Kumpulan Cerpen Kompas

arsip cerita pendek kompas minggu

Bang Acung Tidak Bunuh Diri, Yah

with one comment


Tiga kali Ny Laila tak sadarkan diri. Yang pertama pukul sembilan pagi ketika ia mendapat kabar Mansur, anaknya, meninggal dunia. Dunia tiba-tiba terasa jadi begitu gelap. Tak pernah terbayangkan anak keduanya akan pergi begitu cepat. Karena itu, begitu mendengar kabar duka itu, seluruh persendian tubuhnya terasa lunglai. Ia seperti kehilangan seluruh darah dan tenaganya.

Ny Laila pingsan untuk kedua kalinya pukul sebelas siang begitu ia akhirnya tahu orang kasak-kusuk membicarakan soal penyebab kematian Mansur. Putranya yang baru berusia 18 tahun itu meninggal bukan karena komplikasi penyakit yang selama ini ia derita dan membuatnya harus dirawat di rumah sakit. Mansur meninggal karena bunuh diri. Ia dikabarkan melompat dari lantai empat rumah sakit tempatnya dirawat selama ini. Untuk pertama kalinya Ny Laila berteriak histeris. Ia tak ingin percaya dengan apa yang ia dengar.

Untuk ketiga kalinya Ny Laila pingsan setelah jasad Mansur dibawa pulang dari rumah sakit. Ia pingsan setelah melolong-lolong sambil mendekap tubuh lunglai Mansur. Sisa-sisa darah masih tampak di beberapa bagian tubuh putranya. Dua petugas kepolisian baru saja pulang. Keduanya gagal membujuk Mahmud, suaminya, untuk menuntut pihak rumah sakit yang telah mengabaikan unsur pengamanan bagi para pasien. Kematian Mansur tak lepas dari lemahnya hal itu. Mahmud tak ingin lagi direpotkan untuk urusan-urusan seperti itu. Ia ingin menerima kematian anaknya sebagai suratan takdir. Kecuali kalau tuntutan itu bisa menghidupkan lagi anaknya.

Kini Ny Laila duduk bersimpuh di salah satu sudut ruangan tak jauh dari jasad Mansur dibaringkan. Ia merasa seluruh tubuhnya kian lemah. Tatapan matanya kosong. Ia seperti tak lagi mendengar orang-orang yang berganti-ganti mendekatinya dan menghiburnya. Sesekali air matanya meleleh. Matanya sembab. Mahfud, kakak Mansur, duduk bersimpuh di samping jenazah adiknya sembari tak henti-henti membacakan Surat Yasin. Suaranya patah-patah. Di sebelahnya, Mahmud, ayahnya, juga membacakan Surat Yasin. Suaranya terputus-putus dalam isak yang tertahan. Sesekali ia menyeka air mata. Sesekali ia juga berhenti membaca ayat-ayat suci itu untuk menerima uluran tangan atau dekapan para tamu yang datang untuk menyatakan ikut berbelasungkawa.

Di mata Ny Laila terus-menerus melintas bayangan Mansur yang ceria. Pada usia 16 dua tahun lalu, Mansur adalah anak yang sangat sehat. Meskipun badannya gemuk, ia adalah anak yang lincah. Suka bermain sepak bola. Ia juga rajin mengikuti kegiatan remaja masjid dan aktif sebagai anggota kelompok marawis. Mansur adalah anak yang disukai teman-temannya karena perangai santunnya. Ia tak pernah menyakiti perasaan teman-temannya.

Memasuki usia 17, Mansur memang mulai mengeluhkan tubuh tambunnya. Cinta membuatnya ingin tampil lebih menarik. Mona, gadis temannya di kelompok remaja masjid yang ditaksirnya, kata Mansur kepada ibunya, menolak cintanya. Mona ingin punya pacar yang tubuhnya langsing.

Mengikuti nasihat ibunya, Mansur kemudian mencoba berpuasa tiap hari Senin dan Kamis. Tetapi, baru berjalan satu bulan, ia berhenti karena tak tahan godaan. Upaya mengurangi makan pun tidak berhasil karena Mansur juga tak bisa menahan rasa lapar. Ny Laila tahu bagaimana Mansur secara sembunyi-sembunyi makan atau jajan.

Ayahnya yang kemudian menyarankan Mansur meminum minuman suplemen pelangsing tubuh yang banyak diiklankan dan dijual di toko-toko. Dan, ternyata, hasilnya sangat manjur. Bobot badan Mansur turun secara menakjubkan karena ia memang seperti kehilangan nafsu makan. Tetapi, empat bulan kemudian Mansur jatuh sakit. Dokter yang memeriksa meminta Mansur menjalani rawat inap karena ususnya mengalami luka serius. Mahmud yang kemudian tak henti menyesali dirinya. Kenapa ia sendiri yang justru menyarankan anaknya meminum suplemen pelangsing tubuh itu? Mengapa ia tak membiarkan saja Mansur memiliki tubuh tambun tapi sehat? Apalagi setelah dua pekan dirawat di rumah sakit, Mansur kemudian jadi langganan. Ia bolak-balik menjalani perawatan karena penyakitnya kerap kali kambuh. Yang terakhir, kata dokter, ia mengalami komplikasi. Selain luka di usus yang kembali kumat, ginjalnya juga terganggu. Karena itu, ia kembali harus dirawat untuk waktu yang tak jelas sampai kapan.

Lima malam sebelum kematian Mansur, Mahmud bersimpuh di atas sajadah di kamarnya di tengah malam. Kepada Tuhan ia panjatkan doa agar putranya segera disembuhkan. Kepada Tuhan pula ia mengadu bahwa ia tak lagi punya uang untuk membayar biaya-biaya perawatan dan pengobatan anaknya. Hampir semua benda berharga di rumahnya telah dijualnya. Ia kini hampir tak memiliki apa-apa lagi.

Empat malam sebelumnya, Ny Laila membesuk putranya. Dan menginap di rumah sakit. Tengah malam ia terbangun dan terkesima melihat sesosok wanita berpakaian serba putih berdiri di sudut ruangan. Sorot mata perempuan berambut panjang itu begitu tajamnya sampai-sampai mulut Ny Laila ternganga dan napasnya terengah-engah ketakutan. Keringat dingin mengucur dari sekujur tubuhnya. Sorot mata itu seolah mengatakan ia tak boleh berada di situ. Sorot mata itu melukiskan betapa perempuan itu membencinya. Ketika akhirnya bayangan itu lenyap, Ny Laila merasa tubuhnya panas dingin. Ia tak mampu lagi memejamkan mata sampai pagi tiba. Sesampainya di rumah, panas dinginnya tak kunjung hilang. Sorot tajam tatapan mata perempuan misterius itu seolah terus mengikutinya. Karena itu, ia tak lagi berani membesuk putranya.

Juga kemarin, sehari sebelum Mansur dikabarkan meninggal dunia. Kata Mahmud, suaminya, Mansur ingin segera dibawa pulang. Tetapi, sebelum itu, ia ingin sekali ibunya datang membesuk. Amat merindukan ibunya. Dengan alasan tubuhnya masih lemah, Ny Laila menolak pergi ke rumah sakit. Sampai kemudian ia mendengar kabar itu dan kini ia cuma bisa menyesali semuanya.

Ny Laila masih bersimpuh di tempatnya. Tiba-tiba ia menangis lagi. Ia ingat ucapan seorang guru ngajinya. Bahwa orang yang meninggal karena bunuh diri, arwahnya tak bisa diterima Tuhan. Tuhan bahkan memurkai makhluk-Nya yang membunuh dirinya hanya karena ingin melepaskan diri dari segala belitan persoalan hidup. Duka mendalam menderanya. Dalam tangis ia berdoa semoga Tuhan mau memaafkan segala kesalahan anaknya.

Sebagai tetangga, aku datang melayat sesaat sebelum jenazah Mansur dimandikan. Kuucapkan rasa belasungkawa mendalam kepada Mahmud yang tampak tegar. Matanya tampak lelah dan marah. Ia tersenyum getir. Kuucapkan juga rasa belasungkawa kepada Ny Laila. Air matanya meleleh. Tak ada senyum. Tatapannya kosong. Menembus relung-relung gelap di antah berantah.

Kusingkap kain penutup wajah Mansur. Di pipi kirinya ada sisa-sisa darah yang telah mengering. Tetapi, ia tampak damai. Pejam matanya seperti bocah remaja yang tengah tertidur pulas sekali. Bahkan bibirnya seperti tengah tersenyum. Jauh dari gambaran-gambaran menyeramkan yang secara liar melintas dalam benakku. Sebelum pulang, dengan tulus kuucapkan pula doa. Allahummaghfirlahu warhamhu waafihi wa’fu anhu. Setelah itu kubacakan Surat Alfatihah. Semoga arwahnya diterima di sisi Tuhan. Apa pun penyebab kematiannya.

Ocha, putriku, baru saja bangun dari tidur siangnya ketika aku tiba di rumah. Ada segaris putih di sudut bibirnya tanda ia ngiler waktu tidur.

”Ayah habis dari mana?” ia bertanya. Suaranya serak.

”Habis melayat.”

Gadis berusia enam tahun itu menyibak rambut yang menutupi matanya.

”Melayat Bang Acung?” ia bertanya lagi.

”Bang Acung? Bukan. Bang Mansur,” kataku.

”Iya, Yah. Bang Acung itu Bang Mansur,” istriku menimpali sambil lewat.

”O, gitu. Memangnya kenapa, Ocha?” aku bertanya melihat ia seperti sangat tertarik.

”Yah, Bang Acung kata orang mati karena bunuh diri,” gadisku bersila di hadapanku.

”Ocha dengar dari siapa?”

”Kata orang-orang, Yah. Bunuh diri itu kan enggak boleh ya, Yah. Tetapi, orang-orang enggak tahu sih. Bang Acung itu bukan bunuh diri, Yah.”

”Kenapa Ocha bilang begitu?”

”Tadi Ocha mimpi, Yah,” jawabnya.

Gadis kecilku itu kemudian menceritakan mimpinya. Katanya, Bang Acung mula-mula sedang tidur di rumah sakit. Tiba-tiba ia terbangun karena mendengar ada yang memanggil-manggil namanya. Suaranya datang dari samping kamarnya. Bang Acung lalu membuka jendela kamarnya. Tak jauh dari tempatnya berdiri, ia melihat seekor cecak. Kepalanya dua. Lalu Bang Acung mendengar bisikan. Kata suara itu, kalau mau sembuh dari penyakitnya, Bang Acung harus memakan cecak berkepala dua itu. Bang Acung, cerita putriku selanjutnya, menyambar cecak itu untuk dimakan. Saat itulah ia terpeleset dan terpelanting jatuh ke bawah.

”Jadi begitu ceritanya, Yah. Jadi, Bang Acung itu bukan mati karena bunuh diri. Dia jatuh. Orang-orang tidak pada tahu sih, Yah. Coba kalau mereka tahu seperti Ocha, orang-orang pasti tidak akan bilang Bang Acung bunuh diri.”

Aku agak tertegun. Lalu terbayang wajah damai Mansur. Dengan bibirnya yang seolah tersenyum. Diam-diam aku pun berharap mimpi putriku tak sekadar bunga tidur.

Tanah Kusir, Juli 2005

Written by tukang kliping

14 Agustus 2005 pada 10:01

Ditulis dalam Cerpen

Tagged with

Satu Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Tukangkliping, mohon izin berbagi di
    http://dapuraba.blogspot.com/
    Terima kasih

    Aba Mardjani

    18 Oktober 2010 at 10:25


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: