntut balas atas kekejian itu.

Bersamaan sirene mobil polisi yang meraung, walau pikiran berselimut keraguan, mulai kubacakan mantra yang diselipkan oleh Kaushalya di dompetku dulu sewaktu akhirnya ia yang mesti mengalah setelah perdebatan yang panjang, untuk membiarkan aku mentraktirnya makan bebek panggang di sebuah restoran Thailand di pusat jajanan Queanbeyan. Ajaib, lima detik seusai aku mengucap kata terakhir, tubuh Kaushalya ambruk ke tanah, tangannya bersimbah darah lantaran menggenggam beberapa pecahan beling. Dan biji matanya yang indah itu tertutup rapat. Orang-orang hanya bisa bergemeremang. Di saat matahari beranjak angslup sementara angin dari telaga Burley mulai meniupkan udara sedingin es, selangkah demi selangkah kupapah tubuh Kaushalya.

Maka sama seperti waktu-waktu sebelumnya, sebelum ia memutus urat-urat nadi leherku, lagi dan lagi, kubacakan mantra itu: sama khidmatnya dengan jampi-jampi yang diucapkan seorang shaman Indian untuk mengusir setan-setan gentayangan yang merasuki budak-budak penderas karet yang didatangkan dari Afrika, supaya mereka tetap taat kepada tuan kulit putih mereka. Tubuh Kaushalya lantas terbanting ke lantai, berbarengan dengan tubuhku yang juga bergedebam di atas tubuhnya.

***

Mata yang indah dan sejuk itu, berubah layu dan sendu, lantas berakhir dengan air yang meleleh lewat sudut-sudut mata karena aku melarangnya untuk menenggak sebotol red wine yang memang biasa kuseruput untuk mengusir udara musim dingin. Seperti anak kecil, ia terus merengek: meminta barang setengah gelas dengan dalih tubuhnya mulai disergap beku. Iblis mana lagi yang hendak kau undang, Kaushalya! Aku muak dengan jahanam yang selalu berujar lewat mulutmu itu.

”Aku tak mau lagi melihat kau kerasukan arwah gerilyawan Hutu, atau jiwa kaum Indian, apalagi roh perempuan melarat Haiti yang diperkosa tentara junta yang ternyata mengidap HIV, menulari si perempuan hingga mati perlahan-lahan secara mengenaskan karena digerogoti virus mematikan itu, bersamaan dengan jabang bayi yang dikandungnya. Aku sudah bosan, Kaushalya! Lebih baik kita bercerita tentang Canberra yang kekal dingin meski pucuk-pucuk Kowhai sudah mulai bersemi, atau tentang festival bunga yang sebentar lagi digelar di Commonwealth Park, boleh juga tentang Australia yang makmur yang kita tinggali ini yang mampu menarik imigran-imigran dari seluruh penjuru dunia seperti kita. Atau tentang enam orang kulit putih yang biasa menarikan tarian Aborigin di lapangan Universitas Nasional Australia setiap Sabtu dan Minggu, juga tentang pengamen perempuan yang selalu bersimpuh di dekat pancuran Canberra City dengan gitar elektriknya yang nyaring dan suaranya yang merdu, menyanyikan lagu-lagu John Lennon, yang membuat kita ikhlas merogoh lembaran sepuluh dollar untuknya. Lebih baik kita bercerita tentang keindahan, dibanding bercerita tentang kekejian, kebiadaban! Tentu kau juga boleh bercerita tentang Phillip, laki-laki gagah nan tampan yang selalu berkirim salam kepadamu. Mengapa kau menolaknya? Dan mengapa kau malah memarahiku jika aku selalu menjadi kurir dalam menyampaikan salamnya untukmu. Mengapa kau mengacuhkannya? Bukankah ia seorang laki-laki kulit putih yang baik dengan prospek yang baik pula? Kau tak perlu lagi bersusah payah bekerja mengepel lantai dan membersihkan kamar mandi hanya untuk menghidupi diri. Kau bisa ongkang-ongkang kaki jika kau bersama laki-laki itu, Kaushalya!”

Perempuan itu terdiam mendengar mulutku bercerocos, tapi matanya tetap berair. Dan setiap kelopak matanya mengerjap, aku merasa ada lorong panjang nan hitam yang disembunyikan oleh mata itu, serupa lubang hitam yang mempunyai kekuatan mahadahsyat yang mampu menyedot komet, planet, bintang, bahkan galaksi. Mata Kaushalya pula yang selalu mengingatkanku pada sesuatu yang terlupa, semacam kepahitan yang tidak bisa digambarkan, namun samar-samar terngiang di telingaku saat aku tertidur dengan badan meriang: tentang gedebuk kaki-kaki orang berselaput amarah dan dendam, tentang panasnya api, tentang rubuhnya harapan, tentang …, ah, … Mata itu, ya, mata itu: mampu menghipnotisku untuk beberapa lama, mengirimku pada sesuatu yang tidak bisa aku ingat, sesuatu yang lenyap begitu saja dari memori otak: semacam amnesia, sesuatu yang membuat dada sakit dan napas tersengal jika aku berusaha keras mengingatnya. Matanya pula yang mampu menarik perhatianku, betah berlama-lama dengannya.

”Ceritakanlah kepadaku mengapa kau meninggalkan Sri Lanka, pergi ke Kanada, dan sekarang kautinggalkan Kanada pergi ke sini, Kaushalya?”

Pertanyaan itu kuajukan kepadanya, meski aku sangat tahu ia bakal menolak menceritakan alasan mengapa ia meninggalkan negerinya. Sama hafalnya dengan jawaban yang selalu keluar dari mulutnya, bahwa ia tak mau kehilangan sebelah biji matanya yang indah itu jika ia bercerita tentang dirinya. Tetapi saat ini, rasanya aku punya posisi tawar yang agak masuk akal, mengingat ia terus merengek memohon red wine barang segelas, untuk mengundang iblis merasuki tubuhnya. Ya, semenjak Kaushalya berkenalan dengan Gretchen, perempuan Aborigin yang kalau bicara layaknya orang berteriak, ia selalu kerasukan ruh-ruh penasaran jika menenggak liquor melebihi kadar normal. Entah mantra apa yang ditiupkan ke ubun-ubun Kaushalya, tetapi ia jelas mengaku sangat bahagia usai pertemuan pertama sekaligus terakhir dengan perempuan misterius itu. Sejak itu pula mata Kaushalya yang indah berkesan lebih indah.

Biji mata yang sempurna, bagi perempuan yang sempurna, meski ada satu yang mencoreng kesempurnaanya: tatoo di lengan kanannya. Kau selalu melengos bila aku bertanya mengapa lenganmu yang indah itu mesti dirajah jarum-jarum bertinta yang menghasilkan kepala macan bersilangkan dua senapan3. Kau malah marah jika aku meneruskan bertanya. Lantas kau mengatupkan matamu rapat-rapat. Kau memang sangat tahu kalau menutup mata itu lama, otomatis aku akan berhenti bertanya tentang gambar macan atau alasan imigrasimu.

Ah Kaushalya, matamu yang indah itu selalu menyiratkan kenangan kelam yang susah diterka seberapa dalamnya, namun pasti lebih dalam dari palung terdalam yang dimiliki tujuh lautan di dunia. Andai saja aku bisa mencongkel biji matamu satu saja dan mencangkokkannya ke mataku, pastilah aku tidak akan mengalami kegamangan yang selalu menyeret jiwaku ke lembah kesepian yang ngungun dan tak bertuan.

”Bacakanlah kalimat-kalimat ini, berikan sebotol anggur dan aku tak perlu lagi menutupi muasal minggatku dari negeriku,” ia menghancurkan lamunanku.

Lalu pada sebuah gelas kosong kutuang hingga meluber anggur merah itu sembari kuajukan lagi pertanyaan yang sama kepada Kaushalya yang matanya mulai membelalak dan berbinar.

Menit demi menit selanjutnya hanyalah semacam kebodohan membiarkan sekali lagi arwah penasaran manjing di tubuh Kaushalya. Ia tidak bercerita mengapa ia meninggalkan Sri Lanka, tetapi malah berkoar tentang teror yang membuatku sebal dan mual: kebiadaban tentara Serbia yang beramai-ramai menggagahi perempuan Bosnia yang tak berdaya, di depan mata anaknya yang telah babak belur dihajar sepatu lars dan popor senapan dan suaminya yang wajahnya berleleran darah lantaran satu telinga dikerat paksa.

***

“Satu tegukan saja Isabel, dan kau akan merasakan betapa nikmatnya kerasukan arwah korban kekejian para manusia berhati serigala. Satu tegukan lagi Isabel Tsai, maka kenangan hitam tentang kebiadaban yang dilakukan bajingan-bajingan pribumi itu akan sesaat lesap dari ingatanmu!”

Itu yang masih dapat aku ingat dari bisikan mesra Kaushalya, sebelum aku tahu bahwa aku ternyata punya sejarah kelam yang sama dengannya, sebelum kami bersetubuh untuk pertama kalinya sambil menenggak berbotol-botol vodka, sebelum kami melayang-layang entah ke mana: mungkin ke neraka! * * *

Canberra, 24 September 2008

Catatan:

1. Tutsi dan Hutu adalah dua etnik yang selalu bertikai di Rwanda-Burundi, sejak zaman prakolonialisme hingga kini. Dalam sejarah, keduanya berkuasa bergantian, sembari setiap penguasa membantai yang dikuasai, berulang dan terus berulang.

2. Sebuah wilayah di pedalaman Peru di sepanjang Sungai Putumayo. Pada awal abad ke-20, saat booming karet melanda dunia, pendatang Inggris menguasai daerah itu, mendirikan gudang-gudang penyimpanan karet, mempekerjakan para Indian dan budak Afrika dengan cara-cara yang kejam sehingga antropolog Michael Taussig menyebut habitus Putumayo saat itu sebagai culture of terror–space of death.

3. Simbol gerakan separatis Macan Tamil di Sri Lanka. Dominasi etnis mayoritas atas minoritas Tamil yang ada di wilayah selatan Sri Lanka disinyalir memicu munculnya gerakan yang kemudian dicap teroris oleh sebagian besar negara di dunia.

Written by tukang kliping

9 November 2008 pada 10:41

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Satu Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Masih nulis tho, teryata. Selamat !
    Senada cerpen-cerpenmu dulu. Penuh Emosi. kejutan-kejutan hebat.
    Salam untuk Esty.

    Yuditeha

    15 Desember 2008 at 12:38


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: