Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Meisa

with 3 comments


Meisa berjalan menyusuri pematang-pematang sawah yang membentang. Langkah kakinya sangat hati-hati sekali. Pematang sawah yang dilaluinya itu terlihat agak basah. Dia tidak ingin terpeleset lalu jatuh ke kubangan lumpur seperti tiga hari yang lalu. Jatuh ke kubangan itu akan membuat pakaian putihnya menjadi rusak. Sesekali dia menghapus peluh yang keluar dari keningnya. Dan beberapa lama kemudian, hup! Dia meloncat dengan pelan. Maka sampailah kini dia di samping puskesmas yang dia tuju. Perlahan dia menarik napas. Menarik napas seperti telah terbebas dari perjalanan jauh.

Perjalanan jauh? Mungkin memang tepat. Sebab jarak tempat dia tinggal dengan puskesmas itu jika berjalan kaki membutuhkan waktu satu jam penuh. Sedangkan jika ingin menaiki kendaraan, itu teramat susah. Angkutan di sini sangat terbatas. Selain jalan yang terkadang masih sulit dilalui.

Meisa mulai membuka pintu puskesmas itu. Dia lalu masuk. Perlahan membuka semua jendela. Di kejahuan, dia melihat atap- atap rumah warga, berjejal, meninggi dan merendah.

Tiba-tiba Meisa mengalihkan pandangan ke samping, ketika dia merasakan seperti ada orang yang datang. Orang yang datang itu berbaju kaus putih. Ketika laki-laki itu datang, wajahnya seperti menyiratkan rasa kekhawatiran.

“Ada apa?” tanya Meisa.

“Anak saya Bu Bidan. Yang kecil. Dia baru berumur dua tahun. Badannya panas. Sering batuk-batuk.”

“Kenapa tidak dibawa kemari?” tanya Meisa sambil bergegas menuju ke kotak-kotak obat yang ada di mejanya.

“Saya takut ketahuan Bu Bidan.”

“Takut? Jadi Bapak takut? Padahal ini menyangkut keselamatan anak Bapak sendiri.”

“Tapi, dia masih sering mengancam kami Bu Bidan.”

“Dukun kampung itu memang keterlaluan,” ujarnya kemudian. “Nah, berikan obat ini kepada anak Bapak. Lihat resep yang tertera, yang ini dua kali sehari.”

“Berapa uangnya Bu Bidan?”

“Cukup seribu lima ratus sebagai administrasinya. Kalau Bapak berobat ke dukun itu mungkin biayanya lebih besar,” kata Meisa.

“Benar Bu Bidan,” jawabnya mengangguk. “Ini uangnya Bu Bidan. Kalau begitu saya permisi dulu.”

“Ya,” jawabnya sambil memandangi kepergian laki-laki itu lewat pintu belakang.

Meisa merasa kedatangan laki-laki tadi telah mengusik pikirannya tentang keberadaan dukun kampung yang bernama Manaf Jahir itu. Dia tahu, dukun itu sangat ditakuti. Dan dia sudah merasakan bagaimana keras dan kasarnya laki-laki itu ketika pertama kali bertemu dengannya.

“Nama saya Manaf Jahir, semua orang di kampung ini mengenal saya.”

“Maaf. Saya baru lima hari di kampung ini. Jadi saya belum tahu banyak warga. Saya menggantikan bidan Neti yang pindah tugas dari desa ini,” katanya ketika itu.

“Ya bagus. Bagus. Jadi, jadi juga bidan itu pindah. Ha, ha, ha. Dia mungkin tidak betah rupanya. Begini Bu Bidan. Kedatangan saya kemari, adalah, untuk memberi tahu supaya Bu Bidan jangan menerima orang di kampung sini untuk berobat kemari.”

“Kenapa?” tanya Meisa.

“Ha, kenapa? Pertanyaan yang bagus. Karena obat yang kuberikan, sampai saat ini masih mampu menyembuhkan setiap orang yang menderita sakit.”

“Bagaimana dengan melahirkan?”

“Melahirkan? Sudah berpuluh- puluh orang yang melahirkan telah kuselamatkan.”

“Tapi yang kudengar, lebih banyak ibu dan bayi yang tak terselamatkan. Dari informasi yang saya dapat dari bidan Neti, Saudara dalam membantu proses persalinan tidak memotong tali pusar sampai plasenta keluar. Saudara masih memandang plasenta sebagai saudara kembar sang janin yang memiliki nyawa. Tali pusar baru dipotong kalau saudara kembarnya sudah keluar. Padahal, Saudara tahu, plasenta itu biasanya tidak langsung keluar setelah janin. Itu salah satu sebab mengapa kematian ibu melahirkan di kampung ini cukup tinggi.”

“Itu kepercayaan kami. Plasenta itu masih mempunyai nyawa! Dan saya tidak mau tahu. Pokoknya tidak ada warga kampung di sini yang datang kemari berobat. Bila ada, awas.” Ancam laki-laki itu sambil meninggalkan puskesmas.

Tapi Meisa bukanlah bidan Neti. Dia tidak merasa takut seperti temannya itu.

Akibat ulahnya itu, Manaf Jahir, si dukun kampung itu, kembali mendatanginya.

“Rupanya kau keras kepala ya,” bentaknya.

“Bukan saya keras kepala. Mengobati orang sakit adalah tugas saya,” jawab Meisa.

“Kau tidak perlu mengobati orang di kampung ini. Sejak nenek moyang saya, hingga menetes sampai ke saya. Saya masih sanggup mengobati siapa saja yang sakit.”

Meisa tersenyum.

“Mengapa kau tersenyum?” tanya Manaf Jahir.

“Saya hanya sedikit kagum pada Saudara.”

“Kenapa kau berkata begitu.”

“Saya hanya kagum, ternyata masih ada orang yang tetap bertahan dilanda zaman.”

“Jangan mempersilat lidah. Aku tak paham maksudmu.”

“Lelaki yang masih muda, dan gagah, masih mempunyai keinginan meneruskan tradisi. Biasanya, laki-laki seusia Saudara, akan lebih menyibukkan diri bersama wanita.”

“Puih! Jangan singgung-singgung tentang seorang wanita. Aku datang kemari untuk melarangmu mengobati pasien yang sakit.”

“Kalau aku tak mau. Kau akan melakukan apa.”

“Aku akan memukulmu.”

“Anda akan memukul perempuan seperti saya? Kalau begitu Anda tak jantan.

“Aku tidak peduli. Biar saja. Sekarang aku akan pergi. Kau camkanlah perkataanku tadi,” ujar Manaf Jahir sambil pergi.

Meisa hanya terdiam.

Malam harinya, Manaf Jahir duduk di depan rumahnya. Dia menjuntaikan kakinya di lantai rumah itu. Pertemuannya dengan Meisa telah mengganggu pikirannya. Sungguh, dia kagum pada Meisa. Seorang perempuan yang tidak pernah takut padanya.

Maka diam-diam, kini, Manaf Jahir pun kagum pada kecantikannya. Ya, di desa ini, baru Meisa-lah perempuan yang sangat cantik di matanya. Tapi, ah, tiba- tiba dia ingat pesan ayahnya sebelum meninggal tentang perempuan.

“Ingat Manaf, bila kau menggantikan ayah. Kau tak boleh terpikat terlalu jauh pada perempuan. Kau tak usah mencintainya. Sebab jatuh cinta hanya membuat kita menjadi lemah.”

“Tapi bagaimana dengan ayah dan emak. Apakah ayah tidak mencintai emak?”

“Manaf, ayah memang tidak mencintai emakmu sepenuh hati. Kau tahu? Karena mencintai hanya membuat kita menjadi lemah. Namun, bukan berarti kau tak boleh menikah. Menikah dalam kuasa ayah hanya untuk memperoleh keturunan. Ayah harap kau paham tentang itu.”

“Iya ayah.”

Maka sejak itu dia tidak bersungguh-sungguh menaruh minat pada perempuan. Sebab seperti kata ayahnya, perempuan hanya akan membuat kita berada dalam posisi lemah. Dan dia tidak ingin menjadi laki-laki lemah.

Tapi malam ini terasa ada yang beda. Pertemuanya dengan Meisa telah melahirkan perasaan yang selama ini tidak dikenalnya. Dia tak bisa mengelak.

“Mengapa bisa begini?” Pikirnya. “Apakah ini karena keberaniannya? Ataukah karena dia cantik? Kalau dipikir, ya, dia memang ada benarnya. Sudah lebih sepuluh orang yang selama ini tak bisa kuselamatkan ketika melahirkan. Apalagi pekerjaan itu tak sepenuhnya bisa aku lakukan. Aku dibantu emak. Aku akan bekerja setelah bayinya keluar. Karena aku laki-laki dan belum menikah,” kata hatinya.

Dan di saat dia berpikir itulah, tiba-tiba emaknya datang menghampirinya.

“Apa yang merisaukan hatimu, Manaf,” sapa perempuan itu.

Manaf Jahir terdiam.

“Kenapa kau tak menjawab,” tanya emaknya.

“Serasa berat, Mak,” jawabnya pelan.

“Tentang bidan baru itu?”

“Kenapa Mak menduga begitu?”

“Rahir, centengmu, menggerutu sore tadi karena bidan itu keras kepala. Iya kan? Kau takut padanya?”

“Bukan takut, tapi kagum Mak.”

“Kagum? Kenapa?”

“Dia seorang perempuan yang pemberani.”

“Kau terpikat rupanya. Apakah dia cantik?”

“Bukan hanya cantik Mak. Dia juga menarik. Tapi kata ayah, aku tak boleh menyukai sepenuh hati.”

“Karena menyukai sepenuh hati hanya akan membuat laki- laki menjadi lemah, begitu? Manaf, lupakanlah semua itu. Menyukai perempuan tidak akan membuat laki-laki menjadi lemah. Bahkan sebaliknya, dia bisa menjadi sebuah kekuatan.”

“Sebuah kekuatan?”

Emaknya mengangguk.

“Manaf, zaman telah berubah. Tidakkah kau tahu, sebenarnya ayahmu terkadang tidak sanggup menyembuhkan penyakit orang kampung. Kau juga begitu, kan?”

Manaf Jahir tercenung. Secepat kilat bayangan Meisa bermain di bola matanya. Tiba-tiba dia ingin rasanya bertemu dengan perempuan itu.

Hari ini Meisa kembali berjalan menyusuri pematang sawah yang membentang. Langkah kakinya sangat hati-hati sekali. Pematang yang dilaluinya itu masih terlihat agak basah. Dia tidak ingin terpeleset lalu jatuh ke kubangan lumpur itu seperti beberapa hari yang lalu. Jatuh ke kubangan itu akan membuat pakaian putihnya menjadi rusak oleh lumpur. Sesekali dia menghapus peluh yang keluar dari keningnya. Dan tidak berapa lama kemudian, hup! Meisa meloncat dengan pelan. Maka sampailah dia kini di samping puskesmas itu. Tapi Meisa telah melihat seseorang yang terlebih dahulu berada di puskesmas itu.

“Ada yang sakit?” Tanya Meisa.

Laki-laki itu tersenyum.

“Tidak Bu Bidan. Tidak ada yang sakit.”

“Lalu ada apa?”

“Ada kabar gembira Bu Bidan.”

“Kabar gembira?” tanyanya terheran.

“Ya Bu Bidan. Manaf Jahir telah memperbolehkan orang kampung berobat ke puskesmas.

“Oh ya,” jawab Meisa kaget.

“Ya Bu Bidan,” centengnya yang mengabarkan kepada orang sekampung pagi tadi.

Ada rona gembira di wajah Meisa. Sungguh dia tidak tahu mengapa Manaf Jahir bisa berubah. Dan dia ingin rasanya segera bertemu dengan laki-laki itu. Ya, segera.

Written by tukang kliping

31 Agustus 2008 pada 10:23

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

3 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Kurang menggigit …. tapi bagus lah

    shiraaldila

    9 Januari 2012 at 11:01

  2. klise…..tapi mengalir

    lisa

    7 November 2013 at 18:06

  3. Reblogged this on Munika Sulistiawati's Education.

    Munika Sulistiawati

    28 Agustus 2014 at 03:05


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: