Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Tuba

leave a comment »


Tersiar kabar perihal bupati yang mati mendadak berselang beberapa saat setelah meresmikan peletakan batu pertama proyek pembangunan masjid di kecamatan Bulukasap. Saat ditemukan, mayatnya terkapar di lantai kamar dalam keadaan mulut berbusa, seperti korban overdosis, lidah terjulur hingga dagu dan mata terbelalak serupa orang mati setelah gantung diri. Amat menakutkan. Para sesepuh adat, alim ulama, dan karib kerabat yang berdatangan dari nagari Sungai Emas (kampung kelahiran almarhum bupati) baru saja menginjakkan kaki di rumah duka. Kehadiran mereka langsung disambut ratap haru dan isak sedu istri almarhum yang tampak sangat terpukul karena kematian suaminya yang begitu tiba-tiba. Tanpa firasat, juga tanpa wasiat.

Tadi pagi masih segar bugar, kini sudah terbujur kaku jadi mayat….”

“Istighfar kak, istighfar! Ikhlaskan saja kepergian beliau!” begitu bujuk seorang tokoh masyarakat membendung kesedihan.

“Salah apa yang telah diperbuat suami saya? Tidak adil! Sungguh tidak adil! Ini perbuatan biadab….”

“Sudahlah kak! Mungkin ini sudah jalannya”

Lusianna datang agak terlambat. Jenazah ayahnya sudah rampung dikafani, tak lama lagi akan segera disembahyangkan, sebelum diusung ke pemakaman. Raut muka perempuan itu tampak murung dan kecewa. Sebab, sudah tak mungkin lagi ia melepaskan tali pengebat kain kafan sekadar memberi kecupan di kening ayahnya, sebagai ciuman yang terakhir sebelum jenazah itu dikuburkan.

“Jadi pejabat ndak usah terlalu jujur, yah!” begitu kelakar Lusi kepada almarhum dua tahun lalu. Sesaat sebelum ia berangkat ke Mellbourne, menyelesaikan program doktor, bidang ilmu politik.

“Maksudmu?”

“Lihatlah jalan umum kampung kita! Persis seperti kubangan kerbau. Rusak parah dan sudah tak layak tempuh. Nah, mumpung ayah sedang memegang jabatan bupati, ndak ada salahnya ayah membuat proyek pelebaran jalan. Bila perlu diaspal beton sekalian!” jelas Lusi, “Hitung-hitung proyek itu dapat menunjukkan rasa terima kasih ayah pada kampung kelahiran sendiri”

“Tapi, tidak segampang itu, Lusi! masih banyak daerah lain yang jauh lebih parah kondisinya”

“Utamakan dulu pembangunan di nagari Sungai Emas, kampung kita. Jangan lupa! ayah bisa memenangi pemilihan bupati berkat dukungan masyarakat di sana bukan?”

“Wah, jika ayah tidak ’pandai-pandai’. Masih saja ’lurus tabung’ seperti ini, Lusi khawatir ayah bakal diumpat warga nagari Sungai Emas. Tapi, semuanya terserah ayah…,” ketus Lusi, agak sinis.

Sejak dilantik menjadi orang nomor satu di Kabupaten Puding Bertuah, tak satu pun permintaan orang-orang nagari Sungai Emas dikabulkan almarhum. Marajo Kapunduang pernah datang menghadap ke rumah dinasnya. Bermohon kepada pak bupati, agar si Bujang Paik, anak laki-lakinya yang tamatan es te em (STM) itu dapat diterima bekerja sebagai satpam honorer. Permintaan yang sebenarnya tidaklah terlalu berlebihan.

“Daripada menganggur saja, boleh ndak anak saya bekerja di sini pak? Jadi satpam saja cukup lah!” mohon Marajo waktu itu.

“Tentu saja boleh Nduang, tapi anakmu harus mengikuti testing sesuai prosedur yang telah ditetapkan,” jawab bupati, sedikit berdiplomasi.

“Iya pak, tapi saya berharap bapak dapat membantu”

“Jika ia lulus seleksi, pasti akan diterima. Kalau saya bantu, itu artinya kita berkolusi, mentang-mentang kita sekampung. Tidak bisa begitu Nduang!” tegas bupati, seperti hendak mengelak.

Marajo Kapunduang amat kecewa setelah mendengar jawaban pak bupati yang kurang mengenakkan. “Rasanya mau saya tinju saja ulu hatinya, biar mampus!” umpatnya. Betapa tidak? Sikap pak bupati keterlaluan. Seolah-olah Marajo Kapunduang sama sekali tidak punya andil memenangkannya dalam pemilihan. Seakan-akan ia berhasil menduduki kursi empuk bupati semata-mata karena reputasi sendiri. Padahal, tanpa dukungan Marajo Kapunduang dan orang- orang nagari Sungai Emas, ceritanya akan lain. Marajolah orang yang paling sibuk sebelum pemilihan berlangsung, ia pontang-panting mencari bantuan dana kampanye pada orang- orang nagari Sungai Emas yang sukses di perantauan. Sedikit demi sedikit ia kumpulkan, lalu disumbangkan untuk pelbagai keperluan dalam rangka mengangkat seorang putra kelahiran nagari Sungai Emas, sebagai kepala daerah kabupaten Puding Bertuah. Tapi, apa balasan yang telah diberikan bupati pada Marajo? Marajo tidak menuntut yang macam-macam. Hanya meminta agar anak laki-lakinya dipekerjakan sebagai satpam honorer di rumah dinas. Itu saja tidak dikabulkan bupati. Ah, memalukan sekali…!

Almarhum memang sangat berbeda dengan pejabat bupati terdahulu. Warga nagari Taeh (desa kelahirannya) amat membanggakan beliau. Selama menjabat, nagari Taeh yang dulunya udik itu (lebih udik dari Sungai Emas), tiba-tiba saja berubah menjadi kota. Di sana dibangun masjid agung dengan biaya ratusan juta. Tak ada jalan umum yang tidak diaspal beton, jaringan telepon dipasang, jalur transportasi dari dan ke Taeh lancar. Anak-anak muda yang menganggur direkrut menjadi anggota polisi pamong praja, guru-guru yang sudah puluhan tahun menjadi tenaga honorer diluluskan dalam seleksi calon pegawai negeri sipil. Hingga kini, meski tidak menjabat bupati lagi, masyarakat tetap saja mengingat jasa-jasa dan pengabdian beliau, menghormati beliau. Meski sudah pensiun, beliau tetap bupati di hati warga nagari Taeh.

Sayang sekali, almarhum tidak mau bercermin pada bupati sebelumnya. Semestinya beliau memperjuangkan guru-guru honorer di kampung Sungai Emas agar lulus menjadi pegawai negeri sipil. Warga nagari Sungai Emas tentu saja tidak akan melihat bantuan tersebut sebagai praktik nepotisme yang memalukan. Lagi pula, mana ada bupati yang diturunkan dari jabatan hanya gara-gara meluluskan guru-guru honorer dalam seleksi calon pegawai negeri? Tapi, dasar orang jujur, putra daerah Sungai Emas itu tidak mau memperjuangkan orang-orang kampungnya sendiri. Sejak itulah, bupati mulai dimusuhi. Tak dihormati lagi. Bupati dibenci karena ia terlalu jujur. Terlalu lurus, seperti tabung.

Apa boleh buat! Kini, bupati sudah tiada, hanya tinggal nama. Nagari Sungai Emas tetap saja udik dan makin terbelakang. Jalur transportasi dari dan ke Sungai Emas sulit. Jalan-jalan kampung dibiarkan saja rusak parah, tak layak tempuh. Guru-guru tetap saja menjadi tenaga honorer, entah sampai kapan. Anak-anak muda menganggur, tak jelas juntrungan. Judi sabung ayam menjadi permainan undi nasib yang amat menggiurkan. Ironis! Namanya Sungai Emas, seolah-olah ada sungai yang berlimpah-ruah kandungan emasnya. Seolah-olah negeri yang kaya sumber daya alam, padahal setiap hari orang-orang berkeluh kesah karena hidup susah. Banyak anak-anak cerdas terlahir di sana, tapi tak mampu melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Tak ada biaya. Maka, jalan satu-satunya adalah; pergi merantau, mengadu peruntungan ke Jakarta. Ada yang menjadi pedagang kaki lima, tukang jahit, petugas parkir, satpam, kuli bangunan, sebagian ada pula yang mencopet (jika itu dapat disebut pekerjaan).

Genap tujuh hari kematian bupati. Namun, penyelidikan aparat kepolisian belum kunjung berhasil menemukan titik terang tentang sebab-musabab kematian tragis yang meresahkan itu. Tidak ditemukan bekas-bekas penyiksaan di tubuh almarhum, tidak pula penyakit kronis. Kematian yang misterius. Sementara itu, kedai-kedai kopi di seluruh penjuru perkampungan Sungai Emas tak pernah reda dari perbincangan tentang sosok bupati yang sok suci, sok jujur, lurus tabung, tapi kini sudah mati.

“Mestinya ndak usah dibunuh! Diberi penyakit saja sudah cukup lah…,” kata Sutan Pagarah sembari mengaduk-aduk kopi pekat yang baru saja tersuguh untuknya.

“Penyakit apa pula yang sutan maksud?” tanya kak Pi’ah, janda tua pemilik kedai kopi, pura-pura tidak paham.

“Ditambah saja lubang lancirit*)-nya. Ua-ha-ha-ha….”

“Ah, kasar benar kelakar sutan,” balas kak Pi’ah, agak kesal.

Sebenarnya, orang-orang nagari Sungai Emas tidak perlu menunggu penjelasan polisi menyangkut sebab-sebab kematian almarhum bupati. Percuma saja aparat hukum mampu mengusut dan menuntaskan kasus itu. Tak bakal berhasil. Sebab, tabi’at pembunuhan keji itu tidak kasat mata. Lagi pula, di nagari Sungai Emas, musibah kematian macam itu sudah lumrah dan kerap terjadi. Meski diam-diam, hampir semua warga sepakat berkesimpulan bahwa bupati mati karena di-tuba. Dibunuh secara halus melalui kekuatan gaib. Namun, tidak mungkin disebutkan siapa pelakunya. Bila ada yang berani menyebutkan nama pembunuh bupati, itu sama saja artinya dengan bunuh diri. Kenekatan macam itu, hanya akan mengundang musibah baru, kematian selanjutnya, bisa saja jauh lebih mengerikan.

“Siapa lagi yang bakal kita calonkan untuk pemilihan tahun depan, Tuk?” tanya Marajo Kapunduang pada Datuk Rangkayo, sesepuh adat paling disegani di nagari Sungai Emas. Sejenak si Datuk menerawang, seperti mengingat-ingat seseorang sembari mengepul-ngepulkan asap rokok yang hampir memuntung.

“Oh, ada Nduang! Namanya Drs Mustajir Adimin. Putra tertua mendiang haji Adimin Ar-Raji. Kabarnya, kini ia pejabat eselon di Jakarta. Bagaimana menurutmu?” balas Datuk Rangkayo, ganti bertanya.

“O, Iya. Lupa saya. Tapi, orangnya tidak ’lurus tabung’ seperti almarhum bukan?”

“Hmn … kalau yang ini agak lain Nduang. Bila kelak ia memenangi pemilihan, hutan-hutan milik nagari Sungai Emas ini pun bisa dilelangnya. Bagaimana menurutmu?”

“Nah, itu dia yang kita cari selama ini,” jawab Marajo Kapunduang, mulai bersemangat.

“Tapi, bila nanti ia hanya menumpuk kekayaan untuk kepentingan diri sendiri, apa yang akan kita lakukan?” lagi-lagi Datuk bertanya, kali ini sambil bergurau.

“Putuskan saja tali jantungnya….”

Kelapa Dua, 2006

Catatan:

*) Dubur

Written by tukang kliping

23 April 2006 pada 02:01

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: