Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Luh Sumaratih

leave a comment »


Delapan obor menyala bersama, sementara wajah-wajah berkeringat duduk membentuk lingkaran, mulut mereka berkeciap bak burung-burung kecil menanti jatah makan dari induknya. Suara gamelan bambu dan tiupan seruling sudah terdengar dan dari tadi pemuda-pemuda kampung mengalir ke arena tajen di banjar itu. Penerangan listrik sengaja dipadamkan dan suasana lebih romantis tumbuh dalam cahaya obor. Dulu, memang tempat itu dikenal sebagai arena tajen, tempat orang mengadakan “metajen”, adu ayam dengan uang taruhan. Dulu, tempat itu tidak pernah sepi. Semenjak pemerintah mengadakan Lotto PON dan Lotto Surya, rakyat terbius oleh judi dan mencoba membangun ekonomi dengan mimpi.

Tapi, sejak secara resmi lotto dihentikan, mereka beralih ke judi tradisional yang memang digemari masyarakat, yakni aduan ayam yang sering dikaitkan dengan upacara agama. Pemerintah daerah tak bodoh dan menenderkan acara metajen itu kepada pemilik modal yang kuat. Dialah yang menjadi pemborong dan memberi setoran uang kepada pemerintah, sementara rakyatnya berutang untuk mengejar mimpi menang dalam judi.

Waktu berubah, judi secara nasional dilarang dan karenanya metajen yang berupa judi juga dilarang, sedangkan metajen yang bagian dari upacara agama tetap dapat dilangsungkan, tetapi tanpa taruhan. Jadilah arena itu menyandang nama arena metajen walaupun tak pernah lagi diselenggarakn metajen di tempat itu. Bukan berarti orang berhenti metajen, penggemar metajen tetap saja berkumpul di tempat tersembunyi untuk mengembangkan hobi mereka. Ayam-ayam jago masih dipelihara, dijemur pagi hari dalam deretan kurungan.

Malam ini arena tajen dipakai untuk menyelenggarakan hiburan joget bumbung, joget khas Bali, joget pergaulan, tapi bukan dansa cara Eropa. Sudah sejak tiga hari disebar pengumuman tentang acara ini di Radio Guntur, juga berita yang berjangkit dari mulut-ke mulut. Joget diselenggarakan atas upaya teruna-teruni banjar untuk menghimpun dana menjelang datangnya hari raya Galungan dan Kuningan. Bila saat hari raya tiba, mereka akan menggelar bazar di balai banjar, bukan semata-mata menghimpun dana, tetapi untuk mempererat pergaulan teruna-teruni di banjar ini. Bapak perbekel selalu memberikan pengarahan kepada muda-mudi untuk bersikap baik, sopan dan santun, serta taat menjalankan ibadah agama.

Saat ini, sekehe joget bumbung dari Banjar Asri yang terkenal itu yang diundang datang, lengkap dengan sri panggungnya, Luh Sumaratih, dan juga Komang Tarini. Dua penari andalan kelompok ini sudah dikenal luas di pelosok kabupaten dan hampir tiap malam mereka mendapat pesanan menari di tempat-tempat yang berbeda. Mereka hanya beristirahat saat berhalangan atau saat hari-hari tertentu saat mereka memang tidak boleh menggelar acara hiburan itu.

Bukan hanya Luh Sumaratih dan Komang Tarini yang menari. Masih ada dua penari lagi, masih muda belia dan masih belajar. Mereka pada pagi hari malahan masih belajar di kelas satu SMPN IV. Pagi hari mereka tampil sebagai siswa SMP dalam seragam putih biru, malam hari mereka menjelma menjadi dewi-dewi yang turun dari langit. Tak seorang pun yang mengira mereka masih duduk di kelas satu SMP karena dalam kostum penari mereka tampak sebagai gadis dewasa. Lirikan matanya, senyumnya, goyang pinggulnya, semuanya menggoyang hati para penari yang tidak semua pemuda, tetapi juga bapak-bapak yang sudah berusia lebih dari tiga puluh tahun. Justru dari mereka panitia berharap mendapat uang cukup.

Empat bidadari sudah siap, ditingkah lagu dari gamelan bambu dan seruling yang alunnya naik turun seperti digoyang angin. Dua penari muda itu turun ke gelanggang seorang demi seorang dan seorang pemuda juga memberanikan diri turun ke gelanggang menerima selendang yang ditawarkan penari. Dari kalangan penonton, dia digaet dengan selendang di pinggangnya, ditarik ke tengah gelanggang dengan menari, dan saat sampai di tengah dia menerima selendang itu dan mengikatkannya melingkari pinggang sendiri. Dia melenggok dalam gaya, kadang segera menubruk penari yang sigap menghindar dengan gerakan menari, diiringi sorak-sorai penonton. Mereka meniru gerak sepasang penari oleg tambulilingan yang mengisahkan gerak cinta lebah yang ingin mengisap sari bunga. Tari itu biasanya dibawakan oleh dua orang penari perempuan, yang seorang menggambarkan lebah madu jantan. Dalam tari aslinya, kedua penari nyaris berciuman sungguhan, tetapi mereka bukan penari oleg. Yang seorang memang penari profesional, tetapi pemuda itu sekadar menggerakkan tubuh dan tangannya.

Penonton sudah mulai meneriaki Luh Sumaratih untuk turun ke arena:

“Ratih! Ratih! Ratih”

“Ratih Dewi Asmara!” teriak seseorang.

Dalam cermin, Ratih melihat wajahnya sendiri, masih segar, cantik bergairah, tetapi jauh di dalam matanya dia bisa melihat cahaya kelam, kesedihan, kepedihan yang ditanggungnya. Dia tahankan semuanya demi masa depan keluarganya, orangtuanya yang hanya petani miskin. Hanya dia yang mampu mengentaskan keluarganya dari kemiskinan. Kedua kakak lelakinya entah pergi ke mana, katanya merantau ke Jawa tak tahu bekerja sebagai apa. Mungkin malu tinggal di desa bersama orangtuanya. Ratih sendiri bersekolah di SMP Terbuka sampai tamat, tetapi tidak melanjutkan ke tingkat SMA. Orangtuanya tak punya biaya.

Akhirnya Ratih memang meluncur ke arena sejak awal sudah menari. Tak segerak pun yang tak dalam bentuk tarian. Kepalanya bergoyang, matanya bergerak, jari-jari lentiknya, pinggulnya, bahunya, semua bergerak mengundang gairah penonton. Pemuda- pemuda yang ingin digaet dengan selendang berdiri maju, tetapi Sang Dewi bagaikan terbang ke angkasa, menari ke sana-kemari belum menentukan pilihan. Dia bergerak ke barisan belakang, ke tengah, ke samping, dan dia lihat Gede Mangku sudah tersenyum- senyum dari tempatnya. Lelaki itu berkumis tipis, senyumnya menghanyutkan, dan dompetnya tebal. Sumaratih tahu hal itu sebab hampir pada setiap pergelaran tarinya, dia selalu hadir dan membawa uang. Yang diselipkan di sela payudara Sumaratih tak pernah uang receh dan lusuh, selalu bersih dan pecahan Soekarno-Hatta. Sayang, dia sudah beristri.

Bagai seekor burung gagak menyambar dari langit, secepat kilat Sumaratih menukik turun dan mengibaskan selendang yang dengan tangkas disambut oleh Gede Mangku. Bagaikan sepasang dewa dewi cinta yang sudah mahir menari, mereka menari berdua ke tengah kalangan, bukan saja ditingkah gamelan, tetapi juga teriakan penonton. Mereka senang sebab gerak mereka berdua demikian indah, tak menggambarkan umbaran nafsu sama sekali. Gede Mangku tak pernah tergesa. Setiap patukan kepada ke arah kepala Sumaratih dilakukan dengan penuh pertimbangan, halus, sehingga keduanya bagaikan sepasang penari oleg yang berpengalaman. Benar-benar menggambarkan keselarasan kasih sayang, benar-benar Dewi Ratih bertemu Kamajaya. Di sini Gede merasa tenteram bersama Ratih yang di matanya lembut, bergelora tetapi terkendali. Emosinya pasti juga terkendali, pikirnya, tak tergesa bila diajak bercinta. Di arena, pasangan ini hiburan sehat dan seolah mereka tak berkeberatan bila keduanya menari sampai pagi. Tetapi, tentu saja hal itu tak mungkin sebab banyak lelaki berduit lain yang menunggu. Walaupun Gede Mangku mampu mengeluarkan uang lagi, toh para lelaki lain yang juga berduit berkeberatan. Panitia juga berkeberatan.

Komang Tarini mengganti sementara Ratih beristirahat, mengipas-ngipasi tubuhnya yang berpeluh dengan kipas cendana yang menebarkan harum kayu. Perhatian penonton tak surut. Perawakan Komang Tarini tinggi jangkung, kulitnya terang, matanya besar dan goyang pinggulnya hebat. Agar penari lelaki dapat bergerak menyambar pipinya terpaksa sering dia harus menari dengan posisi tubuh rendah sebab kebanyakan mereka kalah tinggi dengan sang dewi.

Sorak-sorai penonton beberapa jam telah mengumpulkan dana cukup untuk teruna-teruni banjar ini menyambut hari raya Galungan dan Kuningan. Sekehe joget bumbung Asri tak dirugikan sebab uang sewa diberikan penuh dan uang hadiah untuk penari dibagi dua, untuk sekehe dan untuk penyelenggara. Saat pertunjukan usai, masih ada empat obor yang menyala, sementara penonton sudah bubar. Kelompok joget juga sudah bersiap-siap pulang dan para penari sudah berganti pakaian. Gede Mangku tampak masih menunggu di sudut arena, bangkit berdiri ketika Ratih mulai bergerak mau pergi.

“Boleh kuantar pulang, Ratih?”

“Tiyang pulang bersama rombongan, Bli.”

“Apa Bli tak boleh mengantar? Bli bawa mobil kok?”

“Kami tadi carter colt bak terbuka. Semuanya naik di sana.”

“Penari pindah saja ke mobil saya. Kan cukup?”

“Tiyang malu sama Pak Sutama. Beliau yang mengatur kami semua.”

“Baiklah, Bli yang minta izin.” Berkata demikian Gede langsung bicara dengan Pak Sutama, pemimpin rombongan. Ratih tersipu, tetapi Made Sutama tampaknya bijak:

“Maaf, Pak. Saya bertanggung jawab atas keselamatan semua anggota sekehe ini. Saya sudah minta izin kepada orangtua Ratih dan mereka berpesan agar Ratih tak diserahkan siapa-siapa. Saya yang jemput dan saya yang antar. Maaf. Ini peraturan kami.”

“Ah, Bapak. Masa gak ada kebijaksanaan? Saya ajak Ratih malam ini saja?”

“Baiknya besok Bapak datang ke rumah orangtuanya dan bicara sendiri. Saya tak berani memutuskan lain.” Lelaki peniup suling hanya tersenyum menyaksikan itu semua.

Dan, lelaki itu benar-benar datang ke rumah Ratih, bangunan bertembok batako dengan atap seng. Di dalam kamar tamu yang sempit, lelaki itu mengipasi tubuhnya dengan koran yang dibawanya.

“Maksud Bapak, Bapak mau mengajak Ratih keluar?”

“Begitulah, kalau Bapak tidak berkeberatan.”

“Maaf, apa Bapak sudah punya istri?” tanya lelaki itu langsung. Dia mengenakan sarung yang dilingkarkan ke pinggangnya sekenanya. Kaus oblong lusuh bergambar penari Bali dikenakannya.

Tak berkutik, dia terpaksa mengatakan:

“Ya, saya sudah beristri.”

“Jadi, Bapak mau melamar anak kami sebagai istri kedua?”

Pertanyaan itu tak terduga pula, namun dijawab dengan segera. Dia tetapkan hatinya.

“Ya, kalau boleh.”

Lelaki itu tertawa dan memerhatikannya dari kepala sampai ke sepatu.

“Bagus, bagus. Bapak memang bersifat ksatria.”

Hati Gede mengembang. Ada harapan menyunting kembang joget yang terkenal ke mana-mana, yang senyumnya menjatuhkan benteng lelaki, yang goyangnya menggoyang hati semua lelaki.

“Tapi, Ratih sudah dewasa. Dia bisa menetapkan pilihan untuk dirinya sendiri. Terima kasih untuk perhatian Bapak, tetapi adat melamar tidak seperti ini.”

Dan Ratih, disaksikan kedua orangtuanya tersenyum mendengar lamaran Gede, namun dengan tegas dia katakan:

“Kami ini keluarga miskin, tak sepadan dengan Bli Gede. Jadi biarlah kami tetap seperti ini. Maaf, tiyang tak berani menerima, tak berani menyakiti kurnan Bline.”

Ketika Gede berpamitan, diantarkannya lelaki itu sampai ke pintu pagar rumahnya. Ketika pagar ditutupkan kembali, terlihat rumah mereka yang kecil, berdinding batako, dan beratap seng. Di halaman belakang berdiri tiang antena parabola yang berhubungan dengan decoder untuk menangkap siaran TV, sedangkan di belakang rumah masih terbentang tanah yang luas ditanami pohon rambutan yang sedang berbuah dan tanaman-tanaman lain. Semuanya buah dari kerjanya sebagai penari joget. Dan Nyoman Suamba, peniup seruling anggota sekehe dan sahabatnya sejak kecil dengan tekun memelihara kebun ini. Dan memelihara Ratih untuk dijadikan istrinya kelak kalau waktunya sudah tiba.***

Singaraja, 2007

Written by tukang kliping

1 April 2007 pada 14:42

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: