Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Garis Cahaya Bulan…

leave a comment »


Sorga itu ada di sini. Kalau kau tak percaya, sesekali datanglah ke mari. Kau akan melihat dan merasakannya sendiri. Aku yakin, kau akan mengatakannya sebagaimana aku mengatakannya padamu.

Ya, sorga itu ada di sini. Di pinggiran kali berwarna cokelat, dengan rumah-rumah kardus atau tripleks, dihiasi jemuran pakaian lusuh di sana-sini, melambai-lambai ditiup angin.

Aku sendiri tak mengerti, bagaimana mungkin bisa sampai di tempat ini. Hampir tiga hari aku berjalan, mengendap-endap, melirik kalau-kalau ada sepasang mata yang mengikutiku. Hampir tiga hari ini semua kulakukan dan … ya, sebagaimana yang kukatakan tadi, aku menemukan sorga itu di sini.

Hidup inilah yang memilih kita. Jangan dibalik, kita tak pernah bisa memilih hidup kita. Jangankan hidup, lahir di rahim siapa pun, kita tak pernah bisa memilih. Kita ditentukan, dan manakala kau mengeluh, atas apa yang kau dapatkan, itu pun tak sepenuhnya salah. Tapi, siapakah yang akan membelamu jika kau mengeluh dan mempertanyakan keadilan? Tidak ada. Tak seorang pun. Oleh karenanya, kawan, lebih baik nikmati sebatang rokok kehidupan ini, tanpa mempersalahkan siapa pun.

Hujan yang turun, di tengah panas terik, sudah biasa terjadi. Tak ada yang aneh di sana. Mungkin dulu sebagai pertanda akan adanya musibah, tetapi saat ini, apakah yang tak bisa kita sebut musibah?

Perintah itu datang begitu saja. Dan dengan enaknya, perintah itu bertengger di pundakku. Begitu saja. Dialah yang memilihku. Apakah aku bisa mengelak? Tidak. Aku tidak bisa mengelak, karena semua sudah ada yang mengatur. Mengelak berarti melompat dari rel, dan melompat dari rel berarti hancur. Aku tak mau hancur. Usiaku masih belum tiga puluh tahun. Aku masih bisa membangun hidupku. Aku tak mau mati sia-sia, konyol dan tak sempat melakukan sesuatu; menziarahi kubur ibuku, misalnya.

Aku harus menjalankan semua yang diperintahkan, persis sama dengan instruksi yang tertulis di lembaran kertas bersegel itu. Jika tugasku selesai, maka 50 persen fee yang disebutkan di kontrak itu langsung diguyurkan ke rekeningku. Ah, mudah sekali mendapatkan uang banyak. Ikuti perintah, dan semuanya beres.

Tunggu dulu, jangan kau pikir aku akan membunuh seseorang. Tidak. Itu pekerjaan kotor. Aku tak akan membiarkan tanganku berlumuran darah. Menjijikkan. Maaf, mungkin aku memang kau kenal sebagai bajingan, tetapi… aku bukan pembunuh. Jangan salah, aku bisa membunuh, kalau aku mau, tetapi, tidak kali ini.

Tugasku sederhana saja: mengikuti ke mana perginya seorang bayi. Gampang, bukan? Ha-ha-ha… kau salah sama sekali. Sekali ini, kukatakan padamu bahwa kau sedikit bodoh. Ah, maaf terlalu kasar kalimatku. Begini saja, kau sedikit lebih pintar daripada keledai… ha-ha-ha-ha….

Bayi. Bayi merah. Bayi merah yang baru saja dilahirkan di rumah besar itu (maaf, aku harus merahasiakan orang yang memberiku kehidupan). Bayi itu, sebagaimana mungkin yang kau duga—kali ini kau jenius—adalah hasil madu gelap antara nyonya rumah dan kekasihnya. Jangan kau tanyakan siapa mereka—tak penting, dan aku tak bernafsu menceritakan aib orang lain.

Yang penting bayi itu lahir dan harus menyingkir, karena si tuan rumah yang sudah lebih dari setahun tak pulang-pulang itu, mendadak akan pulang. Bayi yang cantik, bersih dan menawan hati, tetapi tak diinginkan kehadirannya di rumah besar itu.

Beberapa orang kepercayaan si nyonya rumah yang umurnya baru 23 tahun itu, menasihati agar anak itu diberikan pada orang lain saja. Tetapi nyonya rumah hanya menggeleng. Tentu saja dia tak ingin aibnya ketahuan suaminya, karena dia bisa saja dicerai dan kembali hidup sebagai orang miskin. Hmm… pandangan yang wajar saja, kurasa.

Salah seorang, entah siapa, tiba-tiba teringat akan kisah Musa—ah, terlalu religius kurasa, dia. Belum selesai dia berkata, seorang yang lain menyambungnya dengan kisah Karna—anak Kunti di Mahabarata itu. Jujur saja, aku muak, tetapi bukan urusanku mempertimbangkan semua itu.

Maka, demikianlah. Bayi itu kubungkus dengan kotak kayu yang lumayan jelek, tentu saja aku selimuti, kuberikan sebotol susu, lalu aku letakkan di sudut jalan. Dari jarak tertentu aku mengawasinya. Aku khawatir bayi itu dimakan anjing. Kalau aku mau, bayi itu bisa saja kulempar ke sungai dan mengatakan pada nyonya sialan itu bahwa anaknya sudah dipungut orang, dan semoga saja dia berbahagia selamanya.

Tetapi, entah mengapa aku tidak bisa melakukan itu. Ada sesuatu yang mencegahku melakukan pembunuhan. Sesaat sebelum kutinggalkan dia di sudut jalan itu, aku sempat mengamati wajahnya yang jernih. Tidur lelap tanpa perasaan apa-apa.

Sepi sekali di sekitarku. Hening sekali perasaanku. Siapakah aku, jika mau melakukan perbuatan sejahat itu pada bayi yang bahkan belum bisa melihat apa-apa itu?

Kau tentu berpikir, mengapa tak kupelihara saja bayi itu—Ooo… tidak, tidak.. aku tak ingin menjadi juru rawat. Umurku masih belum tiga puluh, bayangkan jika itu terjadi dan … ah, sudahlah, jangan pernah berpikir tentang itu padaku.

Begitulah, baru saja rokok hendak kunyalakan, ekor mataku menangkap seseorang dengan keranjang di punggung, jongkok di kotak bayi itu. Kuhentikan semua kegiatanku dan mulai menyimak apa yang akan terjadi. Bisa jadi dia orang gila, yang akan membunuh bayi tak berdosa itu. Bisa jadi dia merasa menemukan daging gratis dan akan membuat bayi itu sepotong daging rebus untuk makan malam. Semua itu mungkin bagiku. Aku tahu apa yang akan kuhadapi. Kalau itu yang akan terjadi, maka sebutir timah panas ini akan membuatnya gelap selama-lamanya.

Bayi itu dipungutnya. Digendongnya dengan sukacita. Dia menoleh ke kanan-ke kiri dan rupanya tak melihat siapa-siapa, kecuali gelandangan mabok yang bersandar di bangku taman. Dari sana, dibawanya bayi itu ke sarangnya. Dan aku—mau tak mau, mengikutinya dari jarak tertentu. Dengan pakaian kumuh dan wig sialan ini (bikin gatal kepalaku), juga kantung-kantung plastik yang kujadikan hiasan tubuhku ini, lengkaplah kegilaanku mengikuti ke mana si bayi dibawa.

Si bodoh itu tak menyadari juga kehadiranku. Dia tiba di gubuknya, di pinggiran kali ini, tepat ketika matahari tenggelam. Aku duduk di antara sampah dan bau busuk, hanya untuk menyelidiki apa yang akan terjadi di gubuk kardus dan tripleks itu.

Kubayangkan, besok pagi dia akan digendong oleh istri gembel busuk itu, lalu dibawanya ke perempatan jalan untuk memeras belas kasihan manusia-manusia bermobil itu. Atau, lebih buruk lagi, bayi itu akan disewakannya kepada perempuan lain, untuk pemerasan yang sama. Tidak, sebaiknya mereka tidak merencanakan itu, karena jika sampai itu terjadi—bila malam ini kudengar kata-kata itu, akan kuhabisi mereka semuanya.

Aku tersentak oleh gelak tawa dari gubuk itu. Tidak hanya laki-laki, tetapi juga perempuan… dan anak-anak. Mereka gembira. Mereka bahagia, bahkan kudengar mereka berebutan memberi nama pada si mungil. Tangisan si kecil membuat mereka kian bahagia. Sempat kudengar ada suara anak kecil, bahkan lidahnya belum fasih mengucapkan ”r”, mencoba menguasai keadaan dengan teriakannya yang lantang, bahwa dialah yang paling berhak memberi nama si adik kecil.

Adik? Aku tersenyum di tengah sampah. Bulan di atas sana membulat putih, bagai piring perak, membentuk garus-garis cahaya di permukaan daun, air, gedung, bahkan sampah. Sejenak terlintas ingin melongok ke gubuk itu, penasaran apa yang terjadi di sana. Tetapi, tentu saja kuurungkan, karena itu akan mengganggu kegembiraan mereka.

Pagi itu, aku duduk di ruang tunggu. Lantai marmer menelanku dalam kesendirian. Kopi sudah separo kuhirup. Aku hanya melaporkan apa yang terjadi dan selesailah semuanya.

Detak sepatu mengisi sunyiku. Asisten si nyonya datang. Tanpa bicara dia menatapku. Aku pun tahu, lalu menyebut siapa dan di mana bayi itu kini berada. Ada senyum tersudut di bibir. Begitu tajam rasanya di mataku. Entah mengapa aku muak melihatnya begitu. Siapakah dia yang mampu tersenyum setajam itu.

Aku beranjak, setelah menerima sesuatu.

”… semoga sudah masuk hari ini,” ucapnya dingin tentang sisa fee yang akan kuterima. Aku tak peduli. Aku mulai gelisah karena amplop itu berarti tugas lagi.

Malam ini, masih bisa kusaksikan bulan purnama. Bulat penuh. Bercahaya penuh. Langit tanpa awan, bersih. Aku membayangkan bayi itu tengah disusui ibu angkatnya—seorang perempuan yang mungkin sudah punya anak tiga atau empat. Seorang perempuan yang bersuamikan gelandangan. Seorang perempuan yang tak mampu menentukan nasib, dan tergilas zaman, teronggok di balik gubuk tripleks di tengah sampah. Tetapi, dengan semuanya, dia masih memiliki kasih sayang, yang saat ini digelimangkan kepada si bayi merah itu.

Siapakah orang-orang itu? Aku bahkan tak mengenalnya. Hidupku membuatku harus tak mengenal wajah siapa pun, karena memang tak penting. Hidupku membuatku harus terbebas dari segala ikatan.

Kubayangkan, betapa bahagianya si kecil itu. Dia memiliki keluarga. Dia dilahirkan dari rahim yang tak menghendakinya, yang menganggapnya ancaman, kesialan, namun dia akan dibesarkan oleh kegembiraan yang tulus dari penghuni rumah tripleks itu.

Yang aneh, mengapa semuanya harus kusaksikan? Tak pernah terbayangkan bahwa ini adalah sebuah kisah yang harus kujalani. Kujalani? Bukankah ini sebetulnya kisah si bayi? Mengapa aku merasa terlibat? Mengapa dia mampu membagi dan aku sanggup merasakan kebahagiaan bayi itu? Aku belum pernah mengalami hal semacam ini.

Tidak. Tidak mungkin. Ruang apartemenku harum. Lampu penerangnya kuatur dengan komputer. Aku mampu menikmati apa pun yang kuinginkan, jadi tak mungkin—seharusnya—aku menyisakan ruang untuk orang lain. Tetapi, ah, wajahnya, tangisnya, dan tiba-tiba aku menilai bahwa nasibnya sunguh aneh.

Ini aneh, karena aku bisa menilai keanehan yang menimpa orang lain.

Aku terbangun oleh dering telepon. Kepalaku masih berat. Sekilas kulihat beberapa botol minuman menganga, tergeletak di meja dan di karpet. Alkohol menebar. Aku tak bisa melupakan hantu yang mulai menerjang hidupku. Apalagi ketika pembicaraan dari telepon terdengar, kepalaku rasanya mau pecah.

Aku banting telepon itu. Masih terngiang sisa ucapan seseorang dari seberang sana. Dia tertawa penuh kemenangan, karena meskipun aku menolaknya—ini aneh sekali, aku bisa menolak permintaan, kali ini—orang lain tetap melakukan tugas itu. Dan sudah terlaksana.

Sudahlah, kau tak akan mengerti apa yang terjadi dengan hidupku. Maafkan, mungkin aku memang tak bisa menguraikannya secara detail, karena mungkin memang tak ada gunanya bagimu.

Aku duduk di tengah sampah ini, di pinggiran kali ini. Sunyi. Gelap. Dan seperti kataku, ini adalah sorga. Di tempat ini melimpah kebahagiaan. Di tempat ini, bergelimang kasih sayang dan gelak tawa yang tulus. Aku pernah menyaksikannya, merasakannya dan karenanya aku berani mengatakan padamu bahwa inilah sorga itu.

Kurebahkan diriku di sisa sampah yang harum ini. Aroma sangit pembakaran. Kubayangkan bulan. Kutanyakan apa yang disaksikannya di sini, kemarin malam. Kurasa dia tak akan sanggup menceritakannya. Ya, kemarin malam, di sini, di pinggiran kali ini, semua penghuni gubuk merayakan pesta. Mereka menyaksikan bunga api yang sangat besar, menjilat dan menari-nari di rumah-rumah mereka. Bantaran kali ini akan dijadikan taman rekreasi yang indah. Semua sampah harus dibersihkan.

Semua sampah harus dibersihkan, dan kini menyisakan kesepian yang menusukku.

Kapan-kapan, jika kau ada waktu, cobalah ke tempat ini.

Ini sorga, dulu.

Bukit Nusa Indah, 982

Written by tukang kliping

8 Januari 2006 pada 08:54

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: