Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Cerita dari Rantau

leave a comment »


Begitu pantai Batavia nampak di pelupuk mata, Henze tak beranjak lagi dari tempatnya berdiri. Dari geladak, ia bisa melihat beberapa kapal melepas sauh di pelabuhan. Ia ingin lekas-lekas menjejakkan kaki di pantai, minum bir dan mengisi perutnya dengan makanan lezat. Sudah sejak berbulan-bulan lalu ia kehilangan selera dengan masakan juru masak kapal.

Delapan bulan lalu seorang utusan VOC dari kantor pusat Amsterdam datang ke Sachsen dan meminta para penambang bekerja untuk VOC di Sumatera Barat. Henze bersama ketujuh belas kawannya diminta mencari emas di sana. Meski emas adalah penyebab dirinya terlibat dalam pelayaran itu, tapi itu bukan satu-satunya alasan kenapa dirinya mau pergi ke Hindia.

Telah lama ia memendam hasrat untuk menyaksikan dengan mata kepala sendiri paras Si Cantik Hindia, sebagaimana dikabarkan pula oleh para pelaut dan orang-orang di Tanjung Harapan, Ceylon, dan bandar-bandar lain sewaktu mereka singgah, “Het paradijs op aarde.” Secuil firdaus yang jatuh ke dunia.

Kini Huis Te Velsen sudah merapat di Batavia. Henze dan rombongannya harus mengganti kapal di sini. Kapal itu akan segera berangkat ke Ternate untuk mencari cengkeh dan pala.

Di meja kerjanya, Tuan van Goens sedang termenung, memikirkan siasat untuk menumpas Banten. Kas telah menipis oleh perang, mustahil memenangkan pertempuran tanpa keluar biaya. Meski sudah delapan tahun kompeni memonopoli peredaran opium, tapi perang demi perang tetap saja menguras pundi-pundi mereka. Kini Banten yang tak pernah ikhlas melepaskan Sunda Kelapa, mencoba membikin kapal-kapal besar yang dilengkapi baterijj, barisan meriam, untuk menandingi kapal-kapal VOC. Untung saja, pikirnya menghibur diri, Mataram bukan lagi ancaman. Juga Trunajaya. Lelaki itu telah tewas di tangan para pembesar Mataram. Kini ancaman satu-satunya yang paling dekat tinggal Banten.

Seorang opsir tiba-tiba mengetuk pintu. “Tuan Gubernur, para penambang telah tiba di pelabuhan,” katanya setelah memberi tabik. Mata Tuan van Goens sekonyong berbinar. Kerutan-kerutan di dahinya yang membikin dirinya tampak lebih tua, tiba-tiba hilang. Sejak ia tahu bahwa emas adalah jalan keluar dari masalahnya, ia meminta para penambang dari Sachsen untuk mencari emas di Hindia. Kedatangan mereka memberi angin untuk mengobarkan perang dengan Sultan Ageng.

Seperti kebiasaannya ketika bertemu orang baru di Batavia, Heinrich Schumann selalu bercerita panjang lebar, membangga-banggakan keberaniannya bertualang di Hindia selama belasan tahun. Kepada Henze dan kawan-kawan, ia mengaku berasal dari Duesseldorf. Kehidupan yang sulit memaksanya mengadu nasib di Hindia, bertempur di banyak medan bersama Mayor Isaac de Saint-Martin, lelaki Perancis penggemar lukisan yang tersohor piawai menyusun siasat. Tapi sebuah sabetan parang saat pertempuran di Ternate membikin kaki kirinya invalid seumur hidup. Kompeni tak mau lagi memakainya. Setahun lalu, dengan meminjam uang dari rentenir ia membikin restoran Rhine.

Henze dan kelima kawannya makan dengan lahap. Schumann senang melihat piring tetamu licin. Menu restoran ini tak terlampau mewah, tapi masakannya cocok di lidah tetamu.

“Adakah perempuan Eropa di kapal kalian?” tanya Schumann dengan bahasa Jermannya yang sudah kaku.

“Istri atasan kami, Nyonya Olitzsch,” sahut seorang penambang.

“Sial!”

“Kau bisa mengambilnya jadi istri setelah Olitzsch mati,” kata yang lain. “Lelaki itu sedang menunggu ajal di klinik.”

Sudah lama ia mendambakan seorang istri Eropa. Perempuan Eropa yang tinggal di Batavia terlampau sedikit. Setiap kali mereka turun dari kapal, para lelaki Eropa yang kesepian selalu berebut menyunting mereka.

“Dari semua lelaki di Hindia, Tuan Gubernurlah yang paling beruntung,” kata Schumann kemudian. “Meski ada istri, ia bisa dengan mudah mendapatkan perempuan lain.”

Perawakannya tegap, hanya berbalut kain putih di antara selangkangannya. Rambutnya yang panjang tersembunyi di balik destar yang melilit kepalanya. Seandainya tubuhnya dibalut pakaian yang lebih layak, orang-orang tak akan mengiranya seorang budak. Para mevrouw memuja wajah tampannya. Nyonya-nyonya gembrot yang mulai tidak diacuhkan para suami itu akan mengelilinginya seumpama mereka ada bertamu ke rumah Tuan Mossel. Nyonya Matje, istri Tuan Mossel, ada merasa cemburu. Juga jengkel. Tetamu lebih asyik mengagumi budaknya yang gagah ketimbang kalung mutiara yang melingkar di lehernya. Bila sudah demikian, nyonya rumah itu akan cemberut dan marah-marah tidak jelas.

Siang ini Wiraguna, nama budak itu, disuruh memijatnya di beranda. Nyonya Belanda itu duduk di kursi malas dengan hati masih dongkol atas kejadian sore kemarin. Wiraguna mestinya ada di sampingnya sepanjang sore itu atau, paling tidak, mengumpet di dapur. Tapi budak itu malah melayani tetamu yang minta ini-itu dan sesekali meraba wajah dan dadanya. Ia dihukum memijat betis sebab menyiksanya dengan hukuman yang lebih berat lagi sesungguhnya menghukum hati Nyonya Matje sendiri. “Andai Pieter tak menemukan anak malang itu dahulu…,” katanya dalam hati.

Ia terkenang saat Wiraguna pertama kali menginjakkan kaki di rumah itu. Bocah itu seumuran Cornelis, anak lelakinya, yang meninggal sebelas tahun lalu oleh malaria. Nyonya Matje sendiri yang memberinya nama Wiraguna, untuk mengenang seorang pangeran Jawa yang pernah menyelamatkan nyawanya dari sergapan harimau saat ia dan suaminya mengunjungi daerah pedalaman Jawa. Suaminya menemukannya di Makassar, terselip di antara budak dewasa. Pieter pikir Wiraguna kecil cocok sebagai teman bermain Cornelis yang kesepian. Ia memang sering berpesiar ke pelabuhan-pelabuhan di Timur untuk berbisnis, meninggalkan Matje dan Cornelis di Batavia.

“Aku ingin jalan-jalan,” tiba-tiba Nyonya Matje buka mulut. Suaranya masih ketus. Sejak semalam ia memang mendiamkan budaknya. Bagi Wiraguna, kata-kata itu berarti perintah untuk mengantarnya berkeliling, termasuk ke pasar, memborong bahan makanan kesukaan Nyonya Matje.

Hari masih gelap saat A San membenahi sayur-mayur di keranjangnya. Sebentar lagi ia akan berangkat ke pasar untuk membuka lapak. Tinggal daging babi yang telah ia cincang di dalam berbungkus-bungkus daun pisang, yang belum ia masukkan ke keranjang. Hari ini ia membungkus daging lebih banyak. Seorang juragan daging memberinya jatah daging lebih banyak kemarin. Belakangan ini orang-orang di Batavia sedang menggemari sup babi. Seorang mevrouw beberapa hari lalu mengumpatnya dalam bahasa Belanda yang tak ia pahami sebab tak kebagian. Nyonya Belanda itu bersama budak laki-lakinya datang terlampau siang.

Usai berbenah, A San menghampiri istrinya yang juga sudah terjaga dan kini tengah meniup-niup pipa bambu untuk menyalakan tungku.

“Biar aku saja,” kata lelaki itu, melihat tungku belum mau menyala.

“Tak usah,” timpal istrinya. “Kau sudah membereskan dagangan. Biar aku yang menjerang air.”

A San tersenyum kecil melihat istrinya yang keras kepala. Perempuan itu sudah begitu sejak ia pertama kali mengenalnya di kampung dulu di Tiongkok. Ia jarang mau ditolong orang lain, bahkan oleh A San suaminya sendiri. Barangkali karena ia yatim piatu sejak kecil, sudah jadi kebiasaannya melakukan apa-apa sendiri. Tapi sesungguhnya ia berhati lembut. “Andai saja aku bisa memberinya seorang putra,” A San berkata dalam hati.

Henze tengah celingukan di depan sebuah rumah saat seorang lelaki bersuara berat menegurnya dari balik pagar. Ia rada menyesal karena tadi memilih jalan-jalan sendiri, meninggalkan kawan-kawannya di klinik. “Kau orang baru?” tegur lelaki itu. Henze tak lantas menjawab. Ia menoleh kanan-kiri, takut-takut teguran itu bukan buat dirinya. Tahu tak ada orang lain di dekatnya, ia lalu menunjuk ke arah dadanya sendiri.

“Aku?”

“Iya. Betul kau,” kata orang di balik pagar. “Kau orang baru? Kulihat kau seperti kebingungan.”

“Betul, Tuan. Baru seminggu aku tinggal di kota ini. Aku sedang mencari jalan pulang.” Henze mendekat ke arah pagar.

“Ah kau bukan orang Belanda. Logat Belandamu buruk sekali.”

“Aku orang Sachsen. Baru sebentar belajar bahasa Belanda.”

“Sachsen?”

Kemudian keduanya mengenalkan diri. Pieter Mossel, nama lelaki itu, pedagang budak yang cukup makmur di Batavia. Ia mengajak Henze untuk mampir. Tak biasanya ia mengajak orang asing mampir ke rumahnya. Kali ini tiba-tiba saja ia ingin mendengar kabar Eropa yang telah ditinggalkannya lebih dari dua puluh tahun silam.

“Jadi apa pendapatmu tentang kota ini? Tak terlampau buruk, bukan?” Mossel berkata setelah Henze menceritakan Eropa yang dilihatnya terakhir kali.

“Entahlah…. Sudah dua minggu kapal ke Sumatera belum datang. Belum ada kabar kapan kami berangkat.” Ia menundukkan wajah. Sejurus kemudian ia meneruskan, “Beberapa kawanku meringkuk di klinik. Mereka telah sakit sejak di kapal. Di sini, cuaca tropis malah memperburuk sakit mereka.”

“Hanya yang kuat yang bertahan,” Mossel menyela.

“Kudengar di sini juga sulit mencari perempuan.”

Mossel tak menjawab. Air muka lelaki itu berubah murung.

Seorang opsir datang terengah-engah masuk ke Rhine. Ia membuka topinya dan lekas memesan minuman. Pelayan restoran segera menghampirinya dengan membawa bir dalam gelas besar. Seperti orang kehausan, opsir berwajah pucat itu lantas menandaskan bir di gelasnya dalam dua tegukan. Ia lekas meminta minuman yang sama kepada si pelayan. Sang pemilik restoran yang mengintip dari sejarak segera menghampirinya.

“Opsir,” sapa Schumann, “siang-siang sudah minum. Gadis yang kau incar pasti jatuh ke pelukan lelaki lain.”

Opsir itu mendongak. Ia tertawa pelan sebelum menanggapi omongan Schumann.

“Bukan perempuanku, tapi istrinya Tuan Mossel.”

“Mossel? Pengusaha budak?”

“Ya,” jawab opsir itu. “Dan yang lebih memalukan, istrinya jatuh ke pelukan budak laki-lakinya.”

Schuman terbahak. Ia menarik kursi di hadapan opsir itu, lantas duduk di situ. “Sudah lama aku tak mendengar cerita menggelikan. Lantas bagaimana nasib Mossel?”

“Ia mati gantung diri.”

“Semoga Tuhan menerimanya di surga,” kata Schumann seraya membikin tanda salib.

“Perempuan adalah sumber bencana.”

Schumann tak menyahut. Ia tak begitu setuju dengan kata-kata lelaki muda di hadapannya.

“Kisah menggelikan ini menyeretku ke dalam masalah,” ujar opsir itu lagi. “Aku harus mencari di mana budak itu bersembunyi.”

“Bersembunyi?”

“Ia kabur dari pelukan janda Tuan Mossel dengan menggondol perhiasan dan uang tak sedikit. Kau tahu uang itu untuk apa? Untuk membebaskan para budak.”

“Lalu apa masalahnya?”

Opsir itu tak langsung menjawab. Ia meneguk bir yang baru saja diantarkan ke mejanya. Schumann mengernyitkan dahi.

“Ada kabar para budak akan membuat pemberontakan,” kata opsir itu meneruskan.

Di tengah samudra, sebuah kapal berbendera Belanda terapung-apung menuju Sumatera Barat. Berdiri di geladak seraya menatap hamparan air yang biru, Henze membiarkan angin laut menampar-nampar wajahnya. Seseorang akan melihat kepedihan pada matanya yang remang-remang.

Masih terngiang Schumann mengucapkan belasungkawanya delapan hari lalu. Henze datang ke Rhine mengabarkan kematian seorang penambang di klinik. Lebih dari enam minggu mereka singgah di Batavia dan mereka yang sakit, termasuk Olitzsch dan istrinya, berturut-turut tumbang ke liang kubur tanpa sempat memelototi bongkahan-bongkahan emas di Sumatera. Kini tersisa sembilan penambang, termasuk dirinya, yang akan mencari emas tanpa semangat.

“Semestinya kalian tak datang kemari. Tempat ini seperti neraka,” kata Schuman waktu itu.

Dari geladak, lamat-lamat Henze melihat daratan nun jauh di seberang lautan. Ia berharap itu tanah Eropa.

Written by tukang kliping

6 April 2008 pada 13:08

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: