Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Monang? Kau Mendengar Aku?

leave a comment »


Malam itu, wajah ibu hadir di ruang mata Monang. Tiba-tiba saja. Melihat mata ibu, Monang seperti menyusuri sungai yang kering yang dipenuhi batu-batu. Entah kenapa. Lambat laun kecekatan tangan Monang memilah-milah koran-koran dan tabloid yang hendak diretur besok, makin berkurang. Bahkan, akhirnya, ia menghentikan kegiatan itu. Ia tersedu-sedu.

Isteri Monang dan dua anaknya sudah lama tidur, di ruang dalam.

Seumur-umur Monang jarang menangis. Ketika kanak-kanak, kalau kalah berkelahi dengan hidung berdarah-darah dan muka babak belur—ia tidak menangis. Bila ayah maupun kakak-kakaknya memukul atau menamparnya karena satu kesalahan yang diperbuatnya, ia juga tak menangis. Waktu ayah meninggal, ia pun tidak menangis. Meski sampai Namboru Tiur memeluknya sambil menatap menceritakan betapa sedihnya ditinggal seorang ayah, ia tetap bergeming. Tapi, masih jelas dalam ingatannya sebuah peristiwa yang membuatnya menangis hebat.

Kala itu Monang melihat bagaimana ayah—tiba-tiba masuk rumah, mengejar dan memukuli ibu dengan sepotong bambu sebesar jempol hingga ke kamar. Ibu menjerit-jerit sambil menyembah-nyembah ayah, “Ampun, ampun pak,” katanya. Pakaian kebaya yang dikenakan ibu hendak mengikuti ibadah di gereja menjadi acak-acakan.

Monang—ketika itu sembilan tahun—tak bisa membenarkan perlakuan ayah itu. Namun ia takut pada ayah. Namun, mungkin didorong rasa kasihan dan sayang pada ibu serta rasa marah kepada ayah, Monang memanggil ayah sekuat-kuatnya. Beberapa kali. Tubuhnya sampai gemetaran.

Tiba-tiba ayah melihat Monang dan seperti tersadar karena Monang telah menyaksikan perbuatannya itu. Dan lebih lagi, karena Monang—katakanlah—telah memanggilnya dengan cara menghardik. (Mungkin pula, dalam pikiran ayah, Monang belum pulang dari ibadah sekolah minggu. Dan memang semestinya demikian. Pastor dari paroki datang, yang berarti ada perjamuan Misa Ekaristi. Dan Monang—salah satunya—selalu menjadi putera altar. Tapi, Monang minta digantikan. Ia minta ijin pulang. Karena Monang ingin secepatnya tiba di rumah, supaya punya waktu yang cukup untuk mengetam bawang hasil ladangnya, agar bisa dijualkan ibu ke pekan di pulau, besok. Ibu memberikan sepetak tanah seluas 20 meter persegi kepada anak-anaknya untuk diusahakan sendiri). Ayah berhenti memukul ibu. Mereka bertiga—di tempat dan dengan posisi masing-masing, seperti baru saja kena sihir menjelma patung. Tapi, tak lama berselang, ayah mendengus, lalu memukuli ibu lagi. Dan ibu menjerit-jerit lagi. Dan jeritan-jeritan itu menyesakkan dada Monang.

Monang berlari ke dapur. Monang mencari-cari pisau. Namun ia tak menemukan benda itu di tempatnya. Ia pun mencari-cari benda lain yang bisa dipergunakannya melawan ayah. Batu penggilingan? … Tidak. Ayahnya pasti bisa menghindar! … Kayu bakar? … Ah, seberapa sakitlah ayah oleh kekuatan pukulannya? Tidak, tidak! Tapi ayah mesti dilawan! Karena seingatnya, inilah yang keempat kalinya ia menyaksikan si ayah memukuli si ibu. Tujuh kakaknya pun (perempuan semua) pernah merasakan pukulan tangan si ayah. Ia memang selalu dimanjakan. Namun, ia pernah juga jatuh sakit akibat ditampar si ayah! Lalu, apa? … Matanya tertumpu pada jeriken minyak tanah. Ya! Ia cepat-cepat membuka tutup jeriken, lalu mendekat hidungnya untuk membaui apa isi jeriken itu. Minyak tanah, minyak tanah!

Akhirnya ia membawa jeriken itu dan korek api ke kamar.

“Ayah…!” panggil Monang, seusai menyiramkan minyak tanah ke tempat tidur dinding kamar dan pintu.

Ayah menoleh. Lalu berbalik, menghadap Monang menatap mata sang ayah. Ia bagai melihat samudera luas yang tengah diterjang badai di sana. Di tengah samudera itu, di malam pekat, ada sebuah perahu yang terombang-ambing. Di dalam perahu itu ada seorang perempuan: Ibu!…

“Apa yang ayah lihat di tanganku?”

Ayah mendengus. Ia merasa diajari seperti anak kecil. Ia tak menjawab. Meskipun demikian si ayah berhenti memukuli ibu. Tapi tangis ibu yang lirih itu, Monang rasakan seperti sayatan-sayatan belati—oleh ayah—di tubuhnya.

“Apakah ayah mencium bau minyak tanah di kamar ini?”

Ayah benar-benar marah dibuatnya, tapi menahan diri. Dan tetap tak menjawab. Namun, ia memikir-mikirkan cara menundukkan sang anak. Sebab, ia takut juga kalau-kalau anaknya itu bertindak nekat.

“Mo-nang…?” suara si ayah pelan.

Monang melihat si ayah sambil menyalakan korek api. Berkelebat di pelupuk matanya cerita Malin Kundang yang pernah dibacanya. Malin Kundang dikutuk karena mendurhakai ibunya! Mengiang-ngiang di telinganya cerita Sampuraga yang pernah di dengarnya. Sampuraga dikutuk karena mendurhakai ibunya! Lalu? Oh!

Monang terisak-isak. “Maafkanlah anakmu ini, ayah…. Kalau ayah berjanji tak memukuli ibu lagi, maka aku tidak membakar kamar ini, ayah…!”

“Kau…?” ayah bergerak pelan mendekati Monang.

“Ya, ayah,” Monang bergerak pelan mundur.

“Jangan, Nak…!” tangis ibu.

“Berhenti di situ, ayah…! Ya, tetap di situ…!”

Monang mencomot (lima batang) korek api dan secepat mungkin menggantikan batang korek api yang beberapa saat lagi akan tinggal puntung.

“Ayah, berjanjilah dengan sungguh-sungguh untuk tidak memukuli ibu lagi. Mulai hari ini…!”

“Kau…?”

Monang mengangguk sembari menghapus ingus dan air matanya cepat-cepat. Dan ia tetap waspada terhadap segala kemungkinan yang akan dilakukan ayah terhadap ibu mau pun terhadap dirinya.

Ayah menggelengkan kepala, lalu menghela napas panjang. “Ya, Tuhan… bukankah aku pernah mengucapkan kalimat seperti itu kepada ayah karena ayah suka main judi sampai berminggu-minggu dengan para toke di pulau?” katanya seperti berbisik kepada dirinya sendiri.

Monang terkejut mendengarnya. Ibu pun demikian.

Kemudian ayah tertegun. Lama. Sepotong bambu di tangannya terjatuh begitu saja ke lantai. Berikutnya, Monang melihat mata ayah berkaca-kaca. Serasa sekejap, ayah berlutut dengan punggung tegak. Ayah mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi.

Monang tak paham apa kira-kira yang akan diperbuat ayahnya dengan sikap demikian. Berdoa?… Tentu tidak! Yang diketahui Monang bahwa sikap berdoa adalah dengan melipat tangan dan mata terpejam. Jadi bisa saja cara yang dilakukan ayah itu dalam upaya menggagalkan niat Monang! Karena itu, ia mencomot (tiba batang) korek api lagi untuk menyambung nyala api dari batang korek api terakhir.

“Ya, Allah…. Aku berjanji tidak memukuli istriku lagi….”

Sungguh. Monang terkesiap mendengar janji ayah, waktu itu. Hingga kini, Monang tak tahu kejadian sebenarnya yang membuat ayah mengejar dan memukuli ibu. Tapi menurut Monang, pastilah terkait tabiat ayah yang suka main judi. Dan ia pun tak berniat menanyakan pada ibu di mana peristiwa itu berawal….

>diaC<

Telepon genggam berbunyi. Monang membersihkan kelopak matanya, meskipun kelopak mata itu sudah kering dari tadi. Tangan angin yang mengusapnya perlahan-lahan. Monang meraih telepon genggamnya dari meja. Nama kak Nurma tersurat di layarnya dengan nomor telepon rumah. Berita apakah gerangan di ujung malam begini?

“H-h-hallo…?”

Monang menenangkan hati. Namun, pikirannya menduga-duga hal buruk yang mungkin terjadi pada keluarga besar mereka. Bukankah berita duka cita sering datang di malam hari?… Ia mendapat berita kematian ayah pada sekitar pukul 10 malam ketika ia duduk di bangku SMP di Pangururan. Bruder Marsianus—kepala asrama—yang membangunkan dan memberitahukan kepadanya. “Engkau harus pulang sekarang, Monang. Kerabatmu datang menjemput. Ayahmu sakit keras,” katanya. Dan akhirnya, Monang tahu bahwa sebenarnya saat kerabatnya datang menjemputnya, waktu itu, ayahnya sudah meninggal. Bruder Marsianus terpaksa berbohong supaya Monang tidak langsung terguncang dengan kematian ayahnya….

“I-ibu…,” suara kak Nurma terputus.

“I-i-ibu kenapa, Kak…?”

“Nah…,”

“Ibu kenapa, Kak…?”

“Mo-nang…?”

“Mmm… I-i-ibuu…?”

Monang mengangguk dan lega.

“Kau belum tidur, Nak?”

“Beginilah tukang koran, Bu. Kadang sampai larut malam mengerjakan koran-koran atau tabloid yang mesti dikembalikan…. Tapi, Ibu pun kenapa belum tidur? Besok pagi kan bisa bertelepon? Atau aku yang menelepon besok…?

“Ya, tapi ini penting, Monang! Aku takut lupa menyampaikannya besok. Karena itu aku bangunkan Nurma untuk menelepon kau… Aku ingin kau mengabulkan permintaanku ini, Nak…!”

Oo, permintaan! Monang terdiam. Jantungnya berdetak lebih cepat. Ia menebak-nebak apa kira-kira permintaan ibu. Pakaian? Kaca mata? Keliling Jakarta? Atau tiket pesawat untuk pulang ke Medan?… Atau ibu hendak ditemani ke rumah paman di Surabaya?… Rasanya tidak mungkin! Empat kakaknya (secara ekonomi, berkecukupan) tinggal di Jakarta selalu siap memenuhi semua permintaan ibu…. Bahkan kakak-kakaknya itu sering meminta tolong kepadanya supaya membujuk ibu agar mau menerima apa yang mereka berikan dan lakukan untuk ibu. Kak Sondang pernah memohonnya supaya membujuk ibu mau ikut ke Bali bersama keluarga kak Sondang. “Aku tukang mabuk, nanti aku merepotkan mereka,” jawab ibu waktu itu. Namun, ibu mau juga ikut….

“Mo-nang? Kau mendengar aku…?”

“Mm…i-i-iya, Bu….”

“Lusa Ibu pulang, Nak…. Maafkanlah, Ibu tak bisa menginap di rumahmu. Tak ada yang sempat mengantarkan. Kaupun tentu sangat kesusahan bila harus menjemput dan mengantarkan aku lagi. Nanti terganggu usaha koranmu. Tak apa-apa, ya, Nak…. Pertemuan kita hari Sabtu lalu di rumah Kakakmu Pintanauli sudah memuaskan rinduku pada kalian semua—anak-anak, menantu dan cucu-cucuku…!”

“Mm… iya, Bu….”

Ah, ah! Lalu apa permintaan ibu?… Monang tak berani menanyakannya lebih dulu. Ia takut kalau-kalau permintaan itu mustahil ia penuhi. Tapi alangkah bahagianya kalau ia dapat memenuhi permintaan sang ibu. Betapa. Sejak ia menyaksikan ayah memukuli ibu, ia bertekad membahagiakan ibu. Namun, sampai sekarang ia merasa belum bisa melakukannya. Ya, sebagai anak lelakinya! Pernah ia dan istrinya menabung duit untuk membeli kalung emas. Mereka memberikan kalung itu kepada si ibu saat kelahiran anak pertama mereka. Tapi lima bulan kemudian, anak mereka sakit dan mesti dioperasi. Monang dan istrinya kekurangan biaya. Monang tak mau meminta bantuan kepada kakak-kakaknya. Si ibu menyuruh jual kalung itu untuk menambahi biaya operasi anak mereka. Monang menerima kalung itu dengan mata berkaca-kaca. Si ibu menguatkan hatinya. “Aku tahu keadaanmu, Nak. Aku tahu hatimu!” katanya.

Peringatan dari telepon genggam Monang: battery low!

“Mon….” Terputus.

Monang cepat-cepat mengambil charger dan melakukan pengisian. Dan beberapa saat kemudian ia menghidupkannya.

“Hallo,” kata ibu dari seberang sana. “Kenapa putus?”

“Habis baterei, Bu,”

“Oo…”

“Ibu…! Katakanlah apa permintaanmu itu…,” kata Monang akhirnya.

“Permintaanku?”

“Ya, Bu.” Monang menghela nafas. “Tapi, ada kak Nurma di situ…?”

“Sejak tadi dia terlelap di sofa, di sebelahku….”

Monang memasang pendengaran baik-baik. Ia seolah-olah takut salah mendengar apa yang dikatakan ibunya. Dan, ia sambil berdoa dalam hati semoga bisa memenuhi permintaan sang ibu tersayang.

“Di kampung Silotom banyak pohon johar di situ…. Kau ingat tempat itu, Monang….?”

Monang mengiyakan. Ia ingat. Teman sebangkunya sampai tamat SD dari Silotom. Pinus Situmorang! Lalu ia mengernyitkan kening. Adalah jalan mendaki menuju kampung itu. Lantas?… Monang memikir-mikirkan kemana ujung perkataan ibu. Tapi juga mengira-ngira makna apa di balik ucapannya. Karena si ibu pandai bertutur dengan kiasan-kiasan. Berpantun pun. Mataniari manogot di Habissaran/dung botari di Hasrundutan/Sai mangoluma marhapistaran/gabe jolma naboi pangihutan—matahari terbit di Timur/ketika sore ada di Barat/selama hiduplah jadi pintar/menjadi panutan semua orang.

“Monang? Kau mendengarku kan…?”

“Iiya. Teruskanlah, Bu…,”

“Ada dua batang yang besar lurus tinggi kulihat di situ, dua hari sebelum aku berangkat ke sini. Pemiliknya Ompung Ojak. Aku sudah katakan supaya jangan dijual ke orang lain….”

Monang ingat, di kampungnya ada pohon mangga, pohon johar, dan pohon-pohon bambu memagari kampung. Bila kayu bakar di rumah habis, ayah selalu menyuruh pak Joh menebang secukupnya. Sepeninggal ayah, ibulah yang selalu menyuruhnya. Kalau pohon mangga yang hendak ditebang, maka dipilih pohon atau dahan yang tak menghasilkan buah lagi. Kalau pohon johar, maka ditebang yang tidak lurus. Sesekali pohon bambu yang sudah tua dijadikan kayu bakar.

“Lagi pula, tinggal Ibu, kak Rita dan keluarganya serta Nai Haposan di kampung kita kan?… Nai Manjur sudah meninggal… tak ada anak-anaknya yang di kampung. Keluarga Amani Hobas merantau ke Sumatera Timur. Siapa lagi? Keluarga Amani Gonggom merantau juga… Apakah di kampung kita tak ada lagi pohon yang bisa ditebang, Bu…?”

“Ada, Nak…,”

“Terus…?”

“Berjanjilah dulu kau akan membeli dua pohon itu untuk Ibu. Sepulang dari sini, aku akan beritahu Ompung Ojak…. Bagaimana, Nak…?”

Oh, Ibu! Monang menarik nafas. Diam beberapa saat.

“Baiklah, Bu…!”

“Bagus, Nak,” jawab ibu cepat. “Sekarang dengarlah baik-baik…!”

Monang mengangguk. Monang seperti melihat ibu menanami bibit-bibit johar di sekujur tubuhnya.

“Dua pohon itu akan menjadi rumahku kelak, Nak….”

“Apa, Bu? Ibu kan masih sehat….”

“Satu batang digunakan sebagai peti, Nak….”

“Ibu masih kuat. Jangan memikirkan yang tidak-tidak, Bu….!”

“Sebatang lagi sebagai tutupnya…. Aku ingin ada kacanya juga, Nak….”

“Ibu…!”

Tut-tut-tut….

Monang menelepon. Menelepon. Menelepon. Tapi ia hanya mendengar nada sibuk di seberang sana. Aku ingin menyenangkan hatimu, Ibu, seperti yang kakak-kakak lakukan. Tetapi kenapa meminta rumah kematian dariku?***

Written by tukang kliping

21 Mei 2006 pada 01:52

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: