Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Rumah untuk Kemenakan

with 3 comments


Di bingkai jendela rumah gadang, Kalan menatap jauh ke halaman. Gelap yang terpampang. Sebuah panorama kelam dari malam yang menerjang. Segelap hatinya yang berselimut gundah. Getir. Ngilu. Dan serasa ada sayat yang tak putus-putus membuat dadanya tak henti dari kecamuk. Pikirannya kusut.

Sebulan yang lalu, setelah percintaannya yang panjang dengan Darti, perempuan berambut lebat yang bekerja sebagai pelayan toko dengan gaji yang teramat minim, akhirnya mereka memutuskan untuk menikah. Tak ada yang dapat mereka janjikan, sebagaimana mereka tidak bisa membuat komitmen apa-apa selain hidup yang sederhana.

”Setelah menikah, kita bisa tinggal di rumah kecil milik ibu,” ucap Kalan pada Darti satu ketika. ”Karena mengontrak rumah adalah sebuah beban yang sulit kita tanggung. Belum lagi tagihan listrik. Beli beras. Minyak. Sambal. Sabun. Iuran keamanan. Iuran ini. Iuran itu. Banyak lagi. Aku sudah bicarakan semua itu pada ibu, dan ibu sangat mengerti dengan keadaan kita,” terang Kalan sejelas mungkin, berusaha untuk meyakinkan Darti dengan pendapatnya.

Darti hanya menurut waktu itu. Mengikuti kehendak calon suaminya yang hanya tukang ojek. Karena bagaimanapun, angsuran motor yang harus dibayar tiap bulan tentu sebuah kondisi yang amat rumit untuk hidup lebih sejahtera, apalagi bila mengontrak rumah. Darti memahami semua itu. Sebab itu pulalah ia tak menuntut apa-apa, selain getar cinta yang telah lama mereka pertahankan, serta sedikit kebahagiaan yang diimpikan.

”Tidak masalah. Kalau kalian mau tinggal di rumah kecil tersebut, silakan. Toh, rumah itu milik ibu,” jawab ibu ketika kuutarakan keinginan untuk tinggal di rumah kecil tersebut. ”Tapi bagaimanapun, kalian tentu harus membenahinya agar layak untuk dipakai. Karena orang yang dulu mengontrak rumah itu membiarkan saja rumah berantakan. Atapnya sudah banyak yang bocor. Dinding-dinding juga bolong. Dapur kotor. Catnya sudah kusam. Dan lagi rumah tersebut belum ada kamar mandi,” tambah ibu menjelaskan keadaan rumah kecil tersebut.

Tapi Kalan dan Darti telah sepakat untuk menempati rumah kecil itu. Daripada mengontrak, itu pikiran mereka. Mencari rumah sewa sangat susah. Dan lagi tak ada sewa rumah yang murah saat ini. Belum lagi jarak Darti dari tempatnya bekerja dan jarak Kalan dari tempat mangkal ojeknya adalah hal yang mesti dipertimbangkan. Belum lagi kerukunan bertetangga dengan lingkungan baru. Pada kesimpulannya, rumah kecil ibu adalah sebuah pilihan yang strategis bagi mereka. Tekad Kalan dan Darti sudah bulat.

Setelah pernikahan yang tanpa pesta perkawinan, mereka pun pindah ke rumah kecil itu. Meski ada beberapa barang-barang rumah tangga yang masih bisa dipakai yang tertinggal di rumah itu, seperti dipan tua, tikar pandan, rak piring yang sudah reyot dan sebuah lemari usang, tapi tentulah tidak mencukupi untuk sebuah keluarga baru yang belum memiliki apa-apa.

”Kita harus beli piring dan gelas.”

”Kita harus buat kamar mandi.”

”Kita harus ganti atap yang bocor.”

”Kita harus tambal dinding-dinding yang bolong.”

”Cat.”

”Loteng.”

”Oya, periuk dan kuali. Sekaligus sendok.”

Ada saja yang diucapkan Kalan setiap malam, setiap mereka akan menjelang tidur setelah keletihan bekerja. Darti setuju. Sangat setuju. Bukankah yang akan diperbaiki dan dibenahi adalah rumah yang sekarang milik mereka.

Maka mulailah setiap hari mereka menyisihkan uang untuk mengangsur membenahi rumah kecil itu. Kalan menyisakan waktunya. Pulang ngojek lebih cepat dari waktu biasa. Mengerjakan sendiri semua perbaikan rumah daripada mengeluarkan upah. Atap yang bocor mulai diperbaiki. Dinding-dinding yang bolong ditutup. Dapur diperlayak. Kamar mandi sederhana dibuat. Semua perlahan-lahan berjalan sesuai kemampuan mereka hingga rumah kecil itu mulai terlihat sebagai sebuah rumah. Apalagi ketika mereka mulai mengecat rumah dan pagar yang terbuat dari belahan-belahan bambu, serta Darti yang pada hari-hari libur mulai bertanam bunga.

”Rumah masa depan,” begitu kata Kalan bercanda karena puasnya.

”Rumah mungil yang lucu,” balas Darti girang.

”Wah, ibu tidak menyangka rumah kecil ini akan menjadi bagus dan mungil seperti ini,” ucap ibu ketika diajak Kalan berkunjung. ”Dulunya rumah ini tidak lebih dari sebuah gubuk tua yang suram. Seram bagai hantu. Tapi sekarang, ibu pun seolah ingin menempatinya,” tutur ibu tidak kalah riangnya.

Wajah Kalan dan Darti sumringah dengan pujian ibu. Tidak sia-sia mereka bekerja keras untuk mewujudkan impian melihat rumah yang pantas untuk sebuah keluarga. Kalan menjelaskan pada ibu, bahwa masih banyak yang akan ia tambah agar rumah kecil itu lebih sempurna. Kalan akan melotengnya. Membeli karpet plastik yang murah. Mengganti pintu yang keropos. Dan banyak lagi yang akan dilakukannya sebagai target ke depan. Kalan tak bisa menyembunyikan kegembiraan menceritakan semua rencananya pada ibu.

Tapi di bingkai jendela rumah gadang, Kalan menatap jauh ke halaman. Gelap yang terpampang. Sebuah panorama kelam dari malam yang menerjang. Segelap hatinya yang berselimut gundah. Getir. Ngilu. Dan serasa ada sayat yang tak putus-putus membuat dadanya tak henti dari kecamuk. Pikirannya kusut.

Tadi siang mamak (paman laki-laki) berpesan pada ibu agar Kalan menemaninya nanti malam di rumah gadang (rumah induk kaum tempat segala permasalahan dirundingkan). Kalan tidak mengerti apa yang akan dibicarakan mamak kepadanya.

”Duduklah,” kata mamak begitu Kalan sampai di atas rumah gadang. Kalan tidak sabar menunggu apa yang akan diutarakan mamak kepadanya, karena tidak biasanya wajah mamak seserius itu setiap bertemu.

”Ada apa, Mak?” tanya Kalan berusaha untuk tenang, meski ia tidak bisa berdusta bahwa sesungguhnya hatinya berdebar-debar. Sebab yang Kalan tahu, bila mamak memanggil salah seorang dari anggota kaum, tentu ada perihal yang penting untuk dibicarakan.

”Mamak berharap kamu tidak salah paham, Kalan. Tapi bagaimanapun kamu harus mengerti, sebab ini juga menyangkut adat kita.”

Tiba-tiba ibu datang dari dapur membawa dua gelas kopi panas, lalu duduk di sebelah Kalan. Mamak berhenti sejenak. Kalan semakin tidak sabar. Sebatang rokok keretek yang ia selai tak cukup mampu untuk menghilangkan gundahnya.

”Maksud Mamak?” Kalan mengembuskan asap ke udara.

Mamak memperbaiki sila. Mengeluarkan daun enau dari kantong baju, memasukkan tembakau ke dalamnya, lalu menggulungnya. Sebatang korek api pun ia cetuskan. Asapnya mengepul di seputar ruangan rumah gadang bercampur dengan asap rokok keretek Kalan. Bergulung. Membentuk lukisan-lukisan samar.

”Tentang rumah kecil milik ibumu, Kalan.”

Kalan menaikkan alis tidak mengerti. Ia menoleh ke arah ibu yang duduk di sampingnya. Tapi ibu diam saja.

”Rumah tersebut memang milik ibumu. Ibumu yang membangunnya dulu. Tapi rumah itu didirikan di atas tanah pusaka, tanah milik kaum kita. Ah, kamu tentu paham maksud Mamak,” kata mamak melanjutkan.

”Jelaskan saja, Mak,” Kalan menyerobot penasaran.

Mamak menghela napas.

”Kalan, tidak biasa anak laki-laki di kampung kita ini menempati tanah kaumnya. Setiap laki-laki yang sudah punya istri akan pergi ke rumahnya yang baru, atau tinggal di rumah istrinya. Nah, bila kamu menempati rumah kecil milik ibumu itu, apa kata orang nanti. Apa kamu tidak malu digunjingkan orang sekampung?”

”Tapi, Mak?”

”Iya, Mamak mengerti. Makanya Mamak katakan, kamu jangan salah paham. Dan satu hal lagi yang perlu kamu ketahui, kemenakanmu banyak yang perempuan. Mereka lebih punya hak untuk menempati rumah itu. Ini sudah kewajiban Mamak untuk mengatakan. Kamu pikirkan dan pertimbangkanlah baik-baik,” ucap mamak akhirnya memutus pembicaraan. Meninggalkan Kalan yang terpana tanpa berkata apa-apa. Meninggalkan rumah gadang dalam keheningan. Juga ibu yang tak mampu bersuara.

Di bingkai jendela rumah gadang, Kalan menatap jauh ke halaman. Gelap yang terpampang. Sebuah panorama kelam dari malam yang menerjang. Segelap hatinya yang berselimut gundah. Getir. Ngilu. Dan serasa ada sayat yang tak putus-putus membuat dadanya tak henti dari kecamuk. Pikirannya kusut.

Kalan merasa tidak mampu menemukan kalimat yang tepat, sungguh tidak bisa, apa yang akan dikatakannya nanti pada Darti tentang semua itu?

Payakumbuh, Januari 2008

Iyut Fitra (10 Februari 2008)

Written by tukang kliping

10 Februari 2008 pada 08:19

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

3 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Aku suka cerita simpel dengan makna dan konflik yang dalam. seperti cerita ini.

    S.Nayogo

    28 Februari 2011 at 09:29

  2. Emang bner2 biqn sedih. Udh susah payah btulin, eh malah org laen yg mo nempati. Enak bner. Klo Q jd Darti kykx g bs trima deh..^~^..

    RaN

    20 Februari 2012 at 21:26

  3. Cerpennya boleh di-copas enggak?

    roki18

    15 Maret 2015 at 10:21


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: