Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Mimpi untuk Dresden

with one comment


Buku kecil bersampul kertas krep warna ungu pucat. Ada tiga nama tertulis di dalamnya. Urutan pertama yang akan kutemui dalam waktu seperempat jam. Kubuka kembali buku di genggamanku. Ingin kupastikan namanya tak tertukar dengan nama lainnya. Ryan, 27 tahun.

Layar kecil yang menggantung di langit-langit kereta yang kunaiki menunjukkan tujuan stasiun berikutnya. Union Square Garden. Aku sedikit bergegas keluar dari kereta. Udara tak tertahankan dinginnya. Kunaikkan syal putih di leherku. Pipiku mengeras membeku.

Keluar dari stasiun subway, aku segera melintasi taman Union Square dan menuju ke arah 12th Street. Dia menungguku di toko buku Strand. Kami berjanji bertemu di section fotografi. Aku segera naik ke lantai dua. Belum kulihat sesosok manusia pun di sana. Aku memutuskan untuk tetap menunggu di sana, dan membuka sejumlah buku-buku fotografi peperangan. Di sana tampak sejumlah besar foto mayat korban peperangan. Bertumpuk seolah sisa jagalan.

“Indah bukan?” terdengar suara yang berdesis di telingaku. Aku berbalik dan mendapati seorang lelaki bermata hazel. Sewarna dengan rambutnya yang setengah ikal. Syal bercorak garis-garis abu-abu dan hitam tampak melingkar di lehernya.

“Kamu Ryan?” tanyaku merasa yakin ia mengiyakan.

“No… aku Dresden. Ryan tak bisa datang. Ia harus pergi ke Ohio siang ini.”

“Oh.” Segala rencanaku langsung terburai.

“Kamu belum menjawab pertanyaanku,” tanya Dresden mengembalikan perhatianku pada dirinya.

“Tentang apa?”

“Tentang foto-foto yang kamu lihat.”

“Mengerikan. Disturbing.”

“Disturbing itu indah, kan?”

“Dari sudut pandang mana?”

“Kehancuran.”

Dahiku mengerenyit.

“Indah karena dalam keadaan hidup, manusia tidak akan bisa memperlihatkan kepasrahan dan ketelanjangan yang mutlak. Dalam keadaan mati, entah terpaksa atau tidak, manusia memperlihatkan pose-pose yang tidak akan bisa dilakukan kehidupan.”

Aku menggigil. Entah kenapa.

“Aku membuatmu takut?”

“Tidak. Aku hanya merasa kamu berusaha membuatku tertarik dengan perkataanmu. Dan itu sedikit memuakkan.”

“Hmm… aku menghargai kejujuranmu untuk sebuah pertemuan pertama.”

“Yeah… itu aku,” ujarku sambil tersenyum. Aku menjadi merasa sedikit menguasai keadaan.

Kami pindah ke sebuah kedai kopi di dekat situ. Sambil melihat orang-orang yang berjalan melintas bergegas melawan angin dingin, kami terlibat pembicaraan tentang pekerjaannya. Pentato dan pelukis tubuh. Sebuah pekerjaan yang menurutnya paling banyak berhubungan dengan kaum perempuan.

Ia bercerita suatu kali mendapat pengunjung seorang wanita yang hampir berusia 50 tahun. Wanita itu memintanya merajah seluruh tubuhnya hanya karena ingin merasai sakit. Hidupnya sendiri, hanya ditemani satu pot bunga petunia sepanjang 30 tahun hidupnya. Hampa membuatnya tak lagi bisa mendefinisikan rasa perih.

Perbincangan kami sangat menyenangkan. Terutama karena aku tak perlu mengisahkan tentang aku atau tentang dia. Kami mengomentari orang-orang yang lewat di depan kami, hingga mengapa orang-orang New York rata-rata menyebut pekerjaan mereka sebagai seniman. “Sebenarnya itu alasan bahwa mereka itu pengangguran. Tapi tentunya itu tak berlaku untukmu. Aku pernah melihat koreografimu tahun lalu bersama Ryan. Karena itulah ia sangat ingin terlibat dalam produksimu,” katanya sambil menyeruput kopi latte.

Waktu serasa menguap saat bersamanya. Kulirik jam tanganku, dan ternyata sudah pukul 11 malam. Harus kuakhiri pertemuan dengannya sangat mengasyikkan. Ia segera menyadari keinginanku untuk beranjak. Sebelum pergi, ia menanyakan apakah aku akan menitip pesan untuk Ryan.

“Tak perlu. Aku akan mengirimnya e-mail. Mengabarkan tentang audisi yang akan berlangsung minggu depan. Ia bisa langsung datang ke tempat latihan.”

“Ok kalau begitu. Kita masih akan bertemu kan?”

“Tergantung usahamu untuk menemuiku,” kataku sambil memberikan senyum tipisku.

“We’ll see,” bisiknya di telingaku.

Kami bertemu lagi sepekan kemudian. Ia tampak berbeda. Tidak secara fisik. Lebih sebagai ekspresi. Meski ia tersenyum saat melihatku, arah matanya seperti menembus tubuhku. Kubiarkan ia terdiam cukup lama sambil memandangi burung-burung merpati yang berkumpul di dekat kakinya saat kami duduk di sebuah bangku di Central Park.

“Kamu pasti heran kenapa aku seperti ini,” cetus Dresden pelan seolah ia masih berada dalam dimensi waktu yang berbeda dengan tubuhnya yang saat ini duduk di sebelahku. Aku hanya mengangkat bahuku. Karena bagiku, ia toh tak akan peduli dengan reaksiku.

“Aku ingin bisa bermimpi lagi. Ada yang mencuri mimpiku. Aku baru menyadarinya setelah pertemuan kita. Sampai di rumah, aku ingin mengingatmu dalam mimpiku. Tapi aku tahu, aku tidak memiliki mimpi. Terakhir kali aku memilikinya saat aku berusia sepuluh tahun. Setelah itu aku tak pernah bisa bermimpi.”

“Pentingkah mimpimu?”

“Aku tak tahu. Mungkin penting. Untuk saat ini. Karena menurutku, hanya itu satu-satunya cara untuk menyimpan dirimu.” Dia akhirnya mengangkat kepalanya yang dari tadi tertunduk memandang ujung sepatunya yang menyaruk-nyaruk tanah. Kini ia memandangku. Kami saling berpandang. Lama. Aku sendiri tak menghitungnya dalam hitungan detik, menit, atau jam.

Melihat matanya aku merasakan sunyi yang berkabut. Membutakan namun tak menyesakkan. Terasa dingin, namun tak sampai menggigil. Kami mengalihkan pandang saat setitik salju jatuh di pipiku. Tangannya yang tak berkaus, terasa hangat saat mengambil sebutir salju itu. Kami melewatkan hari itu dengan memandang salju yang berjatuhan. Semua putih.

Sesampainya di rumah, aku membuka peralatan audioku. Kusiapkan sekeping CD. Kubongkar semua koleksi lagu-laguku di komputer. Aku klik sepuluh lagu yang kupilih untuk aku simpan dalam CD. Kumulai dengan I Will Follow You in the Dark dari kelompok musik Death Cab for Cutie, Hide and Seek dari Imogen Heap, Maybe Tomorrow dari Stereophonics, The Verve Pipe, beberapa lagu Rufus Wainwright, dan sisanya kucampur Aimee Mann, Cary Brothers, Starsailor.

Malam itu juga kukirim e-mail untuk Dresden. Aku mengajaknya bertemu esok malam. Akan kuberikan CD ini kepadanya. Malam itu dari jendela kamarku, aku melihat bintang melintas. Aku memohon untuk menjadi mimpi bagi Dresden.

Aku terbangun agak siang. Jam 10. Perutku sangat lapar. Kutengok di dapur, hanya ada dua sisir roti tawar. Kuoleskan selai kacang di atasnya. Di lemari es, masih ada satu kotak susu tanpa lemak. Kutuang isinya yang tinggal seperempat ke dalam mangkuk. Kucabik-cabik roti tawar berselai kacang dan kujatuhkan ke genangan susu. Setelah kutenggelamkan semua cabikan roti itu ke dalam susu, kusendok pelan kumasukkan roti tawar yang sudah kuolesi selai kacang ke dalamnya. Aku menyantapnya sampai tandas.

Kubawa tape recorder ke kamar mandi. Kuputar CD yang akan kuberikan kepada Dresden. Sambil mengucurkan air hangat ke dalam bathtub, kulihat tubuh telanjangku di cermin. Noda rokok di perutku belum hilang juga setelah dua hari lalu. Kutepuk-tepuk noda itu. Kubayangkan Dresden menciumku tepat di sana. Air menyentuh telapak kakiku. Aku berpaling dan melihat air di bathtub meluap. Segera kumatikan keran. Kutenggelamkan tubuhku sampai sebatas leher. Sambil terpejam aku mengikuti suara malas Aimee Mann yang menyanyikan Today’s The Day.

Aku memasuki apartemen Dresden pada pukul delapan malam kurang seperempat menit. Ia menyambutku dengan pelukan yang menghangatkanku dari dinginnya malam. “Kamu tampak pucat,” bisiknya di telingaku. Aku mencium pipinya sebagai jawab.

Dresden memasak ayam panggang dengan sayuran rebus dan kentang tumbuk. Kami makan malam sambil membicarakan salah satu tamu yang datang ke tempat kerja Dresden hari ini. Tamu itu mahasiswi yang berulang tahun ke-19 hari ini. Ia menghadiahi dirinya dengan melukis sekujur tubuhnya sehingga ia tak harus berpakaian. Ia ingin memperlihatkannya di depan orangtuanya.

Setelah makan selesai, aku menyerahkan CD yang telah kupersiapkan kemarin malam. Ia segera memutarnya di sebuah tape yang terletak di sudut ruangan. Lagu Ride dari Cary Brothers langsung mengalun.

You are everything I wanted

The scars of all I’ll ever know

Kulihat Dresden berbalik dan memandangku. Ia mendatangiku. Kini ia di hadapanku. Diraihnya kedua tanganku, dan kami berdansa. Aku merasakan hangat napasnya di telingaku. Saat itulah aku yakin akan sesuatu yang paling berharga dalam hidupku. Sebuah akhir yang selama ini tak pernah bisa kuketahui maknanya.

Kutuntun Dresden menuju kamarnya. Kami berdua berjalan menuju kasur beralas seprai berwarna abu-abu. Kubaringkan tubuhnya di sisi kanan. Kemudian aku membaringkan tubuhku di sampingnya. Sambil berpegangan tangan, kami berdua memandang langit-langit. Di balik pintu kamar yang terbuka, Bittersweet Symphony yang dinyanyikan The Verve Pipe terdengar sayup.

“Kemarin sebuah bintang melintas di langit.”

“Jam berapa?”

“Aku tak ingat. Saat itu aku memohon sesuatu. Aku ingin menjadi mimpimu.”

“Untuk itukah kamu datang malam ini?”

“Ya. Apakah kamu keberatan?”

“Tidak. Aku hanya tidak yakin.”

“Tentang apa?”

“Tentang diriku. Aku tidak tahu apa yang kuinginkan.”

“Waktu kecil aku pernah berbisik pada langit malam hari. Suatu hari aku hanya akan hidup untuk menjadi mimpi seseorang. Saat itu semua bunga di taman rumahku langsung mengembang. Mereka terbang menuju bulan.”

“Itu mimpi terakhirku. Aku bermimpi melihat seorang gadis kecil memandang kelopak-kelopak bunga yang berkejaran ke arah bulan. Sejak itu aku tak lagi bermimpi.”

Kami berdua terdiam. Memandang eternit berwarna putih. Kepalaku menoleh ke arahnya. Ternyata Dresden juga menoleh ke arahku. Aku merapatkan tubuhku. Dan kini kami berpelukan. Kutenggelamkan kepalaku di dadanya.

“Masih ingatkah saat kita pertama bertemu di toko buku itu?” bisikku perlahan.

“Ya.”

“Saat itu aku menggigil bukan karena takut terhadapmu. Aku menggigil karena tubuhku merasakan keindahan yang kaukatakan waktu itu. Tujuh tahun lalu, sepupuku meninggal di apartemenku. Ia seperti tertidur di lantai kamar mandiku. Namun bukan itu. Bukan tidur. Aku melihatnya sambil berlutut selama berjam-jam. Hingga darah yang mengalir dari pergelangan tangannya yang diirisnya dengan pisau dapur, mengering di kakiku.”

“Aku juga melihat ayahku tampak tampan saat ia menjatuhkan diri dari lantai dua rumahku. Tubuhnya jatuh berdebam di lantai kolam renang rumahku yang saat itu tengah dikeringkan airnya. Ia tak akan bisa menekuk tangan dan kakinya seperti itu saat ia hidup. Malamnya aku bermimpi tentang gadis kecil dengan kelopak-kelopak bunga terbang menuju bulan.”

Dari luar kamar terdengar Death Cab for Cutie menyanyikan I Will Follow You Into the Dark.

If heaven and hell decide

That they both are satisfied

Illuminate the no’s on their vacancy signs

If there’s no one beside you

When your soul embarks

Then I’ll follow you into the dark

Sambil tetap menyusupkan kepalaku di dadanya, aku berbisik.

“Seumur hidupku, aku ingin terlihat indah. Begitu indah untuk menjadi mimpi abadimu.”

Malam itu aku menjadi mimpi Dresden untuk selamanya.

New York, 2007

Written by tukang kliping

4 Maret 2007 pada 14:50

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Satu Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Quite numb

    Anja

    21 Desember 2012 at 09:26


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: