Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Mercusuar

with 2 comments


Debur ombak sama sekali tidak terdengar. Hanya suara desir air mencapai bibir pantai yang sayup-sayup sampai ke telinga. Laut ramah dan bersahabat. Pagi yang menyenangkan bagi banyak orang yang bermain-main dan mandi di pantai.

Ian naik speedboat dua jam untuk sampai ke Teripang,” ujar Lilian kepada ibunya yang duduk di kursi malas di sampingnya di halaman hotel di pinggir pantai itu. Teripang adalah nama sebuah mercusuar di sebuah pulau kecil yang jaraknya puluhan mil laut dari tempat mereka duduk.

“Lalu kamu masih ingin pergi ke merkecusuar itu lagi?” Moira bertanya kepada anaknya Lilian.

“Ya, Mama. Ada kenikmatan tersendiri ketika berada di sana, di tengah laut, di sebuah pulau kecil dan jauh dari aktivitas manusia lain.”

“Mmm.”

“Pelayaran dua jam dengan speedboat itu saja telah menenggelamkan Ian ke dalam suasana yang sangat lain. Apalagi berdua saja dengan pengemudi boat. Ian tidak dapat menggambarkan bagaimana suasana lain itu.”

“Mmm.”

“Begitu sampai ke pulau kecil itu, Ian menyaksikan demikian banyak anak tangga yang harus didaki untuk sampai ke dataran mercusuar. Ian seorang diri menapaki anak tangga yang telah berlumut karena jarang didaki itu. Pada saat Ian menginjak anak tangga ke sepuluh dan menoleh ke arah laut, pengemudi speedboat itu melambaikan tangannya dan kemudian melaju menuju ke tengah laut.”

“Ia tidak menunggu kamu?”

“Kalau Ian hanya dua atau tiga jam di sana, ia masih mau menunggu, tapi kalau pengemudi boat itu harus menunggu sampai dua hari, Ian harus membayar biaya tambahan yang lumayan besar.”

“Lalu kamu pulang bagaimana?”

“Saya memintanya menjemput Ian. Karena itu Ian harus membayar biaya pulang pergi dari mercusuar ke pantai.”

“Mmm.”

“Barangkali Ian harus mendaki lebih dari seratus anak tangga untuk sampai di dataran mercusuar. Para petugas mercusuar yang telah mendapat pemberitahuan dari kantor cabang mereka di daratan telah siap menyambut kedatangan Ian. Para petugas yang jumlahnya lima orang itu, satu persatu menjabat tangan Ian dan menyebutkan nama mereka. Bapak-bapak yang semuanya kelihatan berusia di atas empat puluh tahun itu menerima kedatangan Ian dengan akrab dan bersahabat.”

“Mmmm.”

“Mereka membawa Ian ke rumah tempat mereka tinggal dan menyilakan Ian duduk. Mereka memohon maaf tidak dapat menghidangkan apa-apa, karena ketika itu bulan Ramadhan. Kelima petugas penjaga mercusuar itu berpuasa. Ian sendiri juga berpuasa. Menunggu saat berbuka puasa tidak terlalu lama, karena Ian tiba di Teripang sekitar pukul lima sore. Begitu suara beduk terdengar berbunyi dari radio, kami berbuka puasa hanya dengan meminum air teh. Setelah itu Ian dan bapak-bapak yang lima itu shalat magrib berjamaah. Selesai shalat kami langsung makan malam. Nasi dan lauk-pauk itu dipersiapkan Pak Tomo Pendek, satu-satunya orang yang paling rajin memasak dan yang masakannya cukup enak, menurut keempat bapak-bapak rekannya. Mereka benar, karena Ian pun dapat menikmati masakan Pak Tomo Pendek itu. Pukul sepuluh malam kami pergi ke kamar masing-masing untuk tidur. Hanya Pak Karim yang bertugas menjaga lampu suar hingga pukul empat pagi. Setelah itu ia digantikan Pak Hamzah hingga pukul sepuluh siang. Begitulah setiap hari. Petugas yang menjaga lampu suar, berganti setiap enam jam.”

Melihat ibunya tidak memberikan reaksi apa pun terhadap ceritanya, Lilian menyentuh lengan ibunya.

“Mama tidak tertarik pada cerita Ian, ya?”

Mendengar pertanyaan putrinya, Moira tersenyum.

“Mama tertarik. Justru karena itu Mama diam dan tekun mendengarkan. Rasanya Mama dapat memahami bagaimana perasaanmu ketika berada dalam lingkungan seperti itu.”

Lilian setengah percaya kepada jawaban ibunya, tetapi ia tetap melanjutkan ceritanya yang belum selesai.

“Pada saat tiba makan sahur, Pak Tomo Pendek mengetuk kamar Ian yang sangat sederhana itu. Kami makan sahur bersama menikmati masakan Pak Tomo Pendek yang tampak senang sekali dengan kehadiran Ian. Setiap kali ia menatap Ian, ia teringat kepada putrinya, yang usianya sebaya dengan Ian, katanya. Kamar yang Ian huni itu sebenarnya milik Pak Hamzah. Kamar ini mereka persiapkan untuk menyambut Ian. Karena itu Pak Hamzah harus menumpang sementara di kamar Pak Tomo Pendek. Di kamar yang Ian huni itu terdapat sebuah ranjang dengan kasur busa yang sudah kempes. Kasur busa itu dilapisi dengan seprai berwarna putih bersih. Selain ranjang itu, di kamar Pak Hamzah ini tersedia pula sebuah meja kecil tempat Pak Hamzah meletakkan jam beker, air dalam gelas, rokok, sisir, dan foto keluarganya. Ian tidak melihat lemari pakaian, sehingga Ian tidak tahu di mana Pak Hamzah menyimpan pakaiannya.”

Moira tampaknya serius mendengarkan cerita anaknya. Ia mendengarkan cerita itu sambil menikmati angin laut yang mengelus tubuhnya.

“Dua hari bersama mereka di pulau yang sangat kecil di tengah laut itu, rasanya terlalu singkat. Tapi, kantor Ian hanya memberikan waktu dua hari untuk membuat laporan tentang mercusuar di pulau itu. Setelah digarap menjadi sebuah feature yang menarik, laporan tersebut segera diudarakan ke seluruh Tanah Air.”

“Mmmm.”

“Ian merasa berat sekali ketika harus meminta diri kepada mereka, pada saat akan meninggalkan pulau itu. Malam sebelumnya Ian juga tidak dapat tidur. Berada di tengah-tengah mereka selama dua hari dua malam telah membuat Ian merasa dekat sekali dengan mereka. Ketika menjabat tangan mereka satu per satu, Ian berusaha keras memperlihatkan wajah gembira. Berkali-kali Ian ucapkan terima kasih atas pelayanan yang mereka berikan sewaktu Ian berada di tengah-tengah mereka. Mereka juga gembira melepas Ian di samping berharap suatu ketika nanti Ian akan datang lagi menemui mereka. Tetapi ketika menuruni tangga menuju tempat speedboat menunggu, Ian menangis tersedu. Tangis itu lenyap ditelan angin laut yang menderu.”

“Mengapa mereka menyambutmu begitu hangat?”

“Sebelumnya tidak ada orang yang datang ke pulau itu. Enam bulan sekali baru mereka bertemu dengan orang lain di luar lingkungan mereka. Jadwal kerja mereka memang begitu. Mereka baru kembali ke tengah-tengah keluarga setelah enam bulan bertugas di pulau itu. Mereka kemudian libur satu bulan dan saat itulah mereka berada di tengah-tengah keluarga. Setelah masa libur selesai, mereka bertugas lagi selama enam hulan. Terkadang mereka kembali ke mercusuar semula, tetapi tidak jarang pula mereka ditugaskan ke mercusuar lain.”

Lilian berhenti bercerita. Ia menatap ibunya yang tampak serius mendengarkan ceritanya.

“Alangkah menjemukan hidup seperti itu. Jauh dari keluarga dan jauh pula dari kesenangan duniawi. Mereka lebih lama bermain-main dengan rasa sepi.”

“Mereka tidak sendiri, Lilian. Orang-orang yang bekerja di oil-rig, termasuk pamanmu yang dokter itu, juga seperti itu. Mereka hidup di lepas pantai selama dua minggu, dan baru kembali ke darat untuk berlibur selama dua minggu pula. Saat itulah mereka bercengkerama bersama keluarga. Bahkan, di Pulau Sakhalin, Rusia, para petugas perminyakan itu tinggal lebih lama. Tiga bulan. Setelah itu mereka berlibur pula selama tiga bulan. Begitulah menurut cerita pamanmu.”

“Bedanya mencolok, Mama. Para pekerja yang bertugas di oil-rig itu jumlahnya banyak. Selain itu, fasilitas yang mereka perlukan lengkap. Di mercusuar, jumlah petugas hanya lima orang dan fasilitas yang mereka perlukan sangat tidak memadai. Karena itu sebuah radio transistor dan sebuah telepon genggam sangat berarti bagi mereka. Bahkan, jika mereka membutuhkan pertolongan, bantuan yang diberikan sangat terlambat. Tahun lalu, ketika Pak Hamzah bertugas di sebuah mercusuar lain, ia jatuh sakit. Seorang temannya segera menghubungi kantor mereka di pantai. Pertolongan baru datang dua hari kemudian. Untunglah Pak Hamzah yang membutuhkan operasi usus buntu masih dapat diselamatkan. Kondisi petugas di mercusuar sangat berbeda dengan petugas perminyakan di oil-rig mana pun, Mama, termasuk di Pulau Sakhalin itu.”

Moira menarik anaknya lebih dekat kepadanya. Pelan-pelan ia melingkarkan tangan kanannya ke leher Lilian. Ia mengelus-elus anak itu dalam pelukannya. Lalu terdengar suaranya lirih dalam sebuah nyanyian. Tidur, tidurlah tidur, tidur dalam ayunan, pejam-pejam matamu pejam nanti bangun kembali. Lilian membiarkan dirinya diperlakukan seperti anak kecil itu.

Selama dua tahun terakhir Moira sangat sering menyanyikan lagu ciptaan Gordon Tobing itu sambil membelai rambut putrinya. Semua ini bermula dari sebuah tragedi yang menimpa keluarga mereka. Tujuh tahun lalu, Bachtiar, abang Lilian, bersama empat rekannya sesama aktivis mahasiswa tiba-tiba hilang entah ke mana. Belakangan beredar kabar bahwa mereka diculik oleh tangan-tangan kekuasaan, dibunuh lalu dikubur di sebuah pulau kecil tidak bernama di lepas pantai.

Mengapa mereka diculik, dibunuh, dan dimakamkan di pulau kecil itu tidak seorang pun tahu. Apakah benar mereka diculik, juga tidak seorang pun yang tahu. Yang beredar hanyalah dugaan-dugaan. Moira, suaminya, dan Lilian tak jemu-jemunya mencari Bachtiar ke berbagai penjuru. Polisi yang berupaya membantu para orangtua kelima pemuda itu juga angkat tangan, menyerah.

Lilian tumbuh dalam suasana pencarian seperti itu. Di luar keinginannya, perkembangan kejiwaannya berlangsung dalam ketidakstabilan. Setelah lima tahun mencari, Moira, suaminya, dan Lilian akhirnya menyerah. Moira dan suaminya mengikhlaskan kepergian Bachtiar. Tidak demikian halnya dengan Lilian. Ia sangat terpukul. Ia sangat kehilangan seorang abang yang sangat menyayanginya.

Ketidakrelaan menerima kenyataan ini mengantarkannya kepada berbagai ilusi. Salah satu di antaranya adalah cerita yang baru saja dikisahkannya kepada Moira di halaman hotel di pinggir pantai itu. Yang dikisahkannya kepada Moira adalah kejadian yang hidup hanya dalam kepalanya. Pada waktu-waktu sebelumnya, Lilian bercerita tentang sebuah pulau kecil yang sangat sukses sebagai tourist resort, pada ketika lain ia berkisah tentang sebuah pulau kecil yang dilanda ombak besar dan membunuh semua penghuninya. Kisahnya tidak pernah beranjak dari sebuah pulau kecil yang diduganya telah menjadi rumah terakhir Bachtiar.

Sokartara, ayah Lilian, memerhatikan anaknya yang berada dalam pelukan istrinya dari jendela kamar hotel. Air matanya menitik. Bachtiar hilang tujuh tahun lalu. Pencarian dilakukan selama lima tahun. Dan, dua tahun terakhir sejak pencarian dihentikan, Lilian tidak berdaya menghadapi berbagai ilusi yang menjadi sahabatnya. Juga ayah dan ibunya. Lilian berada di mana-mana dan selalu menciptakan kisah-kisah sempurna dan meyakinkan tentang berbagai peristiwa. Namun, kisah itu tidak pernah berada jauh dari sebuah pulau kecil, entah di mana yang senantiasa menjadi lokasi ceritanya.

“Mama,” Lilian bersuara lirih.

“Ya.”

“Bolehkah Ian pergi lagi ke mercusuar Teripang minggu depan untuk bertemu dengan Pak Tomo Pendek dan keempat temannya?”

Moira mencium kening putrinya.

“Boleh, anakku, Boleh. Kalau perlu Mama juga akan ikut.”***

Sori Siregar (4 November 2007)

Written by tukang kliping

4 November 2007 pada 13:06

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

2 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. sori siregar sastrawan yang lumayan mantap di indonesia..
    thanks, nice blog…
    lengkapin lagi ya cerpen2 yang lain…

    xaza

    19 April 2009 at 20:38

  2. keren2…
    keep berkarya Sori Siregar

    Balindo

    21 Februari 2011 at 16:59


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: