Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Pao An Tui *1

with 5 comments


Keng Hong terkulai lemah di depan jasad anaknya. Tubuh dan pikirannya sangat letih setelah melakukan perjalanan jauh selama dua hari dua malam. Dari balik kain penutup jasad, dilihatnya darah masih merembes membasahi bawah dipan. Ada tujuh tusukan yang bersarang di tubuh anaknya. Remaja tanggung itu telah meninggal sejak semalam. Istrinya, Ling-Ling, sedari semalam terus menangisi jasad anaknya yang membujur di atas dipan. Kedua anaknya yang masih hidup, A Cong dan Beng Sin, ikut-ikutan menjerit di samping ibunya.

Tak ada seorang pun tetangga yang melayatnya. Ia baru saja menjejakkan kaki di Kembang Jepun2 ini setelah selama hampir dua hari merangkak-rangkak di antara desingan peluru dan menyelinap menghindari laskar-laskar perjuangan yang anti-orang-orang kuning dan bermata sipit seperti dirinya. Revolusi kemerdekaan benar-benar membara di seluruh pelosok negeri. Korban berjatuhan. Tak jarang di antaranya adalah korban-korban kesalahpahaman belaka. Ia tak tahu kapan situasi perang akan berhenti.

Keng Hong mengembuskan napas panas dari hidungnya berulang-ulang. Asap hio menyengat. Ada dua saudara iparnya yang ikut menunggui rumah sejak kejadian semalam di samping istri dan anak-anaknya. Didekatinya Ling-Ling yang berurai air mata. Tangannya gemetar mengelus kepala istrinya. Rambutnya kusut, sebagian menutupi wajahnya.

”Sudahlah, Ling. Jangan menangis terus-menerus. Relakan kepergian Siong. Tuhan akan menerimanya di surga,” katanya.

”Kenapa kau tega membiarkan ia mati, Suamiku? Siong, gantunganku bila kau tak ada, mati di tangan bajingan-bajingan yang mengaku laskar perjuangan itu,” teriaknya sambil menggerung-gerung.

Sin Liong masuk ke ruangan bersama Hong San. Muka mereka pun pucat karena sejak semalam belum memejamkan mata barang sedikit pun. Keng Hong melirik kedua adik iparnya.

”Kita harus menguburkan Siong secepatnya sekalipun perlengkapan penguburan tidak lengkap. Situasi darurat harus dihadapi dengan cara-cara darurat,” kata Keng Hong.

”Lalu apa yang harus kita lakukan kemudian?” tanya Sin Liong. ”Orang-orang yang berkedok membela Republik itu sampai sekarang belum diketahui laskar mana. Kita terjepit di antara dua kekuatan besar.”

”Sudahlah, kita pikirkan nanti saja. Sekarang kita harus menguburkan A Siong cepat-cepat. Aku tak mau Ling-Ling terus-terusan menangisinya. Bagaimana kalau kita kuburkan di halaman belakang rumah,” kata Keng Hong. ”A Cong, kau pergi ke tempat Paman Cia. Suruh dia membungkus mayat dan mendoakan arwah A Siong agar diterima di surga. Dia orang baik, tentu mau menolong kita. Jangan menangis terus. Kau sekarang menjadi anak tertua. Jangan cengeng!”

Ketiga orang itu kemudian pergi mengambil cangkul dan mulai mencari tempat yang tepat untuk menguburkan jenazah. Matahari bulan Desember hilang entah ke mana. Hujan terus turun sejak semalam. Sekarang, meskipun tinggal rintik-rintik, air masih menggenangi halaman belakang. Keng Hong mencangkul tanah basah, seolah lupa kalau kepenatan telah menghajar sejak dua hari yang lalu. Setelah empat jam menggali tanpa henti, akhirnya lubang sedalam lebih dari satu meter itu berhasil dibuat. Sin Liong terpaksa memindahkan air dari lubang terus-menerus untuk memudahkan penggalian. Paman Cia menggotong mayat A Siong keluar diiringi tangisan Ling-Ling. Akhirnya tubuh remaja tanggung itu dibenamkan ke tanah dalam suasana hujan rintik-rintik.

Malam. Empat orang duduk di atas meja bundar setelah tadi berdoa bersama di depan altar sederhana yang dipersiapkan Keng Hong. Wajah-wajah mereka muram. Sedangkan Ling-Ling terus mengusap kelopak matanya yang bengkak. Pelupuk mata yang sipit semakin menyembunyikan bola matanya yang kecil.

Dengan kalimat terbata-bata, ia bercerita tentang kematian A Siong lebih detail. Kadangkala dibantu oleh Hong San yang datang satu jam setelah terbunuhnya A Siong. Semalam, hampir lima orang tak dikenal mendatangi rumah Keng Hong, menanyakan apakah lelaki itu ada di rumahnya atau tidak. A Siong yang pertama kali membukakan pintu. Di belakangnya Ling-Ling mengikuti dengan tubuh gemetaran. Ia selalu ketakutan bila ada orang asing datang ke rumahnya. Tapi A Siong mewarisi keberanian ayahnya. Ia menjawab ayahnya tidak ada. Kalau ada apa-apa, ia bisa mewakili ayahnya. Kelima orang itu bertanya apakah ayahnya terlibat Pao An Tui atau tidak, apakah ia pergi untuk membela Republik atau KNIL. Sayangnya A Siong yang pemberani itu berkata sedikit ketus kepada kelima orang itu.

”Ayahku selamanya membela Republik. Ia lahir di sini. Dan mati pun di sini. Tak sudi ia membela orang-orang Belanda itu. Ayahku teman baik Oei Kim Sin, pendiri Pao An Tui,” kata Ling-Ling menirukan suara A Siong.

Setelah A Siong mengucapkan kalimat terakhirnya, tiba-tiba salah satu dari kelima orang itu menarik dan menusukkan parang yang disembunyikan di selangkangannya. Ling-Ling melolong-lolong. Lebih enam kali orang itu menusuk A Siong, sampai remaja tanggung itu menjelempah di lantai. Setelah korbannya ambruk, mereka kabur dari tempat itu. Ling-Ling pingsan melihat darah berceceran melumuri tubuh anaknya. Kedua adik A Siong keluar dari kamar, ikut melolong-lolong melihat tubuh A Siong.

”Aku datang terlambat. Entah kenapa aku ingin datang ke rumah Kakak Ling sejak sore. Tapi teman-teman di pos penerimaan bantuan ransum untuk Republik menahanku. Aku datang satu jam setelah pembunuhan itu,” kata Hong San dengan wajah penuh sesal.

”Kita memang serba sulit. Orang-orang di Jakarta dan kota besar lain ramai-ramai membicarakan nasib babah-babah kaya yang rumahnya terus dijarah. Dan kita merelakan diri menjadi kacung Pao An Tui. Sementara mereka, babah-babah kaya itu, yang menyandarkan nasib hartanya pada Pao An Tui tak pernah memikirkan nasib orang- orang miskin seperti kita, walaupun kita loyal terhadap Republik. Menjengkelkan kalau dipikir-pikir,” kata Sin Liong dengan nada menyesal.

”Aku masih heran kenapa laskar-laskar itu menyerang kita, kaum peranakan Cina miskin. Lagi pula mereka mestinya tahu siapa aku,” kata Keng Hong sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Berkali-kali ia duduk dan berdiri, resah. Matanya menyelundup keluar, menembus dinding dan menerawang ke angkasa yang gelap.

”Puh, kau tidak tahu, Kakak. Sudah tersebar desas-desus Pao An Tui membela Jenderal Spoor3. Lihat saja buktinya, orang-orang seperti Babah Can itu setiap hari hilir mudik bersama-sama KNIL. Padahal ia menyatakan dirinya di depan banyak orang membiayai Pao An Tui,” jawab Sin Liong kesal.

Keng Hong mengangguk. Memang benar, bukan hanya di Surabaya isu itu berembus. Di Semarang dan Jakarta isu itu pun lebih santer. Kabarnya KNIL memaksa beberapa orang petinggi Pao An Tui untuk memihak Belanda. Dan ia memang tahu sendiri iblis-iblis bermuka dua di organisasi keamanan kota itu. Ia mengenal baik Oei Kim Sin, teman masa kecilnya yang telah berjasa besar menyelamatkan orang-orang China seperti dirinya, baik yang kaya maupun yang miskin. Mereka berteman baik sejak kecil, meskipun ayah Keng Hong bekerja menjadi pembantu di rumah keluarga Oei yang kaya raya. Ia tahu seperti apa kesetiaan Oei pada Republik.

”Kabarnya rumah Babah Can dan beberapa orang kaya di Kembang Jepun ini dijaga orang-orang bayaran KNIL.”

”Benar, aku tahu sendiri ada opsir KNIL bertandang ke rumah Babah Can tiga hari yang lalu,” kata Hong San yang dari tadi diam saja.

”Lalu bagaimana kunjunganmu di Thay Kak Sie4? Apakah keluarga kita di sana baik-baik saja?” tanya Sin Liong.

”Orang-orang kita di Semarang lebih beruntung. Mereka jumlahnya lebih banyak daripada Surabaya, dan tidak banyak terpencar-pencar. Penjagaan keselamatan hidup mereka lebih mudah.”

”Kabarnya tuan Perdana Menteri Syahrir berkunjung ke tempat kediaman Seng Kun, kepala Pao An Tui Semarang?”

”Benar. Yang Mulia Perdana Menteri teman baik Seng Kun selama gerakan bawah tanah. Ia malahan memberikan bantuan untuk gerakan kita.”

”Tak ada musuh dalam selimut? Orang-orang bermuka dua itu yang menyebabkan bencana orang kecil macam kita ini. Akibatnya pembunuhan besar-besaran seperti yang terjadi di Karawang dan Surakarta. Kita selalu menjadi kambing hitam dalam segala hal,” kata Hong San.

Seseorang mengetuk pintu. Keempat orang yang sedang terlibat pembicaraan tersebut saling pandang satu sama lain. Sin Liong yang berdiri dekat pintu hendak meraih selot pintu, tapi ditahan Keng Hong.

”Siapa?!” bentak Keng Hong.

”Aku, Mei Lan, Kakak Hong. Bukalah pintunya,” jerit perempuan di luar pintu. Sin Liong langsung meraih selot pintu dan membukanya.

”Untuk apa kau kemari? Bukankah sudah kupesan sebaiknya kau tidur saja malam ini?!” kata Sin Liong gusar melihat istrinya yang basah kuyup menerobos hujan.

”Aku takut di rumah sendirian. Semua cahaya di rumah kumatikan. Tadi baru saja ada orang mengintip,” kata istrinya sambil menggigil. Anaknya yang berusia sepuluh tahun kelihatan menggigil. Ling-Ling masuk ke rumahnya dan mengambil pakaian Tian-Tian yang seusia dengan anak Sin Liong.

”Kau gantilah pakaianmu. Masuklah, tidur di sini, temani kami,” katanya dengan suara parau.

”Sekarang apa yang harus kita lakukan, Kakak Hong?” tanya Hong San. ”Kita mesti menyelidik siapa yang membunuh A Siong. Nyawa harus dibayar dengan nyawa.”

Keng Hong tertawa samar dan kecut. Ia teringat dengan korban-korban seperti A Siong di Surakarta dan Karawang5. Tidak hanya puluhan, tapi ratusan, terbunuh sia-sia. Apakah ia harus menuntut nyawa anaknya? Revolusi memang makan banyak korban. Ia telah tercebur ke dalamnya. Dan sekarang revolusi yang diceburinya telah meminta nyawa anaknya. Ia tak akan menuntut balas dendam tak bermata seperti itu.

”Tidak, aku tak mau melakukan pengusutan lebih lanjut,” katanya pelan.

”Kau memang terlalu baik hati terhadap orang-orang Republik. Anakmu sendiri menjadi korban, dan kau diam saja,” kata istrinya sambil terisak, meninggalkan mereka. Suara tangisannya pecah, meresahkan malam yang basah.

”Ketua Pao An Tui di Surabaya telah memberikan perintah pada kita. Menurut mata-mata yang kita selundupkan ke rumah Babah Can, dan menguping pembicaraan opsir KNIL itu, dalam hitungan beberapa hari ke depan akan ada operasi militer besar-besaran oleh Belanda. Jenderal Spoor ingin Republik hancur secepatnya,” kata Hong San.

”Aku juga sudah tahu desas-desus itu. Tapi orang-orang Republik menganggap berita itu angin lalu saja. Di Semarang, kita telah membagi dua kekuatan. Sebagian untuk melindungi orang-orang kita dan yang sebagian lagi mempersiapkan logistik Republik untuk pertempuran kota dan mempermudah jalur pengiriman logistik ke desa-desa dalam perang gerilya,” kata Keng Hong. ”Sebenarnya hari ini aku diperintahkan oleh Ketua Pao An Tui Semarang menyampaikan surat untuk Ketua Pao An Tui Surabaya. Tapi aku sangat lelah. Lebih baik kutangguhkan besok pagi.”

”Kakak beristirahatlah. Aku akan di sini sampai pagi. Besok kutemani Kakak ke rumah ketua,” kata Hong San. Ia melonjorkan kaki di atas dipan. Sementara Sin Liong menggelar tikar, lalu menelentangkan tubuhnya di lantai.

Malam turun semakin sunyi.

Entah kenapa Keng Hong tak langsung memejamkan matanya. Padahal selama dua hari tiga malam ini ia tidur ayam. Firasatnya tak enak. Hong San telah mematikan semua lampu untuk memudahkan penglihatannya ke luar rumah. Bayangan wajah A Siong bermain-main di kepalanya. ”Kau telah menjadi tumbal untukku, Siong. Dan tumbal kaum kita. Tumbal revolusi kemerdekaan Republik. Mimpi orang-orang kecil macam kita. Aku bangga memiliki anak sepertimu. Sayang Tuhan memanggilmu sangat cepat,” katanya dalam hati. Pikirannya terus mengembara ketika ia merasakan tangan Hong San menyentuh tubuhnya.

”Kakak, ada seseorang mengendap-endap di luar. Apa yang harus kita lakukan,” bisik Hong San.

Keng Hong menghunus pedang yang selalu menemani tidurnya. ”Bangunkan Sin Liong,” katanya.

”Sudah. Dia menunggu di samping pintu,” jawab Hong San.

”Mereka benar-benar meneror kita.”

Keng Hong mendekati pintu depan. Sin Liong membungkuk mengamati orang di luar rumah.

”Cuma ada satu orang. Kita sergap saja dia,” katanya.

”Jangan terjebak. Bisa saja mereka cuma memancing kita keluar,” kata Keng Hong.

Keng Hong tak melanjutkan kata-katanya karena dari kegelapan terdengar letusan bedil memecah malam. Ketiga laki-laki itu bertiarap di lantai. Papan-papan kayu di rumah Keng Hong bergemeletak tertembus peluru. Suara rentetan senjata api itu semakin membuat orang-orang tak berani keluar rumah, tercekam ketakutan. Di antara rentetan senjata api, Keng Hong mendengar gerakan orang berlari mendekat ke rumahnya, sebat. Bulu kuduknya berdiri karena orang itu berdiri tepat di depan pintu. Dalam hitungan detik, orang itu kembali berlari menjauh dari pintu. Ketiga orang itu mendengar suara pintu seperti diketuk.

Lama mereka tiarap. Setelah keadaan sepi selama hampir seperempat jam, Keng Hong memberi tanda pada Sin Liong untuk berjaga-jaga. Perlahan-lahan, ia membuka selot pintu, lalu membukanya. Sebuah kertas tertusuk pisau kecil di di pintu rumahnya. Ia mengambilnya dan menutup pintu lagi. Diambilnya korek dari kantong celananya. Ia membaca tulisan itu.

”Antek-antek Pao An Tui kalau berani bersekutu dengan Belanda akan dimusnahkan.”

Mereka berpandangan satu sama lain. Keng Hong menggeleng-gelengkan kepalanya.

”Kita benar-benar berada di tempat yang sulit. Kedua belah pihak mencurigai kita,” katanya sambil meremas kertas itu sampai hancur. Kedua adik iparnya memandang bingung, tak tahu mesti berbuat apa.

Yogyakarta, 13 Januari 2005

Catatan:

1. Barisan Polisi Keamanan Kota, suatu penjaga keamanan sipil yang dibentuk etnis China di tahun 1947 guna menjaga keselamatan orang-orang China baik karena ancaman Belanda maupun pihak-pihak Republik yang tidak menyukainya.

2. Nama daerah di Surabaya tempat bermukim komunitas China.

3. Panglima Tentara Belanda, NICA, di Hindia Belanda yang ditugaskan untuk mempertahankan kekuasaan Hindia Belanda. Ia mati bunuh diri tahun 1949, begitu posisi Belanda di dunia internasional terjepit.

4. Nama salah satu kuil atau kelenteng di Semarang. Kuil ini diperkirakan dibangun ketika Panglima Cheng Hoo datang ke Sam Poo Toa Lang atau Semarang pada abad ke-15.

5. Antara tahun 1946 sampai tahun 1949, komunitas China di nusantara mengalami banyak sekali pembunuhan tanpa sebab. Peristiwa di Surakarta dan Karawang adalah dua contoh dari pembunuhan mengerikan terhadap orang-orang etnis China.

Written by tukang kliping

27 November 2005 pada 09:06

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

5 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. pada awalnya, saya membuka cerpen ini untuk keperluan tugas, namun pada akhirnya saya menikmati cerpen ini.
    untuk keperluan tugas juga, saya meminta kepada penulis cerpen ini untuk mengirimkan biografi penulis dan karya anda, terima kasih
    ditunggu e-mail nya

    ay_ay

    4 April 2008 at 13:29

    • saya geli membaca tanggapan anda…. “saya meminta kepada penulis cerpen ini untuk mengirimkan biografi penulis dan karya anda, terima kasih
      ditunggu e-mail nya”

      budi

      5 Maret 2016 at 17:05

  2. Bahasanya kurang mengalir, meski isinya sangat menambah wawasan.

    HeruLS

    6 Oktober 2012 at 23:20

  3. tak pakai buat tugas ya mas cip🙂

    silmi

    6 Januari 2014 at 08:00

  4. sayang sekali mas cipta, kenapa Siong sbg etnis cina dimakamkan dg cara dikubur. saya pikir etnis cina yg peranakan mereka masih memakai cara kremasi untuk memakamkan jenazahnya. kecuali etnis cina yg sudah muslim lho ya… hehehe trmksh🙂

    silmi

    6 Januari 2014 at 17:28


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: