Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Smokol

with 6 comments


Batara alias Batre gemar menyelenggarakan smokol secara cermat dan meriah sebulan sekali, atau dua kali—tergantung ilham yang didapatnya dari kunjungan sesekali Peri Smokol. Menurut Batara, peri yang berasal dari Manado ini adalah penguasa dan pelindung smokol (makan tanggung di antara sarapan pagi dan makan siang), pemasak smokol (Batara sendiri), dan kelompensmokol (kelompok penikmat smokol; beranggotakan Batara, Syam, si kembar Anya dan Ale). Tapi ketiga temannya curiga peri ini cuma hasil rekaannya. Ale yang pernah ke Manado, melaporkan sesungguhnya orang Minahasa menyantap tinutuan (bubur Manado) beserta pisang goreng dan teri goreng yang ditaruh di tepi piring dan dicelup-celupkan ke dalam dabu-dabu (sambal yang pedas bukan main hingga bisa bikin orang menangis diam-diam, kuping berdenging, dan untuk beberapa yang rentan, niscaya berhalusinasi).

Tapi bagi Batara, smokol tidaklah sesederhana itu. Dengan imajinasi yang berlebih dan gelora bagi kesempurnaan segala sesuatu, Batara selalu muncul dengan smokol bertema aneh dengan makanan aneh-aneh. Ketiga temannya tak pernah bisa menduga apa yang akan terhidang di meja.

Suatu hari, misalnya, ia merekonstruksi menu ’Santap Malam dengan Trimalchio’, dan memulai dengan apologia. ”Sori, teman-teman, secara keseluruhan, ini lebih bersahaja, tidak seambisius Petronius.” Tak hanya terilhami novel atau buku masakan, juga esai—padahal pada paragraf pertama, sang esais telah memperingatkan bahwa resep anak domba sepanjang 13 halaman itu tak pernah sukses dicoba. Di kali lain, ia menghidangkan makanan warna kuning dan hijau saja, atau hanya menyuguhkan rebusan teh putih langka dalam teko dan cawan keramik rompal. Suatu kali ia sibuk menggelar tikar di halaman belakang, tema hari itu adalah piknik makan patita ala Ambon di pinggir pantai imajiner. Ketiga temannya juga bisa terkecoh dengan judul makanan yang terdengar megah, semisal ’Gnocchi di patate alla crema delicata di Gorgonzola’, yang ternyata cuma kentang rebus bentuk bola-bola. Begitulah, Batara menyapu berbagai waktu dan negeri: dari Zaman Pertengahan hingga Nouvelle Cuisine tahun ’80-an, dari Raja Richard II sampai Oma Sjanne yang tinggal di Tomohon.

Seingat ketiga temannya, hanya satu kali Batara menyajikan smokol betulan.

Bagi mereka, santap smokol adalah hari ideal yang penuh kebahagiaan. Mereka selalu menanti-nantikan hari Sabtu terjadinya peristiwa makan besar ini. Biasanya di malam sebelumnya mereka tidak terlalu banyak makan, tidak berulah macam-macam yang bisa mengakibatkan sakit gigi atau gangguan pencernaan, dan berangkat tidur lebih awal. Mereka tiba di rumah Batara pada pukul sembilan pagi, smokol terhidang pada pukul sepuluh, lalu sedikit minum-minum pukul satu-dua siang sambil menunggu hidangan kue-kue kecil dan kopi pada pukul empat sore, makan malam pasca-smokol pukul enam, minum-minum dengan camilan sekadarnya pada pukul 10 malam, lalu makan pasca-pasca-smokol di tengah malam.

Di saat smokol inilah Batara tampil dalam kebesaran dan kemegahan kuasa kedewaannya. Tak hanya seperti dewa koki, ia juga menjelma seorang oma bawel bercelemek yang repot betul dengan berbagai-bagai masakan yang telah dipersiapkannya sedari pagi secara teliti, murah hati dan penuh cinta kasih. Ia bisa nyinyir menyuruh-nyuruh ketiga temannya seakan mereka adalah anak cucu menantu miliknya seorang; mereka mesti mengaduk, menuang makanan dari panci kuali dandang, bergiliran membawa piring mangkuk lodor ke meja makan. Dan, ketika semua makanan telah datang terhidang, Batara akan mundur selangkah untuk mengagumi tampilan mejanya. Ia berdiri tegak memandang semestanya yang lezat selayaknya para dewa, berkacak pinggang dengan telunjuk terangkat menitahkan ketiga temannya untuk menaklukkan seisi meja. Lalu dengan penuh kuasa ia memerintahkan mereka untuk makan, tambah, makan lagi… secukupnya.

Kalau sudah begini, mereka bagai tenggelam dalam dunia fantasmagoria ciptaan Batara. Bentang alamnya kira-kira tampak seperti ini: pepohonan makanan yang berbuah bola-bola ghoulash yang gemuk-gemuk, berbunga pai gelatin stroberi yang berembun merah berkilat-kilat, berdaun piterseli dan kemangi, rerantingannya pasta bermentega yang menjulur-julur panjang. Danaunya adalah kuah tempat potongan daging wortel kentang paprika berenang-renang, ampela bebek bersampan irisan roti garing. Air terjunnya curahan deras sari buah, anggur, kopi, cinta kasih Batara…. Dan, di antara semua ini, ketiga temannya terhenyak kekenyangan, merasa seperti akan meledak, bunyi-bunyian aneh yang tak terjelaskan akan keluar dari mulut-mulut mereka.

Kerap kali sang dewa kesedapan beterbangan di antara meja makan dan dapur untuk mengambil tambahan ini ekstra itu, sambil berceramah, ”Tanda sesungguhnya dari seorang gastronom sejati, teman-temanku, adalah absennya keperluan dan keinginan untuk sok berhati-hati dengan semua makanan berkah Tuhan, sebab dirinya telah sarat pemahaman yang terasah secara cerdas dan halus. Rahasianya cuma satu: tak berlebih. Ingat ini, segala sesuatu mesti berkadar secukupnya, selayaknya satu masakan sempurna. Niscaya dia sehat-walafiat dan kelak meninggal dalam tidur dengan senyum damai di wajah, seperti mendiang omaku—Tuhan memberkatinya. Dan, ketika seorang gastronom telah mampu memahami hakikat alur kulit nanas, misalnya, atau makna keteflonan penggorengan, niscaya saat itulah dia menjelma seorang gastrosof.”

Dengan iba ia bicara tentang ’cewek-cewek kurus kering yang tampak kelaparan itu, selalu membangkitkan naluri kekokianku untuk memberi mereka makan’. Ia mencibiri ’kalkulasi asupan kalori, lemak-kolesterol-karbohidrat, berat badan dan segala macam tetek-bengek gaya hidup—cuma obsesi orang-orang yang khawatir dengan berat badan dan penampilan, mereka yang memandang berkah serupa racun, begitu takut akan maut. Maka, makanan pun menjelma energi buruk di badan mereka, penyakit segala macam itu.’

Batara bersendawa, menghardik, membujuk-rayu, atau tertawa senang dengan mata berbinar jika ketiga teman menghujani semesta masakannya dengan puja-puji. Mereka juga mencela secara semena-mena dan keji, khususnya perkara estetika meja makan. Gara-gara ia punya semacam estetika ideal dalam setiap perjamuan yang meliputi jenis makanan, tampilan meja dan atmosfer keseluruhan. Hal ini kerap menimbulkan insiden kecil-kecilan di antara mereka.

Seperti hari ketika ia meletakkan jambangan mahabesar berisi bunga-bunga yang tak bisa dinamai, menjulang tinggi dalam rangkaian agak rumit. Mereka belum lagi mulai bersantap. Batara muncul dari dapur dengan tergopoh-gopoh dan mengepul-ngepul dengan mangkuk besar di tangan, diletakkan di sepetak lahan kosong yang tersisa di meja. Ia lalu mundur selangkah, berkacak pinggang menatap senang tampilan mejanya, telunjuk mengangkat dalam gestur dan titah wajib: ”Kelompensmokol, ayo taklukkan makanan di depan kalian!” Lagaknya seperti gembala menghalau ternak, atau mungkin itulah gaya Columbus di atas geladak ketika menemukan Amerika.

Ale. ”Aku nggak bisa lihat muka Anya.”

Anya. ”Aku nggak bisa lihat muka Ale.”

Syam. ”Gara-gara jambanganmu yang terlalu besar dan megah ini.”

Batara. ”Terus kenapa? Kalian nggak harus bertatap-tatapan.”

Ale. ”Kami harus bertatapan.”

Anya. ”Sudah dari dulu begitu. Orang tua mengajarkan kami menatap orang yang sedang bicara.”

Batara. ”Nggak bisa. Seandainya kalian bisa menebak apa-apa gerangan yang sudah kulakukan untuk mencapai komposisi, morfologi dan harmoni meja setaraf ini.”

Syam. ”Kamu jual jiwa kepada setan. Atau jual diri?”

Ale. ”Singkirkan deh, supaya makanan bisa lebih lancar ditelan sambil bertatap-tatapan, tak ada yang tersedak.”

Anya. ”Dan para orang tua berbahagia anak-anaknya makan pengajaran.”

Batara. ”Aku sendiri yang merangkai bunga semalaman, setelah sesiangan ke Rawabelong. Heh, pantat panci, kuping kuali, paham tidak sih, kemarin itu macet, panas pula berkeliling seantero tukang bunga.”

Ale. ”Sudahlah, gentong bunga angkat saja. Kami sudah dari tadi menangkap realisme magis meja ini.”

Anya. ”Angkat, Batre, gentong atau bunga. Pilih salah satu.”

Batara. ”Repot amat. Tidak bisa dan tidak mau.”

Batara mulai berwajah bengis. Ini gelagat yang tidaklah baik bagi semua pihak. Apalagi jika badannya yang gempal mulai bergumpal-gumpal, niscaya sebagai manusia ia tampak berbahaya. Lalu sepanjang hari ia akan terus memasang tampang tukang jagal seram, masam seperti cuka apel, diam membisu seperti talenan, menghunus pandangan tajam yang mengiris-iris seperti pisau daging. Lalu sambil menggumamkan berulang-ulang mantra Sancho Panza, ’All ills are good when attended with food’, Batara tetap saja menghidangkan yang perlu dihidangkan, dengan garnis desisan dan geraman pertobatan, ’Ini smokol terakhir, sungguh terakhir….’

Maka, kompromi mesti ditempuh; ketiga temannya rela membolehkan yang biasanya tidak dibolehkan dalam situasi normal. Batara boleh menyanyi berpura-pura menjadi siapalah, atau main akordeon lagu apalah, dan mereka akan mendengarkan dengan tertib.

Sontak saja senyum dan energi Batara pun kembali, dirinya baterai ceria penuh terisi. Ia mondar-mandir lagi tanpa henti, seperti anak kelinci bintang iklan baterai. Konon, ia beroleh nama panggilan Batre karena sedari bocah telah begitu lincah. Teman-temannya pernah terlibat diskusi panjang yang kira-kira mirip dialektika ayam dan telur: apakah Batre menghidupi namanya, ataukah justru nama itulah yang menghidupinya; bukankah melelahkan sekali menghidupi nama? Tapi mereka sepakat, Batre memang baterai nomor satu, sumber energi infiniti bagi dirinya sendiri: terus, terus dan terus….

Mereka tahu bahwa di balik aksi-aksi ngambek sok bengis itu, sesungguhnya Bataralah orang yang paling tulus dalam cinta kasihnya, tanpa tahu mengapa atau untuk apa, bahkan tak hendak bertanya. Tak ada sesuatu apa di balik cintanya; tanpa pretensi, kalkulasi, atau imbal balik. Semacam cinta yang hanya bisa dipunyai anak-anak. Ia manusia paling riang gembira sekelompok ini, bahkan sekota Jakarta. Sesekali saja ia jatuh berduka.

Seusai smokol, sambil menunggui mereka mencuci piring, Batara duduk memangku akordeon merah bernama Patchouli dan memainkan lagu dengan khusyuk. Sang dewa smokol duduk megah menutup-buka akordeonnya, menebar nada dewata di udara, di antara ketiga manusia jelata pencuci piring dan pemberes meja makan yang cuma mendencing-dencingkan porselen dan penggorengan teflon.

Di malam-malam larut, kelompensmokol menyambangi halaman belakang rumah Batara. Keempatnya duduk bersandar kekenyangan, mengangkat kaki menatap bintang. Mereka berbicara tentang apa saja; mengkhayalkan dapur hidup fantasi dalam kosmologi Fourier, definisi tengik, cita rasa akhirat.

”Akhirat…. Aku curiga cita rasa akhirat akan seperti ini. Kenyang dan bahagia. Di surga kita akan kenyang, terlalu kenyang untuk menginginkan. Buah zaitun dan anggur yang sejangkauan tangan, para bidadari yang duduk bertelekan—terbuang percuma. Sedang Tuhan YME menyaksikan kita, manusia-manusia yang terkesima, yang bergumam-gumam heran, lho, tak kepingin lagi. Maka Tuhan bersabda, kenapa tak dari dulu, wahai manusia.” Batre bergumam.

Di malam-malam larut seperti ini, ada cita rasa pulang yang mengalir dalam udara pelan. Salah seorang akan berucap dan semua seakan percaya pada apa yang terdengar. Tak ada yang mengatakan, tapi semua memahami yang terasa: sececap cita rasa yang tak ternamai, tertinggal manis di lidah. Dan cahaya bintang, meski hanya seberkas, namun cukup.

Maka, suatu hari Batara sungguh-sungguh jatuh berduka. Duka paling nadir yang pernah dirasanya. Batara menangis tersedu-sedu sambil memeluk satu pak tisu ukuran jumbo di depan ketiga temannya.

Ia berbicara terpatah tentang sekampung orang yang meninggal karena kelaparan, tentang anak-anak berperut buncit dan bermata hampa yang berjalan menyeret-nyeret kaki telanjang dan busung lapar mereka—adegan-adegan yang akhir-akhir ini kian sering muncul di TV. Ia tercenung membayangkan apa rasanya lapar berhari-hari. Ia mengenang meja makan Oma Sjanne di Tomohon yang penuh sesak dengan makanan, tak satu pun tamu atau musafir yang keluar dari rumah mereka dalam keadaan lapar. Ia merenungkan betapa tampilan mejanya selama ini adalah aspirasi penciptaan kembali meja makan mendiang omanya. Batara tak mengerti mengapa Oma Sjanne luput menyelipkan satu saja bau kelaparan di antara sejuta bebauan sedap masakan di dapur, mengapa meja makan Oma Sjanne tak pernah menampakkan realisme meja-meja makan lain yang kosong belaka.

Kini bayang-bayang lapar yang telah selalu tercegat di bawah meja makan itu datang menerjang di depan mata Batara. Berdiam di dalam pelupuk matanya yang sembab, namun nyalang, menatap negeri ini. Negeri yang penjuru-penjurunya tak pernah didatangi peri smokol. Negeri yang tak kenyang dan tak bahagia, tak pernah surga.

Batara tampak agak kurus akhir-akhir ini.***

Written by tukang kliping

29 Juni 2008 pada 09:38

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

6 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. ini adalah cerpen terbaik kompas 2008…

    salam

    suklowor

    15 Juli 2009 at 16:19

  2. saya suka cerpennya, sedih dan konyol campur aduk, penulis punya imajinasi tingkat tinggi, mngkin indera ke9,, yg tak pernah disebut seorangpun didunia inie, hehe….

    mono

    14 Juli 2010 at 15:51

  3. keren…bisa mengungkapkan budaya manado…jarang yg mengungkapkan budaya manado ke sastra

    wisnu

    12 Desember 2011 at 10:19

  4. Ini bukan cerpen, tapi kitab suci yang wajib dibaca sebelum makan.

    Sigidad

    24 Februari 2014 at 07:14

  5. […] Hikmah dan Sari untuk cerpen Smokol karya Nukila Amal pada Smokol : Cerpen Kompas Pilihan […]

  6. […] untuk cerpen Smokol karya Nukila Amal pada Smokol : Cerpen Kompas Pilihan 2008. Apresiasi ini dapat ditemui di […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: