Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Yuang Apuak

with one comment


Arwah Yuang Apuak serta-merta melesat ke langit tinggi dan terkaing di lapis ketiga. Arwah itu meregang dan lepas dari tubuh Yuang Apuak di bilik kumuh kontrakan. Sejenak mengiringi sampai di pusara, dari liang lahat arwah itu pun leluasa menembus lapis langit pertama yang punya kejauhan dan keluasan tak terukur. Jarak menjadi nisbi. Begitu pula ke lapis berikut, ke lapis berapa pun.

Orang-orang yang mengantar, mengiring, dan menguburkan jenazah, termasuk istri mutakhir dan dua orang putra Yuang Apuak, belum lagi sampai di rumah mereka. Tetapi jasad tambun Yuang Apuak yang baru dimasukkan, dibaringkan di lahat serta-merta dikerubungi ulat-ulat putih, seputih tiga lapis kafan yang diinfakkan oleh orang yang pernah dihinadinakan Yuang Apuak. Entah dari mana ulat-ulat itu datang, tetapi semua liang dan lubang menjadi penuh. Bibir, gigi-geligi, lidah dan jari-jemari ulat-ulat itu menggerogoti kulit, lamat-lamat menarik dan menelan daging, darah, nanah, urat-urat dan kotoran Yuang Apuak yang, biar sudah mayat, masih segar.

Lubang telinga, biji mata, otot-otot pangkal lengan dan paha, pusar, buah zakar Yuang Apuak dikerubungi, dipintir, dijilat, dan dimamah habis. Ulat-ulat itu berbuat ligat seolah tak mengenal kenyang. Mereka, ulat-ulat itu, juga tak mengenal batas. Mereka menembus tanah timbunan dan kain kafan. Mereka dengan lahap mengeroyok tubuh sehingga, sebelum malam, daging-daging dan nyaris semua isi kerangka tubuh Yuang Apuak habis. Terbaring, terbungkus, yang tertinggal tulang-belulang, rangka. Tengkorak kepala seolah menggeleng, dan tungkai kaki bagaikan hendak mengurak langkah seribu, ingin lari dari alam tak berpinggir. Kain kafan itu sendiri menjadi tak beraturan.

Apa yang terjadi pada tubuh Yuang Apuak bukan tak diketahui arwahnya yang terkaing-kaing nun di angkasa jauh, amat jauh. Arwah Yuang Apuak merasakan pedih gigitan ulat-ulat putih yang berjumlah alangkah banyak. Arwah mengetahui, bahwa anggota tubuh itu sesungguhnya minta diperhatikan, minta pengertian, minta belas kasihan dan minta pertanggungjawaban. Tetapi kini semua serba tak bisa. Tak ada lagi kamus tolong-menolong ketika arwah dan jasad berpisah. Betapa lagi arwah Yuang Apuak terkaing-kaing, entah mengapa tiba-tiba tak boleh melesat ke lapis langit berikut.

Ulat-ulat putih apa yang menyesap bangkai Yuang Apuak? Dan dari mana ulat-ulat itu rubung? Apakah itu barangkali merupakan wujud konkret orang-orang yang selama ini menjadi permainan patgulipat dan kongkalengkongpengkong Yuang Apuak dalam pelbagai peluang dan kesempatan? Orang-orang itu lalu mengambil kembali darah, nanah, dan hak mereka yang selama ini disesap Yuang Apuak ketika masih hidup dengan pelbagai tipu muslihat?

Di masa kanak-kanak Yuang Apuak termasuk lebe1 dengan ingus sering meleleh, tak terseka. Namun semasa SD, Yuang Apuak belajar menilep dan tak membayar jajan di kantin sekolah. Kalaupun membayar, itu selalu tak sama dengan jumlah kue onde-onde, sebagai contoh, yang dia makan. Yuang Apuak memakan tiga, tetapi yang dia bayar cuma satu. Dia tak melakukan mark up, tetapi mark down apa yang dia makan. Bila pemilik kantin pica2, Yuang Apuak tak takut untuk tak bayar. Kelakuan itu, kemudian, sambil ngakak diceritakan Yuang Apuak kepada teman-temannya. Lidah, gigi, geraham, dan kerongkongan Yuang Apuak membenarkan, bahwa jajan itu tak dibayar utuh. Kepada arwah, di langit tinggi, ke sanalah pembenaran disampaikan. Apa pun yang dilakukan Yuang Apuak di masa kanak-kanak, dan semasa hidup, mendapat konfirmasi sahih sesahih-sahihnya. Dan itu memedihkan arwah. Rasa pedih itu sungguh-sungguh pedih sepedih-pedihnya.

Setamat sekolah menengah, Yuang Apuak tak melanjutkan ke perguruan tinggi. Secara klasikal, keadaan keuangan orangtua tak memadai, menjadi alasan yang masuk akal bagi Yuang Apuak untuk tak kuliah. Ayah Yuang Apuak kuli angkat dan angkut di terminal bus antarkota, lalu lama menjadi tukang dobi. Ibu Yuang Apuak hanya di rumah, setelah tak kuat mencuci pakaian untuk mendapatkan upah. Tak aneh bagi Yuang Apuak sebelum sekolah tak menerima uang jajan. Juga tak aneh bila Yuang Apuak pernah mencuri uang dalam tas teman-temannya. Yuang Apuak tak meraih beasiswa biarpun selama di SMP dan SMA dia menggeluti dunia kesenian. Dari dunia itu pula, melalui beberapa kali lomba, Yuang Apuak dinobatkan menjadi pembaca puisi terbaik. Yuang Apuak pun dianggap aktor teater andal dan kelak, siapa tahu, bisa menjadi sehebat WS Rendra.

”Untuk apa aku sekolah tinggi-tinggi?” Yuang Apuak merenung.

Dari ubun-ubun sampai ke empu kaki Yuang Apuak mengalir pengakuan, bahwa orangtua Yuang Apuak miskin. Dan itu tidak keliru. Di sekolah Yuang Apuak termasuk campin dalam mata ajaran seni-budaya. Seperti anak randai3, Yuang Apuak berbakat besar bermain drama. Pembenaran-pembenaran itu tak dilebih-lebihkan dan tak dikurang-kurangkan.

Pernah, dalam renungan malam, di masa remaja, berkali-kali Yuang Apuak memikirkan lawan jenis—termasuk seorang perempuan imut berhidung bangir yang dia kenal sejak kecil. Setelah balig, Yuang Apuak menelanjangi dan menggerayangi tubuh perempuan bertubuh mungil itu. Biarpun kemudian menjadi istri Yuang Apuak dan memberinya tiga orang anak, tetapi dia tak membawa perempuan itu meninggalkan Kota P. Merantau dan pindah ke Kota J, Yuang Apuak memperoleh kesempatan berkelana dan berkenalan dengan, dan menyanggamai, banyak perempuan.

Kelamin Yuang Apuak mengakui, bahwa vagina perempuan-perempuan itu robek bagai di-suntih4, setelah diterkam harimau lapar menemukan mangsa. Mangsa itu seolah kijang-kijang kehilangan rimba. Kepada arwah diakui, belasan perempuan dibinasakan Yuang Apuak dengan pelbagai rayuan, kelicikan, kecurangan sehingga, kemudian, perempuan-perempuan itu menjadi orang-orang nestapa sepanjang usia. Bagi Yuang Apuak kejantanan merupakan senjata. Dengan kejantanan itu pula Yuang Apuak tak berpikir ulang untuk, kalau perlu, melakukan perang total terhadap betina-betina yang tak mau jinak.

Dari satu ke lain malam, di J Yuang Apuak bertualang. Siang dia benar-benar memeluk dinding-dinding beton tinggi untuk menggapai, memangsa apa dan siapa pun. Dia lantas jadi mahir, campin, galir, dan licik menggoda para pedagang seetnik untuk bersatu padu dalam organisasi rumah makan. Dengan itu Yuang Apuak mengutip iuran dari juragan rumah makan tiap bulan. Tak besar pungutan itu, tetapi karena jumlah rumah makan padang banyak, maka uang yang terkumpul berjumlah lumayan. Mulia, sumbangan dikatakan akan dimanfaatkan demi kampung halaman, membaikkan masjid dan juga untuk diberikan kepada fakir miskin.

Yuang Apuak pun menggoda sentimen orang-orang beruang, pensiunan pegawai negeri sipil dan militer, urang awak5 dan siapa pun perantau untuk mewujudkan impian mulia, mengembalikan harga diri setelah remuk sebagai akibat pergolakan daerah. Yuang Apuak mendengar bisik-bisik bagaimana pergolakan daerah menghancurleburkan harga diri dan itu harus dipulihkan, dikembalikan ke aras semula. Pengalaman kecil Yuang Apuak membuat proposal ketika sekolah berubah jadi keahlian dan itu semua dia manfaatkan untuk meyakinkan orang-orang terpandang dan para donatur. Dia menekan bel satu dan lain rumah, masuk dari satu ke lain pintu kantor bertingkat-tingkat, duduk di kursi empuk dan berbicara dengan gerak tubuh yang meyakinkan.

Yuang Apuak memang tak tanggung-tanggung. Dia menerbitkan sebuah majalah bulanan. Dia merekrut anak-anak muda potensial untuk membantu. Dia meminta penulis-penulis andal mengirim tulisan. Isi utama majalah itu tak lain tak bukan adalah upaya mengembalikan martabat etnik yang hilang. Dan itu dilengkapi dengan foto-foto artistik, statistik akurat, dengan penataan wajah semenawan mungkin.

Majalah memang terbit, dan sempat dipasarkan, juga ke kampung halaman. Tapi uang yang terkumpul, terutama dalam bentuk sumbangan, tak dikirimkan ke alamat. Tak pernah! Biarpun atas nama perusahaan, semua masuk ke rekening bank Yuang Apuak. Dan itu berlangsung selama beberapa bulan, bahkan memakai bilangan tahun.

Seusai mengeksploitasi sentimen kampung halaman, Yuang Apuak bersengaja menyelenggarakan lomba baca puisi heroik— persis seperti yang pernah dia ikuti ketika di sekolah, untuk mengenang jasa proklamator dan para pahlawan. Untuk itu Yuang Apuak mengajukan proposal permohonan dana kepada anak-anak, cucu-cucu, kerabat proklamator dan pahlawan itu. Yuang Apuak pun minta bantuan ke gubernur, wali kota, dan beberapa kepala dinas. Uang pendaftaran peserta, dalam jumlah yang tak sedikit, pun dipungut. Tetapi, celaka, di akhir lomba, sama sekali tak ada informasi bahwa anak proklamator ikut menyumbang. Juga tak ada penjelasan berapa uang terkumpul. Hanya ada komplain seorang anggota Dewan Juri, honorarium tak memadai. Hadiah yang diberikan kepada pemenang tak layak dan ada yang tak dikirim. Biarpun sempat disurati beberapa kali oleh yang berhak, tetapi Yuang Apuak diam.

Uban dan semua bulu yang tumbuh subur di sekujur tubuh Yuang Apuak bersaksi dan membenarkan, bahwa sebagian besar uang sumbangan dan hasil jual majalah digunakan Yuang Apuak untuk menghidupi dirinya sendiri, berfoya-foya dengan perempuan-perempuan yang dia rayu di sembarangan tempat. Semua anggota tubuh Yuang Apuak bersaksi, bahwa dana yang terkumpul untuk kegiatan lomba baca puisi digunakan tak semata untuk lomba itu. Bahkan sampai akhir hayat Yuang Apuak, sesungguhnya masih ada pemenang yang belum menerima hadiah.

Lubuk hati Yuang Apuak paling dalam, bernama nurani—paling hebat, juga bersaksi, sewaktu pulang ke kampung halaman, Yuang Apuak sempat menyedekahkan beberapa ratus ribu rupiah uang itu untuk memperbaiki bangunan surau dan untuk belanja anak yatim. Yuang Apuak pun tebar janji, bahwa di masa depan dia benar-benar ingin memerhatikan keperluan surau, termasuk untuk garin6.

Namun, dengan alasan apa pun, arwah Yuang Apuak masih tergantung di lapis ketiga. Dan keterkaingan itu tak bisa diselamatkan oleh pengakuan-pengakuan jujur dan benar semua anggota tubuh Yuang Apuak yang berbuat curang selama menyatu dengan arwah. Tak bisa! Tidak!

Sekilas keterkaingan arwah Yuang Apuak terpanah ke jantung seorang putra Yuang Apuak dari istrinya yang pertama—gadis imut yang pernah dia tinggalkan begitu saja di kampung halaman. Putra Yuang Apuak tak muda lagi, tetapi sempat mengenyam surau untuk mengaji. Sang putra sama sekali tak mengetahui kalau arwah ayahandanya terhalang, terkaing-kaing, dan menanggung pedih perih, dalam pelesatan ke alam abadi. Tetapi mengetahui ayahnya wafat, si putra merasa wajib melantunkan doa khusyuk, berkali-kali, setiap pagi—siang-malam, setiap hari, semoga arwah ayahandanya, dalam kata-kata klise, selamat sejahtera sampai ke alam akhir.

Padang, 17 Agustus 2008

1 lebe = acuh tak acuh
2 pica = abai
3 anak randai = pemain teater tradisional Minangkabau
4 suntih = robek (dengan cakar dan gigi)
5 urang awak = sebutan untuk orang (dari etnik) Minangkabau
6 garin = penjaga surau, masjid

Written by tukang kliping

28 September 2008 pada 15:16

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Satu Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Bagus, semoga jadi pelajaran bagi yang membacanya; yang masih hidup dan yang masih punya kesempatan….

    neviani7

    23 November 2008 at 09:17


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: