Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Sakri Terangkat ke Langit

with one comment


Desau angin berpusar kencang. Merobohkan pohon-pohon. Berdebam. Merontokkan daun-daun kersen di sekitar pabrik gula yang telah lama mati. Gedung tua berlumut, dengan cerobong asap berkarat itu berderak-derak. Sakri memandangi angin yang terus berpusar, mengangkat genting-genting gedung tua pabrik gula dengan rel membentang tanpa lori melintas di atasnya. Tak pernah dilihatnya sebelum ini angin mematahkan ranting-ranting, menerbangkan genting-genting pabrik gula, yang cerobongnya tak lagi membubungkan asap.

Lelaki tua itu menantang desau angin dari langit dan gemeretak dahan patah di Bumi. Rintik hujan tajam meruncing, nyeri menghunjam wajahnya. Makin takjub ia ketika melihat cerobong asap gedung pabrik gula yang senyap itu bergetar dan membubung ke langit. Berpusar. Tinggi. Tak terlihat lagi. Orang-orang menjerit. Meminta Sakri meninggalkan pabrik gula yang seluruh temboknya berlumut dan ditumbuhi rerumputan mengering.

Dengan menyungging senyum, Sakri menyambut pusaran angin. Kedua tangannya dibentangkan. Tubuhnya yang keriput kurus, dengan rambut memutih beruban, terangkat. Dipusar angin. Menjelang senja itu, dalam desis gerimis, pusaran angin telah mengangkat Sakri dari tempatnya berdiri di bawah pohon kersen. Lenyap.

Arum—anak angkat Sakri—memekik kencang. Ia sedang mencari ayah angkatnya, memintanya pulang. Membawakan payung. Jeritannya terdengar memanjang, memekik kencang. Payung di tangan Arum terangkat. Gadis itu membiarkan payungnya dipusar badai. Ia hanya ingin menyelamatkan ayah angkatnya. Ia ingin lelaki tua itu kembali ke rumah. Memang akan selalu terjadi pertengkaran dahsyat antara Sakri dan istrinya. Pertengkaran dengan teriakan-teriakan, kegaduhan, makian kasar, tanpa rasa malu. Arum merasa takut bila ayah dan ibu angkatnya itu bertengkar. Tapi ia lebih takut melihat ayah angkatnya dipusar angin, membubung ke langit, lenyap dalam cakrawala bumi senja.

”Aku akan moksa,” kata Sakri, tiap kali ia dimurkai istrinya, terutama bila perempuan tua itu dibakar api cemburu, dan mereka berkubang pertengkaran tanpa ujung. ”Akan kutinggalkan kalian, dengan tanpa menyisakan raga.”

”Cobalah moksa! Aku ingin sekali melihatmu lenyap tanpa jasad!” ledek istri Sakri.

”Kau selalu tak memercayaiku. Juga ketika kukatakan, aku akan menjadi orang terhormat di wilayah ini, kau mencibirku. Tiba saatnya nanti aku akan kembali bekerja seperti dulu.”

”Siapa bilang? Kau selalu mengigau!”

”Ayo, kubawa kau pada guruku, Eyang Sabdo Palon, di lereng Gunung Lawu! Biar kau dengar seluruh wasiatnya, aku akan hidup mulia di masa tua.”

Tengah malam itu Sakri meninggalkan rumah, berjalan-jalan seorang diri dalam sunyi. Langit terang, menampakkan gebyar bintang-bintang, sesekali menggaris lengkung puncak malam. Ia terus menyusuri sunyi rel menuju pabrik gula yang aus tanpa deru mesin. Melangkah pelan-pelan di sepanjang rel yang ditumbuhi rerumputan liar.

Memandangi ladang bekas kebun tebu. Memandangi dengan harapan sebagaimana dulu: ketika pabrik gula itu masih menyuarakan deru mesin musim giling. Pada puncak malam ia memandangi pohon-pohon kersen yang kini tumbuh liar, lebat, dengan daun-daun kekuningan luruh waktu demi waktu. Di sini dulu dia, tengah malam, menemukan bayi perempuan, yang kelak dinamainya Arum.

Saat itu Sakri mendengar suara tangis bayi di antara langkah kaki menyusuri rel yang membentang di hadapannya. Ia tergerap dalam senyap malam merapuh. Disibaknya semak belukar yang kian lebat menutup rel. Lembut kepak sayap kelelawar dan cericit burung-burung sriti, membawa kembali ingatan Sakri pada anak angkatnya itu, yang kini sudah menjadi gadis.

Langkah Sakri menyusuri jalan setapak menembus ladang jagung, menyeruak padang lalang, dan menuruni tebing. Ia mencapai tepi sungai yang bening. Sejenak ia ragu. Teringat akan wajah teduh Eyang Sabdo Palon. ”Jangan ragu-ragu. Berendamlah pada tengah malam di sungai itu. Cari ketentuan hatimu,” selalu didengarnya bisik eyang bermata cemerlang di Lereng Gunung Lawu.

Arum suka menyusuri sunyi rel pabrik gula yang telah mati itu sendirian. Menyelusuri suara bayi. Terdengar jauh. Sangat jauh, dalam ceruk malam. Dalam semak belukar dan sunyi rel yang dulu selalu bergemuruh saat lori pengangkut tebu melintas. Ia berharap bisa bertemu dengan seorang ibu yang dulu meletakkan bayi itu di depan pabrik gula, dalam bungkus kain, dan burung-burung sriti berkelepak di sekitarnya. Hingga Sakri memungutnya, memberi nama Arum. Di dekat bayi yang tergeletak, tumbuh melati yang gersang berdebu, tengah mekar bunga-bunganya.

Kebiasaannya berjalan-jalan, menyusuri rel dan pabrik gula itu, tak bisa ditinggalkan Arum. Ia selalu tergoda untuk melangkah di antara rel yang tak lagi dilintasi lori pengangkut tebu. Kali ini ia tergoda untuk menyusuri rel. Ia tergeragap, saat menemukan seorang perempuan tua, kurus, tertatih-tatih mencari pohon kersen—yang tentu saja paling rindang—seperti melacak sesuatu di tempat itu.

Perempuan tua itu terus berbincang-bincang sendirian.

Arum mendengar desis perempuan tua itu. Ia ingin mendekatinya. Barangkali perempuan tua itu mencari-cari bayi yang dulu pernah dibuangnya di bawah pohon kersen. Barangkali perempuan degil itulah ibu kandungnya. Arum bergetar. Ia ingin segera berlari, merengkuh perempuan tua itu, siapa pun dia. Ingin ia menemukan perempuan yang memberinya citra seorang ibu. Dengan langkah digayuti rasa bimbang, Arum mendekati perempuan itu.

”Apa Ibu mencari seorang bayi?”

”Bayi? O, tidak. Aku mencari tempat yang nyaman untuk tidur.”

Dan perempuan tua itu membenahi tempat di sisi pabrik gula yang mati. Menghamparkan kain sarung tua, tidur, dan tak menggubris Arum. Begitu saja perempuan tua itu terlelap. Tak merisaukan apa pun, kecuali pulas tidur. Dengkurnya sangat kencang. Sesekali perempuan tua itu mengigau. Meracau. Memaki. Terdiam lagi. Mendengkur.

Tengah malam, ketika Arum memasuki pelataran rumah, ia berpapasan dengan ayah angkatnya. Sakri tampak lelah berjalan-jalan. Suara sandal tersaruk-saruk tanah.

Lelaki tua itu memandang ceruk kegelapan dengan tatapan memancarkan tanda tanya. Tapi bibir yang mengepulkan asap rokok itu memaksakan diri untuk tersenyum.

”Dari mana saja Ayah semalam ini?” Arum menandai rambut ayahnya basah. Biasanya lelaki tua itu berendam di air sungai hingga menjelang dini hari.

”Aku mencari wangsit. Kelak kalau aku memang benar mulia di pabrik ini, seperti dikatakan Eyang Sabdo Palon, kita akan hidup makmur, hingga anak cucu.”

Ingin Arum memekik. Iba pada ayah angkatnya—yang kini menampakkan ketuaan wajah, yang dulu legam terpanggang matahari di kebun tebu. Hamparan tanah yang dulu ditumbuhi batang-batang tebu kini mulai dipetak-petak. Ditanami sayur-mayur. Dijadikan ladang jagung. Tak ada lagi batang-batang tebu yang ditebang, diangkut dengan lori menyusuri rel ke pabrik gula yang mengepulkan asap dari cerobong besi.

Dada Arum kian sesak, dan belum beranjak dari pelataran rumah. Dia baru saja berjalan-jalan mengitari pabrik gula, dekat rel yang ditumbuhi semak lalang. Dia merasa tenteram mencium aroma buah-buah kersen meranum. Dalam kisah ibu angkatnya, di bawah pohon kersen yang menggugurkan buah-buah ranum itu—pada waktu bayi—ia dikerumuni semut. Sinder Sakri membawanya pulang. Menamainya Arum, lantaran ranum buah-buahan kersen yang berserakan di sekelilingnya dan bunga melati liar menyebar bau harum.

Semasa kanak-kanak, ketika tebu-tebu ditebang musim panen, Arum bersama teman-teman sepermainan suka mencuri tebu dari lori yang melintasi rel. Batang-batang tebu yang semula gembung, padat, berair dan manis, lama-kelamaan, Arum merasakannya kian kurus, menguning, kering tanpa air. Batang-batang tebu itu kian mengering tiap kali dipanen.

Arum paling lincah bergerak, berlari di belakang lori pengangkut tebu, melolos satu batang, dan memakannya di belakang pabrik gula. Sebatang tebu itu dikupas, dipotong-potong, disayat, dikunyah-kunyah dan diisapnya bersama beberapa kawan kecil.

Ladang tebu kian susut. Makin jarang lori kereta mengangkut tebu, menyusuri rel, memasuki pabrik. Musim giling tebu cuma sesekali, hingga gemuruh mesin itu tak terdengar lagi. Cerobong asap pabrik tak mengepulkan asap ke langit. Lahan tebu makin lenyap—petani memilih mengolah lahan itu sebagai ladang sayur, ladang jagung dan sawah. Tapi Sinder Sakri senantiasa berdandan gagah setiap pagi, meninggalkan rumah, mendatangi lahan-lahan bekas perkebunan tebu, mendatangi pabrik yang senyap, dan nongkrong di warung kopi. Dia menghabiskan waktu untuk minum kopi, merokok, dan berbincang-bincang dengan bekas mandor dan bekas petani penggarap lahan tebu—yang kini memilih menggarap sawah dan ladang.

Tiap pagi istri Sinder Sakri memandangi kepergian suaminya dengan mata terbakar api cemburu. Mata yang menebar jaring kecurigaan. Tajam. Menyengat Menyembunyikan kemesuman di baliknya. Arum senantiasa melihat, ibu angkatnya itu suka main mata dengan anak-anak muda, mandor, atau lelaki-lelaki gagah yang berpapasan dengannya. Mata itu genit dan mesum, yang disembunyikan di balik senyum. Tapi setiap saat, perempuan itu suka mencaci maki suaminya, dengan kecemburuan yang menajam. Membakar rumah dengan api pertengkaran. Mencabik-cabik perasaan Sakri.

Ragu-ragu, dalam gelap tengah malam, Sakri dan Arum enggan melangkah memasuki pelataran rumah. Sakri lebih dulu mengetuk pintu. Arum bersembunyi di balik punggungnya. Saat pintu rumah benar-benar dibuka, mata perempuan tua yang dibakar cemburu itu memberangus disertai cercaan, ”Huh! Pasti kau cari perempuan muda! Rambutmu basah, habis mandi keramas, tentu baru berbuat mesum dengan perempuan muda! Memalukan!”

Sakri terdiam. Mengepulkan asap rokok. Menerobos masuk.

”Siapa perempuan yang kaukencani malam ini?”

Tersenyum, tak menukas, Sakri melangkah ke meja, mencecap sisa kopinya yang dingin, merokok, dan pandangannya menerawang jauh: kosong, tidak lagi bersentuhan dengan benda-benda di depannya. Tubuhnya seperti tak lagi berpijak ke Bumi. Terlontar ke langit.

Usai badai yang berpusar menerjang pabrik gula, mengangkat atap, cerobong asap, tampak langit dan daratan tanpa semilir angin. Dedaunan basah, menetaskan sisa hujan badai, dalam diam. Terhampar onggokan genting dan atap pabrik. Terserak. Tumpang tindih. Orang-orang keluar rumah. Sebagian menangis. Sebagian yang lain meraung-raung.

Arum tidak menangis. Tidak meratap-ratap. Ia berjalan ke arah kepergian ayah angkatnya. Melacak tempat lelaki tua itu terpukau di sisi pabrik gula berlumut. Tapi pabrik gula kusam itu—selain cerobong asap dan atap yang lenyap—masih tampak utuh. Berhenti di depan reruntuhan atap, Arum mendekat ke bawah pohon-pohon kersen. Dahan-dahannya patah. Getas terlempar badai. Beberapa pohon tinggal batang. Yang lain tumbang.

Melangkah gadis itu ke arah ladang di belakang pabrik gula. Telah roboh ladang jagung petani, terserak-serak batangnya. Dan Arum tak menemukan Sinder Sakri di sini. ”Aku tahu di mana Ayah berada,” desis Arum, melangkah ke arah lereng pegunungan. Di sini sebagian atap rumah penduduk teronggok. Pohon-pohon masih berdiri kokoh. Hanya dahan-dahan dan dedaunan yang terserak.

Di bawah sebuah pohon beringin tua, rimbun di sisi sendang, Arum terhenti. Ia tengadah. Menatap sesosok tubuh yang tersangkut di rimbun dedaunan pohon beringin tua. Ia segera memekik. Yang dilihatnya bukan lelaki lain. Lelaki tua itu ayah angkatnya.

Orang-orang berlari mendekati Arum. Memandangi tubuh Sinder Sakri yang tersangkut pada dahan pohon beringin tua. Beberapa lelaki mencoba memanjat. Berharap mereka dapat menurunkan tubuh Sinder Sakri yang kerempeng itu. Tubuh yang merapuh. Basah. Tak sadarkan diri.

Orang-orang menurunkan Sinder Sakri. Arum berharap, ayah angkatnya masih memiliki detak nadi.

Terbaring dengan mata terpejam, napas tertahan, Sinder Sakri ditunggui Arum, yang tak mau meninggalkannya, hingga kesadaran dan kekuatan tubuh lelaki tua itu pulih. Arum memberinya makan, meladeni minum, dan menanggapi pembicaraannya yang meracau. Ia tak mau meninggalkan lelaki tua itu. Istri Sinder Sakri memandangi suaminya dari kejauhan. Tak mau bicara. Cuma matanya yang masih mengejek. Mata yang cemburu. Mata yang tak pernah mengenali napas dan nadi suaminya. Mata yang tak putus menebar jaring kecurigaan.

Datang pemilik pabrik gula, menengok Sinder Sakri. Memasuki kamar. Berbisik di telinga Sinder Sakri yang memejamkan mata. Sinder Sakri membuka kelopak matanya. Menatap dengan cahaya berselubung rahasia. Tersenyum, usai mendengar bisikan pemilik pabrik gula. Tergagap-gagap. Tubuhnya masih lemah dan ruang kamar berputar-putar dalam kepalanya. Ia merasa dalam pusaran angin, yang membawanya membubung langit, dalam ketaksadaran. Ia sesekali mengigau. Kadang ia merasa terisap pada sebuah lorong waktu yang memusarkannya pada kekosongan berkabut. Desau angin berdesing. Ia mencari cahaya. Kadang cahaya itu menyilaukannya. Kadang gelap pengap serasa dalam sumur beracun.

Yang membuat Sakri tenteram, ia masih mendengar suara Arum. Dengan mata terpejam, ia mencari ketenangan. Memang sesekali ia mendengar istrinya yang menggerutu. Mencemoohnya. Mengutukinya, ”Itulah ganjaran lelaki yang suka selingkuh!”

Tak sepatah kata pun Sinder Sakri menukas omelan istrinya. Yang ia dengar, pemilik pabrik gula sekali lagi membisik, ”Mari, kita bekerja lagi. Kita bangun kembali pabrik gula. Kau bisa mengelola perkebunan tebu seperti dulu.”

”Oh, ini sungguh menakjubkan!” seru Sinder Sakri. ”Akan kuajak para petani kembali menanam tebu.”

Kembali pemilik pabrik berbisik ke telinga Sinder Sakri. Bisikan yang menahan rekah senyum lelaki tua itu, ”Kutitipkan Arum padamu. Ibunya, perempuan simpananku, tak mau membesarkannya. Perempuan itu meletakkan bayinya di bawah pohon kersen depan pabrik gula, dan ia memilih pergi ke kota, menyelamatkan diri. Aku harus berterima kasih padamu. Jangan sampai terbongkar rahasia ini. Biarlah dia tak tahu siapa orangtuanya. Kupikir aku masih akan terus berdekatan dengannya. Ini sungguh sangat berharga. Aku masih memiliki harapan.”

Sepasang mata istri Sakri bagai tungku, menghanguskan kecurigaan yang tak pernah terpahami. Mata yang risau, memandang suaminya dengan menghujat. Mata yang kecewa pada Arum, gadis dari bawah pohon kersen pabrik gula yang lembab, kusam, berlumut, dengan cericit lembut burung-burung sriti mengitari rintik gerimis.

Sepulang pemilik pabrik gula, Arum merasa seperti dilambungkan ke langit, dengan pusaran rahasia keluarga ini, yang tak pernah dimengerti.

Pandana Merdeka, Februari 2008

Written by tukang kliping

27 April 2008 pada 16:04

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Satu Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Alur cerita yg masih menyisakan misteri. Endingnya juga masih penuh misteri. Seakan-akan penulis sengaja mengajak pembaca untuk berimajinasi, menentukan sendiri ending dari cerita ini…

    dhefinugroho

    15 Mei 2012 at 23:55


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: