Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Wening

leave a comment »


Diangkatnya lengannya perlahan-lahan. Lengkung-lekuk lengan dengan jari meruncing itu membentuk bayangan di tembok. Pergelangan tangan itu ngukel1, lalu telunjuknya menjentik. Dia tersenyum. Keindahan memang tak bisa diam, selalu ingin keluar dan mempertontonkan dirinya. Sekali lagi dia tersenyum, sambil tetap memandangi bayangannya sendiri di tembok.

Dibayangkannya, nanti dia akan mengurai rambutnya yang panjang, yang oleh Mas Ondi—penata busana, akan diberi untaian melati. Jadi, nantinya, di sela-sela rambut panjangnya itu akan ada untaian melati yang bukan saja indah, tetapi menebarkan harum yang samar- samar. Ah, di tangan Mas Ondi dia akan menjelma Drupadi.

Seandainya saja Bang Irfan bisa memahami ini, tentu akan lain ceritanya.

Waktu terlipat oleh kecepatan, entah siapa yang menjadi biang keladinya. Semua tiba-tiba saja menggumpal di kenangannya. Dia berada di tandu, yang alas duduk maupun atapnya berpaku-paku. Berdiri luka, duduk luka. Memilih “ya” dia akan melukai jiwanya, menolak untuk “ya” pun dia melukai orangtua dan seluruh keluarganya. Tetapi, siapakah yang akan menjalani hidupnya jika bukan dirinya sendiri?

Sepi sekali malam ini. Anak- anaknya entah ke mana. Sony, si sulung, mungkin pergi dengan pacarnya. Neny, si ABG-itu, katanya tadi nonton “Berbagi Suami” ah, anak kecil yang selalu ingin tahu urusan orangtua. Bang Irfan sendiri, entah ada di ufuk mana saat ini. Sejak hampir sebulan ini, suaminya itu hilang-hilang timbul di rumah ini. Kadang muncul hanya untuk ganti baju, mengeluarkan baju-baju dari koper, mencium kening istrinya, lalu pamit lagi dengan gumaman tak jelas. Kadang begitu datang, mandi, makan, lalu menghilang di kamar kerjanya, seakan dia hidup sendirian tanpa istri dan anak-anak.

Dia memang memilih untuk “ya” waktu itu dan bersiap kecewa menelan luka itu dengan ketegaran. Maka hidupnya berubah menjadi Bu Irfan, yang harus selalu menjaga penampilan, siap senyum, tak banyak gerak, tak banyak bicara, dan dia bukan lagi Si Wening. Wening si prenjak telah musnah. Wening si bunga matahari, sudah punah. Wening si walet, harus masuk sangkar; sesuatu yang mustahil sebetulnya, tetapi inilah hidupnya, sejak 25 tahun yang lalu.

“Aku ingin menari, boleh ya, Bang?” bisiknya suatu malam, seusai badai kerinduan suaminya tumpah di seluruh sel tubuh Wening. Barangkali saja, setelah mereguk kenikmatan, Bang Irfan akan memberinya kesempatan. Tetapi, suaminya tak menjawab apa-apa, sudah mendengkur kelelahan. Wening hanya diam. Airmatanya beku, mengkristal di dinginnya malam. Sepi kian runcing, dan menusuknya tanpa kata. Dan sejak itu, hampir dua puluh tahun lalu, Wening tak ingin mendapat tusukan sepi lagi.

Malam ini, sebetulnya adalah hari ulang tahunnya. Di meja telah tersaji tumpeng kuning, kering tempe, abon, rajangan dadar, ketimun, cabe yang dibelah-belah lalu direndam di air sehingga ujung-ujung belahan itu melengkung indah, seperti tangan penari.

Diamatinya tumpeng kecil yang ditatanya sendiri sesore tadi. Hanya kecupan dan ucapan “Happy birthday, Mom…” dari Neny sebelum pergi. Ciuman kecil di pipi dari Sony pun diterimanya, juga sebelum nggeblas dengan Escape-nya. Tetapi tak ada dari Bang Irfan, bahkan sms. Hidupnya memang menjadi barang taruhan. Dia dipertaruhkan agar suaminya berhasil menduduki jabatan, atau apa pun impiannya. Dia dipertaruhkan agar anak-anaknya berhasil menjadi “anak idaman” orangtua. Dia dipertaruhkan agar keluarganya menjadi contoh, cermin, dan tolok ukur keluarga bahagia-sejahtera. Dia ingin menari. Dia ingin menjelma Drupadi. Tumpeng dan lauk-pauk itu ingin menjelma bedaya. Mereka bergerak dalam diam. Mereka membentuk pola-pola lantai yang rancak, rapi, hening, namun memancarkan kesungguhan mempersembahkan keindahan. Keindahan yang hanya bisa dilihat oleh keheningan jiwa. Dan jiwa itu, mengapa hanya ada pada dirinya?

“Cobalah kau mengerti. Aku memberimu semuanya, segalanya, dan hanya memintamu untuk tidak melakukan satu hal: menari. Itu saja. Apa susahnya?” ucap Bang Irfan, entah kapan.

“Kenapa, Bang?”

“Tidak boleh.”

“Aku hanya ingin menunjukkan keindahan….”

“Keindahan tubuhmu hanya untuk aku … karena kau istriku.”

“Kalau begitu, biar aku menari untuk Abang saja….”

“Aku enggak suka tarian…,” bisik suaminya, “… Aku lebih suka kau … enggak pakai ini…” dan tangan suaminya melolosi pakaiannya. Wening beku, dirinya menjelma Drupadi di kepungan Kurawa.

Maka pembicaraan itu terkunci di situ. Wening sekali lagi menelan rasa sakit itu. Dia seakan meninggalkan tubuhnya yang menjadi bulan-bulanan suaminya beberapa saat kemudian.

Dibukanya album kecil yang masih disimpannya. Album foto pentas terakhirnya. Saat itu dia bersama teman-temannya memang mementaskan “Drupadi Mulat” sebuah koreografi indah karya Mbak Yudi—sahabat sekaligus guru tarinya. Dialah Drupadi berambut panjang itu. Dialah dengan kain panjang putih—yang terlalu panjang untuk sebuah samparan—dengan lampu minyak tanah kecil di tangan kanannya, berjalan dari pelataran GKJ, menaiki tangga, membelah kerumunan penonton yang masih di luar, memasuki pintu, membiarkan dengung gong pertama bergema, melintas perlahan di karpet merah, membiarkan berpuluh, mungkin beratus pasang mata menatapnya kagum.

Dialah yang membiarkan kain panjangnya terjulur jauh beberapa meter di belakangnya, memberikan keheningan, menyedot seluruh pancaindera penonton, dan memaksanya untuk memasuki sebuah alam yang bernama kesepian. Dialah yang terus bergerak dengan iringan nafas-nafas tertahan para penontonnya, melangkah hati-hati, menapaki tangga tengah menuju panggung gelap gulita. Cahaya lampu berkebit, tertiup pendingin udara.

Dalam gemulai geraknya, Drupadi ingin meneriakkan sesuatu yang lama dipendamnya. Akulah keindahan. Akan kuajarkan kepada kalian, wahai makhluk bumi, bahwa inilah jiwa kalian. Biarkan matamu menangkapnya, namun jangan biarkan dia menilainya karena matamu tak akan mampu menyampaikannya. Jiwamu lebih halus, dan karenanya, ajaklah dia berbicara. Dan malam ini aku mengundang jiwamu untuk bercengkerama bersamaku. Izinkan dia bersamaku malam ini, maka kau akan dilimpahi cahaya.

Itulah yang menggerakkan Drupadi, menghidupkannya dalam sebuah lakon. Dan penonton memang tak bisa membedakan, manakah Wening dan manakah Drupadi. Tepuk tangan berkepanjangan, berulang, menggema. GKJ pecah, malam itu.

Tetapi, itulah yang menggemakan sepi berkepanjangan hingga malam ini. Wening ingat, di masa kanak-kanak dulu jika ditanya tentang cita-citanya, dia selalu lantang menjawab, “jadi penari..!” dan disambut gelak tawa siapa pun yang bertanya.

Dan ketika diwawancara wartawan seusai “Drupadi Mulat”, Wening remaja 18 tahun itu menjawab, “Semoga suami saya kelak memanjakan saya dengan membolehkan saya menari…” jawabnya agak polos dan kekanakan.

Wening tersenyum pahit mengenang semuanya.

Langkah kaki tergesa menyeberangi ruangan. Wening bangkit dari tempat duduknya. Langkah yang sudah dihafalnya benar. Bang Irfan pulang. Mereka terhenti di suatu ruang, yang menciptakan jarak sepi. Bang Irfan melihat tumpeng dan album yang belum tertutup.

“Masih saja … dasar.”

Wening tercambuk, darah mengalir. Begitu kasar ucapan bang Irfan. Belum cukup rupanya kelembutan yang diberikannya selama ini.

“Abang pulang? Sudah makan, Bang?” sapanya.

Suaminya diam dan melanjutkan langkah ke kamar. Wening terpaku. Pintu terbanting. Pasti bisnisnya gagal.

Belum lagi Wening duduk, Irfan keluar dengan langkah besar. Bagai kesetanan dia cengkeram Wening. Ucapan kasar, runcing, dan berbisa berhamburan dari mulut suaminya. “Kapan kau mau mendengar ucapanku. Jangan menari dan jangan pernah lagi berpikir kamu bisa menari lagi. Aku tidak suka. Aku suamimu, mengapa kau tak mau mendengar suamimu?”

“Apa salahku punya keinginan menari?”

“Itu kesalahanmu!”

“Baik…. Lakukan keinginan abang. Silakan larang aku, tapi kali ini, maaf aku akan menjadi mimpi buruk abang.” Berkata demikian, Wening masuk kamar.

Suaminya terdiam, tak punya gambaran apa pun mengapa istrinya yang selalu mengalah itu kini berani melawan. Sesaat kemudian, api kemarahannya menggelegak. Diserbunya kamar Wening. Didobraknya pintu.

Pintu rusak, terbuka dengan paksa. Sunyi. Wening melepas bajunya, telanjang. Mengurai rambutnya yang masih panjang melebihi pinggang, yang selama ini disembunyikan atas perintah suami. Dikenakannya kemben kain panjang putih, yang dulu dikenakannya ketika “Drupadi Mulat”. Dibiarkannya sebagian kain itu menebar di lantai.

Iringan rebab menyayat malam, Wening bergerak sangat lambat. Sepasang telinganya menangkap gumaman jender; mengapa harus gadhung mlati>jmp -2008m<>h 7028m,0<>w 7028m<2>jmp 0m<>h 9738m,0<>w 9738m<? Wening menari dengan keheningannya. Dia merasa membawa lampu minyak kecil yang apinya berkebit oleh kepedihan. Dia menapaki lantai sebagaimana dia jalani hidupnya yang dingin dan datar. Sesekali dia kengser, sesekali dia ukel, sesekali pula dia tawing, selebihnya dia melangkah perlahan, dengan tatapan tertuju pada bumi. Bumi yang halus, bumi yang sempurna menerima kenyataan paling buruk sekalipun, yang diberikan manusia.

Dilaluinya pintu yang rusak itu. Dan baginya, pintu hidupnya, yang menjaganya dari campur tangan orang lain, memang telah rusak—lama sebelum malam ini. Mengapa suaminya tega merusak sesuatu yang menjadi miliknya? Benarkah perkawinan membuat Wening harus melebur dan menghancurkan dirinya, kemudian menjelma menjadi Bu Irfan? Tidak untuk malam ini. Tidak, sejak malam ini. Dia adalah Wening. Dia akan menari, membawa keindahan yang dikaruniakan Tuhan kepadanya, dan membagikannya kepada dunia. Mengapa keindahan harus ditakar dengan kaleng bekas mentega?

Dengan tatapan pada bumi, dilewatinya Irfan yang terpasak di tempatnya berdiri. Dia ingin mengatakan kepada Irfan bahwa leher jenjangnya adalah keindahan yang seharusnya membuat manusia kian bercahaya. Namun, yang anehnya, malah membuat suaminya terbenam dan terbakar berahi. Mengapa keindahan selalu dimakan api? Tak adakah sepercik rasa syukur, melalui kekaguman atas keindahan ciptaan-Nya? Sesekali pula Wening mengubah posisi tubuhnya, condong ke depan, menariknya perlahan, miring ke kanan, menoleh ke sudut. Wening yakin sekali, dari tempatnya berdiri, Irfan akan menyaksikan sebuah bangun indah, sebuah bangun menakjubkan, yang berhasil diciptakannya.

Perlahan langkahnya menjauh, dan dibiarkannya samparan itu menjulur panjang, terseret gerak tubuhnya. Sengaja dibiarkannya Irfan menjadi begitu bodoh, dungu, bebal dengan tatapan matanya yang entah mempertanyakan apa. Dibiarkannya, kali ini, laki-laki itu tersuruk-suruk ketidakpahamannya akan apa yang disaksikan kedua matanya; ah, laki-laki memang tak pernah dewasa, tak paham akan keindahan. Dirimu hanya dikuasai sesuatu yang bahkan hanya kau sembunyikan di balik celana dalammu.

Langkahnya terus mengalir, entah sudah berapa lama. Wening hanya melihat, anak-anaknya berdatangan dalam bisu, kemudian sanak saudaranya, ibu dan ayahnya yang renta, juga mertua, bahkan kerabat jauh dan para tetangganya. Mereka semua membisu. Mereka berubah menjadi batu. Hanya Wening di dunia ini yang mengalir, berenang dalam cahaya keindahan geraknya.

“Mama… please…,” bisik Neny setengah menangis, mencoba mengingatkan ibunya. Tetapi Wening telah menari, dan tak ada yang bisa menghentikannya. Kain samparannya terlalu panjang. Seakan ingin mengatakan bahwa penderitaan Wening jauh lebih panjang dari kain yang bisa disaksikan berpasang-pasang mata itu.

Irfan mencoba meringkus istrinya, dibantu sanak saudara yang ada di situ. Entah ceracau apa yang keluar dari mulut Irfan mencoba menyadarkan istrinya, tak terdengar sama sekali oleh Wening. Wening bahkan tak melawan. Dia hanya tersenyum, karena bahkan tubuhnya pun bukan lagi miliknya. Karena saat ini, dia tengah menari dengan jiwanya.

Bahkan ketika mobil dari RSJ datang dan membawanya pergi, Wening tetap menari, menyampaikan gerak-gerak lembut untuk melembutkan nurani manusia. Gerak-gerak gemulai yang membangkitkan kekuatan manusia untuk mengetahui dirinya sendiri….

Bukit Nusa Indah, 982

1 Gerak tari Jawa, khususnya pada bagian tangan.

2 Sebuah komposisi gending yang oleh sebagian orang dianggap sakral.

Written by tukang kliping

14 Mei 2006 pada 01:55

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: