Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Pantura

with 5 comments


Sungguh saya tak juga mengerti kenapa cuaca menjadi sekacau ini padahal matahari tetap terbit di timur dan tenggelam di barat. Banjir masih juga melanda Pati, Jawa Tengah, meski sudah dua minggu, air tak juga surut. Sementara di Riau dan Jambi, hutan terbakar. Tapi apa peduliku, sedang cuaca juga tak mau tahu apa keinginan-keinginanku. Sebaiknya saya terus mengayuh rakit batang pisang ini, dari Pati ke Rembang, untuk menemui Kiai Zaim Zaman, barangkali beliau mau menolong kami mengatasi kesurupan massal yang melanda pesantren di desa kami. Saya melewati antrean kendaraan yang macet sepanjang 24 km yang terdiri dari truk, mobil-mobil pribadi, kontainer, bus, maupun motor karena tak mampu menembus banjir.

Air banjir setinggi satu setengah sampai dua meter mengganyang seluruh kawasan yang sangat luas, sawah-sawah yang siap panen, perumahan, perkebunan, tambak, kolam ikan, dan pertokoan, meliputi kota-kota Demak, Kudus, Rembang, Pati, Jepara, Juwana, Tuban. Tapi, apa Kiai Zaman sendiri tidak repot? Beliau tentu juga sangat dibutuhkan oleh pesantrennya yang juga dilanda banjir.

Saya mengayuh rakit menerjang sawah siap panen yang tenggelam yang airnya semakin tinggi. Sejumlah rakit dari batang pisang maupun bambu tampak berseliweran. Para penumpangnya yang saling kenal berteriak-teriak bertegur sapa. Terdengar gelak-tawa seolah tak peduli akan kesulitan hidup yang sedang dirundung. Mendadak mendung datang menyergap disusul hujan lebat. Subhanallah. Saya yang satu minggu kehujanan terus, rasanya badan bertambah ringan tapi dinginnya minta ampun. Tubuh saya menggigil dan saya sudah tak tahu jalan. Gelap gulita. Apa kiamat seperti ini? Geledek bersahutan seperti dihamburkan dari langit yang membuat saya tiarap gemetaran. Rasanya tubuh ini beku.

Halilintar menyilet langit memberi jalan rasa bersalah pada rakit saya. Mendadak laju rakit ini terhenti. Agaknya tersangkut sesuatu. Saya menunggu halilintar untuk mengirim sinar, namun tak kunjung muncul. Wahai, cahaya perak, cahaya perak. Saya meraba-raba apa gerangan yang menyebabkan rakit saya terhenti. Masya Allah, saya meraba tubuh orang. Cepat-cepat saya singkirkan tubuh itu dengan galah lalu saya menghindar dari tempat itu. Saya semakin menggigil. Tentu ada saja yang menjadi korban dari bencana yang besar ini mungkin tidak sedikit jumlahnya. Sawah siap panen yang tenggelam tentu menelan lebih banyak lagi korban. Ibu, ayah, dan anak-anak, juga nenek-kakek, cucu, cicit, ke mana mengungsi jika seluruh kawasan yang sangat luas ditelan banjir yang rasanya semakin tinggi ditambah oleh deras hujan.

Di dusun tak ada bangunan yang tinggi tempat mengungsi. Hanya bukit yang cukup sulit didaki karena licin dan terjal. Kebanyakan warga tetap di rumah masing-masing dengan bertengger di atap dengan payung atau lembaran plastik untuk menahan hujan.

”Kalau ibumu ini mati,” kata ibu yang duduk di atap rumah dengan memegangi payung dalam hujan lebat, ”Cepat kuburkan.”

”Ah, ibu kok ngomong begitu,” sergah saya sambil memeluk tubuhnya yang gemetaran kedinginan.

”Jaga adik-adikmu.”

”Ibu saja yang menjaga adik-adik. Saya mau cari nafkah di Jakarta.”

”Tega kamu meninggalkan adik-adikmu.”

”Saya mau cari duit yang banyak untuk ibu dan sekolah adik-adik.”

Di atas atap dapur, ayah memeluk kedua adik saya yang basah kuyup karena tak terlindung dari hujan. Yang saya takutkan kalau tiba-tiba ibu atau ayah meninggal. Maka ketika banjir surut, kakak yang menetap di Jakarta memboyong ibu, ayah, dan kedua adik ke Jakarta. Ditinggalkannya saya sendirian di dusun untuk menjaga rumah. Tapi mereka tak betah di Jakarta. Terlalu bising, katanya. Lalu boyongan kembali ke desa, meski selalu kekurangan tapi cukup bahagia, katanya.

Kemudian kakak membangun rumah bertingkat untuk kami menghadapi banjir. Benar saja. Banjir yang lebih besar kali ini datang, ditambah 25 santri putri yang kesurupan diungsikan di rumah bertingkat kami. Alhamdulillah. Banyak jalan yang Allah bimbing supaya bangunan itu bermanfaat bagi sesama. Masalahnya kini adalah bagaimana bisa menemui Kiai Zaim Zaman dan di mana beliau berada jika di pesantrennya tak dijumpai sementara di mana-mana, sejauh mata memandang, air, air, air melulu yang tampak.

Tiba-tiba rakit mentok, sampai saya terjatuh. Kembali saya meraba-raba apa gerangan yang menyebabkan rakit ini berhenti. Ternyata tangan saya menyentuh tembok. Bangunan apa gerangan? Kembali kilat merobek udara. Sekilas terlihat bangunan putih ini masjid. Barangkali saya bisa mencapai atapnya supaya saya bisa tidur dan tidak terlalu kedinginan.

Pagi harinya masjid itu terkatung-katung di danau yang luas dengan saya satu-satunya berada di atapnya. Kadang gelombang menerpa karena digelontor angin puyuh yang juga mempertajam tetes hujan bagai jarum. Kadang batang-batang padi muncul di permukaan air lalu kembali tenggelam. Apa yang terjadi sesungguhnya? Siang harinya panas sangat teriknya. Sambil berayun-ayun dimainkan oleh kantuk, di atap masjid itu tidak hanya baju, tubuh saya juga mengering. Di tengah sawah yang sudah jadi danau ini, alur mana (?) saya tak lagi mengenal peta.

Di mana Pati, di mana Rembang, kedua kota itu mengingatkan saya akan hubungan rumah saya dengan rumah Kiai Zaim Zaman yang berada di tengah pesantrennya, di mana para santri, putra maupun putri, berseliweran berlarian, bermain maupun berdebat soal jodoh, juga Tuhan, yang membuat saya selalu kangen untuk mengunjunginya. Rumah tertutup pohon mangga yang sangat rindang, manalagi, nama yang mengingatkan orang sehabis menikmati sebuah lalu minta lagi, manis dari akarnya. Seorang kiai dengan pohon mangga yang lebat buahnya, merupakan perpaduan yang elok, dalam ukuran apa pun.

Karena panas tak tertahankan, saya mencari jalan turun ke dalam masjid. Meski sangat kesukaran, saya berhasil masuk ke ruang salat. Dua rakaat saya selesaikan setelah berwudu air banjir, saya tertidur tanpa diawali kantuk. Cukup lelap dan tak terganggu oleh mimpi. Waktu bangun, saya kaget bukan alang kepalang, Kiai Zaim Zaman berzikir di sisi saya. Saya bangun dengan sigap, mencium tangannya, menanyakan kesehatannya, meminta doa, berusaha sebaik mungkin untuk tidak kentara baru bangun dari tidur.

”Saya mendengar panggilanmu bertalu-talu,” kata Kiai Zaman hampir-hampir berbisik, ”Maka cepat-cepat saya menemuimu.”

”Subhanallah,” seru saya.

”Saya sudah bertemu dengan dua puluh lima orang santri putri yang kesurupan itu di rumahmu dan mereka sudah baik kembali.”

”Subhanallah.”

”Orang-orang modern bisa juga kesurupan, ya.”

”Subhanallah.”

”Salamualaikum,“ kata Kiai sambil ngeloyor pergi.

”Pak Kiai,” seru saya sambil mengejar beliau, ada hal-hal yang perlu saya tanyakan.

Di luar, Kiai Zaman berjalan di atas air tanpa mempedulikan panggilan saya, menjauh. Di dalam hati saya mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya atas semua kebaikan Kiai yang mumpuni ini. Kapan seorang awam seperti saya bisa membalas kebaikannya dan jasa-jasanya dengan segala kemampuan yang tulus seperti selembar sajadah kepada sebongkah kepala yang sujud di atasnya. Semoga berkah Allah selalu mengayomi Kiai Zaim Zaman sekeluarga turun-temurun. Betapa seandainya kita punya banyak kiai seperti beliau, tangan yang dua lengan itu, kaki yang dua jenjang itu, sementara di luar sana, orang-orang berteriak meminta tolong, banyak sekali, ya, banyak sekali.

Ketika saya kembali ke dalam, di depan mihrab saya jumpai bertumpuk-tumpuk uang yang banyak sekali. Rasanya saya semakin banyak utang kepada Kiai ini, dari imbalan yang bisa disentuh tangan sampai berkah yang tidak kasatmata, orang-orang pernah berduyun-duyun menemui saya dengan seluruh permintaan yang bisa diucapkan mulut:

”Saya bukan Kiai Zaim Zaman,” teriak saya ketika itu kepada orang-orang itu, ”Saya hanya orang yang kepengin seperti beliau.”

Pagi hari ketika matahari kencar-kencar dan mendung hitam sedang mengincar, saya mendayung rakit batang pisang ini meninggalkan masjid yang sudah memberi pelajaran banyak kepada saya dengan bertumpuk-tumpuk lembaran uang di atasnya. Saya mendayung kembali ke Pati dengan arah apa pun, ke sebuah dusun yang sunyi, kepada ibu, ayah, dan kedua adik saya, yang boleh jadi terus menunggu dengan harap-harap cemas.

Kembali rakit saya terhadang oleh antrean truk yang sangat panjang dalam kemacetan oleh banjir yang masih setinggi dada orang dewasa. Tetap betah juga sopir-sopir dan kenek-kenek itu melantunkan potongan-potongan lagu meningkahi irama dangdut yang tak kunjung padam. Bahkan yang beradu bidak-bidak catur sambil berendam dengan papan caturnya yang berayun-ayun oleh riak air yang dihembus angin atau sengaja diaduk-aduk oleh sejawatnya yang selalu mengganggu, diiringi ha ha ha he he he dan olok-olok yang diuleg sepedas mungkin sehingga banjir itu tambah sempurna mengharu-biru.

Ketika para sopir dan kenek itu melihat gepokan lembaran uang yang bertumpuk-tumpuk di atas rakit saya itu, saya pasrah setulus mungkin.

”Ya, Allah, semuanya ini milik-Mu,” doa saya.

Seorang sopir mengambil segepok uang itu dan menimpukkannya ke arah temannya sambil mencemooh, ”Lo ambil! Lo yang mata duitan! Ha ha ha!”

Teman yang kena timpuk itu melempar uang itu ke teman yang lain sambil berteriak, ”Gue ude konglomerat. Lo aja ambil yang masih kere!”

Akhirnya semua sopir dan kenek itu berebut uang di atas rakit saya dan saling timpuk-menimpuk sejadi-jadinya. Keadaan jadi kacau dan meriah. Penuh banyolan dan semprotan kata-kata konyol. Tentu banyak gepokan uang itu yang jatuh ke dalam air dan tenggelam.

”Ya, Allah, bukakan mata mereka. Itu uang beneran dan mereka boleh merebutnya,” doa saya dengan kenceng.

Anehnya para sopir dan kenek itu, subhanallah, menyelam dan menyelamatkan seluruh uang yang tenggelam dan mengembalikannya di atas rakit saya. Lalu mereka mendorong rakit supaya saya meneruskan perjalanan. Saya tertegun. Seperti mati berdiri. Bagaimana mungkin mereka tidak menyadari, uang yang saya bawa itu uang sungguhan. Bukan uang mainan. Masya Allah. Tuhan punya rencana.

Sesampai di rumah, ibu, ayah, kedua adik saya, dan para santri dengan sejumlah ustadnya yang masih menginap menyambut saya dengan sukacita.

Ketika ibu mengetahui saya membawa uang yang bukan main banyaknya itu, menyuruh saya membuang seluruh uang itu dengan mendorong rakit menjauh dari rumah. Menurut ibu, itu uang haram yang belum tentu dari Kiai Zaim Zaman. Dalam hati saya menyesal, kenapa saya tidak menyembunyikan segepok dua di dalam baju saya.

Malam harinya saya tidak dapat tidur karena perut keroncongan. Persediaan makanan habis sementara jumlah orang yang menginap di rumah bertambah setiap harinya. Dengan sebungkus mi-instan yang dibagi dua orang, semakin kentara kami butuh bantuan yang tak kunjung datang.

Pagi harinya kami dikagetkan oleh teriakan ibu, ”Rakit itu kembali ke rumah!” yang disambut seisi rumah dengan takjub.

Ini artinya bergepok-gepok uang itu kembali ke tangan kami. Subhanallah.

Tangerang, 14 Februari 2008

Written by tukang kliping

23 Maret 2008 pada 15:33

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

5 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Tetaplah absurd

    Abdul Rojak

    17 November 2009 at 12:01

  2. Tulisan mengandung hikmah, ini puisi panjang yang mengundang ulang baca. Alhamdulillah….

    ahmad surkati ar

    26 November 2011 at 05:24

  3. Seperti mendengarkan lagu barat tak tau maknanya tapi enak menikmatinya.

    imam burhanuddin

    1 Januari 2012 at 00:12

  4. Bingung mesti koment apa. Rada gimana gt….

    RaN

    20 Februari 2012 at 22:47

  5. seperti meracau tp enak

    joko myd

    25 November 2012 at 00:09


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: