Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Kiriman Laut yang Terlambat

leave a comment »


Bila malam menjejak, memanjang sampai mau beranjak di penghujung lain, seiring dengan pasang naik, dari zona pesisir sebelum jalan membelok ke pedalaman, dari salah satu rumah yang dialingi pohon-pohon bakau dari tangan lautan itu akan bangkit tembang pilu mirip lolong. Mungkin juga bukan tembang, karena hanya ada satu kalimat yang diserukan dan diulang-ulang dari awal malam dan sempurna sampai mau pagi—seperti yang diceritakan Marklopo. Di rentang waktu saat para lelaki pergi melaut, ketika pasang mengapungkan perahu dari rangkulan lumpur, sampai saat terakhir untuk mendarat sebelum laut surut dan meninggalkan satu kilometer pantai berlumpur bau amis.

Lelaki rembulan yang berpedati. Lelaki rembulan yang berpedati,” katanya—dilantunkan oleh suara panjang melengking di tengah rintihan dan gerung tangisan. Lalu sunyi, dan suara angin hanya mendesus membuat daun-daun meriap di tengah sedu sedan dan isak kecil. Sebuah jeda emosi sebelum kembali mengeras menyerukan teriakan melengking, tidak ritmik tapi dalam melodi tajam yang diulang-ulang, semacam blues atau pekikan rock yang paling distortif—dan karenanya menyiksa yang mendengar. Tapi apa memang ada perempuan yang dikurung dan dibungkam lelaki, yang diam-diam mencari kesempatan pertolongan rahasia dari para perempuan dan anak-anak? Seperti si putri yang ditawan di menara oleh penyihir dan dijaga naga yang selalu tertidur bila malam tiba?

Mau petang di hari ketiga Perdadu mampir di rumah ujung, di dekat jembatan sebelum jalan membelok ke pedalaman menjauhi bibir pantai, pura-pura mencari air buat mengempukkan dedak campur ampas tahu dalam ritus memberi makan kuda dalam tahang. Ia menggulung tembakau mole dalam lembaran daun kawung, sambil menunggu Dojala, nelayan teman akrabnya, mendekat dan menyapa. Perdadu memberi tawaran tembakau dan irisan tiga perempat telapak tangan daun kawung kering, dan sambil duduk di pagar jembatan bercerita tentang panen hui yang berhasil dan musim berburu babi yang direncanakan bulan depan. ”Kamu ikut?” katanya. Angin berembus. Dojala mengisap rokoknya dan menggeleng. Perdadu melirik. ”Apa ada kaitan dengan perempuan yang menangis malam-malam itu?”

Dojala tak menjawab. Perdadu tak bertanya lagi. Angin reda. Membuat aroma amis ikan-ikan laut yang didodet dan dijemur tapi belum kering didera sergah panas matahari itu merajalela mengisi kampung, mengundang lalat dan serangga. Lalu angin bangkit, daun meriap dan sesekali ada derit batang yang bergesekan. Disusul bunyi anjing menggonggong, suara ayam berkotek kaget, merentet dan menendang-nendang ketenangan seperti pukulan panik penjaga malam pada lonceng pipa besi digantung dalam irama minta bantuan dari warga kampung. Kemudian segala reda, dan Dojala bercerita tentang Masteri, yang 12 tahun menduda dan sekarang selalu melaut dengan meninggalkan rumah dalam keadaan terkunci. ”Tidak seperti biasanya,” kata Perdadu. ”Tidak seperti biasanya,” kata Dojala, membenarkan.

Obrolan itu jadi informasi tak lengkap, meski telah menjelaskan semuanya—tak akan lebih lengkap lagi sampai Masteri mau bercerita. Beredar ke pedalaman, ke sekitar 40 kampung dan lima desa dalam rentangan 50 kilometer. Disebarkan dari orang ke orang di warung, diperkuat oleh pertemuan di Pasar Bayah, 19 kilometer dari jembatan tempat omongan pertama dicetuskan. Lalu orang-orang yang saling bertanya, yang saling melengkapi, yang saling memperkuat dugaan dan khawatir itu tiba pada kesimpulan: Kenapa orang-orang di Kampung Paru itu tak mendobrak rumah Masteri, memintanya melepaskan kurungan dan siksaan pada si perempuan, mengembalikan kepada orangtuanya dan—bila bergairah—melamar dan mengawininya sehingga bisa bebas menyiksanya?

Raspulen, yang membuka warung nasi uduk dan jadi jujugan di pasar—selain Nisoto dan Wargepuk—membuat simpul baru. Perempuan itu bukan apa-apanya Masteri, tapi dititipkan Lokrapu di sebelah, yang tak mempunyai kamar untuk menampung karena anaknya lima. ”Tapi kenapa mau?” kata banyak orang. Raspulen mengangkat bahu. Dan ketidaklengkapan itu membuat orang-orang makin penasaran, membuat orang-orang diam-diam melakukan penyelidikan. Hasilnya masih nihil, hasilnya hanya berputar pada misteri informasi pertama yang tak lengkap. Seseorang bercerita pada polisi dan polisi itu mengangkat bahu. ”Itu ada dalam lingkaran keluarga, dan mungkin menyangkut aib keluarga atau kehormatan keluarga yang kudu dijaga sehingga kasusnya setengah disembunyikan,” kata Tokpentung sambil lembut menyeruput kopi. Orang-orang menatap dan membungkam. Apa ia dapat suap?

Pada hari kelima Kunpenyu mulai membangun persekongkolan. Ia, yang istrinya asli dari Kampung Paru, menghubungi setiap orang di Lelang Ikan, dan diam-diam minta tolong dan dukungan untuk menyerbu rumah Masteri, karena ia tahu kalau orang-orang—terutama para perempuan dan anak-anak—sudah tak kuat dengan lolong tangis dan lengking minta tolong dari rumah Masteri itu. ”Kenapa si Dojala, Nucumi dan Palkepiting itu hanya diam saja?” kata banyak orang. Kunpenyu celingukan. Seakan-akan takut kalau tiba-tiba Masteri di sana, muncul entah dari mana dan langsung menggampar, karena beranggapan telah menebarkan aib keluarga. Dengan separuh berbisik ia bercerita kalau lolong tangis dan teriakan perempuan itu hanya muncul kalau malam turun dan para lelaki telah melaut, memanjang sampai tiba saat para lelaki mendarat.

”Awalnya tidak ada yang tahu selain para perempuan dan anak-anak, mereka mendatangi rumah Masteri dan menemukan semuanya terkunci—dan begitu didekati suara tangis dan teriakan itu berhenti, tak menjawab meski pintu dan jendela diketuki. Baru tiga hari yang lalu para lelaki mengerti, mau tahu, dan meski rumah ditinggal Masteri melaut tapi para lelaki tidak berani mendobraknya karena begitu didekati suara tangis dan teriakan itu berhenti. Perempuan itu ketakutan.”

”Jadi …?”

”Kita bikin ia berani dengan mengalahkan Masteri.”

”Caranya?”

”Senin depan, setelah lelang ikan, kami akan menyerbu rumah Masteri. Ikut?”

Perahu ditambatkan dan terbenam dalam lumpur ketika pasang surut. Bau amis bangkit, menjadi pertanda beristirahat sebelum pasang naik tiba dan perahu itu dibangkitkan seperti zombies dimunculkan dari kubur dan bergerak kaku dituntut si pemilik mantra. Orang-orang mengangkat keranjang-keranjang ikan ke tepian, yang langsung didatangi para pengepul dari Pasar Bayah dan kampung-kampung pedalaman. Transaksi terkadang berlangsung singkat, karena setiap orang hanya bertemu dengan langganannya. Sedangkan ikan-ikan sisa akan diambil ibu-ibu kampung buat dimakan sendiri atau didodet dibuang isi perutnya sebelum dihamparkan dalam rak penjemuran—sehingga bau amis seperti tidak ada habisnya. Orang-orang bercakap. Menunggu Masteri menghabiskan sarapan dan segelas kopi di warung. Mengikutinya diam-diam dan begitu ia masuk rumah, seusai membuka kunci gembok, orang-orang segera mengepung dan melempari rumah itu dengan batu dan potongan kayu.

Masteri tersentak. Dengan membawa dayung rompal ia meloncat ke halaman.

”Ini apa? Ada apa?” teriaknya. Atap rumahnya runtuh semua. Cahaya matahari leluasa di seluruh kamar. Dojala mendekat. ”Terus terang saja, Ri,” katanya, ”Kamu menyembunyikan siapa? Kamu apain perempuan itu sehingga hanya bisa menangis sepanjang malam dan mengganggu orang kampung?” Masteri terbelalak. Mengawasi orang satu per satu. Berbalik. ”Tuturkeun …,” katanya, sambil mendahului, membimbing memasuki kamar demi kamar dan membukai jendela demi jendela—bahkan pintu dapur di mana banyak orang menunggu seseorang melarikan diri ke situ. ”Tak ada siapa-siapa di sini. Tidak ada apa-apa di rumah ini meski seminggu ini, tiap ditinggal melaut selalu saja berantakan seperti ada yang muring-muring mengobrak-abrik tempat ini. Aku curiga pada semua orang tapi apa untungnya masuk ke sini? Maka kukunci rumah, dan hasilnya tetap berantakan—malah sekarang hancur lebur,” katanya.

”Maaf.”

”Tapi tahukah kamu kalau dari rumahmu selalu ada perempuan menangis dan berteriak minta tolong semalaman?”

Masteri menggeleng. Dan orang-orang tersenyum. Nucumi menggulung rokok kawung, menyulutnya dan memberikannya pada Masteri. Si lelaki yang hanya berkaus kutang, dengan celana bekas melaut yang kedua pipanya basah itu menerima sodoran lintingan itu. Dojala bercerita tentang kegelisahan, ketakutan serta simpati para perempuan dan anak-anak akan perempuan yang disangkanya dikurung di rumah Masteri, sehingga hanya bisa menangis dan berteriak minta tolong—sambil seseorang menirukan teriakan melengking dan melodius yang minimalis diulang-ulang. Mata Masteri berkilau oleh takjub, tidak percaya dan ingin tahu. ”Kenapa kalian nggak mendobrak rumahku?” Mereka menggeleng. Bilang kalau suara itu selalu hilang begitu didekati dan berubah jadi senyap saar jendela dan pintu diketuki dan namanya dipanggili. ”Maafkan kami, Ri. Kami pikir si perempuan itu ketakutan dan tak berani karena kamu kasar…” kata Dojala. Masteri bungkam.

Siang itu ia pindah istirahat di rumah Dojala—menunggu janji orang-orang yang akan membangun rumah di ladang di belakang rumah Dojala, seberang jalan selepas jembatan dan belokan di dekat tebing sungai. Tapi ia tak bisa beristirahat, orang-orang sekampung dan yang dari pelelangan ikan berurutan datang, membawa penganan dan minta maaf dengan tulus. Masteri mengiyakannya. Kemudian orang-orang yang dari Pasar Bayah dan akan pulang ke kampung di pedalaman mampir menyimak cerita sambil menunggu sais dokar dan pedati beristirahat dan memberi ransum kuda di dekat jembatan di depan rumah Dojala. ”Sesungguhnya itu apaan? Kenapa bisa tiba-tiba muncul padahal selama 45 tahun dan 12 tahun menduda aku tidak menemukan hal aneh di situ?” kata Masteri. Orang-orang mengangkat bahu. Bertanya tentang jimat, akik atau barang pusaka warisan yang dimiliki Masteri. Yang ditanya menggeleng. Jadi apa?

Malam hari tangis dan teriakan itu muncul dan saat didekati senyap. Siangnya seluruh papan dinding dan daun pintu dan jendela dicopoti, dan malamnya mereka mengintip dari jauh saat si perempuan itu muncul sebagai suara tanpa ujud—berteriak minta tolong. Suara tangisan dan teriakan itu muncul dari kolong rumah, merayap naik ke atas dan bergaung di ruang kamar rumah panggung yang malam sebelumnya bersekat. Tapi apa yang ditangisi, siapa yang menangis, dan kenapa terdampar di situ tak pernah jelas. Dan ketika mereka bersiap akan memindahkan kerangka rumah, setelah seluruh papan lantai diangkat, di kolong rumah itu mereka menemukan kepala busuk perempuan berambut ikal yang kuping, hidung, kedua bibir, dan kedua matanya habis dicuil. Itu mungkin diapungkan pasang naik dan kemudian digondol anjing-anjing kampung ke kolong rumah Masteri—yang bilang, di seminggu lalu anjing ramai berebutan makanan di kolong rumah, dan tak mau pergi saat diusur dengan jejakan kuat di lantai papan.

Tanpa banyak cakap mereka menyiapkan penguburan sempurna, memakamkannya di tempat di mana kepala itu ditemukan. Sejak saat itu suara tangis dan teriakan minta tolong tak terdengar lagi, meski setahun sekali, tepat semalam sebelum hari pasang naik luar kelaziman yang mendamparkan kepala itu ke Kampung Paru—entah dari mana—perempuan akan menangis dan berteriak minta tolong sepanjang malam. Tapi orang-orang sudah terbiasa dengan tangis dan teriakan itu. Bahkan sebulan setelah seluruh kerangka rumahnya diusung, dipindahkan dan ditegakkan di tebing sungai Masteri nandur bibit bakau di bekas rumahnya, yang tanahnya selalu lembab karena resapan pasang naik, sehingga kuburan itu segera terkurung jajaran bakau yang rapat sepanjang pantai— empat rumah yang tersisa diam-diam dipindahkan ke seberang jalan.

Dan seluruh pantai itu kini ditumbuhi bakau, dan anak-anak generasi kemudian lebih percaya kalau semua itu suara angin di batang bakau bila setahun sekali si perempuan itu mulai menangis dan berteriak minta tolong.

Catatan:
tahang: ember kayu diperkuat beberapa cincin besi
mole: tembakau rajangan yang belum diberi bumbu
jujugan: tempat yang dijadikan acuan/tujuan datang
kudu: harus
rompal: sisinya tak lagi rata, rusak karena dipakai
muring-muring: uring-uringan

Written by tukang kliping

9 Maret 2008 pada 06:16

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: