Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Kirimi Aku Makanan

with 3 comments


Aku lupa, kapan aku kenal temanku yang satu ini. Namanya Roni. Dengan tiba-tiba aku sangat akrab dengannya. Semula pada suatu sore dia datang, tanpa mengenalkan diri, dia mengucapkan salam dengan menyebut nama panggilan akrabku: Mas Sudar. Dan kami langsung ngobrol ngalor-ngidul tentang dunia gaib. Soal tuyul, genderuwo, jin, sampai segala macam pesugihan. Seakan dia sudah tahu benar bahwa aku paling suka cerita-cerita begituan sampai paling getol nonton televisi yang menayangkan tentang dunia hantu dan alam gaib.

Di kompleks rumah Mas Sudar ini ada yang pelihara tuyul lho,” katanya.

”Ah yang benar!” sahutku.

”Benar! Mas Sudar kerap kali kehilangan uang kan?”

Memang benar. Aku kerap dan bahkan sangat kerap kehilangan uang. Uang ”laki-laki” yang aku simpan di tas kerjaku kerap berkurang. Tapi aku tak menyangka itu pekerjaan tuyul, paling-paling kerjaan istriku yang tahu nomor kode kunci tas kerjaku. Karena dia pun suka ngerjain kartu ATM saya.

”Kok tahu?” tanyaku tertawa.

Kemudian dengan serius dia mengatakan bahwa pekerjaannya adalah sebagai mediator untuk orang-orang yang perlu bantuan untuk bisa memelihara tuyul, genderuwo atau jin.

”Di kota ini sudah banyak pengusaha toko sepeda motor, mobil, atau restoran yang memerlukan penjaga usahanya dengan memelihara makhluk seperti itu berkat bantuan saya. Bahkan beberapa pejabat negara pun minta dicarikan jin.”

Saya terdiam bengong.

”Betul kok Mas, saya biasa melihat siapa saja yang memelihara tuyul atau sebangsanya. Kalau Mas Sudar mau bisa saya carikan.”

”Ah musyrik,” jawabku. ”Anda sendiri gimana. Berprofesi makelar tuyul, apa tidak dosa?”

”Ah ya tidak. Wong saya hanya perantara. Meskipun saya mendapat bayaran untuk itu, aku tidak mau dibayar dengan uang sesudah dapat tuyul. Harus dengan uang sebelumnya. Dan saya sudah serahkan tanggung jawab kepada mereka, bahwa mereka akan selamanya sampai hari kiamat menjadi budak setan.”

Beberapa hari kemudian, ada peristiwa aneh di rumahku. Kami sekeluarga sedang menghitung uang belanja dan memisah-misahkan mana untuk belanja harian, mana untuk uang sekolah anak-anak, dan lain-lain. Uang kami atur menurut nilainya, lima puluhan ribu ditumpuk jadi satu, ratusan ribu dengan ratusan ribu. Dan baru sedetik istriku menaruh selembar ratusan ribu, detik itu pula raib di depan mata kami. Kami bingung mencarinya.

”Diambil tuyul kali Yah!” kata anakku.

”Tuyul?… Tuyul kepala hitam!” jawabku. Istriku merengut, rupanya tersinggung karena saya selalu menyebut diambil oleh tuyul kepala hitam, setiap uang di tas kerjaku hilang. Lebih mengherankan lagi tak lama kemudian Roni datang.

”Betul kan Mas, ada tuyul di sekitar sini,” katanya. ”Mau tahu siapa yang punya.”

Kemudian dia minta disediakan baskom berisi air. Dia minta memerhatikan air. Nanti akan terlihat siapa orangnya. Tapi sampai mata saya hampir lepas tak kulihat siapa-siapa, kecuali bayang-bayang wajahku sendiri.

”Lihat Mas. Itu orangnya. Perempuan berambut ikal. Nah itu nomor rumahnya kelihatan.”

”Saya tidak melihat apa-apa,” jawabku.

”Ah memang, perlu tirakat dan ritus tertentu untuk bisa melihat penampakan…. Nanti kalau mau saya ajari. Tapi sekarang kalau Mas Sudar melihat seorang perempuan jalan sore dengan kedua tangan di belakang, itu dia sedang menggendong tuyul. Coba nanti dari belakang kita cibiri dia, maka dia akan menoleh karena tuyulnya memberi tahu bosnya.”

Ternyata betul dengan apa yang Roni katakan. Dan sekarang saya tidak pernah lagi kehilangan uang. Mungkin tuyulnya malu karena sudah ketahuan.

Rupanya perkenalanku dengan alam gaib semakin jauh. Kami sekeluarga baru saja menikmati honor cerpenku yang telah dimuat di sebuah majalah dengan makan-makan di warung lesehan, Roni mengunjungi kami lagi di rumah.

”Cerpenmu bagus Mas,” katanya. ”Saya dengar mau bikin novel ya?”

Aku baru saja membuat cerita pendek dengan latar belakang peristiwa G30S, dengan mengumpulkan referensi dan data dari para saksi mata dan pelaku yang masih hidup.

”Harusnya Mas Sudar melengkapinya dengan menambahkan dari narasumber yang menjadi korban pembantaian!”

Ah gila. Mana mungkin, pikirku.

”Bisa lho Mas,” ujarnya. ”Mereka ini masih penasaran jadi arwah yang masih gentayangan karena merasa tidak rela akan nasibnya. Kuburan massalnya ada di daerah Luwengombo, Pandansimping, atau di Desa Tempuran. Dengan cara tertentu kita bisa menemui mereka. Dan nanti akan membuat novel Mas benar-benar hebat.”

Benar-benar gila orang ini, pikirku.

”Benar-benar biasa lho Mas! Dengan ritual tertentu kita bisa berhadapan dengan mereka di tempat mereka dibunuh. Cuma kita harus tabah dan siap mental karena mereka akan hadir dengan bentuk keadaan terakhirnya. Saya sendiri kurang berani menghadapinya. Sungguh mengerikan mereka menampakkan diri dengan kepala terbelah atau usus terburai atau tanpa kepala.”

Bulu kudukku meremang.

”Tapi kalau Mas hanya ingin mengenal dunia alam gaib mereka, ini saya beri tahu ritualnya.”

Dia menulis kelengkapan ritual dengan laku, rapal, dan amalan di atas sesobek kertas dan diberikan kepadaku.

Ya Allah, ampunilah dosa hambamu ini…! Oleh kekuatan rasa ingin tahuku, tanpa setahu istriku aku laksanakan ritual itu. Ah, ini pasti perbuatan iseng si Roni, pikirku.

Hingga pada suatu sore, sewaktu aku mengunjungi sahabat di sebuah pesantren di Desa Tempuran, agak di luar kota. Ketika melintasi jembatan sungai berpagar tembok di ujung desa, terasa bulu kudukku meremang. Di sepanjang pinggiran sungai penuh pohon pisang sehingga memberi kesan gelap. Pulangnya sehabis magrib, menjelang melintasi jembatan, tiba-tiba saja ada seorang lelaki tua melambaikan tangannya ke arahku. Aku tidak tahu dari arah mana dia muncul. Kupinggirkan sepeda motorku di samping pagar jembatan.

”Monggo Pak,” sapaku. ”Kalau mau ke kota, saya boncengkan.”

”Tidak kok Nak Mas,” jawabnya lirih. ”Saya hanya mau minta tolong untuk menyampaikan pesan saya kepada anak saya, supaya kerap mengirimi saya makanan.”

”Alamat anak Bapak di mana?”

Dia sebutkan sebuah nama dengan alamat jalan nomor rumah di luar kota.

”Lha, Bapak tinggal di mana?”

”Tidak jauh dari sini kok, Nak,” jawabnya sambil menunjuk searah dengan rumpun pisang. Mungkin tinggal di desa seberang sawah sana, pikirku.

Saat kunyalakan sepeda motor dan berpamitan, dia mengucapkan terima kasih sambil tersenyum. Tapi… senyum itu… ya Allah, senyuman seperti orang menahan sakit itu, telah membuatku tidak bisa tidur semalaman.

Paginya kusempatkan waktuku untuk mencari alamat anaknya. Ternyata tidak mudah. Setelah bertanya kesana-kemari, kebanyakan orang mengatakan tidak tahu, bahkan ada yang kelihatan enggan menjawab. Ataupun kalau menjawab pasti ditambah kata: oooh…, eks tapol Pulau Buru itu? Akhirnya kutemukan juga. Seorang lelaki paruh baya, air mukanya nampak bagai orang yang telah mengalami tempaan hidup yang keras, menyambut kedatanganku dengan pandangan penuh curiga.

”Dari mana Bapak tahu alamat saya, dan tujuan Bapak mencari saya?” tanyanya menyelidik. Kusampaikan kepadanya bahwa aku telah bertemu ayahnya yang tinggal di Desa Tempuran, serta kusampaikan pula pesan ayahnya. Dia tertegun beberapa saat.

”Ayah saya? Seperti apa dia?”

”Rambut sudah beruban, alis tebal, berjanggut yang sudah sebagian memutih, berbaju lurik dan memakai sarung pelekat hijau,” jawabku seingatnya.

Tiba-tiba dia benamkan wajahnya di kedua telapak tangannya. Katanya di sela sedu sedannya:

”Ya Allah, dalam pakaian itulah sewaktu ayah dibantai bersama orang-orang yang dianggap melakukan gerakan makar. Ternyata benar kata orang mereka telah dikubur di bantaran sungai yang kemudian ditanami pohon pisang di atasnya.”

Jantungku serasa berhenti berdetak!

(Belakangan aku sarankan kepadanya untuk mengirim doa kepada ayahnya setiap kali dia shalat. Mungkin itu yang dipesankan ayahnya untuk dikirimi makanan. Dan selama ini aku tidak lagi berjumpa dengan Roni, kabarnya dia telah menjadi salah satu penasihat spiritual pejabat tinggi di Jakarta.)

Klaten 2004

Catatan:

Ngalor-ngidul: Utara Selatan, tak terarah

Laku: Melakukan ritual fisik, seperti puasa, tidak tidur malam, dsb.

Rapal: Mantra

Amalan: Bacaan Doa

Monggo: Mari, silakan

Written by tukang kliping

2 Oktober 2005 pada 09:42

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

3 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. cerpen ini membuat saya hanyut bak daun dalam sungai..
    great !

    al bkt

    15 November 2011 at 16:08

  2. W0w…hebaat bget critany.

    Anja

    22 Desember 2012 at 11:20

  3. Dari awal Bunda sudah mengira, blahwa yang meminta dikirimin makanan itu adalah arwah bukan jasad manusia sehat. Makanan yang diminta adalah DO’A. Keren lho ceritanya. Bunda suka alurnya, seperti cerita Flash Fiction, hehe…ada twist pada ending cerita. Ambil idenya ya? Bunda mau bikin cerita nih dengan teman mirip-mirip ini.

    Yati Rachmat

    19 Maret 2015 at 09:45


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: