Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Lorong

with 2 comments


Lorong itu sangat sunyi. Tidak ada satu pun yang lewat, sore itu. Bahkan tiap sore, sangat jarang yang lewat di lorong sepanjang 700 meter itu. Semua rumah dan gedung di sana membelakangi lorong itu dengan temboknya yang tinggi. Semua seolah tidak mau membuatnya sebagai jalan untuk dilewati.

Sebetulnya, lorong itu terlalu besar untuk disebut lorong. Sebab, lorong itu lebih dari cukup untuk dilewati sebuah truk besar. Tapi karena dipunggungi oleh rumah-rumah dan sebuah gedung hotel, jalan itu disebut lorong. Tak ada yang tahu apa nama jalan itu, karena tidak ada lagi plang nama di sana.

Hanya aku dan Pol yang kerap melewati lorong itu, berjalan kaki, sebagai jalan memotong menuju ke Taman Budaya. Nyaris tiap sore kami lewati jalan itu, sesekali dengan suasana sungguh sunyi: seperti berada di sebuah tempat asing, tanpa orang melintas, suara bercakap-cakap, deru kendaraan dan desir angin.

Sesekali, bulu kuduk kami pun berdiri melewati salah satu bagiannya, yakni di belakang sebuah rumah besar peninggalan zaman Belanda yang menjadi tempat tinggal salah satu pejabat di kota itu. Terkadang, seperti ada sesuatu yang memperhatikan kami dari balik jendela lantai dua rumah itu. Tapi kami tidak melihat siapa-siapa di sana.

Rumah itu selalu tampak sunyi, sebagaimana jalan yang dipunggunginya. Seperti tidak ada berpenghuni. Kalau malam, di belakang rumah itu hanya menyala tiga buah lampu sepuluh watt, yang dipasang berjejer di bagian belakang, dan jelas itu tidak bisa memberi cahaya sampai ke lorong.

Lorong itu sendiri tidak punya lampu jalan, hanya mengandalkan cahaya dari bagian belakang rumah-rumah yang memunggunginya. Juga tidak ada orang lewat malam-malam di lorong itu, seperti tidak ada kehidupan di sana. Cahaya temaram yang menerangi aspalnya mengesankan sebuah tempat yang begitu malas dan diam.

Kami pun memilih tak lewat jalan itu bila kami pulang malam-malam dari Taman Budaya. Kami lebih memilih jalan yang jauh sedikit. Siang saja ada perasaan asing, apalagi malam. Tapi aku dan Pol tidak pernah secara lebih lama membicarakan rasa terasing berada di lorong itu.

“Kayak di film-film horor saja,” kata Pol suatu kali. “Seperti sebuah jalan di tengah kota tua, yang ditinggal pergi penghuninya, hanya diapit gedung dan rumah- rumah tua yang berdebu, kusam, dengan sarang laba-laba di mana-mana. Jalan ini cukup bagus untuk setting film horor, cukup mencekam, atau film-film yang menampilkan ketegangan,” Pol menambahkan.

“Dasar pengarang. Semua bisa dijadikan setting cerita,” balasku. Kami lalu tertawa, terus melangkah, dan pembicaraan beralih ke hal-hal lain, atau melebar ke mana-mana dan melupakan tentang suasana jalan itu. Begitulah pembicaraan kami sepanjang jalan dengan Pol, penulis novel yang suka menggunakan nama samaran Micros, yang juga pejabat muda di sebuah kantor pemerintah di kota itu.

Aku bersahabat baik dengan Pol, salah satunya karena sama- sama menyukai humor. Segala hal yang kami bicarakan, selalu ada sudut humor yang kami kedepankan, termasuk soal lorong sepi itu. “Karena tidak ada yang lewat di jalan itu, bagaimana kalau jalan itu kita beli dan di atasnya kita bikin kamar kontrakan. Sayang kan kalau ada tanah yang menganggur,” tuturnya suatu kali saat melintas di sana.

“Boleh juga. Tapi siapa yang mau tinggal di kontrakan itu. Untuk lewat saja orang enggan. Bisa-bisa kontrakan itu jadi rumah hantu. Mungkin yang lebih tepat di atas jalan ini tiap malam kita bikin pentas musik. Pasti jalan ini akan ramai,” kataku.

Kami lalu tertawa lepas. Ha-ha….

Tidak ada yang tahu mengapa lorong itu sepi dan tidak pernah dilewati. Bahkan, sebagian orang di kota itu tidak pernah tahu ada sebuah lorong cukup besar, yang menghubungkan dua jalan penting: Jalan Mohammad Jamin dan Jalan Teuku Umar. Sejumlah orang mengira jalan itu buntu.

Memang, jalan itu tidak terlalu menonjol. Di pinggir kedua ujungnya, berdiri tegak pohon asam tua yang cukup besar dan rindang. Sehingga, dari jauh mulut lorong itu tak tampak, tertutup rimbunnya pohon asam. Boleh jadi jika pohon asam itu ditebang, jalan itu akan tampak dari jauh. Entah mengapa, wali kota tidak melakukan itu.

Oh ya, soal pohon asam di mulut lorong itu ada ceritanya. Tiga puluh tahun lalu, pohon asam itu pernah dicoba ditebang dengan menggunakan mesin pemotong kayu. Tapi batang pohon asam itu tidak mempan ditembus mesin pemotong. Kulitnya pun tidak terkelupas. Orang yang diupahkan untuk memotong pohon itu kemudian justru sakit.

Terus, pejabat yang memerintahkan supaya pohon asam itu dipotong dipecat dari jabatannya. Pohon itu ada penunggunya, kata orang. Penunggunya seorang gadis Belanda. Konon, gadis Belanda itu dulu gantung diri di pohon asam itu karena dilarang berhubungan seorang pemuda pribumi.

Cerita itu beredar dari mulut ke mulut. Tapi tak begitu jelas kebenarannya, karena tidak ada yang bisa ditanyai. Tak jelas, apakah sepinya lorong itu ada kaitannya dengan pohon asam tersebut. Tak ada cerita apa pun yang beredar tentang lorong itu, setidaknya dalam sepuluh tahun terakhir aku tinggal di kota itu.

Pol pun, yang asli penduduk kota itu, tidak pernah menceritakan ada cerita-cerita tertentu tentang lorong itu. Bahkan, cerita tentang pohon asam di mulut lorong itu pun Pol hanya tahu berdasarkan cerita “kata orang”. Anehnya, suasana sunyi senyap justru di sepanjang lorong, bukan di sekitar pohon asam yang disebut ada penghuninya.

Meski begitu, kami tetap melewatinya untuk mendapatkan jalan tercepat menuju Taman Budaya, tempat kami nongkrong tiap sore.

Suatu malam, tanpa sadar kami melintasi jalan itu. Perasaan kami aneh begitu menyadari kami telah berada di sana, tepatnya di belakang rumah besar peninggalan Belanda yang ditinggali pejabat itu. Aku tiba-tiba merasa ada seseorang yang sedang mengawasi kami dari balik jendela rumah yang lampunya menyala temaram itu.

“Mengapa kita lewat sini?” tanyaku kepada Pol, yang tiba-tiba berhenti berjalan seperti merasa- rasa ada sesuatu yang aneh. “Entah,” katanya. “Mungkin karena kita keasyikan ngobrol dan tanpa sadar langkah kita menuju ke sini,” ia melanjutkan. “Tapi tunggu dulu, ada sesuatu di jendela itu.”

Kami berhenti dan memandang ke jendela itu. Tapi sepi. Lampunya yang temaram, di balik gorden putih transparan, tidak menampakkan apa-apa. Kosong. Tapi ketika pandangan kami alihkan dan kami mulai berjalan lagi, lagi-lagi aku merasa seperti ada sesuatu di jendela rumah itu.

Aku dan Pol serentak berhenti. “Ada yang aneh,” kataku. “Ya, aneh sekali di jendela itu. Jendela itu seperti hendak bicara sesuatu kepada kita,” Pol menimpali. Lagi-lagi memandangi lekat-lekat jendela itu.

“Mau ngasih uang ke kita kali,” kataku mencoba bergurau.

“Iya, buat bikin kontrakan di jalan ini,” Pol menambahkan.

Pol tersenyum tipis, mau tertawa tapi ditahan. Aku sendiri tidak bisa menahan tawa. Tapi tiba-tiba tawaku terhenti melihat ada bayangan putih melintas di balik gorden transparan jendela rumah itu. Seperti sesosok tubuh perempuan, berambut panjang perak kemerah-merahan, memakai pakaian tidur.

“Mungkin putri pejabat yang tinggal di rumah itu,” kataku.

Pol tidak merespon. Ia terus memandang ke jendela itu. Tiba- tiba lampu mati, dan gelap merayap di dalam kamar itu, lalu jendela kamar itu dibuka. Cahaya bulan masuk. Tak lama, terdengar sebuah tangis kecil perempuan. Dalam tangis, terdengar keluh: “Aku tidak mau terus-menerus dikurung di sini. Aku capek. Kalau Bapak sayang sama aku, kawini saja aku. Aku tak kuat terus bersembunyi begini.”

Aku dan Pol menahan napas berusaha mendengar apa yang terjadi di kamar itu. Suara seorang lelaki kemudian terdengar menanggapi keluh perempuan tadi.

“Sabar. Belum saatnya sekarang. Aku bisa kehilangan segala- galanya, jabatan dan keluarga yang sangat menyayangiku. Istri dan anak-anakku pasti akan marah besar kalau aku mengawinimu. Aku sedang mencari cara untuk memindahkanmu ke sebuah rumah di pinggir kota, agar bisa tenang.”

Pol memandangiku. “Aku hafal suara itu,” katanya.

“Suara siapa?” tanyaku.

“Sabar dulu. Kita dengar dulu,” Pol berbisik.

Suara perempuan kemudian terdengar lagi, kali ini dengan sedikit nada emosi. “Apa karena aku seorang pembantu, sehingga Bapak tidak berani menyatakan bahwa aku istri sahmu, meskipun kita kawin tanpa diketahui orang- orang dan tanpa surat-surat. Kalau cinta padaku, seharusnya Bapak berani terbuka.”

Tapi lelaki itu tidak menjawab. Sunyi. Juga tidak ada tangis lagi. Sejenak, kami saling memandang. “Siapa lelaki itu,” aku kembali bertanya.

“Pejabat yang tinggal di rumah itu.”

Aku mengangguk-angguk. Gila juga dia. Padahal pejabat itu dikenal alim dan santun. “Pasti pembantunya cantik sekali sehingga ia tergoda,” kataku.

“Mungkin.”

Ketika kami melewati lorong itu beberapa hari kemudian, kami kembali terkesiap sesampai di belakang rumah itu. Ada sosok tubuh di balik kaca dan gorden jendela seperti mengawasi kami. Aku dan Pol berhenti, memandang rumah itu. Tiba-tiba gorden terkuak, dan jendela kaca itu terbuka.

Sesosok perempuan muda, berhidung mancung, berkulit putih, dan berambut panjang kemerahan memandang ke kami. Tapi senyumnya kecut, wajahnya pucat. Bibirnya lalu bergerak-gerak, seperti ingin mengatakan sesuatu, namun tidak ada suara. Tangannya melambai-lambai kepada kami.

Kami hanya terdiam menatap perempuan itu. Kami tidak bisa mendekat, karena ada tembok setinggi 1,5 meter dengan kawat berduri di atasnya. Aku dan Pol lalu saling memandang. “Mungkin perempuan itu butuh pertolongan kita untuk bisa keluar dari rumah itu,” kataku.

“Iya,” Pol menimpali.

Kami kembali memandang ke jendela itu. Tapi jendela itu telah sunyi. Daun jendela telah tertutup rapat, gorden yang tadi tersibak kembali rapi. Tidak ada perempuan itu. Seperti tidak terjadi apa-apa barusan. Aku dan Pol kembali saling memandang. Lalu, kembali melangkah buru-buru meninggalkan punggung rumah besar itu.

Aku dan Pol tidak pernah lagi melewati lorong sepi itu setelah sehari kemudian koran lokal memberitakan penemuan sesosok tubuh perempuan muda tergantung di kamar bagian belakang rumah besar peninggalan Belanda yang ditempati seorang pejabat kota itu. Kami mencari jalan memotong lain untuk berjalan kaki ke Taman Budaya.

Lorong itu menjadi sangat-sangat sepi. Belakangan, kalau malam lorong itu kerap menjadi tempat transaksi narkotika dan sejenisnya. Beberapa kali kasus pemerkosaan juga terjadi di lorong itu. Bahkan, belum lama ini, seorang perempuan muda pekerja seks ditemukan mati terbunuh di sana.

Kami merinding membayangkannya….

Depok, 14 Juni 2006

Written by tukang kliping

30 Juli 2006 pada 01:27

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

2 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. rumayannnn

    riri

    10 Desember 2009 at 13:04

  2. aduh serem bingit ya !.!!! bikin merinding aj? Sedih jg critanya kasihan gue?~,~

    stevani azahra

    5 Mei 2014 at 20:19


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: