Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Uang Jemputan

with 7 comments


Aku seperti seonggok batu yang bisu di malam hari. Diam dan kaku. Tubuhku disepuh cahaya bulan. Aku duduk di gubuk sawah milik abak yang tak berdinding dan beratap daun rumbia. Udara dingin menyergap dari berbagai arah. Entah sampai berapa lama aku akan mampu bertahan dari udara malam ini. Udara malam yang mengilu kulit sampai ke semua rusuk tulang. Juga sampai ke hati, karena hati membuka diri untuk membunuh rasa sepi dan pedih tak terperi ini. Sebab bukankah kesedihan hati juga akan membuat suasana akan terkondisi?

Iya. Seperti malam ini rasanya entah apa. Kesedihan menyergap dari berbagai arah. Luka serasa semakin menyiksa karena malam yang sunyi seperti sembilu yang turut melukai hati. Tapi hanya malam dan di gubuk ini aku bisa merenung diri. Menimbang-bimbang nasib. Menyesali diri, mengapa dulu pindah ke kampung halaman ini. Menyepelekan saran sahabat dan kerabat. Kini aku terperangkap dalam keputusan yang digulung adat. Mengunyah harapan dan mematikan keinginan. Di bawah langit yang berbintang, berkali-kali berkelebat wajahmu sambil menusuk sepi ini. Wahai Faraswati, adakah engkau rasakan deritaku ini ?

Semua berawal dari enam bulan yang lalu. Pada sebuah perkenalan yang tak disengaja. Di atas bus ANS pertama kali aku melihatmu. Kala itu aku pulang ke Padang setelah pengajuan surat pindah tugasku dikabulkan. Kutahu engkau naik dari Bukittinggi pada pagi hari. Di kala kedua mataku masih mengantuk dan tubuh terasa penat setelah satu hari aku duduk di kursi bus itu.

Entah sebuah kebetulan atau tidak. Kamu menghempaskan tubuh di tempat duduk di sebelahku. Di antara kantukku yang masih menggantung, aroma tubuhmu berputar-putar menusuk hidungku. Buru-buru aku cepat memperbaiki duduk. Merapikan pakaian yang terlihat kusut. Meraba rambut supaya tidak terlihat semrawut. Faraswati, kau tahu, di masa itu aku sebenarnya begitu gugup. Betapa tidak. Engkau muncul di sisiku seperti bidadari di pagi hari. Tubuhmu ramping. Kulitmu kuning bersih. Pakaian yang kau kenakan memperlihat lekuk tubuhmu.

Maka ketika bus melaju meninggalkan terminal Bukittingi yang sempit itu, aku mulai mencari kata untuk mengenalmu.

Di dalam bus yang melaju. Berlari gegas menyusuri jalan berkelok. Kuperhatikan wajahmu. Kamu seperti memikirkan sesuatu. Tatapanmu lurus ke depan memperhatikan ujung-ujung jalan yang akan dilewati bus itu.

Tepat pada jalan yang agak meluncur, kamu terlihat agak susah payah mengeluarkan handphone di saku celana jeans-mu yang ketat. Lalu kamu mengutak-atik handphone-mu itu. Sepertinya kamu ingin mengirimkan pesan singkat buat seseorang. Setelah selesai kembali kau sorongkan handphone ke dalam celana jeans-mu. Dan di saat itulah, siku tanganmu menyentuh bahuku.

“Maaf,” katamu pelan sambil sedikit tersenyum.

“Tak apa,” jawabku pula.

Lalu kamu kembali duduk seperti semula. Menatap ke depan.

“Mau ke mana,” tanyaku.

“Ke Padang,” jawabmu.

Aku terdiam. Mencoba mencari kembali kata untuk mengajakmu berbicara.

“Ke Padang tempat siapa,” begitu kataku selanjutnya.

Sejenak engkau diam. Seperti mencari sebuah jawaban.

“Ke rumah orangtua,” jawabmu.

“Lalu di Bukittingi tempat siapa?”

“Tempat kakak.”

“O.”

“Kalau uda dari mana?”

“Dari Medan,” jawabku

“Dari Medan,” katamu pelan.

Lalu selanjutnya kita terus berbicara berbagai hal. Menghabiskan jam demi jam. Sampai kau ceritakan tentang dirimu yang akan segera diwisuda di Universitas Negeri Padang. Di atas bus yang menderu, kita bagai dua orang yang sudah lama cukup kenal. Aku pun tak mengerti, mengapa kita lekas begitu akrab. Ketika kamu akan turun di tempat tujuan, tidak lupa kuminta nomor handphone-mu.

Esok harinya aku mencari rumahmu lewat SMS yang kau kirim. Seperti seekor kumbang dengan sayap penuh bunga aku terbang menyusuri kampungmu. Kutahu kampungmu masih dipenuhi sawah-sawah membentang. Ada jalan setapak dari simpang tiga yang menuju ke rumahmu seperti yang kau tulis lewat SMS. Setelah terbang cukup lama akhirnya aku menemukan rumahmu.

Rumahmu berupa rumah panggung. Dipagari bilah-bilah bambu yang melingkar. Bunga-bunga mekar di dalamnya. Setumpuk bunga mawar yang tumbuh di dekat anak tangga memperlihatkan bunga-bunganya yang merah hati. Sewaktu kuinjak anak tangga pertama, jantungku berdebar kencang membayangkan kamu akan membukakan pintu dengan tersenyum. Tapi, ternyata tidak. Setelah pintu kuketuk, rupanya bukan kamu yang membukakan pintu. Akhirnya kutahu dia ayahmu. Badannya kekar. Berkumis tebal. Faraswati, di saat itu aku merasa sangat penakut. Namun setelah berbicara dengan ayahmu, nyatanya dia sangat baik.

Kebaikannya itu pulalah yang membuat aku di hari-hari berikutnya kembali ke rumahmu. Menemuimu di setiap aku merasa seekor kumbang yang ingin hinggap pada sekuntum bunga. Hari dan bulan berlalu. Aku seekor kumbang yang semakin mabuk harum bunga. Akhirnya pada suatu malam, kita memutuskan untuk menikah.

“Menikah? Dengan Siapa? Anak siapa dia, ha. Di mana rumahnya,” tanya abak setelah kunyatakan keinginanku itu.

“Rumahnya di Air Dingin,” jawabku

“Di Air Dingin? Ham. Bagus, berarti masih orang Minang juga. Kutakut, kau bawa pula gadis Batak itu kemari,” jawab amak.

“Tidak-lah mak. Sewaktu bertugas di Medan. Sudah kutanamkan bahwa aku tak akan kawin di sana.”

“Kalau memang sudah begitu, kau suruhlah orangtuanya ke mari. Biar kita buat kesepakatan.”

“Iya bak.”

Lalu dua hari selanjutnya kedua orangtuamu datang. Kuingat itu pada suatu malam. Di dalam kamar, di antara hati yang berbunga-bunga aku berusaha mencuri percakapan mereka. Ternyata, di malam itu, semuanya berubah. Semuanya seperti yang tidak kita duga.

“Apa? Sepuluh juta?”

“Ya.”

“Bagaimana kalau tiga juta. Karena kami tidak punya uang sebanyak itu. Belum lagi uang untuk pesta dan membeli perlengkapan lain.”

“Itu sudah sepantasnya. Kalau tiga juta itu-kan, untuk laki-laki yang tidak mempunyai pekerjaan tetap. Tapi anak kami seorang guru pegawai negeri. Kami rasa sepuluh juta itu sudah sepadan.”

“Terus terang kami tidak bisa memenuhi uang jemputan sebanyak itu. Untuk saat ini kami mengalah. Uang itu terlalu besar buat kami.”

Lalu tidak berapa lama kemudian kudengar kedua orangtuamu minta pamit diri.

“Abak, mengapa jadi begitu. Mengapa harus ada uang jemputan sebanyak itu,” tanyaku.

“Sepuluh juta itu sudah biasa buyung. Kau tahu, si Husen anak Apak Kahar yang bekerja sebagai montir Honda dijemput lima juta. Apalagi kau, seorang pegawai negeri.”

“Tapi abak, aku tak butuh uang sebanyak itu. Aku punya uang untuk pesta pernikahanku.”

“Ini soal adat dan harga diri buyung. Apa kata orang nanti. Masa anak seorang pegawai negeri tidak ada uang jemputan.”

“Itu kan lebih bagus abak.”

“Tidak. Tidak ada uang jemputan itu lebih tidak bagus. Pokoknya uang jemputannya sebanyak itu. Jika tidak, jangan harap kau bisa menikah dengannya. Kau sudah susah payah aku sekolahkan. Biayamu besar. Kau tahu.”

Malam itu aku tidak bisa tidur. Aku mondar-mandir di kamar seperti orang kesurupan. Hatiku gelisah. Ruangan kamar itu berubah seperti sebuah petakan yang siap hendak menjepit tubuhku. Setelah lelah berputar, aku akhirnya menghempaskan tubuh di atas kasur. Tidak lama kemudian kuterima kiriman SMS-mu.

“Uda, ayah sudah pulang dari rumah uda. Ayah sudah menceritakan semuanya. Katanya ayah tidak punya sebanyak itu. Itu memang benar. Ayah beberapa bulan yang lalu sudah menjual satu ekor sapinya untuk uang wisudaku yang lalu. Kami bukan orang kaya uda. Jadi bagaimana kami bisa memenuhi uang sebanyak itu? Aku bingung uda. Apakah kasih kita akan patah sampai di sini? Aku tunggu jawaban uda”

Begitu bunyi SMS-mu yang semakin membuat mataku tak bisa dipejamkan malam itu.

Kini, di malam ini aku belum juga bisa membalas SMS-mu itu. Aku tidak bisa memutuskan apa-apa. Aku tak bisa menentang abak. Aku benar-benar menjelma seperti batu. Diam dan kaku. Oh Faraswati, di bawah cahaya bulan, di dalam gubuk tak berdinding ini, kuharap kau mengerti deritaku ini.

Padang 2007

Farizal Sikumbang (6 Januari 2008)

Written by tukang kliping

6 Januari 2008 pada 09:39

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

7 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. […] Kritik Cerpen Uang Jemputan Posted on May 7, 2010 by iniraiflis PEMBAHASAN UNSUR KEBUDAYAAN PADA CERPEN “UANG JEMPUTAN” […]

    • tarimo kasih yo atas ulasanya. di mana posisi

      farizal

      27 Februari 2011 at 17:15

  2. cerpen dengan ending yg tragis….
    kasian bgt ma tokoh utama yg ibarat harus makan buah simalakama..T_T

    al_BKT

    27 April 2011 at 18:56

  3. Ancak carito nyo ….. tapi ngga suka sama karakter si cowok, zaman sekarang masa ngga gentle …. mang masi ada orang tua kayak gitu yah ….

    shiraaldila

    9 Januari 2012 at 11:23

  4. adat kadang membingungkan. Disuatu sisi dia kehormatan yg diukir turun temurun dari nenek moyang. Disisi lain, dia membelenggu, hingga tak jarang orang menangis karenanya. ..

    mantap mah cerpen uda ko… dima uda ko badomisili kiro2 yo…?

    Jagad Sikumbang

    21 Juli 2012 at 00:45

  5. si uda kan dah punya pekerjaan dan dana yang cukup. transfer aja ke wanita diam2, keluarga pria nda perlu tahu, so dananya cukup, pesta terlaksana…

    banyak kejadian seperti itu di pihak pengantin yang kekurangan dana,,
    IMO🙂

    nov

    12 November 2012 at 14:25

  6. seperti sudah pernah baca di padang express.
    sedih…seperti pengalamanku.
    uang hilang talampau gadang,calon laki dan kerabatnyo dak lo manenggang.

    alhamdulillah akhirnya…dapat laki-laki lain nan dak tuntut uang hilang,meski asli pariaman dan orang berada.malah dia yang banyak bantu.

    begitu banyak pantang larang bagi wanita minang terhadap calon suami,rancak cari urang lua lay,atau urang kampuang nan bapaham rantau.

    lisa

    7 November 2013 at 18:29


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: