Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Ketika Mereka Pulang

with one comment


Jamal membetulkan sarungnya. Keluar kamar, mengambil senter di meja panjang, membuka pintu belakang, dan menghilang di kegelapan malam. Meninggalkan Imah, istrinya, yang menggigil di kamar sempit pengap. Menjemput Mus. Hanya itu yang bisa dilakukan Jamal jika penyakit Imah kambuh.

Mus membuka pintu. Dia telah hafal siapa yang mengetuk pintu dini hari begini, dua tiga jam sebelum beduk subuh ditabuh. Seperti biasa, dua orang itu bergegas menuju rumah Jamal, lima ratus meter dari rumah Mus, melintasi pematang yang memisahkan rumah mereka.

“Saya sudah bilang biar mereka mengurus sendiri keperluannya. Mereka kan bukan tamu, Mbah. Ini rumah mereka sendiri,” kata Mus begitu mulai mengoleskan balsam kerik ke punggung Imah.

Imah menjawab dengan gumaman yang tak jelas. Ah, pasti juga jawaban yang sama seperti tahun-tahun lalu. Mereka pulang hanya setahun sekali, masak dibiarkan mengurus dirinya sendiri. Dan Mus tidak berkata-kata lagi.

Dulu, waktu Mus masih tinggal di sini, dialah yang mengurus rumah, sawah, sampai pengelolaan penggilingan padi keluarga ini. Sejak kecil ia telah dilatih menjadi pengurus rumah tangga sekaligus petani. Emaknya dulu buruh di keluarga Jamal ketika seperempat luas sawah di desa ini masih menjadi miliknya. Jamal pula yang menikahkan emak Mus dengan buruh penggilingan padi. Lalu membuatkan rumah mungil dan memberi pesangon sepetak sawah di selatan desa. Tetapi, kemiskinan yang mendera membuat keluarga itu menyerahkan pengasuhan Mus kecil kepada Imah. Sejak itu Mus menjadi bagian dari keluarga Imah.

Imah meringis menahan sakit setiap uang logam di tangan Mus menggerus kulit keriputnya. Pikirannya masih tertuju pada anak-anaknya yang kemarin datang dan sekarang telah pergi lagi. Benar kata orang, tak ada bedanya punya banyak anak atau sedikit. Setelah tiba masanya, anak-anak itu akan pergi mencari hidup mereka sendiri dan meninggalkan orangtuanya. Begitu juga yang dirasakan Imah. Ia telah melahirkan dan membesarkan sembilan orang anak. Toh ia tetap merasa sepi mengisi hari tua hanya bersama Jamal, suaminya.

Para tetangga sering berkata, enaknya menjadi orangtua seperti dirinya, punya banyak anak dan sudah jadi orang semua. Tinggal duduk menunggu kiriman. Imah hanya akan menjawab dengan kata: amin. Mungkin memang begitu mestinya, batin Imah. Tetapi, sebentar kemudian pikiran itu diusir pergi. Agamanya mengajarkan bahwa orangtua harus tanpa pamrih mendidik anak-anaknya. Kewajiban itu harus dijalankan semata-mata untuk mencari ridla-Nya karena anak-anak adalah titipan dari-Nya.

Mendidik sembilan orang anak hingga menjadi orang seperti sekarang sudah merupakan karunia. Sembilan orang anak! Hingga dulu dia tak punya cukup waktu untuk dirinya sendiri. Memang pada masa itu suaminya anak tuan tanah terkaya di desa ini. Mereka hidup dikelilingi buruh puluhan jumlahnya. Ada buruh yang mengerjakan sawah, ada pula yang mengurus anak-anak dan rumah tangga. Tetapi, tetap saja, mengandung dan menyusui mereka menguras habis tenaganya. Imah hampir tak pernah beristirahat dari tugas reproduksi. Ketika seorang anak belum selesai disusui, dia telah hamil. Begitu seterusnya, hingga sembilan orang anak lahir dari rahimnya. Sekarang, ketika tenaga tuanya tinggal sisa-sisa, tak ada seorang anak pun di sampingnya.

Hidup di desa terpencil membuat anak-anaknya harus pergi ke luar desa untuk melanjutkan sekolah mereka. Sebagiannya bahkan ke luar kota, ke Pati, Rembang, atau bahkan lebih jauh lagi, Jombang. Kota-kota yang diyakini sebagai tempat mencari ilmu dunia dan akhirat.

Selesai sekolah sebagian anaknya pulang, tinggal beberapa lama di rumah sebelum kembali ke kota mencari kerja. Sebagiannya tak sempat kembali karena segera mendapat pekerjaan. Ketika pulang lagi, anak-anak itu membawa seseorang yang akan dipersunting menjadi istri atau suami. Begitu seterusnya. Hingga sembilan orang anak itu menikah dan meninggalkannya. Mereka baru akan ke desa, ke rumah orangtua ketika lebaran tiba. Itu pun tak lama. Paling dua malam saja. Bahkan sebagian tak pernah bermalam.

Sering Imah menghibur diri. Tugasnya sebagai orangtua yang mengasuh, mendidik, hingga menikahkan anak telah dilakukannya. Meski ia dan Jamal tak lagi bisa mempekerjakan banyak orang karena sawahnya semakin berkurang, orang-orang masih tetap menaruh hormat kepadanya. Salah satunya karena ia adalah orangtua yang telah mengantarkan keberhasilan anaknya. Tentu Imah bangga. Apalagi saat lebaran tiba, sembilan orang anaknya datang bergantian atau bersama-sama dengan mobil yang beraneka rupa. Mobil yang bagi orang desa dilihat sebagai lambang kesuksesan. Maka pantas saja orang-orang mengira Imah tinggal ongkang-ongkang kaki karena segala kebutuhan terpenuhi.

Kenyataannya, Imah dan Jamal harus tetap membanting tulang mereka yang lapuk dimakan usia. Mereka tak mau menadahkan tangan di depan anak-anak. Apa yang telah dilakukannya bukan untuk meminta balas jasa. Tetapi, apa boleh buat. Kesehatannya tak memungkinkan lagi. Penyakit gula turunan yang diwariskan orangtua Imah membuatnya semakin lemah. Jamal yang dulu tampak lebih sehat dari orang seusianya kini mulai sakit-sakitan juga. Tak ada pilihan kecuali membagi petakan sawah itu untuk sembilan orang anaknya. Dan karena tak ada seorang pun anaknya yang tinggal di desa ini, maka pilihannya adalah menjual atau menjual tahunan sawah itu kepada para tetangga. Kehidupan Imah dan Jamal sepenuhnya menjadi tanggungan sembilan anaknya, begitu hasil rembukan anak-anak mereka saat berkumpul setahun lalu. Maka, berakhirlah kisah Jamal sebagai tuan tanah.

“Sudah Mbah,” kata Mus sambil mengemasi perlengkapan kerik.

Imah membalikkan tubuh ringkihnya. Telentang memandang Mus di keremangan kamar. “Untung ada kamu, Mus,” bisiknya lirih. Air matanya meleleh dari sudut-sudut mata.

“Saya pulang dulu ya, Mbah. Pagi nanti saya ke sini,” Mus berdiri memandang Imah, menunggu anggukan kepala yang akan mengantarnya pulang.

Perempuan muda itu pun meninggalkan rumah Jamal, sendirian. Berjalan tenang, perlahan. Benaknya dipenuhi beban. Ia dinikahkan Imah dua tahun lalu. Sampai lima bulan lalu Mus bersama suami dan anaknya masih tinggal bersama Imah. Tetapi, seorang menantu Imah memperkarakan keberadaannya di rumah besar itu, maka ia nekat membangun rumah dengan uang pinjaman. Tak ada pilihan. Rumah orangtuanya terlalu sempit untuk ditumpangi, rumah mertuanya yang juga sedesa pun tak jauh beda.

Kemarin sore pemilik uang itu kembali datang. Sepeda motor, harta paling berharga milik suaminya belum laku juga. Siapa mau membeli kendaraan yang BPKB-nya masih jadi agunan. Maka, tawaran Pak Muslih, makelar TKI itu, kembali melintas-lintas dalam pikirannya.

Setengah tahun setelah kejadian itu. Ussi, cucu Imah dan Jamal dari anak keduanya Fikri, merayakan pernikahannya dengan pengajian akbar di desa. Sekalian pertemuan keluarga, kata Fikri. Usai pengajian setelah semua tamu pulang, sembilan orang anak itu pun berkumpul di ruang tengah. Malam telah larut, tetapi beberapa orang anak akan kembali ke kota besok pagi sehingga tak ada waktu lagi.

“Kita harus selesaikan semuanya malam ini,” Fikri yang mempunyai gagasan pertemuan memulai. “Seperti kesepakatan dulu, Bapak dan Ibu sekarang menjadi tanggung jawab kita.”

“Tidak usah sekarang, Mas,” Ilham yang tinggal di kota, tujuh kilometer dari desa itu menyela. “Sebelum kita membicarakan soal ini, aku sudah melakukannya. Siapa yang mengobatkan Ibu selama ini? Siapa yang membayar tunggakan listrik?”

“Iya Mas, makanya ini kita bicarakan supaya lebih tertata. Bukan hanya Mas Ilham sendiri yang menanggung kebutuhan Bapak dan Ibu,” Arif, si bungsu, bersuara.

“Aku sudah bilang berkali-kali, buatkan Bapak dan Ibu rekening bank. Itu akan mempermudah kita semua,” Rosyad, anak nomor enam yang juga tinggal sekota dengan Ilham berkata.

“Itu pun jadi masalah Mas. Rekening itu atas nama siapa dan siapa yang akan mengurusnya? Repot kalau Bapak dan Ibu harus mengurus sendiri,” Alfan giliran berikutnya.

Maka, ramailah pertemuan itu membahas cara pengiriman uang bagi Imah dan Jamal. Sampai sejam kemudian tak ada kesepakatan. Memberikan secara langsung sebulan sekali jelas tak mungkin bagi sebagian mereka. Sementara membuka rekening bank dengan alasan kepraktisan memunculkan masalah sendiri. Siapa yang akan mengurusnya? Rosyad sudah bersedia, tetapi banyak saudara tak menyetui karena sifat istrinya yang kurang terpuji. Fikri menawarkan diri. Tetapi, hampir semua anak menolak karena terlalu jauh tinggalnya.

Kericuhan terjadi. Masing-masing punya pendapat dan tak mau mempertimbangkan pendapat orang lain. Hingga lewat pukul satu dini hari. Imah dan Jamal sudah terkantuk-kantuk ketika situasi memanas. Fikri menuduh Ilham pamer dengan segala bantuan yang telah diberikan selama ini. Ilham menuduh Rosyad tak paham situasi. Arif mengomentari Fikri tak menimbang kekuatan sendiri….

Tiba-tiba Imah berteriak, “Sudah!” katanya menahan sedu-sedan, “Kalau hanya mau membuat keributan, kalian tak usah pulang! Aku dan bapakmu ini sudah tua. Ingin melihat kalian hidup rukun dengan saudara. Tetapi, setiap bertemu ribut selalu. Sudah, aku tidak mau dengar lagi.”

“Tunggu dulu, Bu, kami ini membicarakan kepentingan Ibu dan Bapak,” Fikri coba menenangkan.

“Mendengar kalian bertengkar itu bukan kepentinganku!” Imah semakin tersedu. “Tugasku sudah selesai, merawatmu, menyekolahkanmu, menikahkanmu. Aku dan bapakmu ini hanya ingin hidup tenang menunggu mati. Kalau kalian keberatan menanggung hidup orangtua ini, biar kami mencari sendiri. Dulu ibumu ini anak orang melarat,” Imah menunjuk dadanya. “Tidak akan kaget kalau sekarang kembali menjadi melarat.”

“Bu, jangan bicara begitu,” Arif berdiri.

Namun, Imah sudah tak mampu menguasai diri. Perempuan tua itu terus menceracau di antara sedu sedannya. Hingga tubuhnya melemas dan terjatuh dalam pelukan Rosyad. Para menantu yang sejak tadi duduk di belakang tanpa suara kini merubung Imah yang pingsan.

“Bawa ke kamar,” kata salah satu dari mereka.

“Panggil Mus,” teriak istri Arif.

“Mus di Saudi!” jawab istri Ilham.

Semua bingung. Tak ada yang tahu bagaimana mengembalikan kesadaran Imah. Fikri berteriak dalam kepanikan, “Bawa ke rumah sakit.”

Alfan menyiapkan mobilnya. Bersama beberapa orang saudara ia antarkan Imah ke rumah sakit di kota. Tetapi hingga beberapa waktu sesudahnya, perempuan tua itu tak sadarkan diri juga.

Written by tukang kliping

8 April 2007 pada 14:40

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Satu Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Waah

    Sacktiachmad

    6 Januari 2016 at 15:37


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: