Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Fibriliana

with 3 comments


Sambil menatap ke langit-langit kamar di hotel kecil yang dihuninya di Snag, Fibriliana, yang biasanya dipanggil Fibri oleh teman-temannya, menarik kembali masa lalunya ke hadapannya.

Sebuah bencana dahsyat telah merampok semua anggota keluarganya. Ayahnya, ibunya, dan ketiga adiknya, Fitri, Ima, dan Syahrul. Ia tidak mungkin lagi menangis karena air matanya telah terkuras habis. Ratusan ribu orang lainnya juga hilang tak tentu rimbanya dan tidak diketahui di mana makam mereka. Sebuah masa lampau yang sangat menyakitkan dan meninggalkan luka menganga yang sangat lebar.

”Ompung, Fibri tidak mungkin sampai ke Snag, kota kecil di wilayah Yukon, Kanada, ini seandainya gelombang besar bernama tsunami itu tidak menghancurleburkan kota kelahiran Fibri di Aceh itu dan merengggut dengan kejam semua anggota keluarga Fibri. Sejak peristiwa yang sukar dilupakan sejarah itu terjadi, Fibri telah menjadi anak yang harus melakukan segalanya seorang diri. Harus mengambil keputusan sendiri dan siap menanggung risikonya sendiri pula.”

Suratnya telah tiga kali diterima ompungnya sejak Fibri bekerja di kapal pesiar Concordia sebagai waitress. Kapal pesiar ini berlayar di Eropa dan sesekali menjelajah ke Amerika Utara. Kontraknya berakhir setelah ia bertugas delapan bulan. Setelah itu, selama delapan bulan pula ia menjalani cuti. Kalau ia ingin bekerja lagi di Concordia, ia dapat mengajukan lamaran baru.

Ketika Concordia menjelajah ke Amerika Utara dan Fibri sedang menjalani cuti delapan bulan ia turun di Anchorage, Alaska, pada saat Concordia melego jangkar di sebuah pelabuhan di Samudera Pasifik di dekat kota itu. Dengan menumpang bus ia bertolak ke Snag di wilayah Yukon yang jaraknya sekitar 100 kilometer dari Anchorage untuk berlibur di sana. Ia tertarik ke kota kecil itu karena menurut folder yang dibacanya, suhu udara terendah sering jatuh di sana. Kota itu unik karena tidak sebuah jalan pun yang lurus di sana. Semua jalan berkelok seenaknya seperti ular.

Menurut folder promosi yang tersedia di sebuah rak di Concordia, jika orang pergi ke Snag ia pasti akan sangat menghargai apa artinya panas. Semua orang di Snag senantiasa memburu hawa panas. Kini Fibriliana mengalami itu. Di luar kamarnya suhu udara bertengger pada 62 derajat Celsius di bawah nol. Ia merasakan betapa dinginnya suhu udara ketika ia turun dari bus menuju lobi hotel untuk check in.

Fibri berupaya keras melupakan bencana yang telah memaksanya menjadi sebatang kara itu. Ia masih beruntung karena ketika musibah itu datang melanda ia tidak berada di kota kelahirannya, Darussalam. Ia sedang kuliah di Jakarta. Kemudian ia pulang. Ia menyaksikan reruntuhan rumah orangtuanya. Lama ia menatap puing-puing tempatnya berteduh dulu. Fibri mencari ke sana kemari. Ia tidak pernah berhasil menemukan ayah, ibu, dan ketiga adiknya.

Fibri tidak ingin tenggelam dalam duka yang terlalu lama. Ia merasa harus bangkit menjadi anak yang mandiri dan realistis. Karena itu, begitu ia menyelesaikan pendidikannya dengan memegang ijazah diploma 4 dari sebuah Akademi Pariwisata, ia langsung melamar kerja ke perusahaan pengelola kapal pesiar yang beroperasi di Eropa itu.

”Mengapa harus melamar ke kapal pesiar, bukan ke hotel? Kan hotel banyak di sini,” kata Ompungnya. Lelaki yang disebutnya ompung itu, orang yang selalu diajaknya berdialog jika ia merasa kesepian, adalah paman ayahnya.

”Fibri ingin benar-benar mandiri, Ompung. Lalu, kalau Fibri tetap di sini, Fibri pasti akan sering-sering pulang ke kota tempat Fibri dilahirkan itu. Untuk sementara Fibri ingin menjauh agar dapat melupakan peristiwa tragis di masa lalu itu. Empat tahun bukan waktu yang singkat, tetapi Fibri masih belum dapat melupakan kejadian itu.”

Hatinya yang keras dan tekadnya yang bulat membuat ompungnya tidak dapat berbuat apa-apa. Ompungnya cemas karena Fibriliana adalah seorang gadis yang sama sekali belum pernah ke mana pun dan bahasa Inggris-nya masih-masih pas-pasan. Dengan berat hati akhirnya ia melepas cucunya itu.

”Ompung, di Snag yang kecil ini Fibri hanya akan tinggal di hotel beberapa hari sambil menatap salju yang kelihatan dari dinding kaca hotel. Menarik dan nikmat. Kemudian Fibri juga akan keliling kota menyaksikan hal-hal menarik seperti yang tersebut dalam folder wisata yang Fibri terima.”

Beberapa hari kemudian ompungnya kembali menerima surat Fibriliana. Gadis yang berkulit hitam manis itu ternyata rajin menulis surat.

”Ompung, saat ini Fibri berada di Inuvik di tepi Sungai Mackenzie, Northwest District, yang jaraknya 150 kilometer dari Snag. Kota ini unik dan Fibri ke kota kecil ini atas saran purser Concordia. Dalam satu tahun matahari hanya memperlihatkan dirinya selama sebelas bulan di kota ini. Setelah itu ia tidur satu bulan. Kota pun gelap. Ini berlangsung sejak awal Desember hingga awal Januari. Fibri masuk ke kota ini pertengahan Desember, berarti selama lima belas hari Fibri ikut bergelap-gelap karena tidak melihat matahari. Anehnya, Ompung, kota yang hanya berpenduduk 4.000 orang ini diberi julukan ’medan laki-laki’. Fibri tidak tahu apa maksudnya. Mungkin kata itu bermakna, mayoritas penduduk kota ini adalah laki-laki.”

Bekerja di Concordia membutuhkan kekuatan fisik yang prima. Waktu istirahat hanya sepuluh jam karena 14 jam sisanya adalah waktu bekerja. Fibri merasa beruntung karena dalam pelayarannya ia bertemu dengan dua puluh orang petugas dari Indonesia. Dari dua puluh orang tersebut lima orang bertugas sebagai cabin stewardess, sebagian berfungsi sebagai waitress di restoran dan sisanya bekerja sebagai cook di dapur. Fibri berbagi kamar dengan Magdalena, gadis yang berasal dari Kota Manado.

Ia sangat menikmati pekerjaan yang dilakukannya. Apalagi selama bertugas di kapal tersebut ia berkenalan dengan banyak orang yang memperlihatkan berbagai tingkahnya. Sepasang suami istri yang telah renta bahkan telah menganggapnya sebagai anak. Mereka mengajak Fibri untuk tinggal bersama mereka di Indiana, Amerika, jika Fibri berminat. Siapa tahu, setelah kontraknya selesai mungkin Fibri berhasrat untuk tinggal bersama mereka.

Di kapal pesiar itu pulalah ia bertemu dan berkenalan dengan Elliot Anderson, pemuda Kanada yang menemani neneknya berpesiar dengan Concordia. Pemuda itu sangat berhasrat untuk memperistrikan Fibri yang disebutnya ”the queen of Indonesia”. Fibri, yang tidak tertarik untuk buru-buru menikah, meminta pemuda itu agar bersabar menunggu hingga ia siap untuk mengikat tali perkawinan. Namun, bersabar hingga kapan, ia tidak dapat mengatakannya.

Concordia seakan telah memberikan ketenangan yang sangat didambakannya. Pilihan yang dijatuhkannya untuk bekerja di kapal itu ternyata tepat. Berhari-hari di laut kemudian singgah di sebuah kota, lalu berlayar lagi dan singgah di kota lain memang menyenangkan bagi Fibri. Ia merasa telah membuka matanya untuk melihat dunia yang lebih luas. Ini yang tidak pernah dirasakan ompungnya, yang hidup berkeluarga di sebuah kota dan sepanjang hidupnya tidak pernah ke mana pun.

Fibriliana berkisah kepada ompungnya tentang Inuvik yang tenggelam dalam kegelapan selama satu bulan setiap tahun, betapa lazimnya kegelapan bagi penduduk di sana dan betapa ramahnya orang-orang di kota kecil kepada para pendatang. Ketika ia tiba di kota itu, Sungai Mackenzie sedang membeku membentuk daratan.

Inuvik benar-benar menyenangkan bagi Fibriliana, begitu juga Snag. Namun, ia tidak pernah bercerita betapa ia merasa kesepian yang luar biasa di kota yang bernama Inuvik ini. Kesendirian memerangkapnya dalam berbagai ilusi.

Ia menyaksikan betapa ayahnya berupaya menjangkau tangan Syahrul dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya merangkul Fitri. Upaya itu gagal dan Syahrul terbawa arus deras yang datang dengan tiba-tiba itu. Adiknya itu berteriak tertahan karena air berlumpur memenuhi rongga mulutnya. Ia kemudian tidak lagi melihat ayah dan kedua adiknya itu.

Di arah lain, ibunya yang berpegangan tangan dengan Ima timbul tenggelam dalam arus deras yang semakin ganas itu. Di sekitar ayah, ibu, dan ketiga adiknya itu, puluhan orang menggapai-gapai mencari pegangan sambil menjerit meminta tolong. Semua orang, tanpa kecuali, membutuhkan pertolongan tetapi tidak seorang pun datang memberikan pertolongan itu, karena semua orang membutuhkan pertolongan. Sebuah pemandangan yang menyedihkan, mengerikan, dan sangat tragis. Fibri tidak tahan menyaksikan semua itu. Ia menutup matanya, memukul-mukul kepalanya, dan berteriak histeris.

Baru sekali ini Fibri dilanda ilusi seperti itu. Di Inuvik, di Inuvik, di tengah kegelapan ia merasa dipaksa untuk melihat langsung kejadian yang menimpa keluarganya. Ia tidak pernah mengharapkan semua itu. Fibri justru ingin melupakannya dengan berdiam jauh dari kota kelahirannya itu.

Ini yang tidak diungkapkan Fibri kepada ompungya. Ia malu karena ompungnya pernah menasihatinya dan mengatakan kepadanya, ”Kamu tidak akan pernah dapat melupakan peristiwa itu ke mana pun kamu pergi. Ia akan terus mengejarmu. Karena itu, bersikaplah realistis. Terimalah kejadian itu sebagai sesuatu yang tidak dapat ditolak. Pergi jauh tidak akan memecahkan masalah.”

Semula, ilusi yang mengerikan itu membuat Fibri ingin segera meninggalkan Inuvik, menjauhi kegelapan, kesepian, dan kesendirian yang tidak menyenangkan itu. Namun, setelah berpikir beberapa saat ia membatalkan keinginannya tersebut. Ia masih ingin bertemu dengan perempuan penjaga minimarket yang senantiasa memeluknya setiap kali ia berbelanja di minimarket itu. Perempuan itu sangat jarang bertemu dengan orang Asia.

Fibri berencana naik taksi lagi untuk mendengarkan cerita supir taksi yang ramah tentang kota kecil yang dibanggakannya itu. Di Inuvik, yang penduduknya hanya 4.000 orang itu, hanya terdapat puluhan taksi. Selain berkeliling, ada juga taksi yang menunggu penumpang di depan hotel tempat Fibri menginap.

Fibri juga ingin mengobrol lagi dengan guru sekolah menengah pertama yang rumahnya tidak jauh dari hotel. Guru sekolah itu mengenal Indonesia dan tahu di mana letak negeri yang terdiri dari ribuan pulau ini. Ia guru yang menyampaikan mata pelajaran geografi kepada murid-muridnya di setiap kelas.

Hampir setiap hari Fibriliana menambah kenalan baru. Ia sangat menyadari apa artinya kenalan atau teman jika berada di suatu tempat yang asing seperti di Snag dan Inuvik. Tetapi, Fibri juga sadar tidak setiap saat orang-orang yang dikenalnya itu dapat berada di sampingnya, di depannya, atau mengobrol dengannya.

Ketika tidak berada di sekitar orang-orang yang dikenalnya itu, kesendirian jelas tidak dapat dijauhi Fibri. Berjalan kaki pada siang hari atau malam hari di kota yang penuh dengan lampu-lampu menyala itu ternyata menyenangkan Fibri pada saat-saat seperti itu. Baru di kamar hotel Fibriliana membutuhkan kehadiran seseorang. Di Concordia ada Magdalena, sahabatnya, yang senantiasa membuatnya tertawa dan senang. Di kamar hotel Fibri tidak ditemani siapa pun.

Ia berpikir keras. Akhirnya, Fibri memutuskan untuk tetap berada di Inuvik hingga awal Januari, sampai matahari bangkit dari tidurnya dan kegelapan sirna seketika itu juga. Ia merasa membutuhkan kegelapan yang menyungkup sekitarnya, untuk memperoleh sesuatu dengan terang dan jelas. Dinding pembatas antara irasionalitas dan rasionalitas dalam dirinya telah runtuh. Ia meyakini kebenaran ilusi yang merasuk dirinya.

Fibriliana ingin lebih lama di kota kecil itu karena ia berhasrat menyaksikan lagi bagaimana menderitanya ayah, ibu, dan ketiga adiknya ketika berupaya menyelamatkan diri dari peristiwa yang mengerikan itu. Ia ingin tahu secara lengkap. Cuma, apa pun yang akan disaksikannya dalam ilusi itu nanti, ini tidak akan pernah diutarakannya kepada ompungnya.

Fibri ingin ompungnya senang karena melihatnya pulang. Ia berhasrat menuturkan semua yang menyenangkan dalam tugasnya di kapal pesiar dan liburannya di kedua kota unik yang dipaparkannya dalam suratnya.

Jakarta, 28 April 2008.

Written by tukang kliping

8 Juni 2008 pada 08:34

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

3 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Kesepian kawan sejati manusia..

    titi

    1 Oktober 2008 at 15:22

  2. sabar semua itu dalah cobaan,,,,,
    Allah tidak akan memberikan cobaan melebihi batas kemampuan hambanya,,,,,,,,,

    eka purnamasari

    15 November 2010 at 11:10

  3. sbelumnya minta maaf hnya bisa mengatakan ”Tabah ya gan…”

    al_BKT

    24 April 2011 at 14:59


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: