Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Rumah Hantu

with 6 comments


Djoko Santoso adalah seorang profesional lulusan Fakultas Ekonomi UGM. Ia adalah pengikut aliran keagamaan yang disebut Komunitas Salamullah, yang walaupun ajarannya terutama bersumber pada Islam, tetapi anggota komunitas ini bisa orang dari berbagai agama, seperti Kristen, Katolik, Buddha, Hindu atau Konghucu. Beberapa pengikut aliran yang didirikan oleh Ibu Lia Aminuddin ini bahkan adalah suster-suster dan pastor-pastor Katolik. Tapi Mas Djoko, demikian panggilan akrabnya, sebelum masuk komunitas ini, bukanlah seorang Muslim melainkan pengikut aliran kebatinan Jawa yang namanya Pangestu. “Saya dulu makan sembarang makanan, daging babi, kodok, tengkleng, dan saren, minum ciu dan apa saja yang diharamkan,” katanya. Saren adalah makanan yang dibuat dari darah kambing dan ciu adalah minuman khas tradisional Jawa.

Dulu saya tidak menjalankan shalat,” katanya. “Setelah masuk Salamullah, saya belajar shalat dan kemudian rajin menjalankan ibadah shalat,” katanya mengaku. “Sebab Bunda Lia mengatakan bahwa pengikut Salamullah harus taat menjalankan ajaran agama masing-masing. Ini memang sesuai dengan ajaran Pangestu yang saya anut dulu,” kata Djoko yang berasal dari kabupaten Sukoharjo, dekat kota Solo, pusat aliran kebatinan itu.

“Saya tertarik kepada Salamullah, karena aliran ini adalah semacam aliran spiritual atau tasawuf yang mengajarkan kesucian hidup dan perilaku yang bersih dan jujur,” katanya kepada sorang kawan rekan kerjanya di PT Welco. Di perusahaan itu ia berhasil mencapai posisi manajer keuangan di perusahaan induk atau holding-nya.

Sebagai seorang akuntan yang diakui kecermatannya di bidang manajemen keuangan, ia pernah ditugaskan untuk melakukan inspeksi kepada anak-anak perusahaan di daerah. Induk perusahaan pada waktu itu merasa perlu melakukan inspeksi karena melihat gejala meningkatnya biaya produksi dan jumlah pajak yang harus dibayar. Dalam inspeksinya, ia menemukan bahwa nilai pajak yang dibayarkan sangat tinggi, yang tak masuk akal, Rp 53 miliar. Setelah dinegosiasikan, perusahaan masih harus membayar sekitar separuhnya, yaitu Rp 25 miliar. Tetapi ketika diteliti olehnya, ternyata kewajiban pembayaran pajak perusahaan seharusnya hanya Rp 450 juta saja. Induk perusahaan mengambil kesimpulan, tentu ada main mata antara petugas pajak dengan orang dalam.

Atas dasar penemuan Mas Djoko itu, perusahaan induk mengambil keputusan perombakan pimpinan unit usaha dan Djoko ditugaskan sebagai direktur cabang perusahaan itu yang merupakan orang pertama yang pangkatnya sejajar dengan manajer di induk perusahaan.

Ketika baru saja bertugas di Pandaan, yaitu lokasi pabrik mi instan yang bermerek dagang “Mie Lezat” itu, ia tinggal di penginapan di dekat pabrik, dengan janji akan disewakan sebuah rumah dinas. Tetapi ketika tinggal di penginapan itu, ia melihat sebuah rumah besar yang berarsitektur kolonial Belanda. Rumah besar itu terletak di sebelah pabrik, menghadap ke Barat-Utara, ke Gunung Wilis, yang di pagarnya dipasang tulisan “Dijual atau disewakan”. Ternyata rumah itu adalah milik salah seorang anggota direksi Welco yang berasal dari Surabaya.

“Kalau Mas Djoko mau tinggal di rumah itu, monggo, nanti kita rehab dulu,” kata salah seorang manajer yang mengurus kepegawaian. “Cuma Mas, tak ada seorang pun yang berani menempatinya.”

“Mengapa?” tanya Djoko bernada heran.

“Kata orang, rumah itu angker.”

“Pernah keluarga direktur yang dulu datang dan ingin mencoba tinggal di rumah itu, karena tertarik seperti Mas.”

“Lalu bagaimana?” tanya Djoko.

“Anak istrinya masuk mengamati rumah itu ke dalam. Tapi, tiba-tiba anak lelakinya yang kira-kira masih berumur sepuluh tahun, lari terbirit-birit keluar dan di luar ia berteriak sambil menuding rumah itu: ’rumah hantu’. Semua orang yang ikut mengantar terkejut benar, ikut ngeri melihat rumah yang memang tampak sangar itu. Sejak itu semua orang pabrik di sini menyebutnya rumah hantu,” jelas Wahyono, manajer personalia itu.

“Wah, saya tidak takut pada hantu, kok, walaupun kami penganut Salamullah percaya bahwa hantu itu memang ada, dan mungkin saja rumah itu ada hantunya.”

“Tapi walaupun banyak yang tidak percaya pada hantu, nyatanya tak ada orang yang berminat membeli atau menyewa rumah itu, takut,” lanjutnya. “Padahal rumah itu dijual sangat murah. Kalau Pak Djoko tidak takut, kami siapkan untuk ditempati,” kata Wahyono.

“Begini. Saya mau shalat dulu di rumah itu. Saya mau minta petunjuk malaikat Jibril,” kata Djoko. Wahyono tampak bengong mendengar kata Djoko menyebut malaikat Jibril itu. Djoko yang mengetahui keterkejutan itu menjelaskan kepada Wahyono bahwa penganut Salamullah percaya bisa berkomunikasi dengan malaikat Jibril yang merupakan Roh Kudus. Atas kehendak Allah, malaikat Jibril bisa memberi petunjuk kepada manusia, diminta atau tidak. Kami biasanya menyebutnya, disapa oleh malaikat Jibril alaihissalam. Sapaan itu bisa berupa petunjuk atau peringatan, terutama jika kita berbuat salah atau dosa.

Malamnya Djoko Santoso, sebelum memutuskan tinggal di rumah yang memang tampak angker itu, melakukan shalat. Tidak diketahui maupun diceritakan apakah Djoko memang disapa oleh malaikat Jibril. Tapi keesokan harinya ia mengambil keputusan untuk menempati rumah itu. Katanya, “Begini mas. Rumah itu tampaknya memang ada hantunya. Tapi hantu itu tidak mampu mengganggu orang yang beriman.”

“Oh ya, Pak Djoko. Salah seorang manajer keuangan kita dulu memang pernah mencoba menginap di rumah itu. Ternyata seorang hantu menampakkan diri kepadanya di waktu tidur.”

“Hantunya seperti apa?” tanya Djoko.

“Katanya, seorang Belanda, tinggi kurus. Ia hanya menampakkan diri di depan pintu kamar. Kemudian ia tersenyum menyeringai. Saking kagetnya, Pak Rudi bulu romanya berdiri sehingga terbangun dan langsung lari dari rumah itu malam-malam dan tidur di kantornya di pabrik, sebab rumahnya agak jauh. Di pabrik pun ia minta ditemani Satpam tidur hingga pagi.” Keterangan itu tak bisa dicek langsung kepada Pak Rudi, karena ia termasuk orang yang diberhentikan sebagai manajer keuangan.

Merasa diri beriman dan berusaha berkehidupan suci—ia sendiri dikenal di kalangan PT Welco sebagai pegawai yang sangat jujur dan bersih—dengan tegarnya akhirnya Djoko memutuskan menempati rumah itu setelah direnovasi. Rumah itu terdiri dari tujuh kamar berukuran besar, bertingkat dua, beberapa kamar utamanya ada kamar mandinya. Di belakang ada patio. Tanaman rambat dimuka telah dirapikan. Setiap Sabtu ia mengundang makan pagi para stafnya dalam sorotan matahari terbit yang lembut-hangat. Peserta rapat bisa menikmati kopi jahe dengan aneka makanan tradisional Jawa yang tradisinya ia bawa dari Sukoharjo, tentu tak lupa singkong goreng yang gurih- renyah.

Pada bulan Juni, ketika itu tahun 1998, ada program Salamullah yang agak istimewa. Program itu adalah mengirim suatu tim dakwah ke Jawa Timur. Programnya adalah mendatangi dukun-dukun dan pesantren-pesantren, dengan pesan utama, agar mereka meninggalkan segala perbuatan yang berbau syirik dan dosa, termasuk menjalankan santet. Rombongan itu memilih rumah Djoko sebagai pangkalan, karena cukup luas dan nyaman. Setiap orang yang menginap di situ, terutama yang perempuan, diberi tahu terlebih dahulu bahwa rumah yang arsitekturnya indah itu sebenarnya dijaga hantu. Tapi mereka juga diberi tahu untuk tidak usah takut, selama mereka tidak melakukan perbuatan dosa, umpamanya meninggalkan shalat.

Selama program itu berlangsung, rumah hantu itu menjadi sangat ramai. Mereka juga melakukan pengajian di waktu malam dan banyak dikunjungi oleh para karyawan pabrik.

Dengan peringatan itu, maka setiap orang anggota rombongan dakwah terus-menerus berusaha menjaga perilaku dan sikap hatinya agar selalu diliputi kesucian. Djoko sendiri, dengan meninggali rumah besar itu sekeluarga, juga justru merasa dijaga oleh rumah itu. Sebab, jika ia bekerja tidak jujur sebagai direktur, ia akan menjadi mempan oleh gangguan hantu. Ternyata ia tidak pernah melihat hantu berupa seorang Belanda yang senyumnya saja mengerikan itu.

Dengan pengalaman bahwa Djoko tidak pernah diganggu oleh hantu, maka kepercayaan para karyawan pabrik mengenai kejujurannya sangat meningkat dan menguat. Namun, hal ini justru menimbulkan keresahan beberapa stafnya yang tak lagi bisa berbuat korupsi. Manajer keuangannya tidak berani lagi bermain mata dengan petugas pajak. Ia memang berhasil menurunkan beban pajak secara mencolok.

Namun, ia menghadapi kesulitan dengan pemasaran perusahaan yang dipimpinnya. Sebelum ia menjabat sebagai direktur, induk perusahaan sudah menetapkan kebijaksanaan bekerja sama dengan pesantren-pesantren untuk menyalurkan produk mi instan itu melalui jaringan koperasi pesantren. Perusahaan bahkan juga memakai jasa seorang kiai kondang nasional untuk melakukan promosi pemasaran.

Pada mulanya karja sama itu tampak lancar. Tetapi kemudian, ternyata koperasi-koperasi itu banyak yang menunggak pembayarannya. Menurut keterangan manajer koperasi, banyak santri yang mengambil mi dengan mengutang, tetapi kemudian mengalami kesulitan membayar ketika utang sudah menumpuk. Persoalan inilah yang diwarisi oleh Djoko dari manajemen sebelumnya.

Oleh karena itu, ia membonceng program Salamullah untuk bisa mengumpulkan tagihan, dengan berhubungan langsung dengan para kiai pengasuh pesantren. Tapi tidak semua kiai menerima ajakan untuk meninggalkan syirik. Malah sebagian mereka tidak mengaku telah melakukan syirik. Karena itu sebagian pesantren justru merasa tersinggung dan marah dengan dakwah itu. Mereka mengaku merasa resah, apalagi setelah membaca dari berbagai koran Ibu Kota maupun daerah bahwa Salamullah dinilai sebuah aliran sesat dan menyesatkan. Sebagian dukun juga ikut marah karena dituduh syirik, ada pula dukun asal Madura yang mengancam akan menyantet pengikut Salamullah.

Dari akumulasi keresahan dan kemarahan itu, maka sebagian pesantren, kebanyakan pesantren yang tidak bisa membayar utang kepada perusahaan Mie Lezat itu, berkumpul untuk menolak kehadiran Salamullah. Dari pesantren yang mempunyai utang kepada perusahaan Mie Lezat diperoleh informasi bahwa rombongan Salamullah itu bermarkas di rumah direktur perusahaan yang namanya Djoko Santoso. Dari situlah sekelompok umat di bawah pengaruh pesantren-pesantren itu melakukan kampanye penolakan Salamullah lewat khotbah-khotbah Jumat. Sebuah pesantren yang tergolong besar malahan menyelenggarakan Dakwah Akbar yang menolak kehadiran Salamullah.

Dengan bantuan informasi dari orang dalam perusahaan Mie Lezat, kelompok itu menuntut dua hal. Pertama, agar perusahaan mengusir rombongan dakwah Salamullah dari lingkungan pabrik. Kedua, memecat Djoko Santoso, direktur perusahaan, dari pabrik, sebab ia adalah salah seorang pengikut komunitas Salamullah yang sesat. Tuntutan itu disampaikan kepada Bupati, dengan tembusan pimpinan pabrik.

Tuntutan pemecatan terhadap Djoko Santoso itu kemudian disampaikan kepada pimpinan induk perusahaan di Jakarta, dengan mengutus beberapa staf yang rupanya tidak suka dengan kepemimpinan Djoko Santoso, justru karena kejujurannya. Paling tidak mereka itu adalah orang-orang yang punya maksud menyingkirkan Djoko Santoso.

Pimpinan Melco sebenarnya mengetahui reputasi Djoko sebagai seorang pimpinan perusahaan yang berhasil menyelamatkan perusahaan dan sedang bekerja keras untuk menertibkan tagihan, sebuah upaya yang tidak mudah karena berhadapan dengan para kiai pimpinan pesantren. Namun mengingat bahaya yang mengancam pabrik dengan ancaman penyerangan massa, maka pimpinan induk dengan berat hati memanggil Djoko Santoso dan meminta memilih, keluar dari Salamullah atau keluar dari perusahaan. Ternyata Djoko memilih keluar dari perusahaan dan tetap menjadi pengikut Salamullah.

Setelah memilih keluar, Djoko meninggalkan rumah hantu itu. Tak seorang pun dari manajemen baru yang berani tinggal di rumah hantu itu. Maka, rumah yang sudah kehilangan keangkerannya itu kembali menjadi rumah hantu. Gunung Wilis yang menatapnya dengan siraman cahaya matahari setiap pagi, seolah-olah sedih melihat orang jujur itu pergi dari Pandaan.

Jakarta, 3 Maret 2006

Written by tukang kliping

11 Juni 2006 pada 01:41

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

6 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. eh,w ta tlg cerita hantunya yg banyak ya-thank’s

    gazela

    17 Desember 2008 at 15:43

  2. lucu..pengalaman pribadi kayaknya yah…….izin mencopy : http://www.lekwanbgr.blogspot.com

    lekwanbgr

    15 Oktober 2010 at 19:24

  3. bagus

    agam

    27 Agustus 2011 at 17:20

  4. bgus ap an???

    angga

    25 September 2011 at 17:53

  5. Cerpen ini menggambarkan tentang pandangan hidup sang penulis. Beliau penganut ahmadiyah yang menjunjung tinggi pluralisme. Pak Amidan (MUI) harusnya. Baca cerpen ini.

    yayan juandi

    2 Januari 2013 at 20:37

  6. Cerpen ini menggambarkan tentang pandangan hidup sang penulis. Beliau penganut ahmadiyah yang menjunjung tinggi pluralisme. Pak Amidan (MUI) harusnya baca cerpen ini.

    yayan juandi

    2 Januari 2013 at 20:42


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: