Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Dendang Perempuan Pendendam

with 2 comments


Laksana gagak lapar, sudah sejak lama aku menunggu kematiannya, untuk mengobati kepedihan hatiku. Dendamku takkan pernah kehilangan isi, meskipun dia masih punya hubungan darah dengan kami. Dia adik Ayah kami semua. Namun, aku ingin melihat jasad Pakde Suto tak bisa dimasukkan ke dalam keranda. Peti matinya beberapa kali harus dibongkar-pasang karena kurang panjang. Dan, di pemakaman, aku ingin menyaksikan kutuk terhadap dia yang merampas tanah keluarga kami yang tak berayah, dengan menggeser pematang secara licik.

Kejahatan itu berlangsung sangat perlahan, seperti tak pernah terjadi. Namun, pematang sawah tak pernah lupa mencatat kelakuan busuknya itu. Pakde Suto telah mencaplok sawah Ibuku dua kali seratus meter bujur sangkar dalam masa hampir empat puluh tahun. Empat puluh tahun!

Dia menelan kekayaan Ibu satu-satunya separtikel lumpur demi separtikel lumpur. Saat menyiangi sawah, dengan liciknya Pakde membiarkan lumpur yang dia lemparkan ke atas pematang melimpah ke sawah Ibu. Diganggang matahari, limpahan lumpur itu lantas mengering, dan dengan begitu menggeser pematang.

Ibu tak mau mengadukan penjarahan itu dalam rapat desa. Juga tak pernah mau mengungkit-ungkitnya dalam percakapan di rumah. Dia selalu berusaha menenteramkan perasaan kehilangan yang bergejolak di dalam hati anak-anaknya. Juga di dalam hatinya sendiri. Dia memilih diam untuk menghindari pertikaian, karena dia tahu, kematian suaminya, Ayah kami, masih saja dianggap sebagai keniscayaan, karena keterlibatan Ayah dalam pematokan tanah para tuan tanah dengan berlindung di balik undang-undang pokok agraria yang berlaku ketika itu. Ketika aku berusia belasan.

Gerimis menyudahi dirinya. Membuat malam membeku sendiri. Emprit ganthil, yang sejak subuh menyayat-nyayatkan isyarat kemalangan, sudah terbang meninggalkan bubungan rumah Pakde Suto. Kudengar suara seperti daun yang gemersik di pekarangan. Kemudian isak tangis yang mengalun dari mereka yang tak kuasa menampik kematian. ”Mengucaplah Suto…!” kata-kata itu diulang berkali-kali, diiringi sedu-sedan, dilantunkan ke kuping Pakde yang meregang dikepung maut.

Raung kematian kemudian menggunung dari rumah Pakde. ”Oh, Gusti….” Para pelayat menyelinap ke ruang tengah, tempat jasad Pakde terkapar. Di jalan terdengar langkah yang tergopoh menuju rumah kematian. Kentongan titir di persimpangan jalan ditalu satu-satu.

Dia sudah mati. Tapi, apakah nasib Ibu kami akan berubah? Kalaupun nanti pematang yang menjarah sawah Ibu sudah digempur, dan Ibu bisa menuai panen di sawah seluas ketika dia baru menikah dengan Ayah, namun sakit hati ini tetap tak terdamaikan. Sakit hatiku, hati kami semua, tidak hanya sebatas pematang itu. Karena Pakde Suto-lah Ayah kami mati bukan dengan jalan sebagaimana halnya dia sendiri menemui maut di ruang tengah rumahnya, tetapi dengan kepala dipenggal dan dicampakkan seperti bangkai tikus.

Takkan terkikis dari ingatanku. Di akhir tahun kekacauan, kebingungan, dan penuh ketakutan, 1965, Ayah tinggal berpindah-pindah, menghindar dari kejaran benggolan-benggolan yang dikirimkan kaum tuan tanah, yang tanahnya dipatok dan dibagi-bagikan Ayah kepada petani tak bertanah. Tentara, dengan diiringi gerombolan pemuda, tiada terhitung berapa kali menggeledah rumah kami seraya membentak dan mengancam Ibu. Penampungan kotoran yang baru dibuat Ayah, dituduhkan tentara sebagai lubang penguburan manusia.

Suatu malam, Ayah menginap di rumah Pakde Samin. Paginya, setelah Ayah berangkat entah ke mana, Pakde Suto mendatangi rumah adiknya itu dan mengancam, ”Kalau koé lain kali berani menyimpan Paijan, koé akan kubunuh!” Siangnya, tentara menggedor rumah Pakde Samin, dan dia digelandang ke dalam jip. Di markas tentara dia disiksa hingga beberapa kali tak sadarkan diri. Dia selamat dari maut setelah menceritakan bahwa dari rumahnya Ayah berangkat ke Semarang, berjualan kacang tanah di salah satu pasar di kota itu. Selang beberapa hari kemudian, dua jip tentara datang membawa ketakutan yang mencekam. Dengan cara yang sangat menghinakan, mereka mendorongkan Ayah yang matanya tertutup kain merah, turun dari jip. Ayah dipertontonkan di depan rumah Pakde Samin, dan orang sedesa diperingatkan tentara yang mengacungkan pistol, ”Barangsiapa yang berani menyimpan orang macam ini, mati!”

Ayah diarak ke rumah kami. Kesembilan penghuni rumah dipaksa keluar. Ah, betapa pedih melihat Ayah dengan tangan terikat ke belakang, mata tertutup. Ibu, sambil menggendong adikku yang terkecil, dan kami anak- anak yang lain, hanya merunduk menatap kerikil-kerikil kecil di pekarangan, mencari kekuatan di situ, tak kuasa melihat orang yang kami cintai diperlakukan sebagai seorang yang bejat.

Berminggu-minggu kemudian, sampailah berita yang tak bisa dipastikan kebenarannya, tapi karena Ayah tak pernah kami lihat lagi, maka kami memercayai kabar burung itu. Konon, Ayah digiring ke atas jembatan yang menghubungkan kedua tebing Bengawan Solo. Di bawah todongan pistol, Ayah diperintahkan bersujud, mata tertutup. Begitu dia dibentak supaya duduk kembali, dan manakala dadanya belum tegak benar, seorang pemuda melayangkan sebilah parang panjang ke tengkuknya, dan kepala Ayah, (Oh, Tuhan… aku takkan bisa memberikan ampun kepada mereka yang terlibat dalam pembantaian tiada tara dosanya itu!) kepala Ayah terpelanting ke bawah, dan dengan cepat tubuhnya ditendang menyusul kepalanya yang lebih dulu mencebur…. Ah, pantaskah sebuah peradaban memberikan ajal serupa itu kepada Ayah kami?!

Ibu, kami anak-anak, sembunyi-sembunyi membeli bunga ke pasar, supaya tak ada orang desa yang melihat, dan kami pergi ke jembatan di mana Ayah kami yakini menemukan kematiannya. Kami larungkanlah bunga yang kami bawa agar aromanya membuat semerbak dunia di mana Ayah sekarang berada. Bunga-bunga itu mengambang, cepat dilarikan arus, mencari Ayah, kami kira.

Tak pernah kubayangkan ziarah akan mencambuk hidupku. Setelah menikah, suamiku mengajak aku ke kampung kelahirannya di Sumatera. Dituntunnya aku berziarah ke makam orangtuanya. Sepulangnya dari ziarah di pulau seberang itu, dia mendesak, mengapa aku tak pernah bertanya, bukankah dia juga ingin berziarah, meminta berkah, ke makam Ayahku. Bukannya tak kuberitahukan kepadanya bahwa Ayahku mati terbunuh pada tahun yang membingungkan, menakutkan. Tak punya kuburan, tak punya nisan. Suamiku menjawab dengan kata-kata bersayap, mengharukan. Dia, katanya, takkan pernah menyesal memperistri aku bagaimana hina pun Ayahku menemukan ajal.

Begitulah. Dia kuajak menemui Ibuku di desa. Sebelum menuju bengawan, kami terlebih dulu berziarah ke makam kakek-nenekku. Dia terpesona menyaksikan kuburan di pinggir desa itu, di mana salib dan nisan berbaur. Sesuatu, yang katanya, tidak bakal ditemukan di Aceh sana. Katanya, sepantasnyalah nisan Ayahku berada di tengah pemakaman itu, makam yang mempersatukan manakala orang memaknai agama untuk memecah belah.

Ketika tiba di jembatan tempat Ayah dipancung, suamiku berjalan dengan teguh di sampingku. Cuma, ketika kami menuruni tebing, menghampiri bengawan, beberapa kali dia tertegun. Mengikuti aku, dengan tangan gemetar, dia taburkan bunga ke permukaan bengawan. Setelah itu, kami pulang, dan, Oh Tuhan, itulah akhir perkawinan kami. Walaupun tidak dikatakannya, aku tahu nisan bagi suku bangsanya adalah tanda bagi pokok kehidupan satu keturunan. Tanpa itu, ada semacam nista yang akan selalu melekat. Diperparah lagi dengan kenyataan bahwa setelah perkawinan kami yang memasuki tahun kelima, dan aku belum hamil juga, maka lengkaplah alasan suamiku untuk dengan baik-baik meminta maaf, karena dia terpaksa pergi meninggalkanku.

Pukul dua siang sekarang. Sama seperti ketika menjemput maut, maka pada saat jasad Pakde Suto diberangkatkan ke pemakaman pun, gerimis mendesah dari langit.

Peti matinya diusung menuju pemakaman, dua ratus meter ke arah bengawan.

Angin yang menerabas gerimis membisikkan ke kupingku tentang awal dari keributan di antara penggali liang kubur. Suara-suara itu kemudian semakin nyata. ”Turunkan dulu. Letakkan di tanah. Gali lagi tanah di sebelah kepala…” Pacul, linggis, bertubi-tubi ditancapkan ke tanah. ”Coba angkat! Letakkan! Cukup…?” kaki-kaki berkecipak di tanah liat. Bagian kaki dari liang lahat itu sekarang dapat giliran digali, diperlebar, membukakan gerbang petala bumi bagi sesosok jasad yang sedang menelan sumpah. Kedua sisi, dari mana mayat akan diluncurkan, juga dicangkuli, diperlebar nganganya. Setelah berkali-kali liang itu diperbesar, dan peti mati tetap saja tak bisa diturunkan, maka mendengunglah keputusasaan: ”Gusti… Engkau yang maha pengampun, maafkanlah umatmu ini. Tunjukkan apa yang harus kami lakukan. Tolong, terimalah saudara kami ini….” Keranda diangkat dan diamangkan lagi di mulut liang lahat yang sudah diperlebar. Sia-sia.

”Sudah berapa kali kami menggali, tapi tak bisa juga, Gusti…! Ingin berapa kali lagi Gusti? Ampun… ” Bingung, juga panik, sarat di wajah para pengantar, terutama mereka yang menggali berlumur tanah.

Dua orang pengantar jenazah melepaskan diri dari kebingungan dan kecemasan yang mengerubung di mulut liang lahat. Mereka bergegas ke perempatan jalan desa. Seperti mengutuk diri sendiri, mereka berbicara dengan keras ke arah sekeliling. ”Ampun…. Barangsiapa yang pernah dirugikan Pakde Suto, sudilah kiranya memaafkan. Ampunilah, biar Gusti mau menerimanya.”

Kuhela nafas. Dari celah dinding tepas, kulihat sekelompok perempuan merapat ke rumah. Ibu keluar menemui mereka di beranda. Kudengar kata-kata permohonan yang mereka ucapkan dengan nada begitu rendah, seperti berbisik, mengiba-iba, diiringi isak-tangis. Dengan kepala tertunduk, perempuan-perempuan itu kemudian menarik diri.

”Las…,” bujuk Ibu lunglai di bendul pintu kamarku. ”Orang-orang menunggumu di pekuburan,” katanya menunduk. Aku tahu dia ingin aku yang datang ke tengah kerumunan orang yang kebingungan untuk membukakan pintu maaf buat mayat seorang musuh yang masih sedarah dengan Ayah. ”Kami pasrah. Kau yang jadi kunci. Kalau kau maafkan, orang sedesa akan tahu siapa kita.” Kata-kata Ibu itu membuatku melangkah menyibak gerimis.

Laki-laki yang memonopoli kehormatan tunggal dalam mengantar jenazah, terpaksa mendobrak adat kebiasaan, menguak membukakan jalan untukku. Aku maju dengan dada tegak, mendekati peti mati, meminta pengusung jenazah membukakan tutup keranda. Dengan jijik kucabik kafan penutup muka Pakde Suto, dan dengan sebal, ”cuih…,” kusemburkan ludahku ke mulutnya. Kain kafan kubebat kembali menutup wajahnya yang pucat kehitaman, beku.

Aku membalik, meninggalkan jejak di tanah basah. Beberapa saat kemudian, kudengar lenguh nafas lega serta gemuruh gumpalan tanah menghujani peti mati yang sudah tertidur di dasar kubur.

”Jeng, atas nama jenazah dan keluarganya, kami minta maaf kepadamu.” Itu diucapkan beberapa orang dari keruman manusia yang kupapasi.

Aku cuma membatu, terus menjauh. Terlalu pendek waktu untuk mempertimbangkan sebuah maaf. Karena terlalu lama aku memendam dendam ini….

Written by tukang kliping

22 Januari 2006 pada 08:41

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

2 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. keren..Selalu suka dengan cerpen karya Martin Aleida..

    Sugi Haryanti

    9 Mei 2014 at 12:39

  2. wahhh bener-bener puas bacanya..

    tsanya

    9 Januari 2016 at 09:55


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: